Kahika Café
Kamichama Karin © Koge Donbo
Kahika Café ©Hanazawa Maryam
Rate: T
Warning: OOC, Typo menyebar disana sini, gak menarik, gaje, de el el lah
Chapter 4

Lembaran baru telah dimulai. Aku bangun pagi-pagi sekali hari ini. Aku menyiapkan semua peralatan sekolah ku, dan kemudian mandi. Semuanya telah siap, dengan begini, aku tidak akan terburu-buru pergi ke sekolah, apalagi pekerjaan baruku adalah menjadi pelayan si Kazune bodoh itu. Andai saja orang tuaku masih hidup, aku tak akan hidup seperti ini dan tak kan mungkin bisa menjadi seorang pelayan. Tetapi, menurutku, aku cukup beruntung. Bagaimana tidak, jam kerja yang terbilang sedikit, tetapi dengan upah yang besar.

Dengan berat kulangkahkan kakiku menuju kakiku ke suatu tempat yang paling malas untuk kudatangi, kamar Kazune.
Aku mengetuk pintunya, tidak ada jawaban. Oh iya, ternyata aku juga kunci kamarnya. Ku buka pintunya, kudapati ia masih tertidur pulas. Dasar pemalas, pikirku. Ternyata, jika tidur, wajahnya persis seperti manusia tak berdosa, beda sekali ketika bangun, mirip setan, eh salah, mirip iblis.

"Kazune, bangun!" aku mengguncang-guncangkan badannya. Tidak bangun juga. Ku guncang-guncangkan sekali lagi, namun hasilnya tetap sama.
"KAZUNE, BANGUN!" aku mulai berteriak padanya. Tidak bangun juga. Aku jadi mulai frustasi. Mungkin dia sudah mati, pikirku. Kucoba merasakan denyut nadinya di leher.
"Kau ini, sebenarnya mau membangunkanku, atau mau menyentuhku?" Kazune tiba-tiba terbangun. Sungguh, dia membuatku terkejut. Dilihat dari wajahnya, sepertinya dia sudah bangun daritadi tadi.

"Kazune, kau daritadi sudah bangun, kan?"
"Kau ini, sok tau sekali. Ya sudah, aku mau mandi, siapkan perlengkapanku!"
"Iya"
Kubuka lemarinya, wah, aku terkesima. Pakaiannya banyak sekali. Ku teliti satu persatu-satu, ah ini dia yang kucari. Ku letakkan pakaiannya di atas kasurnya.

Kazune POV

Akhirnya, aku selesai juga. Ku buka pintu kamar mandi dengan hanya memakai handuk.

"Hwaaaa!" Karin menjerit sambil langsung menutup kedua matanya melihat penampilanku. Aku menjadi sedikit heran.

"Kenapa?" Tanyaku dengan entengnya.

"Kau ini bodoh atau bagaimana sih sebenarnya? Kau ini tak tahu malu! Cepat ganti pakaianmu!" Karin langsung berlari keluar kamarku.

Ku lihat diriku dicermin dengan hanya balutan handuk di pinggang. Sekarang aku sadar, dia kan perempuan, pantas saja seperti itu.

