Kahika Café

Kamichama Karin©Koge Donbo

Kahika café ©Maryam

Rate: T
Warning: Typo menyebar kemana-mana, gaje, gak menarik de el el lah

Chapter 7

"Ka... Kazune..." mulut Karin terpaku melihat mereka. Melihat kedatangan Karin, Karin dan Kazusa kembali ke posisi semula.

"Hehehe, maaf mengganggu. Aku cuman mau izin pergi sebentar saja." lanjut Karin. Entah kenapa mulutnya mengucapkan kata-kata itu, padahal ia hanya ingin menanyakan tentang tugas rumahnya.

"I-iya. Pergilah." jawab Kazune gugup.

"Aku pergi dulu ya!" ucap Karin sembari berbalik arah menuuju pintu keluar.

"Ah Karin, betapa bodohnya kau! Kenapa bisa kau mengucapkan kata-kata itu? Bukannya tadi hanya mau bertanya tentang pr? Ah, Stupid Karin! Terus, sekarang mau kemana?" ceracau Karin dalam hati.

"Aha! Ke taman dekat rumahku saja! Sekalian baca novel, pasti menyenangkan. Sekalian bersantai!" gumam Karin. Segera Karin mengambil salah satu novelnya yang berada di kamarnya. 'AI' judul novel itu. Sungguh judul yang sangat familiar. Jujur saja, sungguh memuakkan baginya membaca novel tentang cinta, namun hanya saja ia tertarik ketika melihat sinopsis novel itu. Novel yang sempat ia beli ketika bersama Kazune kemarin dulu itu ia bawa pergi meninggalkan rumah yang besar bak istana itu.

Karin mendudukkan tubuhnya pada sebuah bangku di taman itu. Yah, bangku yang berada di dekat kolam ketika ia menangis kala itu. Meskipun ia tahu ada orang selain dirinya yang duduk di bangku taman itu, ia merasa tak peduli. Kembali ia mengingat-ingat kejadian tempo hari. Yah, senior Kirika itu memang sepertinya tak pantas untuknya. Sejak itu, ia bahkan tak pernah mendekati wakil ketua OSIS itu. Kembali ia teringat peristiwa tadi, saat Kazune tengah menatap dalam mata Kazusa. "Sepertinya mereka pasangan kekasih" pikir Karin dalam hati.

Sungguh ia menyadari tingkah bodohnya itu. Seharusnya ia sekarang sedang berada di rumah itu sambil memikirkan jawaban tugas itu yang sangat memusingkan otaknya. Dan seharusnya, jika ia tidak dengan mudahnya ia akan melenggang pergi ke sini, mungkin ia sudah mendapat jawaban atas soal yang sangat menggundahkan hatinya itu. Sungguh ia berusaha keras agar tidak di keluarkan dari kelas itu.

Dibukanya novel yang sedari tadi ia genggam. Hmm, cinta, ya judul itu bermakna cinta. Ia juga heran, kenapa ia bisa membeli novel itu. Meskipun ia tahu bahwa novel itu bagus, tapi tak biasanya ia membeli novel cinta. Apa jadinya kalau teman-teman lamanya tahu dia membeli novel seperti ini? Mungkin ia akan dijadikan bahan lelucon dalam sehari. Ya, Karin bukanlah gadis yang terlalu suka dengan cerita-cerita berbau cinta meskipun ia sendiri bukanlah cewek tomboy.

"Hey, kau gadis pelempar kertas, kan?" ucap seorang lelaki disampingnya yang sejak tadi sibuk membaca sebuah buku. Karin yang sedari tadi memikirkan novel yang akan dibacanya itu tersentak mendengar suara pemuda itu.

Karin memandangi dengan seksama orang yang memanggilnya gadis pelempar kertas itu. Sepertinya ia baru menyadari kalau ia pernah bertemu dengan pemuda ini.

"Kau itu, lelaki aneh yang kemarin dulu, kan?" tanya Karin sambil mengerutkan dahinya.

