Kahika Café

Kamichama Karin©Koge Donbo

Kahika café ©Maryam

Rate: T
Warning: Typo menyebar kemana-mana, gaje, gak menarik de el el lah

Chapter 6

"Karin, ayo pergi!"

"Kazune, kita mau kemana?"

"Tenang saja, ikut aku!" Kazune menarik tangan Karin pergi meninggalkan sekolah itu, sedangkan para fansnya masih terbengong melihat kejadian ini.

"Ah! Kau ini, kenapa menarik-narik tanganku? Sebenarnya, kita mau kemana sih? Kalau tidak jelas, aku tidak mau pergi!" ungkap Karin seraya melepaskan tangannya yang berada dalam genggaman Kazune.

"Jemput kami di sekolah. Segera!" Kazune menelfon supirnya.

"Aku tidak mau, Kazune!"

"Tidak bisa, kau harus pergi!" Kazune kemudian menampakkan raut wajah seperti mengancam kepada Karin. Melihat wajah Kazune yang berbeda dari biasanya, Karin hanya bisa menelan ludah. Tidak lama setelah itu, supir, beserta mobil datang menjemput mereka, dan membawa mereka ke suatu tempat. Supir itu dengan segera membukakan pintu untuk majikannya itu.

"Oh, jadi kita ke toko buku." gumam Karin.

"Berisik! Ayo cepat masuk!"

Mendengar perintah Kazune, Karin hanya mendengus kesal. Betapa mengerikannya sifatnya saat ini.

"Pegang ini, ini, ini, ini, ini dan ini!" perintah Kazune kepada Karin agar memegang semua buku yang disuruhnya.

"Sebanyak ini?" tanya Karin kaget melihat betapa banyak buku yang akan mereka beli. Semuanya buku pelajaran. Dia khawatir Kazune akan menyuruhnya mempelajari semua buku-buku tebal itu.

"Diam! Lakukan apa yang kuperintahkan!"

"Ba... Baik" ujar Karin. Dengan berat hati, ia harus melakukan semua hal yang di perintahkan Kazune. Kazune menuju kasir, dan membayar semua buku-buku itu. Sekarang, ia lah yang memegang buku-buku itu. Kembali ia menarik tangan, memaksanya kembali masuk ke mobil. Mobil itu kemudian melaju ke suatu tempat yang tidak asing lagi bagi mereka berdua, ya, Kahika Cafe. Cafe yang di kelola oleh Kazune. Cafe itu tidak pernah sepi pengunjung. Nama cafe itu diambil dari nama Kazune dan Himeka. Cafe itu ia dirikan atas usahanya sendiri, tanpa bantuan sedikit pun dari ayahnya yang merupakan seorang pembisnis yang kaya raya.

"Ayo!" ajak Kazune. Seketika wajahnya berubah, tidak seperti sewaktu di toko buku, sekarang wajahnya begitu friendly. Karin sendiri sempat bingung dengan sifat Kazune.

"Wah, lihat siapa yang datang!" seru Michi melihat Kazune datang.

"Ah, apa-apaan kau ini Michi."

"Hahaha, silahkan duduk, tuan. Anda mau pesan apa?" canda Michi.

"Ah, kau ini. Cepat, panggilkan pelayan!" perintah Kazune.

"Pelayan!"

Pelayan itu segera datang menghampiri Kazune, Karin, dan Michi.

"Aku pesan lemon squash. Kau pesan apa, Karin?"

"Hmm, aku tropical float saja"

"Lemon squash dan tropical float." pelayan itu kembali memastikan. Setelah selesai, ia kembali ke dapur.

"Jadi, kalian pacaran?" tanya Michi dengan wajah polosnya.

"Hehe, bukan, bukan kok." elak Karin.

"Iya, kami tidak pacaran. Tadi kami barusan ke toko buku."

"Wah, Kazune, bisa-bisanya kau membawa gadis ke toko buku bersamamu. Kau kan mengerikan sekali kalau sudah di toko buku." ungkap Michi. Sahabatnya itu bisa berubah seratus persen jika sudah bertemu dengan toko buku.

Bahkan ia sendiri saja takut jika harus ke toko buku dengan Kazune. Biasanya, jika ia di ajak dengan Kazune, ia akan mengeluarkan seribu alasan agar dapat mengelak dari ajakan sahabat karibnya itu. Mendengar perkataan Michi, Karin menjadi mengerti sikap yang di tunjukkan Kazune tadi.

Tidak lama kemudian, pesanan mereka datang. Setelah habis menikmati minuman mereka, mereka kemudian kembali menuju rumah.

"Eh, Karin. Wah, banyak sekali bukunya." seru Himeka melihat tumpukan buku-buku yang di pegang Karin.

"Hehehe, iya, aku akan mempelajari semua buku ini. Dengan begitu, aku bisa sekelas dengan Himeka." ungkap Karin dengan semangat. Meskipun Karin tidak terlalu suka dengan pelajaran, tapi jika dia sudah bertekat, ia akan melakukan segala cara untuk mendapatkannya.

Karin masuk ke kamarnya dengan membawa buku-buku itu. Kazune mengikutinya dari belakang.

"Nah, kau pelajari semua ini selama seminggu. Jika ada yang kau tak mengerti, tanya aku! Aku akan selalu berada disampingmu ketika kau belajar."

"Iya, terimakasih."

Hampir seminggu sudah Karin bekerja keras. Setiap harinya sepulang sekolah, Karin terus belajar dari siang sampai malam. Semuanya dilakukan agar ia berhasil memasuki kelas A+ itu.

"Kazune, apa kau tidak terlalu keras kepada Karin?" tanya Himeka. Ia mulai khawatir dengan Karin yang setiap harinya hanya belajar dan belajar saja.

