Kahika Café
Kamichama Karin©Koge Donbo
Kahika Café ©Hanazawa Maryam
Rated : T
WARNING: Typo, alurnya berantakan, OOC, De EL EL

Chapter 8

"Salam kenal. Namaku, Masaya Kazusa."

"Salam kenal juga. Namaku, Kuga Jin."

"Tunggu, kau ini, pemain ballet, bukan?" tanya Jin sambil mengingat-ingat sebuah peristiwa.

"Ya, memangnya kenapa?" tanya Kazusa.

"Dunia ini memang kecil, ya. Aku sempat beberapa kali melihat pertunjukanmu sewaktu aku konser di sana. Kau hebat!"

"Sebuah kebanggaan untukku, Kuga-san berkata seperti itu."

"Santai saja. Panggil saja aku Jin."

Kahika Cafe kini tengah sibuk melayani para pengunjung yang semakin ramai berdatangan. Apalagi, jika Kazune ada di Cafe itu. Para gadis-gadis semakin semangat mendatangi cafe itu.

"Anda pesan apa?" tanya salah satu pelayan bermata emerald berambut twintail.

"Chicken teriyaki, 2."

Pelayan itu dengan sigap mengantar pesanan-pesanan.

.

Seorang pemuda datang ke cafe itu. Ia berpakaian jas, dengan rambut wig, serta topi. Menimbulkan rasa curiga Kazune pada pemuda itu. Karin yang ingin melayani tamu itu, segera di cegah oleh Kazune. Kazune melangkahkan kakinya menuju tempat dimana tamu itu duduk.

"Anda, ingin pesan apa, Tuan?" tanya Kazune.

"Tidak bisa kah, pelayan yang disana itu yang melayani,ku?" ujarnya sambil menunjuk Karin yang tengah sibuk melayani tamu lainnya. Kazune kemudian melirik Karin. Ia lalu menghela nafas.

"Pelayan itu sedang sibuk. Jadi, Anda pesan apa?"

"Saya pesan gadis itu." ujarnya sambil menunjuk Karin.

"Maaf, kami tidak menjual manusia." jawab Kazune. Ia mulai tampak kesal dengan pemuda yang memakai wig itu.

"Bukan, dia bukan manusia. Dia dewi."

"Berhentilah bercanda! Jangan coba-coba mendekatinya!" perintah Kazune. Ia tahu siapa yang berada di depannya itu.

"Memangnya kenapa? Ada masalah?" tanyanya.

"Dengar, dia tidaklah sama dengan gadis-gadis yang kau jumpai."

"Iya, aku tahu. Karena itu aku suka padanya."

Mendengar perkataan pemuda itu, telinga, hati, dan tangan Kazune pun menjadi panas. Karin yang melihat Kazune seperti itu kemudian menghampiri Kazune.

"Kenapa?" bisiknya pada telinga Kazune.

Pemuda itu terus memandangi Karin. Karin yang dilihat seperti itu semakin merasa risih. Karin semakin memandangi pemuda itu. Rasa-rasanya ia pernah melihatnya.

"Kau, orang aneh itu, kan?" tanya Karin dengan polosnya. Mengatai orang dengan sebutan orang aneh, apalagi orang itu sudah mentraktir, menemanimu sepanjang hari, dan sempat mengenalmu, itu sangatlah tidak sopan.

"Kau ini, selalu saja memanggilku seperti itu." ujarnya jengkel.

"Lalu, aku harus memanggilmu apa?"

"Panggil aku pemuda tampan."

Ketika Karin mendengar ucapan itu, Karin langsung beranjak pergi meninggalkan mereka berdua.

Jin hanya duduk melongo. Belum ada perempuan yang mengacuhkannya seperti itu.

Melihat Karin pergi meninggalkan Jin, Kazune kemudian menjulurkan lidahnya pada Jin. Jin hanya mendengus kesal.

"Tuan muda, ada tamu sedang menunggu." ucap seorang pelayan bernama Kyuu-chan.

"Baik. Terimakasih." jawab Kazune datar. Karin yang sedang bersamanya tidak merasa tertarik sedikitpun untuk mengetahui siapa tamu itu.

"Karin, kau tunggu disini ya!"

"Baik."

Dengan malas Kazune harus melangkahkan kakinya menuju ruang tamu pada lantai dasar rumahnya. Matanya membulat ketika mengetahui orang yang datang itu.

"Hai!" sapa Jin.

"Mau apa kau?" tanya Kazune. Dari raut wajahnya tampak bahwa ia tidak menyukai kedatangan Jin.

"Boleh aku bertemu Karin?"

"Hah!" Kazune menghela nafas.

"Baiklah. Karena kau sudah susah payah datang kemari, akan kupanggilkan dia."

"KARIN! KARIN!" teriak Kazune untuk memanggil Karin. Tampak sekali tersirat intonasi kekesalan disana.

"Apa? Tak bisakah kau tak berte... " ucapan Karin terputus ketika melihat siapa yang datang.

"Eh, Jin?"

"Ka... Karin?" Jin terkejut ketika melihat pakaian Karin yang seperti itu. Ia memakai pakaian maid.

"Kenapa? Kau menyesal mengenalku? Aku pelayan disini."ucap Karin.

"Tidak. Aku tak peduli pekerjaanmu apa, yang penting kau adalah Karin." ucapnya dengan mantap. Entah apa yang menyelimuti hati Jin kali ini. Rasanya ia sangat tertarik dengan Karin. Ia belum pernah merasakan ini sebelumnya, meskipun ia telah banyak mengencani gadis-gadis. Rasanya ia selalu ingin tersenyum ketika melihat wajah gadis itu. Semua pertemuan tak terduga itu seperti cerita pada dorama dorama di televisi, tapi bedanya, ini nyata, nyata terjadi padanya.

"Baguslah." ucap Karin sembari tersenyum.

"Kazune, bolehkah aku membawanya pergi malam ini? Kupastikan tak sampai larut malam."

"Terserah Karin saja." jawabnya kesal. Entah kenapa rasanya ingin selalu menonjok wajah artis berambut hitam itu.

"Kalau begitu, tunggu sebentar ya, aku ganti pakaian dulu." ujar Karin.

Beberapa saat kemudian, ia telah siap untuk pergi.

Karin tampil cantik seperti biasanya.

"Ayo!" ajak Jin.

"Terimakasih ya, beautiful boy." bisik Jin pada telinga Kazune, yang membuat suhu, dan hatinya semakin panas.

"Hati-hati ya, Jinny Oh Jinny!" teriak Kazune pada Jin. Jin yang mendengar hal itu, hanya bisa menggeram dalam hati. Tidak mungkin ia melawannya sekarang, bisa-bisa makan malamnya dengan Karin terancam gagal.

