"Kita sudah sampai." ucapan Donghae terpotong begitu saja. Hyukjae menurunkan Donghae dan menggerakkan tubuhnya, meregangkan ototnya yang benar-benar sudah lelah karena menggendong Donghae sambil mendaki gunung.
Donghae menganga. Matanya mengerjap berkali-kali, lalu menatap Hyukjae. Telunjuk kanannya mengarah ke tempat yang diyakini adalah tempat bermukimnya si penyihir yang katanya baik itu. Hyukjae juga terlihat sedikit terkejut, namun ia tidak mengambil pusing. Wajahnya kembali normal dalam hitungan detik.
"Oh."
"W-wow?"
.
.
.
.
.
Title: The Greatest Secret
Author: CLA
Rated: T
Genre: Fantasy, Family(?)
Words/ Length: 4k+/ chaptered
Pair: none, but eunhae are the main cast here. Setidaknya di chapter-chapter awal mereka main cast ._.
Disclaimer: I own the story. God own the casts. I just borrow their name.
Warning: AU, Ooc, typos, etc. Please do remember this is just a fiction, which means, not real.
.
.
.
.
.
Kesekian kalinya sudah Donghae mengerjap bodoh tak berhenti. Ia menatap Hyukjae dan sarang si penyihir bergantian setiap beberapa detik sekali. Donghae mengernyit dan menggigit bibirnya. Astaga, sepertinya lain kali ia tidak boleh terlalu sering berfantasi.
"Sudah puas mengaguminya?"
Donghae menggeleng. Mulutnya terbuka, hendak mengucap sesuatu namun kalimat yang akan ia lontarkan seperti tersangkut di tenggorokannya dan tak bisa keluar.
"Dari jauh saja kau sudah lihat kan kalau ada yang janggal dengan tempat ini? Jadi jangan mengekspektasi berlebihan."
Donghae tak bisa menjawab apa-apa selain mengerjapkan matanya dan menutup paksa mulutnya yang terus menganga. Beberapa meter di depannya, terdapat sebuah gubuk yang sepertinya hanya bisa ditinggali 1 orang. Gubuk itu, selain terlihat sangat rapuh dan fisik luarnya terlihat seperti nyaris diterjang angin topan, juga mengeluarkan aura-aura yang terasa mencekam. Angin tiba-tiba berhembus terlalu kuat, membuat Donghae terpaksa harus menarik baju Hyukjae dengan erat, takut-takut nanti dia terbang. Peduli amat dengan baju Hyukjae yang berkemungkinan sobek karenanya.
"S-serius kita harus meminta bantuan disini?"
"Menurutmu?" Hyukjae memukul tangan Donghae cukup keras, membuat tangan Donghae lepas dari bajunya. Ia melangkah dengan berani sendirian lurus ke depan, meninggalkan Donghae yang tercengang di belakang karena, siapa sih yang sanggup ke rumah nyaris hancur dan terlihat tua yang dikelilingi banyak sarang laba-laba dengan aura gelap yang mencekam?
"H-Hyukjae, tunggu!"
Donghae menenggak ludah kasar dan berlari mengejar Hyukjae. Pandangannya terfokus ke depan karena ia tak berani menengok ke kiri-kanan, apalagi atas-bawah. Donghae memejamkan matanya sambil berlari setelah ia yakin jalanan di depannya bersih dan hanya tertutup dedaunan hijau yang sudah mengering dan menjadi cokelat.
BUK
"Aduh! Hyukjae kalau jalan lihat-"
"Sshhht!"
Donghae dengan terpaksa diam sesuai dengan perintah Hyukjae. Dengan ekspresi sebal, ia menggaruk hidungnya yang mendadak menjadi gatal dan mendengus. Sudah menabrak punggung Hyukjae karena (menurutnya) murni kesalahan Hyukjae yang mendadak berhenti melangkah, disuruh diam saat protes pula.
"A-"
"Jangan bersuara." bisiknya. Hyukjae berjinjit dan mendekati gubuk berbahan seperti bambu itu diikuti dengan Donghae yang terus mengekorinya kemana pun ia pergi. Bisa dibilang Hyukjae risih dengan Donghae yang terus mengekorinya karena, langkah kaki Donghae yang berisik dapat mengacaukan niatnya untuk mengintip. Hyukjae kan harus memastikan terlebih dahulu siapa yang ada di dalam, atau adakah orang yang tinggal di dalamnya.
"Diam di tempat. Jangan ikuti aku." bisiknya. Donghae sedikit memajukan bibirnya. Donghae juga merasa langkah kakinya berisik, karena itulah ia kurang lebih mengerti alasan Hyukjae menyuruhnya diam di tempat. Tapi kata Sunny penyihirnya baik kan? Apa masih perlu dipastikan? Kenapa Hyukjae was-was? Apa dia takut ada orang selain penyihir yang disebutkan tinggal di gubuk itu? Kenapa tidak coba langsung ketuk pintunya saja dan menanyakan langsung kepada siapapun yang ada di dalam?