Normal POV

"Karin, ayo duduk"
"Ta...tapi Himeka, apa boleh? Aku kan sekarang seorang pelayan"
"Tidak apa-apa Karin, kau kan teman kami" Himeka memberi senyuman kepada Karin yang sedari tadi berdiri di sampingnya.
"Terimakasih ya"
Ya, tidak apa-apa"
"Itadakimasu!" jawab mereka bertiga serentakSelesai makan mereka langsung pergi ke sekolah. Seperti biasa, dengan berjalan kaki. Karin merasa sedikit lega, setidaknya ia bukanlah seorang pelayan jika tiba disekolah.
"Karin, tentang kelas A+ itu, sebaiknya kau belajar dulu sebelum tes. Mungkin seminggu belajar. Jika kau gagal 1 kali saja, kau tak kan pernah bisa masuk kesana dalam satu semester ini"
"Aku ini tidak pintar dalam bidang pelajaran. Sudahlah, tidak masuk kelas itu juga tidak apa-apa" Karin mulai mengelak. Ia sangat malas untuk belajar. Kelas A+ adalah kelas untuk siswa kaya dan pintar, mustahil baginya untuk masuk kesana.
"Jadi, kau takut?"
"Tidak. Hanya saja aku ini kurang pintar. Lagian tidak ada yang mau mengajariku, bagaimana mau belajar"
"Aku yang akan mengajarimu"
"Benarkah?" Mata Karin terbelalak mendengar ucapan Kazune.
"Memangnya wajahku ini menunjukkan bercanda?"
"Ya tidak" ucapnya lirih.
"Mulai hari ini sampai minggu depan, hentikan segala acara-acara ataupun kesibukanmu, termasuk menjadi pelayanku, dan menjadi pelayan di Cafeku"
"Benarkah? Terimakasih ya"
"Benarkan Karin, Kazune itu sebenarnya memang baik" Himeka lalu menggandeng tangan Kazune, dan meletakkan kepalanya di pundak Kazune, sambil berjalan.
"Hey, Kazune!" Seorang lelaki sedang terengah-engah mengejar Kazune. Kazune menoleh mendengar suara itu.
"Hoy, Michi!"
"Akhirnya, kau mendengarku juga" Nafasnya masih tersengal-sengal.
"Wah, siapa dia Kazune? Pacarmu?" Tanya Michi yang sangat penasaran tentang Karin.
"Bukan-bukan. Dia bukan pacarku, dan takkan mungkin jadi pacarku. Dia anak kelas X-1. Dia juga orang baru dirumahku"
"Wah, cantiknya. Kenalkan, namaku Michiru Nishikiori. Panggil saja Michi. Nah, cantik, namamu siapa?" Michiru mengulurkan tangannya kepada Karin.
"Cantik? Kau tidak salah dengan kata-katamu Michi?" sambung Kazune.
"Diam kau mesum!" sahut Karin pada Kazune.
"Namaku Karin Hanazono, panggil saja Karin" Karin tersenyum sambil menjabat tangan Michi."Wah, kalau begini, aku jadi ingin sering-sering main kerumah Kazune"
"Tidak bisa, kau harus jaga Cafeku tersayang, Michi"
"Ca-cafe? Maksudmu Kahika Cafe itu?" Karin menjadi sedikit bingung dengan ucapan Kazune tadi.
"Oh iya, kenalkan, ini dia Assistenku" jawab Kazune sambil menepuk-nepuk pundak Michi.
"Sudahlah, ayo cepat! Gerbangnya sudah mau ditutup. Lari!" Mereka bertiga kemudian berlari sekencang mungkin agar tidak terlambat.
"Ahh" Karin meringis kesakitan. Ia tersandung batu saat tengah berlari tadi.
"Karin! Cepat!" Kazune akhirnya berlari menghampiri Karin.
"Himeka, Michiru, kalian duluan saja. Karin, ayo! Kazune akhirnya menggendong Karin dengan ala bridal style. Ia berlari secepat mungkin. Sedikit lagi gerbangnya tertutup.
"Kazune, cepat! Tinggal sedkit lagi" Karin berteriak-teriak histeris melihat pintu gerbang yang sedikit lagi tertutup. Sedangkan Kazune sedang kesal mendengar teriakan-teriakan histerisnya itu.
"Akhirnya, sampai juga. Syukurlah tidak terlambat"
"Kau ini, dari tadi tadi berisik sekali! Makanya, jalan itu hati-hati! Kalau aku terlambat bagaimana? Image ku sebagai murid teladan bisa hancur. Lalu bagaimana juga kalau kau terlambat? Kau bisa dihukum!" Kazune terus menerus marah-marah, Karin menjadi sweatdrop melihat tingkah Kazune yang begitu cerewet.
"KAZUNEEEEEEEE" Seketika kemudian para fans Kazune datang menghampiri. Mereka memberikan death glarenya kepada Karin, namun Karin dengan santainya menatap kembali mata mereka dan kemudian pergi dengan kaki yang terbata-bata.
"Karin! Tunggu!"
"Apa?" Karin menoleh ke belakang, kearah Kazune.
"Ayo ke uks!"
"Untuk apa?"
"Dasar bodoh. Ya untuk mengobati kakimu lah"
"Oh. Tumben kau baik"
"Aku ini memang baik, kau saja yang tidak tahu"
"Baik apanya, kayak set- ah iblis iya, eh upss" Karin keceplosan
"Apa kau bilang? Aku seperti iblis? Dasar nenek sihir!"
"Dasar pak tua!"
"Dasar siput!"
"Dasar keong!"
"Dasar keong racun!"
"Dasar kelinci!" Kazune terdiam mendengar kata-kata Karin yang mengatainya kelinci. Baginya kelinci adalah hewan yang lebih mitip ke cewek-cewekan, dan itu mengingatkannya kepada orang-orang yang sering mengatainya cowok cantik dengan simbol kelinci.
"Kau ini! Sudahlah, ayo cepat pergi ke uks. Sini, naik ke punggungku! Akan kugendong biar cepat"
"Tidak usah!"
"Ayo cepat naik!"
"Tidak usah!"
"Ayo naik!"
"I...iya" Karin kemudian menyerah, ia memilih digendong oleh Kazune. Sementara itu, para fans Kazune hanya terbengong melihat tingkah mereka berdua.

