DISCLAIMER: HIRO MASHIMA
RATE : T
GENRE : CRIME/MYSTERY
WARNING : AU, 1ST POV, GORE, BIT OF OOC
.
.
Kopi Polonium Sequel
.
.
~The Real Suspect~
Aku sebelumnya sempat menelepon kepada inspektur Doranbolt untuk mengonfirmasi kapan kira-kira waktu kedatangan mereka ke desa. Pria yang baru kukenal lewat telepon itu mengatakan jika kurang lebih jam sepuluh malam setelat-telatnya sampai. Aku mengerti.
Tidak lupa aku sempat rapat mendadak dengan kepala desa dan beberapa perwakilan dari pihak desa termasuk Wakaba untuk membicarakan acara sangat penting malam ini. Pemecahan kasus. Akan kubongkar kedok pelaku beserta berbagai macam bukti yang mengiringinya beberapa menit dari sekarang.
Warga berbondong-bondong untuk menyaksikan jalannya acara yang akan kupandu secara langsung itu dari halaman depan. Mereka tidak boleh masuk ataupun bersuara keras sekalipun berada di luar. Wakaba telah memerintahkan bawahannya untuk menjaga kondusifitas di area sekitar rumah. Dan para aparat yang kali ini jumlahnya lebih banyak dari kemarin-kemarin pun berjanji akan melaksanakan tugas semaksimal mungkin. Itu bagus.
Seperti biasa, ruang tamu adalah tempat favorit yang akan aku gunakan. Tempat yang kudatangi pertama kali saat aku datang dan nantinya akan aku datangi terakhir kali sebelum aku pulang besok. Malam ini Ivan mengajakku untuk menginap di rumahnya.
Saksi dihadirkan di sini. Lucy Heartfilia. Wanita yang mengaku lewat di samping kamar Jiemma-san saat pembunuhan kemungkinan besar sedang berlangsung. Tidak lupa kehadiran dua perwakilan dari lembaga keamanan desa, Wakaba dan Ichiya. Pemimpin mereka berdua, Ivan selaku kepala desa. Juvia yang kini berposisi sebagai saksi, sudah bukan calon tersangka lagi. Dan yang paling penting dari itu semua adalah...
Seorang kakek berusia kisaran tiga perempat abad yang sekarang sedang duduk di kursi paling kiri, Yajima. Kebetulan ada tiga kursi yang disediakan berjejeran.
Wanita yang kini memakai atasan tank-top dan bawahan hot-pants, Minerva Orland. Duduk di tengah.
Terakhir pria berotot yang sebenarnya bukanlah penghuni tetap di rumah ini, Laxus Dreyar. Duduk di kursi sebelah kanan.
"Selamat malam semuanya." aku menyapa ramah kepada mereka semua yang sudah hadir di ruang itu. Kebetulan aku melangkah dari atas lantai dua melalui tangga sehingga seakan-akan mirip dengan seorang presenter dalam sebuah show di televisi. Semoga saja kelak ada sebuah acara televisi sungguhan yang menawariku pekerjaan sampingan seperti itu, semoga.
Mereka semua terdiam sampai aku duduk di kursi tunggal yang berada persis di depan pintu kamar tamu. Melihat raut muka para calon tersangka sebenarnya membuat aku tak tega. Tapi aku harus kuat agar dua orang yang sepantasnya terbebas dari rasa kecurigaan bisa bernafas lega.
"Pertama, kalian semua tahu dan paham betul kan apa maksud dari semua ini?" aku mengawalinya dengan pertanyaan sederhana.
Hanya segelintir yang mau menjawab dengan anggukan. Yang lainnya memilih untuk diam.
"Aku tidak mau berlama-lama karena selain kita semua sudah lelah karena ini sebenarnya bukan waktu yang pas untuk acara seperti ini, kebetulan kurang lebih satu jam dari sekarang pihak kepolisian dari kota Edolas akan datang kemari. Oleh karena itu aku ingin agar begitu polisi sampai, mereka akan dihadiahi seorang pelaku yang benar-benar terbukti ber-sa-lah." kueja pelan-pelan pada kata terakhir.
"Gray-san, silahkan mulai saja." Ivan mempersilahkanku agar aku lekas memulai.
Aku mengangguk, "Baik, kita semua tahu ada tiga orang calon tersangka di sini. Sebelumnya ada empat namun aku sudah putuskan untuk membebaskan statusnya karena kesaksian kuat yang sinkron dengan alibi saudari Juvia." kupandang wajah wanita itu selama beberapa detik. Dia pun tersenyum manis ke arahku.