"Pertanyaan bodoh Donghae."
Donghae terkesiap saat Hyukjae menjawab pertanyaan yang ia pikirkan. Donghae mengernyit dan Hyukjae melirikkan matanya ke arah Donghae lalu menghela nafas dan kembali mengintip melalui celah-celah bambu gubuk.
"Kau membisikkannya, keras pula."
Donghae membulatkan mata. Masa sih ia menyuarakan pikirannya? Donghae sendiri tidak merasa, tapi biasanya orang yang tak sengaja menyuarakan isi pikirannya memang tidak pernah merasa mereka pernah mengucapkannya kan? Ah, tidak penting.
"Kenapa kau tidak mengintip lewat jendela saja?" bisik Donghae. Hyukjae menatap Donghae aneh, lalu menggeleng-gelengkan kepalanya. Ia menghela nafas, membuat Donghae agak sedikit tersinggung karena merasa Hyukjae seakan mengatainya bodoh tak tertolong.
"Menurutmu kenapa? Pikirkan jawabanmu sendiri."
Donghae memutar bola matanya dan memasang wajah jengkel pada Hyukjae. Donghae juga mengepalkan tangannya di udara dan bertingkah seakan ia akan menghajar Hyukjae dalam hitungan beberapa detik.
"Hae." Hyukjae berbalik badan, yang menyebabkan Donghae refleks menurunkan kepalan tangannya ke belakang dan tersenyum manis. Sangat manis sampai terlihat sekali ada sesuatu yang mencurigakan.
"Ya ada apa?" Donghae menyuarakan dengan nada manis yang sangat dipaksakan.
"Rumah ini kosong tapi sepertinya masih ada yang meninggalinya."
"Gubuk maksudmu."
"Terserah apa katamu. Jadi pertanyaanku adalah, kau mau ikutan masuk tidak?" Pertanyaan Hyukjae cukup membuat Donghae melirikkan matanya ke segala arah. Terlihat sekali dia ragu karena, DEMI TUHAN INI GUBUK ATAU RUMAH HANTU.
Di tengah hutan, dengan banyak sarang laba-laba besar kalau perlu diingatkan.
"Ah? Kau takut ya?" Hyukjae menaik turunkan alisnya dan menyeringai. Donghae memutar bola matanya dan menghela nafas karena diledek.
"Siapa bilang? Aku berani kok!"
"Baguslah! Sana pergi!" Hyukjae mendorong Donghae masuk ke dalam. Belum sempat Donghae memaki Hyukjae, suara deritan lantai kayu lapuk yang tak sengaja Donghae injak terdengar, membuat kedua laki-laki itu jantungan.
"Perhatikan langkahmu bodoh!" Hyukjae mendesis. Donghae masih berdiri di dekat pintu sementara Hyukjae mengambil langkah terlebih dahulu untuk mendekati benda-benda yang terletak di dalam gubuk gelap itu. Tangannya menyilang, kepalanya dimiringkan.
Donghae melihat tingkah Hyukjae dengan bingung. Ia mengendikkan bahu dan berdiri di sebelah Hyukjae, ikut-ikutan saja. Terkadang Donghae mengusap lehernya atau lengannya karena merasa mendadak dingin. Mungkin pengaruh angin. Karena ada lubang seperti jendela namun berukuran kecil (kira-kira sebesar telapak tangan) di atas kasur yang sedang mereka belakangi. Jendela kecil itu, selain sebagai sumber cahaya walau kurang terang, tapi juga sebagai sumber sirkulasi udara.
"S-sarang laba-labanya banyak ya."
Terdengar gumaman.
"Benda apa ini? Pot? Kendi? Donghae menunjuk ke sekumpulan pajangan berdebu yang terjajar rapi di sebuah rak di depan kasur. Jarak antara rak dan kasur kira-kira hanya 15 cm. Ruangan sempit ini mampu menampung sebuah kasur dan rak, juga sebuah lemari kecil. Selain itu tak ditemukan lagi apapun di dalam gubuk ini.
"Kurasa tempat untuk menampung air. Ah, ada yang warnanya bening seperti gelas ukur! Kurasa juga digunakan untuk membuat ramuan atau semacamnya." Hyukjae mencoba menerka dan sedikit menganalisis. Donghae hanya mengangguk-nganggukkan kepalanya mengerti.
"Ah, lemari itu kecil sekali ya." Donghae mencoba berkomentar karena suasana yang hening dan agak mencekam yang terjadi diantara Hyukjae dengannya dalam waktu cukup lama. Hanya gumaman terdengar.
"Hyuk-" Donghae menoleh ke belakang, matanya membulat horor saat tidak melihat Hyukjae disana, melainkan seseorang dengan mata yang merah, jarak wajahnya dan Donghae tak lebih dari 5 cm.
Dan teriakan histeris pun terdengar memekakkan telinga.
.
.
.
.
.
.
.
