Kahika Café
Kamichama Karin©Koge Donbo
Kahika Café ©Hanazawa Maryam
Rated : T
WARNING: Typo, alurnya berantakan, OOC, De EL EL
"Kau kan..."
"Apa?" Pemuda itu semaki dekat dengan Karin.
"Oh aku ingat sekarang, kau orang aneh yang menabrakku tempo hari"
"Apa? Kau bilang aku apa? Aneh?"
"Tentu saja, lihat pakaianmu itu!"
"Hey, dengar ya, ini cuman penyamaran"
"Memangnya wajah aslimu itu bagaimana?"
"Enak saja, itu rahasia" Pemuda itu meninggalkan Karin, meninggalkan seribu tanda tanya dibenak Karin.
Dasar orang aneh, pikir Karin.
"Himeka, kau liat Karin tidak?" tanya Kazune sambil kepalanya melenggak-lenggok ke kanan dan kiri mencari Karin yang belum menampakkan batang hidungnya sejak siang tadi.
"Tidak. Bahkan kami tadi tidak pulang bersama. Padahal sudah hampir malam begini, Karin belum juga pulang." jelas Himeka sambil mengelus-elus kepala belalang kesayangannya itu yang berada di halaman belakang rumah. Setiap kali Kazune melihat serangga-serangga itu, rasanya ia ingin lari secepat mungkin menjauhinya. Tapi, kali ini, dia sedang menahannya.
"Dasar, si nenek sihir itu! Pergi tidak bilang-bilang. Membuat khawatir saja"
"Kazune, kau tidak boleh mengatainya begitu. Dia kan, orangnya baik."
"Baik apanya? Dia itu nenek sihir. Ya sudah, aku mau mencari Karin dulu. Kau tunggu di rumah, ya!"
"Kazune, lihat ini! Cantikkan?" Gadis berambut indigo itu memperlihatkan belalang kesayangannya kepada Kazune.
"Tidaaaaaaak!" teriak Kazune sambil berlari pontang-panting ke luar rumah.
Ditatapnya jam yang berada di tangannya itu. Ah, sudah hampir jam makan malam. Tapi aku harus mencarinya dimana?
Pencarian dimulai dari sekitar sekolah. Tidak ketemu. Dilanjutkan mencari di sekitar rumah Kazune, tidak ketemu. Kemudian mencari di sekitar Kahika Cafe, tetap tidak ketemu. Selanjutnya Kazune melanjutkan pencariannya di sekitar rumah Karin. Gadis itu tidak ada di rumahnya. Dicarinya lagi di sekitar rumah itu. Ketemu. Samar-samar Kazune melihat seorang gadis tengah duduk sendirian di tepi kolam di suatu taman.
"Karin?" gumamnya.
Kazune kemudian mendekat, mendekati sosok gadis yang duduk di tepi kolam itu.
"Karin!" panggil Kazune. Gadis yang merasa namanya di panggil itu menoleh ke sumber suara.
"Ka... Kazune?" Ia sedikit kaget. Cepat-cepat ia menghapus airmatanya. Tentu saja Kazune tahu bahwa ia sedang menangis. Kazune kemudian mendekat ke arah Karin, kemudian duduk disampingnya.
"Karin, kau kenapa?"
"Ti... Tidak. Aku tidak apa-apa." Karin kemudian langsung menyembunyikan foto Kirika itu di bawah tasnya, yang kebetulan berada di sampingnya.
"Jangan berbohong." ujar Kazune dengan suara datar.
Karin dengan tiba-tiba langsung memeluk Kazune, dan menangis sejadi-jadinya di pundaknya, tanpa melepaskan pelukannya itu. Kazune yang awalnya terkejut menerima perlakuan Karin, akhirnya menepuk-nepuk pundak Karin, dengan maksud untuk menenangkannya. Tangisannya berhenti. Karin melepaskan pelukannya. Hening. Kazune langsung merampas foto yang disembunyikan Karin di bawah tasnya. Ditatapnya foto itu dengan mata tajam.
"Ini, foto wakil ketua OSIS kan?" tanya Kazune. Ia kemudian menghela nafas.