"Hah! Kau ini, sudah kukatakan, aku ini bukan lelaki aneh!" ujar lelaki itu yang tampaknya mulai kesal mendengar Karin memanggilnya sepeti itu.

"Bagaimana tidak aneh, kau memakai topi hitam dengan kacamata hitam yang besar, juga dengan jas hitam ini." jelas Karin. Pemuda itu hanya geleng-geleng kepala mendengat pengakuan Karin. Bukankah ia sudah mengatakan kalau ini cuman penyamaran? Mengapa gadis aneh itu masih saja menyebutnya aneh?

"Tunggu sebentar disini, aku akan kembali, dan menunjukkan bahwa akuu bukan orang aneh!" ujar pemuda itu. Karin hanya diam saja sambil meneruskan meneliti isi novel itu. Pemuda itu pergi ke salah satu toko, dan membeli salah satu majalah disana. Pemuda itu kembali lagi duduk si samping Karin.

"Lihat, ini aku!" ujarnya sambil menunjukkan cover majalah itu pada Karin. Tangannya menunjuk-nunjuk suatu foto pria yang sedang berpose sambil memegang topi dengan kerennya.

"Benarkah?" tanya Karin datar, seolah-olah tak percaya. Merasa dirinya tak dipercaya, pemuda itu lantas membuka kacamata dan topinya.

"Lihat, ini aku, namaku Kuga Jin. Ini aku, aku itu artis yang sedang naik daun." jelas pemuda yang bernama Jin itu.

"Oh, begitu." jawab Karin datar. Ia langsung membaca novelnya kembali. Ia tahu pemuda itu tampan, tapi ia merasa biasa-biasa saja.

"Kau tidak terkejut padaku?" tanya Jin yang heran melihat tingkah laku Karin. Biasanya gadis-gadis akan teriak histeris ketika tahu kalau dirinya sedang berada disampingnya, tapi tidak untuk yang satu ini. Gadis ini sungguh berbeda.

"Eh?" Karin menoleh pada Jin.

"Memangnya aku harus apa kalau tahu kau itu adalah artis terkenal? Mengatakan pada seluruh dunia kalau aku sedang bersamamu? Meminta tanda tanganmu, atau memintamu berfoto denganku? Lagi pula, aku yakin kau tidak mau berurusan denganku." jelas Karin. Jin sempat melongo mendengar ucapan Karin. Bagaimana tidak, dia merasa telah diacuhkan.

"Hey, ITU JIN KUGA, KAN?" teriak salah satu gadis sambil menunjuk Jin yang sedang bersama Karin.

"Iya, JIN KUGA!"

"JIN!"

"Ah, sial" umpat Jin dalam hati. Ditariknya gadis yang sedang bersamanya itu, kemudian berlari sambil memegang erat tangannya. Jasnya ia lepas, kemudian meletakkannya di wajah Karin, agar tak terlihat siapapun. Karinmau tak mau terpaksa ikut berlari bersama pemuda yang baru saja di kenalnya itu. Sedangkan para fans Jin sedang mengejar-ngejar mereka dari belakang. Untung saja tidak ada tanda-tanda wartawan yang sedang berada di sana.

"Lewat kiri!" perintah Jin. Kini mereka tengah bersembunyi dari kejaran para gadis-gadis sialan yang mengganggu ketenangan hidup Jin. Mereka bersembunyi di lorong kecil diantara gedung-gedung yang menjulang tinggi.
Setelah memastikan para fansnya itu pergi, barulah Jin berani berbicara.

"Hey, kau tidak apa-apa kan?"

"Tidak apa-apa apanya? Aku lelah sekali, tahu!" ujar Karin.

"Oke, aku minta maaf. Tapi ini diluar kendali." bela Jin. Jin merogoh sakunya, mengambil ponsel. Ia memencet mencet nomor seseorang di ponsel touchscreen miliknya itu.

"Jemput aku di dekat restaurant Itali, Ciao itali!" perintahnya. Jin kemudian memasukkan ponselnya kembali kedalam saku.

