Author : Yey! Chap 6 update, kalo lama mian abis ni chapter aku nulis sampe nargetin sekitar 20 lebar Ms Word. Tapi jadinya malah 15 lembar :( Oke gak papa lebih baik kita bales revie,w sebelumnya mari kita panggil orang2 yang bersangkutan!
Changmin : Untuk Raekyuminnie nde memang Teukie hyung seperti itu, kana da pepatah mengatakan 'diam-diam menghanyutkan' dan untuk menjadi istri Teukie hyung aku rasa jangan deh memangnya readers belum tahu apa dibalik wajah malaikat dan kekayaannya itu Teukie hyung sebenarnya kan 'Malaikat Berhati Iblis'! #menjawab pertanyaan sambil ngemil snack dan pasang muka tak bersalah.
Kyuhyun : Hum-hum aku setuju denganmu 'Food Monster', Teukie hyung memang seperti itu. Ri Yong Kim kau serius ingin menjadi anaknya? Sebaiknya fikirkan kembali kami saja yang menjadi dongsaengnya sudah pusing mikirin sifat Teukie hyung yang gampang berubah-ubah moodnya.
Heechul : Ne, ne, benar sekali tiaraputri16! Mau sampai kiamat pun Teukie hyung tidak akan pernah berubah, masih aja sifat pelitnya itu mendarah daging. Bahkan rumahnya sendiri dibeli sama Henry, seharusnyakan dia berbagi atau menyerahkannya pada Henry. Dasar PeLiT!
Author : Maaf ne sebelumnya zhiewon189 bukannya author tidak mau membuat hubungan mereka jadi baik tapi memang dasar sifat mereka saja yang susah diatur dan mau enak sendiri. Belum lagi antara sang 'Evil Heehee' dan 'Duo Mangnae' itu jadi Mian ne. Coba author usahain mereka dekat
Heechul : Yak! Dasar kau author kurang ngajar! Bukan salahku kalau aku tidak bisa dekat dengan kedua magnae itu! Lagian salah mereka yang memancing emosiku!. Oh mian Readers, untuk Augesteca entahlah mengapa author memilih Taecyeon aku tidak tahu apa yang ada dalam fikirannya itu.
Taecyeon : Mungkin karena kharisma ku yang sangat charming ini Heechul hyung! #pasang senyum lima jari
Heechul & Author : Yak! Kenapa kau kemari?
Taecyeon : Lah bukannya aku pemain disini jadi suka2 aku dong thor!
Heechul & Author : Sweadrope bersamaan! 'Sudah abaikan saja dia' batin mereka bersama.
Author : S.P.Y ELF ini udah aku buat tapi kalau kurang berkenan mohon maaf. Dan mungkin saya selaku author disini akan membuat Teukie hyung sangat-sangat-sangat-sangat sengsara!
Semua Pemain : 'Sungguh author yang kejam! Semoga aku juga gak disiksa sama dia!'
Author : Untuk LQ oh author kelas 3 SMP dan sekarang sudah lulus dengan nilai nem yang sangat memuaskan dan sekarang sedang pusing2 nya mencari SMA idaman sekaligus bisa menyalurkan hobby ku sebagai penulis ff. Kalo tentang Mood Teukie yang berubah-ubah saya tidak tahu lebih baik tanyakan saja pada orangnya. Oh buat motor dan mobilnya kayaknya gak bisa soalnya Teukie itu orang yang sangat-sangat-sangat-PeLiT! Mungkin kalo Teukie gak pelit lagi dunia bakal kiamat! #semua pemain mengangguk setuju kecuali Leeteuk. Oh dan jangan berpusing ria nikmati saja membacanya.
Leeteuk tiba-tiba datang dengan wajah memerah da nada asap diatas kepalanya. ASAP readers! Wow kayaknya dia lagi nahan emosi deh.
Leeteuk : CHANGMIN! KYUHYUN! HEECHUL! DAN KAU AUTHOR SIALAN! APA YANG KALIAN LAKUKAN HAH? MEMBICARAKANKU DIBELAKANG, IYA KAN? APA YANG KALIAN BICARAKAN? JANGAN2 KALIAN MENGATKAN SESUATU YANG BURUK PADA READERS BENAR? #berlari kearah Author, Heechul, Changmin dan Kyuhyun lalu memukul kepala mereka dengan pemukul bisbol yang dibawanya. (ckckck kasihan sekali mereka)
Ryeowook : Mianhae semua sepertinya sedang ada keributan di sini dan Heechul hyung, Changmin, Kyuhyun, dan Author-shi tidak bisa membalas review terakhir. Bagaimana untuk penutupan aku dan Minnie hyung saja. Kajja Minnie hyung! #narik tangan Sungmin
Sungmin : Baiklah Wookie-ah! Untuk Kikyu RKY mian ne kalau bahasa yang digunakan author itu banyak yang tidak dimengerti oleh reader maklum masih amatir sih.
Ryeowook : Hehehe biarpun begitu Minnie hyung dia yang udah bayar kita loh!
Sungmin : Kau benar juga Wookie! Ya sudah lebih baik kita mulai saja ceritanya!
Ryeowook & Sungmin : Selamat membaca semua!
Title : Ειδική Ικανότητα [Eidikí̱ Ikanóti̱ta]
Genre : Sci-fi, Adventure, Friendship, Mystery
Length : Chapeterd
Point of View : Author
Disclaimer : All Canon in my fic are belong to themeselves (not my mine).
Inspirational Thing : My Favorite Story "The Price Must Be Mine" but the story is totally different!
