Hai :) Aku update sekalian publish fic valentine yang amat sangat terlambat ._. Ya, akhir-akhir ini aku sibuk. Jadi, daripada besok-besok aku sudah Try Out dan banyak ulangan sama tugas, lebih baik aku update sekarang :) Mumpung kuota internet blm abis ._. Yaaa, langsung baca saja..


Lucy masih berjongkok dengan risih di balik pintu apartemen itu. Ia menggigit bibir bawahnya dengan gugup. Sangat takut apabila kericuhan itu semakin parah. Ia hanya dapat berharap, pertengkaran Natsu dan Gray bisa mereda, tak mengundang perhatian penghuni kamar lain di lorong ini.

Tanpa dia tahu, Dewi Fortuna sedang tak memihak padanya. Seorang gadis penghuni kamar 404 tengah bangun dengan wajah garangnya.


Me and My Neighbour

Disclaimer : Hiro Mashima

Genre : Romance, Drama

Warning : typo(s), OOC, AU, abal, gaje, ide pasaran, bahasa kurang baku


Chapter 3 : Lucy's freak neighbours


"Sialan! 2 tahun gue hidup di apartemen kelas standar yang walaupun fasilitasnya pas-pasan, gak pernah sampe semengganggu ini!" Erza Scarlet, dengan wajah muram total, dan kantung mata yang luar biasa parah, bangun lagi dari kasurnya, yang baru saja ditidurinya setengah jam sebelum keributan di lorong lantai 4 itu terjadi.

Erza bahkan tak mempedulikan rambut merahnya yang terlihat acak-acakan. Ia beranjak ke dapur, untuk mengambil sesuatu yang sepertinya benar-benar diperlukan.


"Tetep aja lo gak sopan, mata sipit," desis Gray jengkel. Natsu dan Gray masih beradu jidat, dengan lengan kekar mereka yang sudah menggelayuti leher musuh masing-masing. Mata mereka menajam, seolah bersiap menusuk bola mata lawannya kapan saja.

"Bukan masalah lo, mata sayu!"

"Masalah gue, lo ngeganggu tetangga gue."

"Jangan ikut campur! Mendingan lo bantu gue manggil ini cewek pirang!"

"Gak akan, pinky!"

"Harus, boxe–"

Kata-kata Natsu terpotong, begitu suara bantingan pintu yang luar biasa keras, dan sanggup memicu sakit jantung (?), menggema di lorong lantai 4 itu. Membuat kedua rival yang bahkan baru bertemu tak lebih dari 15 menit lalu ini sama-sama terkejut.

Di hadapan mereka, seorang Erza tengah menatap mereka dengan deathglare, yang bahkan jauh lebih tajam dari pisau dapur yang dibawanya.

Natsu dan Gray saling berpelukan, dengan ekspresi ketakutan, melihat apa yang tengah Erza cengkeram. Pisau dapur, yang berkilau ditimpa sinar lampu neon lorong itu, seolah menganga, siap memakan urat leher mereka. Natsu dan Gray hanya bisa meneguk liur mereka ketika membayangkan imajinasi mereka itu.

"Jadi kalian yang bikin keributan? Ha?!" Erza berteriak garang, sambil mengarahkan mata pisau itu ke arah kedua orang yang tengah menatapnya takut.

"A-Aye!" mereka menyahut serempak, dengan nada gemetar.

"Sialan! Lo gak tau, gue baru pulang ke sini setelah 3 hari gak pulang-pulang dari kantor gue, baru selesai makan cake, dan baru mau tidur?! Ha?!"

"Ampun, gak tau sih sebenernya," kata Natsu dengan polos.

Gray menoleh ke arah Natsu dengan tatapan 'lo emang mau mati'. Lalu ikut menyahut. "Ya.. Kalo gitu gue turut berdukacita, tapi kan kita gak tahu, Erza."

"Ya, makanya! Lo harus tau!" Erza makin melotot marah. "Bagus baru gue ancem pake piso dapur, kalo gue panggil security, mati lo berdua!"

Mereka hanya mengangguk patuh pada Erza. Erza terlihat ingin bicara lagi.

"Lo juga, Gray! Mana manga yang lo janjiin?! Ha?! Pimpinan perusahaan gue udah nagih!"

"Maap, gue masih mikirin alur yang bagus."

"Lo cuma punya waktu 2 minggu dari hari ini. Lewat dari itu, gue gak akan mau lagi bantuin lu nerbitin manga lu yang bahkan gak dapet rating bagus itu!"

"I-Iya, Erza."

"Lo juga! Siapa nama lu?!"

"Na-Natsu Dragneel."

Lalu , Erza melanjutkan ceramahnya pada Natsu dan Gray. Ia baru saja akan menentukan punishment untuk Natsu dan Gray yang sudah membuat keributan, saat pintu kamar 402 terbuka sedikit.