"Ah, tidak. Aku tidak pernah memaksanya, dia yang mau seperti itu. Aku suka dengan semangatnya. Dia memiliki tekat." Kazune tersenyum mengingat Karin. Sungguh ia kagum pada gadis itu. Sungguh bersemangat. Ia tidak pernah menyangka dengan sifat gadis itu. Ia tak pernah mengeluh sedikit pun ketika Kazune menyuruhnya belajar, ia malah sangat bersemangat. Wajahnya selalu ceria meskipun ia harus berkutat dengan buku-buku yang mungkin bagi sebagian orang sangat memuakkan.

Ponsel Kazune bergetar. Dilihatnya ada pesan masuk.

From: Masaya Kazusa.

Subject: I'm come back! ^o^

Kazuneeee! Lama tak berjumpa ya! Maaf, aku dulu tak bilang kalau aku akan pergi, aku hanya takut membuatmu sedih. Besok aku pulang, bisa kau jemput aku di bandara besok? n,n

Kazune tersenyum kecil melihat pesan itu. Hatinya senang sekali sekarang. Dengan cepat ia membalas pesan itu

To: Masaya Kazusa.

Subject: re; I'm come back! ^o^

iya, tak apa. Akan kujemput kau besok, tunggu aku disana.

Kembali iya tersenyum.

"Himeka! Himeka!" teriak Kazune mencari Himeka. Mendengar teriakan Kazune, Karin merasa terganggu. Segera ia membuka pintu kamarnya, dan mencari sumber suara yang ternyata tepat berada di depan pintu kamarnya.

"Kau ini, berisik sekali!" ucap Karin sambil bermarah-marah ria. Melihat wajah Karin yang seperti itu, wajah Kazune langsung ciut. Ia langsung pergi melihat Karin yang sedang mengamuk.

Kazune mencari-cari Himeka. Akhirnya ia menemukannya sedang berada di dapur.

"Himeka! Besok Kazusa datang!" ujar Kazune kegirangan.

"Oh ya? Baguslah kalau begitu." ucap Himeka sembari tersenyum kearah Kazune.

"Makan malam sudah siap, tolong panggilkan Karin, ya Kazune."

"Ah, tidak mau! Dia seram sekali tadi. Kau saja lah, Himeka." tolak Kazune.

"Ya sudahlah kalau begitu. Kau ini, selalu saja bertengkar dengan Karin." ujar Himeka. Ia sendiri pusing melihat kelakuan kakaknya itu. Ia selalu saja bertengkar dengan Karin. Dan entah kenapa, akhir-akhir ini Karin lebih sensitif dari biasanya. Mungkin karena terlalu bersemangat.

"Karin, makan malam sudah siap, ayo turun!"

Mendengar suara Himeka, Karin kemudian menghentikan aktivitasnya sekarang. Dibukanya pintu kamarnya. Disana ternyata telah berdiri Himeka.

"Ah, Himeka. Ayo!"

Mereka kemudian menuruni tangga menuju ruang makan. Disana, Kazune telah duduk, siap untuk menyantap makanan yang berada di depannya.

"Itadakimasu!" seru mereka serentak.

Seperti biasa, Kazune hanya diam ketika makan. Namun kali ini, ia terus memperhatikan wajah Karin ketika makan. Ketika Karin menoleh ke arah Kazune, Kazune langsung menundukkan wajahnya, seolah-olah tidak menatap Karin.

"Wah, Karin, besok ujiannya, kan?" tanya Himeka membuka percakapan.

"Iya. Aku serasa belum siap. Tapi, seandainya aku gagal, aku tidak akan sedih, setidaknya, aku sudah berusaha maksimal." jawab Karin sambil tersenyum

"Oh iya, Karin, ada yang mau menyewa rumahmu."

"Be... Benarkah? Siapa? Tapi, kenapa bukan aku yang di hubungi, Himeka?"

"Aku juga tidak kenal. Aku mempromosikan rumahmu di internet, ya termasuk di twitter dan facebook. Banyak yang berminat, tapi karena sewanya mahal baru seorang yang benar-benar serius dengan sewa rumahmu. Tapi, menurutku, harga itu sesuai, dilihat dari lingkungannya, rumahnya, dan letak yang strategis." jelas Himeka. Sementara mereka berdua berbincang-bincang, Kazune sedari tadi terus menatap Karin. Entah apa yang terjadi pada Kazune, tetapi ia merasa ada yang aneh dengan Karin. Setiap kali ia menatap Karin, ia merasa aneh dengan dirinya.

Ah, mungkin hanya karena belakangan ini aku dekat dengannya. Mungkin saja, kegilaannya tertular padaku. Tapi, jika aku melihatnya, aku ingin terus melihatnya. Ah!

Kazune mengacak-acak rambutnya. Hal ini membuat Himeka dan Karin heran melihat tingkah Kazune.

"Kazune, kau kenapa?" tanya Himeka.

"Iya, kau kenapa, Kazune. Kau gila ya?"

"Iya, iya, aku gila karena kau!" jawab Kazune. Ia sendiri tidak sadar telah mengucapkan kata-kata itu. Kata-kata itu menyeruak dari mulutnya tiba-tiba.

Ia sendiri juga kaget, ia bisa berkata hal seperti itu.

"Kazune, kau demam ya? Kata-kata mu aneh sekali." ucap Karin. Ia kemudian bangkit dari kursinya, berjalan ke arah kursi Kazune, kemudian menempelkan tangannya ke dahi Kazune untuk memastikan Kazune demam atau tidak.