Chapter 6
Di Sebuah Ruangan Mewah dan Clasic
"Jadi kau sudah mengetahui apa yang 'dia' lakukan beberapa hari ini?" tanya seorang namja bertubuh kekar yang sedang duduk disebuah sofa sambil memegah gelas berisikan cairan wine kepada seorang namja dengan stelan jas hitam rapi yang sedang berdiri dihadapannya itu.
"Sudah tuan muda! Beberapa hari ini tuan muda Jung Soo hanya berkumpul dengan beberapa orang temannya. Tapi ada yang berbeda tuan muda." Kata namja itu sambil membaca sebuah kertas yang ada ditangannya.
"Apa itu?" tanya orang yang dipanggil tuan muda itu.
"Beberapa hari ini tuan muda berkumpul bersama beberapa murid baru, belum lagi mereka bukanlah sekedar murid biasa karena mereka sangat pintar dan sudah mengambil hati dari beberapa guru di sekolah." Jawabnya.
"Hmm…aneh, kenapa 'dia' bisa sedekat itu dengan mereka?" gumam namja itu. "Lalu bagaimana dengan Yunho dan yang lainnya?" lanjutnya.
"Ah sepertinya mereka juga ikut bergabung bersama tuan muda." Katanya. "Apalagi setiap jam istirahat mereka pasti berkumpul bersama." Lanjutnya.
"Baiklah! Kau terus awasi dia dan jangan sampai lewatkan informasi sekecil apapun!" serunya pada namja itu.
"Baik tuan!"
"Kalau begitu kau boleh pergi!" perintahnya.
Setelah itu namja berstelan jas itu berjalan menuju pintu keluar ruangan sebelumnya membungkuk untuk memberikan hormat pada tuan mudanya itu. Setelah namja tersebut keluar beberapa menit selanjutnya masuklah seorang namja tampan berwajah luar negeri kedalam ruangan tersebut.
Wajahnya yang tampan juga mengerikan disaat yang sama karena seringai yang tampak mematikan yang diperlihatkan namja tersebut. Rambutnya yang berwana coklat gelap memberi kesan seksi, wajahnya yang putih bersih, hidung yang mancung, benar-benar namja idaman yang sangat sempurna. Oh jangan lupakan tubuhnya yang sedikit berotot itu.
"Jadi apa yang membawamu kemari huh? Bukankah kau seharusnya masih di California atau Thailand?" tanya namja yang masih duduk di sofa itu.
"Ck! Dasar kau! Tetap saja tidak berubah! Selalu sinis pada siapa saja, termasuk diriku!" balas namja tampan dengan rambut coklat tua itu.
"Haahh…sudah katakan saja urusanmu padaku sekarang! Jangan membuang waktu dengan berbasa-basi begitu! Kau tahu aku tidak suka berbasa-basi!" kata namja itu sambil meneguk wine nya.
"Baiklah-baiklah tuan muda Ok Taecyeon yang tidak sabaran!" kata namja itu dengan penuh penekanan. "Ku dengar dia kembali. Dan kau juga memintanya untuk berada disisi mu lagi bukan?" lanjutnya dengan tatapan serius sekarang.
"Hem! Wae?" kata namja yang dipanggil Ok Taecyeon itu singkat.
"Bagaimana hasilnya?" tanya namja itu balik, tapi sebelum Taecyeon menjawab ia memotongnya. "Biar ku tebak, tidak berhasil bukan?"
Dan Taecyeon hanya diam karena perkataan namja yang duduk di depannya itu.
"Aku anggap diamnya dirimu itu berarti 'ya'." Katanya sambil mengambil botol wine dan menuangkan isinya kedalam gelas. "Oh dan pasti kau sedang menyuruh anak buahmu untuk mengawasinya di sekolah maupun diluar bukan?" lanjutnya.
Sementara Taecyeon hanya diam sambil meminum wine nya dan sekilas melirik namja yang ada didepannya dari sudut matanya.
"Lalu apa urusanmu?" katanya sambil tetap memandang namja yang ada didepannya yang telah memainkan cairan wine yang ada digelasnya.
"Aku hanya ingin bilang bahwa 'dia' bukan lagi sosok polos seperti waktu itu." Katanya dingin. "Kau juga menyadari potensinya itu bukan. Bahkan saat yang mulia ingin menghabisinya kau malah berkata bahwa 'dia' masih dapat dipergunakan sebagai pion pentingmu bukan?" lanjutnya. Sementara Taecyeon hanya mendengarkan tanpa berniat memotong.
"Dia bahkan sampai berhubungan dengan si mata musang itu dan juga si jidat lebar!" katanya jengkel. "Oh jangan lupakan namja tinggi yang punya senyum sinis dan si lumba-lumba itu. Apa lagi si Hero menyebalkan itu!" lan"utnya dengan ekspresi mengejek.
"Lalu apa masalahnya?" tanya Taecyeon dengan wajah malas.
"Dia berhubungan dengan Velnias!" katanya singkat.
"Mwo?" kaget Taecyeon. "Kau bercanda kan?" lanjutnya.
"Ani! Aku tidak bercanda!" katanya. "Bahkan dia juga berhubungan dengan Aiden dan Jeremy." Tambahnya cepat.
"Mwo? Aiden dan Jeremy? Kau pasti bercanda!" kata Taecyeon mengejek.
"Ani! I don't have interest to lie you!" katanya sambil meminum wine nya.
"But how can that be?" gumamnya yang hanya ditanggapi namja itu dengan mengangkat bahu. "Itu pasti tidak benar! Jung Soo bukan tipe orang yang bisa bekerja sama dengan mereka berdua! Apa lagi Velnias adalah saingannya dalam bidan Hacker." Lanjutnya.
