preview chap sebelumnnya
Jin masih berdiri di depan mobilnya. Matanya menatap lurus Kazune. Mata antar lelaki.
Kazune mendekat pada Jin.
"Sudah ku bilang, jangan dekati Karin!"
"Kenapa? Kenapa tidak boleh?"
"Karena... karena dia bukan perempuan murahan seperti gadis lain!"
"Tenang saja, bahkan aku tak pernah menggapnya begitu."
"...Tapi, aku yakin, dia akan dengan mudah masuk kehatiku." tambah Jin.
"Brengsek, kau!" Kazune kemudian menarik kerah baju Jin. Untung saja, tidak ada orang yang berkeliaran di daerah itu sekarang.
"Aku? Brengsek? Maaf, sepertinya kau yang berengsek. Yang pasti, aku tidak seperti kau, yang menyukai dua gadis sekaligus!"
Kahika Café
Kamichama Karin©Koge Donbo
Kahika Café ©Hanazawa Maryam
Rated : T
WARNING: Typo, alurnya berantakan, OOC, De EL EL
Chapter 9
"Manusia butuh dua tahun untuk belajar berbicara. Namun butuh lebih dari lima puluh tahun untuk melajar menutup mulut.
Mulai sekarang, belajarlah untuk menutup mulutmu! Jika kau tidak tahu apa-apa, jangan berikan komentar, karena kau akan terlihat seperti yang orang bodoh, Jinny oh Jinny!" ucap Kazune. Kemudian ia melepaskan pegangannya pada kerah Jin. Mata kedua lelaki itu saling bertatapan. Kedua orang yang menjadi rival sejak kecil itu tidak bergeming sama sekali. Tidak ada yang mau mengalah.
.
.
Kazusa sedang menyiapkan sesuatu. Sepertinya sangat spesial. Ditaruhnya benda itu ke dalam sebuah tas kantung kecil berwarna merah muda.
Dengan semangat ia membawa benda yang berisi makanan itu. Senyumnya mengembang tatkala ia membayangkan bagaimana reaksi orang yang yang akan diberikannya makanan itu.
Kakinya melangkah menuju sebuah rumah mewah yang tak terlampai jauh apartemennya. Ya, rumah milik keluarga Kujyo lah yang ditujunya. Rumah besar nan mewah yang paling menonjol dari semua rumah yang berada disekitarnya. Rumah dimana Kazune Kujyo berada.
.
.
Kedua lelaki itu masih saja diam tak bergeming. Ada aura tak menyenangkan terpancar dari keduanya.
"Ka... Karin..." ucap Jin. Ia terkejut melihat Karin yang tiba-tiba berada di depan pintu, melihat mereka berdua sedang bertatapan mata.
"Ka... Kazusa..." ucap Kazune ketika melihat Kazune Kazusa berada tak jauh dari tempatnya berdiri, dengan senyum manis yang bertengger di wajahnya yang hanya ia berikan untuk pemuda pirang itu. Ditangannya terdapat sebuah bingkisan yang ia buat sedari tadi. Ia perlahan berjalan mendekati kedua pemuda itu, sedangkan Karin masih berdiri di depan pintu tanpa menggerakkan kaki selangkahpun.
"Kalian sedang apa?" tanya Kazusa pada kedua pemuda yang sekarang tidak terlalu memgedarkan aura permusuhan.
"Tidak. Kami tadi hanya sedang membicarakan sesuatu." jawab Kazune dengan suara datas khas milik sang Kujyo Kazune.
"Aku membawa sesuatu." ujar Kazusa sambil menunjukkan bingkisan yang ia bawa sambil memperlihatkan senyum termanisnya pada Kazune.
"Hn. Ayo masuk!" jawabnya sambil tersenyum kecil membalas senyuman Kazusa. Kazune masuk ke dalam rumah tanpa mempedulikan Karin yang tengah berdiri di depan pintu, diikuti Kazusa.