"Jadi, namamu siapa?" tanya Jin.

"Hanazono Karin. Kenapa memangnya?"

Kazune yang tadinya telah kepergok Karin yang sedang menatap mata Kazusa itu kemudian merapikan dirinya ke posisi semula.

"Maaf, Kazusa." ucap Kazune.

"Ah, tidak apa-apa Kazune." ucap Kazusa sembari melempar senyum kearah Kazune.

"Terimakasih telah menolongku, ya." lanjut Kazusa.

"Iya."

Kazune segera beranjak meninggalkan perpustakaan miliknya itu. Tangan Kazusa kemudian menarik tangan Kazune yang tengah beranjak pergi meninggalkan perpustakaan itu dan dirinya.

"Tunggu!" perintah Kazusa. Kazune menoleh mendengar ucapan Kazusa.

Cup!

Sebuah kecupan mendarat di bibir Kazune. Kazune sempat terkejut, namun ia membalas kecupan itu.

"Jangan tinggalkan aku. Aku merindukanmu." ucap Kazusa sambil terdengar sedikit isakan darinya.

Kazune kemudian memeluk Kazusa, mengeluarkan sejuta perasaan rindu terhadap gadis yang di depannya itu.

"Sungguh! Sungguh aku merindukanmu! Aku sangat takut waktu itu. Kau meninggalkanku seenaknya." ucap Kazune, ia masih tidak melepaskan pelukannya.

"Maafkan aku. Aku hanya tidak rela mengatakan perpisahan denganmu."

"Jadi namamu, Hanazono Karin. Bagus juga."

"Kau menghancurkan waktu bersenang-senangku!" jawab Karin sebal.

"Akan kubayar waktu bersenang-senangmu itu, Hanazono-san." ucap Jin sembari tersenyum.

"Apa maksudmu? Panggil saja Karin, jangan margaku!"

"Tenang saja, Karin, nanti kau juga mengerti."

"Kau kenapa memberitahuku kalau kau itu artis? Memangnya kau tidak takut aku membeberkan kalau kau itu Jin Kuga, si artis?"

"Kalau orang sepertimu, aku tidak takut." ujar Jin. Tak lama setelah itu, sebuah mobil tengah berada di ujung lorong ditempat mereka berada. Jin kemudian memaksa Karin masuk ke mobil itu. Tentu saja Karin menolak. Namun, pada akhirnya Karin menuruti perkataan si rambut hitam itu.

"Kita mau kemana?"

"Sudah, tenang saja."

Tak lama kemudian mobil itu mendarat di salah satu studio.

"Ayo!" ajak Jin. Karin dengan ragu-ragu memasuki ruangan itu.

"Hey Jin! Ayo cepat!" perintah salah satu fotografer.

"Kau temannya Jin, ya?" tanyanya. Karin sempat bingung ingin menjawab apa. Dibilang teman, tapi Karin belum menganggapnya teman. Kalau dibilang bukan teman, untuk apa Jin membawanya kesini? Bisa-bisa orang menganggapnya pacaran dengan Jin.

"Ah, dia temanku." jawab Jin. Dalam hati Karin, ia merasa bersyukur tidak harus menjawab pertanyaan tadi.

"Nah, Karin, kau tunggu sebentar ya, lima belas menit saja!" pinta Jin.

"Baiklah!"

"Tolong dandani dia ya!" perintah Jin kepada salah satu penata rias di ruangan itu. Sesaat kemudian tangan Karin ditarik kedalam suatu ruangan. Ya, tentu saja ruangan yang biasanya digunakan untuk merias para model yang berkerja disana. Beberapa model menatapnya. Mungkin orang baru, pikir mereka. Namun mereka tidak terlalu peduli dengan hal itu. Kini dengan tenang membiarkan dirinya di dandani. Cukup lima belas menit untuk mendandani Karin hingga tampak sempurna. Penata rias itu terkagum-kagum dengan kecantikan yang dimiliki oleh Karin.

