DISCLAIMER: HIRO MASHIMA

RATE : T

GENRE : CRIME/MYSTERY

WARNING : AU, 1ST POV, GORE, BIT OF OOC

.

.

Kopi Polonium Sequel

.

.

~Discover The Last Evidences~

Obat telah aku tebus di bagian farmasi. Semoga saja dua jenis obat yang memiliki jenis berbeda ini mampu meredakan sakit kepala sebelahku selama penyelidikan masih berlangsung. Kuputuskan untuk pulang saja ke rumah Jiemma-san dan beristirahat di kamar tamu tempat aku tidur. Sesampainya di halaman, kedua pasang mataku tidak mendapati banyak manusia di situ. Baik dari kalangan umum ataupun aparat keamanan desa. Hanya ada Ichiya dan Wakaba di teras rumah. Mereka sedang asyik bermain catur.

"Sedang asyik bermain catur?" sapaku berbasa-basi kepada mereka.

"Hahaha, kau tidak ikut bermain detektif?" sahut Wakaba sembari melajukan bidak kuda berwarna putih ke depan.

"Tidak-tidak. Kasus ini sudah kuanggap sebagai permainan catur bagiku." kubuka pintu depan rumah.

Suasana di dalam rumah juga terbilang sepi. Aku sudah memerintahkan kepada ketiga calon tersangka untuk tetap berada di dalam rumah dan tidak boleh melarikan diri keluar dari desa ini. Dan yang terpenting mereka dilarang keras untuk memasuki wilayah TKP, kamar tidur Jiemma-san.

~Sora wo miagereba hoshitachi ga hora matataiteru. Kono hoshi no hitotachi mitai ni. Samazama na hikari wo hanatte...~

Kuambil ponsel yang berada di saku kanan dan langsung kulihat siapa sebenarnya yang memanggil.

'Doranbolt?'

OOOOOOOOOO

Aku : "Moshi-moshi, inspektur?"

Doranbolt : "Selamat siang detektif Gray Fullbuster. Apa anda sedang menjalani perkembangan kasus?"

Aku : "Iya. Aku kira kasus ini tidaklah serumit yang dibayangkan sebelumnya mengingat tanpa adanya bantuan materi dari pihak kepolisian."

Doranbolt : "Benarkah? Apakah kiranya anda mampu menyelesaikan kasus ini dengan cara sederhana?"

Aku : "Yah, semoga saja. Ngomong-ngomong apa yang akan anda lakukan? Anda tidak lepas tanggung jawab dari tugas kan?"

Doranbolt : "Tidak-tidak. Saya minta maaf sebelumnya karena terbentur keadaan. Saya dan para personil akan membawa perahu karet menuju ke sungai Kinzo beberapa jam dari sekarang. Maaf saya tidak bisa bergerak secepat kilat karena semuanya harus melalui prosedur. Tidak bisa instan detektif."

Aku : "Jadi anda dan personil EPD akan mampu melintasi sungai, begitu? Baguslah. Aku akan menunggu tim kepolisian Edolas sambil tetap bekerja. Hanya itu saja yang mau anda sampaikan?"

Doranbolt : "Benar. Sekali lagi kami minta maaf yang sebesar-besarnya detektif Gray. Selamat siang."

OOOOOOOOOO

Jadi inspektur itu dan anak buahnya akan datang kemari? Mungkin nanti malam mereka akan sampai. Tapi sebenarnya tanpa perlu bantuan dari mereka pun sepertinya aku mampu memecahkan misteri pembunuhan Jiemma-san. Tinggal menemukan beberapa bukti serta petunjuk lagi. Tapi sejujurnya aku sudah punya pandangan tentang siapa pelaku yang sebenarnya. 'Orang' itu, iya. 'Dia'.

X

X

X

X

X

Hari ini aku akan menggeledah kamar masing-masing calon tersangka. Ada tiga kamar yang belum aku masuki. Kamar Minerva yang berada di lantai dua, kamar Yajima yang berada di pojok kanan halaman belakang, dan terakhir kamar Juvia yang ada di lantai satu. Walaupun Juvia sudah tidak lagi berada dalam daftar namun ada sesuatu yang ingin aku selidiki di sana.

Sebelum aku bergerak tiba-tiba datanglah Ivan sang kepala desa sambil membawa seorang wanita berambut pirang panjang. Aku heran dengan maksud kedatangannya.

"Gray-san, ada seseorang yang ingin kuperkenalkan kepadamu. Namanya adalah Lucy Heartfilia. Seorang pramuniaga yang bekerja di sebuah toko kelontong tidak jauh dari sini." Ivan menyuruh wanita itu agar bersalaman denganku.

