"Terima kasih banyak makanannya, Mavis-san," Makarov mewakili Erza, Natsu, dan Gray, berterimakasih pada Mavis. Mereka berempat membungkuk dalam-dalam dengan sopan.

"Ah, tidak perlu dipikirkan, hitung-hitung memupuk kebersamaan sebagai sesama penghuni apartemen ini, Makarov-san," jawab Mavis riang, dengan kilauan semangat yang terlihat di mata hijaunya.

"Jangan lupa juga, nanti sore datang ke rapat bulanan warga gedung apartemen ini. Kalau begitu, kami permisi dulu," akhirnya, mereka keluar dari apartemen Mavis. Sebelum menutup pintu dengan pelan, Mavis kembali tersenyum manis.

"Pstt.. Makarov.. Jii-chan," Natsu kembali memanggil Makarov dengan panggilan tadi pagi. "Kenapa sepertinya jii-chan sopan sekali pada tante awet muda itu?"

"Hei! Jaga omonganmu," tegur Makarov, sambil berbisik. "Jangan bilang siapa-siapa.. Dia itu pemilik gedung apartemen ini."


Me and My Neighbour

Disclaimer : Hiro Mashima

Genre : Romance, Drama

Warning : typo(s), OOC, AU, abal, gaje, ide pasaran, bahasa kurang baku


Chapter 4 : Unconsious

Setelah acara sarapan pagi itu selesai, Natsu yang memutuskan untuk tak lagi mempersalahkan masalahnya dengan Lucy, kembali ke apartemen Sting. Setibanya di depan pintu apartemen 404 itu, Natsu mencoba memutar kenop pintu, namun tidak bisa.

"Sting!" teriaknya cukup keras, sambil mengetuk pintu itu cukup kencang. Namun, suara kakak sepupunya itu tak kunjung terdengar. "Jangan-jangan dia udah pergi kerja."

Natsu kembali berpikir. Ia harus kemana sekarang..

"Lisanna!"

"Na, kau ngapain ke sini?"

"Ck, Sting pergi kerja dan mengunci pintu apartemennya, aku gak bisa masuk," Natsu menggembungkan pipinya, merasa kesal pada kakak sepupunya yang tega itu.

"Kau juga sih! Ngapain pergi-pergi segala," tegur Lisanna.

"Iya-iya, kau membela Sting terus," Natsu mengacak rambut keperakan Lisanna hingga berantakan.

"Ih, tidak kok," wajah Lisanna rasanya memanas, menepis tangan Natsu dari kepalanya

"Lis, nanti malam kau ke apartemen Sting ya."

Sontak, wajah Lisanna kian mendidih, mendengar perkataan Natsu yang cuek.

"Ih, ngapain ke apartemen Sting?"

"Makan malam dong! Aku buatkan masakan pedas deh!"

"Ta-Tapi kan aku gak tau alamat apartemen Sting."

"Nanti aku kirimkan, oke? Pokoknya kau harus datang!"

"Tapi–"

Natsu yang sepertinya sangat memaksa, malah berdiri ketika Lisanna hendak mengelak lagi. "Sudah ah, aku mau pergi jalan-jalan saja, jaa!"

Natsu malah berjalan keluar dari rumah itu.

"Dasar, Natsu," Lisanna menggumam, lalu berdiri. "Dia tetap kakak yang baik untukku."


Lucy tengah melamun, ketika speaker yang berada di sebelah pintunya berbunyi. Terdengar suara tegas Makarov.

"Ehem, saya beritahukan, pada seluruh penghuni gedung apartemen untuk mengikuti rapat bulanan di mini aula pada pukul 3 sore nanti."

"Oh, rapat bulanan," Lucy terlihat sedikit acuh akan pengumuman itu. Sudah biasa baginya untuk tidak menghadiri rapat bulanan, atau paling tidak meminta tolong pada Gray & Lyon untuk mewakilinya, lewat secarik surat yang ia selipkan dari celah bawah pintu.

Lucy hendak berbalik meninggalkan speaker kecil itu, ketika suara Makarov membuatnya shock mendadak.

"Terutama untuk Lucy-san yang tinggal di apartemen 402, tolong hadir dalam rapat ini, karena mulai sekarang, semua penghuni tak boleh diwakilkan, terima kasih."

Lucy shock berat. Tubuhnya terasa kaku. Ia tidak suka harus bertatap muka dengan orang lain, kecuali Levy. Ia tidak suka kalau harus meninggalkan apartemennya, kecuali ketika ia harus pergi belanja bulanan. Ia benci harus bersentuhan langsung dengan dunia luar, kecuali ketika harus mengirim pekerjaannya lewat pos, atau masalah amat mendesak lainnya.