"Dengar, kau, Hanazono Karin, orang seperti ini, tidak perlu kau tangisi. Karena, dia yang akan menangis karena telah membuatmu menangis." ungkap Kazune.
"Kau bisa mendapatkan seribu lelaki seperti itu, bahkan kau bisa mendapatkan lelaki yang seribu kali lebih baik darinya." ujarnya lagi.
Karin tersenyum kecil mendengar perkataan Kazune. Karin hanya tidak menyangka ia akan mendengar kata-kata itu dari seorang Kazune.
"Sini, minta fotonya!" pinta Karin. Diambilnya foto itu dari tangan Kazune. Diremasnya foto itu, digumpalkannya, lalu dibuangnya ke dalam kolam.
"Kenapa dibuang?" tanya Kazune yang sempat heran melihat tingkah Karin.
"Karena aku ingin membuangnya dalam hatiku. Lagi pula, dia tak pantas ditangisi."
Hening. Suasana hening kembali.
"Ayo pulang! Makan malam sudah siap, dan Himeka sedang menunggumu dirumah." ajak Kazune
Karin tetap diam tak bergeming.
"Ayo lah. Akan kugendong."
Kazune kemudian berjongkok, bersiap menggendong Karin. Karin menghampiri punggung itu. Disilangkannya tangannya di leher Kazune. Dengan sigap, Kazune langsung menggendongnya.
Hening. Suasana hening kembali.
"Kazune."
"Hn"
"Terimakasih."
"Ya. Lain kali, kalau kau mau pergi, bilang dulu padaku."
"Iya. Maaf merepotkanmu."
"Hn"
Kini wajah mereka semakin dekat. Bahkan Kazune sendiri bisa merasakan nafas Karin. Sepanjang jalan mereka terus diam.
Mata Kazune tertuju pada toko es krim di seberang jalan. Ia tergiur untuk merasakan es krim itu.
"Karin, kau mau es krim, tidak?" ajak Kazune.
Diam. Tidak ada jawaban Karin.
"Karin." panggil Kazune lagi. Tetap tak ada jawaban.
"Karin!" panggil Kazune dengan sedikit panik. Diliriknya kebelakang untuk melihat Karin.
Hah! Ternyata tertidur. Dasar!
"Kazune, ada apa dengan Karin?" tanya Himeka yang heran melihat Karin dalam gendongan Kazune.
"Sudah, nanti saja ceritanya. Aku mau bawa dia ke kamar dulu." ujar Kazune. Himeka tetap mengikutinya dari belakang. Kazune membuka pintu kamar. Direbahkannya gadis itu di atas kasur.
"Etto, Kazune. Kenapa kau menaruh Karin di kamarmu?" Mendengar perkataan Himeka, ia langsung berbalik, mengamati keadaan sekitar.
"Astaga!" Kazune menepuk jidatnya. "Kenapa aku bisa sebodoh ini! Ya sudahlah. Biarkan saja dia tidur disitu."
"Ayo!" Himeka menarik tangan Kazune menuju ruang keluarga. Himeka kemudian duduk di salah satu sofa disana.
"Kazune, ayo ceritakan!" perintah gadis berambut indigo itu.
"Dia du-"
"Kazune, kau duduk dulu, baru cerita. Jangan berdiri seperti itu!" potong Himeka.
Kazune kemudian memenuhi perintah adiknya yang umurnya hanya berbeda beberapa bulan darinya.
"Dia menangis di taman dekat rumahnya. Lalu ku ajak pulang. Aku menawarkan untuk menggendongnya. Dia mau. Tapi, di perjalanan, dia tidur." jelas Kazune.
"Menangis?"
"Iya. Menangisi si wakil ketua OSIS itu."
"Oh. Terus, sejak kapan kau punya hobi menggendong anak perempuan, kak?" goda Himeka. Wajar saja ia bertanya begitu.
Biasanya sikap kakaknya itu sangat dingin kepada perempuan. Yah, kecuali dengan gadis yang pernah hadir di hidupnya 3 tahun lalu.
"Dia kan menangis, jadi kugendong."
"Oh ya, ada yang akan pulang dari Inggris seminggu lagi."