"Ah, tidak panas. Normal kok." ungkap Karin, sedangkan Himeka hanya bisa menahan tawanya melihat tingkah laku kakak satu-satunya itu.

"Ah, sudah-sudah, lanjutkan saja makan kalian!"

Makan malam selesai. Kazune kembali ke kamarnya untuk belajar. Himeka sedang menonton TV, sedangkan Karin kembali ke kamarnya. Rasanya ia lelah sekali hari ini. Ia tidak melanjutkan belajarnya lagi. Ia sudah muak, sekarang. Ada rasa deg deg-an di hatinya menanti hari esok. Rasanya ia belum siap untuk ujian esok. Ujian akan dilaksanakan usai sekolah. Sejujurnya ia takut gagal.

Masih terngiang perkataan Kazune ketika ia pertama kali mulai belajar.

"Belajar memang melelahkan. Tapi akan lebih lelah lagi jika sekarang kau tak belajar."

"Berfikirlah kalau kau lebih berani, lebih pintar dari yang kau pikirkan. Jadilah manusia yang mandiri."

"Jangan pernah mengeluh apa yang datang hari ini. Terimalah dengan lapang hati!"

Semua perkataan Kazune telah membekas di hatinya. Kazune seperti punya kharisma.

Suasana tegang menyelimuti ruangan itu. Disana duduk seorang perempuan bernama Hanazono Karin, tengah menyelesaikan soal berjumlah 100.

Hari ini, hanya dia saja orang yang mengikuti ujian. Seorang guru tengah mengawasi gerak-geriknya. Tampangnya dapat di bilang sangar.

Sedangkan Himeka dan Kazune sedang berada di atap sekolah. Himeka sedang asyik membaca novel, sedangkan Kazune sibuk mondar-mandir sedari tadi.

"Kazune, bisakah kau diam sebentar saja?" tanya Himeka yang mulai risih melihat tingkah Kazune.

"Yang ujian kan, Karin, tapi kenapa kau sibuk begitu sih?"

"Lah, kan Karin itu muridku. Mana ada guru yang tidak khawatir kalau anak muridnya sedang ujian."

"Tapi aku jamin, Karin tidak pernah menganggapmu sebagai gurunya." ucap Himeka sambil melanjutkan bacaan novel lagi.

Sesaat kemudian ponsel Kazune berdering. Mau tidak mau, tentu ia harus mengangkatnya.

"Halo?"

"Sebenarnya kau ini, jadi ke cafe tidak sih? Lama sekali!"

"Tunggu sebentar, aku sedang menunggu Karin ujian."

"Ujian? Ujian apa?"

"Ujian masuk kelas A+ lah."

"Jadi, dia akan masuk ke kelas kita? Ah, senangnya."

"Kau suka padanya ya?"

"Ah, tidak. Ya sudah, cepat datang ya!"

-Bagaimana dengan sekolahnya?

-Sekolahnya bagus. Sekolahnya merupakan sekolah elit.

-Bagaimana kondisi disana?

-Baik. Untuk kelas sepertimu, ruang kelasnya terbagi 8 kelas. Ada kelas A+, kelas A, B, C, dan ada kelas reguler 1, 2, dan 3. Kelas A+ berisi dengan orang kaya dan orang-orang pintar saja, disana uang sekolahnya paling mahal. Biasanya harus melalui ujian untuk dapat memasuki kelas itu. Kelas A, B, dan C adalah kelas orang kaya. Anda tidak perlu pintar untuk memasuki kelas ini. Kelas reguler meruapakan kelas paling murah. Uang sekolahnya termasuk murah, hanya saja fasilitasnya kurang dibandingkan dengan yang lainnya. Tetapi, secara keseluruhan, anak disekolah ini adalah anak yang pintar, meskipun dibedakan kelasnya.

-Kalau begitu, daftarkan aku dikelas A+

-Tapi kelas itu untuk orang yang pintar.

-Jadi, kau meremehkan ku?

-Bukan begitu. Ya sudah, akan kudaftarkan. Besok kau harus datang ke sekolah ini untuk ujian.

-Ya.

Akhirnya gadis itu telah selesai dari ujiannya. Tampak wajah lega di raut di wajahnya. Kini ia berjalan menuju atap sekolah. Mencari sosok dua orang temannya itu.

"Himeka!" ia melambaikan tangannya dari kejauhan.

"Iya Karin!" sahut Himeka sambil membalas lambaian tangan Karin.

Kazune menoleh untuk melihat Karin. Kemudian ia mendekat kearah gadis berkucir dua itu.

"Bagaimana dengan ujianmu?" Senyum itu kembali menghiasi wajahnya.

"Baik." jawab gadis itu sembari tersenyum. Tampak wajah lega pemuda itu setelah ia mendengar kata-kata itu dari mulut sang gadis. Ponselnya kembali bergetar.

"Siapa lagi sih?" pikirnya.

Dibukanya kembali ponsel itu. Kini bukan lagi wajah mengerutu yang di tampakkannya, melainkan senyuman kecil tertoreh di wajahnya kala melihat nama pengirim pesan yang masuk ke ponselnya itu.

From: Masaya Kazusa.

Subject: Tadaimaaaa!

Jangan lupa jemput aku malam ini ya, Kazune-kun ^o^

Kembali lelaki itu tersenyum. Dahi Karin mengernyit, menebak-nebak mengapa Kazune tersenyum seperti itu, dan siapa yang mengiriminya pesan.

"Ayo pulang!" ajak Kazune.

"Maaf kak, kami ada urusan sebentar. Ini tentang rumah Karin. Bolehkan kami pergi?" pinta Himeka dengan nada sedikit memohon kepada kakak satu-satunya itu.

"Ya sudah, pergilah! Jangan pulang larut malam!"

