DISCLAIMER: HIRO MASHIMA

RATE : T

GENRE : CRIME/MYSTERY

WARNING : AU, 1ST POV, GORE, BIT OF OOC

.

.

Kopi Polonium Sequel

.

.

~Accuse Each Other~

Sinar matahari pagi yang hangat namun masih bersahabat dengan mata masuk ke dalam kamar tempatku tidur. Mataku mengerjap berulang kali untuk membiasakan diri terkena sinar. Rasa kantuk masih menjalari kepala karena semalam aku tidur terlalu larut. Yang pertama adalah berdiskusi dengan Inspektur Doranbolt selama nyaris empat puluh lima menit terkait masalah ketidak mampuan aparat Kepolisian Edolas untuk memasuki desa ini dikarenakan jembatan besar yang melintang di atas sungai Kinzo putus. Tidak ada jembatan lain dan satu-satunya jalan jika mereka ingin sampai kemari adalah dengan melintasi sungai yang katanya memiliki kedalaman tiga meter dan arus yang sedang deras kali ini. Jadi mustahil.

Kedua, setelah mengakhiri pembicaraan, kepala desa beserta perwakilan aparat keamanan desa ingin mengajakku berdiskusi tentang penanganan kasus ini. Aku jelaskan kepada mereka panjang lebar tentang beberapa peraturan yang harus dipatuhi agar penyelidikan bisa berjalan lancar dan yang paling penting adalah informasi bahwa pihak kepolisian tidak mampu ikut andil sedikitpun di dalam penanganan kasus. Jadi Ivan-san akan membantu semampunya dengan mengerahkan dua orang aparat keamanan desa yang diyakininya mampu meringankan bebanku dalam menyelesaikan kasus. Wakaba-san yang profesi aslinya adalah kepala keamanan desa dan Ichiya-san yang memiliki profesi tukang cukur. Mereka berdua dikatakan sebagai pria yang paling handal di dalam lembaga desa.

Bisa kusimpulkan bahwa penyelidikan kasus ini benar-benar manual. Aku tekankan, benar-benar manual. Tidak ada yang namanya tes sidik jari serta tes forensik. Dan akibatnya apa? Akan sangat sulit untuk menentukan sang pelaku.

X

X

X

X

X

Setelah aku mandi lalu sarapan pagi, aku kembali melanjutkan penyelidikan di TKP. Saat aku mau memasuki kamar di pojok kiri lantai dua itu, kebetulan Wakaba-san dan Ichiya-san masih tertidur persis di depan pintu. Mungkin mereka berdua masih kelelahan akibat ditugasi untuk begadang menjaga tempat kejadian perkara sejak dini hari.

"Wakaba-san, Ichiya-san." kutepuk pundak masing-masing.

Pria dengan model rambut jambul ke depan itu mulai membuka mata pelan-pelan. Sedangkan pria yang di sampingnya tidak bergeming sedikitpun.

"Enggh...eh, Gray-san?"

"Wakaba-san, lekas lah bangun lalu bantu aku menyelidiki korban." suruhku.

Pria itu mengangguk lirih, "Emm tapi, bagaimana dengan Ichiya?" dia menoleh ke arah rekannya.

"Biarkan saja. Nanti kita akan bangunkan setelah penyelidikan di dalam selesai. Kebetulan aku hanya butuh bantuan satu orang saja." jelasku sembari membuka pintu kamar Jiemma-san.

Bau busuk mulai menguar walau tidak terlalu pekat. Intensitasnya masih ringan. Oleh karena itu aku akan mengecek sekali lagi ke dalam sebelum pembusukan mayat benar-benar terjadi dan akan mempersulitku nantinya. Jika saja jembatan itu tidak roboh mendadak maka penyelidikan mendalam terhadap mayat korban akan menjadi tanggung jawab tim forensik EPD.

"Sssh lumayan bau ya." keluh Wakaba begitu memasuki kamar. Kemudian dia menutup pintu dengan hati-hati.

