Thanks to : DahsyatNyaff, shinta .lang , Naya, KikSica, Xlyn, ShiinaYuki, Namesofia risma, Maple fujoshi2309, Shim Yeonhae, dan adilia .taruni .7 :)
FYI, buat yang nanya sakitnya Kris parah atau enggak saya udah search, dan yang saya tulis dichapter sebelumnya itu benar yang tulisannya sudah saya bold, yang penjelasan tentang miokarditis itu sendiri. Untuk kepastiannya Kris beneran miokarditis akut atau tidak saya kurang tau, tetapi menurut ciri-ciri nya, miokarditis-nya Kris memang lebih mendekati ke yang miokarditis akut.
Terima kasih sekali lagi buat yang sudah me-review, mem-favorite, dan nge-follow cerita ini, jeongmal kamsahamnida^^
Myocarditis
Chapter 3 : Eureongie and Baby
Kris sedang menonton berita dikamar rawatnya, hari ini Tao dan member EXO yang lainnya sedang ada jadwal, jadi dia tidak ada yang mengunjungi hari ini.
Tok tok tok
Kris hanya mengacuhkan pintu yang diketuk tersebut, karena pasti itu suster yang mengantar makanan dan obat.
Kris mendengar suara pintu dibuka dan masih mengacuhkannya, matanya tidak berpaling dari tv, hingga...
"Kris." Panggil seseorang yang datang tadi.
DEG
Jantung Kris berdetak lebih cepat mendengar suara tersebut, suara yang sangat dihafalnya. Pelan-pelan ia menolehkan kepalanya kearah orang tersebut.
"H-hyung?"
"How's your feeling?" Namja yang baru datang tersebut langsung duduk dikursi sebelah tempat tidur Kris, tanpa dipersilahkan.
"Hyung apa yang kau lakukan disini?" Tanya Kris blak-blakan. Masalahnya dia sudah tidak dapat megontrol detak jantungnya, dan dadanya itu sakit sekali rasanya, seperti dihujam ribuan pisau dalam waktu yang bersamaan.
"Wow, easy man. Harusnya kau menyambut manajermu ini dengan ramah dan sopan."
Ya, seseorang yang mengunjungi Kris tersebut adalah manajer EXO, orang yang mengatakan bahwa Kris adalah pengkhianat.
"Kau masih manajerku?" Kris mencoba untuk bersikap dingin walau jantungnya sudah mau copot rasanya.
"Ah aku sudah tidak dianggap rupanya." Manajer EXO tersebut tersenyum miring kepada Kris, dan Kris mengalihkan pandangannya tidak mau menatap namja didepannya.
"Santai saja Kris, aku hanya ingin menyampaikan sesuatu yang sangat penting disini. Ah.. haruskah aku memanggilmu Yifan saja?" Senyum namja tersebut terlihat makin sinis.
"Katakan saja sekarang hyung, kau terlalu berbasa-basi untuk mengatakan hal yang sangat penting."
"Oke, oke, jadi begini.. Apa kau masih berharap untuk kembali ke EXO ketika sembuh nanti?" Tanya namja itu. Kris tidak menjawab pertanyaan tersebut, dia hanya diam.
"Aku tidak bermaksud apa-apa sebenarnya, tapi aku ingin memberitahumu bahwa aku sudah menemukan orang yang tepat, yang akan menggantikanmu di EXO."
DEG!
"Aku juga sudah memberitahukan ini kepada mama-mu, dan sepertinya beliau tidak keberatan dengan itu, malah beliau bersyukur karna akhirnya ada yang menggantikanmu."
DEG!
"Ya aku harap kau juga senang dengan kabar yang kubawa ini. Karna kau harus ingat Yifan, kau yang memulai ini semua, dan kau juga yang memutuskan untuk keluar dari SM, semoga kau tidak menyesali keputusanmu tersebut."
DEG DEG
Jantung Kris berdetak semakin cepat, lebih cepat dari yang tadi, tidak pernah rasanya ia merasakan jantungnya berdetak secepat ini.
'Tidak boleh.. ini tidak boleh terjadi..
Tidak ada yang boleh menggantikan posisiku..
Tidak boleh ada..'
"Maaf aku tidak sempat membawa apa-apa, Yifan. Aku akan mengirimkan buah-buahan nanti. Kalau begitu aku pergi dulu, semoga cepat sembuh, Wu Yi Fan."