"... Oh ya Karin, jangan lupa, malam ini, kau harus memakai kostum maid-mu itu." ucap Kazune sambil memberi tatapan sedikit menggoda pada Karin.

"Himeka, ayo pergi! Tinggalkan saja si baka ini." Karin mendengus kesal. Karin kemudian menarik tangan Himeka meninggalkan pemuda berambut pirang itu.

Semakin lama sosoknya semakin menjauh. Hingga kini, mereka tak tampak lagi di ujung mata Kazune.

Kembali di bukanya ponselnya. Jari-jarinya bergerak cepat pada keypad ponsel miliknya. Terkirim. Akhirnya pesan itu terkirim juga. Kazune tersenyum tipis. Di pencetnya tombol-tombol yang tertera pada hpnya itu, menghubungi sang sopir untuk datang dengan segera ke sekolah tercintanya itu.

Tanpa menunggu lama, akhirnya sopir itu datang.

Mobil hitam itu kemudian mengantarkannya ke tempat yang sudah sangat tak asing baginya, Kahika Cafe.

"Kazune!" panggil Michi setengah berteriak kepada Kazune yang baru saja tiba setelah kian lama ia menunggunya.

"He yow!" jawab Kazune. Kalimatnya itu merupakan lencengan dari kata hello. Entah kenapa ia senang sekali mengucapkan kata-kata itu. Serasa seperti ia adalah anak kecil.

"What's up, bro? Apa yang mau kau bicarakan padaku?" tanya Michi.

"Ayo ke atas!" ajak Kazune. Mereka kemudian melangkahkan kaki ke lantai dua. Tepat di depan balkon mereka berdiri. Seperti biasa, tempat itu selalu sepi. Hal itu yang membuat Kazune selalu nyaman berada disana, ditambah angin sepoi-sepoi yang akan menerpa tubuhnya ketika berada disana.

"Kazusa akan datang kembali." ujar Kazune memulai pembicaraan.

"Ambil ini!" ucap Michi sambil melemparkan sebotol minuman kaleng kepada Kazune. Dengan sigap Kazune menangkapnya.

Kahika cafe 6 part 6

"Kazusa datang?" Michi sedikit terkejut mendengar perkataan sobatnya itu.

"... Kalau begitu, baguslah. Sepertinya kau akan senang." lanjutnya.

"Senang? Sepertinya tidak sepenuhnya aku senang. Aku masih ingat bagaimana ia menginggalkan ku pergi kala itu." Kazune kemudian menegak minuman kaleng yang tadi disodorkan Michi.

"Ayolah, dia kan hanya bermaksud untuk tidak membuatmu terlalu sedih, dia hanya takut jika mengatakannya, dia tak akan sanggup untuk pergi. Lagi pula, dia pergi hanya untuk menggapai cita-citanya menjadi ballerina profesional." jelas Michi.

"Hah!" Kazune menghela nafas. Matanya mengambang jauh mengingat peristiwa masa lalu itu.

Flashback

Kazune sedang bersantai dirumah sambil memilih-milih siaran tv. Ponselnya bergetar. Diraihnya ponselnya itu. Message from Kazusa-chan. Senyumnya kembali terukir setiap kali melihat nama itu. Matanya kini terbelalak melihat isi pesan itu.

From: Masaya Kazusa.

Subject: :)

Kazune, maaf aku tak mengatakan ini sebelumnya. Maafkan aku, tapi aku harus pergi. Sampai jumpa lagi, Kazune. Aku sayang padamu.

Matanya mendelik. Mencari-cari apa maksud dari pesan yang baru saja diterimanya. Dengan cepat ia menekan-nekan tombol untuk menghubungi gadis tersayangnya itu. Namun sialnya, ponsel gadis itu tidak aktif.

"Sial, apa yang terjadi sebenarnya?" Wajah dan matanya kini memerah.

Sesaat kemudian ponselnya kembali berdering. Ternyata Michi yang menelponnya.

"Kazune, cepat datang kemari! Cepat temui kami di bandara! Kazusa akan berangkat sebentar lagi!" ucap Michiru dengan nada khawatir.

Tanpa basa-basi, ia kemudian menyuruh sopirnya mengantarnya ke bandara dengan kecepatan penuh.

Namun, ia terlambat. Tampak Michi dan Himeka disana sedang mengeluarkan ekspresi sedih. Kembali dicari-carinya sosok perempuan bernama Kazusa itu.

Dengan nada menyesal, Michi berkata,

"Kazune, Kazusa sudah pergi." Sungguh Kazune terbelalak mendengar perkataan Michi.

"Sial, sial, sial! Bodohnya aku!" gerutunya dalam hati. Tanpa sadar, Ia mengeluarkan air mata.

"I... Ini, surat dari Kazusa" ucap Himeka, sambil menyodorkan surat yang diperintahkan oleh Kazusa agar memberikannya pada Kazune. Dengan tangan bergetar, Kazune menerimanya.

Kazune ku sayang, maafkan aku. Maafkan aku tak memberitahukanmu soal ini sebelumnya. Aku tidak tega kalau harus berpisah denganmu. Aku harus pergi ke Inggris, mengejar cita-citaku. Kau tahu kan, aku akan menjadi ballerina terkenal di dunia. Aku tak akan melupakanmu. Semoga kita bertemu lagi. Jaga dirimu baik-baik.

I love you.

From:

The girl who loves u.

Kazune kemudian meremas kertas

End of Flashback

"Sudahlah." Michi kemudian menepuk pundak Kazune. Kazune menoleh kearahnya.

"Oh ya, ada satu lagi."

"Apa?" tanya Michi.

"Entah kenapa, aku merasakan sesuatu yang aneh pada diri Karin."