***

Istirahat akhirnya tiba. Karin lebih memilih menghabiskan waktunya ditaman belakang, daripada menghabiskan uangnya untuk pergi kekantin. Hari ini ia cukup gembira, karena barusan ia mendapat nilai bagus pada bidang studi Biologi, jarang-jarang ia dapat nilai bagus.
Langkahnya terhenti ketika melihat sesosok lelaki yang dikenalnya itu.
"Itu senior Kirika kan? Sedang bersama siapa dia? Sepertinya dia senang sekali. Gadis itu juga cantik. Mungkinkah dia pacarnya?" ungkapnya lirih. Raut wajah Karin berubah seketika, dari cerah menjadi mendung. Karin kemudian menghampiriya dengan memasang senyum lebar, ya, senyum palsu.
"Hai, senior Kirika"
"Oh, hai Karin"
"Dia siapa kak?" Tanya karin sambil menunjukkan wajah bingung.
"Oh iya, namanya Ami. Maaf ya, aku belum memperkenalkannya. Dia pacar baruku"
"Salam kenal ya, namaku Ami"
"Salam kenal juga, namaku Hanazono Karin" jawabnya sambil menggaruk-garukkan kepalanya yang tidak gatal itu.
"kami duluan ya Karin, kami mau ke perpustakaan dulu"
"I...iya. sampai ketemu lagi"

Karin berjalan gontai. Sungguh ia tak tau harus bagaimana lagi. Hatinya hancur berkeping-keping. Rasanya ingin menangis, tetapi tak mungkin ia menangis di tempat seperti ini. Senior Kirika yang telah disukainya sejak SMP itu ternyata telah memiliki pacar baru.

Karin POV

Ku harap ini adalah mimpi yang tak kan pernah menjadi nyata, namun tidak bisa, ini nyata. Melihatnya bersama gadis itu sungguh menyakitkan. Aku belum pernah merasakan ini sebelumnya. Rasanya aku ingin mati saja. Dia cinta pertamaku, orang yang mengajarkanku untuk selalu tersenyum dan terus bersemangat. Aku menyukainya sejak SMP. Segalanya telah kukorbankan padanya. Bahkan aku pernah berpura-pura sakit agar dia menggendongku sampai rumah, meneliti semua kegiatannya, masuk ke club yang sama dengannya meskipun aku tidak suka, mencoba menyukai hobinya, apa itu juga belum cukup? Apa belum cukup juga segala pengorbananku? Rasanya aku ingin mati saja. Hidup ini memang tidak adil!

Akhirnya pulang juga. Rasanya hari ini aku mau sendiri saja. Seperti biasa, jika sedih aku lebih memilih pergi ke taman di dekat kolam, dekat rumahku dulu. Rasanya jika kesana perasaanku semakin baik.

Normal POV

Karin termenung sendirian di tepi kolam. Hatinya kesal sekali dengan kejadian tadi siang. Rasanya ingin sekali terjun dari ketinggian 100000 kaki. Ia lalu membuka bukunya, mengambil pena, dan mencorat-coret selembar kertas sebagai pelampiasan kekesalannya, lalu membuangnya dengan sembarangan ke arah belakang tubuhnya.

Plukk!

"Awwh" Lemparan Karin tepat mengenai mata pemuda itu.

"Hey, kau yang duduk di dekat kolam!"

Karin dengan ragu memutar kepalanya, ia yakin pastilah kertasnya tadi mengenai seseorang. Tanpa berpikir panjang, Karin langsung membungkukkan badannya terus menerus sambil mengucapkan kata maaf berulang kali. Gerakannya kemudian terhenti ketika ia mulai mengamati pemuda itu.

"Kau kan..."

TBC

Gomen kalau ga seru. Salah satu kelemahan maryam itu adalah kurang bisa menggambarkan apa yang Maryam bayangkan dengan kata-kata T^T

Terimakasih yang sudah me review chapter-chapter sebelumnya. Maryam selalu senang ketika membacanya. Review itu seperti apresiasi bagi sebuah fict. Tapi bagi Maryam, hal itu tidak terlalu penting. Yang paling penting adalah Maryam bisa mengekspresikan apa yang ada di benak Maryam, itu aja ah.

Maryam hanya cuman ingin banyak yang baca, itu aja ._.v

Tapi, kalau ada yang mau me review, silahkan saja, Maryam makin senang loh XD

Flame maryam terima dengan lapang payud- eh lapang dada XD

ripiew ripiew ripiew XDDDDDD