"Kenalkan, namaku Lucy." dia tersenyum lebar.

"Gray Fullbuster. Panggil saja Gray." kujabat tangannya.

Kami bertiga duduk di sofa ruang tamu untuk mendiskusikan sesuatu yang aku pun belum tahu apa itu.

"Jadi ada hubungan apa antara Lucy-san dengan kasus?" tanyaku kepada pria bertubuh lumayan gemuk itu.

"Begini Gray. Aku diberitahu oleh Wakaba jika dia, Lucy, kebetulan lewat di jalan setapak yang berjarak hanya beberapa meter saja dari TKP saat rentang waktu korban dibunuh."

Ini bagus.

"Jadi, bisa kau ceritakan dengan rinci atau lengkap apa yang kau alami kemarin senja?" aku bertanya kepada wanita itu.

"Aku demi Tuhan tidak akan mau lagi melintasi jalan setapak itu setelah pembunuhan ini terjadi. Hiiiyy..." dia bergidik ngeri.

"Lucy-san, silahkan mulai menjelaskan."

"Baiklah-baiklah. Jadi begini detektif. Aku saat itu melintasi jalan setapak di samping kamar Pak Jiemma sehabis mencari kayu bakar di hutan. Aku masih ingat betul pukul berapa waktu aku melintas di jalan itu karena berulang kali melihat jam tangan supaya tidak terlambat sampai di rumah." dia menjeda kalimatnya.

Aku memasang kedua telinga setajam mungkin.

"Jam tujuh lebih sedikit. Aku ingat itu. Dan aku berjalan pelan karena bawaan kayu bakar di kedua tangan cukup banyak serta terasa berat."

Pukul tujuh lebih sedikit? Itu adalah waktu yang sangat presisi dimana korban diperkirakan sedang dihabisi.

"Apa yang kau lihat atau...dengar?" aku sangat antusias.

Lucy mencoba mengingat-ingat, "Emm apa ya? Mendengar suara sepertinya tidak ada. Padahal aku melihat jendela kamar itu sedikit terbuka lho. Iseng-iseng saja aku menoleh ketika lewat kemarin."

Kucerna baik-baik penuturan panjang yang barusan dikatakannya.

"Hanya itu? Atau ada lagi yang ingin kau sampaikan?"

Wanita pirang itu bangkit, "Tidak. Hanya itu saja. Apa aku sudah selesai dan boleh pulang sekarang?" tanyanya.

Kutanggapi dengan senyuman, "Silahkan saja Lucy-san. Terima kasih banyak atas kesaksiannya."

"Gray, aku pamit juga karena ada urusan penting menyangkut administrasi desa yang harus kuselesaikan di kantor." kata Ivan. Mereka berdua meninggalkan ruang tamu berurutan.

Kesaksian wanita barusan semakin membuka tabir dari misteri pembunuhan berdarah ini. Aku benar-benar paham kemana arah kasus ini yang sebenarnya. Titik terang demi titik terang mulai banyak bermunculan.

Sekarang bukan saatnya untuk bersantai dan menikmati pemikiran pribadi. Waktunya untuk menyelidiki kamar para calon tersangka.

Giliran pertama adalah kamar milik Minerva yang berada di lantai dua. Kebetulan sang pemilik sedang pergi bersama Laxus entah kemana karena mobil SUV oranye bermerk Subaru itu tidak ada di parkiran.

Kamar ini tidaklah luas. Hanya seukuran kamar yang aku tempati untuk tidur. Hanya saja lebih wangi dan rapi karena ini adalah kamar wanita. Di atas meja hanya ada sebuah komputer dan beberapa benda-benda kecil semacam pensil, flashdisk, dan gunting kuku. Kugeledah almari pakaiannya selama kurang lebih lima belas menitan dan tidak menemukan barang-barang mencurigakan. Hanya ada tumpukan pakaian wanita, perhiasan, alat make-up, dan terakhir sebuah benda yang janggal untuk dimiliki oleh seorang wanita muda. Kondom. Lupakan saja.

Di bawah ranjang double-bed tidak ada apa-apa. Kosong. Dan juga di sini tidak nampak sedikitpun alat-alat medis. Sepertinya Minerva itu tipikal wanita yang tidak suka membawa beban pekerjaannya ke rumah.