Hyukjae sedang keluar mencari udara segar, ia meninggalkan Donghae sendirian karena dirasa gubuk itu aman. Udara di dalam terlalu menyesakkan dan penuh debu, membuatnya hampir tak bisa bernafas. Ia tidak mengerti kenapa Donghae sanggup bertahan hidup di tempat se-sesak itu.
"Hm?" Hyukjae mengernyit saat matanya tak sengaja menangkap adanya jejak kaki yang tercetak jelas di tanah basah hutan, yang mengarah masuk ke dalam gubuk. Seingatnya saat ia datang tadi, ia tidak menemukan jejak kaki sama sekali.
Teriakan histeris membuat Hyukjae membalikkan tubuhnya dan reflek berlari ke dalam gubuk. Ia terbatuk-batuk saat debu memaksa masuk ke tenggorokkannya, satu tangannya ia gunakan untuk menutup mulut.
"Donghae apa yang-" Ucapannya terhenti saat melihat Donghae terbaring di atas kasur, terkapar. Yang berdiri di hadapannya sekarang adalah sesosok makhluk, dengan tinggi kurang lebih tidak berbeda jauh dengannya dan tubuh tertutupi semua oleh rambut abu-abu, antara uban atau bekas debu yang tak pernah dibersihkan. Pakaiannya serba panjang berwarna putih kusam, janggut sangat panjang hingga mulutnya tak terlihat.
Ia terlihat seperti kain pel butut.
"Siapa kau?" Hyukjae memberanikan diri berbicara. Seumur-umur ia hidup, tak pernah ia menemukan makhluk seperti ini. Nampaknya ia mengerti pertanyaan Hyukjae karena ia berbalik badan saat Hyukjae memanggilnya. Mungkin jika kau tak benar-benar memperhatikannya, kau akan mengira bagian depan dan belakang tubuhnya sama.
"Oh, hai." Ia mengangkat tangan kanannya, bajunya turun hingga memperlihatkan tangannya yang putih dan tercampur hitamnya debu. Hyukjae mengernyit dan mengangkat tangannya, membalas sapaan.
"Ehm... ini temanmu ya?" Sosok itu menunjuk ke kasur tempat Donghae pingsan. Hyukjae mengangguk sekilas dan sosok itu mengangguk mengerti sambil mengusap jenggotnya yang sangat panjang.
Suaranya tak terdengar seperti orang tua. Aneh. Hyukjae mengendikkan pundaknya dan tersenyum, menunjuk kearah Donghae. "Boleh kuambil?"
"Oh ya, silahkan." Sosok orang tua itu bergeser. "Ngomong-ngomong, kenapa kalian masuk ke rumah orang lain seenaknya?"
Hyukjae menghentikkan langkahnya dan terdiam. Mulutnya terbuka seperti ingin menjawab, lalu tertutup lagi. "Aa... Itu..."
"Hm?"
"Bisa kita bicarakan diluar saja? Disini agak... sesak."
Orang tua itu terdiam sebentar, lalu mengangguk. "Tentu saja, kenapa tidak?"
.
.
.
.
.
.
.
"Ya, jadi kira-kira begitu, Teukkie... hyung..." Hyukjae mengucap ragu. Setelah berbasa-basi beberapa saat, Hyukjae mengetahui bahwa sosok di hadapannya ini bukanlah orang tua, melainkan orang dewasa yang berusia 24. Namanya Leeteuk, namun ia meminta Hyukjae untuk memanggilnya Teukkie-hyung.
Leeteuk hobi berkelana untuk mencari tempat hidup yang nyaman. Walaupun kurang penting, tapi Leeteuk adalah seorang pemalas kalau sudah menyangkut dirinya sendiri. Itu adalah sebab kenapa ia malas mandi, mencuci bajunya, membersihkan rumah, mengurus rambut-rambutnya. Matanya yang merah karena terlalu sering kemasukan debu dan dibiarkan oleh sang pemilik juga merupakan salah satu faktor mengapa Donghae bisa tiba-tiba pingsan. Donghae pasti mengiranya setan.
"Oke, sepertinya ceritamu menarik. Aku akan ikut membantu kalian! Tapi seperti yang kau dengar sari Sunny, aku akan menolongmu dengan satu syarat."
Hyukjae menarik nafas.
"Bantu aku mengalahkan kesombongan salah satu penyihir hitam yang kuincar."
Hyukjae menautkan alis dan menatap Leeteuk aneh, karena demi apapun, itu syarat yang agak aneh dan... ya, aneh. Maksudnya, kesombongan penyihir? Biasanya seseorang akan meminta untuk mengalahkan penyihir jahat, bukan mengalahkan kesombongannya.
"B-baiklah. Bisa kubantu. Kapan kita berangkat?"
"Oh tentu saja sekarang. Setelah semuanya sudah siap." Leeteuk tersenyum lebar.