"Hey Kazune, kau kenapa?" tanya Himeka yang melihat tingkah kakaknya itu. Wajahnya musam, kusam, dan awut-awutan seperti tong sampah. Kazune tidak berhenti mengunyah dengan kasar cemilan yang berada di tangannya itu. Matanya lurus menonton TV, tetapi pikirannya melayang mengawang entah kenapa.

"Hey, KAZUNE!" teriak Himeka. Kazune sontak terkejut.

"Kau ini, mengejutkanku saja. Bagaimana kalau aku mati karena serangan jantung? Kau mau tanggung jawab, hah!" ucap Kazune. Ia sangat terkejut ketika tadi Himeka memanggilnya seperti itu. Rasanya jantungnya mau copot.

"Kalau kau mati, aku senang kok. Oh ya, mana Karin?"

"Pergi." ucap Kazune dengan nada sebal.

"Kemana?" tanya Himeka lagi.

"Makan malam dengan orang bodoh itu."

"Orang bodoh? Siapa yang kau maksud?" tanya Himeka yang mulai tertarik dengan obrolan ini.

"Siapa lagi kalau bukan si Kuga itu."

"Oh, jadi kau cemburu, ya?" goda Himeka.

"Eh, enak saja. Untuk apa cemburu padanya. Aku kan tidak menyukainya, untuk apa cemburu. Aku sudah menyukai Kazusa, ingat itu!"

"Oh ya? Terus kenapa wajahmu kesal seperti itu? Kau menyukai Kazusa? Sejujurnya, aku lebih senang jika kau lebih menyukai Karin." ungkap Himeka.

"Aku kesal karena si bodoh itu. Kenapa kau berkata begitu, Himeka? Kazusa itu kan, lebih cantik, pintar, baik pula."

"Meskipun ia tidak lebih cantik dari Kazusa, dan juga sepertinya juga tidak lebih pintar dari Kazusa, tapi Karin jauh lebih baik dari Kazusa." ungkap Himeka. Menurut Kazune, perkataan Himeka memang ada benarnya. Ia sendiri bahkan tak mengerti perasaannya sebenarnya pada Karin. Terkadang ia merasa jengkel dengannya, terkadang merasa senang dengannya, terkadang juga ada perasaan ingin melindungi gadis itu. Entahlah, entah apa maksud perasaannya itu. Apakah ia menyukai gadis itu, ia juga tak tahu. Ada rasa gejolak dalam dadanya saat melihat Karin, dan ada juga perasaan senang ketika melihatnya. Ia sendiri juga tak tahu kenapa.

"Perkenalkan, namaku Masaya Kazusa. Salam kenal, mohon bantuannya."

"Perkenalkan, namaku Kuga Jin. Salam kenal."

Kedatangan kedua orang itu menimbulkan riuh di kelas itu. Seorang gadis cantik dan salah satu artis terkenal masuk ke kelas mereka.

"Hey, Hanazono Karin." ucap Jin pada Karin yang sedang kaget melihat kedatangan Jin sebagai murid baru disekolahnya. Jin bahkan tak pernah membicarakan hal itu.

Sontak hampir seluruh murid memandangi Karin dengan tatapan seolah-olah 'Kau kenal dengan Jin?'

"Hai juga." cengir Karin.

.

.

.

Bel istirahat tiba. Sejak tadi Kazusa terus saja menempel pada Kazune. Risih. Itu kata yang tepat ketika Karin melihatnya. Kini ia sendirian makan. Himeka sedang asyik bersama Michi, Kazune dengan Kazusa, Miyon sedang sibuk, Jin sedang di kerumuni para fans nya.

"Hah!" Karin menghela nafas. Diliriknya Kazune dan Kazusa yang tengah makan bersama. Uh, entah kenapa ia merasa kesal, dan entah sejak kapan pula iya mulai memperhatikan Kazune.

Selera makannya kini hilang.

.

.

Bel masuk berbunyi.

Dengan gontai Karin memasuki kelas. Rasanya ia ingin sekali bolos.

.

.

"Minggu depan, kita mengadakan camping. Persiapkan segalanya! Pukul 9 semuanya harus sudah sampai disekolah. Kita berkemah ke hutan."

"Kemah? YESSS!" teriak Karin dengan noraknya. Membuat semua orang menatap Karin.

"Maaf." ucap Karin nyengir.

"Ya sudah. Tak apa Hanazono-san.

Nah, saya akan membagi kelompok-kelompok untuk perkemahan ini. Disana kita akan membuat games, jadi untuk itulah kelompok itu dibuat. Saya harap sesama kelompok dapat berdekatan terus ketika dalam perjalan.

Satu kelompok, tiga orang.

Saya akan bacakan namanya.

... Himeka Kujyo, Michiru, kelompok 4 Jin Kuga Karin Hanazono, Kazune Kujyo. Kelompok 5 Kazusa Masaya... "

Tanpa terasa akhirnya bel tanda pulang telah berbunyi. Bunyi yang paling ditunggu-tunggu oleh Karin. Bunyi yang paling indah diantara semua bunyi.

Tampaknya ada satu orang lagi yang bergabung dengan mereka ketika pulang. Yah, siapa lagi kalau bukan Kazusa. Makhluk itu terus saja menempel dengan Kazune. Menyebalkan. Jika saja bukan karena ia adalah pelayan, ia pasti pergi jauh-jauh dari mereka sekarang.

"Karin, kita tidak usah ke Cafe ya, aku sedang bosan. Temani aku pergi jalan-jalan saja ya!" pinta Kazune. Kazusa menoleh ke arah Kazune.

"Terserahmu." jawab Karin datar.

"Wah, sayang sekali, aku hari ini ada latihan. Padahal aku ingin sekali pergi bersama kalian." ucap Kazusa sambil tersenyum.

"Ah, Bagaimana kalau kami berkunjung melihatmu latihan hari ini?" saran Kazune.

"Ide bagus!" ujar Kazusa. Karin hanya bisa mendelik kesal dalam hati. Betapa menyebalkan harus melihatnya latihan hari ini. Baginya lebih baik sibuk bekerja di cafe daripada harus melihat latihannya.

"Kazune, bagaimana kalau Karin bersamaku saja? Aku mau mengajaknya jalan-jalan." saran Himeka. Sepertinya ia tahu suasana hati Karin. Sedari tadi Karin hanya diam saja.

"Tidak bisa. Dia harus bersamaku!" tolak Kazune.

"Karin!" panggil Jin sambil berlari-lari menyusul Karin.

"Hai Jin." ucap Karin sambil melemparkan senyum kearah Jin.

