DISCLAIMER: HIRO MASHIMA
RATE : T
GENRE : CRIME/MYSTERY
WARNING : AU, 1ST POV, GORE, BIT OF OOC
.
.
Kopi Polonium Sequel
.
.
~Interrogation Part 2~
Wanita semampai itu berjalan menunduk memasuki ruang tamu dari atas tangga. Sesampainya di depan kami bertiga, dia berdiri mematung. Seperti ingin mengucapkan sesuatu.
"Tolong temukan pembunuh ayahanda." ucapnya bernada memohon.
Aku mengangguk pertanda mengerti, "Baiklah saya paham. Silahkan duduk dulu."
"Wangimu sungguh menggoda Minerva-chan, snif...snif..." goda Ichiya sembari mengendus-endus bau tubuh putri Jiemma dari jarak lumayan dekat. Membuatku merasa ikut malu atas sikapnya.
"Ehem, oke-oke. Tugas anda di sini simpel saja. Jawab pertanyaan yang kami tanyakan dan setelah selesai anda dipersilahkan untuk pergi." aku menjelaskan dengan baik.
Wanita berusia kisaran dua puluh lima tahunan itu tidak terlihat depresi atas kematian mendadak ayahnya yang tragis. Tidak ada air mata yang menetes setitik pun. Hanya saja raut mukanya masih memancarkan sedikit kesedihan. Itu wajar.
"Saudari Minerva..." Ivan mengambil nafas terlebih dulu, "Apa saja yang anda lakukan dari pukul 18.40 sampai pukul 19.10 di mana rentang waktu itu merupakan waktu perkiraan kematian ayah anda?"
Minerva mulai menjawab, "Aku memutuskan untuk menunda berbincang dengan Laxus di dalam kamar pribadiku. Karena kebetulan perutku lapar dan sudah waktunya makan malam maka aku berniat untuk memasak mie instan di dapur. Kegiatan itu sepertinya terjadi dari pukul 18.45 sampai pukul 18.55. Kalian tahu kan memasak mie instan tidak membutuhkan waktu yang lama?"
Aku segera mencatat alibi yang barusan dikatakan olehnya. "Lalu?"
"Aku memakan mie instan tersebut di depan televisi yang ada di ruang keluarga. Sambil menonton televisi tentunya." lanjutnya.
"Setelah anda menonton televisi sambil makan mie lantas tak lama setelah itu anda mendengar teriakan Yajima. Benar tidak?" aku menebak.
Roman mukanya menampakan sedikit keterkejutan. "Itu benar. Prediksi anda tepat detektif."
Kuasumsikan Minerva berada di ruang keluarga dari pukul 18.55 setelah selesai memasak hingga pukul 19.10 tepat ketika korban pertama kali ditemukan oleh Yajima.
"Apa ada hal lain yang membuat anda curiga? Semisal keanehan secara visual atau suara begitu?" tanyaku.
Telunjuk kanannya menggaruk-garuk dagu, "Emm sepertinya...sepertinya tidak. Hanya itu saja yang bisa aku katakan."
Aku mengangguk pertanda mengerti. Selesai menulis kutaruh pulpen di samping notes. "Jika itu saja yang bisa anda katakan maka anda saya persilahkan untuk pergi. Terima kasih banyak atas kerjasamanya."
Wanita itu berdiri lalu ber-ojigi kepadaku. "Aku mohon dengan sangat... cepat temukan pelaku yang sebenarnya, detektif Gray."
"Iya iya. Aku akan berusaha semaksimal mungkin karena ini merupakan kewajibanku."
Tanpa terasa sudah satu jam berlalu semenjak aku memulai menginterogasi dari jam setengah sepuluh. Hawa mulai memanas menjelang siang. Dan kini tinggal satu orang lagi yang harus aku tanyai alibinya.
"Juvia Loxar, dimohon kemari lah." perintah Ivan dengan nada tinggi.
Wanita berambut biru bergelombang itu berjalan perlahan ke arah kami bertiga sambil terus menunduk malu. Atau mungkin kata takut lebih tepat untuk mendeskripsikan perasaannya saat ini.
"A...Ano apa..."
"Duduklah Juvia." aku mempersilahkannya duduk di sofa yang berada di sebelah kirinya dengan nada sopan.
Wanita itu menurut.
"Tidak perlu takut atau panik. Anda tinggal menjawab segala pertanyaan dari kami dengan santai, tenang, dan yang terpenting adalah jujur. Jika anda memang bukan pembunuhnya maka bukankah seharusnya anda merasa tenang?"