Lucy benci semuanya. Lucy tak suka semuanya.

Apalagi mini aula di sebelah pos security.. Berdekatan dengan tempat parkir non-basement. Banyak kendaraan terparkir di sana.

Lucy benci harus berdekatan dengan kendaraan, kecuali benar-benar dibutuhkan, seperti insiden Lector kemarin. Ia tidak mau memori 3 tahun lalu kembali menghantui pikirannya.

Ia benci, jika dinding-dinding apartemennya tak dapat melindunginya. Tembok proteksi dalam dirinya sudah terlalu rapuh. Ia takut berada di luar zona aman dan nyamannya ini.

Bagaimana pun, anak buah ayahnya berkeliaran dimana-mana. Dan Lucy yakin, mereka memang ada dimana-mana.


"Gila, sudah jam 3 sore saja," Natsu berjalan, dengan penampilan amat casualnya itu, dengan rambut merah muda yang berantakan. Ia mengucek matanya sekali lagi. "Sial, tadi pake ketiduran di kursi taman segala lagi."

Sepulangnya Natsu dari rumah Lisanna tadi, ia memilih untuk berjalan-jalan, membeli jajanan khas Magnolia, dan beristirahat di taman. Lalu tertidur.

Dan sekarang, ia berniat kembali ke apartemen Sting, siapa tahu Sting sudah pulang.

Namun, setelah melewati pagar besar kompleks apartemen itu, Natsu melihat keramaian di dekat pos security itu. Yang sebelumnya Makarov sebut-sebut sebagai mini aula, sangat tak pantas untuk disebut aula. Mini aula itu hanya berbentuk tenda putih beratapkan kerucut.

Natsu mengintip sedikit dari celah tenda yang bentuknya tertutup, lalu melihat sebagian orang yang dikenalnya. Makarov, Mavis, gadis merah yang kalau tidak salah namanya Erza, tukang boxer bernama Gray, serta.. Luigi yang duduk di pojokkan tenda.

Natsu yang terdorong rasa penasaran akan apa yang dibicarakan, malah masuk dan menginterupsi perkataan Makarov.

"Hai, jii-chan!"

"Eh, kau lagi."

"Boleh kan aku ikut bergabung?"

"Oh, silahkan duduk di kursi yang kosong," ucap Makarov singkat, lalu melanjutkan kembali pidatonya.

Natsu memilih duduk di kursi kosong di sebelah Lucy, lalu mengganggunya dengan berbisik memanggilnya.

"Kita bertemu lagi, Luigi."

Lucy menoleh jengkel, lalu balik berbisik, "Namaku bukan Luigi, tapi Lucy!"

"Oh, maaf, Luce, namaku Natsu Dragneel," kata Natsu, sambil menyengir riang, terlihat sok akrab, bagi Lucy.

"Namaku bukan Luce, tapi Lucy!" Lucy rasanya gemas dan sebal dengan pemuda ini.

Eh? Gemas? Sebal? Lucy bahkan lupa kapan ia terakhir sebebas ini berinteraksi dengan orang lain, juga merasakan perasaan seperti itu.

"Ya, Luce kan?" Natsu kembali mengkonfirmasi dengan tampang innocent.

Lucy hanya memasang pokerface. Sambil double sweatdrop pula.

"Terserah kau saja, Dragneel."

"Whoa, Luce! Jangan panggil aku Dragneel! Panggil aku Natsu saja!"

Lucy mengacuhkannya. Orang ini menyebalkan sekali.

Walaupun harus ia akui, ia juga senang, rindu bicara dengan orang lain seperti ini. Bicara dengan seorang laki-laki pula. Terakhir ia bicara dengan seorang pria seperti ini.. 3 tahun lalu mungkin. Lucy tersenyum kecil, secara diam-diam, tanpa terlihat Natsu.

Lamunannya terinterupsi orasi yang tengah ditutup Makarov.

"Sekian rapat kita hari ini, silahkan melanjutkan aktivitas masing-masing." Makarov menyingkir, lalu keluar dan kembali ke pos security. Diikuti penghuni apartemen lainnya yang tengah berjalan keluar dari tenda putih itu. Tak terkecuali Lucy, yang berdiri dari kursinya, dan berjalan pelan. Dan jangan lupakan, Natsu yang mengekorinya.