"Kau ada waktu? Bagaimana kalau kita pergi?" tanya Jin.

Belum sempat Karin menjawab, ternyata Kazune lebih dulu angkat bicara.

"Tidak bisa! Dia akan pergi bersamaku. Lagian kan, kau kan sibuk. Bagaimana bisa mengajak Karin?"

"Hari ini jadwalku tidak terlalu penuh. Lagi pula, seandainya aku sibuk, aku akan meluangkan waktuku bersama Karin meskipun hanya sedikit." ujar Jin.

"Eh?" Karin sedikit terkejut mendengar pengakuan Jin.

Hanya tak menyangka kalau Jin akan mengatakan itu.

"Mereka akan menemaniku latihan hari ini, Jin."

"Benarkah? Aku ikut ya!"

"Tidak boleh!" tolak Kazune.

"Boleh!" seru Jin.

"Tidak!"

"Boleh!"

"Tidak!"

"Kalian bisa diam, tidak sih? Lihat tuh muka Karin, udah seperti kertas awut-awutan!" ujar Michi yang mulai gerah melihat tingkah mereka berdua.

"Baiklah, kita berpisah disini ya, aku dan Michi akan pergi ke cafe." ujar Himeka.

Kini hanya mereka berempat yang berjalan. Disepanjang perjalanan Kazune dan Jin terus saja bertengkar. Karin semakin kesal saja. Mereka bagai kucing dan tikus. Selalu saja ribut. Sedangkan Kazusa sedari tadi sibuk tertawa melihat kelakuan mereka.

Akhirnya mereka tiba di tempat latihan ballet Kazusa. Kazusa segera mengganti pakaiannya, meninggalkan Karin, Kazune dan Jin.

.

.

Kazusa meliak-liukkan tubuhnya dengan indah. Wajahnya yang cantik, serta berbakat merupakan salah satu daya tariknya. Ia tak lagi memperhatikan Kazune dan yang lainnya. Ia hanya fokus untuk menari. Menari sebaik mungkin, karena ia tahu ia sedang di perhatikan oleh orang yang disukainya.

"Karin, lihat ini. Bagus bukan? Bagaimana kalau yang ini?" tanya Jin pada Karin sambil menunjuk-tunjuk beberapa tempat wisata yang terdapat pada layar Ipad miliknya.

"Yang ini lebih keren." ujar Karin sambil menunjuk sebuah pantai yang sangat indah.

Kazune kemudian memperhatikan tingkah kedua orang itu.

"Hey, harusnya kalian kesini itu, memperhatikan Kazusa. Bukan malahnya sibuk melihat gambar-gambar tidak jelas seperti itu." ujar Kazune.

"Biarin. Lagian apanya yang tidak jelas? Jelas-jelas ini semua gambar tempat wisata. Bagus lagi!" ucap Karin.

"Week!" Jin menjulurkan lidahnya kepada Kazune. Membalas perlakuan Kazune yang dulu sempat mengejeknya ketika di cafe dulu.

Jin melihat jam pada tangannya. Sudah seharusnya ia kembali bekerja pada jam itu.

Dengan sangat menyesal dan berrat hati, jin harus mengatakan bahwa ia harus pergi.

"Karin, sepertinya aku harus kembali bekerja." ucap Jin.

"Oh. Ya sudah. Pergilah!" kata Karin sembari tak lupa tersenyum pada Jin.

"Kalau begitu, kita pulang juga ya, Karin. Aku bosan." ajak Kazune.

Jin memberikan kode pada Kazusa agar Kazusa berhenti sebentar. Sepertinya Kazusa tahu apa yang dimaksud oleh Jin. Ia menghentikan permainannya sebentar, kemudian mendekat pada mereka.

"Kami mau pulang. Sampai jumpa, Kazusa." ujar Jin.

"Sampai jumpa." ucap Kazune.

"Iya, sampai jumpa."

"Karin, kita pergi jalan-jalan ya, aku bosan." ungkap Kazune.

"Apa? Pergi jalan-jalan kemana lagi? Bukannya tadi sudah?" tanya Karin kesal. Baru saja pergi, sekarang sudah mau pergi lagi.

"Kita ke taman bermain saja! Bagaimana?"

"Hah! Yasudahlah."

.

.

.

"Wah, disini banyak sekali bunga sakuranya." ujar Karin terkagum-kagum melihat banyaknya bunga sakura yang bermekaran di taman ini.

Indah. Itu kata yang tepat untuk menggambarkan suasana itu.

"Ayo kesana!" ajak Kazune sambil menarik tangan Karin.

Belum sempat mereka sampai ke tempat tujuannya, mereka melihat seorang anak perempuan tengah menangis.

"Hey adik kecil, kau kenapa?" tanya Karin yang merasa kasihan melihatnya menangis. Sepertinya ia terpisah dari orangtuanya.

Bukannya menjawab pertanyaan Karin, anak itu langsung berlari ke pelukan Kazune.

"Kakak!" rengeknya sambil memeluk pinggang Kazune.

Kazune yang memang tak pernah mengenal anak itu malah terbengong sendiri, tak tahu apa yang harus dilakukan.

"Hey, adik kecil, sini!" ucap Karin sambil menarik tubuh anak perempuan itu agar tak terus menerus memeluk Kazune.

"Heh, kau jangan ganggu kemesraan kami! Pergi sana! Dasar jelek!" ujar anak itu sambil memberikan death glarenya pada Karin. Karin dan Kazune kaget melihat tingkah anak itu.

"Dasar anak menyebalkan! Masih kecil sudah ganjen! Awas kau!" umpat Karin dalam hati.

"Hey, bisakah kau melepaskan pelukanmu?" perintah Kazune.

"Kalau kakak yang mengatakannya, baiklah. Ayo cari mamaku!" ucapnya, lalu kemudian ia menarik tangan Kazune menjelajahi taman itu. Karin terpaksa mengikutinya, termasuk dengan Kazune.

"Kakak! Lihat itu! Ada lolipop. Bisakah kau belikan untukku?" pinta anak perempuan berambut honey blonde itu.

"Karin, belikan! Uangnya nanti kubayar." perintah Kazune. Dari raut wajah Kazune, tampak sekali ia malas meladeni anak perempuan itu. Dengan malas Karin membelikan lolipop itu untuknya.

"Kak, ada harum manis! Belikan!"

"Karin, tolong belikan!"

"Kak, ada bakso!"

"Karin, tolong belikan!"

"Kak, aku mau boneka itu!"

"Karin, tolong belikan!"

"Kak, aku mau balon itu!"

"Karin, tolong belikan!"