Kalimat-kalimatku barusan sepertinya cukup efektif untuk menenangkannya. Tubuhnya tidak gemetaran seperti tadi. Aku cukup memahami seperti apa rasanya menjadi dia sekarang ini. Seorang yang pemalu lantas dihadapkan mendadak dengan tuduhan orang yang diperkirakan sebagai sang pembunuh memang akan menghancurkan jiwanya.
"Anda sudah tenang?"
Wanita itu terdiam. Tapi sepertinya dia memang sudah lebih baikan.
"Mohon jelaskan apa yang anda lakukan dari pukul 18.40 sampai pukul 19.10 di mana rentang waktu itu saya perkirakan sebagai waktu kematian korban." kalimat ini aku katakan dengan tempo yang pelan.
"A...aku berbelanja ke pas..s..ar dari pukul setengah tu...tujuh kurang hingga kembali sa...saat aku melihat anda di tangga." jawabnya terbata-bata. Di saat cemas seperti ini penyakit gagapnya pasti akan semakin menjadi-jadi.
"Jadi selama waktu perkiraan kematian korban anda terus berada di pasar? Begitu?" tanya Ivan yang duduk di sebelahku.
Dia mengangguk-angguk pasrah.
"Kau..."
Aku menoleh ke arah Ichiya.
"Men, bukankah kau adalah dewi sebiru lautan yang kulihat dengan kedua pasang netra sedang berbelanja di pasar kemarin sore?"
Aku mengernyitkan dahi pertanda kurang mengerti kemana arah pembicaraan pria nyentrik itu.
"Ichiya, apa kau benar-benar melihat gadis ini kemarin?" tanya sang kepala desa.
Pria itu mengacungkan kedua jempolnya, "Hn, jangan ragukan daku. Saat aku sedang berjalan-jalan di pasar senja hari lampau untuk menyegarkan mata (melihat gadis cantik) tiba-tiba saja wajah Juvia-chan terpantul di kedua retina daku, men."
Orang ini, jika memang benar dia jujur dan tidak bersikap tendensius maka aku berani bertaruh Juvia sama sekali tidak masuk ke dalam daftar. Kesaksiannya melihat Juvia sedang berbelanja barang-barang kebutuhan di pasar kemarin sore dengan pernyataan langsung dari yang bersangkutan adalah sinkron. Apalagi aku mengetahui jika wanita itu baru masuk ke dalam rumah hanya berselang beberapa menit setelah aku menginjakkan kedua kaki.
"Baiklah Juvia, kau boleh pergi sekarang. Terima kasih banyak dan... kau aku coret dari daftar calon tersangka." aku tersenyum kepadanya.
Tidak ada reaksi yang berlebihan darinya. Hanya terpaku di tempat dengan mulut yang sedikit terbuka.
"Detektif, apa kau tidak terlalu cepat untuk melepaskan seseorang dari tuduhan yang kau buat sendiri?" Ivan terheran dengan tindakanku ini.
Kugelengkan kepala berulang kali, "Tidak. Alibinya sesuai dengan pernyataan dari Ichiya-san. Anda jujur kan Ichiya-san?" aku menatap pria itu.
"Aku selalu jujur kapan saja, men."
"Te...Terima kasih banyak. Terima ka...kasih banyak." wanita itu menundukkan kepalanya berkali-kali sebagai perwujudan rasa terima kasih. Sampai-sampai aku sedikit kerepotan karena dia tidak mau menghentikan aktifitasnya itu.
Sesi interogasi selesai sudah. Semuanya berjalan lancar. Bahkan aku tidak menyangka akan melepaskan status calon tersangka secepat itu. Tapi aku punya keyakinan jika wanita pemalu seperti Juvia sangat kecil kemungkinannya untuk menjadi pelaku pembunuhan sadis.
Ivan serta Ichiya pamit undur diri kepadaku karena tugas mereka berdua sudah selesai. Warga sekitar yang berada di halaman depan rumah juga mulai pulang ke rumah mereka masing-masing. Keempat buah notes, tidak. Ketiga tepatnya karena notes berisi alibi milik Juvia sudah resmi aku buang, benar-benar membuat kepala ini pusing. Aku harus meneliti dan menganalisa baik-baik dari tiap-tiap kalimat yang ada untuk bisa menemukan kejanggalan yang kemungkinan besar ada. Jarang sekali aku mendengar atau bahkan mengetahui secara langsung ada alibi dari pelaku yang bersih tanpa kejanggalan sedikitpun.