"Men, untung saja ada daku." ini kata Ichiya.
Aku menatap ketiga pasang mata manusia yang diliputi rasa kecemasan tinggi. Salah satu dari mereka akan menjadi penghuni baru hotel prodeo untuk waktu yang lama setelah ini. Dan itu pasti membuat mental siapa saja kalut.
Kupanggil nama yang pertama, "Yajima-san..."
Yang bersangkutan menelan ludah. Semoga saja penyakitnya tidak bertambah parah setelah ini.
"Pertama, aku merasa curiga kepada anda setelah ditemukannya barang bukti itu. Golok berlumuran darah yang ternyata diketahui merupakan milik anda. Benda yang biasa dipakai sehari-hari untuk membabat semak-semak di halaman belakang." ucapku. Wakaba mengambil barang bukti yang tergeletak di atas meja lalu menunjukannya kepada khalayak selama beberapa detik.
"Tapi kecurigaanku sedikit sirna setelah mengetahui jika pintu kamar Jiemma-san didobrak oleh si pelaku. Itu terbukti dari adanya kerusakan cukup parah di bagian kenop serta penguncinya. Benar kan begitu Ivan-san? Beliau yang melihat langsung setelah kuberitahu kemarin."
Pria bertubuh cukup tambun itu mengiyakan.
Aku sedikit tersenyum penuh arti, "Ada yang tahu apa maksud dari kalimatku yang tadi? Ini masalah sederhana lho."
Tak ada yang berani bersuara. Tapi itu tidak berlangsung lama setelah Laxus mengangkat tangan kanannya ke udara. "Tubuh Yajima tidak memungkinkan untuk mampu menjebol sebuah pintu?"
Aku membenarkan jawaban singkatnya, "Itu benar. Dan juga jika dia pembunuhnya aku ragu dia akan meninggalkan barang bukti di TKP. Itu merupakan hal yang sangat dungu."
Sebagai gantinya kini orang-orang di ruangan gantian memperhatikan Laxus. Dengan tubuh yang kekar berisi seperti itu sangat mudah baginya untuk mendobrak sebuah pintu. Apalagi pintu kecil seperti yang ada di TKP.
"Dan satu hal lagi yang akan kuberitahukan kepada kalian semua. Di ruangan ini berdiri seorang saksi wanita yang pada saat kejadian pembunuhan berlangsung kebetulan dia sedang berjalan kaki pelan-pelan di samping kamar Jiemma-san." kuarahkan tangan kananku menuju wanita yang sedang berdiri menyandar pada tembok. Dia Lucy sang pramuniaga toko. Terlihat sedikit ketegangan di wajah tirusnya karena mungkin dia bingung harus berbuat apa.
Aku mencoba menenangkannya. "Santai saja Lucy-san, santai. Benar kan anda melakukan hal yang tadi aku katakan?"
"Iya." jawabnya teramat singkat.
Lalu kusambung, "Tidak kau dengar suara apapun dari dalam kamar?"
Gelengan kepala menjadi jawaban.
Kini perhatianku beralih kepada Yajima. "Apa mungkin seorang kakek tua yang hampir semenit sekali tidak pernah luput dari batuk kronis berada di dalam kamar Jiemma-san kira-kira selama sepuluh menitan tanpa terdengar suara apapun? Suara batuk Yajima-san bisa kukatakan tidaklah lirih." aku tersenyum penuh kemenangan.
Wajah semua orang yang ada di ruangan mendadak tercengang serempak. Mungkin mereka tidak pernah memikirkan hal seperti ini sebelumnya. Terutama sang kepala desa yang turut mendengarkan kesaksian dari Lucy Heartfilia namun pemikirannya tidak sampai sejauh itu.
"Terima kasih banyak uhuk uhuk detektif muda. Aku sangat bersyukur." tiba-tiba tukang kebun itu mendekatiku dan langsung menyalami tanganku. Dari wajah rentanya terpancar rasa kelegaan yang tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata.
Aku menyuruhnya untuk pindah tempat duduk supaya lebih rileks lagi. Yajima pun menyanggupi dengan senang hati. Kini hanya ada dua orang yang duduk di kursi calon tersangka. Kursi yang memang sengaja kusediakan bagi orang-orang yang awalnya kucurigai.
Minerva masih tenang di tempatnya. Sesekali terlihat mengelap keringat yang membasahi dahinya. Dan Laxus memasang wajah tegang. Apa pria sangar itu merasa ketakutan?
"Cepat selesaikan kasus ini Gray-san. Aku sudah tidak sabar." celetuk Wakaba tiba-tiba.
