Terima kasih buat yang sudah baca, review, favorite dan follow cerita ini. Maaf karena update yang lama^^
This is the 4th chapter, enjoy~~
Previous chapter..
Luhan menundukkan kepalanya dan menjauhkan wajah serta badannya dari Sehun.
Melihat Luhan yang menjauh, Sehun-pun ikut menjauh dan mengambil smartphone-nya.
Nari-noona is calling..
Melihat siapa yang menelepon, Sehun melirik Luhan sejenak, kemudian mengangkat telpon tersebut.
"Yeoboseyo?"
"Aku sedang menonton film noona."
"Ne? Ah ne, aku tidak lupa kok."
"Ne, sampai ketemu nanti noona."
"Ne~"
Piip
Sehun mematikan telponnya, menghela napasnya dan melirik Luhan.
Luhan tampak menonton film tapi Sehun tau, pikiran Luhan tidak kepada film tersebut.
Myocarditis
Chapter 4 : Friendzone?
Dua namja yang sedang menonton film tersebut nampak diam satu sama lain, tidak ada yang berani membuka percakapan duluan. Mereka menonton dalam diam hingga Luhan yang tidak tahan dengan keadaan inipun berdiri dari duduknya, bermaksud kembali kekamar mereka.
"M-mau kemana, hyung?" Tanya Sehun yang melihat Luhan beranjak dari tempat duduknya.
"Kekamar." Jawab Luhan singkat, sementara Sehun hanya diam menghela nafas.
Luhan sampai dikamarnya dan menutup pintnya rapat, dia jatuh terduduk didepan pintu tersebut.
'Kenapa bisa begini..' Luhan memeluk kedua kakinya didada, menenggelamkan kepalanya diantara kedua lututnya tersebut. Menyesali apa yang hampir terjadi antara mereka. Terus-terusan berfikir kenapa dia tidak bisa mengontrol diri dan perasaannya. Nyaris saja yang tadi itu. Sangat nyaris. Luhan berdiri dan berjalan kearah tempat tidurnya dan berbaring disana.
Sementara Sehun yang masih sama shock-nya dengan Luhan mematikan film yang mereka tonton tadi dan membereskan dvd dan meja dari bungkus-bungkus snack yang tadi mereka makan. Setelah itu dia berjalan kekamarnya dan Luhan. Berdiri cukup lama didepan pintu kamar tersebut. Ragu antara harus masuk sekarang atau tetap diluar. Tetapi setelah lama berdiri didepan pintu tersebut akhirnya dia memutuskan untuk masuk kekamar itu, dia melihat Luhan berbaring ditempat tidurnya.
Luhan yang merasa pintu kamarnya terbuka memjamkan matanya. Sehun yang mengira Luhan sudah tidurpun memutuskan untuk mendekati tempat tidur Luhan. Sehun mengelus pipi Luhan pelan, mengagumi wajah Luhan yang seperti malaikat ketika ia tertidur. Perlahan Sehun mendekatkan bibirnya ketelinga Luhan.
"Maaf hyung, maaf.." Bisik Sehun tepat ditelinga Luhan. Sehun kembali menatap wajah Luhan, kemudian mendekatkan bibirnya kekening Luhan dan mengecupnya sekilas. "Maaf hyung.." Bisiknya sekali lagi ditelinga Luhan sebelum beranjak keluar dari kamarnya untuk menemui Nari.
Setelah Luhan mendengar suara pintu tertutup, dia membuka matanya perlahan, untuk memastikan bahwa ia hanya sendiri sekarang. Setelah yakin kalau dia memang hanya sendiri, dia bangkit dan duduk ditempat tidurnya. Kedua tangannya terangkat untuk memegangi dada kirinya, dia bisa merasakan jantungnya berdetak sangat cepat. Berkali-kali lebih cepat dari detak jantung normal. Otaknya berusaha mencerna apa yang barusan terjadi, dan bertanya-tanya kenapa Sehun mengecup keningnya.
Luhan senang, tentu saja. Tetapi ketika teringat bahwa Sehun mempunyai seorang pacar, yang tentu aja itu bukan dia, air mata Luhan perlahan mengalir. Luhan mendengar suara pintu yang terbuka dan melihat Kyugsoo memasuki kamar. Kyungsoo yang melihat Luhan langsung kaget.
"Hyung, kau kenapa?" Kyungsoo langsung menghampiri Luhan, Luhan tidak menjawab dan masih terus saja menangis. Sementara Kyungsoo yang tidak tahan melihat hyung-nya itu menangis akhirnya duduk disamping Luhan, dia memeluk Luhan dari samping dan mengelus-elus lengan Luhan.
"Uljima hyung.." Ucap Kyungsoo, Luhan tetap menangis dalam diam.
-Sehun side-
Disinilah Sehun sekarang, didepan dorm Wassup, menunggu sang yeojachingu. Pikirannya tidak bisa konsentrasi karena kejadian tadi. Sungguh dia tidak habis pikir kenapa bisa terbawa suasana sampai segitunya, dia tidak bermaksud seperti itu. Sungguh.