"Wakaba-san, pakailah ini." aku menyodorkan sepasang sarung tangan kepadanya. Kebetulan sekali aku memiliki persediaan banyak sarung tangan di mobil karena saking seringnya berurusan dengan pembunuhan.

Kami berdua mendekati tubuh Jiemma-san yang tertutup oleh selimut hijau. Aku membukanya.

"Iiihh..." ekspresi wajah pria paruh baya di sampingku berubah seketika. Sepertinya dia baru pernah melihat langsung dengan mata kepala sendiri mayat seorang manusia korban dari pembunuhan. Semoga saja dia mampu bertahan dan tidak mengundurkan diri.

"Bernafas lah melalui mulut jika kau tidak sanggup Wakaba-san. Aku tidak akan lama kok." ucapku menenangkan. Kuperintahkan dia agar menggeser bagian kaki dan aku menggeser bagian tubuh ke atas. Aku akan meneliti tubuh korban bagian depan setelah kemari bagian belakang.

Kufokuskan tatapan baik-baik. Dari ujung kaki, paha, perut, hingga dada. Semuanya seakan tanpa keanehan berarti. Hanya saja lagi-lagi aku menemukan sesuatu yang janggal di otot trapezius Jiemma-san. Tepatnya sebelah kiri.

'Apa ini?' kudekatkan sepasang bola mata ke bagian itu. Aku melihat ada sebuah bekas seperti sengatan di situ. Ini aneh, sengatan? Mungkinkah itu berhubungan dengan kasus ini? Apa itu adalah sengat biasa atau...bukan?

Lima menit setelahnya aku putuskan untuk mengakhiri penyelidikan kedua. Wakaba langsung meluncur ke luar kamar secepat mungkin karena merasa sudah tak kuat menahan bau busuk. Tidak masalah bagiku.

Sebelum aku melangkahkan sepasang kaki keluar, perhatianku sedikit teralih kepada jendela di kamar ini. Jendela biasa dengan dua daun itu kubuka perlahan dari dalam lalu kulongokkan kepala ke arah luar. Apa ada kemungkinan jika pelaku membunuh lewat jendela? Namun aku ragu. Sejauh mata memandang tak ada pijakan sama sekali di bawah jendela satu-satunya di kamar ini. Itu berarti pelaku harus menggunakan semacam tali atau sejenisnya. Dan kemarin sempat aku cek juga. Nihil. Juga tidak ada pohon di dekat jendela ini yang mungkin bisa digunakan oleh pelaku sebagai tumpuan untuk melompat.

X

X

X

X

X

"Kau kan yang membunuh ayahanda?"

"Uhuk saya berani bersumpah nona, saya tidak membunuh uhuk ayah anda."

Terdengar suara-suara orang sedang bertengkar dari arah ruang tamu. Dan aku kenal siapa pemilik masing-masing suara itu.

"Nona Minerva dan Jiemma-san, ada apa ini?" tanyaku begitu sampai di ruang tamu. Padahal aku sudah tahu pasti apa duduk permasalahan yang sebenarnya terjadi di antara mereka berdua.

"Begini uhuk tuan detektif. Nona menuduh saya terus-terusan agar mengaku sebagai pembunuh Tuan Jiemma." jawab kakek tua itu. Raut mukanya terlihat memprihatinkan. Pasti dia stress dituduh seperti itu.

"Aku punya intuisi kuat jika itu kau!" wanita bermarga Orland itu menunjuk wajah Yajima dengan tangan kiri.

"Sudah-sudah." aku menengahi. "Kan kemarin malam sudah aku katakan jika jangan langsung menuduh seseorang tanpa bukti yang kuat." lanjutku lagi.

'Seandainya saja golok itu dicek oleh tim kepolisian untuk ditelisik sidik jari yang tertempel di situ maka kemungkinan besar akan ketahuan siapa pelakunya. Dan juga sampai sejauh ini hanya Yajima saja yang sudah kuperoleh motifnya.'