"Kau cantik sekali, Hanazono-san!" puji penata rias itu.

"Kau terlalu memuji." ungkap Karin sambil tertawa kecil.

Karin melangkahkan kakinya keluar ruangan itu, memandangi seorang Jin Kuga yang sibuk berpose di depan kamera. Tak berapa lama setelah Karin selesai berdandan, Jin juga telah selesai melakukan pekerjaannya. Kini, sang idola berambut hitam itu tak lelah berdecak kagum melihat kecantikan perempuan yang berada di hadapannya itu, bak seorang dewi.

"Kau cantik." ungkap Jin kepada Karin. Rona memerah sempat tertoreh pada wajah Karin ketika ia mengatakan hal itu.

"Kau terlalu berlebihan." ujar Karin dengan santainya, meskipun iaa tadi sempat memblushing.

"Tolong foto kami!" perintah Jin kepada salah satu fotografer. Jin kemudian menarik tangan Karin.

Karin tanpa ragu berpose dengan anggunnya, sungguh fans Jin akan merasa sangat cemburu dengannya ketika melihat foto itu.

"Kau sepertinya telah biasa berpose di depan kamera. Kau berpose dengan hebat! Kau dari agency mana?"

"Ah, jangan terlalu berlebihan. Memang, dulu aku adalah seorang model di Amerika. Tapi, sekarang aku tak menggelutinya lagi."

"Apakah kau mau bergabung di agency kami?"

"Tentu saja, dengan senang hati."

"Ini kartu namaku. Lain kali kita bicarakan ini. Sepertinya Jin sudah tidak sabar lagi menunggumu. Benar, kan Jin?" tanyanya sambil melirik Jin yang berada di samping Karin.

"Tentu saja."

.

.

.

"Karin, bisakah kau menungguku sebentar lagi saja? Aku melupakan sesuatu."

"Hah! Cepatlah!

Tidak berapa lama, Jin kembali dengan gaya barunya. Rambut wig, dengan mata yang memakai softlens yang sama dengan mata Karin. Penampilan barunya itu sontak membuat Karin tidak mengenalinya.

"Kalau dulu kau memakai ini saja, aku tak akan menyebut makhluk aneh." ujar Karin.

Jin terkekeh mendengar perkataan Karin barusan.

.

.

.

Jin menarik tangan Karin masuk kembali dengan mobil itu. Karin menatapnya kembali.

"Aku tidak akan melakukan apa-apa denganmu. Masuklah, aku orang baik." ujar Jin yang seolah-olah tahu arti tatapan mata itu.

Karin kemudian masuk, meski tak tahu ia akan dibawa kemana.

"Hey, kau mau bawa aku kemana?"

"Tenang saja."

Karin mengernyitkan dahinya.

"Mall?"

"Iya, kita kesini, untuk bersenang-senang!" ujar Jin dengan senangnya.

"Dasar lelaki metroseksual!" umpat Karin dalam dalam hati.

Mereka berjalan menyusuri Mall itu. Mencoba-coba pakaian yang dijajakan di Mall, mencoba makanan-makanan baru, membeli es krim, masuk ke cafe-cafe, sampai makan ke restaurant mewah telah mereka jalani. Kini, mereka berada di depan pintu karaoke. Tanpa ragu mereka memasukinya.

Jin memutar suatu lagu, memang lagu itu miliknya. Ia menyanyi dengan merdu sampai membuat Karin memejamkan matanya menghayati suara Jin. Kini gilirannya. Ia memutar sebuah lagu, menyanyikannya dengan segenap hati, ya lagu YUI yang berjudul STAY.

Kini pemuda berambut hitam itu harus berdecak kagum sekali lagi. Gadis yang dilihatnya kali ini, benar-benar berbakat.

"Kau boleh juga." puji Jin.

"Baguslah kalau kau berpikir seperti itu." Karin tersenyum simpul.

"Kau tak berniat menjadi penyanyi?"