Kris masih sibuk dengan pikirannya sendiri ketika manajer EXO mulai beranjak dari tempat duduknya dan meninggalkan kamar rawat inapnya tersebut.
'Kenapa jadi seperti ini..'
Kris mengusap mukanya kasar dan kemudian kedua telapak tangannya mengangkup diwajahnya, mencoba menahan air mata yang sudah tidak terbendung lagi dikedua matanya tersebut. Sungguh dia tidak menyangka kejadiannya akan seperti ini. Semua ini terlalu berat baginya.
Dia tau bahwa ini semua salahnya, tapi apakah sudah sangat terlambat untuk memperbaiki kesalahan yang ia buat? Tidak bisakan ia diberi kesempatan sekali lagi agar ia bisa memperbaiki semua kesalahannya?
-a few days later-
"Kau yakin tidak ingin kutemani kedalam Tao?"
"Tidak usah hyung, aku bisa sendiri."
"Tapi kau akan kesusahan membawa 2 benda itu."
"Sudahlah hyung, aku tidak mau kau ikut-ikutan kena marah manajer-hyung karena menjenguk Kris-ge."
Suho menghela napas sejenak.
"Yasudah, kalau begitu kau hati-hati ne?"
"Ne, gomawo sudah mengantarku hyung."
"Ne."
Tao turun dari mobil yang tadi dia naiki bersama Suho. Saat ini dia sedang berada diparkiran Seoul International Hospital -rumah sakit tempat Kris dirawat-. Kedua tangannya masing-masing memeluk benda yang besar. Dia mulai melangkahkan kakinya menuju lift yang ada diparkiran tersebut. Ketika ingin menekan tombol lantai yang ingin ditujunya, Tao kesusahan akibat benda yang dibawanya.
"Kau ingin kelantai berapa?" Tiba-tiba ada seorang yeoja disebelahnya bertanya.
"Ah, aku ingin ke lantai 6." Jawab Tao canggung. Yeoja tersebut hanya diam tetapi tetap menekan angka 6 di lift tersebut.
"Kamsahamnida." Ucap Tao sopan. Yeoja tersebut hanya mengangguk dan tidak lama kemudian dia melangkah keluar, dia terlihat menuju kearah lobi.
Tao yang kemudian sendiri hanya diam memperhatikan angka lantai yang akan ditujunya.
'Aku jadi tidak sabar bertemu dengan Kris-ge.'
Tidak berapa lama kemudian akhirnya lift tersebut berhenti dilanai 6. Tanpa ragu Tao-pun langsung keluar dari lift dan menuju kearah ruang VVIP nomor 0611, yaitu ruangan Kris. Setelah sampai didepan ruangan Kris, Tao tidak tau bagaimana cara ia membuka pintunya, akhirnya ia-pun meletakkan 2 benda yang dibawanya tersebut kekursi yang ada didepan ruangan tersebut, kemudian membuka pintu ruangan Kris, dan mengambil kedua benda tersebut lagi.
"Annyeong Kris-ge, lihat siapa yang ingin menjengukmu~" Ucap Tao riang kepada Kris yang terlihat sedang.. melamun?
"Kris-ge?" Tao mendekati Kris dan meletakkan 2 benda tersebut diatas tempat tidur Kris.
"Eh? Tao?" Kris yang merasa ada seseorang meletakkan 2 benda yang cukup besar ditempat tidurnyapun beralih menatap orang yang membawa benda tersebut.
"Kau melamun ge?"
"Tidak, aku hanya sedang berpikir tadi." Kris tersenyum kepada Tao.
"Wah, kau membawa mereka sendirian? Aigo kasiannya panda gege pasti kesusahan." Kris mengusap pipi Tao sambil sedikit terkekeh.
"Eureongie dan Baby bilang, mereka kangen pada appa-nya, karena itu aku membawa mereka kesini." Ucap Tao.
"Eureongie annyeong, Baby annyeong~ kangen pada appa ne? Sampai merepotkan eomma begitu~" Kris berbicara kepada 2 boneka anjing yang lucu -2 benda besar yang tadi dibawa oleh Tao-.
"Ge, ayo main remember when." Ucap Tao bersemangat.