Merasa risih, Lucy berhenti berjalan, ketika mereka sudah berada di luar tenda putih itu.

"Kenapa sih kau mengikutiku?" tanya Lucy ketus.

Natsu juga berhenti berjalan, kini berdiri sejajar dengan Lucy. "Mengikutimu?" Natsu menatap Lucy bingung. Lalu melanjutkan perkataannya. "Enggak kok, aku kan juga mau keluar dari tenda, ngapain sendirian di situ."

Dan skakmat! Lucy merasakan wajahnya merona. Dia terlalu percaya diri dan ge-er. Malu mengakui pikirannya, Lucy hanya menunduk.

"Ya-Ya sudah, aku mau kembali saja," Lucy mengangkat kepalanya, hendak berjalan lagi, ketika iris karamelnya melihat seorang pria paruh baya yang amat dikenalnya turun dari sebuah mobil mewah, dikawal beberapa bodyguardnya. Tubuh Lucy rasanya menegang, bahunya bergetar pelan, dan lututnya terasa amat lemas.

Dan setelah beberapa detik matanya tak sanggup berkedip, gelap gulita menyambutnya.


Natsu kebingungan melihat Lucy yang hanya diam di tempatnya.

"Luce?" panggil Natsu dengan suara cukup kencang. Namun, Lucy tetap tak bergeming, bahkan tak bergerak sesenti pun. Natsu bingung, khawatir melihat Lucy yang tak merespons panggilannya. Melihat matanya yang bahkan tak berkedip, membuatnya tambah cemas.

"Luce?" Natsu memegang sebelah bahu Lucy, pelan. Namun, keseimbangan tubuh gadis itu hilang entah bagaimana, dan hendak terjatuh ke belakang. Natsu refleks menangkapnya dengan lengan kanannya yang kekar. "Luce! Luce! Kau kenapa, Luce?"

Namun percuma saja. Lucy tak menjawab, matanya sudah terpejam, nafasnya tak teratur. Wajahnya yang biasanya terlihat merona, kini pucat pasi. Natsu yang khawatir segera saja mengangkat tubuh Lucy dengan bridal style, lalu berjalan cepat ke arah gedung apartemen kelas eksekutif.

"Sting! Sting! Kalau kau sudah pulang, cepat buka!" kaki Natsu menendang-nendang pintu apartemen Sting, karena kedua tangannya tengah menggendong Lucy.

"Iya, sebentar!" jawab Sting dari dalam apartemen itu, lalu tak lama, pintu itu terbuka.

Melihat adik sepupunya tengah menggendong seorang gadis yang tak sadarkan diri, mata Sting membelalak lebar. Natsu mengabaikan tatapan kaget Sting, terus berjalan ke ruang tengah dan membaringkan Lucy di sofa.

Natsu mendorong meja kaca di depan sofa itu, lalu duduk di lantai, di sebelah Lucy. Natsu meletakkan telapak tangannya di dahi Lucy. "Dia gak demam, lalu bagaimana bisa?" gumam Natsu pelan.

"Dia kenapa?"

Natsu bahkan tak menoleh pada Sting, masih menatap wajah Lucy yang masih pingsan. Tentu ia shock. Bagaimana bisa gadis yang baru saja selesai bicara padanya, tiba-tiba diam tak bergerak, lalu jatuh pingsan begitu saja?

"Jawab Natsu! Dia siapa? Kenapa bisa sampai sebegitunya?"

"Lu berisik Sting! Gue jelasinnya nanti aja kan bisa! Mendingan sekarang lu pergi ke supermarket, beli bahan makanan, terutama cabai yang banyak! Gue ngundang Lisanna dateng makan malem nanti," bentak Natsu, dengan suara tertahan. Kini ia sudah memandang Sting kesal.

Mendengar nama Lisanna, Sting hendak berkomentar lagi pada Natsu, tentang betapa lancangnya Natsu mengundang gadis itu ke apartemennya. Namun, melihat tatapan Natsu yang serius, ia langsung pergi tanpa bicara.

Natsu kembali melihat Lucy, membelai rambut pirangnya tanpa sadar.

'Kau kenapa, Luce?'

TBC


Maaf update luar biasa lama ._. Sibuk, sibuk, sibuk! Hehe, mohon reviewnya :) Dan untuk yang reviewnya belum dibalas, akan kubalas setelah ini :) Oh ya, untuk yang anonymous alias non login..

hanasafira : terimakasih untuk review dan penyemangatnya.. maaf, ini NaLu :(

devil : Hehe, ini sudah update, terimakasih reviewnya ya :)