"Tentu saja berminat. Itu impianku sejak kecil." ujar Karin.

"Kalau begitu, aku bisa membantumu!"

"Ah, tidak usah. Aku ingin meraihnya dengan tanganku sendiri. Lagi pula, kudengar ada lomba menyanyi disalah satu stasiun televisi swasta di Jepang, dua bulan lagi. Akan kugunakan kesempatan itu." jelas Karin.

"Kau perempuan yang menarik, dan... "

"... ambisius" tambah Jin.

Kembali diliriknya jam. Ah, sudah hampir jam setengah sembilan malam. Dirinya tak bisa tenang. Sedari tadi ia terus mondar-mandir gelisah memikirkan Karin.

Padahal tadi siang gadis itu mengatakan mau keluar sebentar, dan sekarang sudah jam berapa? Itukah yang ia akatakan sebentar?

Kazune mendengus kesal, sedangkan Himeka dan Kazusa yang melihatnya sedari tadi merasa sangat risih dengan tingkah lakunya.

"Kazune, kau bertingkah seperti ayah yang sedang menunggu kedatangan putrinya yang tak kunjung datang. Oh, tidak, kau seperti seorang kekasih yang tengah menanti kedatangan sang pacar." sindir Kazusa yang merasa cemburu melihat perlakuan Kazune kepada Karin.

"Sudahlah Kazusa, aku sedang malas bertengkar! Lihatlah jam, apa kau tak khawatir?"

"Himeka, berikan nomor telepon Karin padaku!" perintah Kazune.

"Jadi, kau selama ini tak punya no ponselnya? Oh Tuhan, akhirnya aku mendapatkan satu alasan untuk mengatai kakakku yang jenius ini dengan sebutan bodoh." ungkap Himeka. Bagaimana tidak, Karin telah lama tinggal dirumah mereka, bahkan Kazune sempat dekat dengan Karin, bagaimana mungkin dia tak punya nomor ponselnya?

"Hah! Memangnya aku ada perlu apa dengan si nenek sihir itu, sampai-sampai harus meminta nomor ponselnya?" ujar Kazune. Himeka dan Kazusa sweatdrop mendengar ucapan Kazune. Karin adalah pelayan pribadinya, karyamannya, bahkan ia adalah guru Karin ketika mengikuti persiapan ujian itu, bagaimana bisa dia mengatakan, ia tidak memiliki kepentingan apa-apa dengan Karin.

"Sudahlah, cepat berikan!" perintah Kazune pada Himeka.

"Terimakasih atas pujianmu. Oh ya, aku harus pulang, ini sudah malam. Sampai jumpa." ucap Karin sembari berjalan menuju pintu. Ia kemudian berhenti sesaat, menyadari kalau ada yang kurang. Ya, novelnya. Novelnya hilang.

"Kenapa?" tanya Jin.

"Novelku yang ditaman tadi, hilang."

"Sudahlah, akan kuganti. Palingan juga novel cinta."

"Hah, itu novel cinta yang pertama yang kubeli, bahkan membacanya saja belum."

"Sudahlah, ikhlaskan saja." jawab Jin dengan entengnya. Karin hanya mendengus kesal.

"Ayo kuantar pulang, ini sudah malam."

"Ya sudah, aku ikut denganmu."

.

.

.

"Turunkan aku disini saja, Jin."

"Baiklah. Pak, berhenti!"

Tiba-tiba ponsel Karin berdering. Entah siapa yang menelponnya.

"Halo?" ucap Karin dengan tenangnya.

"KARIN, KAU DIMANA?" ucap seseorang yang menelponnya. Ia tahu betul siapa pemilik suara itu, Kujyo Kazune. Karin seketika menjauhkan ponselnya dari telinganya itu. Kazune berteriak terlalu keras padanya, membuat telinga sakit.

"Aku sedang berada di persimpangan dekat rumah." ucap Karin dengan santainya.

"KAU INI! TUNGGU AKU DISANA!" teriak Kazune.