"Molla!" gumam namja itu tak peduli. "Baiklah karena aku sudah menyampaikan informasi yang kau perlukan lebih baik aku pergi. Aku harus kembali ke California untuk melakukan sesuatu." Lanjutnya sambil berdiri.
"Oh ya 'orang yang menghilang empat tahun lalu' telah kembali." Katanya sebelum menyampai pintu. "Dia ada padaku, kau hubungi aku jika terjadi sesuatu." Lanjutnya. "Dan Ingat Ok Taecyeon! Jangan melakukan sesuatu yang tidak perlu apalagi tanpa berunding dulu denganku!" katanya sambil menatap Taecyeon tajam sebelum pergi meninggalkan ruangan itu dan menyisakan Taeyeon yang masih diam menatap gelas wine nya datar.
0o0o0o0o0o0
FLASBACK!
Hari itu ditengah hujan badai yang lebat seorang remaja berumur sekitar 11-12 tahun tengah berlari menghindari beberapa sosok namja yang sedang mengejarnya. Namja tersebut mengenakan stelan jas berwarna hitam dengan membawa berbagai macam senjata ditangan mereka masing-masing, entah itu pistol, pisau, bahkan senapan sekaligus.
Namja remaja tersebut terus berlari tidak mengenal lelah biarpun tubuhnya telah terdapat banyaknya luka goresan akibat macam-macam senjata yang dipegang oleh beberapa sosok yang kini telah mengejarnya. Tidak diperdulikannya guyuran air hujan yang sangat dingin dan terasa sakit dikulitnya yang telah pucat itu. Ia tidak peduli dan terus berlari menembus badai hujan itu dan menuju kesuatu tempat untuk bertemu dengan seseorang, ani lebih tepatnya dua orang yang sangat ia cintai dan ia jaga, ya mereka berdua adalah sang eomma dan dongasengnya.
Entah apa yang terjadi tadi beberapa jam yang lalu, dan masih diingatnya kenangan itu. Kenangan yang bermula saat ia baru pulang dari sekolahnya untuk menerima nilai ujiannya ia mendapati rumahnya atau lebih tepat disebut istana dalam keadaan kosong. Bahkan ia tidak menemukan sosok eomma dan dongsaengnya didalam sana. Bahkan yang lebih membuatnya terkejut lagi adalah banyaknya tubuh tak bernyawa yang tergeletak di sepanjang lorong menuju kamar kedua orang tuanya.
Ya istana, namja remaja tersebut adalah seorang pangeran lebih tepatnya putra mahkota dari Negara Korea Selatan ini. Tapi entah kenapa hanya dalam satu malam saja semua telah berbalik dan membuatnya harus kehilangan segalanya. Ya kebencian, kedengkian, dan iri sang paman adik dari ayahnyalah yang membuat dirinya, dongsaeng, eomma, beserta rakyat Korea Selatan telah kehilangan sosok seorang ayah, suami, dan raja yang sangat mereka cintai itu.
Tidak tahu harus melakukan apa akhirnya namja remaja itu segera berlari keluar istana dan mencari sosok eomma dan dongsaengnya, tetapi baru beberapa langkah seseorang memukulnya dan membuat tubuhnya ambruk dan kehilangan kesadaran.
"Cepat bawa dia pada Yang Mulia! Dan jangan sampai kalian terlihat oleh orang lain! Bila ada yang melihat segera habisi!" perintah seorang namja paruh baya pada anak buahnya.
"Mengerti tuan!" kata anak buahnya serempak.
0o00o0o0
Perlahan-lahan kedua iris mata seorang namja remaja yang kini telah diikat disebuah kursi itu perlahan terbuka, menampilkan iris mata yang penuh dengan kekosongan dan juga kesedihan. Kepalanya sedikit pusing dan ia masih memfokuskna pengelihatannya pada ruangan sekitar. Matanya membulat saat ia baru saja tersadar mengingat apa yang baru saja terlihat beberapa saat lalu saat ia memasuki istana. Tubuh-tubuh tak bernyawa dimana-mana, darah juga berceceran sampai mengotorin dinding dan lantai istana.
"Hoh! Jadi kau sudah bangun bocah?" kata seorang namja yang berumur sekitar 30-40 tahun namun wajahnya masih saja tampan.
"A-ajushi sedang apa disini? Ma-mana eomma, Henry, dan ma-mana appa?" katanya setelah menyadari menyadari siapa namja yang sedang berdiri dihadapannya itu masih belum menyadari bahwa dirinya sedang terikat disebuah kursi.
"Appamu sekarang sudah MATI! Eomma dan dongsaengmu bahkan juga dirimu akan menyusulnya sesegera mungkin. Kau tenang saja dan tunggu saatnya tiba!" kata namja itu dengan senyum licik dan mengejek.
"MWO? ANDWAE! Appa tidak mungkin meninggal! Ajushi jangan bercanda dan cepat katakana dimana eomma dan Henry berada!" katanya sambil berteriak air mata sudah membasahi pipinya yang lembam, mungkin karena dipukuli.
"Ck! Dasar keras kepala! Aku tidak akan memberi tahu dimana eomma dan dongsaengmu itu!" kata namja itu lagi sambil berbalik pergi.
"Ajushi jebal tolong biarkan eomma dan Henry pergi! Lepaskan mereka! Sebagai gantinya Ajushi boleh melakukan apapun terhadapku! Ajushi, jebal ajushi! Jung Soo mohon ajushi bebaskan eomma dan Henry!" katanya sambil menangis.
Tapi namja yang ternyata pamannya tersebut tidak memperdulikan dan beranjak meninggalkan ruangan tersebut. Diluar sudah menunggu anak buahnya yang siap menerima perintah apa saja dari atasannya tersebut.