"Aneh kenapa?" ia bertanya lagi.

"Setiap aku melihatnya, ada perasaan bergejolak dalam hatiku... "

"... dan anehnya, aku selalu ingin terus menatapnya." ungkap Kazune, sambil mengacak-acak rambutnya.

"... dan anehnya, aku selalu ingin terus menatapnya." ungkap Kazune, sambil mengacak-acak rambutnya.

"Itu tandanya, kau jatuh cinta pada Karin." jawab Michi dengan entengnya.

"Kau ini, ada-ada saja. Mana mungkin begitu, lagi pula dia bukan tipeku. Dia sangat cerewet dan menyebalkan. Mungkin karena aku dekat dengannya akhir-akhir ini, setiap saat aku bersamanya belajar. Mungkin karena itu." elak Kazune.

"Ah, kau ini keras kepala sekali. Kalau kau tidak menyukainya, ya sudah, berikan saja padaku. Dia itu gadis yang manis, menurutku."

"Tidak, tidak boleh. Enak saja. Kau kira dia itu barang, yang bisa dengan mudahnya kuberikan padamu? Meskipun dia itu pelayan pribadiku, aku tetap tidak bisa mengatur kehidupan pribadinya, termasuk menyerahjannya padamu." Tanpa Kazune sadari, ia telah membeberkan rahasianya sendiri, untuk tidak memberitahukan kepada anak di sekolahnya, bahwa Karin adalah pelayannya. Meskipun ia adalah majikan, tentu saja ia masih menghargai harga diri Karin. Dia seorang perempuan. Tentu jika ada yang mengetahui bahwa ia sekarang adalah pelayan pribadinya, tentu Karin akan menjadi bahan ejekan. Bagaimana tidak, Karin yang dulunya adalah anak pengusaha kaya, sekarang menjadi seorang pelayan pribadi salah seorang siswa di sekolahnya.

"Apa katamu? Pelayan pribadi? Kau tak pernah mengatakan itu sebelumnya padaku. Ayo jelaskan!"

"Anda setuju dengan rumah ini?" tanya Karin kegirangan.

"Ya, majikanku bilang, dia suka rumah ini. Ini uangnya." Pria itu menyodorkan sejumlah uang pada Karin.

"Sesuai dengan syarat, kan? Itu adalah uang mukanya." ucapnya lagi. Karin menghitung uang itu. Setelah ia memastikan uang itu cukup, Karin memasukkan uang itu kedalam tasnya.

"Ya. Mulai besok, Anda sudah bisa menempati rumah ini. Ini kuncinya" jawab Karin sambil memberikan kunci rumahnya kepada pria yang baru saja memberinya uang itu.

"Baik, kalau begitu saya permisi dulu." ucap pria itu.

Karin tersenyum simpul. Hatinya kini gembira sekali.

"Himeka, bagaimana kalau hari ini, kau kutraktir!" ajak Karin. Ia juga ingin membalas jasa Himeka yang sudah bersusah payah mempromosikan rumahnya itu.

"Ah, tidak usah, Karin. Tabung saja uangmu itu." tolak Himeka dengan lembut.

"Ayolah, Himeka!" mohon Karin.

"Ya sudah kalau begitu. Sekali ini saja, ya. Terimakasih, Karin."

"Apa katamu? Pelayan pribadi? Kau tak pernah mengatakan itu sebelumnya padaku. Ayo jelaskan!"

"Aku merasa kasihan dengannya. Dia tinggal sebatang kara, sekarang. Orang tuanya baru-baru ini meninggal karena kecelakaan pesawat. Dia mengalami krisis ekonomi. Karena itu, dia pindah dari kelas A, menjadi kelas reguler 2. Meskipun dia sudah kuterima di cafe, tapi menurutku, uang itu kurang. Biaya makan, dan uang sekolah tidak mungkin cukup dengan hanya mengandalkan gaji di cafe ini. Ku putar otakku. Aku mencari-cari pekerjaan yang masih tersisa dirumahku. Apalagi kalau bukan menjadi pelayanku. Aku menjaminnya tinggal dirumah, dan menjamin membayar uang sekolahnya jika dia masuk kelas kita." jelas Kazune kepada Michi.

"Selain itu, mengingat dia itu cerewet, bagus juga kalau aku mengerjainya. Hitung-hitung, sebagai hiburanlah." timpal Kazune, sambil tertawa kecil mengingat masa-masa dia mengerjai Karin.

"Ah, dasar kau ini, Kazune. Sejak kapan kau jadi begini?" ungkap Michiru.

"Hahaha, aku pulang dulu ya. Mungkin dua hari lagi, baru aku akan mulai bekerja!"

Mereka pulang bersamaan. Meski Kazune yang sampai dengan mobil hitam itu turun lebih dulu di banding Himeka dan Karin.

Dua orang gadis turun dari sebuah mobil sedan putih.

Seorang sedang memegang es krim, dan seorang memegang bungkusan.

Kazune menghampiri kedua gadis itu.

Slreeepch

Kazune menjilat es krim yang sedang di pegang seorang gadis.

"Wah, vanila."

"Kau ini, seenaknya saja menjilat-jilat es krim ku." seru gadis itu kesal, yang notabene adalah Karin. Sedangkan Himeka hanya tertawa kecil melihat kelakuan kakaknya itu.

"Tadi, es krimnya mau meleleh. Sudah, ayo masuk!" ajak Kazune.

"Oh iya, Karin, jangan lupa kostum maid-nya ya!" goda Kazune. Kemudian Kazune meninggalkannya yang tengah mendengus kesal dengan sikap Kazune. Ingin rasanya Karin menendang Kazune, menonjok-nonjok wajahnya, lalu mendandandaninya layaknya seorang wanita.