"Hm? Baiklah, ayo." Kris tersenyum kecil kepada Tao.
"Remember when, kita mengadopsi mereka? Kkk." Tao terkekeh kecil.
"Tentu saja ingat!"
-Flashback-
Tao melihat boneka anjing yang sangat lucu didepan sebuah toko, saat ini mereka sedang syuting EXO Showtime di China Town yang ada di Korea. Ketika Tao melihat boneka tersebut dia langsung mencari pemilik toko.
"Ahjumma, boneka anjing yang ada didepan tersebut harganya berapa?"
"Yang itu 50.000 won, kau suka bonekanya?"
"Ne, saya ingin membelinya, tunggu sebentar ne." Tao pun berjalan kembali ketempat boneka anjing tersebut.
Ketika Tao ingin kesana, ternyata Kris baru saja dari tempat boneka tersebut, mungkin ingin melakukan apa yang dilakukan Tao, yaitu menanyakan harganya.
"Gege, kau sudah melihatnya?"
"Iya Tao, ayo kita beli boneka anjing itu!"
"Ayo gege! Tadi aku sudah bertanya kepada ahjumma pemilik toko, katanya harganya 50.000 won, ge." Kata Tao sambil memandangi boneka tersebut.
"Kita tawar jadi 40.000 saja kkk."
"Ne, ayo kita beli ge."
Kris langsung membawa boneka tersebut untuk dibayar, dan menawar haarganya menjadi 40.000 sementara Tao meminjam uang kepada staff dulu karena dia tidak membawa dompetnya.
"Mereka lucu sekali ya, ge?"
"Ya, mereka lucu. Ayo bersalaman."
Setelah membayar boneka tersebut, merekapun membuat kedua boneka tersebut bersalaman. Lalu bersama-sama menyusul member lain yang sudah menuju kesebuah restoran China.
-Di restoran-
"Boneka apa itu Tao?" Tanya Chanyeol kepada Tao.
"Sejak kapam mereka disini?"
"Lucu kan?" Tao tidak menjawab pertanyaan mereka, dia malah sibuk sendiri mengelus-ngelus boneka barunya.
"Kalian membelinya?"
"Kalian belum tau? Aku akan memperkenalkan dia kepada kalian." Ucap Kris. (#5)
"Siapa namanya?"
"Namanya? Namanya Eureongie~" Jawab Kris.
"Tao punyamu siapa namanya?
"Punyaku Baby~" Jawab Tao.
-Flashback End-
Kris dan Tao tertawa bersama mengingat kejadian itu.
"Dan sebelum pergi ke China Town, ingat kita ke Namsan Tower dan Hanok Village?" Ucap Tao lagi.
"Tentu aku ingat, Taozi." Jawab Kris tersenyum.
"Waktu itu kita menulis digembok, dan melempar kuncinya."
"Ya, lalu berfoto bersama."
Kris tersenyum miris, entah kenapa dia takut Tao berkata...
"Aku masih ingat yang kau tulis digembok itu, ge. 'Kami EXO, selamanya bersama, love.' Kau ingat itu jugakan?"
Itulah yang Kris tidak ingin dengar dari Tao. Kris hanya mengangguk kecil, mengingat kejadian itu.
"Dan pesanmu untuk member EXO diakhir episode, 'Aku mecintai mereka dan yah.. Saranghaja!' kau ingatkan ge?"
Kris terdiam sebentar, kemudian menatap Tao dengan tatapan yang tidak dapat diartikan.
"Sudahlah Taozi.. Kita tidak seharusnya membicarakan hal ini.." Kris berbicara dengan nada selembut mungkin, agar Tao tidak tersinggung.
"Aku hanya mengingatkan apa yang telah kau ucapkan, ge. Dan ucapanmu itu aku anggap sebagai janji."
Tao melihat jam tangannya. Kemudian beranjak dari tempat duduknya.
"Aku titip mereka berdua kepadamu ya, ge. Maaf aku hanya bisa sebentar disini, aku ada jadwal." Ucap Tao.
"Yasudah, kau hati-hatilah. Jaga kesehatanmu ya, aku tidak mau kau sakit."
"Ne, kau juga jangan lupa minum obat agak cepat sembuh." Tao memeluk Kris sejenak, dan Kris membalas pelukannya.