"Tenang-tenang. Oke, selanjutnya adalah...Laxus." kalimatku barusan membuat wajah pria itu semakin menegang lagi. Tatapan orang-orang yang ada di dalam ruangan sontak mengarah kepadanya. Aku juga turut mendengar banyak bisik-bisik terlontar dari mulut warga sekitar yang juga ikut menyaksikan dan mendengar dari luar ruangan.
"Tenanglah saudara Laxus. Bisa aku mulai?" tanyaku frontal.
Dia hanya mendengus lirih, "Silahkan."
"Kecurigaanku kepada anda lebih besar dari kecurigaan kepada Yajima-san serta Minerva. Pada awalnya, ingat. Kenapa? Karena bekas dobrakan itu. Otak yang masih memiliki rasio pasti akan langsung menuduh kepada anda. Benar semuanya?" aku ingin mendengar jawaban dari mayoritas.
"Ya benar."
"Setuju."
"Tapi rasa curigaku mulai menurun saat mengetahui jika kunci cadangan yang ada di kamar Juvia menghilang setelah korban ditemukan sudah dalam kondisi tak bernyawa." aku mengambil sebuah botol air mineral yang ada di bawah kursiku lalu meminumnya untuk menghilangkan kering di tenggorokan setelah berbicara panjang lebar.
Kulanjutkan, "Suara kecelakaan yang didengar oleh Laxus saat sedang berada di dalam toilet sebenarnya adalah suara pintu yang didobrak dari luar. Karena toilet itu berada di dalam kamar Minerva maka pastinya suara sekeras dobrakan pintu tidak akan terdengar jelas."
Pria berambut spike itu mengangguk-angguk pertanda mengerti. Roman mukanya mulai menunjukan ekspresi lega dan sudah tidak setegang tadi.
"Lalu di tengkuk korban juga ditemukan luka lebam. Tapi ada yang aneh dengan lebam tersebut. Luas areanya kecil, warnanya samar, dan tidak sampai membengkak. Jika tidak percaya boleh kalian semua bertanya kepada Wakaba-san yang kebetulan ikut menemaniku dalam mengidentifikasi korban kali kedua." kuarahkan tangan kiri menuju pria berjambul itu. Yang lain menoleh serempak ke arahnya.
"Itu benar. Detektif yang memperlihatkannya langsung kepadaku." ujarnya mantap.
"Di sini kejanggalannya. Mungkinkah seorang Laxus Dreyar yang merupakan seorang atlet penuh pengalaman dengan otot lengan berukuran besar hanya mampu memberikan luka lebam sekecil itu?"
Mereka yang ada di ruangan ini mulai berbisik-bisik satu sama lain dengan suara yang sangat pelan. Orang-orang sepertinya sudah mulai menyadari ke arah mana semua penjelasanku bermuara.
Aku memasukkan tangan kanan ke dalam saku di kemeja yang kukenakan dan mengeluarkan sebuah botol kecil silinder berwarna transparan. "Ini dia. Hal paling janggal dari semua penjelasanku atas tuduhan kepada saudara Laxus. Ini bisa dibilang obat keras karena ada lambang lingkaran merah berhuruf K dengan nama 'Thiopetal'. Apakah ada yang tahu obat apa ini? Dan ini kutemukan di dalam ransel besar milik Laxus." kupegang botol obat itu di tangan kiri dan aku perlihatkan baik-baik kepada semua orang yang ada di ruangan.
Sang pemilik ransel yang barusan kusebut terhenyak, "Obat? Di ransel milikku?"
Ichiya mengacungkan jari, "Obat sakit kepala, men?"
Aku menggeleng.
Yajima membuka mulutnya, "Obat uhuk batuk?"
Aku kembali menggeleng.
"Thiopetal adalah obat anestesi yang lumrah digunakan untuk membius seseorang melalui intravenanya. Dan aku sangaaatt ragu jika seorang seperti Laxus yang tidak punya latar belakang di bidang medis menyimpan benda ini apalagi sampai menggunakannya." seringaian lebar tercipta di bibirku. Ini akan semakin menarik. Acara yang kupandu masuk ke babak pertengahan. Konflik.
Ivan menengok. Ichiya membuka mulutnya lebar-lebar. Wakaba berdehem. Juvia menutupi mulutnya dengan kedua tangan. Yajima menaikkan kedua alisnya. Lucy memasang tampang penasaran. Dan terakhir Laxus, dia sontak menengok ke samping kanannya dan berteriak lantang...
"MINERVA?!"