"Aduh.. Erza keluar pula.." Lucy terlihat berjalan bolak-balik di depan pintu apartemennya. Ia terlihat berpikir. "Kalau Erza udah keluar, bahaya.."

Lucy memegang kenop pintu itu, lalu tangannya berhenti sejenak. "Tapi.." Lucy terlihat berpikir ulang. Lalu memejamkan matanya erat-erat, dan memutar kenop pintu itu dengan perlahan.

Ketiga orang yang berada di lorong itu terdiam. Mata mereka tertuju pada Lucy yang mulai berjalan keluar dari zona amannya.

"Maaf," kata Lucy pelan, masih menunduk.

"Nah, ini dia cewek aneh yang dari tadi nge-stalk kamar Sting!"

Lalu suasana kembali hening. Lucy terlihat berpikir keras, jawaban apa yang akan diberikannya pada Natsu.

"Maaf sih, aku cuma iseng saja kok," Lucy mulai mengangkat kepalanya, menatap Natsu dengan tujuan untuk meyakinkannya, walaupun ia sendiri tak yakin dengan jawaban bohong yang diberikannya.

"Entah kenapa aku gak bisa perca–"

Ucapan Natsu kembali terpotong, ketika seorang pria tua keluar dari lift itu dengan tergesa-gesa, dengan wajah tegasnya.

"Ini ada apa ramai-ramai di sini? Ada laporan kalau ada keributan di lorong lantai 4."

"Ehm, Makarov.. Jii-chan," Natsu berusaha sok akrab dengan sedikit SKSD (?), setelah membaca nametag yang terkait di seragam Makarov. "Maaf nih, tapi kayaknya gak ada yang melapor," Natsu menatap mereka satu-satu.

Erza menggeleng, Lucy hanya menunduk, dan Gray bahkan mengedikkan bahunya. "Nah, terus siapa?"

"Laporan dari penghuni kamar 401," kata Makarov sambil menunjuk pintu kamar Gray yang terbuka. Gray yang heran menengokkan kepalanya sedikit di daun pintu, melihat Lyon tengah duduk di depan meja telepon. Kemudian Gray kembali bergabung dalam kerumunan itu.

"Kakak sepupu sialan," decihnya kesal.

"Tuh kan, ini ulah kakak sepupu lo itu!"

"Diem lu, pinky, kalau lo gak mau ngedobrak pintu kamar apartemen 402 juga gak akan terjadi keributan!"

"Lah, siapa yang nyuruh lo ikut campur? Lagian ini salah si pirang!" Natsu menunjuk Lucy yang sedari tadi diam.

"Eh? Bukan! Aku kan cuma lagi gak sengaja melihat ke apartemenmu!"

"Bohong! Kau stalk apartemen Sting dari kemarin! Aku curiga bahkan kau stalk apartemen Sting sejak jauh sebelum aku datang dan memergokimu!"

"DIAAM!" Erza kembali mengarahkan mata pisau itu ke arah leher mereka bertiga. Mereka kembali diam, menatap kilauan pisau dapur itu dengan takjub. Bagaimana bisa Erza seberani itu mengacungkan pisau tajam itu ke arah mereka, tanpa takut mata pisau itu akan menyentuh leher mereka dan bahkan tak sedikitpun merasa segan untuk membunuh mereka?

"Ehem," Makarov kembali berdeham dengan tegas. "Di sini tidak boleh ada keributan, tolong jaga ketenangan! Kau juga, kau bukan penghuni gedung apartemen ini kan?"

Natsu menggeleng polos.

"Kalau begitu, kemba–"

Ucapan Makarov terpotong oleh sosok gadis kecil berambut pirang panjang yang berjalan untuk membuka pintu 405. Mata mereka tertuju pada gadis kecil itu.

Mavis Vermillion hanya memandang balik mereka, lalu menyapa mereka dengan riang. "Hai!"

Respons mereka bahkan tak seceria Mavis. Lucy mengangguk sopan, Gray mengalihkan pandangannya dengan cuek, Natsu yang terlihat tergoda dengan cabai-cabai yang terlihat dari kantung plastik transparan yang ditenteng Mavis, dan Makarov yang tersenyum ramah.

"Mavis-san," Makarov mendekati Mavis yang nampak heran dengan orang-orang itu. "Kami minta maaf telah membuat keributan di sini."

"Ah, gak apa-apa kok Makarov-san," Mavis mengibaskan tangannya, lalu melihat ke arah Natsu yang tengah ngiler melihat kantung belanjaannya.

"Na, mau sarapan bersama?"

"Ah, tidak usah, kami akan mere–"

"Tentu saja, aku mau!" Natsu langsung memotong kata-kata Makarov dengan tidak sopannya.