Dengan wajah yang amat kesal, Karin dengan sangat terpaksa harus menerima perintah dari Kazune untuk anak menyebalkan itu. Di tengah perjalanan, ia melihat seorang ibu yang mirip sekali dengan anak itu dan sepertinya ia sedang mencari sesuatu.

"Kazune, mungkin itu ibunya!" ujar Karin pada Kazune sambil setengah berteriak.

"Ibu!" anak perempuan itu pergi begitu saja dari Kazune berlari meninggalkan mereka. Ibunya langsung memeluk anaknya dan mendekat menghampiri Karin dan Kazune yang wajahnya merasa sangat lega karena tak harus direpotkan oleh anak itu.

"Maaf sudah merepotkan kalian. Ini, uangnya kuganti. Dan terimakasih." ujar Ibu itu sambil menyerahkan beberapa lembar kertas uang pada Karin.

"Kakak, tunggu aku ya! Hanya beberapa tahun lagi. Aku akan menikahi kakak!" ucap anak perempuan itu sambil pergi meninggalkan mereka.

"Apa-apaan anak itu." gumam Karin. Kaazune hanya bisa melongo mendengar ucapan anak itu. Masih kecil sudah ganjen.

"Karin, belikan aku minuman itu!" perintah Kazune. Karin yang mendengar perintah itu semakin kesal.

"Hah!" teriak Karin sambil mengacak rambutnya.

"Tahukah kau betapa menyebalkannya hari ini untukku! Kau menyuruhku pergi menemanimu ke tempat latihan Kazusa yang sama sekali aku tak berminat sedikitpun mendatanginya, lalu kemudian kau suruh lagi aku menemanimu ke taman itu. Dan kemudian ditambah lagi dengan anak itu. Aku semakin kesal. Belum sempat aku bernapas lega dengan kepulangannya dengan ibunya itu, kau sudah menyuruhku kembali! Hah! Kalau begini terus, aku bisa GILA! Hah! Aku pergi saja kalau begitu!" ucap Karin. Kemudian kakinya melangkah pergi meninggalkan Kazune.

"Karin!" Kazune menyusulnya, kemudian menarik tangannya. Dalam satu tarikan, tubuh Karin sudah berbalik menghadap Kazune.

Cup!

Bunga sakura berterbangan ke seluruh penjuru. Menambah suasana indah pada peristiwa itu.

Bibir Kazune tepat menyentuh bibir Karin. Mata Karin terbelalak, kaget dengan apa yang dilakukan Kazune. Namun tubuhnya terasa nyaman dengan ciuman itu.

"Maaf, Karin." ujar Kazune sambil melepaskan ciumannya pada bibir Karin. Kedua wajah mereka bersemu merah.

"Ka... Kazune... "

.

.

"A... Ayo kutraktir makan es krim!" ajak Kazune. Ditariknya tangan Karin menuju tempat es krim itu.

"Kau mau rasa apa, Karin?"

"Ra... Rasa blueberry."

"Rasa blueberry dan rasa coklat, masing-masing satu." ujar Kazune.

Setelah es krim itu berada di tangan mereka, Karin dan Kazune kemudian duduk di salah satu bangku taman di dekat pohon sakura. Keduanya diam. Masih ada semburat merah di wajah mereka. Kazune mencoba menstabilkan emosinya. Mencoba kembali ke emosi dasarnya. Kembali cuek dan sok dingin. Di kepalanya kembali terbayang peristiwa beberapa menit yang lalu. Sebuah adegan romantis yang sering dilakukan sepasang kekasih. Entah apa yang membuatnya mencium Karin, tadi. Tubuhnya seolah bergerak sendiri tanpa diperintah. Beda. Ciuman itu berbeda. Ada perasaan hangat menjalar dalam dirinya. Dan ketika itu pula gejolak dalam dadanya sangat sesak. Entah apa itu, ia sendiri juga belum mengetahuinya. Kazusa. Terlintas di benaknya tentang Kazusa. Apa yang ia lakukan tadi? Mencium perempuan selain dirinya? Sedangkan ia tahu kalau dirinya menyukai Kazusa. Tapi, setelah dipikir, ciuman itu bukanlah suatu kesalahan. Toh, sebenarnya ia dan Kazusa tak memiliki suatu ikatan. Meski ia pernah mengutarakan perasaannya, dan Kazusa juga mengatakan bahwa ia juga menyukai Kazune, tetap saja Kazusa tidak ingin memiliki suatu ikatan dengan Kazune. Kembali diliriknya gadis yang bersama dengannya itu, yang tengah memakan es krim blueberry itu.

Ditariknya nafasnya dengan panjang, kemudian dikeluarkannya untuk menghilangkan kegugupan.

Kemudian ia bangkit dari tempat duduknya.

"Karin, sepertinya sudah terlalu sore. Ayo pulang!" ujarnya dengan nada senormal mungkin.

"I... Iya. Ayo pulang!" jawab Karin.

Ditatapnya seorang pemuda yang berjalan tepat depannya itu. Hatinya kembali berdegup kencang ketika mengingat kejadian itu. Tidak. Ia tidak boleh jatuh cinta pada pemuda di depannya itu. Karena ia tahu ia akan kecewa. Jika saja ia jatuh cinta, ia tahu cinta itu takkan pernah berbalas.

"Kalian lama sekali pulangnya!" omel Himeka yang sudah lelah menunggu kedatangan mereka. Pasalnya, ada sesuatu yang ingin ia tunjukkan pada mereka.

"Hey, tunggu dulu! Kenapa wajah kalian memerah begitu?" tanya Himeka mengintrogasi mereka.

"Memerah apanya? Kau salah lihat. Wajahku biasa saja." jawab Kazune. Ia kemudian melenggang masuk pergi dari lantai satu rumahnya menuju lantai dua.

"Kakak! Tunggu dulu!" panggil Himeka sambil berlari kecil menyusul kakaknya itu, kemudian menarik tangannya menuju tempat semula. Sungguh Kazune terpaksa saat ini. Rasanya ia ingin mengurung diri di kamar seharian.

"Lihat ini! Aku beli kamera baru!" seru Himeka sambil memamerkan kamera yang baru saja ia beli.

"Cuma itu? Ya sudah, aku mau ke kamar dulu." ujar Kazune sambil beranjak dari tempat itu.

"Tunggu!" Himeka menarik kembali tangan Kazune.

"Aku ingin kalianlah orang pertama yang aku foto!" ujar Himeka.

"Kenapa harus kami, Himeka?" tanya Karin.

"Karena kita keluarga!" seru Himeka sembari terkejut. Karin tersentak mendengar ucapan Himeka. Keluarga kah? Senang. Ia memang senang mendengar itu.

"Keluarga?" tanya Karin.