X
X
X
X
X
Wanita itu tak bergeming dari posisinya. Masih menunjukkan ekspresi kalem. Sekalipun orang-orang yang berada di dalam maupun di luar ruangan tidak mampu menjaga ketenangan sama sekali. Sangat ribut, itu tepatnya.
"Diam!" dalam sekali bentak, tidak ada suara keras yang terdengar lagi. Aku maklumi keterkejutan mereka semua atas tuduhanku baru saja.
Minerva berkata lirih, "Detektif..."
Aku mengangkat samping alis.
Dia menatapku dengan intens, "Kenapa kau tega menuduhku sebagai tersangka? Kau tahu kan aku adalah orang yang paling dekat dengan ayahanda? Mana mungkin aku tega membunuh...membunuh ayah kandungku sendiri?!" ucapannya benar-benar menohok.
Ivan membenarkan perkataan dari putri korban. "Itu benar. Aku ragu jika Minerva yang membunuh Jiemma-san, detektif."
Dan beberapa orang yang lain turut sependapat dengannya.
"Tenanglah semuanya. Aku punya bukti dan petunjuk yang bisa kugunakan untuk mengungkap kedok Minerva di balik kasus ini." kataku.
Mantan kekasih Laxus itu mengacungkan jari kirinya dengan frontal ke arahku, "Buktikan! Akan aku tuntut balik kau detektif jika tuduhanmu salah. Seharusnya kau bisa sedikit berempati kepadaku yang sedang mengalami masa duka seperti ini." terlihat lelehan air mata yang mengalir dari mata kanannya. Laxus sebagai orang terdekatnya segera menenangkan walau aku tidak tahu apa yang ada di dalam hatinya sekarang ini. Kekasihnya dituduh sebagai pelaku dan itu semua terlihat masuk akal setelah kuungkap beberapa fakta tadi.
"Pertama..." kujeda sebentar, "Awal kecurigaanku kepada anda adalah sesaat setelah aku melihat anda berteriak lantang ingin membunuh pelakunya sembari menangis penuh emosi."
Yajima menyela, "Tapi bukankah uhuk pasti seperti itu reaksi yang alami?"
"Mohon jangan menyela pembicaraan, Yajima-san. Reaksi seseorang yang menyayangi ayah kandungnya setelah mengetahui dengan mata kepalanya sendiri sang ayah tersebut dalam kondisi berdarah-darah seharusnya adalah memanggil ambulans ataupun segala upaya untuk menyelamatkan nyawa. Bukannya malah menangis histeris dan berteriak-teriak lantang ingin membunuh sang pelaku sebenarnya. Kurasa itu adalah sebuah pengalihan emosi dari kebencian di hati anda terhadap ayah anda yang dikemas dengan sebuah perkataan, perkataan bohong. Itu hal yang kurang wajar. Tapi ini baru dugaan tanpa bukti kuat." mulutku kembali kering setelah berbicara panjang lebar dan kembali kuminum air mineral yang ada di botol.
Minerva, wanita bertubuh sintal itu hanya memandangiku dengan ekspresi tidak suka. "Pendapat yang kurang logis seperti tadi dijadikan bukti untuk menuduhku? Seharusnya kau malu Gray." ucapnya sinis.
Aku sudah tahu dia akan membalasnya kurang lebih seperti barusan. "Kan sudah aku katakan jika dugaan ini tanpa bukti yang kuat. Namun masih ada banyak bukti lagi. Kita menuju bukti yang kedua."
Seluruh pasang mata yang ada di dalam ruang tamu menatapku penuh rasa penasaran.
"Aku mencatat penuturan anda saat sedang memasak mie di dapur yang selesai pada pukul 18.55. Dan itu bisa dipatahkan dengan pernyataan dari Yajima-san yang mengatakan jika dia masuk ke dapur untuk minum pada pukul 18.52 dan kebetulan dia melihat jam. Yajima-san, apakah anda menemukan nona Minerva di sana?" aku menanyai si kakek tua.
Yajima memutar bola matanya ke kanan dan kiri berulang-ulang, mencoba mengingat-ingat kejadian kemarin sore. "Sepertinya...tidak. Aku sendirian di dapur."
Batinku tersenyum. Ini baru permulaan.
"Dan pengakuan anda ketika makan mie sambil menonton televisi pada pukul 18.55 ke atas dapat dipatahkan dengan pengakuan saudara Laxus yang menuju ke balkoni lantai dua dan melewati ruang keluarga tempat anda berada. Laxus mengatakan jika dia lewat kira-kira jam tujuh pas dan tidak melihat anda. Kenapa aku bisa katakan demikian? Karena jika Laxus melihat anda maka seharusnya dia mengajak anda untuk memulai diskusi yang sempat ditunda di awal. Benar tidak argumenku ini, Laxus-san?" sebuah pembuktian kedua dariku yang mampu membuat wajah Minerva menjadi nampak kalut.