"Jaga anak itu jangan sampai dia kabur! Dan sekertari Nam hubungi media masa sepertinya sebentar lagi ada berita tentang pembantai keluarga kerajaan! Jelaskan semuanya dan katakan bahwa raja, permaisuri, dan kedua anaknya meninggal dalam insiden itu dan segera kabarkan tentang pengangkatanku sebagai raja Korea Selatan yang baru!" katanya sambil menatap anak buahnya satu persatu.
"Baik Yang Mulia!" kata mereka serempak.
0o0o0o0o0
"Appa! Apa yang apa lakukan pada Jung Soo hyung? Kasihan dia appa, aku mohon bebaskan dia! Aku yakin jika kita bisa membebaskan Ahjuma dan Henry-ah dia bisa kita manfaatkan! Dia juga tidak bisa lari dan pasti merasa hutang budi pada kita karena telah melepaskan eomma dan dongsengnya! Aku mohon appa!" kata seorang namja kecil yang lucu berpakaian rapi dengan stelan jas hitam dan sedikit corak emas pada leher dan tangannya.
"Kenapa kau jadi peduli pada mereka Ok Taecyeon? Kau tahu mereka lah yang membuat keluarga kita sengsara! Kita ini keluarga kerajaan tapi kita malah dianggap sampah oleh orang-orang dan mereka! Mereka malah nyaman dan hidum damai dengan segala kemewahan istana!" kata namja paruh baya yang berdiri dihadapan bocah kecil itu.
"Tapi aku mohon appa! Jangan libatkan Ahjuma dan Henry! Appa bisa memanfaatkan mereka untuk membuat Jung Soo hyung berkeja sama dengan kita!" kata namja kecil itu.
"Apa maksudmu nak?" tanya namja tersebut.
"Ya kita bisa memanfaatkan Jung Soo hyung! Apa appa tidak tahu kemampuan Jung Soo hyung diatas anak kecil biasa. Dia bahkan sudah bisa mengetahui berbagai macam program-program komputer. Dan jika kita mendidiknya dia bahkan bisa menjadi asset yang tidak ada tandingannya dan bahkan bisa mengangkat appa menjadi Raja Korea Selatan dengan cepat tanpa harus memikirkan pihak-pihak lain yang bermasalah." Jelas namja kecil itu dengan seringainya.
"Maksudmu kita jadikan dia pion yang berada dibalik layar namun mampu menjatuhkan banyak orang begitu nak?" tanya namja paruh baya itu.
"Benar sekali appa!" jawab namja kecil itu dengan semangat dan sebuah senyuman yang ada diwajahnya.
"Ckckckck! Sejak kapan anak appa jadi sepandai ini eoh?" katanya sambil mengelus rambut namja kecil itu. "Tapi tak akan semudah itu kabur dari appa nak! Jung Soo harus mempunyai ide yang jenius untuk kabur dan lagi dia juga harus mencari keberadaan eomma dan dongsaengnya yang memag tidak bersama kita!" lanjutnya.
"Mwo? Jadi ahjuma dan Henry tidak bersama dengan appa?" tanya namja kecil itu.
"Ani! Mereka tidak bersama appa. Waktu appa ke istana disana hanya ada baginda raja dan para pengawalnya." Katanya sambil tersenyum.
"Lalu dimana ahjuma dan Henry sekarang berada appa?" tanya namja kecil itu lagi.
"Molla!" kata namja paruh baya itu sambil berdiri dan pergi dari ruangan tersebut.
0o0o0o0o0
"Jung Soo-ah, Eomma dan Henry-ah akan pergi menemui Ahjuma dan Ahjushi Ju dulu ya! Nanti setelah pulang sekolah kau menyusul eomma dan Henry-ah bersama appa ne?" kata seorang wanita anggun dan cantik sambil mengelus rambut seorang namja bocah yang sedang memakai sepatu sekolahnya.
"Ne eomma! Aku akan menyusul eomma dan memperlihatkan hasil ujianku yang mendapat nilai sempurna pada eomma!" kata namja bocah itu sambil memandang wajah sang eomma dan tersenyum membuat lesung pipit tampak di pipi kirinya.
0o0o0o0o0
Seorang namja kecil sedang bergerak-gerak gelisah padahal kedua matanya sedang tertutup. Ya sepertinya namja kecil itu sedang mendapatkan mimpi buruk tentang seseuatu yang baru saja dialaminya itu. Tiba-tiba matanya yang tadi terpejam kini terbuka lebar. Nafasnya juga terputus-putus dan peluh membasahi sekujur tubuhnya yang penuh luka itu.
"Eomma…eomma…Henry…me-mereka masih selamat…hhah..hahh…hahh…" katanya terputus-putus.
"A-aku harus kabur dari sini dan membawa eomma dan Henry pergi jauh!" tekadnya lalu ia menelusuri ruangan yang kini menjadi tempat dirinya disekap. Lalu dia melihat sebuah jendela berukuran lumayan besar dan pas dengan ukuran tubuhnya yang memang tidak besar itu. 'Ada jendela yang bisa kugunakan untuk kabur! Tapi sebelumnya aku harus membebaskan diri dari tali ini lalu kabur!' fikirnya dan mulai mencari benda yang dapat digunakan untuk membebaskan dirinya dari tali yang mengikatnya.