"Ah tapi temanku-"
"Tenang saja." Leeteuk menunjuk kearah Donghae, Hyukjae menoleh dan matanya membulat. Belum sempat ia berbicara, Leeteuk sudah terlebih dahulu memotongnya. "Dia tidak jahat. Dan dia bisa membantu mengangkut Donghae." Leeteuk berdiri dan menepuk-nepuk tangannya, membersihkannya dari debu kerikil, lalu berjalan masuk kembali ke dalam gubuk.
Hyukjae terdiam. Ia terus menatap Donghae, yang sekarang ditemani seekor beruang hitam besar yang juga ikut tertidur di sisinya. Hyukjae menghela nafas saat membayangkan apa reaksi yang akan Donghae berikan saat sadar ia melihat beruang seukuran beruang madu dewasa itu. Ia berdiri dan menepuk-nepuk tubuhnya, membersihkannya dari debu. Kakinya melangkah, ikut masuk ke dalam menyusul Leeteuk.
"Ehm... Teukkie-hyung, maaf, apa ada air untuk di minum disini?" Hyukjae menggaruk hidungnya untuk yang kesekian kali. Ia berani bertaruh, tinggal lebih lama lagi di gubuk ini pasti akan membuatnya alergi debu.
"Oh? Minum?" Leeteuk menyembulkan kepalanya dari salah satu kendi besar, menyebabkan rambutnya bergoyang dan semakin terlihat seperti kain pel. Dibalik kumis dan jenggotnya yang sangat panjang, ia bisa melihat pergerakan bibir Leeteuk yang membentuk senyum. "Tentu saja aku punya! Tapi..."
Hyukjae menautkan alisnya.
"Aku tak yakin kau mau meminumnya." Leeteuk mengambil salah satu... gelas berdebu dan memasukannya ke kendi besar itu, lalu mengangkatnya kembali dan cukup membuat Hyukjae menganga dan berkedip tak percaya.
"Aku biasa meminumnya dari sini karena aku malas ke belakang. Di belakang ada sungai. Tapi kalau kau malas mengambilnya, kau boleh meminum air ini. Kita sharing."
Hyukjae bahkan tak berani menenggak ludah saat melihat gelas yang diangkat Leeteuk, karena ia yakin semua orang pasti akan merasakan hal yang sama sepertinya saat melihat minuman sehari-hari Leeteuk. Karena, DEMI TUHAN, DI GELAS ITU AIRNYA KERUH. Tapi mungkin yang membuat Hyukjae lebih geli adalah fakta bahwa seekor ikan kecil hitam sedang berenang, dan juga terdapat banyak sisa gumpalan debu masuk ke dalam gelas bening itu.
Hyukjae mau muntah.
"Ehm... I-itu... Ikan..."
Kepala Leeteuk bergerak miring ke kanan. "Oh." Leeteuk kembali menuangkan airnya ke dalam kendi besar. "Maaf, tidak kelihatan."
Hyukjae hanya senyum menanggapinya.
"Maaf, ikan-ikan yang pernah kutangkap di sungai terlihat lucu jadi aku membawanya sekalian memeliharanya di tempat penyimpanan air ku satu-satunya." jelas Leeteuk. Hyukjae masih tersenyum sambil menahan gejolak aneh dalam perutnya.
"Kalau kau malas, kenapa kau tidak menggunakan kekuatanmu saja?"
Hyukjae mengerjapkan matanya berkali-kali. "Kekuatan apa?"
"The power of love~" Leeteuk bernyanyi, lalu terbatuk canggung dan mengobok-ngobok air kendinya, "Maaf, itu musik favoritku dari dunia kalian."
"Oke, aku serius. Kau tidak perlu pura-pura tidak tau karena aku tau semuanya Hyukjae."
"Apa maksudmu?"
"Aku tau semua hal tentang dimensi lain dan tentang segala hal yang berhubungan dengan dunia ini Hyukjae, kau mungkin bisa menyembunyikannya dari yang lain, tapi kau tak akan bisa menyembunyikannya dariku."
"Oh." Hyukjae menundukkan kepalanya, karena ia tau apa yang dimaksud dengan Leeteuk. "Aku... aku berusaha untuk tidak menggunakannya lagi. Mungkin hanya menggunakannya saat terdesak."
Leeteuk meng-oh-kan dan mengangguk mengerti. "Aku menghormati keputusanmu. Sekarang, kau ambil air di sungai belakang saja. Tidak jauh kok, paling hanya berjarak setengah jam dari sini."
Dan Hyukjae hanya bisa menelan ludah.
.
.
.
.
.
.
.
Saat Hyukjae kembali dari sungai ia sudah bisa melihat Donghae yang sudah bergelantungan di dahan pohon dan berpelukan erat dengannya. Di bawah pohon itu, beruang hitam besar sudah berdiri dan terlihat seperti memanjat pohon yang membuat Donghae terlihat gemetaran.
"A-aku mau pulaaanngg!"
Awalnya Hyukjae ingin menghampiri Donghae dan mengajaknya turun ke bawah, tapi langkahnya tertahan saat ia mendengar Leeteuk memanggil entah nama siapa. Beruang itu berkoar dan terdengar seperti ia menggerutu.