Pria tinggi besar itu cukup kaget dengan penjelasanku barusan. "Benar katamu. Aku tidak melihat siapa-siapa di depan televisi."
Aku menambahkan, "Dan juga seharusnya suara dobrakan pintu itu dapat didengar jelas oleh anda karena waktu ketika Laxus mendengar suara yang dikiranya kecelakaan dengan saat anda berada di ruang keluarga hampir sama. Apalagi jarak antara ruang keluarga dengan pintu kamar TKP terbilang cukup dekat. Untuk Yajima-san aku punya alasan mengapa dia tidak mendengar suara apa-apa. Mungkin selain pendengarannya yang sudah kurang bagus karena termakan usia, dia berada di dalam kamarnya yang cukup kedap suara dan jaraknya terbilang sangat jauh dari TKP."
Tukang kebun itu tersenyum menanggapi argumenku.
Tiba-tiba wanita bermarga Orland itu membuka suara, "Tapi detektif, apa kau yakin jika pembuktian lewat alibi saja sudah cukup?" terdengar nada menyindir dari kalimatnya.
Aku menjawabnya dengan sebuah gelengan kepala, "Tidak. Kali ini pembuktian yang ketiga..." kubentuk simbol tiga melalui jari tangan kanan.
"Nona Minerva Orland, anda kan yang mendobrak pintu kamar itu?" aku mencoba menyudutkan dirinya melalui pertanyaan ini.
Dia mengedikkan sepasang bahu, "Apa buktinya?"
"Aku jujur kurang tahu apakah anda memang memiliki tubuh yang kuat untuk mendobrak sebuah pintu atau malah pintu itu yang mudah didobrak. Tapi motif di baliknya adalah anda berniat untuk menjebak mantan kekasih anda sendiri kan? Bukankah setiap orang yang mampu berpikir logis pasti akan mencurigai saudara Laxus setelah mengetahui kenyataan tersebut?" aku menatap kedua matanya lekat.
Minerva menghela nafas panjang, "Detektif Gray, apakah kau bodoh? Bukannya mendobrak pintu lalu membunuh ayahandaku justru akan menggagalkan rencana? Beliau pasti akan terbangun duluan dan mampu melawan si pelaku?" dia berkelit.
"Minerva, apa benar kau ingin membuatku menjadi kambing hitam?!" pria yang duduk di sampingnya mulai merasa marah.
Segera kubantah pembenarannya, "Kunci ganda. Kunci ganda yang hilang dari tempatnya dan tidak mampu anda kembalikan ke tempat semula. Anda membuka pintu terlebih dahulu dengan kunci itu lalu mengeksekusi ayah anda, menutup dan menguncinya lagi, terakhir mendobrak. Itu semua semata-mata dilakukan agar kecurigaan tertuju kepada saudara Laxus Dreyar."
Laxus menatap sangat tajam ke wajah sahabat dekatnya itu dengan mata memerah.
Aku berdiri dari tempat duduk dan melangkah ke tengah-tengah ruangan. "Skenario singkatnya begini. Anda melangkah sembunyi-sembunyi di senja itu menuju ke arah gudang perkakas untuk mengambil golok milik Yajima-san. Kebetulan sekali Yajima-san melihat dari kejauhan samar-samar ada seseorang yang mengendap-endap berjalan ke gudang tempat dia menyimpan perkakas untuk berkebun." aku menjeda.
Kakek berkumis kotak itu bergumam, "Jadi nona muda yang waktu itu kulihat?"
"Lalu anda masuk ke dalam rumah dan menuju ke kamar Juvia untuk mengambil kunci cadangan. Kebetulan dia sedang pergi ke pasar dan kamarnya tidak dikunci. Kesalahan telak anda kali ini adalah anda tidak menyadari jika halaman belakang dipenuhi oleh tanah berlumpur dan terlalu tergesa-gesa masuk ke dalam kamar Juvia dengan meninggalkan barang bukti berupa noda lumpur yang kini sudah mengering di lantai." kuambil botol air mineral dan meneguknya sampai habis.
"Men, bisakah daku melihatnya langsung?" Ichiya sepertinya penasaran dengan bukti tersebut.