Saat dia tengah menyusuri ruangan tersebut ia menemukan sebuah botol beling yang tidak terpakai tak seberapa jauh dari hadapannya. Ia lalu mulai menggerakan kursi yang didudukinya dengan susah payah untuk mencapai botol beling tersebut. Setelah sampai ia memutar kursinya agar tangannya yang tengah terikat dibelakang dapat mencapai botol tersebut. Dia sedikit merendahkan kursinya kesamping kanan dan menjaga kesembingan kursi tersebut dengan kakunya yang tidak terlalu banyak diikat. Setelah mendapatkan apa yang ia inginkan segera dipecahkannya botol tersebut dan mengambil satu buah pecahan kaca dan kembali ke tempat semula sebelum para penjaga diluar mengetahui apa yang ingin dia lakukan.
"Hey ada apa didalam?" terdengar suara teriakan salah satu penjaga yang ada di depan pintu. "Apa yang kau lakukan didalam bocah?" lanjutnya.
"Lebih baik kita masuk dan lihat apa yang terjadi!" kata salah seorang yang membawa sebuah tongkat bisbol.
Kemudian masuklah namja-namja tersebut yang berjumlah kurang lebih lima orang dengan macam-macam senjata yang berbeda ditangan mereka.
"Hey bocah! Apa yang sedang kau lakukan huh? Apa kau berdiat melarikan diri hah?" tanya salah satu dari kelima namja itu.
Namun bocah yang ditanya tidak menjawab apa-apa dan berpura-pura pingsan padahal baru beberapa detik yang lalu dia sedang berusaha mengembalikan dirinya ketempat semula.
"Hey bocah sialan! Cepat jawab atau ku pukul kau!" kata namja itu lagi. Namun bocah tersebut tetap tidak menjawab dan masih berpura-pura pingsan. "Heh masih tak mau menjawab? Sudah tidak usah berpura-pura pingsan dan cepat jawab!" katanya lagi.
Bught!
"Heh jawab bocah!"
Bught! Bught! Bught!
"Cepat jawab! Atau kau mau pisau ini mengores kulitmu yang putih ini, hem?" katanya lagi.
Sreeettt!
"Ck dasar bocah sial! MATI KA-" sebelum namja itu memukulkan tongkat bisbol yang ada ditangannya kearah bocah namja tadi salah satu dari yang lain mengintrupsinya.
"Sudahlah mungkin dia memang pingsan dan suara yang kita dengar tadi hanya halusinasi saja. Ayo cepat kembali! Apa kau mau dibunuh Yang Mulia jika bocah itu sampai mati hah?" katanya sambil mengajak yang lain keluar dari ruangan itu.
"Ck! Baiklah! Kali ini kau selamt bocah!" katanya sebelum menyusul yang lain.
Dan begitu pintu ditutup terdengarlah isak tangis pelan dari namja kecil tadi. "Hiks…hiks…eomma…sa-sakit…eomma…tolong…Jung Soo…eomma…"
Dan begitulah ruangan yang sepi dan gelap itu dipenuhi oleh isak tangis kecil dari seorang namja kecil yang sedang menahan rasa sakit yang mendera kulitnya karena pukulan dan bahkan benda tajam akibat anak buah pamannya yang telah menculiknya itu. Namun setelah sekitar lima belas menit menangis ruangan itu kembali sepi, tidak terdengar lagi isak tangis kecil dari namja kecil yang tengah terikat dikursi yang berada ditengah ruangan itu. Oh ternyata sang namja kecil itu sudah menemukan tekadnya dan sedang berusaha menggoreskan pecahan botol tadi pada tali yang sedang mengikatnya itu.
Setelah selama lima menit berkutat dengan kegiatannya bersama pecahan kaca dan tali yang mengikatnya akhirnya ia menampakan hasil dan dengan beberapa goresan lagi ia akan keluar dari ruangan itu. Tapi belum sampai tali yang mengikatnya terputus pintu yang mengurungnya terbuka dan nampaklah namja paruh baya yang sedang berdiri di depan ruangan itu dengan angkuhnya. Sontak sang namja kecil langsung menghentikan kegiatannya dan menyembunyikan pecahan botol tersebut ditangannya dan menundukan kepalanya tidak berani menatap wajah namja paruh baya yang ada didepannya.
"Hei bocah aku punya kabar baik untukmu. Jika kau berhasil keluar dari sini dan menemukan eomma dan dongsaengmu lalu membawa mereka pergi tanpa aku ketahui maka akan aku ampuni mereka. Namun sebagai gantinya kau yang harus tinggal dan mengikuti semua yang aku perintahkan. Bagaimana apa kau bisa? Setidaknya nyawa eomma dan dongsaengmu itu lebih berharga bukan?" kata namja paruh baya tersebut.
"Be-benarkah itu ajushi?" sontak namja kecil tersebut langsung mendongakkan kepalanya untuk melihat wajah sang paman.
"Ck! Kita lihat saja apa kau bisa melewati penjagaan anak buahku, huh!" katanya lagi sebelum meninggalkan ruangan tersebut.
'Tuhan terima kasih karena kau mengabulkan doa ku! Eomma tunggu Jung Soo, Jung Soo pasti menyelamatkan eomma! Henry-ah tunggu hyung ne!' batin namja kecil tersebut sambil terus mencoba melepaskan ikatan tali yang mengikatnya.
Dan setelah berkutat beberapa menit dengan pecahan kaca dan tali akhirnya ia bisa melepaskan ikatan tali yang sedari tadi mengikatnya. Ia bahkan harus merelakan tangannya yang berdarah karena menggenggam pecahan kaca terlalu lama dan sangat erat.
Tanpa membuang-buang waktu dia segera mendekati jendela yang ada dan mencari-cari barang yang dapat menjadi pijakannya untuk sampai pada jendela tersebut. Mengingat jendela tersebut sangat tinggi dan dia tidak bisa menggapainya. Setelah melihat-lihat ia menemukan beberapa batu dan kayu berbentuk balok yang dapat menjadi pijakannya. Ia menyusun semuanya dengan rapi agar nanti ia tidak terjatuh dan mengakibatkan gagalnya rencana yang sudah ia buat.