Hyukjae dapat melihat dalam waktu sekilas tubuh beruang itu menyusut hingga lama-lama terbentuklah tubuh yang terlihat seperti tubuh manusia dengan rambut hitam berponi agak panjang. Ia merentangkan tangannya seakan mau menangkap sesuatu dan membuka mulutnya, memanggil Donghae.
"Donghae, namamu Donghae kan? Turunlah! Aku tidak akan memakanmu!"
Melihat beruang itu, Donghae tentu saja semakin ngeri. Ini pertama kalinya ia melihat binatang yang berubah jadi manusia jadi... yah wajar.
"Kangin-ah! Hyukjae sudah balik, biar dia saja yang mengurusnya."
Mendengar perintah Leeteuk, Kangin mengangguk walaupun dengan muka masam dan bibir sedikin di majukan. Ia berjalan balik dan merubah dirinya kembali menjadi beruang, lalu duduk dengan manis di samping Leeteuk yang sedang... mencabut uban? Atau kutu? Entahlah.
"Donghae" Hyukjae berdiri di hadapan pohon besar itu dan menepuk-nepuk kedua tangannya. "Turun! Beruang itu sudah tidak ada."
Donghae menggeleng.
"Kenapa? Tidak perlu takut! Seperti katanya, ia tidak akan menggigit-mu!"
Donghae masih menggeleng.
"Bukan itu lagi sekarang masalahnya Hyukjae," Donghae menjawab dengan suara gemetaran. "A-aku tidak tau cara untuk turun."
.
.
.
.
.
.
.
"Temanmu lucu ya."
Hyukjae berdecih mendengar pujian Leeteuk. Ia menatap lurus ke depan, dimana Donghae mulai terlihat seperti bocah hiperaktif diatas punggung beruang hitam itu. Ya, Donghae yang takut setengah mati dengan seekor beruang hitam besar nan jinak sekarang tengah menungganginya sebagai tumpangan gratis sementara Hyukjae dan Leeteuk harus berjalan kaki dan mengeluarkan begitu banyak peluh yang membuat tubuh mereka seperti habis tercebur di air kolam.
"Dia merepotkan."
Leeteuk tertawa kecil. "Menurutku dia lucu." Komentarnya, membuat Hyukjae memutar bola matanya. "Kau belum merasakan hidup hanya berdua dengannya."
"Ganti topik." Leeteuk berdeham, "Menurut petunjuk yang dikeluarkan sihirku, kita harus menemukan 15 orang tertentu agar pintu itu menetap. Sekarang kalau dilihat-lihat, kita sudah berempat sekarang."
"4? Kita hanya bertiga."
"Kangin dihitung empat." balas Leeteuk. Hyukjae hanya bisa mengangguk mengerti. Leeteuk kemudian mengeluarkan sebuah peta lusuh dan lecek dari kantung celana gombrongnya.
"Menurut peta yang kubawa-"
"Kau yakin petanya masih bekerja?" Hyukjae menatap ragu. Leeteuk mengernyit. "Tentu saja. Peta ini baru berusia 68 tahun. Paling tidak hanya beberapa tempat saja yang sedikit bergeser."
Leeteuk berdeham, "Oke, jadi kira-kira kita akan menemukan orang berikutnya di tempat penyihir Heechul nanti."
Hyukjae menghentikkan langkahnya dan menancapkan ranting pohon untuk menahannya agar tidak terjatuh di tanjakan gunung ini. "Bukankah kita harus melawan Heechul? Bagaimana bisa tau siapa orang yang kita butuhkan siapa yang tidak?"
Leeteuk mengendikkan bahu. "Entahlah, aku juga tidak tau."
Perjalanan mereka dilalui keheningan, suara yang terdengar hanya berasal dari Donghae yang sifat sangat bocahnya keluar dan masih tidak mengakuinya. Sesekali mereka beristirahat di tengah perjalanan, jika malam tiba mereka tidur bersandar di pohon. Hanya Donghae yang tidur bersandar pada Kangin. Kehangatan beruang itu juga cukup membuat Donghae bangun paling segar setiap paginya. Setiap kali mereka lapar, mereka selalu mencari sungai untuk menangkap ikan, atau memakan buah dan dedaunan yang mereka lewati dikarenakan mereka merasa jijik untuk memakan hewan yang tak begitu wajar dimakan. Tak jarang mereka menemukan makanan beracun, namun mereka selalu selamat berkat pengetahuan Leeteuk tentang tanaman liar yang begitu luas.
"Pagi!" Donghae menyapa ceria dengan suara nyaring yang disengaja, membuat Hyukjae mengerang protes. Disisi lain, Leeteuk mengangkat kepalanya dan menatap Donghae dengan senyum, senyum yang Donghae tak terlalu bisa lihat sehingga malah membuat Donghae merinding. Leeteuk tak pernah benar-benar bisa tertidur sangat pulas seperti hal-nya makhluk-makhluk lain.
