DISCLAIMER: HIRO MASHIMA

RATE : T

GENRE : CRIME/MYSTERY

WARNING : AU, 1ST POV, GORE, BIT OF OOC

.

.

Kopi Polonium Sequel

.

.

~Some Evidences~

Tidak perlu menunggu waktu lama untuk membuat masyarakat di desa Honoka mengerubungi rumah yang disebut oleh Jiemma-san sebagai manor. Berita menggemparkan ini langsung tercium oleh publik entah bagaimana cara pastinya. Beberapa warga ingin masuk ke dalam namun beberapa pria berseragam kuning tua menghalang-halangi mereka yang ingin masuk. Aku segera mengosongkan ruangan kamar Jiemma-san dari ketiga orang yang sedari awal sudah ada di dalam.

Seorang pria berpostur sedikit gemuk dengan kesan wajah sangar mendekat ke arahku yang kini sedang berdiri di pintu kamar. "Selamat malam tuan. Saya adalah kepala desa di desa ini. Nama saya Ivan."

Aku ber-ojigi kepadanya, "Salam kenal juga Ivan-san. Saya Gray Fullbuster dan juga merupakan seorang detektif. Ada perlu apa anda menemui saya? Dan yang terpenting, anda dilarang untuk melangkahkan kedua kaki ke dalam kamar tanpa seijin saya."

"Selaku kepala desa saya merasa sangat berduka cita atas apa yang menimpa kepada saudara Jiemma. Beliau walaupun baru satu tahunan menetap di desa ini namun sudah seperti keluarga bagi kami, para masyarakat Honoka." ucapnya dengan muka sayu.

"O ya Ivan-san, apa anda tahu kota terdekat dari desa ini? Saya ingin menghubungi pihak kepolisian di kota terdekat itu untuk meminta bantuan dan segala macam yang nantinya diperlukan." kataku.

"Kota ya..." pria berjenggot itu menggaruk pelipisnya, "Sepertinya kota Edolas. Namun jaraknya cukup jauh sekitar empat puluh kilometeran dan waktu tempuh kemari kurang lebih dua setengah jam." lanjutnya.

Aku menghela nafas, "Baiklah. Terima kasih atas informasinya."

Aku segera masuk ke dalam kamar Jiemma-san untuk melakukan panggilan kepada Hargeon Police Departement dan nantinya akan disambungkan kepada Edolas Police Departement. Karena jujur saja aku tidak punya nomor telepon Kepolisian Edolas.


Tuut...Tuuut...Tuuut...

Aku : "Moshi-moshi. Ini aku Gray dan aku butuh bantuan sekarang."

Clarice : "Gray kah? Memangnya ada apa? Bukankah kau kini sedang berada di tempat mantan kepala kita, Jiemma, untuk sekedar bersantai?"

Aku : "Clarice, aku sedang tidak main-main. Jiemma-san TERBUNUH barusan. Kau boleh memberitahukan kepada yang lain setelah kau sambungkan aku kepada EPD. Cepat!"

Clarice : "As...taga. Ya sudah, roger, akan aku laksanakan."

Tuut...Tuuut...Tuuut...

Tuut...Tuuut...

X : "Selamat malam. Ini dengan Kantor Kepolisian Edolas, ada yang bisa kami bantu?"

Aku : "Selamat malam. Saya detektif Gray Fullbuster dari Kepolisian Hargeon. Dimohon untuk mengirimkan bantuan aparat menuju Desa Honoka yang ada di dalam wilayah Edolas karena di sini barusan terjadi pembunuhan. Korban adalah mantan pemimpin HPD, Jiemma."

X : "Pak Jiemma yang bertubuh besar dan tegas itu kah? Aku ingat dia. Baik, akan segera kami kirimkan bantuan secepatnya. Lebih baik anda bekerja duluan sambil menunggu kedatangan pihak Kepolisian Edolas ke situ."

Aku : "Terima kasih banyak."


Panggilan kuakhiri. Waktu telah menunjukan pukul 19.25 namun orang-orang diluar masih ribut serta ngotot ingin masuk guna melihat langsung TKP. Mayat atasanku sudah kututupi dengan selimut berwarna hijau agar lebih sopan mengingat kondisinya yang cukup mengerikan. Orang-orang dalam rumah yang kucurigai sebagai tersangka kini sedang berada di ruang keluarga tepatnya di lantai dua. Hanya berjarak beberapa meter dari pintu kamar ini.