Memikirkan hal semacam ini membuat migrainku kumat di saat yang tidak tepat. Kuputuskan pergi keluar sebentar menggunakan mobil untuk mencari toko obat atau klinik yang buka.
"Permisi nyonya, apa kau tahu di mana apotik di sekitar sini?" aku melongokkan kepala keluar dari jendela mobil untuk sekedar bertanya kepada seorang wanita tua yang sedang berjalan di trotoar.
"Apotik? Lebih baik kau langsung ke klinik saja anak muda. Di sana obatnya lebih murah dan juga lengkap." jawabnya ramah.
"Klinik ya? Ngomong-ngomong di mana alamat persisnya?"
Wanita tua itu menjelaskan secara singkat alamat yang akan kutuju. Tidak sulit dicapai karena klinik satu-satunya di desa Honoka berada di tikungan paling barat laut. Segera kutancap gas setelah mengucapkan kata terima kasih.
X
X
X
X
X
O-Health Clinic. Itu lah bunyi plang besar yang ada di depan bangunan satu lantai yang berada di tepian tikungan. Gedung bercat putih itu sepertinya tempat yang kucari. Segera kuparkirkan mobil di tepian jalan lalu masuk ke dalam pintu kaca yang di kenopnya tergantung papan kecil bertuliskan 'OPEN'.
"Selamat datang di klinik kesehatan ini." sambut seorang pria berambut jabrik pendek dan berwarna hitam begitu aku sampai di dalam. Alzack Connel. Itu lah nama yang tertulis di nametag miliknya.
"Anda dokter di sini?"
"Yap."
Kupijit bagian samping kepalaku, "Kebetulan dok, sepertinya migrain saya kumat. Saya ingin minta obat untuk menyembuhkannya."
"Eits, sebelum anda masuk ke ruang pemeriksaan sepertinya anda meninggalkan sesuatu yang penting di dalam mobil." ujar dokter itu dengan ekspresi misterius.
Aku memiringkan kepala ke samping, "Apa itu? Kukira tidak ada."
"Bau pantat anda di jok. Hahaha!" dia tertawa lepas seraya berjalan menuju ke ruang pemeriksaan yang pada pintunya tertulis nama 'Dr. Alzack Connel'.
'Persetan kau dok.' omelku dalam hati. Tapi sebelum aku memasuki ruangannya, aku tertarik dengan sebuah ruangan yang berada persis di samping tempat Dokter Alzack praktek. Sebuah pintu bercat putih dengan tulisan yang berbunyi 'Dr. Minerva Orland' tertempel di bagian atasnya.
'Sepertinya ini adalah ruangan tempat Minerva praktek.' kataku dalam hati.
"Jadi, gejala anda apa saja tuan..."
"Gray. Gray Fullbuster." jawabku singkat dan padat.
"Iya. Tuan Gray, apa saja gejala-gejala yang anda rasakan dan seberapa mengganggunya gejala itu?" dokter itu sudah menyiapkan kertas yang nantinya akan digunakan sebagai resep menebus obat.
Aku duduk di kursi yang sudah disediakan. "Hanya pening di kepala bagian kiri. Gejalanya tidak terlalu mengganggu karena ini baru muncul belasan menit yang lalu setelah aku stress memikirkan kasus pembunuhan."
Jemari kanannya yang sedang mulai menulis resep tiba-tiba terhenti. "Kasus pembunuhan?"
Aku mengangguk, "Iya. Anda tahu kan kasus pembunuhan yang sedang terjadi di desa ini? Maaf sebelumnya, saya bukan bermaksud menyombongkan diri. Akan tetapi saya adalah detektif kepolisian yang bertugas untuk memecahkan misteri itu."
Raut muka dokter bernama depan Alzack yang sedari tadi ceria kini tiba-tiba berubah menjadi mendung. "Kasus itu ya? Aku prihatin dengan Minerva."
"Dia praktek di tempat ini kan dok? Kalau boleh tahu sejauh apa anda mengenal dokter muda itu?" kugunakan kesempatan ini untuk mencari informasi.
"Minerva adalah dokter muda yang terbilang berprestasi. Dia praktek di desa ini baru satu tahun mengikuti kepindahan ayahnya. Setahuku dia merupakan mahasiswi kedokteran berprestasi yang lulus dengan predikat cum laude. Dan dia merupakan sosok wanita yang baik kurasa." kata pria berpakaian putih itu. Penjelasannya panjang-lebar.