"Kau berisik."
"Oh. Terima kasih, tapi akhirnya kau bangun kan?"
"Terserah apa kata-mu." Hyukjae meregangkan otot-ototnya.
"Jangan lupa mandi. Di pinggir sungai ada dedaunan yang bisa dijadikan sabun." Donghae mengingatkan. Hyukjae mengangguk malas. Sedetik kemudian, mata Hyukjae membulat. Mengingat ada sungai dan daun yang Donghae katakan itu, Hyukjae merasa tergoda untuk menyeret Leeteuk masuk ke dalam air. Kalau boleh jujur, mata Hyukjae terasa gatal melihat tubuh Leeteuk yang sudah terlihat seperti sarang burung. Hal yang sama berlaku kepada Donghae, bahkan bocah itu tak jarang menyuarakan pendapatnya tentang penampilan Leeteuk secara privat kepada Hyukjae dalam waktu seharian penuh.
Tanpa berpikir panjang, Hyukjae menarik tangan Leeteuk dan membawanya, lalu menyeburkannya paksa ke dalam air tanpa mendengarkan protes dari Leeteuk sendiri. Terbutakan oleh keinginan tinggi untuk membersihkan tubuh Leeteuk yang memiliki bau menyengat, Hyukjae tak mempedulikan norma dan tata krama lagi. Ia tak peduli siapa Leeteuk, berapa usianya, atau pun kasta apa yang ia miliki di antara bangsanya.
Hyukjae mengambil batu kali yang bagus dan menyodorkannya kepada Leeteuk. "Gosok tubuhmu dengan ini! Aku sudah tidak kuat lagi!"
Acara mandi berlangsung cepat dikarenakan air yang terlampau dingin. Hyukjae adalah orang yang pertama kali keluar dari sungai dan Leeteuk menyusul tak lama setelahnya. Baju Leeteuk basah kuyup dikarenakan langsung diseret ke air, sementara Hyukjae mandi hanya mengenakan celananya sehingga bajunya masih tetap kering dan menggantung di dahan pohon.
"Bagaimana? Segar kan?" Hyukjae tau Leeteuk pasti kesal karena mendadak diseret ke air, ia juga tau Leeteuk pasti sedang menahan dirinya untuk tidak mengoceh panjang lebar kepada Hyukjae. Karena itulah, Leeteuk hanya tersenyum memaksa di balik jenggot dan kumis yang lebat.
"Bagaimana dengan matamu? Masih merah?" Pertanyaan ini tak perlu Hyukjae jawab karena ia bisa melihat dengan jelas dibalik rambut yang menutupi mata itu, terdapat celah yang memperlihatkan bahwa warna mata Leeteuk masih merah.
"Aku tak pernah mengalami itu sebelumnya. Tak bisa sembuh secara alami ya?" Leeteuk menggeleng. Hyukjae menautkan alisnya. "Lalu bagaimana cara menghilangkannya? Itu terlihat mengerikan, Donghae pun takut melihatmu." Leeteuk menghela nafas. Dengan malas tangannya bergerak menutup matanya sendiri. Cahaya putih tiba-tiba terlihat dari balik tangan Leeteuk, dan dalam beberapa detik Leeteuk melepaskan tangannya, mata Leeteuk terlihat normal, tak ada lagi warna merah yang membuatnya terlihat begitu mengerikan.
"Oh wow, begitu terlihat lebih baik. Kenapa kau tak melakukannya dari awal?"
Leeteuk menatap Hyukjae. "Malas." Ia lalu melihat bajunya dan menggeleng-gelengkan kepala. Bisa ia rasakan tatapan Hyukjae yang masih tertuju kepadanya. "Sihirku terbatas, aku hanya bisa melakukan beberapa hal. Seperti tadi."
"Menghangatkan dirimu sendiri?"
"Aku tidak bisa bermain api."
"Oh."
Leeteuk menarik bajunya (atau bisa dibilang jubah), lalu memelintirnya hingga air-air menetes deras. Hyukjae menatapnya kasian. Ia tau Leeteuk tidak membawa pakian apa-apa, lagi ia malah menyeburkannya ke dalam sungai dengan baju masih lengkap dipakainya.
"Eh?" Leeteuk mengeryit saat melihat bajunya yang perlahan-lahan mengering sendiri dengan cepat, hingga tak sampai hitungan menit, baju itu kembali kering seperti semula. Ia mengangkat kepalanya dan menatap kearah Hyukjae yang sudah berbalik badan dan beranjak kembali ke tempat semalam mereka beristirahat.
"Hyukjae kau-"
"Tidak perlu berterima kasih. Anggap saja itu adalah permintaan maafku." ucapnya sambil berjalan, "Dan tolong potong rambutmu, setidaknya sampai kita dapat melihat wajahmu. Jujur saja, kau terlihat seperti kain pel butut."
"Kain pel butut?"