Aku menutup pintu kamar untuk memulai penyelidikan. "Maaf Ivan-san, aku terpaksa menutup pintu ini agar lebih fokus dalam bekerja."

Pria itu mengangguk mantap, "Silahkan saja detektif muda. Kami dari pihak desa hanya ingin membantu semaksimal yang kami bisa untuk menuntaskan masalah ini. Kami berjanji akan kooperatif." kemudian dia lekas menggeser posisi tubuhnya dari daun pintu.

"Saya minta tolong agar aparat keamanan dari desa bekerja dengan sungguh-sungguh untuk memproteksi rumah ini dari orang-orang yang tidak berkepentingan. Terima kasih sebelumnya Ivan-san." setelah menyelesaikan kalimat aku langsung menutup pintu dan mengunci...

'Lho, kenop pintu ini tidak bisa dikunci kah?' kedua bola mataku sontak bergerak ke arah bawah, mengarah ke bagian kenop dan lubang kunci. Kubuka sedikit pintu itu untuk melihat apa yang sebenarnya terjadi. Apa yang salah sebenarnya.

Hancur.

Kenop itu hancur terutama pada bagian penguncinya. Aku yakin jika pelaku mendobrak pintu ini saat masuk. Kemungkinan besar jika didobrak berarti pintu terkunci dari dalam.

Pintu itu hanya kuganjal dengan sebuah kursi kecil yang kebetulan berada di pojok ruangan. Bau anyir darah masih tercium jelas dan membuatku mual. Aku sampai detik ini sudah menangani serta menyelesaikan kurang lebih enam kasus pembunuhan. Dua rumit dan sisanya cukup sederhana. Tapi dari kesemua itu tidak ada yang kondisi mayatnya separah ini. Kebanyakan dari mereka terbunuh dengan cara diracun atau paling parah ditembak pada bagian dada. Dan ironisnya, aku kini menangani mayat dari orang yang pernah memimpinku dua tahun silam.

Isi kamar nyaris tidak ada yang rusak parah sepengamatanku. Semua masih berada di dalam posisinya masing-masing. Apa mungkin seorang Jiemma-san dibunuh tanpa melalui perlawanan dimana hal itu akan mengakibatkan keributan? Jika mantan atasanku itu melawan sebelum terbunuh minimal ada beberapa perabotan, barang, ataupun bekas perkelahian. Aku pernah mendengar jika pak tua ini mampu menangkap dua orang perampok yang menggunakan senjata tajam. Dan dia hanya mengalami dua luka gores di pergelangan tangan.

Kubuka selimut hijau yang menutupi tubuh kekarnya yang kini sudah kaku dan dingin. Kuamati dengan seksama dari bagian ujung kaki lalu naik hingga paha, perut, punggung, dan...

"Apa ini?" segera kupakai sepasang sarung tangan agar tidak merusak sidik jari lalu menyentuh tengkuknya.

'Sebuah luka lebam ya? Apa mungkin korban sempat dipukul terlebih dahulu sebelum digorok? Itu lebih masuk akal karena jika korban digorok saat dalam keadaan sadar maka dia pasti akan meronta-ronta dan hal itu akan membuat orang lain mendengarnya.' analisaku dalam hati.

Tapi ada yang aneh. Area luka lebam pada bagian tengkuk bisa dikatakan tidak lebar sama sekali serta warnanya samar.

Selain itu tidak ada yang aneh. Poin paling penting dari kondisi korban yaitu keadaan lehernya, tepatnya leher sisi kiri tergorok oleh benda tajam sepanjang lima belasan centimeter. Irisan kulitnya terbilang sangat rapi. Pelaku mahir kah?

Hampir empat puluh menit berlalu dan tidak ada hal lain yang menarik perhatianku. Jarum pendek pada jam tanganku menunjuk ke angka delapan dan jarum panjangnya pada angka dua. Pukul 20.10 malam.

Hampir saja aku berniat mengakhiri penyelidikan awal ini jika saja kedua bola mataku tidak menangkap sebuah benda cukup panjang yang tergeletak di bawah ranjang milik korban.