Mereka akhirnya terdiam. Peretengkaran tidak jelas itu berhenti juga. Aku masuk ke dalam kamarku yang berada persis di samping pintu masuk lantai satu untuk melihat barang bukti. Aku takut golok itu sudah diambil oleh seseorang, terutama wanita ber-make up tebal itu yang masih kukuh dengan tuduhannya.

Ternyata tidak. Golok lumayan panjang yang kusimpan di samping laci masih tetap dalam posisi semula. Kuambil benda tajam itu dari dalam plastik pembungkusnya. Hanya iseng saja sih. Lagian juga tidak masalah untuk memegangnya langsung karena sudah kuputuskan untuk menyelesaikan kasus secara manual. Tanpa campur tangan teknologi dari kepolisian.

Tapi...ada yang janggal. Ujung serta tepian golok ini tidak tajam? Lumayan tumpul tepatnya. Ada sesuatu yang aneh pada kasus ini. Apa yang kuperkirakan di awal sepertinya meleset.

-Ceklek-

"An...Ano detektif?"

Kutengokkan kepala ke belakang. Itu Juvia si pembantu rumah tangga.

Wanita pemalu itu menunduk. Sepertinya dia sedang dalam posisi ketakutan.

"Yajima-san?" aku membuka suara saat menyadari jika kakek berkumis kotak itu sudah berada persis di belakang tubuh Juvia.

"Detektif Gray Fullbuster, kau uhuk sebaiknya fokuskan kewaspadaanmu pada wanita di depanku ini." tunjuknya ke arah punggung Juvia.

Alis kananku terangkat.

Juvia terlihat sedikit bergetar. "Sa...Saya sebenarnya ingi...n mengatakan bah...bahwa kunci..."

"Kunci uhuk ganda seluruh pintu di rumah ini hilang. Dan uhuk uhuk wanita ini lah yang memegangnya." sambar Yajima.

Aku membatin, 'Kunci ganda? Kunci cadangan seluruh pintu di rumah maksudnya?'

"Saat aku sedang uhuk ingin meminjam kunci ganda itu darinya tiba-tiba saja uhuk kunci itu sudah tidak ada di tempatnya." cerocos pak tua pendek itu dengan nada sarkastis. Sepertinya tersimpan kebencian di hatinya terhadap Juvia.

"Juvia, apakah tempat kau biasa menyimpan kunci cadangan itu sangat tersembunyi atau malah mudah dijamah?" tanyaku. Berusaha menyelidiki.

"Aku me...nyimpannya di paku ya...yang tertancap di tembok. Kupikir te...tempatnya tidak terlalu mencolok." jelasnya dengan intonasi lirih.

'Apa hubungannya kunci cadangan dengan kasus ini? Atau jangan-jangan...'

"Sejak kapan kau kehilangan benda itu?" tanyaku lagi.

"Se...Sejak aku masuk ke dalam kam...ar tadi malam. Pukul setengah sepuluh malam ki...kira-kira."

Begitu ya? Posisi kunci cadangan tidak terlalu mencolok artinya susah untuk dijamah tanpa eksplorasi ruangan terlebih dahulu.

"Dan anehnya kenapa uhuk uhuk Juvia ini berbelanja di saat stok bahan pangan di rumah masih cukup banyak? Berbelanja di senja hari uhuk benar-benar mencurigakan." sepertinya si tukang kebun itu mulai main tuduh.

"Aku benar-benar tidak tahu-menahu!" gentak Juvia. Sepertinya dia juga mulai marah.

"Detektif, sebaiknya uhuk kau awasi wanita ini baik-baik." kemudian pria tua itu pergi dari hadapanku.

"Permisi..." Juvia pun menyusul pergi.

Aku menghela nafas panjang. Semakin rumit saja sepertinya kasus ini. Hubungan antara kunci ganda dengan kasus pembunuhan semakin menambah rentetan korelasi yang harus kuselesaikan di sini.