.

.

Tak lama kemudian Karin keluar dari kamarnya. Memakai pakaian maid yang berwarna merah muda. Sungguh menggemaskan melihatnya berpakaian seperti itu.

Karin berjalan menuju ruang keluarga. Disana tengah duduk sang tuan muda bersama dengan seorang nona manis yang merupakan adiknya itu.

Himeka menoleh ke belakang ketika merasakan adanya derap kaki melangkah.

"Ka... Karin?" Himeka sungguh tidak menyangka melihat Karin berpakaian seperti itu. Sungguh cantik, menurutnya.

Kazune menoleh seketika mendengar Himeka memanggil nama Karin. Kini matanya terpukau melihat seorang makhluk Tuhan yang kini berada di depan matanya. Kazune menelan ludah melihat penampilan Karin. Ini memang bukan pertama kalinya ia melihat Karin memakai kostum maid. Tapi kali ini berbeda, berbeda. Ingin rasanya Kazune memeluk, memakan, dan mencium Karin. Ew, lupakan! Kali ini iya tidak dapat menolak pesona Karin.

"Hey, kalian kenapa?" tanya Karin polos.

"Kau cantik sekali, Karin!" seru Himeka.

"Iya, kan Kazune?" ucapnya lagi.

"Ah, biasa saja." elak Kazune

"Ayo cepat kesini!" perintah Kazune kepada Karin.

"Biasa apanya? Kau saja tadi sampai melongo melihatnya, Kazune." sindir Himeka. Tetapi ia tak terlalu menghiraukan sindiran adiknya itu. Kini, Karin tengah berdiri berada di sampingnya. Kazune merasa risih juga melihat Karin terus-terusan berdiri begitu. Karena tidak tega, akhirnya ia menyuruh Karin duduk bersama mereka sambil menonton tv.

Tiba-tiba ponsel Karin berdering. Nomor tak dikenal. Diangkatnya dengan hati-hati. Sesaat kemudian Karin girang sekali, membuat Karin dan Kazune bingung dengan tingkah Karin.

"Karin, kau sakit ya?" tanya Kazune polos, sambil bangkit dari kursinya lalu berjalan kearah kursi karin. Ditempelkannya tangannya ke dahi Karin.

"Wah, Karin gila, dahinya panas sekali!" teriak Kazune, bercanda.

"Eh, enak saja mengataiku gila! Kau tahu, aku, LULUS KELAS A+!" teriak Karin.

Mata Kazune membulat.

"Benarkah?" tanya Kazune memastikan.

"Iya, tentu saja!"

"Kau hebat, Karin!" seru Himeka.

"Ya iyalah. Muridku," Kazune mulai membanggakan diri.

Cup!

Satu kecupan. Bibir Karin mengecup salah satu pipi Kazune. Kazune sedikit terkejut.

"Terimakasih, guru!" ucap Karin. Kini ia berada di belakang Kazune.

"Bukan apa-apa. Itu hanya ucapan terimakasih. Aku permisi sebentar ya, aku ke toilet ya." ucap Karin sambil pergi begitu saja.

Wajah Kazune memerah. Himeka tertawa melihat reaksi kakaknya.

"Kau lucu sekali, Kazune!"

"Wajahmu memerah hanya karena kecupan di pipi." lanjut Himeka.

"Kau, suka padanya, kan?" goda Himeka sambil menyenggol-nyenggol bahu Kazune.

"Kau ini apa-apaan sih!" ujar Kazune risih.

Kini ia melangkah menuju kamarnya.

"Karin, kau penuh kejutan!" ungkapnya dalam hati, senyum simpul tampak dari wajahnya.

"Bodoh bodoh bodoh! Karin, kau triple baka! Kenapa bisa kau menciumnya seperti itu! Bodoh kau Karin! Kau ini perempuan, tidak boleh seperti itu!" kutuk Rin dalam hati. Ditatapnya wajahnya pada kaca westafel. Wajahnya memerah sudah seperti kepiting rebus.

Ia menarik nafas dengan panjang, kemudian mengeluarkannya secara perlahan.

"Karin, bersikaplah biasa-biasa saja. Atau tidak, harga dirimu akan di injak-injak olehnya." ucapnya menenangkan diri. Ia keluar dari westafel itu dengan wajah datar, seperti tidak ada terjadi apa-apa.

Didapatinya Kazune tengah sibuk, seperti sedang mau pergi keluar rumah.

Dengan berat hati, Karin akhirnya memberanikan diri untuk berbicara dengan Kazune.

"Kau mau kemana?" tanya Karin.

"Akhirnya, kau sudah siap juga."

"Memangnya kenapa?" tanya Karin heran dengan perkataan Kazune yang baru saja di lontarkannya.

"Aku mau pergi. Aku hanya ingin pamit."

"Pergi? Mau kemana? Pamit? Untuk apa pamit padaku?" tanya Karin bertubi-tubi.

"Ah, kau ini cerewet sekali. Aku mau keluar sebentar. Aku pamit padamu, agar kau tak usah mencariku nanti. Lagian, kau kan pelayanku, massa tidak tahu kemana sang majikan pergi," jelas Kazune.

"Ya sudah, aku pergi dulu!" lanjut Kazune.

Ponsel milik pemuda bermata biru sapphire itu berdering kembali. Ia seakan sudah tau siapa yang menelponnya.

"Hmm, Kazune, kau dimana?"

"Aku sedang berada di perjalanan, Kazusa. Tunggu sebentar, aku akan sampai."

Kazune memutuskan telpon itu. Kakinya keluar dari sedan hitam itu. Kini kakinya telah menginjak tanah bandara. Dicari-carinya sosok seorang gadis.