Jin kemudian mendekat pada gadis yang tengah berdiri di depan pintu itu. Senyumnya mengembang tatkala ia sudah berada di depan gadis itu.
"Hai Karin. Aku pulang dulu ya." ucap Jin sambil mengedarkan senyumannya pada Karin.
"Iya. Pulanglah. Terimakasih sudah mengantarku." balas Karin sambil tersenyum.
Cup!
Sebuah ciuman mendarat di pipi sang gadis pemilik mata emerald itu. Jin langsung berbalik, pergi menuju mobilnya yang bertengger di depan rumah itu.
Kazune terbelalak melihat kejadian itu. Giginya menggelertak. Rasanya ia ingin sekali meninju lelaki berambut hitam itu. Entahlah, entah perasaan apa yang hinggap di hatinya sekarang.
Bukan. Mungkin bukan karena ia menyukai Karin, tapi sungguh ia tidak ingin Jin mempermainkan hati pelayan pribadinya itu.
Ia sangat tidak ingin gadis itiu tersakiti lagi seperti kemarin dulu. Dia tidak ingin lagi melihat gadis itu meneteskan lagi air matanya untuk seorang yang lelaki bodoh yang mempermainkan hatinya. Dia tidak lagi ingin melihat gadis itu duduk di tepi kolam di taman hanya untuk menangisi seorang lelaki bodoh yang menyakiti hatinya. Entahlah, entah perasaan apa itu. Yang jelas, ia seperti ingin melindungi gadis itu dari betapa bahayanya pemuda berambut gelap itu. Cemburu? Tidak mungkin.
Tapi, sepertinya mungkin juga. Entahlah, ia juga sepertinya belum mengetahui apa sebenarnya itu.
Karin mendadak pipinya bersemu merah tatkala sang idola itu menempelkan bibirnya pada pipi Karin.
Pemuda itu kembali berbalik, kembali menghadap wajah gadis itu sambil berjalan mundur. Seolah-olah tak ingin meninggalkan sedetikpun untuk tak melihat wajah cantik gadis yang kini tengah bersemayam di hatinya itu.
"Kau menginginkannya juga?" tanya Kazusa pada Kazune yang tadi tengah menatap Karin yang dicium oleh Jin.
Karin menoleh ke sumber suara itu. Menoleh pada kedua orang itu, Kazune dan Kazusa.
Cup!
Satu kecupan juga bersarang di pipi pemuda yang merupakan siswa paling pintar di sekolahnya itu. Semuanya terkejut melihat perlakuan Kazusa terhadap Kazune.
Karin melihat Kazune di cium oleh Kazusa dengan mata kepalanya sendiri. Ia seakan akan tidak percaya kalau itu adalah nyata. Bahkan tadi ia sempat berfikiran kalau semuanya hanyalah sebuah mimpi.
"Ayo masuk ke dapur. Aku ingin melihat apa yang kau bawa." ucap Kazune pada Kazune sambil tersenyum simpul.
.
"Sampai jumpa, Karin!" teriak Jin yang hendak melaju meninggalkan Karin.
"Iya! Hati-hati!" balas Karin Karin sambil berteriak.
"Aku pamit dulu ya." ujar Kazusa pamit. Hari sudah semakin gelap, gadis itu kini melangkahkan kakinya pergi dari rumah kediaman Kujyo.
.
.
"Lihat! Jadi perempuan itu seperti dia. Bisa memasak, nah kau? Sudah cerewet, merepotkan, tidak bisa memasak, menyebal..." oceh Kazune pada Karin.
Bruk!
Belum selesai ia mengucapkan segala ocehannya, sebuah lemparan mengenai kepalanya. Begitu kesalnya Karin dengan semua ocehan Kazune, sampai-sampai ia melemparkan sendal hotelnya ke arah kepala Kazune. Dan beruntungnya, lemparannya berhasil mengenai sasaran, dan mendarat mengenai kepala Kazune. Himeka yang melihat kejadian itu hanya bisa tertawa terbahak-bahak.