"Jadi seperti itu ya. Yang lainnya?"
Dia mengangkat kedua bahu, "Aku jujur kurang paham. Kami bekerja sendiri-sendiri sekalipun sama-sama dokter umum. Dan dia adalah orang yang cukup tertutup."
Sepertinya aku harus memprioritaskan untuk menyelidiki ruang kerja Minerva ketimbang berlama-lama menghabiskan waktu guna menjelaskan gejala migrain kambuhan ini.
"Ano dokter, apa anda bisa membukakan pintu ruangan Dokter Minerva untukku? Sepertinya aku ada kepentingan di situ." aku memohon kepadanya.
"Bagaimana ya? Aku merasa tidak enak kepada rekanku itu jika ruang kerjanya dijamah oleh orang asing yang tidak jelas asal-usulnya." balasnya ketus.
Kuhela nafas, lalu kuambil dompet yang ada di saku belakang untuk menunjukkan identitas sebenarnya. "Namaku adalah Gray Fullbuster. Detektif resmi dari Kepolisian Hargeon dan memiliki wewenang untuk melakukan hal-hal yang dianggap melanggar privasi seseorang demi kelancaran sebuah kasus."
"Hahaha! Aku hanya bercanda kok barusan. Tunggulah di depan pintu ruangan Minerva selama aku mencarikan kuncinya untuk anda."
'Orang ini lama-lama tidak bisa kutoleransi selera bercandanya.' aku menggerutu dalam hati sambil berjalan menuju ke depan pintu ruangan tempat Minerva praktek.
Tidak membutuhkan waktu yang lama bagi dokter tukang bercanda itu untuk menemukan kunci cadangan ruang kerja Minerva.
"Silahkan masuk Tuan Gray." pria itu mempersilahkan aku masuk ke dalam. Setelah berada di dalam aku lalu menyuruhnya untuk keluar agar tidak mengganggu pekerjaanku. Terutama oleh selera humornya.
Kini aku sudah berada di dalam ruangan berukuran kira-kira empat kali tiga meter yang memiliki dekorasi sama persis dengan ruangan Dokter Alzack. Sebuah meja lumayan besar di tengah ruangan dan dihimpit oleh dua buah kursi. Itu kursi dokter dan kursi pasiennya. Lalu sebuah tempat tidur praktek yang mendempet ke tembok dan terakhir sebuah almari berukuran besar di sisi kanan ruangan. Aku mulai menyelidiki satu per satu isi dari ruangan ini. Tapi hal itu hanya berlangsung sebentar karena aku tidak menemukan suatu benda yang terlihat mencurigakan. Dokumen-dokumen daftar pasien, buku-buku kedokteran umum, jarum suntik, dan berbagai macam jenis obat-obatan. Benda-benda tadi merupakan benda yang lumrah ditemukan di ruang kerja seorang dokter.
Tapi tiba-tiba saja tatapanku teralih kepada dua buah buku besar yang saling bertumpuk dengan sebuah tali kuning kecil yang mengikatnya. Kudekati buku itu serta kuperhatikan baik-baik kertas yang dikaitkan di tali. Samar-samar aku mampu membaca tulisan yang tertera di kertas itu. Tulisan seorang dokter memang kurang ramah bagi netra.
Knang-knangan lama.
Itu yang kubaca.
Karena diluputi rasa penasaran tingkat tinggi maka kuputuskan untuk membuka ikatan tali itu dan melihat buku apa sebenarnya yang saling bertumpuk satu sama lain.
Sebuah buku tebal yang kira-kira memiliki tiga ratusan halaman dengan judul 'Chirurgus'. Itu yang pertama kulihat. Lalu yang kedua ada buku berjudul 'Adenectomy Tutorial' walau tidak setebal buku pertama. Dan kedua buku itu kuketahui memiliki persamaan yang sangat mencolok. Di bagian bawah cover tertulis jelas 'Crocus State University'.
Aku tidak tahu apakah hal yang barusan kulakukan bisa dianggap penting dan berhubungan dengan kasus. Akan tetapi tidak ada salahnya untuk...membuka internet.
-TSUZUKU-
Chapter 5 ini lah dia. :)
Jika readers jeli maka akan menemukan kontradiksi di dalam alibi ketiga orang calon tersangka. Ingat, Juvia sudah dicoret dan bebas dari dugaan. Yajima, Laxus, dan Minerva.
Terima kasih telah bersedia membaca!
