DISCLAIMER: HIRO MASHIMA
RATE : T
GENRE : CRIME/MYSTERY
WARNING : AU, 1ST POV, GORE, BIT OF OOC
.
.
Kopi Polonium Sequel
.
.
~Interrogation Part 1~
Jarum panjang pada jam dinding berbentuk persegi yang tertempel di dinding ruang tamu telah bergerak perlahan-lahan menuju ke angka enam. Sedangkan jarum pendeknya stagnan di tengah-tengah angka sembilan dan sepuluh. Pukul setengah sepuluh tepatnya. Waktu yang sudah kupersiapkan untuk mengorek alibi serta keterangan apa saja dari keempat orang itu. Para calon tersangka yang urutannya nanti adalah pertama Yajima, kedua Laxus, ketiga Minerva, dan terakhir Juvia.
Ruang tamu disulap sementara untuk menjadi ruang interogasi. Tidak banyak yang berubah. Hanya ada beberapa dokumen serta sebuah barang bukti penting di atas meja, golok sepanjang tiga puluh centimeter. Serta ada dua orang pria yang akan menemaniku di dalam ruangan saat penginterogasian nanti berlangsung. Ivan yang memang aku suruh untuk menemani serta seorang pria tambun berpostur pendek dengan tingkah noraknya, Ichiya Vandalay Kotobuki. Daripada dia terus merengek seperti bayi yang ingin susu maka lebih baik aku ijinkan saja dengan syarat tidak mengganggu jalannya penyelidikan.
Banyak warga sekitar yang berkumpul di halaman rumah ini untuk sekedar melihat atau mendengarkan dari luar. Hingga ada segelintir orang tanpa tata krama yang memaksa untuk masuk dan menyaksikan sendiri jalannya interogasi. Berterima kasih lah kepada Wakaba Mine selaku ketua aparat keamanan desa yang mampu mengerahkan bawahannya untuk menjaga situasi di kalangan massa agar tetap kondusif.
Aku menyiapkan selembar notes untuk mencatat alibi penting dari calon tersangka pertama. Dan sebuah pulpen tentunya.
"Yajima-san, silahkan kemari." perintahku tegas. Tak perlu menunggu satu menit untuk melihatnya duduk di hadapan kami bertiga.
"Kakek renta tanpa gairah, kau harus jujur dalam mengutarakan semua kalimat-kalimat pembelaan. Men..."
Aku jujur agak risih dengan pria aneh yang duduk di samping kananku ini. Seandainya saja dia bukan salah satu orang kepercayaan kepala desa maka sudah aku sarankan untuk angkat kaki dari ruangan ini sejak tadi.
"Apa saja yang harus saya uhuk uhuk katakan detektif?" tanyanya cemas.
"Anda hanya harus menjawab dan menjelaskan segala yang akan saya tanyakan nantinya. Jika bisa tolong yang singkat, padat, dan jelas." jawabku.
Kakek berkumis kotak itu memalingkan muka ke samping.
"Pertanyaan pertama. Perkiraan waktu kematian korban antara pukul 18.40 sampai 19.10. Aku pergi dari halaman setelah berbincang singkat dengan Minerva dan Laxus kira-kira pukul 18.40 dan sampai ke sini lagi setelah anda menghubungi lewat telepon kira-kira pukul 19.15. Jawablah, apa saja yang anda lakukan pada rentang waktu itu?" segera kusiapkan pulpen untuk menulis.
Yajima menggerakkan bola matanya berputar-putar ke segala arah. Dia sedang berpikir keras sepertinya. "Kalau uhuk tidak salah saya mulai menata pot-pot bunga di halaman belakang, tepatnya uhuk di pojok kiri halaman pada jam setengah tujuh malam kurang sedikit. Persisnya saya bingung."
Bisa kuasumsikan itu pukul 18.20.
"Lalu?" lanjutku.
"Setelah itu emm saya..."
Kalimatnya terhenti di tengah jalan. Aku memaklumi mengingat usianya yang kurang lebih sudah kepala tujuh atau kepala delapan maka untuk urusan sesepele ini dia merasa kesulitan.
"Sepertinya anda ingin mengatakan hal yang penting ya pak tua Yajima?" kali ini Ivan yang angkat bicara.
"Emm...o ya, saya uhuk uhuk ingat setelah hampir menyelesaikan pekerjaan itu saya melihat dari kejauhan ada seseorang yang berjalan uhuk menuju ke gudang tempat perkakas kebun biasa ditaruh. Saya kurang paham siapa uhuk itu karena selain sudah senja kebetulan kedua mata saya agak rabun jauh."
'Gudang? Di mana itu?' aku menengok ke arah Ichiya kemudian ke arah Ivan setelahnya.
"Gudang itu ya. Aku tahu, men. Letaknya ada di pojok kanan halaman kalau tidak salah." ujar pria nyentrik itu sembari menunjuk ke arah tenggara dari sini. Arah di mana gudang itu berada sepertinya.
"Lalu? Lanjutkan." suruhku.