"Kain yang digunakan untuk membersihkan lantai jika kotor."
Leeteuk mengangguk mengerti dan menatap Hyukjae yang terlihat semakin jauh darinya. Diam-diam, Leeteuk tersenyum dan menggelengkan kepala.
"Dasar bocah kurang ajar."
.
.
.
.
.
.
.
Kembalinya Leeteuk dengan penampilan baru membuat Donghae tercengang dan Hyukjae tersenyum puas. Donghae terlihat mengerjapkan matanya berkali-kali, membuat Leeteuk menggaruk kepalanya.
"Kenapa? Aneh ya?"
"Tidak juga. Terlihat lebih baik daripada sebelumnya." Hyukjae menjawab.
Penampilan Leeteuk terlihat lebih baik dibandingkan sebelumnya, saat mereka pertama kali bertemu. Walaupun masih ada jenggot dan kumis panjang yang menggantung disekitar bibir Leeteuk, setidaknya terlihat lebih baik dibandingkan sebelumnya yang memiliki panjang hampir selutut. Rambutnya di potong asal dan Hyukjae berani bertaruh Leeteuk memotongnya dengan pisau yang ia bawa, dalam sekali potong saja. Sekarang rambutnya sepanjang pundak dan poninya sepanjang alis sehingga tidak terlalu menutupi matanya.
"Tapi tetap terlihat mengerikan." bisik Donghae.
"Hah?"
"T-tidak, tidak apa-apa." Donghae menggelengkan kepalanya dan menempelkan tubuhnya ke Hyukjae, tangan kirinya mencengkeram varsity Hyukjae, kebiasaan Donghae setiap kali ia merasa takut atau merasa terancam sejak pertama ia memasuki dunia ini.
Donghae terus menatap waspada Leeteuk yang mulai sibuk sendiri dengan kangin sampai akhirnya mereka memutuskan untuk mencari makan dengan pembagian kelompok: Leeteuk dengan Kangin dan Donghae dengan Hyukjae. Saat melihat Leeteuk yang sudah mulai menghilang dari pandangan, Donghae menyikut Hyukjae.
"Kau tak bilang Leeteuk bukan orang tua. Aku sempat syok, kukira dia orang asing, tau!"
"Kenapa kau tidak bertanya?"
Donghae memajukan bibirnya saat Hyukjae malah kembali bertanya padanya. Dengan perasaan berat hati, Donghae mengganti topik pertanyaannya.
"Oke, jadi sekarang kita akan menetap di tempat ini?"
Hyukjae mengendikkan bahu. "Entahlah, kudengar di hutan ini banyak binatang buasnya. Kita bisa meninggalkan hutan ini sebelum malam." ucapnya sambil memilih dan memetik beberapa buah-buahan kecil.
"Keranjang." pinta Hyukjae. Donghae mengernyit dan tanpa Hyukjae lihat pun dia tau ia menanyakan hal yang salah. "Aku lupa kita tidak punya keranjang. Bajumu sini! Tampung buahnya!" Donghae yang sedikit kebingungan mengangguk dan menuruti perintah Hyukjae tanpa berpikir panjang. Ia menarik bagian bawah bajunya keatas sehingga membentuk wadah. Setelah mengumpulkan begitu banyak buah-buahan, Hyukjae dan Donghae kembali ke tempat perkumpulan awal mereka dengan baju penuh dengan buah-buahan beragam.
"Ini persediaan makanan kita sampai tujuan. Kalau ada yang beracun di buang saja."
Leeteuk mengamati buah-buahan yang sudah di dapat. Setelah membuang beberapa yang tak boleh dimakan, ia memasukkan sebagian buah-buahan itu ke sebuah tas kulit kecil untuk persediaan makanan. Sebagian lagi mereka makan di tempat.
"Menurut perkiraanku, kita akan sampai ke kastil tujuan saat fajar. Tempat ini agak berbahaya, jadi kita akan memilih tempat peristirahatan lain di tengah jalan." Leeteuk menjelaskan, diangguki oleh Donghae dan Hyukjae.
"Ayo berangkat!"
.
.
.
.
.
.
.
Aroma bunga yang begitu menusuk indra membangunkan Donghae dari tidurnya. Setelah tinggal semalaman di pinggir tebing, Donghae melanjutkan tidurnya kembali di punggung Kangin yang berbulu sementara Leeteuk dan Hyukjae melanjutkan perjalanan mereka dengan berjalan kaki, yang Donghae yakini sangat melelahkan. Tapi mau bagaimana lagi? Ia tak terbiasa berjalan jauh dan ia yakin, jika ia mengikuti jejak Leeteuk dan Hyukjae, ia pasti sudah pingsan terlebih dahulu di tengah jalan.
"HATCHIM!" Donghae menggosok-gosokan jarinya ke hidungnya yang terasa gatal. "HATCHIM!" Dan untuk yang kedua kalinya Donghae kembali bersin hingga hampir terjatuh dari punggung Kangin. Leeteuk menggeleng-gelengkan kepalanya sementara Hyukjae menghela nafas pasrah saat mendengar Kangin yang meraung-raung dengan suara beruangnya yang begitu besar.