"Go...Golok?" sebuah golok kini berada di dalam genggaman tangan kananku. Benda tajam berwarna perak kehitaman itu kira-kira panjangnya sekitar tiga puluh centimeter. Mungkinkah ini alat yang digunakan oleh pelaku untuk menghabisi nyawa korban? Apalagi pada bagian tepian golok tercecer lumuran darah.

Apa pelaku seorang yang bodoh sehingga barang bukti dibiarkan begitu saja di bawah kasur?

Selain nama-nama calon tersangka, kini aku juga sudah mengantongi satu barang bukti serta satu petunjuk.

Sebuah golok dengan panjang kira-kira tiga puluh centimeter yang berlumuran darah korban. Tergeletak di bawah ranjang.

Kenop pintu yang rusak. Kemungkinan didobrak dari luar oleh pelaku karena pintu kamar korban dikunci dari dalam.

X

X

X

X

X

Aku memutuskan untuk keluar dari dalam kamar itu. Aku dan beberapa aparat keamanan desa memasang sebuah tali tambang berukuran cukup besar melintangi pintu kamar yang tertutup. Dengan maksud agar tidak ada orang tak berkepentingan yang masuk ke dalam. Sebagai alternatif sebelum pihak polisi memasang police line di situ nantinya.

Aku berjalan menuju ke arah ruang keluarga tempat di mana keempat orang yang dicurigai berada. Sesampainya di sana mereka langsung menatapku bersamaan dengan ekspresi campur aduk.

"Detektif Gray-san, bisa kau jelaskan kepada kami tentang apa yang terjadi? Apa ayahandaku dibunuh atau malah bunuh diri?" tanya Minerva. Sepertinya dia sudah lumayan baikan dan tidak dalam keadaan syok.

Aku mengangguk, "Aku tahu apa yang sebenarnya terjadi. Ayah anda menjadi korban pembunuhan dan...anda harus tabah nona." kataku lirih.

Wanita itu cuma menundukkan kepala saja.

"Siapa kira-kira uhuk pembunuhnya nak?" kali ini kakek tukang kebun itu yang mengajukan pertanyaan.

"Entahlah. Tapi ada sebuah barang bukti yang aku temukan di sana. Ini dia..." kutunjukkan golok itu kepada mereka semua. Golok yang berada di dalam plastik besar transparan dengan noda darah yang sudah mulai mengering.

"I...I...tu." Juvia syok.

Minerva menelan ludah dan seketika dia menoleh ke samping, "Yajima! Bukankah itu golok kesayanganmu yang sering kau gunakan untuk membabat semak-semak?!"

Warna kulit wajah kakek pendek itu perlahan memucat dan peluh mulai membanjiri dahinya. "Iya benar uhuk uhuk itu milikku. Tapi aku bersumpah bukan aku pembunuhnya nak."

"Kau sedang sakit pak tua? Kau terbatuk-batuk terus sedari tadi." Laxus yang bertanya.

"Uhuk memang. Tapi tidak usah dipermasalahkan kok karena ini uhuk penyakit orang tua." sahutnya enteng.

"Sebaiknya kalian bertiga jangan langsung menjustifikasi yang bersangkutan karena untuk menentukan sang pelaku tidaklah cukup hanya dengan satu barang bukti. Aku mungkin akan meminta keterangan dari kalian berempat besok pagi."

Setelah selesai menjelaskan kepada empat orang itu aku lalu berjalan keluar dari manor ini. Dengan tujuan untuk mengambil pesanan makanan juga minuman di kedai 'Oishi' yang tadi sore sempat aku sambangi. Kebetulan kerumunan orang-orang di sekitar rumah Jiemma-san juga sudah bubar barusan saja.

Jalanan desa di malam hari sangat berbanding terbalik dengan tadi sore menjelang senja. Hawa dingin menusuk kulit. Nyaris tidak ada yang berlalu lalang kecuali mungkin orang-orang yang punya kepentingan mendesak. Termasuk aku.

Sesampainya di kedai aku segera menghampiri kasir untuk mengambil nasi goreng seafood dan juga jus jeruk.

"Permisi, aku kemari ingin mengambil pesanan dibungkus yang tadi kutinggal dan sudah dibayar di muka." ujarku dengan nada sedikit memohon. Karena kedai ini bisa dibilang akan tutup semenit lagi.