"Iya, benar. Kita keluarga." ucap Himeka memastikan.

"Ayo!" titah Himeka.

Dengan kaku Karin dan Kazune berdekatan. Keduanya bertingkah seperti orang yang baru pertama kali kena jepret kamera. Ekspresi dan wajah memerah itu membuat Himeka ingin tertawa terbahak-bahak.

"Kazune, ayo lebih ekspresif lagi. Pegang tangannya, atau rangkul dia, atau cium dia!" goda Himeka. Mendengar itu, wajah kedua insan itu semakin memerah.

Kedua mata itu bertatapan. Wajah mereka memerah dengan hebat.

Jepret!

Himeka dengan sukses berhasil mem-foto kedua orang itu. Pose yang sangat alami. Himeka berhasil mem-foto wajah mereka yang saling bertatapan dan memerah itu. Sangat bagus menurutnya. Sangat alami!

"Sekarang, kita berfoto bertiga. Bi, tolong foto kami!" pinta Himeka pada salah satu pelayan yang kebetulan melintas di hadapan mereka.

Himeka berpose di tengah, tangannya merangkul Karin dan Kazune, Karin tersenyum lebar, dan Kazune tersenyum kecil khas Kazune.

Jepret!

Kamera itu berhasil menjepret mereka. Himeka tersenyum melihat foto itu. Ada satu orang bergabung menjadi keluarganya. Ia berharap Karin akan tetap menjadi bagian keluarganya. Meskipun disini Karin hanya bekerja sebagai pelayan, tapi baginya ia adalah seorang sahabat, sekaligus kakak baginya. Kedatangannya juga banyak memberikan perubahan di rumahnya. Rumahnya terasa ramai jika Karin ada disana. Kazune juga jadi lebih berekspresi. Biasanya, sebelum kedatangan Karin, Kazune irit sekali mengomong. Tapi sekarang, menurutnya tidak terlalu begitu, meskipun ia selalu bertengkar kecil dengan Karin, baginya itu hal menyenangkan.

Pagi yang cerah di Minggu musim semi. Diliriknya dua alat musik yang belum pernah ia sentuh sejak kedatangannya di rumah itu. Gitar dan biola. Gitar dan biola kesayangannya yang sudah dimilikinya sejak lama. Diambilnya gitar itu. Dibawanya menuju halaman belakang rumah. Gadis berambut twintail itu duduk di bangku taman berwarna putih di halaman belakang. Dipetiknya senar gitar itu dengan lembut, selembut hangatnya sinar mentari yang menyinari tubuhnya itu. Mulutnya terbuka, mengalunkan sebuah lagu indah dari mulutnya

Dakara boku wa waratte hoshiinda dakara kimi to ikiteitainda
Kakegae no nai hito yo `boku wa kimi wo mamori tsudzuketai'

Kimi ga soko ni ite kureru koto ga tada sono chiisana kiseki ga
Nani yori mo atatakai dakara boku wa tsuyoku naritai

Hana ga mata saite iru boku wa chippokena ippo o fumu
Omoide ni kawaru kono hibi ni nando mo sayonara wo suru yo
Doko made mo doko made mo akaruku nareru kimi no koe ga
Itsu datte ichiban no hikari senaka wo chanto oshite iru yo

`Yasashii hito ni naritai' itsuka no kimi ga itta ne
Kokoro no naka de kusuguru setsunai mono tsutaeta yo…

Tanpa ia sadari seorang pemuda berambut pirang sedang memperhatikannya sedari tadi. Menikmati setiap alunan lagu yang keluar dari mulut sang gadis. Kakinya mulai bergerak melangkah menuju tempat dimana gadis itu memetik dan mengalunkan lagu. Gadis itu tampak terkejut melihat kedatangan pemuda itu. Seketika kemudian ia menghentikan permainannya.

"Ka... Kazune... "

Pemuda itu kemudian duduk disamping gadis itu.

"Kenapa? Kenapa tidak dilanjutkan lagi?" tanya pemuda itu.

"Itu... Itu... " jawabnya gugup.

"Suaramu bagus, Karin." ucapnya datar.

"Eh?" Karin masih tidak percaya dengan apa yang barusan dikatakan Kazune.

"Hey nenek sihir, kau sudah pernah ke lantai tiga rumah ini, belum?"

"Kazune, berhentilah memanggilku dengan sebutan itu!" ujar Karin kesal.

"Jadi, kau mau kupanggil apa? Nenek cerewet, bibir tebal, rokurobi, kasabake, nure-onna, hanako, hikiko, atau yuki onna, ha?"

"Kau kira aku ini youkai, apa!"

"Hah, sudahlah! Kau pernah ke lantai tiga, belum?"

"Belum. Memangnya kenapa?"

"Ayo kesana!" Kazune kemudian menarik tangan Karin menuju lantai tiga rumah itu. Dilantai tiga hanya ada satu ruangan, ruangan yang sangat besar.

"Sebenarnya, ini ruangan apa, Kazune?"

"Sudah, lihat saja nanti."

Kazune dengan perlahan membuka pintu ruangan itu. Seketika mata Karin membulat.

"Wah! Hebat sekali!" ujar Karin terkagum-kagum melihat ruangan itu. Ruangan itu berisi alat-alat musik. Mulai dari piano, biola, harpa, keyboard, drum, harmonika, recorder, dan alat musik lainnya. Bahkan diruangan itu tersedia tempat untuk dance, dan ada sebuah panggung kecil disana. Sungguh hebat.

"You know what? Its wonderful!" ucap Karin lagi. Kazune mendekati salah satu alat musik, piano. Ia duduk di depan piano itu. Mencoba menekan tuts piano.

"Kau bisa bermain ini?" tanya Kazune.

"Tentu." jawab Karin dengan mantap.

"Mind to play this piano with me?"

"Ah, okey!"

"Kau mau bernyanyi?"

"Ya. Lagu apa?"

"Lagu egao, ikimonogatari, yang kau nyanyikan tadi. Kau mau?"

"Tentu!"