"Aku menuju ke dapur untuk minum yang banyak karena selain lelah, tenggorokanku uhuk uhuk juga sakit." nafasnya terengah-engah. Penyakit yang dideritanya sepertinya menyiksa betul.
"Minum dulu Yajima-san. Jangan terburu-buru." kusodorkan segelas air mineral kepadanya. Kemudian dia langsung meminumnya hingga habis setengah botol.
"Bisa dilanjut?" tanya sang kepala desa.
Pria tua di hadapanku mengangguk, "Saya setelah dari dapur langsung menuju ke kamar saya yang berada persis di sisi gudang uhuk untuk membersihkan ruangan dan setelahnya berniat untuk membersihkan kamar Tuan Jiemma."
Aku mencatat hal-hal yang penting dari penuturannya barusan. "Ano Yajima-san, kalau boleh tahu pukul berapa saat anda berada di dapur dan di kamar pribadi anda?"
"Iya iya, ketika saya di dapur saya ingat betul jam berapa uhuk uhuk karena kebetulan di depan teko air terpasang jam dinding kecil. Pukul 18.52 saya ingatnya uhuk." jelasnya.
"Di kamar anda, men?" Ichiya bertanya.
Yajima menggeleng dua kali. "Kebetulan tidak ada jam. Mungkin uhuk jam tujuh pas."
"Dan bagaimana anda menemukan sang korban?" kusiapkan pulpen dan notes baik-baik. Sepertinya ini bagian yang paling penting.
"Saya menuju ke kamar Tuan Jiemma setelah uhuk selesai menyapu kamar saya. Saya terkejut ketika menyadari jika pintu kamar Tuan Jiemma sedikit terbuka uhuk. Dan begitu sampai, Tuan sudah tiada dengan posisi terlentang di atas ranjangnya." jawab Yajima.
Bisa kuasumsikan kakek tua ini menemukan tubuh mantan pimpinan Hargeon Police Departement itu pada pukul 19.10 kurang lebih.
"Ada dua pertanyaan tambahan pak tua. Dimohon anda bersedia menjawabnya." ucapku tegas.
"Akan saya jawab karena uhuk saya bersumpah saya tidak bersalah detektif."
Aku mempersilahkan Ivan untuk menanyai.
"Yajima-san, mengapa anda tahu nomor telepon saudara Gray? Bukankah sebelumnya anda tidak mengenalnya sama sekali?"
Kakek itu segera menjawabnya. "Saya tahu dari handphone milik majikan saya. Kebetulan di daftar panggilan uhuk uhuk tertulis 'Detektif Nista Gray Fullbuster'."
Sialan. Nista kata orang gila itu? Semoga arwahnya tenang dan tidak dikejar-kejar malaikat sekarang.
Pertanyaan terakhir giliran Ichiya yang mengambil alih.
"Apa benar ini senjata pusaka kesayanganmu, men? Dan di mana kau biasanya menyimpan benda futuristik ini, men?" pria gondrong itu menjungkir balikkan golok yang sudah ditetapkan menjadi barang bukti di kedua tangannya. Darah sudah benar-benar mengering di tepian hingga ujungnya.
"Saya uhuk uhuk bersumpah saya tidak membunuh Tuan!" intonasinya meninggi. Panik kah?
"Yajima-san, itu bukanlah jawaban yang korelatif. Katakan yang sejujur-jujurnya." tegasku.
Kepalanya menunduk ke bawah, "Haaahh...iya betul. Benda itu yang sering saya gunakan untuk membabat semak liar uhuk di halaman belakang rumah. Saya selalu menyimpan itu uhuk di gudang perkakas."
Sepertinya semua keterangan yang kubutuhkan sudah lengkap. Kakek ini boleh pergi.
"Baiklah." aku mengangguk mantap. "Terima kasih banyak karena anda bersikap sangat kooperatif dan sepertinya juga transparan Yajima-san." kusalami dia setelahnya.
Tak perlu menunggu lama untuk memanggil calon tersangka kedua. Kali ini adalah seorang pria berpotongan rambut pendek berwarna blonde yang memiliki nama cukup besar di kancah olahraga bela diri. Laxus Dreyar.
Pria tinggi itu datang tanpa perlu dipanggil dan langsung menyalami kami bertiga.
"Silahkan duduk saudara Laxus." kusuruh dia duduk.
Pria di depanku ini sepertinya sudah benar-benar siap. Terlihat dari roman mukanya yang penuh percaya diri. Atau memang itu adalah ekspresi kesehariannya?
"Tugas anda sederhana Laxus-san. Tinggal menjawab pertanyaan demi pertanyaan yang akan kami lontarkan." notes yang tadi kusimpan dan kuganti dengan notes kedua. Yang baru.
"Laxus, apa saja yang kau lakukan dari pukul 18.40 hingga waktu korban ditemukan yaitu kira-kira pukul 19.10?" pria bercambang lebat di sisi kiriku bertanya duluan.