Setelah menyusunnya dengan rapi dia mengambil sebuah balok kayu dan mulai menaiki balo-balok tersebut sehingga sekarang dia sudah sampai didepan jendela tersebut. Dilihatnya jendela tersebut, apakah bisa dibukanya dengan cara biasa atau tidak. Setelah dilihat ternyata jalan satu-satunya adalah dengan cara memecahkan jendela tersebut, jadilah ia mengambil balok kayu yang dibawanya lalu bersiap-siap untuk memecahkan jendelah tersebut. Dan…
PRANGK!
Setelah jendela itu pecah tanpa berfikir lagi bocah itu langsung memanjat jendela dan melompat.
BUGHT!
Tubuh namja kecil itu mendarat dengan selamat walau mungkin ada beberapa tulangnya yang sedikit retak mengingat ia jatuh dari tempat yang lumayan tinggi dan mendarat dengan tidak tepat.
Tanpa menghiraukan rasa sakitnya namja kecil it uterus berlari dan mencari jalan keluar sebelum anak buah pamannya mengetahui bahwa ia hilang. Setelah berlari dan mengendap-endap juga berputar-putar selama beberapa menit akhirnya ia menemukan sebuah gerbang yang menjadikan tempatnya disekap dengan sebuah jalanan yang sepi. Tanpa fikir panjang ia segera memanjat gerbang tersebut. Untung saja tidak ada yang menjaganya jadi ia bisa melewati gerbang tersebut. Tetapi saat ia ingin lari…
"Hei kau! Jangan lari!" teriak seseorang yang diketahui adalah anak buah pamannya. Karena tidak ingin tertangkap lagi akhirnya bocah tersebut kembali berlari dan pergi meninggalkan tempat tersebut. "Kalian cepat kemari! Bocah itu melarikan diri!" teriak namja tadi memanggil rekannya yang lain.
0o0o0o0o0o0
Dan disinilah namja kecil kita itu berlari tanpa tujuan. Ia bahkan tidak memperdulikan hujan yang mengguyur tubuhnya terasa sangat dingin dan menyakitkan. Yang ia tahu bahwa ia harus menemui eomma dan dongsaengnya dan membawa mereka berdua pergi sebelum anak buah pamannya menemukan dirinya atau yang lebih parah lagi eomma dan dongsengnya.
Akhirnya setelah berlari selama kurang lebih dua jam dan bersembunyi dari kerjaran anak buah pamannya itu dan berjalan sekitar satu jam namja kecil itu sampai di depan sebuah rumah yang dapat dikatakan jauh dari kata mewah itu. Tanpa fikir panjang ia langsung memasuki rumah pekarangan rumah dan mengetuk-ngetuk pintu rumah tersebut.
"Eomma…eomma…buka…pintunya…eomma…" kata namja tersebut dengan sangat pelan dan berusaha untuk menahan dirinya agar tidak ambruk dan pingsan didepan rumah itu.
Lalu tak berapa lama kemudian dibukalah pintu tersebut oleh seorang namja paruh baya. Namja tersebut terkejut mendapatkan namja kecil itu ada di depan rumahnya apa lagi dengan tubuh yang basah, baju seragam yang robek dengan luka dimana-mana, juga sedikit bercak darah, dan wajah pucat sang namja kecil itu.
"Omo Jung Soo-ah! Kenapa kau bisa seperti ini?" tanya namja paru baya itu yang diketahui bernama Ju Han itu.
"Ajushi mana eomma dan Henry?" kata namja itu dengan sangat pelan sambil memegang kemeja Ju Han dengan sangat erat, bahkan tadi dia sempat terjatuh bila tidak langsung di tangkap oleh tuan Ju itu.
"Ayo kita masuk dulu dan obati lukamu itu. Eomma dan dongsaengmu ada di dalam. Kau harus menceritakan apa yang sebenarnya terjadi. Dan dimana appamu? Kenapa kau tidak bersama dengannya?" katanya sambil membawa tubuh namja kecil itu yang ternyata adalah Jung Soo kedalam rumah.
Sampai diruang tamu seorang yeoja paruh baya terkejut dengan apa yang terjadi dengan Jun Soo.
"Aigoo Jung Soo-ah bagaimana ini bisa terjadi? Kajja duduk dulu! Yeobo cepat kau ambilkan kotak P3K dikamar aku akan buatkan Jung Soo minuman." Kata yeoja tersebut yang diketahui bernama Ju Min Tae , ia adalah istri Ju Han atau Zhou Ling itu. Ya Ju Han adalah nama Korea dari Zhou Ling dia adalah orang cina sementara sang istri Jun Min Tae adalah orang Korea, namanya dulu adalah Kim Min Tae sebelum sekarang menjadi nyonya Ju.
"Omo! Hyung! Apa yang terjadi denganmu? Kenapa kau bisa begini? Gwenchana hyung?" kata seorang namja kecil yang sepertinya berusia tiga tahun lebih muda dari Jun Soo.
"Ne gwenchana Zhoumi, hyung tidak apa-apa. Mana Eomma dan Henry-ah?" tanya Jung Soo.
"Ahjuma dan Henry sedang tidur dikamar hyung. Apa yang terjadi hyung? Mana ajushi?" kata namja kecil itu yang diketahui bernama Zhoumi pada Jung Soo.
"…." Tapi tidak ada jawaban apa-apa dari Jung Soo.