"Benarkah? Kau tidak bercanda, kan?" tanya Kazune girang.
"Iya. Dia mengirimiku email."
Kahika cafe 5 part 4.
Seperti biasa, mereka hanya diam saat makan. Tak ada hal penting yang harus di bicarakan hari ini. Menurutnya, ada sedkit rasa sepi jika gadis yang sedang terlelap tidur dikamarnya itu tidak ada. Biasanya gadis itu selalu bisa membuat topik pembicaraan yang bagus yang membuat Himeka tersenyum ataupun tertawa, meskipun dirinya hanya diam saja ketika Karin dan Himeka sedang asyiknya berbincang-bincang, tapi ia menikmati itu.
Makan malam selesai. Himeka menoleh kepada Kazune dan berkata "Kazune, aku ke kamar duluan ya. Aku belum menyelesaikan tugas." Ia langsung pergi meninggalkan Kazune yang sedari tadi diam membisu seribu bahasa.
Kazune melangkahkan kakinya menuju suatu ruangan yang dulunya lama tidak terpakai itu. Dimasukinya ruangan itu. Diamatinya dengan seksama ruangan itu. Ruangan itu penuh dengan foto. Didapatinya sebuah album diatas meja belajar. Dibukanya album itu. Terpampanglah foto-foto Karin semasa dulu. Dilihatnya satu persatu. Ada ketika Karin masih bayi, ada ketika Karin masih balita dengan mic di tangannya seolah dia adalah seorang artis, ada ketika Karin sedang menangis melihat es krimnya meleleh, ada ketika Karin yang sepertinya berumur 6 tahun yang sedang menaiki sepeda baru, ada Karin yang sedang main baseball.
Ternyata, nenek sihir itu lucu juga waktu kecil. Lihat, aku paling suka ketika dia menangis karena es krimnya meleleh, lucu sekali.
Dibukanya lagi lembar selanjutnya, ia terperangah melihat foto itu.
Dan tunggu, ada foto Kirika dan Karin disini. Karin sedang memegang bola basket dan disampingnya ada Kirika yang sedang tersenyum bersama Karin.
Kurasa mereka telah mengenal sejak lama, pantas saja Karin menangis.
Ditutupnya kembali album itu, diletakkannya di tempat semula. Kazune kemudian melangkahkan kakinya menuju jendela di dekat ranjang. Dibuka jendela itu, hingga masuklah angin malam menerpa tubuhnya.
Ia menghela nafas. Kembali ia mengingat tentang kedatangan gadis yang akan datang seminggu lagi itu. Matanya terpejam merasakan angin malam yang menerpa tubuhnya itu. Tidak sepenuhnya ia senang mendengar gadis itu akan datang kembali ke Jepang. Mengingat gadis itu meninggalkannya begitu saja dan pergi ke Inggris selama ini. Terbayang kembali raut wajah gadis itu. Ia baik, cantik, dan tentu saja pintar. Itu yang membuat dirinya paling menarik.
Ditutupnya kembali jendela itu. Kazune pergi meninggalkan kamar gadis itu menuju kamarnya. Dibukanya kenop pintu dengan hati-hati agar tak membangunkan gadis yang sedang terlelap itu. Diambilnya piyamanya di lemari. Dilihatnya kembali gadis yang sedang terlelap itu. Cantik juga. Ia kemudian kembali keruangan sebelumnya, kamar yang kini di tempati gadis itu. Digantinya pakaiannya dengan piyama. Direbahkannya dirinya kedalam ranjang yang berwarna soft pink itu. Di pejamkannya matanya. Terhirup bau khas Hanazono Karin disana. Di peluknya bantal itu dengan erat. Harum. Bau itu seperti menjalar keseluruh tubuhnya. Hingga akhirnya ia terlelap.
Kazune membuka matanya. Diliriknya jam dinding yang berada di sebelah kanan ranjangnya.
Dia terbangun lebih pagi dari biasanya. Ia kemudian bangkit dari tempat tidur itu. Matanya masih merasa sedikit mengantuk.
Ia kemudian keluar dari kamar itu, menuju ke kamarnya.