Pria berotot itu melipat kedua tangannya di depan dada, "Seperti yang kau ketahui detektif, aku bersama Minerva masuk ke dalam rumah setelah berpapasan dan mengobrol ringan denganmu sore itu."
Kuanggukan kepala.
"Lalu...Minerva menunda untuk mendiskusikan sesuatu karena dia ingin pergi ke dapur untuk memasak terlebih dulu. Jadi aku putuskan untuk berolahraga push-up di kamar Minerva selama sahabat dekatku itu pergi."
"Laxus-san, di mana anda tidur selama menginap di rumah ini?" mungkin ini adalah pertanyaan yang agak mengusik privasi pria di hadapanku. Namun terpaksa kutanyakan demi kelancaran penyelidikan.
"Aku tidur bersama Minerva di kamarnya." jawabnya tanpa rasa malu sedikitpun.
'Sepertinya informan amatir bernama Wakaba itu tidak salah dalam memberikan kabar.' batinku.
"Men, pukul berapa kau menggerak-gerakkan sepasang tangan macho milikmu naik-turun di atas lantai kamar?" tiba-tiba saja Ichiya memajukan wajahnya mendekat ke arah wajah Laxus. Memberikan tatapan intimidasi.
"Ichiya-san, tolong hargai privasi." tegurku dengan nada menyindir. Pria aneh itu benar-benar di luar kontrol.
"Yah mungkin pukul 18.35 hingga 18.50. Setelah push-up tiba-tiba saja perutku sakit dan aku buang air besar di toilet yang ada di dalam kamar Minerva. Aku buang air besar mungkin sepuluh sampai dua belas menitan" jelas Laxus.
Kami berempat terdiam setelahnya. Aku masih sibuk menulis keterangan yang disampaikan olehnya barusan.
"Apa ada sesuatu yang membuatmu curiga tentang kematian korban?" tanyaku.
Dia merebahkan punggung lebarnya ke sofa. Kepalanya bergerak ke kanan dan kiri, diikuti oleh sepasang bola matanya. "Err sepertinya tidak. Hanya saja ada sesuatu yang janggal namun sepertinya itu adalah hal yang kurang penting. Mungkin aku salah dengar."
Kurang penting? Janggal?
"Apa itu Laxus?" Ivan memasang ekspresi penasaran.
"Saat aku sedang di dalam toilet, aku seperti mendengar suara kecelakaan kendaraan. Namun sepertinya aku salah dengar atau itu hanya suara-suara dari perasaanku saja. karena toiletnya terbilang agak kedap suara. Setelah dari toilet aku berjalan melewati ruang keluarga di lantai dua menuju balkoni untuk menghirup udara segar."
"Apa kau melihat sesuatu yang aneh di pintu kamar Jiemma?" tanyaku lagi. Kali ini antusias.
Dia menggeleng, "Aku tidak melewati kamar ayah Minerva. Tak lama setelah aku sampai di balkoni lantai dua tiba-tiba telingaku mendengar teriakan si tukang kebun. Kubergegas menghampiri sumber suara dan...terjadilah."
Kucatat rapi segala yang dia jabarkan dari mulutnya.
"Hanya itu saja, Laxus-san?" kuletakkan pulpen di atas notes.
"Ya, mungkin hanya itu." kemudian dia berdiri dari posisi duduk. "Bisa aku pergi dari sini?"
Aku menganggukkan kepala, "Silahkan. Dan terima kasih atas kerjasamanya saudara Laxus Dreyar."
Pria itu langsung meninggalkan ruang tamu tanpa permisi ataupun bersalaman seperti orang sebelumnya. Dua orang calon tersangka sudah membeberkan segala yang mereka ketahui dan lakukan pada saat rentang waktu perkiraan kematian korban. Entah siapa yang berbohong alias tidak sesuai dengan fakta, aku belum tahu pasti karena keterangan dari dua wanita setelah ini belum keluar. Yang jelas aku harus memahami dengan sungguh-sungguh catatan alibi yang telah kutulis di atas permukaan dua kertas notes berukuran dua puluh kali lima belas centimeter persegi.
"Gray-san, apa ada yang mengganggu pemikiranmu?" pak kepala desa menepuk pundak kiriku.
"Eh, tidak-tidak. Aku hanya sedang memikirkan deduksi singkat dari keterangan mereka barusan. Kita lanjut saja ya." kupanggil orang ketiga yang akan diinterogasi. Putri semata wayang dari mantan atasanku yang juga merupakan mantan kekasih Laxus Dreyar.
"Saudari Minerva Orland, silahkan masuk ke ruang tamu."
-TSUZUKU-
Chapter 4 sudah update. :)
Author sengaja memisah menjadi dua sesi interogasi. Yang pertama adalah Yajima dengan Laxus. Yang kedua adalah Minerva dengan Juvia.
Sengaja author lakukan dengan tujuan untuk mempermudah readers dalam memahami pernyataan-pernyataan keempat orang itu dengan lebih rinci.
Terima kasih sudah membaca! :)