Kupersilahkan pria yang berprofesi sebagai tukang cukur itu untuk melihatnya langsung. Kami semua menunggu selama kurang lebih satu menit hingga Ichiya datang kembali dari kamar Juvia.
"Men, ada."
Aku tersenyum simpul. Kemudian menengok ke arah Minerva, "Bagaimana tentang skenario barusan? Tepat?"
Tak ada jawaban verbal. Dia memalingkan mukanya ke bawah.
"Jika tidak percaya silahkan cek ketajaman golok yang ada di atas meja. Mustahil golok cukup tumpul seperti itu mampu membunuh seseorang dengan cepat."
Kali ini Wakaba ingin berpartisipasi di dalam acara. Diambilnya golok itu dan ditekannya kuat-kuat tepian golok ke permukaan kulit lehernya. "Benar detektif, ini cukup tumpul."
Kini gantian kakek Yajima yang menaruh tatapan amarah kepada majikan mudanya itu. Merasa dijadikan kambing hitam sama seperti Laxus.
"Laxus sebagai tamu yang kudengar baru berada selama beberapa hari di sini bisa dikatakan mustahil mengetahui lokasi persis disimpannya kedua benda itu, kunci serta golok. Benar kan Laxus-san?"
Dia mengamini pernyataanku, "Benar sekali."
"Gray-san..."
Aku menoleh ke sumber suara barusan yang ternyata itu adalah Ivan. "Ada apa?"
"Bisa kau jelaskan proses pembunuhan korban?" dia terlihat sangat ingin tahu rupanya.
Aku jetikkan jari kiri, "Mudah. Setelah kita mengetahui jenis obat apa yang ada di dalam ransel Laxus maka bisa kuambil kesimpulan jika Minerva menyuntik bagian otot trapezius kiri Jiemma-san saat korban sedang tertidur pulas. Aku sadar jika bekas sengatan yang ada di otot trapezius korban bukanlah ulah dari serangga melainkan itu adalah bekas anestesi. Betul begitu, dokter yang memiliki prestasi gemilang saat masih berkuliah?" semakin banyak bukti yang kuungkap maka semakin bagus.
Dia berucap sinis, "Darimana kau tahu tentang masa laluku?"
"Tanyakan kepada rekan anda yang kebetulan tidak hadir di sini. Alzack Connel. Akan kulanjut kronologi proses pembunuhan ini. Setelah korban dipastikan tidak sadarkan diri total setelah disuntik oleh bius dosis tinggi lalu anda lancarkan serangan pamungkas. Anda gorok leher sebelah kiri korban menggunakan alat khusus semacam pisau bedah karena hasilnya sangat rapi. Benar-benar mahakarya seorang mahasiswi pascasarjana kedokteran bedah." rentetan kalimatku ini membuat kedua bola matanya melotot.
"Ba...Bagaimana kau..." ucapannya terbata-bata.
"Sebentar ya semuanya." aku membuka pintu kamar tamu dan mengambil dua buah buku tebal yang tergeletak di atas ranjang. Setelahnya kuperlihatkan masing-masing buku tersebut kepada orang-orang. Kedua buah buku yang sengaja kuambil dari ruang praktek Minerva.
"Buku berjudul 'Chirurgus' ini artinya adalah dokter bedah. Bahasa latin. Lalu buku kedua yang berjudul 'Adenectomy Tutorial' ini merupakan buku yang khusus membahas tentang ilmu bedah kelenjar yang ada pada anatomi tubuh. Kutebak, ini buku kesayangan anda kan?" aku menyeringai lagi dan membuat Minerva mati kutu.
Juvia berdecak kagum, "Ka...Kau pintar sekali detektif."
"Dan juga setelah mengetahui tulisan 'Crocus State University' yang tertera di bagian dasar cover buku, aku segera mencari nama anda di situs resmi Universitas Crocus. Ternyata ada, nama anda tercatat sebagai mahasiswi pascasarjana di fakultas kedokteran."
Wajah wanita itu semakin tidak karu-karuan sekarang. Posisinya sudah benar-benar terpojok. Apalagi kini Laxus terlihat seperti memendam kebencian besar kepadanya setelah mengetahui fakta jika dia dijadikan sasaran pengalihan pelaku.
"Lebam yang ada di tengkuk korban juga merupakan cara anda agar Laxus dicurigai. Ternyata aku tidaklah sebodoh yang anda kira. Aku bisa mengira-ngira seperti apa bekas luka hantaman dari seorang atlet bela diri tingkat regional."
Tanpa diduga pria berotot itu mencekik leher Minerva secara tiba-tiba. "Mati saja kau jalang!"