Zhoumi adalah anak dari Ju Han dan Kim Min Tae, nama Koreanya adalah Jun Myuk namun namja kecil itu lebih suka dipanggil Zhoumi dari pada Ju Myuk. Kalian ingin tahu siapa mereka itu? Mereka adalah orang-orang kepercayaan baginda raja dan keluarganya. Namun hanya keluarga inti saja yang tahu seperti Jung Soo, sang adik, Eommanya dan mendiang Halmonie dan Harabojie nya. Selain mereka tidak ada yang tahu keberadaan keluarga Ju, makanya biarpun istana dibantai tidak ada satupun yang tahu kemana permaisuri dan pangeran kecil pergi. Dan Jung Soo sangat bersyukur atas itu.
"Minumlah ini Jung Soo-ah, ahjuma akan mengobali lukamu." Kata nyonya Ju yang datang sambil membawakan susu coklat hangat pada Jung Soo.
"Yeobo ini kotak P3K nya." Lalu tuan Ju datang sambil membawa kotak P3K dan memberikannya pada sang istri.
"Jadi kau bisa mulai bercerita Jung Soo-ah, apa yang sebenarnya terjadi?" kata tuan Ju.
"Ajushi, appa dibunuh." Kata Jung Soo singkat sambil tetap meminum coklat panasnya.
Satu kalimat itu sukses membuat tuan dan nyonya Ju beserta Zhoumi shock! Bagaimana mungkin? Bagaimana mungkin baginda raja bisa dibunuh? Bahkan mereka tidak diberi kabar sama sekali, bagaimana bisa?
"Ma-maksudmu hyung?" tanya Zhoumi dengan terbata-bata.
"Ajushi yang telah membunuh appa." Katan Jung Soo menjawab.
"Mwo aku?" tanya tuan Ju.
"Ani bukan! Adik appa!" katanya lagi.
"Mwo Jae Ok yang membunuh Jae Min?" sekarang nyonya Ju yang bertanya dan disambut anggukan oleh Jung Soo.
"La-lalu kenapa kau bisa luka-luka begini?" tanya tuan Ju lagi.
"Waktu sampai istana aku melihat banyak sekali orang-orang yang tergeletak dilantai, banyak darah dimana-mana. Tapi aku tidak menemukan appa disana, namun aku tahu appa sudah tidak ada mengingat orang-orang itu tergeletak didepan kamar appa dan eomma." Katanya. "Lalu saat ingin mencari eomma dan Henry ada yang memukulku dan aku pingsan. Saat sadar aku ada disebuah ruangan dan terikat dikursi lalu ajushi itu datang dan berkata appa sudah meninggal. Dia juga mengancamku kalau aku, eomma, dan Henry akan menyusul appa. Tapi entah kenapa beberapa jam kemudian dia kembali dan berkata kalau aku bisa melarikan diri dari sini dan membawa eomma dan Henry pergi dia akan melepaskan eomma dan Henry tapi sebagai gantinya aku harus mengikuti apa yang diperintahkan olehnya." Lanjut Jung Soo dengan datar dan sama sekali tidak menangis. Bahkan nyonya Jud an Zhoumi yang mendengarkan saja sudah mulai menangis.
"Jadi kau berusaha kabur dari tempat itu dan kemari?" tanya tuan Ju.
"Ne ajushi!" jawab Jung Soo singkat.
"Brengsek! Awas kau Jae Ok! Dasar Penghianat!" kata tuan Ju marah sambil mengepalkan tangannya menahan amarah.
"Jung Soo-ah untung kau selamat nak, hiks…ahjuma sangat senang kau selamat…hiks…" kata nyonya Ju sambil memeluk Jung Soo erat sementara Zhoumi tidak berkata apa-apa dan langsung memeluk hyungnya itu.
"Ajushi, ahjuma, Zhoumi, aku punya permintaan!" kata Jung Soo pelan sambil masih menatap ruangan itu datar.
"Ne katakana Jung Soo-ah, ahjuma pasti akan mengambulkannya untukmu." Kata nyonya Ju yang masih menangis.
"Apa itu Jung Soo?" tanya tuan Ju.
"Bawa eomma dan Henry pergi dari Korea. Kalian bisa pergi ke Canada dan menemui Halmonie dan Haraboji Lee yang ada disana. Tinggalah disana dan jaga eomma juga Henry. Jangan pernah biarkan mereka menginjakan kaki di Korea lagi." Kata Jung Soo datar sambil menatap tuan Ju.
"Ta-tapi bagaimana denganmu Jung Soo-ah?" tanya tuan Ju.
"Yang terpenting adalah eomma dan Henry. Kalian juga adalah satu-satunya yang aku percaya. Aku mohon ajushi, ahjuma tolong kabulkan permintaanku ini." Kata Jung Soo sambil melepaskan pelukan nyonya Jud an Zhoumi.
"Aniyo hyung kau juga akan ikut bersama kami ke Canada." Kata Zhoumi.
"Ani, aku akan disini. Jika aku ikut eomma dan Henry pasti tidak akan aman. Biarlah aku mengikuti kemauwan ajushi itu nanti setelah aku sudah cukup kuat aku pasti akan menyusul kesana." Katanya sambil tersenyum. Senyum tulus yang diberikan Jung Soo untuk keluarga Ju, senyum yang penuh dengan keyakinan.
"Baiklah, sekarang juga ajushi akan pesan tiket dan yeobo kau siapkan keperluan kita ke Canada. Kau juga tidak usah memberithu yang mulia dulu. Nanti setelah sampai di Canada baru kau sampaikan yang sebenarnya terjadi. Besok pagi-pagi sekali kita berangkat kesana." Kata tuan Ju dengan penuh keyakinan.