Di atas ranjang hanya ada sebuah tas ransel besar yang terbuka. Dari bagian luar saja aku sudah tahu itu tas milik siapa. Laxus. Ada bordiran lumayan besar di bagian bawahnya yang tertulis 'Magnolia Martial Arts Association'. Kulongokkan kepala ke dalam dan menemukan sesuatu. Botol sangat kecil berisi cairan bening dan di kemasannya tertulis 'Thiopetal'. Ada simbol lingkaran merah dengan huruf K di botol itu.

Kupegang benda itu di genggaman tangan kiri dan kuamati baik-baik. Obat apa ini? Penyakit apa yang Laxus derita sehingga menyimpan obat keras seperti ini?

Apapun itu lebih baik aku kantongi benda ini untuk dipikirkan lebih mendalam nanti.

Giliran kedua adalah ruangan milik kakek tua tukang kebun itu. Yajima. Aku melangkahkan kedua kaki perlahan-lahan menuju ke pojok belakang halaman karena tanahnya benar-benar becek serta berlumpur. Sial, sepatuku akan sukar dibersihkan. Lebih baik kulepas sepatu saat masuk ke dalam rumah lewat pintu belakang nanti.

"Yajima-san." sapaku kepadanya yang sedang sibuk menyapu dedaunan kering di depan kamarnya.

Pria berkumis kotak itu sontak menengok, "Eh, nak detektif? Ada uhuk perlu apa?" dia menghentikan aktifitas menyapu.

"Bolehkah saya masuk ke dalam kamar anda? Saya ingin menyelesaikan penyelidikan kasus ini." jelasku.

Tatapannya mengarah ke langit, seperti sedang menimang-nimang keputusan. "Baiklah. Tidak masalah uhuk uhuk detektif. Silahkan saja."

Aku mengangguk seraya tersenyum.

Kamar yang ditempati Yajima benar-benar sempit, sumpek, kumuh, serta pengap. Aku ragu jika ruangan ini dulunya adalah kamar sungguhan. Maksudku mungkin saja dulunya tempat seluas dua setengah kali dua meter ini adalah bekas kandang ternak. Benar-benar kasihan pak tua ini. Mungkin saja dia terlihat membenci Juvia karena merasa iri dengan fasilitas yang diperoleh wanita pemalu itu.

Aku yakin dengan kemantapan hati jika sepertinya tidak ada sesuatu yang mencurigakan di ruangan ini. Hanya ada sebuah kasur usang di lantai, kursi kecil di pojokan, dan terakhir lemari kecil yang sudah keropos. Kubuka lemari itu dan hasilnya jelas nihil. Pakaian-pakaian lusuh yang jumlahnya tidak seberapa mengisi ruang di dalam lemari satu pintu itu.

Tapi yang paling kusadari adalah ruangan ini benar-benar pengap. Ventilasi hanya mengandalkan sebuah jendela kecil dan sekat-sekat berlubang di atas dinding. Hidupnya pastilah sangat menderita. Kasihan kakek Yajima.

X

X

X

X

X

Aku kembali masuk ke dalam rumah setelah menggeledah ruangan Yajima dan berakhir dengan kehampaan. Tidak ada sesuatu yang menarik sama sekali kecuali keprihatinan. Saat sedang berjalan melewati dapur tiba-tiba aku berpapasan dengan Laxus dan Minerva.

"Gray-san." sapa Laxus kepadaku.

"Laxus-san, nona Minerva, darimana saja kalian berdua? Kuperhatikan kalian tidak ada di rumah ini sejak dua jam lalu."

Dokter wanita itu menunjukkan sebuah bungkusan kepadaku, "Kami main ke tempat penjual roti paling enak di desa ini dan kebetulan membeli sebuah tart. Kau mau detektif?"

Lumayan. Kebetulan juga perutku lapar dan ini sudah jamnya makan siang. Hitung-hitung menghemat biaya.

"Iya,. Terima kasih banyak." ucapku sopan.

Kami betiga duduk di meja makan yang ada di dapur. Laxus duduk di sampingku sedangkan Minerva di hadapan kami berdua. Wanita itu langsung membuka bungkusannya dan mulai mengiris menggunakan tangan kiri roti berbentuk persegi dan berwarna cokelat muda itu.

Sisi kiri roti hilang sebagian dan irisannya diberikan kepadaku terlebih dahulu. "Ini Gray-san."

"Terima kasih nona." sahutku sambil menerima potongan roti berbau harum itu. Kumakan pelan-pelan dan kurasakan kelembutan terigunya yang terasa manis di lidah.

Tunggu-tunggu, aku barusan memikirkan sebuah konklusi. Dan benar saja, kesimpulanku ini benar-benar nyata sekarang. Terima kasih roti tart. Engkau telah memberikan kepingan puzzle baru bagi untuk menggenapi lubang-lubang yang masih kosong.