"Laxus-san, hentikan!" tegurku keras. Wakaba dan Ichiya langsung cepat tanggap dan berusaha mencegah agar sang atlet tidak melakukan perbuatan yang berbahaya dan justru malah akan merugikan dirinya sendiri. Terpaksa Laxus dibawa pergi dari ruangan ini menuju ke lantai dua oleh kepala aparat keamanan desa itu.
"Satu lagi dan ini merupakan petunjuk terakhir yang paling sulit untuk kupikirkan tanpa kejelian. Sayatan sepanjang lima belas centimeteran di leher kiri korban dan juga bekas suntikan di otot trapezius kiri korban bukanlah ketidakesengajaan murni kan? Sengaja sama-sama di sebelah kiri?" aku berjalan pelan ke pojok ruangan lalu berbalik lagi.
"Apa maksudmu?" Minerva menoleh ke arahku dengan mata yang sembab. Entah marah atau justru sedih.
"Anda adalah orang yang dominan menggunakan tangan kiri alias kidal. Orang yang kidal cenderung melakukan apa saja dari sebelah kiri. Saat anda memukul-mukul lantai ketika korban pertama kali ditemukan, saat anda menunjuk-nunjuk ke wajah Yajima-san pagi tadi, saat menunjuk ke arahku beberapa menit yang lalu, dan yang paling kentara saat anda mengiris kue tart. Mengiris menggunakan tangan kiri dan dari sebelah kiri. Tolong berikan sanggahan yang masuk akal jika aku salah." aku berjalan mendekat kepadanya. Berdiri persis di hadapannya. Wanita itu mengangkat kepalanya pelan-pelan, memberikan tatapan penuh kebencian.
"Minerva Orland, akui saja perbuatanmu." aku mengatakan kalimat ini dengan tempo lambat.
Dia tidak menjawab. Tak ada yang berani bersuara sekalipun itu masyarakat yang sedang menonton atau mendengarkan dari luar. Suara jarum detik terdengar cukup jelas dibarengi suara helaan nafas manusia-manusia yang ada di sini. Menandakan betapa sunyinya tempat ini sekarang.
Bibir Minerva terbuka perlahan dan dari dalam tenggorokannya terdengar suara, "Iya."
X
X
X
X
X
Baguslah akhirnya dia mau mengaku.
"Minerva, sete..." kata-kataku dipotongnya.
"Aku yang membunuh orang jahat itu, aku yang membunuhnya." tatapannya kosong saat berbicara. Tidak ada yang berani menginterupsi. Termasuk aku.
"Aku telah membunuh orang yang pantas dibunuh." lelehan bulir-bulir air mata terlihat jelas melewati pipi lesungnya. Wajah seorang frustasi terukir jelas di situ.
Aku mendengarkan dengan baik apa yang ingin wanita itu omongkan. Segala isi hatinya.
"Kalian tidak tahu hiks.. jika pria brengsek itu, ayah tiriku, telah membunuh IBU KANDUNGKUUU!" jeritannya melengking. Menyiratkan perasaan pedih yang mungkin tersimpan selama ini.
Kuberanikan untuk bertanya. "Ayah tirimu?"
"Jiemma adalah ayah tiri yang menikahi ibu kandungku setelah ayah kandungku meninggal. Jiemma, dia...dia hanya ingin mengeruk harta ibu. Dia yang pantas disalahkan!" wanita itu menjambaki rambutnya sendiri. Tak ada yang berani mendekat sekalipun berniat menenangkan.
"Minerva, apa hanya itu yang ayahmu lakukan?" aku mencoba untuk mendekati dirinya yang sedang dilanda kemelut mental. Trauma yang dialami olehnya di masa kecil, sepertinya begitu.
"Kau tahu detektif? Jika saja kau tahu ayah tiriku yang brengsek itu membunuh ibuku maka bukankah dia pantas menemaniku di dalam penjara? Hahaha!" cara tertawanya membuat hatiku pilu. Aku kini gantian berbalik kasihan kepadanya dan bukan kepada Jiemma-san.
Ivan mengerjapkan kelopak mata berkali-kali, "Membunuh ibumu katamu?"
Dia mengangguk sangat keras, "IYA! Saat aku kecil, aku melihat bajingan itu bertengkar dengan ibu di dalam kamar mandi. Ibu ditampar hingga jatuh dan kepalanya membentur tepian bak mandi. Ibu tewas, dia tewas!" nafasnya terengah-engah setelah berbicara nyaris tanpa jeda. Tubuh rampingnya gemetaran.
Jiemma-san adalah orang yang bertangan besi kah?