Drtt drrtt
Merasakan getaran dikantung celananya, Tao bergerak ingin melepaskan pelukan mereka berdua.
"Sebentar lagi Taozi.." Ucap Kris, dia masih rindu dengan pandanya itu.
"Ada yang meneleponku, ge."
"Sebentar saja." Kris benar-benar enggan melepas pelukannya dengan Tao. Tao akhirnya mengalah dan membiarkan Kris tetap memeluknya, sementara tangannya merogoh kantung celana untuk mengambil smartphone-nya dengan sedikit susah. Setelah dapat, dia langsung mengangkat telpon tersebut tanpa melihat dulu siapa yang menelepon.
"Ne?" Jawab Tao singkat.
"Tao kau dimana? Aku sudah dibasement rumah sakit ne." Ucap seseorang disebrang sana.
"Tunggu sebentar ne, hyung?" Balas Tao.
"Ne."
Piip
Tao mematikan telpon tersebut.
"Gege aku sudah dijemput." Ucap Tao pelan.
"Sebentar.. Sebentar lagi Tao.."
Tao hanya mengelus-elus punggung Kris. Dia tau Kris rindu kepadanya, karena dia juga merasakan perasaan yang sama. Tapi mau bagaimana lagi? Setelah comeback dengan Overdose jadwal mereka jadi padat dan dia tidak punya banyak waktu untuk menjenguk Kris. Ditambah lagi manajer-hyung yang tidak bisa diajak kompromi.
"Berjanjilah kau tidak akan banyak tingkah, ge. Makan dan minum obat teratur, dan tidur teratur juga, ne?"
"Hm." Kris masih enggan untuk melepaskan pelukannya.
Drrtt drrtt
"Gege aku bisa terlambat.." Ucap Tao pelan ketika merasakan getaran dari smartphone-nya. Akhirnya dengan sangat terpaksa, Kris melepaskan pelukannya dengan Tao. Biar bagaimanapun juga dia tidak ingin membuat Tao terlambat dan dimarahi oleh manajer-hyung.
"Hati-hati ne.."
"Ne."
Tao langsung bergegas keluar dari kamar Kris. Dia berjalan kearah lift sambil mengangkat telponnya.
"Ne, aku sedang di lift."
-Skip time-
"Hyung, ayo temani aku nonton film ini." Ucap seorang namja tampan ke namja lain yang terlihat cantik.
"Aku tidak mau, nanti aku tidak bisa tidur gara-gara menonton film itu." Balas namja cantik tadi. Saat ini mereka sedang ada di kamar mereka di dorm.
"Ayolah Luhan-hyung, aku tidak berani kalau harus nonton sendirian." Rengek namja tampan kepada Luhan -namja cantik tersebut.
"Kenapa tidak minta ditemani Chen saja Sehunie? Diakan pemberani." Tanya Luhan kepada Sehun -namja tampan itu.
"Ah shireo! Nanti yang ada aku malah dikerjain sama dia." Sehun mempoutkan bibirnya.
"Aish, tapi aku tidak mau nonton film itu Sehunie." Luhan tidak mau menatap wajah Sehun, oh ayolah dia tidak akan tahan kalau harus melihat wajah kekanak-kanakan Sehun yang merengek seperti itu.
"Hyung ayolah~ Kali ini saja~ Diruang tv sedang tidak ada siapa-siapa, masa kau tega membiarkan aku nonton sendirian." Sehun makin merengek kepada Luhan.
"Yayaya, tapi hanya kali ini saja, oke?" Akhirnya Luhanpun menyerah juga-_-
"Yehet! Kajja hyung." Sehun menarik tangan Luhan menuju ruang tv.
Setelah sampai diruang tv, Luhan langsung duduk disofa sambil membawa cemilan yang tadi sudah mereka persiapkan, sedangkan Sehun mempersiapkan film yang akan mereka tonton bersama. Setelah selesai Sehun langsung duduk disebelah Luhan.
Mereka menonton film The Conjuring, sudah sedikit basi memang, namun mereka belum pernah nonton akibat jadwal yang padat.
Tiba-tiba ada yang mematikan lampu diruang tv..
"YAK! SIAPA YANG MEMATIKAN LAMPUNYA?!" Luhan langsung menjerit dan secara refleks mencengkram tangan Sehun.