"Maaf aku tidak sengaja!" Donghae segera menuruni tubuh Kangin dan mengusap-ngusap punggung Kangin yang tercakar olehnya, bahkan segenggam bulunya tercabut karena Donghae berusaha menahan dirinya agar tidak terjatuh tadi. Sepertinya permintaan maaf Donghae tidak terlalu diterima oleh Kangin, karena beberapa saat kemudian ia merubah tubuhnya menjadi manusia, raut wajahnya kesal, tangannya terus memegangi punggungnya yang tercakar Donghae.
"Kau!" Kangin menunjuk Donghae kesal, "Jalan sendiri!" Tangannya menunjuk ke depan, ke arah sebuah kastil yang sudah mulai dekat dengan dengan mereka. Donghae menenggak ludah.
"T-tapi-" Donghae langsung bungkam saat melihat Kangin yang mulai berjalan terlebih dahulu meninggalkan Donghae. Sekilas terlihat bibirnya yang sedikit di majukan.
"T-Teukkie hyung~" Donghae mulai merajuk tak tau malu. Leeteuk menggelengkan kepalanya dan lanjut berjalan. "Maaf, tapi aku tidak berani mengganggu Kangin saat ia sedang kesal."
"Hyuk-"
Hyukjae mengangkat tangannya dan menggelengkan kepala, lalu berjalan menyusul Leeteuk. Donghae memutar bola matanya, kakinya dihentak-hentakkan seperti bocah.
"Fine!" ucapnya kesal. Donghae berlari mengejar Hyukjae dan Leeteuk yang sudah meninggalkannya agak jauh. Ia terus mengejar mereka, hingga akhirnya ia baru tersadar kalau ia sudah memasuki halaman kastil. Donghae menutup hidungnya yang sudah mulai kembali gatal.
"Jangan bersin Donghae." Leeteuk memperingatkan. Ia menatap langit dan mengernyit, lalu kembali menatap Donghae dengan hidungnya yang sudah memerah. "Jam segini biasanya Heechul masih belum terjaga, jadi-"
"HATCHIM!"
"-silahkan bersin." lanjutnya. Hyukjae menutup hidungnya, alisnya bertaut. Ia tak pernah melihat lautan bunga sebanyak ini, sampai aromanya tercium sangat kuat dan malah membuat hidung orang lain jadi gatal-gatal.
"Kau yakin ini tempat- HUATCHIM!" Hyukjae menggosok-gosok hidungnya yang memerah dan mengernyit. Untuk pertama kalinya ia bersin karena mencium bau bunga. "Kau yakin ini tempatnya?"
Leeteuk mengangguk.
"Penyihir hitam kan?"
Leeteuk kembali mengangguk.
Hyukjae dan Donghae saling bertatapan. Mereka menatap satu sama lain dengan heran. Donghae menunjuk kastil di depannya dan Hyukjae hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya tidak tau.
Siapa yang mengira kastil seorang penyihir hitam dipenuhi aura cerah berbunga-bunga dan tidak terkesan menakutkan sementara rumah penyihir putih malah terlihat mengerikan? Apalagi kastil itu tidak terlihat tua dan dikelilingi banyak bunga yang membuatnya terlihat lebih seperti Disneyland.
"Hei." Panggilan Leeteuk menyadarkan Donghae dan Hyukjae. "Jangan sampai berpencar oke? Bisa ribet kalau satu orang terpencar dengan yang lainnya." Leeteuk memperingatkan, dijawab dengan anggukkan Donghae dan Hyukjae. Leeteuk tersenyum dan mengacungkan jempolnya. "Ayo kita masuk!" Ia melangkah terlebih dahulu, ditemani Kangin yang mengekor di belakangnya.
"Eh iya! Kastil ini begitu besar. Kira-kira Heechul akan ada di mana?"
Leeteuk menghentikkan langkahnya dan berbalik badan, menatap Donghae dengan senyuman meragukan. Donghae menenggak ludah saat merasa ada yang tidak beres.
"Lupa kubilang. Kalau ia belum berpindah kamar, berarti dia tinggal di lantai..." Leeteuk berbalik badan dan menghadap kastil, mata dan jarinya bergerak dari bawah ke atas, lalu ia kembali berbalik badan menghadap Donghae dengan senyuman mencurigakannya.
"Lantai 57."
"Manual?"
"Yap. Jalan kaki sampai ke atas." balasnya.
Donghae menganga saat mendengarkan informasi yang menakjubkan dari Leeteuk. 10 lantai saja Donghae sudah terkapar, apalagi 57?
Dan pada akhirnya, Donghae pun pingsan.
.
.
.
TBC
.
.
.
thank you for reviews, favorites, and follows dear :) maaf updatenya lama soalnya banyak masalah ^^
see U ^^