"Untung saja kau datang tepat waktu. Kupikir makananmu ini tidak akan diambil, hehehe." pria muda yang bertugas sebagai kasir itu menyerahkan sebuah bungkusan berisi pesanan kepadaku. "Terima kasih ya."

Aku membalas dengan senyuman. Mencoba untuk mengecek isi bungkusan siapa tahu ada yang salah.

"Apa kau sudah dengar tentang kematian sadis di rumah Pak Jiemma hari ini? Dengar-dengar dia dibunuh."

Aku memperhatikan baik-baik saat kasir itu berbicara.

"Aku sih yakin jika benar dia dibunuh maka pembunuhnya adalah Yajima. Tukang kebunnya itu." sambungnya sambil menata beberapa piring di rak.

'Yajima?' aku membatin.

"Memangnya kenapa kau bisa sampai seyakin itu jika pak tua pendek itu adalah pelakunya?" aku berusaha bertanya dengan posisi senetral mungkin.

"Yaah hampir semua orang di desa ini tahu jika Pak Jiemma itu pernah menghancurkan bisnis kecil-kecilan dari pak tua Yajima. Sebelum bekerja sebagai tukang kebun, pak tua Yajima merupakan seorang pedagang sembako yang membuka kios di pasar. Akan tetapi entah bagaimana ujung-ujungnya dia berhutang kepada Jiemma dengan nominal sangat banyak untuk ukuran pedagang kecil sehingga dia tak mampu membayar." sang kasir masih melanjutkan cerita yang bisa kukatakan sangat berguna untuk menemukan motif dari calon tersangka. Mustahil seseorang membunuh tanpa motif sekalipun itu adalah motif yang remeh.

"Biar kutebak lanjutannya. Kakek tua renta itu bekerja sebagai tukang kebun untuk melunasi segala hutangnya?"

Laki-laki di hadapanku menjetikkan jari, "Tepat sekali. Dan parahnya, dia tidak digaji sepeser pun kecuali makan tiga kali sehari gratis di situ. Yajima bekerja kalau tidak salah semenjak sepuluh bulan yang lalu."

Mungkinkah jika benar kakek penyakitan itu adalah pelakunya maka motif utamanya adalah dendam karena perlakuan Jiemma-san yang seakan menjadikan dia sebagai budak? Apa motif ini kuat untuk dijadikan alasan membunuh? Dan yang terpenting...apakah segala yang diucapkan oleh laki-laki ini barusan adalah fakta?

"Aku pamit dulu. Permisi."

Baru saja aku berjalan beberapa langkah keluar dari kedai tiba-tiba saja ponselku berdering. Aku pun segera mengambilnya dari saku kiri dan menerima panggilan...


Aku : "Moshi-moshi. Gray Fullbuster di sini."

Doranbolt : "Selamat malam detektif Gray Fullbuster. Saya adalah Doranbolt. Inspektur yang ditugasi oleh Edolas Police Departement untuk membantu menangani kasus pembunuhan di Honoka."

Aku : "Bagus. Personil anda sudah sampai di tempat tujuan?"

Doranbolt : "Sayang sekali detektif. Kabar yang akan anda dengar justru sebaliknya. Tim kami terjebak dan tidak mungkin bisa sampai ke desa karena..."

Aku : "..."

Doranbolt : "Jembatan besar jalan satu-satunya menuju desa roboh. Kami berusaha untuk mencari jalur alternatif selama hampir dua jam namun sia-sia. Jalan satu-satunya adalah menyebrangi sungai. Namun saya tidak berani mengambil resiko karena sungai Kinzo selain dalam juga berarus deras. Maaf sekali lagi."


-TSUZUKU-

Chapter dua nih. :)

Di sini ada OC yang namanya Clarice. Dia tuh perannya kaya cameo. Ivan di sini bukan ayahnya Laxus. Jadi harap diingat ya.

Di chapter ini ada satu petunjuk dan satu bukti yang sudah jelas nyata dan author tunjukkan tersurat.

Namun ada satu petunjuk kecil lagi yang akan dipakai untuk menentukan sang pelaku di chapter terakhir. *semoga mampu selesai sampai chapter terakhir*

Apakah itu?

Terima kasih sudah membaca! :)