Dakara boku wa waratte hoshiinda dakara kimi to ikiteitainda
Kakegae no nai hito yo `boku wa kimi wo mamori tsudzuketai'

Kimi ga soko ni ite kureru koto ga tada sono chiisana kiseki ga
Nani yori mo atatakai dakara boku wa tsuyoku naritai

Hana ga mata saite iru boku wa chippokena ippo o fumu
Omoide ni kawaru kono hibi ni nando mo sayonara wo suru yo
Doko made mo doko made mo akaruku nareru kimi no koe ga
Itsu datte ichiban no hikari senaka wo chanto oshite iru yo

`Yasashii hito ni naritai' itsuka no kimi ga itta ne
Kokoro no naka de kusuguru setsunai mono tsutaeta yo

`Sou sa kimi ga waratte kureru nara boku wa nani demo dekiru yo'
Nante chotto tsuyo tteru ka na demo ne naze ka yuuki ga wakunda
Hana ga chitte saku you ni nando mo shiawase wo kurikaesetanara
Sou yatte ikite yukou dakara boku wa tsuyoku naritai

`Gomen ne' to ienakute modokashi-sa mo butsuke ni mo shita
Ichiban chikaku ni iru koto ni amaete bakarija dameda ne
`Tanoshii hitodearitai' ukeireru koto o osorezu
Hitamukina toki wo kasanete tashikana mono mitsuketai

Kakae kirenu sabishisa no naka de moshimo kimi ga hitori de iru nonara
Bakamitai ni gamushara ni boku wa zutto te wo nobashitainda
Wakari au koto wa muzukashii kedo wakachi au koto wa boku ni mo dekiru
Tada tonari ni irukara itsumo kimi no sobani iru kara

Itsu datte man'naka ni aru yo taisetsuna mono wa koko ni aru
Tsutsumu youna kimi no sono-te ga yasashii tsuyoku nigiri kaesu yo

Itsuka chotto kanashii koto mo aru itsuka chotto ureshii koto mo aru
Demo zenbu waraetara ii zenbu kakae ikite yukitai
Subete ga mata kawatte shimatte mo nando demo hana wo sakaseyou
Shiawase ni nareru you ni kimi to tomo ni aruite yukeru you ni

Warainagara naku youna hibi wo nakunagara warau youna hibi wo
Sou yatte ikite yukou dakara boku wa tsuyokunaritai

(That's why, I want you to smile. That's why I want to go on living with you
You are irreplaceable, "I want to keep protecting you"

Even if you being there for me is such a small miracle
It's the warmest thing I've ever felt, that's why I want to become strong

"I want to become a kind person", is what you once said
You conveyed to me something that tickled your heart with pain

The blooming flower that is me, takes a tiny step forward
These days that change into memories, I often say goodbye to them
Your voice, that goes on and on being bright
It's always my best source of light, as it pushes me forward well

"That's right, it's because you smile for me, that I can do anything"
Well, maybe I'm just putting on airs, but for some reason
My courage is expanding
If I'm to go through happiness, like a flower that falls
and blooms again,
Then I'll do just that, because, I want to become strong

We ran into some irritations where we couldn't even say "Sorry"
You can't take the closest things to you for granted you know
Without being afraid of accepting the "I want to be a fun person"
I once said
Overlapping the earnest times, I want to find something certain

If you're alone, inside a sadness you can't bare,
I will, like an idiot, recklessly, always reach out to you with these hands
Understanding each others feelings is hard but,
Sharing those feelings is something I can do
I will just always be next to you, I will always by your side

It's always found right in the middle, what's precious is found right here
Those hands of yours that wrap around me are tender, they hold me tight

There will one day be something that makes you a little sad
There will one day be something that makes you a little happy
But you should smile through it all,
You should go through life embracing it all
Even if everything ends up changing again,
Let's make the flower bloom over and over again
So that we can become happy, so that we can go on walking
Together

Through the days that have me smiling as I cry,
Through the days that I seemto understand
I want to go through them like that, that's why I want

to become strong)

.

.

"Kau tahu, ketika kau bernyanyi, kau tersenyum." ujar Karin. Kazune menoleh ke arahnya.

"Benarkah?" tanyanya sembari tersenyum. Senyum yang indah. Senyum menambah ketampanannya beribu kali lipat.

"Benar." jawab Karin tersenyum.

"Ada dua hal tentangmu yang kusimpulkan. Pertama, ketika berada di toko buku, sifatmu berubah 180 derajat menjadi orang yang sangat galak. Kedua, ketika kau bernyanyi atau bermain musik, sifatmu berubah 180 derajat menjadi orang yang sangat baik. Ya, begitu." jelas Karin.

"Kau cukup pintar untuk mengetahuinya. Aku pergi dulu, kalau kau mau, kau boleh gunakan ruangan ini sepuasnya kapan saja. "

"Te... Terimakasih Kazune.

"iya."

"Suaramu juga bagus. Kau tak berminat menjadi penyanyi?" tanya Karin. Kazune menaikkan alisnya.

"Aku tak mau." ucap Kazune.

"Hm, begitu. Sayang sekali. Kalau aku, impianku dari dulu adalah menjadi penyanyi terkenal." ujar Karin dengan bangga.

"Kau tahu, akan ada lomba menyanyi dari salah satu stasiun televisi!" tambah Karin.

"Kau akan mengikutinya?"

"Tentu saja!" jawab Karin dengan mantap.

"Kau yakin kau akan menang? Aku bertaruh kau akan kalah."

"Kau terlalu meremehkanku. Bagaimana jika aku menang?" tanya Karin.

"Aku menjadi milikmu dalam sehari. Tapi, jika kau kalah, kau milikku sehari. Dari mulai pukul 00:00 sampai pukul 23:59. Bagaimana? Kau berani?"

"Tapi, jika aku kalah, kau tidak akan melakukan yang macam-macam denganku, kan?" tanya Karin yang mulai khawatir. Seingatnya Kazune ini lumayan mesum.

"Itu terserahku. Kan kau milikku."

"Kalau begitu, aku tidak mau!" tolak Karin.

"Jadi, kau ini perempuan pengecut, ya?"

"Tentu tidak. Hah! Baiklah, kuterima." ujar Karin dengan terpaksa.

"DEAL!" ucap Kazune memutuskan.

"Bersiap-siaplah, karena kau akan kalah." ucap Karin.

"Oh ya? Kita lihat saja nanti." balas Kazune.

"Aku mau pergi dulu. Gunakan ruangan ini sebaik-baiknya. Jangan biarkan sembarang orang masuk, termasuk Himeka." ucap Kazune mengingatkan Karin. Ia paling tidak suka orang tidak berkepentingan memasuki ruangan pribadinya itu.

"Aku juga mau pergi."

"Kemana?"

"Ada urusan, penting."

"Oh, ya sudah. Aku duluan." ujar Kazune. Kazune kemudian pergi keluar lebih dulu dibanding Karin.