Tok tok tok
Sehun tersadar dari lamunannya sekita mendengar jendela mobilnya diketuk oleh seseorang, setelah melihat siapa yang datang Sehun langsung membuka kunci pintu mobilnya dan membiarkan seseorang yang mengetuk jendela mobilnya tadi masuk kedalam.
"Sehunie annyeong!" Ucap yeoja tersebut sambil tersenyum riang.
"Ne, noona annyeong." Balas Sehun sambil tersenyum kecil.
"Kita berangkat sekarang ne?" Tanya Sehun ke Nari -yeoja tersebut.
"Ne~" Jawab Nari singkat.
Sehun menjalankan mobilnya ke Sungai Han, disepanjang perjalanan Nari bercerita banyak hal kepada Sehun, tetapi Sehun lebih banyak melamun daripada menanggapi Nari. Nari yang menyadari itu akhirnya memutuskan untuk bertanya kepada Sehun.
"Hunie, kau kenapa?"
"Ne?" Jawab Sehun bingung.
"Kau kenapa?" Tanya Nari lagi.
"Aku tidak kenapa-napa noona, memangnya aku kenapa?" Sehun menjawab tanpa mengalihkan pandangannya sedikitpun dari jalannya didepannya. Nari yang melihatnya hanya menghela nafasnya dan mempoutkan bibirnya. Sehun hanya melirik Nari, kemudian meminggirkan mobilnya kepinggir jalan.
"Noona." Sehun menghadap ke Nari tapi Nari membuang muka dan lebih memilih melihat keluar jendela.
"Noona." Panggil Sehun lagi, telapak tangan Sehun menangkup pipi Nari dan mengarahkannya agar menghadap kepada mukanya, tetapi Nari tidak juga menatap Sehun, dia tetap melihat kearah lain.
"Noona lihat aku, sebentar saja." Ucap Sehun, Nari yang mendengar suara Sehun yang terdengar serius akhirnya menatap Sehun.
"Aku.. Ada masalah, maaf kalau aku banyak melamun tadi, aku tidak bermaksud begitu.." Sehun berkata pelan.
"Kenapa tidak cerita?" Nari berkata sambil mengelus pipi kiri Sehun dengan tangan kanannya.
"Aku belum bisa cerita sekarang.." Sehun berkata sambil menundukkan kepalanya. Nari yang melihatnya langsung memeluk Sehun, mengelus punggung Sehun dengan telapak tangannya, berharap namjachingu-nya tersebut bisa tenang.
"Kalau begitu kita pulang saja, kau harus istirahat." Ucap Nari masih mengelus punggung Sehun.
"Hmm" Sehun menenggelamkan kepalanya keleher Nari dan memejakkan matanya, dia membalas pelukan Nari.
"Sehun?"
"Hmm" Sehun hanya bergumam dan tidak menjawab Nari. Hingga tak lama kemudian Sehun merenggangkan pelukannya dan menatap Nari.
"Kita pulang saja noona?" Tanya Sehun dengan suara yang pelan.
"Ne, kita pulang saja. Kau harus istirahat Sehunie." Sehun menganggukkan kepalanya pelan kemudian melepaskan pelukannya dan kembali melajukan mobilnya untuk mengantar Nari kembali ke dormnya. Begitulah Nari, dia selalu mengerti keadaan Sehun, selalu membuat Sehun nyaman.
Setelah sampai di dorm Wassup, Nari memeluk Sehun kembali dan berkata semua akan baik-baik saja, Sehun hanya mengangguk dan memperhatikan Nari yang keluar dari mobilnya dan berjalan masuk kedormnya. Sehun menghela nafas dan kembali melajukan mobilnya kedorm Exo.
Setelah sampai dia lansung menuju kekamarnya dan melihat Luhan masih terbaring ditempat tidurnya. Sehun duduk ditempat tidur Luhan dan memperhatikan wajah Luhan. Entah kenapa dia sangat suka melihat wajah Luhan.
Tiba-tiba Kyungsoo masuk kedalam kamar, dia yang melihat Sehun duduk ditempat tidur Luhan segera mendekatinya.
"Sehun." Panggil Kyungsoo setelah dia berada disebelah Sehun.
"Ne?" Jawab Sehun tanpa mengalihkan pandangannya dari Luhan.
"Kau tau Luhan hyung kenapa? Tadi waktu aku masuk kesini setelah kau keluar kamar, Luhan hyung menangis. Dia tidak berkata apa-apa waktu aku tanyai, dia hanya menangis terus-terusan sampai dia capek dan tertidur." Kyungsoo berkata kepada Sehun.
Benar yang dibilang Kyungsoo, Sehun melihat bekas air mata Luhan yang mengering dipipinya. Tangannya terangkat untuk mengelus pipi tersebut. Kyungsoo yang melihat sepertinya Sehun adalah alasan Luhan menangis hanya diam, dan mulai beranjak ketempat tidurnya sendiri. Yah mungkin Sehun dan Luhan bisa menyelesaikan masalah mereka berdua.
'Maaf Luhanie hyung..'
Sehunpun juga beranjak ketempat tidurnya dan berbaring disana. Hanya berbaring. Karena dia tidak bisa tidur, dia terus memikirkan Luhan dan bagaimana caranya agar Luhan tidak menangisinya lagi.
TBC~
review?^^