Dibukanya kenop pintu kamarnya itu. Didapatinya gadis itu masih terlelap dalam mimpinya. Di perhatikannya wajah gadis itu dengan seksama. Hmm, manis juga, kalau tidur.
Wajahnya semakin mendekat ke arah wajah gadis itu. Semakin dekat. Hingga akhirnya jarak antar wajah mereka hanya berkisar 8 cm.
"Hey, sleeping ugly! Ayo bangun! Atau, apakah aku perlu menciummu, agar kau bangun?"
Mendengar ada suara, Karin dengan berat membuka kedua matanya. Alangkah kagetnya ia, melihat sepasang mata biru saphire sedang menatap mata emeraldnya itu. Ia sedikit terpana dengan pesona Kazune. Wajar saja, Kazune merupakan lelaki populer yang sangat digandrungi perempuan-perempuan di sekolahnya. Bahkan telah ada fans club untuk Kazune yang berisi para perempuan yang menyukainya. Tetapi, Kazune tidak pernah menggubrisnya sama sekali. Tersenyum kepada mereka saja tak pernah.
Kazune kemudian menjauhkan wajahnya dari wajah Karin. Kemudian pergi menuju lemari untuk mengambil pakaiannya.
Karin mengamati kamar itu. Sepertinya dia tidak berada di kamar yang biasanya. Di amatinya kamar yang bercat biru itu. Ah, dia baru sadar kalau ini kamar Kazune.
"Tu... Tunggu! Kenapa aku tidur dikamar mu?" tanya Karin yang kaget menyadari kalau dirinya sedang berada di kamar Kazune.
"Oh, itu. Terimakasih ya, atas malam kemarin. Aku sangat menikmatinya. Sungguh indah kemarin. Maaf, aku tidak mengganti baju mu." goda Kazune.
"Ja... Jadi, kemarin kita tidur bersama?" Karin bergidik ngeri.
"Aku bercanda. Aku kemarin tidur di kamarmu. Aku tidak akan berbuat seperti itu jika belum menikah. Lagi pula, aku akan melakukannya atas dasar suka sama suka." jelas Kazune. Karin menghela nafas, pertanda lega dengan pernyataan Kazune.
"Ya sudah. Kau siap-siap sana!"
"I... Iya. Terimakasih"
Karin kemudian pergi meninggalkan kamar Kazune.
Akhirnya mereka tiba di sekolah elit, Sakuragaoka. Para murid perempuan berbondong-bondong menghampiri Kazune. Karin sedikit terbiasa dengan hal ini. Tanpa mempedulikan para fansnya, Kazune tetap berjalan.
Pelajaran telah usai. Kazune keluar dari kelasnya. Seperti biasa, para fansnya berbondong-bondong menghampirinya. Kazune tidak memperdulikannya. Ia terus berjalan menuju kelas Karin. Namun, tetap saja para fansnya itu mengikuti.
Karin yang baru saja keluar dari kelasnya kaget melihat para fansnya Kazune.
Kazune langsung menarik tangan Karin. Hal ini membuat terkejut para fansnya.
"Karin, ayo kita pergi!"
TBC
Huaaah! Akhirnya selesai juga! Gomen kalau gak menarik ya ._.v
Kalau ada yang kecewa kalau yang tentang org yg dilempar Karin itu belum diberitahu orangnya, maaf ya. Tenang, suatu saat di suatu masa, pasti ketahuan siapa itu org. Ada yang bisa nebak, siapa itu?
Chapter ini berat, ah. Tau ga sih, chapter ini Maryam buat dua kali. DUA KALI! Gara-gara adik Maryam yang superrrrr duperrr nyebelin itu, nge-hapus tuh chapter yang masih Maryam buat di hp T^T
siapa yang mau tukeran adik sama Maryam? Oh ya, disini, Kirikanya cowo~
Thanks to:
hana, KK LOVERS, Yume Sora, Natali-chan, Haruka Hitomi12, Riska-chan, ikina uruwashi, jamilah, Rizki kinanti, Dci, mila, failasofi, nuri, ika, ayu, dll
Terimakasih yang telah menyempatkan waktu untuk membaca fic abal-abal ini.
R n R! Pleaseee!