Himeka POV

Pagi ini aku cerah sekali. Aku berniat untuk berfoto bersama Karin, atau memotret Karin. Rasanya aku suka sekali memotret dirinya! Begitu indah! Aku mencoba mencari keberadaannya pagi ini. Kuketuk pintu kamarnya. Hmm, tidak ada jawaban. Kuketuk sekali lagi. Tetap tidak ada jawaban. Kucoba membuka pintu dengan menggerakkan knop pintu Karin. Ternyata tidak dikunci, tetapi Karin tidak ada. Padahal tadi, setelah sarapan, Karin bilang mau ke kamar, tapi kok gak ada, ya? Aku kembali menuruni tangga, mencoba mencari sosok perempuan bernama Hanazono Karin. Tidak ada, dia tidak ada. Tunggu, aku melihat kakak di berdiri di pintu halaman belakang. Sepertinya sedang mengamati sesuatu. Tapi apa? Hmm, aku sungguh penasaran apa yang dilihat kakak. Dia seperti sedang mengamati sesuatu, tetapi juga seperti sedang menikmati sesuatu. Aku mendekat perlahan mendekati Kazune. Aku sungguh tidak menyangka, Kazune mengamati Karin? Buat apa coba?

Kayaknya, si makhluk anti serangga itu mulai menyukai Karin. Dengan hati-hati, aku mencoba memotret pemandangan ketika Kazune melihat Karin dari pintu halaman belakang.

Jepret!

Ah, foto yang bagus! Foto alami yang gak dibuat-buat.

Kini aku mengamati gerak gerik Kazune dari kejauhan. Kazune mulai berjalan mendekat dan duduk di samping Karin. Hey, Kazune menarik tangan Karin? Mau kemana? Iseng, aku mencoba mengikuti mereka. Tunggu, lantai tiga? Lantai tiga merupakan ruangan khusus Kazune. Bahkan, seumur hidupku sampai detik ini, aku cuma sekali ke ruangan itu. Dan Kazusa juga belum pernah ke ruangan itu. Kembali kuamati mereka. Kazune sedang bermain piano dengan Karin. Kazune tersenyum! Sungguh luar biasa. Jarang-jarang dia tersenyum. Andai saja dia bukan kakakku, aku yakin, pasti aku jatuh cinta padanya. Kembali aku memotret mereka. Wah, foto yang bagus sekali. Tak lama kemudian, mereka sepertinya hendak keluar ruangan ini. Itu artinya, kabuuuuur!

Kayaknya, si makhluk anti serangga itu mulai menyukai Karin. Dengan hati-hati, aku mencoba memotret pemandangan ketika Kazune melihat Karin dari pintu halaman belakang.

Jepret!

Ah, foto yang bagus! Foto alami yang gak dibuat-buat.

Kini aku mengamati gerak gerik Kazune dari kejauhan. Kazune mulai berjalan mendekat dan duduk di samping Karin. Hey, Kazune menarik tangan Karin? Mau kemana? Iseng, aku mencoba mengikuti mereka. Tunggu, lantai tiga? Lantai tiga merupakan ruangan khusus Kazune. Bahkan, seumur hidupku sampai detik ini, aku cuma sekali ke ruangan itu. Dan Kazusa juga belum pernah ke ruangan itu. Kembali kuamati mereka. Kazune sedang bermain piano dengan Karin. Kazune tersenyum! Sungguh luar biasa. Jarang-jarang dia tersenyum. Andai saja dia bukan kakakku, aku yakin, pasti aku jatuh cinta padanya. Kembali aku memotret mereka. Wah, foto yang bagus sekali. Tak lama kemudian, mereka sepertinya hendak keluar ruangan ini. Itu artinya, kabuuuuur!

Normal POV

Kazune berjalan keluar diikuti oleh Karin. Kini mereka berjalan berbeda arah. Karin berjalan menuju kamarnya di lantai dua. Ia tengah bersiap-siap untuk pergi ke suatu tempat yang pernah ia datangi datangi dulu, tentu saja studio foto itu. Ia telah menyetujui kontrak. Ia akan kembali beraksi di depan kamera. Sedari kecil, ia memang senang berfoto. Bahkan ia juga merupakan seorang model saat di New York dulu. Wajahnya sering menghiasi cover-cover majalah remaja. Pagi ini ada sesi pemotretan, sehingga ia harus bergegas pergi. Karin telah siap berdandan. Karin melangkahkan kakinya keluar rumah, menuju suatu tempat.

Suasana disana ramai sekali. Karin segera disambut. Jin datang menghampirinya. Sepertinya Jin senang sekali Karin bekerja disana. Sepanjang ada waktu luang diantara kesibukan bekerja, Karin dan Jin terus bersenda gurau.

Diantara kesenangan mereka, tampak seorang gadis sedang mengamati mereka. Gadis itu memiliki warna rambut yang sama dengan Jin. Rambutnya diikat twintal, tetapi bentuk rambutnya seperti sosis.

"Singen, siapa dia?" tanya gadis berambut gelap itu sambil menunjukkan tangannya kearah Karin.

"Oh, dia. Dia itu Hanazono Karin. Model baru, disini. Dia sepertinya sebayamu."

"Oh. Sebentar ya, aku mau berkenalan dengan gadis itu." ucapnya sembari tersenyum ke arah managernya yang bernama Singen itu.

Gadis itu pergi berjalan kearah Karin. Ia menghampirinya.

"Hey Kuga-san, boleh aku pinjam temanmu sebentar?" tanya gadis itu pada Jin yang sedari tadi asyik mengobrol dengan Karin.

"Silahkan saja. Tapi, tanya Karin sajalah!"

"Hey, bolehkah aku mengobrol denganmu sebentar?" tanya gadis itu.

"Ya, silahkan saja." jawab Karin.

"Tapi tidak disini. Mau kah kau?"

"Ya, baiklah."

Gadis itu membawa Karin keluar dari studio itu. Membawa Karin menuju gang sempit yang berada diantara gedung-gedung yang menjulang tinggi.

"Oh ya, namamu Rika, kan? Kau penyanyi terkenal, bukan? Namaku Hanazono Karin, aku model baru. Salam kenal." ujar Karin sembari membungkuk 45 derajat.

"Begini, aku mau to the point aja. Jangan dekati Jin!"

"Apa? Apa maksudmu? Memangnya kau siapa, berhak mengatur hubungan sosialku?"

"Diam kau!" Rika kemudian mendorong tubuh Karin menuju tembok, kemudian menarik kerah baju Karin.

"Kalau kau berani, hidupmu akan hancur!" ancam Rika.

"Coba saja. Jika sampai ada luka, bahkan jika ada goresan yang sangat kecil di tubuhku karena kau, akan kupastikan kau yang akan hancur." ancam Karin kembali. Dari suaranya tak ada sedikitpun rasa takut pada diri Karin.