"Lalu Minerva...kenapa kau tidak melaporkan ayahmu ke pihak kepolisian?" aku jujur sangat penasaran dengan kisah masa lalunya. Begitu juga dengan orang-orang yang ada di sini.
"Melaporkan? Haaahh? Jangan bodoh!" dia berdiri dari kursinya lalu mencengkeram kerah kemeja yang kukenakan, "Aku sudah mencoba untuk menjelaskan sejujurnya kepada polisi. Namun apa kata mereka? HAH?!" matanya melotot tajam.
Aku mencoba untuk tetap tenang.
"Mereka mengatakan jika...jika itu adalah kecelakaan. Mentang-mentang si tua jahanam itu baru saja menjabat sebagai kepala HPD lalu dia bisa seenaknya membunuh? Bisa kebal hukum, begitu?" cengkeraman tangannya dipererat lalu dia mendorong tubuhku hingga menempel tembok.
"Minerva!" Ivan mencoba menolong namun aku perintahkan agar tetap diam. Aku ingin mengerti lebih jauh lagi rangkaian permasalahan ini.
Wajahnya mendekati wajahku sehingga deru nafasnya terasa jelas. "Aku benar-benar membenci orang-orang kepolisian seperti dirimu. Ibuku, Nireva Orland, tak akan pernah mengampuni orang-orang seperti kalian dari surga." suara gemertak giginya terdengar jelas dari telingaku.
Tangan kanannya mengepal erat. Mundur ke belakang sedikit untuk mengambil ancang-ancang. Dia akan memukulku. Aku sudah siap asal itu bisa meringankan kepahitannya.
"MATI KAU POLISIII!"
Sebuah borgol terpasang di tangan kanan Minerva. Wanita itu sangat kaget. Aku melihat seorang pria memakai seragam kepolisian lengkap berwarna biru tua dengan name-tag bertuliskan 'Doranbolt' berdiri di belakang Minerva.
"Anda kami tahan atas tuduhan pembunuhan terencana terhadap saudara Jiemma. Saudari Minerva, ikut kami sekarang!" pria dengan luka gores di samping mata kiri itu memerintahkan bawahannya agar membawa Minerva ke luar ruangan. Wanita berambut biru gelap itu tidak mengelak sedikitpun.
"Terima kasih banyak inspektur Doranbolt." ucapku seraya bernafas lega karena sebuah tinjuan tidak jadi bersarang di wajah.
Inspektur EPD itu tersenyum, "Sama-sama detektif. Kami sebenarnya sudah sampai dari lima belas menit yang lalu namun mencoba untuk tetap tenang di luar pintu hingga pelaku benar-benar mengaku."
Malam semakin larut. Jam dinding di ruang tamu telah menunjukkan pukul sepuluh lebih lima belas menit. Aku bersalaman dengan semua orang yang ada di ruangan maupun beberapa warga yang mengantri ingin sekedar bersalaman atau berfoto. Minerva telah ditahan sementara di aula desa dan akan dibawa menuju kantor polisi Edolas keesokan pagi. Begitu juga denganku. Malam ini aku akan tidur di rumah kepala desa karena besok pagi juga akan pulang ke Hargeon. Menggunakan kendaraan umum dari Edolas karena mobil pribadiku tidak akan mampu keluar dari desa sebelum jembatan itu diperbaiki.
Kebetulan sekali Ivan menawari pekerjaan kepada kakek Yajima untuk bekerja di ladangnya mengingat kakek tua itu sudah tidak tahu mau bernaung kemana. Juvia sepertinya akan kembali berjualan di pasar desa untuk menyambung hidupnya. Dan Laxus...dia bisa dibilang sedang berada di posisi yang cukup sulit sekarang. Kekasih yang pernah ingin dinikahinya ternyata menikam dari belakang. Sedari tadi semenjak dia naik ke lantai atas aku belum melihatnya lagi. Mungkin sedang merenung sendirian di suatu tempat.
Ada sebuah pelajaran penting yang bisa kupetik dari kasus pembunuhan ini. Barangsiapa yang melakukan kejahatan maka dia sejatinya sedang menanam benih penderitaan di hati orang lain dan tinggal menunggu saat yang tepat, entah cepat atau lambat untuk menuai apa yang selama ini dia tabur.
-OWARI-
Terima kasih sebesar-besarnya author tujukan kepada Kami-sama, readers yang setia mengikuti fic ini dari awal, pertengahan, atau akhir. :)
Fic bertema pembunuhan kedua yang berhasil author selesaikan. Hore! :D
Sampai jumpa semuanya.