"Arrrgh! Kau gila ya?" keluh Kazune. Rasanya ia ingin sekali mencekik gadis itu. Betapa menyebalkan gadis itu. Belum ada seorangpun sampai detik itu yang berani melemparnya, apalagi di lempar dengan sendal hotel seperti itu. Memang sakitnya tidaklah seberapa tetapi harga dirinya bagai terlempar jatuh dengan drastis.
"Salahmu sendiri! Dasar menyebalkan!" ujar Karin dengan kesal.
"Perempuan macam apa yang tidak pandai memasak? Buruk sekali."
Karin sedikit tertegun mendengar ucapan Kazune. Ada benarnya. Memang tidaklah baik jika seorang perempuan tidak bisa memasak. Sejak kecil, selalu ada pelayan dirumahnya yang akan melayaninya dua puluh empat jam, menyediakan semua makanan yang ia inginkan. Wajar saja ia menjadi gadis yang tidak bisa memasak.
"Lihat saja! Aku pasti suatu saat bisa memasak!"
"Kapan? Dua puluh tahun lagi, ha?"
"Dasar laki-laki menyebalkan!" ucap Karin dengan kesal. Dengan kesal ia pergi meninggalkan Kazune, menuju ke kamarnya. Telinganya terlalu sibuk untuk mendengarkan segala ocehan miliknya. Otaknya terlalu sibuk untuk mencerna kata-kata ocehan milik sang Kujyo Kazune.
Bosan, akhirnya Karin memutar musik melalui komputer yang terdapat di kamarnya.
Ia kini memutar sebuah lagu, Katty perri-firework. Sebuah lagu yang menginspirasinya untuk terus maju.
Ia memang lebih banyak menyukai lagu-lagu berbahasa inggris. Ya, tentu saja karena ia sudah lama
bergelut dengan bahasa itu. Masih diingatnya ketika pertama kali ia menginjakkan kakinya di Jepang. Sungguh matanya pusing ketika melihat sederetan huruf-huruf kanji di sepanjang jalan. Meskipun begitu ia mengerti dengan tulisan-tulisan itu. Orangtuanya telah mengajarkannya ketika ia masih berada di Amerika.
Begitulah sifat orang-orang Jepang. Dimanapun berada, masih saja menanamkan budayanya.
esoknya
Karin menghela nafas kembali. Menatap keadaan sekitarnya. Rambutnya yang tergerai terhembus oleh angin. Kini kedua tangannya menopang dagunya. Ia berdiri di atap sekolah, di dekat balkon.
Kembali lagi ia menghela nafas.
Karin POV
Aku tak mengerti dengan hidup ini. Semuanya berjalan mengalir begitu saja tanpa bisa ku kendalikan. Semuanya seperti mimpi. Seperti mimpi. Aku ingin terbangun dari mimpi ini. Kututup mata ku. Berharap ketika aku terbagun, kedua orang tuaku berada disisku, dan hidupku pun berjalan normal. Tapi tidak, ini bukanlah mimpi. Ini kenyataan yang harus kuhadapi. Aku cukup beruntung sekarang. Aku cukup beruntung bertemu mereka. Ah, tidak. Aku sangat beruntung bertemu mereka. Aku kembali mengingat kejadian itu. Saat -saat dimana aku mengalami kesulitan, dan ketika mereka datang membantuku. Sekarang mereka seperti keluarga baru untukku. Kembali pikiranku mengawang mengingat kejadian kemarin. Ketika Kazusa dengan agresifnya mencium pipi Kazune di depan mata kepalanya sendiri. Memang tampak sedikit perasaan terkejut pada diri Kazune, tapi ia membalas gadis itu dengan senyuman, meski senyuman kecil. Aku tahu, ia menyukainya. Lalu, untuk apa ia menciumku kala itu? Apakah untuk mempermainkan perasaanku? Tidak. Bukan, itu bukan cinta. Cinta adalah perasaan norak yang menggelikan. Aku tidak menyukainya, bahkan mungkin juga tidak mencintainya. Hah! Belum lagi dengan Jin yang mencium pipiku kemarin. Aarrgh! Aku benar-benar akan gila!