"Kazune!" teriak seorang gadis sambil melambaikan tangannya kepada lelaki yang dipanggilnya itu. Berharap jika pemuda yang di panggil mengetahui keberadaannya. Gadis itu menyunggingkan senyumnya kala pemuda itu datang menghampirinya.

"Kau sudah lama?" tanya pemuda itu sambil membawa sebagian koper milik gadis itu.

"Tidak, mungkin baru sekitar 10 menit saja." jawab gadis itu sembari tak lupa untuk tersenyum kepada pemuda itu.

"Eitss, tunggu... " Kazune kembali meletakkan koper itu diatas tanah.

"... Kau ini, selama dua tahun menghilang entah kemana. Tidak ada kabar sama sekali. Pergi juga secara diam-diam tak memberitahukanku sedikitpun." omel Kazune. Gadis yang bernama Kazusa itu hanya tertawa melihat kelakuan Kazune yang seperti itu. Tidak biasanya ia menjadi secerewet itu.

"Kau ini cerewet sekali. Kau diajarin sama siapa, sampai bisa begitu?" tanya Kazusa sembari tertawa.

"Kar... " Kazune lupa, tak mungkin membicarakan perempuan lain saat berbicara dengan perempuan yang kau sukai, meski kau juga tidak suka dengan perempuan yang dibicarakan.

"Ah, sudahlah, ayo pulang!" ajak Kazune sambil terus mengangkat koper milik Kazusa ke dalam mobilnya.

"Tapi, aku belum menyewa rumah di sini... "

"Ah, sudahlah. Untuk sementara, tinggal di rumahku saja. Okay?"

"Okay, thanks" Kemudian mereka memasuki mobil sedan berwarna hitam itu. Membawa mereka kembali ke rumah itu.

"Ku dengar, kau sudah berhenti dari dunia itu." ucap Kazusa membuka percakapan.

"Iya, berita itu benar."

"Kenapa?"

"Bukan apa-apa. Hanya masalah sepele."

"Oh, begitu. Bagaimana keadaan Himeka?"

"Baik, seperti biasanya."

"Lalu, bagaimana keadaanmu, Kazusa?"

"Tentu aku baik, apalagi setelah bertemu denganmu." jawab Kazusa. Ia kemudian menyandarkan kepalanya ke bahu Kazune.

"Kazune, aku merasa kau sedikit berubah." ucap Kazusa dengan manja, kepalanya masih bersandar pada bahu Kazune.

"Berubah apanya?" tanya Kazune heran. Berubah? Ia tak pernah merasa seperti itu.

"Iya, kau jadi sedikit lebih ceria."

"Ceria?" tanya Kazune lagi. Begitukah?

Lagi-lagi Karin terpintas di pikirannya. Terbayang segala tingkah laku Karin yang menjengkelkan baginya. Sesaat kemudian, Kazune tersenyum.

"Kau kenapa, Kazune?"

"Ah, tidak."

"Wah, sudah sampai!"

Koper itu kini telah diangkat sang sopir. Kazusa dan Kazune mulai turun dari mobil itu. Para pelayan menyambut kedatangan mereka berdua.

Menyadari Kazune datang, Karin turun dari lantai dua menuju lantai satu rumah itu.

Kedua perempuan itu kini saling berhadapan. Mata mereka bertatapan, seolah berkata, Siapa kau?

Kazusa mengernyitkan alisnya.

"Mari ku perkenalkan. Namanya Hanazono Karin, temanku. Dia juga bekerja disini."

"Nah, Karin, dia bernama Masaya Kazusa. Dia baru pulang dari Inggris. Karena belum memiliki tempat tinggal, untuk sementara dia akan tinggal disini." jelas Kazune.

"Kazusa?" Himeka kemudian muncul.

"Himeka!" seru Kazusa. Kini mereka saling berpelukan melepas rindu. Sedangkan Karin, hanya diam.

"Aku Karin, salam kenal." ujar Karin sambil menundukkan tubuhnya.

"Aku Masaya Kazusa. Panggil saja Kazusa. Salam kenal." ujarnya sambil seraya menundukkan tubuhnya. Meski belum saling mengenal, Kazusa merasa sedikit tidak senang dengan kehadiran Karin, begitu juga sebaliknya.

Kini bertambah satu orang yang menduduki meja makan itu. Kazusa kini duduk disamping Kazune.

Makan malam itu terasa sedikit aneh buat Karin. Ya, bertambah satu orang.

"Hmm, Karin, kau sekolah dimana?" Kazusa membuka percakapan.

"Aku bersekolah di Sakuragaoka High school. Kalau kau?"

"Kau bersekolah di Sakuragaoka? Kenapa dulu sewaktu aku di tingkat satu, aku tak pernah melihatmu, ya? Aku juga bersekolah disana, dua tahun lalu, dan nanti aku juga akan bersekolah disitu lagi."

"Dulu aku bukan tinggal disini, aku sekolah di Amerika. Semester ini, baru aku pindah ke Jepang." jelas Karin.

"Wah, kau menyenangkan sekali bisa sekolah disana, ya Karin." sambung Himeka.

"Wah, kau bersekolah disana? Hebat sekali! Tapi maaf, kenapa kau bisa bekerja disini?" tanya Kazusa.