Akhirnya setelah mengepak semua barang-barang yang diperlukan mereka beristirahat untuk perjalanan besok. Ya mungkin memang ini lah jalan yang dipilih oleh tuhan untuk mereka. Semoga mereka bisa bertahan dan melewati semua cobaan dengan sabar.
Keesokan harinya pagi-pagi sekali mereka sudah ada di Bandara Internasional Incheon. Mereka berangkat dengan pesawat pertama menuju Canada. Tuan Ju juga Nyonya Ju harus berbohong pada yang mulia permaisuri tentang baginda raja dan sang putra mahkota yang tidak ikut ke Canada.
Walaupun menyakitkan tapi semua sudah Jung Soo putuskan. Bahwa ia akan melindungi eomma dan dongsaengnya sampai kapan pun walau harus mempertaruhkan nyawa nya.
"Jung Soo-ah ayo ikut dengan eomma dan Henry, kita ke Canada sama-sama ne?" kata sang eomma setelah beberapa kalinya membujuk.
"Aniyo eomma, Jung Soo mau menemani appa disini. Lagi pula kasihan kan appa bila tidak ditemani. Sudah eomma pergi saja, aku akan baik-baik saja disini. Eomma lah yang seharusnya menjaga kesehatan eomma." Kata Jung Soo berusaha menenangkan eommanya sambil memasang senyum tulus. Padahal didalam hatinya ia selalu berkata 'Kau kuat Jung Soo! Jangan menangis! Kau harus membuat eomma dan Henry pergi dari Korea! Itu adalah salah satu cara agar ajushi itu tidak membunuh eomma dan Henry!', ia berkata seperti itu pun sambil menahan tangis yang sebentar lagi akan keluar jika mengingat dirinya tidak akan bertemu dengan eomma dan dongsaengnya lagi untuk waktu yang lama bahkan mungkin selamanya.
"Hyung, cenapa hyung tidak icut dengan Henly? Henly mau hyung icut, Henly tidak mau ditinggal hyung!" kata seorang bocah berusia enam tahun pada Jung Soo sambil memeluk pinggangnya.
"Henry-ah dengarkan hyung ne! Selama hyung tidak ada kau harus berjanji untuk menjaga eomma dan juga dirimu sendiri ne. Jangan lupa makan dan selalu jaga kesehatan. Hyung sangat sayang sama Henry dan eomma jadi Henry mau berjanji pada hyung kan?" kata Jung Soo sambil mensejajarkan tingginya dengan bocah tadi yang bernama Henry.
"Ne hyung Henly janji!" katanya.
"Mana kelingkingnya? Sini kita janji jari kelingking dulu ne?" kata Jug Soo sambil mengkaitkan jari kelingkingnya dengan Henry.
"Janji ne?" tanyanya lagi.
"Janji!" jawab Henry sambil tersenyum.
"Pesawat penerbangan pertama menuju Canada akan segera berangkat. Harap penumpang yang mempunyai tiket silahkan masuk kedalam pesawat karena pesawat sebentar lagi akan lepas landas!"
"Nah pesawatnya sudah mau berangkat! Kajja kita ke eomma!" kata Jung Soo sambil menggandeng tangan Henry menuju eommanya.
"Ayo pesawat sudah mau berangkat, kita harus segera masuk jika tidak mau ketinggalan!" kata tuan Ju.
"Bye chagy! Jang lupa kirim e-mail buat eomma ne? Eomma pasti akan sangat merindukanmu." Kata sang eomma.
'Naega juga eomma. Aku akan selalu merindukan kalian berdua!' batin Jung Soo.
"Dadah hyung! Henly pelgi dulu ne, aku cayang hyung!" kata Henry sambil melambaikan tangannya kearah Jung Soo.
'Eomma, Henry-ah, Selamat Tinggal ne! Semoga kalian sehat-sehat selalu! Aku pasti akan sangat merindukan kalian.' Batin Jung Soo
Setelah mereka semua tidak terlihat lagi dari hadapan, Jung Soo segera berbalik dan berfikir untuk meninggalkan bandara. Namun baru beberapa langkah ada sebuah suara yang tidak asing mengintrupsinya.
"Jadi kau memutuskan untuk tinggal dan tidak pergi bersama eomma dan dongsengmu hum keponakanku tersayang?"
"Ne kau benar sekali ajushi!" kata Jung Soo datar dan sama sekali tidak terkejut dengan kehadiran orang itu.
"Hahaha jadi kau sudah tidak takut padaku hum Jung Soo-ah?" tanyanya lagi namun Jung Soo hanya diam tidak menjawab.
"Baiklah mulai sekarang kau harus mnuruti apa perkataanku dan jangan melawan jika kau melawan eomma dan dongsaengmu akan celaka." Katanya. "Sekarang cepat ikut aku! Ada banyak hal yang perlu kau lakukan!" kata namja itu lagi.
"Ne ajushi!" kata Jung Soo sambil mengikuti kemana namja itu pergi sampai menaiki sebuah lemousin hitam.
FLASBACK END!
::-::
Dan sejak saat itulah seorang namja berusia 12 tahun telah berubah dari yang seorang periang dan murah senyum, baik hati, dan terbuka menjadi namja yang dingin, angkuh, dan tidak punya perasaan. Ya sampai dia bertemu dengan Yunho dan Jaejoong. Dua orang yang telah memahami penderitaanya, menolongnya, dan juga mengembalikan dirinya menjadi seperti dulu.
Ia bahkan tidak akan lupa bagaimana pertemuan pertamanya dengan kedua orang namja yang telah menyelamatkannya, membebaskannya dari jurang kegelapan, menjadikan diri mereka lampu penerang untuk hatinya yang gelam, menjadi api penghangat untuk dirinya yang dingin, ya mereka berdua.
TO BE CONTINUED :D