"Karin!" panggil Jin. Aku menoleh kebelakang, menatap wajahnya yang berada di belakangku.
"Hah! Aku sudah mencarimu diseluruh sekolah ini. Ternyata kau malah disini. Kau sedang apa?" tanyanya sambil menolehkan wajahnya ke arahku.
"Jin. Aku mau bertanya padamu." ujarku. Pandangan mataku tetap lurus, tak menoleh sama sekali padanya. Mataku tertuju pada suasana indah yang terdampar dari atap sekolah ini.
"Ya, silahkan saja." jawabnya.
"Perempuan yang tidak bisa memasak itu, buruk ya?" tanyaku. Kini aku menolehkan pandanganku ke wajahnya.
"Ya, begitulah. Memang kenapa? Kau tak bisa memasak?" tanyanya. Tak tampak wajah terkejut sedikitpun di rautnya.
"Ya." jawabku singkat.
"Hmm, begitu. Pasti kau diejek si Beautiful boy itu, kan?"
"Kenapa kau tahu?" tanyaku sedikit terkejut.
"Tentu saja. Dia kan memang selalu begitu." ucap Jin dengan santai.
Hah! Aku kembali menghela nafas.
"Aku bisa memasak." ucap Jin dengan bangga.
"Benarkah?" tanyaku.
"Ya. Kau mau kubantu?" tawarnya.
"Kau mau? Bukannya kau sedang sibuk? Kau kan banyak pekerjaan."
"Tenang, itu bisa di atur. Tidak ada jadwal konser hari ini. Lagi pula, jadwal pemotretanku bisa kuatur. Bagaimana?"
"Tentu saja aku mau. Jadi, kita belajar dimana?" tanyaku dengan semangat.
"Dirumahku saja."
"Baik. Aku mau. Tapi, aku nanti minta izin dulu pada Kazune, ya."
"Ya sudah. Ayo masuk kelas! Sebentar lagi bel sudah mau berbunyi."
"Baik!"
Normal POV
"Kazune, boleh ya?" mohon Karin. Kedua telapak tangannya dirapatkannya sebagai permintaan mohon.
Kazune menaikkan salah satu alisnya, tangannya dilipatkan kedada.
"Bagaimana ya?" jawab Kazune sambil menimbang-timbang keputusan yang akan diambilnya.
"Ayolah Kazune. Aku mohon." pinta Karin sekali lagi. Wajahnya yang seperti tak berdosa itu membuat Kazune luluh atas permintaannya.
"Baik, tapi katakan sesuatu yang baik untukku!" syarat Kazune.
"Kau, meskipun kau jahat, sok pintar, angkuh, sombong, mesum, egois, tapi kau sedikit baik." ucap Karin pada Kazune. Ia sudah berusaha mengeluarkan semua sifat-sifat baik yang dimiliki Kazune semampunya. Wajah Kazune mengkerut. Matanya disipitkannya. Tampak wajah kekesalan teraut dari wajah pemuda itu.
"Kau ini bagaimana! Sudah kukatakan, katakan hal yang baik. Kenapa kau malah mengatakan hal seperti itu?!" ujar Kazune dengan kesalnya.
"Memangnya apa yang salah? Aku sudah mengatakan semua hal baik tentangmu, Kazune." ucap Karin dengan wajah polosnya itu, yang mengundang gelak tawa dari Himeka dan Kazusa yang sedari tadi bersama mereka.