"Suatu kehormatan untuk kami, Mavis-san," Erza menunduk hormat dengan suara berwibawa.

"Ya sudah, ayo ma–"

"Maaf, tapi aku tidak bisa ikut," Lucy masih menunduk.

"Hm? Kenapa?" Natsu kelihatannya sudah lupa pada masalah utamanya datang ke gedung ini. Mungkin, sekarang pikirannya sudah ter-reset.

"Aku– Yaaa, aku tidak bisa. Pekerjaanku masih banyak," Lucy menampilkan senyum tipisnya.

"Ya, kalau begitu aku tak bisa memaksamu, Lucy-san," Mavis tersenyum maklum.

"Kalau begitu.. Aku permisi," Lucy membungkuk sedikit, lalu kembali masuk ke apartemennya.

"Ayo, masuk," Mavis membuka apartemennya. Mereka mengekori Mavis masuk ke apartemennya, kecuali Natsu, yang matanya masih belum teralihkan dari pintu apartemen 402.

'Aku tahu senyumannya palsu. Dia menyimpan sesuatu.'


"Makanan datang!" Mavis membawa sepiring besar nasi goreng.

"Wah, kayaknya enak!" Natsu segera mengambil nasi goreng itu banyak-banyak, lalu menuang saus sambal, yang menurut iklan, pedesnya paling hot (?).

"Kalian mau minum apa?"

"Teh hangat saja, Mavis-san," kata Erza.

"Ah, Mavis-san, bisakah tehku diberi es? Yang banyak kalau bisa," pinta Gray.

"Baiklah," Mavis kembali tersenyum, sebelum menuju dapurnya lagi.

"Ckck, bahkan gue gak tau lu suka makan pedes-pedes bikin gerah gitu," sindir Gray pada Natsu yang duduk di sebelahnya. "Pantes lo emosian, flamehead."

"Idih, mending gue, dari pada lo, minta es di minuman lo banyak-banyak, pantes kepala lo keras kayak es batu, icebrain!"

"Ehem," Erza yang berada di hadapan mereka berdeham.

"A-Aye," mereka kembali memakan nasi goreng mereka yang belum habis.

"Silahkan diminum," kata Mavis, sambil membawa nampan dengan beberapa gelas teh. Sungguh tak seimbang dengan badannya yang kecil. Makarov saja rasanya takut Mavis tak kuat membawa nampan itu.

"Kami sungguh merepotkanmu," Makarov merendahkan diri.

"Ah, daijoubu, Makarov-san," Mavis berusaha mendudukkan dirinya di kursi tinggi meja makannya sendiri, dan kesulitannya menaiki kursi tinggi itu terlihat jelas.

"Hmm.. Aku jadi bingung, kenapa Lucy-san itu rasanya anti sosial sekali, ya?" Mavis bertanya, sambil menopang kepalanya dengan tangan kanannya.

'Oh, namanya Luigi..' Natsu mengangguk-ngangguk sedikit, mendengar nama gadis pirang itu. Walaupun salah -_-

"Aku juga sempat heran, Mavis-san," Erza meletakkan sendok garpunya dengan tenang, setelah piringnya sudah bersih dari nasi goreng buatan Mavis. "Dia sangat jarang keluar, kalau tidak untuk belanja, belum tentu 2 bulan sekali aku bertemu dengannya."

"Dia memang misterius," Makarov akhirnya angkat bicara, setelah berhasil meneguk tehnya sampai habis. "Dia bahkan tak pernah mengikuti rapat para penghuni apartemen, maka dari itu, akan dibuat peraturan bahwa rapat penghuni gedung apartemen ini wajib diikuti semua warga gedung ini."

Gray memilih untuk diam, sedangkan Natsu, kembali mengambil sisa-sisa nasi goreng di piring besar itu.

Tanpa orang-orang itu ketahui, pikirannya juga terus berkeliaran.

'Luigi yang misterius..'


Lucy mengunci rapat pintu apartemennya, lalu duduk di meja kerjanya.

"Pemuda aneh itu bukan pesuruh Papa kan?" wajah Lucy terkesan tegang dan takut. Sebelum ia kembali berbisik pada udara hangat apartemennya.

"Dia bukan pesuruh Papaku juga kan?'

TBC


Bagaimana? Buatku sih masih gak memuaskan. Ah, iya. Aku minta maaf loh, soalnya alur bagian ini menjadi lambat banget. Dan di chapter depan, mungkin romancenya akan aku tambahkan. Juga, bahasa gaul akan semakin berkurang ._. ya sudah, mohon reviewnya ya :) Siapa tau selain bisa menyemangatiku membuat fic ini, bisa nambah semangat buat belajar TO (?). Yosh! Jaa~