"Maafkan aku Laxus-san dan Minerva-san. Tapi aku harus secepatnya kembali bekerja." setelah mengucapkan kalimat itu aku segera pergi dari hadapan mereka berdua untuk menyelesaikan penyelidikan terakhir.

Kamar Juvia.

Ruangan tempat menyimpan kunci cadangan seluruh pintu di rumah ini yang dikatakan benda itu menghilang setelah ditemukannya tubuh korban.

Tanpa banyak pikir lekas kubuka pintu yang ternyata tidak terkunci itu dan langsung masuk ke dalam...

"KYAAA!"

Secepat kilat kututup kembali pintu itu. Aku tidak menyangka jika wanita itu sedang ganti pakaian di dalam tanpa mengunci pintu sebelumnya. Ini bisa gawat.

"Ju...Juvia, maafkan aku. Aku bukan bermaksud seperti itu."

Tidak ada jawaban. Apa jangan-jangan dia marah?

"Ma...Masuklah de...tektif." suaranya terdengar lirih dari dalam.

Aku membuka kenop pintu pelan-pelan. Wanita berambut gelombang itu sudah memakai kaosnya. Tidak seperti tadi. Wajahnya memerah karena menahan malu.

"Maafkan aku atas tindakan lancang barusan. Aku kemari karena ada urusan penting terkait penyelidikan kasus, Juvia." aku menjelaskan agar tidak terjadi salah paham.

"Penyeli...lidikan?" kedua alisnya terangkat.

"Kau jangan dulu berpikir jika aku ingin mengembalikanmu ke dalam status calon tersangka lagi. Bukan itu kok. Aku hanya ingin mencari kebenaran tentang hilangnya kunci ganda yang kau pegang itu." aku berujar panjang-lebar.

Tanpa perlu disuruh, pembantu rumah tangga itu menunjukkan cantelan paku di mana kunci ganda itu biasa digantung.

'Di situ ya? Lokasinya tertutup oleh almari. Tidak terlalu mudah untuk ditemukan seperti kata Juvia tadi pagi.' aku membatin.

"Juvia, apa kau setiap masuk kamar selalu melepas alas kaki?" aku menanyainya demikian karena melihat kedua kakinya terekspos jelas tanpa memakai apapun.

Dia mengangguk.

"Semenjak kunci itu diketahui hilang dari tempatnya olehmu apakah kamar ini pernah dibersihkan?"

Dia kali ini menggeleng, "Tidak. Sa...Saya tidak sempat."

Beruntung sekali diriku ini. Pepatah yang mengatakan 'kebenaran akan selalu menang' ternyata bukan cuma isapan jempol belaka. Kutemukan sebuah barang bukti di tempat ini, kamar Juvia.

"Juvia, aku perintahkan kau keluar dari kamar ini sekarang dan jangan masuk sampai aku mengijinkanmu lagi. Mengerti?"

"Ta...Tapi apa alasannya?" tanyanya balik.

"Di kamar ini terdapat bukti yang kuat. Dan aku takut bukti itu akan hilang karena memang bukti tersebut mudah hilang. Mungkin kau akan bisa masuk ke kamar ini lagi larut malam setelah kupecahkan kasus pembunuhan ini nanti. Nanti malam." aku keluar dari kamarnya dengan sebuah seringaian penuh arti. Wanita itu memandangiku dari belakang penuh tanda tanya.

Aku sekarang sudah tahu persis siapa pelakunya. Sekalipun tanpa dibantu oleh teknologi tes sidik jari maupun tes forensik aku telah menyatakan kepada diri sendiri bahwa aku mampu. Mampu memecahkan misteri pembunuhan sadis di desa Honoka. Pembunuhan yang mengakibatkan nyawa mantan pimpinanku melayang sia-sia. Tunggulah nanti pada jam sembilan malam wahai pelaku. Kan kubongkar kedokmu!

-TSUZUKU-

Chapter terakhir yang memuat bukti dan petunjuk. Chapter 6. :)

Di chapter 7 atau chapter terakhir nanti, author akan membongkar siapa pelaku yang sebenarnya. Author juga tidak menyangka jika fic ini memiliki jumlah chapter yang sama persis dengan fic bergenre crime/mystery bikinan author yang pertama di fandom Fairy Tail, Kopi Polonium.

Apakah ada dari readers sekalian yang sudah mengetahui siapa pelakunya? Tentunya WAJIB disertai alasan yang logis. Bukan asal-asalan menebak. :D

Terima kasih sudah membaca!