Tut tut tut

Panggilan itu ditutup. Karin segera turun dari mobil itu.

"Aku turun disini, terimakasih." ucap Karin, sambil menundukkan tubuhnya.

"Aku akan menunggu sampai kau dijemput orang itu." tawar Jin.

"Terserah kau saja."

.

.

Jin kemudian melepaskan wignya, serta topinya, hingga tampaklah wajah asli pemuda berambut gelap itu. Karin kemudian terkejut dengan tingkah Jin yang melepaskan penyamarannya itu.

"Kenapa dilepas?"

"Aku bosan memakainya."

Tampak dari kejauhan Kazune sedang berjalan ke arah mereka. Jin membulatkan matanya ketika yang ia lihat adalah sosok Kazune Kujyo, rivalnya.

Kazune semakin mendekat kearah mereka. Diliriknya sang pemilik rambut hitam itu, kemudian ia menarik tangan Karin pergi secara paksa meninggalkan Jin.

"Kau apa-apaan sih!" ujar Karin sambil melepaskan pegangan Kazune yang begitu erat pada tangannya.

"Jangan dekati dia!" titah Kazune. Bukan tanpa alasan Kazune memerintahnya seperti itu, ia tahu sekali sifat pemuda berambut gelap tadi. Jin adalah seorang playboy. Dia bisa saja dengan mudahnya mempermainkan perempuan. Tapi dia hanya tak ingin salah satu korbannya adalah Karin.

Kazune tetap tidak melepaskan tangan Karin. Tangannya begitu kuat memegang tangan gadis itu.

Ada sedikit rasa kesal dalam hatinya, entah kenapa.

Tanpa tersadar, karena menarik tangan Karin secara paksa, Karin terjatuh tersandung batu.

"Arrrgh!" Kazune menoleh kebelakang. Karin terjatuh dan tersandung. Lututnya berdarah. Mungkin karena ia berjalan terlalu cepat dan menarik tangannya terlalu kencang. Sedetik kemudian, Kazune merasa bersalah kepada Karin.

"Karin, maaf."

"Lututmu... "

"Sudah, ayo jalan!" perintah Karin. Tampak sekali terdengar nada kesal dari suaranya. Kini Kazune tak lagi menggenggam erat tangannya seperti tadi, namun kini Karin berjalan dengan sedikit tertatih. Kazune merasa iba melihatnya. Digendongnya Karin dengan ala bridal style.

"Turunkan aku!" pinta Karin.

Kazune tak bergeming sama sekali.

"Turunkan aku!" Karin meronta-ronta kepada Kazune.

"Kau jalan lambat sekali!"

"Turunkan aku!" Kini terdapat linangan air mata. Kazune tetap tak bergeming.

Kini mereka sudah sampai rumah.

Kazusa dan Himeka heran dengan apa yang terjadi. Kazune kemudian mendudukkan Karin pada sofa di ruang tamu.

"Kau, diam disitu, sampai aku kembali!" perintah Kazune pada Karin. Kazune segera mengambil kotak P3K.

"Diam, jangan bergerak!" ucap Kazune pada Karin ketika Kazune membersihkan luka Karin. Terdengar rintihan-rintihan kesakitan dari Karin. Meski begitu, bukan berarti Kazune bertindak kasar pada Karin. Ia sudah berusaha selembut mungkin, tadi. Melihat kejadian itu, ada bara-bara cemburu tertanam pada hati Kazusa. Melihat Kazune mencemaskan Karin, menggendong Karin, membersihkan luka Karin, sangat membuat hatinya terbakar. Bahkan Kazune tak pernah sekalipun menggendongnya meskipun ia sedang terluka. Setelah selesai, Kazune langsung melangkah ke kamarnya, tanpa mengucapkan sepatah katapun pada Karin.

"Karin, kau kenapa?" tanya Himeka pada Karin. Ia benar-benar tidak mengerti apa sedang terjadi.