"Karena roda kehidupan itu berputar. Aku tak bisa terus menerus berada di atas. Orang tuaku meninggal pada kecelakaan pesawat. Aku tak punya saudara lagi. Tapi, kurasa aku cukup beruntung." jawab Karin sambil tersenyum

"Tapi, aku yakin. Aku akan kembali berada di atas. Bagaimana pun caranya, aku harus kembali ke atas." lanjut Karin. Kazune tertegun mendengar perkataan Karin. Betapa Karin begitu kuat, dan berambisi. Bayangkan saja jika kau yang kaya, tiba-tiba jatuh miskin. Tapi Karin, sedikitpun tidak pernah mengeluh tentang keadaannya. Bahkan ia selalu tersenyum, meskipun sering kali dirinya di buat jengkel oleh Karin.

"Wah, kalau begitu, kita senasib, ya. Orang tua ku juga sudah meninggal. Aku bertahan karena ada yang mau mengasuhku, dan membiayai pendidikanku." ungkap Kazusa.

Pagi yang cerah. Karin begitu bersemangat pagi ini. Dia akan memasuki kelas barunya hari ini. Dia berharap semua akan baik-baik saja. Karin menuruni anak tangga itu satu persatu. Himeka, Kazune, dan, Kazusa sudah menunggunya. Rambutnya hari ini dibiarkannya tergerai bebas. Tak lupa ia memakai pita kecil, mengait sedikit dari uraian rambutnya di kepala sebelah kiri.

"Karin, kau cantik sekali!" seru Himeka.

"Wah, cantiknya. Aku jadi iri padamu." tambah Kazusa.

Sedangkan Kazune hanya terpana oleh pesona Karin pagi ini. Sekali lagi, ia di buat terpana oleh gadis bermata emerald itu.

"Benarkah? Ah, kalian terlalu berlebihan." ungkap Karin.

"Kazusa, kau hari ini atau besok ujiannya?" tanya Kazune pada Kazusa.

"Besok saja lah."

"Be... Besok? Wah, hebat! Aku harus menunggu seminggu untuk ujian disana!" ucap Karin.

"Kau kan bodoh, jadi wajar saja!" ledek Kazune.

"Enak saja kau mengataiku! Dasar pak tua!

"Dasar nenek sihir!"

"Hey, sudah-sudah, ayo berangkat. Nanti kalian terlambat!" lerai Kazusa.

"Kazusa, beginilah keadaan setiap pagi. Kami pergi dulu ya Kazusa!" seru Himeka.

"Kita ada anak baru. Pindahan dari kelas reguler. Ayo masuk!" Karin yang sedari tadi berada di balik pintu, secara malu-malu memasuki kelas itu.

Kelas menjadi ribut seketika.

"Wah, cantiknya!"

"Dia, cantik ya!"

"Imut sekali!"

"Aku baru lihat wajahnya di sekolah ini!"

"Wah, cocok nih jadi pacarku!"

"Tolong diam!" seru guru itu. Seketika kelas menjadi hening kembali.

"Ayo, perkenalkan dirimu!"

"Namaku, Hanazono Karin. Aku pindah dari kelas reguler 2 ke kelas ini. Salam kenal, mohon bantuannya."

"Nah, silahkan duduk di sebelah sana, dibelakang Kujyo Kazune."

"Baik."

Hari ini berlangsung baik. Namun, bagi Karin, hari ini terasa lebih berat dari biasanya. Namun, hari ini ia sudah dapat bergaul dengan anak-anak di kelas itu. Tanpa terasa, bel pulang telah berbunyi. Anak-anak berhamburan keluar kelas.

"Karin, hari ini tidak usah ke cafe, ya."

"Kenapa?"

"Hari ini, aku mau mencarikan apartemen untuk Kazusa."

"Oh."

Karin sekarang tengah berkutat dengan soal-soal yang menjadi pr-nya itu. Ada beberapa soal yang tak bisa dikerjakannya. Sepertinya buku catatannya kurang lengkap. Ia berniat meminjam catatan Kazune. Ia kemudian mencari-cari Kazune.

Kazune sedang sendiri, berada di perpustakaannya. Ruangan itu terletak di ruang bawah tanah. Tempat itu merupakan tempat favorite Kazune. Disana terdapat banyak sekali buku.

Seorang gadis tengah melangkahkan kaki menuju ruangan itu.

"Hey, Kazune!" sapa gadis itu.

"Hey." jawab Kazune seadanya. Ia sedang sibuk membaca.

"Ruangan ini tak pernah berubah."

"Ya, dan aku juga malas mengubahnya." jawab Kazune. Kini ia menutup bukunya, berjalan menjalan mendekati Kazusa yang sedang melihat buku-bukunya. Kazusa mulai kehilangan keseimbangan ketika ia mulai meraih suatu buku.

Hap!

Dengan sigap Kazune menangkapnya. Kini mata mereka saling beradu.

Karin kini berada di depan pintu perpustakaan itu, lalu dimasukinya ruangan itu. Ia yakin sekali bahwa Kazune ada disini.

Sungguh ia kaget melihat pemandangan yang didapatinya sekarang. Terlihat Kazune dan Kazusa sedang beradu mata.

"Ka... Kazune..."

TBC

Hwaaaa! Akhirnya selesai juga!

Bagaimana dengan chapter ini? Maaf kalau jelek. Maklumin aja lah, ini Fict Maryam yang pertama.

Gimana? Ada komentar? Ayo-ayo, beri saran pada Maryam!

Udah ke jawab kan, siapa gadis itu? Yak, dia adalah Kazusa! Tapi marganya berubah di sini.

Terimakasih yang sudah me-ripiew chap sebelumnya!

Oh ya, buat KK lovers, kayaknya jawabanmu benar deh ^^ tapi untuk lebih pastinya, di chap depan. Di chap depan, Jin muncul~

sekali lagi, thanks yang udah nge-ripiew FF Maryam.

Terimakasih yg sudah meluangkan waktu membaca fic abal-abal ini.

I luv u guys!