Rika kemudian melepaskan tarikannya tadi pada kerah Karin secara kasar. Lalu kemudian pergi kembali ke studio, duduk kembali ditempatnya tadi. Sedangkan Karin, masih sedikit shyok dengan kejadian barusan. Seumur hidupnya, baru kali ini ia mengalami hal seperti itu. Barangkali, jika kedua orang tuanya masih hidup sekarang, Karin akan mengadukan hal itu pada orangtuanya. Tapi, ia mau bercerita kemana, sekarang?

Karin berjalan kembali ke studio, dengan memasang wajah senormal mungkin.

Kini ia kembali berpose di depan kamera. Wajahnya tidak menunjukkan bahwa ia sedang tertekan atau apa.

Sesi pemotretan akhirnya selesai, Karin kemudian beranjak pergi meninggalkan studio itu.

"Karin!" panggil Jin. Karin menoleh.

"Iya, ada apa?" tanyanya sembari tersenyum.

"Bagaimana kalau pulang bersama? Kau mau?"

Karin kemudian melirik orang yang berada di seberang sana, yang sedang menatap aktivitas mereka berdua.

"Ya, terimakasih." ucap Karin. Ia tahu, pastilah orang di seberang sana sedang mengggeram kesal. Tapi, dia tidak peduli. Bukan urusannya kalau gadis itu cemburu. Baginya, sungguh cara yang murahan yang dilakukan gadis itu padanya.

"Baik, ayo masuk!" ujar Jin.

Mereka terus melesat jauh menuju rumah yang selama ini di tempati Karin.

Kazune sedang berada di lantai dasar, tepatnya di halaman belakang. Kazune sepertinya mendengar suara mobil. Cepat-cepat ia menuju ke depan rumah. Di bukanya pintu. Ternyata Karin.

Kazune memandang mereka didepan pintu sambil berkacak pinggang.

"Akhirnya, sampai juga. Terimakasih ya, Jin" ucap Karin pada Jin.

"Ya, sama-sama." balasnya. Karin kemudian berjalan perlahan mendekati pintu, dimana Kazune berdiri.

"Oh, jadi ini, yang kau sebut urusan, penting?" tanya Kazune sambil memberi penekanan pada kata penting.

"Bukan urusanmu!" ujar Karin.

"Ya sudah. Masuk sana!" perintah Karin.

"Ya."

Jin masih berdiri di depan mobilnya. Matanya menatap lurus Kazune. Mata antar lelaki.

Kazune mendekat pada Jin.

"Sudah ku bilang, jangan dekati Karin!"

"Kenapa? Kenapa tidak boleh?"

"Karena... karena dia bukan perempuan murahan seperti gadis lain!"

"Tenang saja, bahkan aku tak pernah menggapnya begitu."

"...Tapi, aku yakin, dia akan dengan mudah masuk kehatiku." tambah Jin.

"Brengsek, kau!" Kazune kemudian menarik kerah baju Jin. Untung saja, tidak ada orang yang berkeliaran di daerah itu sekarang.

"Aku? Brengsek? Maaf, sepertinya kau yang berengsek. Yang pasti, aku tidak seperti kau, yang menyukai dua gadis sekaligus!"

TBC!

Fic ini penuh rintangan ah. Maryam cape ngerjainnya. Di jalan Maryam ngerjain, lagi masak Maryam juga ngerjain. Terus, wktu udh mau siap ni, ya, Hp Maryam ter-lock! Ga bisa di buka, dan Maryam pun akhirnya pusing 7 kepalang. Mana mau Maryam apdet, lagi. Kalau ga percaya, liat aja di status Maryam di fb XD

oh ya, kalo berminat, add fb Maryam, namanya Hanazawa Maryam juga! *promosi*

Tapi tenang, sekarang udh bisa kok. Nih buktinya udah updet.

Doain komputer sembuh ya, biar makin cepet apdet.

Gomen kalau ceritanya tidak menarik ya! Maryam udah berusaha yang terbaik loh!

Dunia Fanfiction ini memang kejam, jumlah viewers tidak sebanding dengan jumlah ripiewnya T^T

Ayo, silent reader, munculkanlah dirimu dengan mengisi komentarmu terhadap fic ini di kolom review ^^

Terimakasih juga buat semua yang udah nge-review chap-chap sebelumnya.

Domo arigatou n,n

Balesan review

Oke, Maryam mau ngebales yang ripiew yang ga login kemaren yaaa

Nazumi Yourichi: ini, udah di apdet kan? Maryam juga pake semangat 45 ngerjain fic ini loh! XD

Cici: semoga aja Kazune bener suka sama Karin. Tapi aku sih ngarepnya Kazune suka sama Maryam XD

Guest: iya, dilanjut kok. Mau tau pairingnya, kan? Makanya, baca terus! :)

Syofalira: Nilai 98? Umoo, itu kayaknya terlalu tinggi ah, menurut Maryam ini fic 67 nilainya. Kalau mau tau pairingnya, baca terus ya. Terimakasih ^^

KK LOVERS: wih, tinggi amat nilai 98. Tapi, thanks ya.

Umm, untuk request itu, liat nanti ah. Kalo udh tau ceritanya, jadi kurang seru donk. Sankyuuu buat review-nya ya ^^

Andien Hanazono: Benarkah? Aku terharu XD *ngambil tissu*

Thanks buat repiew sebelumnya ya n,n

Devi Yolanda: Tidak, Kazune tidak akan bersama dengan Karin, tapi denganku! XD #becanda kok

Lihat aja kelanjutannya ya n,n

Thanks buat repiew nya

Hanazono Karin: Yah, Kazusa sama Jin nya belum bisa terkabul. Tapi, di chap yang berikut2nya, pasti ada kok! Gomen ya T^T

Thanks buat repiewnya yang kemaren ya n,n

Ikina Uruwashii: seneng banget kayanya nge-buat Kazusa cemburu. Hosh! Semangat 45! XD

ga kebanyakan permintaan kok ^^

Thanks buat repiewnya

Jamilah: Kenapa ga jadi penggemar Kazumar (Kazune Maryam) aja! XD

Gomen, chap ini belum Kazusa sama Jin.

Thanks buat repiew nya ya n,n

Nuri: gpp kok! 8 itu nilai yang tinggi bagi Maryam loh! Beneran! Thanks yah

Thanks buat repiewnya ya n,n

kie: yang disukai Kazune itu aku! XD

baca aja chap2 selanjutnya ya ^^

Dci: ini udah apdet. Makasih ya, buat ripiewnya n,n

Guest : ini udah di update kan? n,n

Thanks ya, ya udah mau membaca fic abal-abal ini.

Oh ya, ini kan masih suasana lebaran, happy eid mubarak ya, mohon maaf atas semua kesalahan Maryam ya n,n

Yang mau kue, dateng aja kerumah Maryam, di Medan! XD

Salam!