"Hyung, telinga dan tanganku sakit.." Ringis Sehun.
"Tenanglah hyung, aku yang mematikan lampunya. Pasti lebih seru kalau nontonnya mati lampu begitu." Ucap seseorang dari belakang mereka.
"YAK CHEN, KAU TIDAK LUCU!"
"Selamat nonton Luhan Hyung dan Sehunie~~" Chen pun pergi meninggalkan mereka berdua.
"Sehunie~ hidupkan lampunya~" Ucap Luhan masih mencengkram tangan Sehun erat.
"Tidak apa-apa hyung, begini lebih enak." Sehun kembali menonton film tersebut sementara Luhan sudah ketakutan. Luhan-pun semakin merapat kearah Sehun.
'Aish, dasar anak ini.'
Tiba-tiba Sehun melingkarkan tangannya ke pinggang Luhan.
DEG
"Kalau takut tidak usah melanjutkan nonton hyung, tidur saja sini." Bisik Sehun.
DEG
Luhan merasakan jantungnya berdetak lebih cepat, apalagi Sehun berbisik tepat ditelinganya.
"T-Tidak apa, aku tidak takut." Ucap Luhan. Sehun hanya melirik Luhan sembari tersenyum kecil, dia semakin mengeratkan pelukannya kepinggang Luhan.
'Sial, jantungku..' Rutuk Luhan dalam hati.
Ketika Luhan mencoba memfokuskan pikirannya ke film yang mereka tonton sekarang, tiba-tiba hantu yang ada di film tersebut muncul dan membuat Luhan kaget. Dan karena terlalu syok, Luhan refleks memeluk Sehun.
Sehun yang melihat Luhan hanya terkekeh kecil, dan kemudian dia mengeratkan pelukannya ke Luhan.
"Sudahlah hyung, tidak usah nonton lagi, cukup temani aku saja." Bisiknya tepat ditelinga Luhan. Luhan yang merasakan jantungnya semakin berdetak cepat berusaha melepaskan pelukan Sehun. Tapi sialnya Sehun malah semakin erat memeluknya.
"Y-yak, Sehun lepaskan aku." Ucap Luhan pelan, dia benar-benar gugup sekarang.
"Tapi kau jangan kabur ne, hyung?"
"Hm." Luhan menganggukkan kepalanya.
Perlahan Sehun mengendurkan pelukannya pada Luhan, tetapi enggan melepaskan pelukan itu. Dia memperhatikan Luhan yang menundukkan kepalanya.
Merasa pelukannya tidak juga dilepaskan Sehun, Luhan mendongakkan kepalanya ingin protes lagi kepada Sehun, tapi..
DEG
Jarak wajah Luhan dan Sehun sangat dekat sekali sekarang, dan lidah Luhan terasa kelu, ia tidak dapat berkata apa-apa. Sehun kemudian mendekatkan wajahnya kewajah Luhan, walaupun gelap tapi dia masih bisa melihat wajah imut Luhan. Sehun menutup kedua matanya dan mendekatkan lagi wajahnya kewajah Luhan, sementara Luhan yang melihat Sehun memejamkan matanya, ikut memejamkan kedua bola matanya juga. Wajah mereka berdua semakin dekat..
Semakin dekat..
Semakin dekat..
Drrtt Drrtt
Tiba-tiba smartphone Sehun yang ada dikantung celananya bergetar, Luhan yang tidak berjarak dengan Sehun-pun ikut merasakan getaran tersebut. Mereka membuka mata mereka..
Tinggal 1 cm lagi..
Luhan menundukkan kepalanya dan menjauhkan wajah serta badannya dari Sehun.
Melihat Luhan yang menjauh, Sehun-pun ikut menjauh dan mengambil smartphone-nya.
Nari-noona is calling..
Melihat siapa yang menelepon, Sehun melirik Luhan sejenak, kemudian mengangkat telpon tersebut.
"Yeoboseyo?"
"Aku sedang menonton film noona."
"Ne? Ah ne, aku tidak lupa kok."
"Ne, sampai ketemu nanti noona."
"Ne~"
Piip
Sehun mematikan telponnya, menghela napasnya dan melirik Luhan.
Luhan tampak menonton film tapi Sehun tau, pikiran Luhan tidak kepada film tersebut.
TBC~
review?^^