"Ah, tidak apa-apa kok. Aku ke kamar duluan ya, Himeka, Kazusa." ujar Karin, sambil tak lupa memberi senyum kepada mereka.

Dengan gontai Karin melangkahkan kakinya menuju kamarnya. Dilihatnya kembali tugasnya yang masih tergeletak diatas meja. Alangkah terkejutnya ia menyadari bahwa soal-soal yang belum dijawabnya tadi siang, kini telah selesai tanpa tersisa satu soalpun yang kosong.

"Terimakasih, Kazune." gumamnya.

Dilangkahkannya kakinya menuju tempat tidur. Ia duduk ditepi kasurnya, mengingat-ingat kembali kejadian hari ini.

.

.

.

Kazune kembali menimang-nimang keputusannya untuk meminta maaf pada Karin. Disatu sisi, ia memang merasa bersalah, tapi disisi lain, ia merasa gengsi meninta maaf secara tulus pada Karin. Harga dirinya terlalu tinggi hanya untuk meminta maaf. Akhirnya Kazune membulatkan tekadnya untuk meminta maaf kepada Karin.

Diketuknya pintu kamar Karin.

"Masuk, tak dikunci." jawab Karin. Kazune dengan masuk perlahan. Ditatapnya Karin yang sedang duduk di tepi ranjangnya. Karin sama sekali tak bergeming. Kazune kemudian duduk disampingnya.

"Karin, maafkan aku. Aku tak bermaksud membuatmu menangis, tadi."

"Tidak apa-apa, memang salahku. Aku lupa waktu. Aku juga minta maaf." ujar Karin sembari tersenyum kepada Kazune. Kazune sedikit lega mendengar ucapan Karin.

"Iya, tak apa. Selamat tidur."

Kazune beranjak pergi meninggalkan kamar itu.

"Kazune!" panggil Karin. Kazune kemudian menoleh.

"Hn?"

"Terimakasih sudah mengerjakan pr ku."

"Oh, iya. Aku hanya iseng mengerjakannya." jawab Kazune. Meski ia tadi berkata begitu, perkataannya tidaklah benar. Bohong jika Kazune mengatakan kalau ia iseng. Ketika ia mencari-cari Karin, pada sore itu, ia tak sengaja melihat tugas itu. Berpikir kalau Karin keluar karena merasa tidak bisa mengerjakannya, dia berinisiatif mengerjakannya.

Kazune merebahkan tubuhnya pada kasur yang lembut itu. Memejamkan matanya, sampai kemudian ia terbawa ke alam mimpi.

Kazune bangun pagi-pagi sekali hari ini. Jam menunjukkan tepat jam 3 pagi. Ia kemudian mengguyurkan tubuhnya dengan air. Membuat tubuhnya segar kembali. Kembali ia melangkahkan kakinya ke depan pintu kamar Karin. Diketuknya pintu itu berulang kali, namun tak mendapat jawaban sama sekali. Dipanggil-panggilnya nama Karin, namun tetap tak mendapat sahutan. Akhirnya Kazune mengambil kunci kamar Karin yang ia miliki juga. Dibukanya pintu itu perlahan. Dilihatnya Karin yang masih tertidur dengan pulasnya.

"Karin, bangun!" perintah Kazune sambil menggoyang-goyangkan tubuh Karin agar terbangun. Akhirnya kerjanya itu membuahkan hasil. Karin bangun meskipun masih setengah sadar.

"Kazune, ini masih pagi sekali, kau mau apa?" tanya Karin dengan mata masih setengah mata tertutup.

"Ayo temani aku olahraga! Kau kan pelayanku!"

"Iya iya." dengan malas Karin mengambil pakaian olahraganya di lemari, kemudian pergi mandi. Setelah selesai mereka meninggalkan rumah.

Langit masih gelap. Hampir tidak ada orang yang berlalu lalang. Kazune dan Karin berlari-lari kecil di sekitar rumah.