Kulirik jam dinding yang ada di kamar tamu ini. Sudah cukup siang rupanya, pukul 08.57. Rencananya jam setengah sepuluh aku akan mengorek keterangan atau istilah lainnya alibi dari keempat calon tersangka. Lebih baik aku segera menghubungi kepala desa beserta aparat keamanan untuk menyiapkan semuanya dengan baik.

Di halaman rumah sudah terlihat beberapa orang. Mereka semua adalah orang-orang dari pihak desa. Termasuk sang kepala, Ivan.

"Ivan-san, apakah anda sudah menyiapkan personil? Setengah jam dari sekarang aku akan memulai interogasinya." kataku.

"Semua orang yang dibutuhkan sepertinya sudah hadir dan siap kapan saja. Tapi sebentar..." pria bercambang itu menghitung orang-orang yang ada di situ dengan seksama.

"Ada yang...kurang?"

"Wakaba. Si pemalas itu sepertinya masih ada di rumah. Akan kupanggilkan ya Gray-san." usulnya.

"Tidak usah. Biar aku saja ya. Sekalian jalan-jalan pagi, hehe."

Setelah dijelaskan mengenai alamat rumah kepala aparat keamanan desa itu, aku segera menuju ke sana. Tidak membingungkan. Tinggal berjalan mengikuti jalan aspal menuju barat dari depan rumah Jiemma-san dan berbelok kiri begitu menemui toko 'Super Murah'. Tak kusangka jika orang yang kucari sedang berjalan ke arahku sambil asyik merokok.

"Hey detektif!"

Aku melambaikan tangan kanan. "Kenapa lama Wakaba-san? Anda sudah ditunggu oleh kepala desa di TKP. Sebentar lagi interogasi calon tersangka akan dimulai."

"Iya iya aku paham. Maaf karena aku tadi mengerjakan pekerjaan rumah terlebih dulu." ucapnya sembari berjalan di sampingku.

Tidak banyak yang kami lakukan selama perjalanan. Aku terdiam sambil sesekali mengamati lingkungan sekitar dan pria berambut jambul ini hanya asyik menghisap sumber nikotin.

"Aku ingin tahu apa yang akan Laxus katakan."

Aku menoleh, merasa sedikit heran.

"Laxus Dreyar itu adalah pacar dari anak Jiemma. Mereka berencana ingin menikah namun digagalkan telak oleh pria yang sudah membusuk itu."

Bisa kau katakan sopan sedikit tentang mantan atasanku, Wakaba?

"Digagalkan?" aku bertanya singkat.

Wakaba menghembuskan asap putih dari mulutnya, "Intinya mereka berdua tidak jadi menikah. Akan tetapi Laxus bersikukuh ingin berhubungan dengan gadis semok itu sehingga pada akhirnya status sahabat lah yang terjalin di antara mereka. Walau aku tahu brewok tua bangka itu masih tidak menginginkan kehadiran Laxus di sisi putrinya."

"Bagaimana anda tahu sampai sedetail itu Wakaba-san?"

Pria itu hanya mengedikkan bahu, "Yah wajar. Karena aku merupakan kepala aparat keamanan yang juga merupakan informan terbaik di desa ini."

Aku menanggapi ucapannya dengan sebuah senyuman kecut.

Laxus Dreyar adalah mantan kekasih Minerva Orland. Mereka berdua berencana untuk menikah namun terpaksa kandas di tengah jalan oleh ulah Jiemma-san yang entah apa alasannya. Apa ini bisa dikatakan sebagai suatu motif?

Aku kira jawabannya adalah...YA.

-TSUZUKU-

Halo semuanya. Chapter 3 sudah author rilis nih. :)

Di chapter ketiga ini ada satu bukti yang jelas terpampang dan dua petunjuk. Apa saja itu? Jangan lupakan karena ketiganya berguna untuk menyusun puzzle pembunuhan ini.

Terima kasih sudah membaca! ;)