"Kazune, sebenarnya ada yang ingin kukatakan padamu. Hal ini sangat bergejolak di hatiku, sangat bergejolak. Tapi, aku takut mengatakannya padamu. Takut kalau kau tak menerima itu."

"Katakan saja." Kazune berpikir mungkin Karin menyukainya, dilihat dari fisik Kazune, dia memang keren.

"Ano... Sebenarnya, aku mau bilang kalau... kalau kau itu cantik."

DUAAAR!

Kazune bagai tersambar petir mendengar ucapan Karin. Seorang gadis menyebutnya cantik? Oh Tuhan, rasanya ingin mati saja.

Guk guk guk!

"Wah, ada anak anjing." seru Kazune kala melihat seekor anak anjing berada disampingnya.

"A... Apa kau bilang? An... Anjing?" tanya Karin tanpa menoleh sedikitpun. Kepalanya tetap lurus mengarah ke depan.

"Ya, ini dia." jawab Kazune sambil mengangkat anak anjing itu, dan memperlihatkannya pada Karin. Tubuh Karin bergetar. Guk!

"TIDAAAAAAK!" Karin berlari terbirit-birit meninggalkan Kazune dan anjing itu. Anjing itu kemudian melepaskan diri dan ikut mengejar Karin. Karin berlari tidak karuan, ia terus berlari menuju rumah yang biasa ia tinggalkan.

"KARIN!" Kazune berteriak.

Kazune ikut berlari mengejar mereka, namun Karin ternyata berlari ke taman, menaiki pohon, untuk menghindari si anjing kecil. Kazune kemudian mengusir anjing kecil itu, dan akhirnya anjing kecil itu akhirnya pergi.

"Haahaahahaha!" Kazune tertawa keras melihat tingkah Karin yang aneh itu. Meski tingkahnya tak jauh berbeda dengannya jika bertemu serangga.

"Karin, turunlah, anjingnya sudah pergi sekarang."

"Tidak mau!"

"Ayo turun!"

"aku takut anjing itu kembali lagi. Gendong aku!"

"Hah! Baiklah. Turun!"

Sesaat kemudian Karin turun dari pohon itu. Kazune lalu menggendongnya berjalan menuju rumahnya.

"Kenapa aku selalu berakhir dengan menggendongmu, ya?" keluh Kazune.

"Karena itu takdir." ujar Karin sambil tertawa mendengar keluhan Kazune.

Siang ini, Kazusa pergi ke sekolah lamanya itu. Ia sedang mengikuti ujian memasuki kelas A+.

Tampak seorang lagi memasuki ruangan ujian itu. Sama seperti Karin dulu, ujian itu berlangsung dengan menegangkan.

Akhirnya setelah beberapa saat, kedua orang itu keluar dari ruang ujian.

"Kau, murid baru ya?"

"Iya."

"Salam kenal. Namaku, Masaya Kazusa."

"Salam kenal juga. Namaku, Kuga Jin."

TBC

Huaaaah, selesai juga! Dengan susah payah akhirnya saya meng-apdet chap ini, agar kalian tidak kudet seperti iklan di tipi-tipi.

Terimakasih untuk yang sudah me-repiew chap sebelum-sebelumnya.

Tenang, disini, Karinnya orang tegar kok, seperti lagu Rossa yang berjudul tegar XD

Kazusanya OOC ya XD

abisnya Maryam bosen kalau selalu Rika menjadi pihak ketiga.

Untuk para fans Kazurin, ayo dukung pairing ini, dengan ketik REG (spasi) Kazurin kirim ke 6288 #loh?

Ini fic pertama, jadi gomen kalau tidak menarik ya T^T

Menurut kalian, untuk fic pertama, ini fic bisa di kasih nilai berapa ya?

Ya udah, ga penting!

Untuk para Kazurin, ingat ya, Kazune itu, cowokku. Saya ingatkan sekali lagi, KAZUNE ITU COWOKKU! XD

Terimakasih yang sudah meluangkan waktu membaca fic abal-abal ini ^o^