"Hah! Sudahlah! Kau boleh pergi! Kami pulang duluan saja!" ucap Kazune kesal. Kakinya langsung melangkah jauh menjauhi Karin yang masih tidak mengerti dimana kesalahannya. Himeka dan Kazusa segera menyusul sosok pemuda berambut pirang itu.
Karin yang masih menyimpan sebuah tanya dalam hatinya, melangkah pergi meninggalkan tempat itu. Kakinya berjalan menuju sebuah tempat, dimana terdapat seorang anak lelaki berambut hitam gelap sedang berdiri menunggunya di koridor sekolah.
Disapanya pemuda itu dengan hangatnya sehangat lembutnya panas musim semi.
Wajahnya berseri-seri kala itu. Pemuda itu membalas sapaan Karin dengan senyuman lembut yang tak kalah dengan lembutnya panas musim semi.
"Bagaimana?" tanyanya dengan harap-harap cemas.
"Disetujui!" jawab Karin sambil mengacungkan jempolnya. Senyumnya mengembang kala itu. Keduanya kini melangkahkan kaki mereka meninggalkan sekolah nomor satu didaerahnya itu. Keduanya menapaki jalan dengan penuh tawa. Sepanjang jalan, kedua insan itu saling bercanda tawa. Kaki mereka terhenti pada rumah besar yang termasuk mewah. Karin sudah sangat tak asing dengan bangunan itu. Sontak ia kaget akan rumahnya yang sedang akan dimasukinya itu.
"Tu... Tunggu. Ini kan, rumahku." ucap Karin kaget ketika Jin mengatakan kalau itulah rumahnya, rumah Karin yang sudah lama tak ditinggalinya.
"Iya. Memangnya kenapa?" tanya Jin kemudian.
"I... Ini rumahku." bala Karin sambil mendongakkan kepalanya keatas, melihat bagunan rumah itu sekali lagi.
"Tapi, kemarin, yang menyewa rumah ini, bukan kau, Jin." ucapnya lagi.
"Memang. Itu managerku. Sepertinya kita berjodoh ya. Ya sudah, ayo masuk!" ujarnya sambil tertawa kecil.
Mata Karin tak henti-hentinya menatap kagum rumahnya yang sudah lama tak ditinggalinya itu. Perabot dirumah itu masih tertata rapi. Tak tampak perubahan besar pada rumahnya itu. Semuanya masih tampak seperti sama ketika kemarin ia meninggalkan rumahnya dulu.
"Wah, ruangan ini sama seperti yang dulu!" ucap Karin berdecak kagum.
"Ya. Aku terlalu malas untuk menatanya kembali. Kau tahu kan, sifat lelaki?"
Jin membawa Karin menuju dapurnya. Semua alat dan bahan masak-memasak sudah tertata rapi.
Secara perlahan Jin mengajarkan cara memasaknya kepada Karin. Karin mengikutinya dengan sangat antusias.
"Lihat, kalau sudah berwarna agak kecoklatan, barulah diangkat." terang Jin pada Karin.
Ikan goreng itu diangkat Karin dengan sangat hati-hati. Seakan takut kalau seakan takut jika kulitnya yang mulus itu terpecik minyak yang panas yang akan membakar kulitnya.
"Wah, harum sekali!" seru Karin ketika menghirup bau aroma sedap dari sang ikan yang telah sukses digoreng.
"Nah, makanannya sudah selesai!" ujar Jin sambil menyiapkan piring. Semuanya telah tersaji dengan sempurna. Aroma makanan itu telah sukses membuat para cacing di perut bersorak-sorai didalam perut mereka.
"Jin, harus kah kita memakan ini semua? Mereka terlalu cantik, aku jadi tidak tega untuk memakannya." ujar Karin melihat makanan yang telah mereka buat bersama. Makanan itu tertata rapi dan dihias secantik mungkin, membuat Karin sangat tidak tega memakannya.
"Ayolah, Karin. Mereka akan menangis jika tak kau makan."
"Baiklah kalau begitu."
"Itadakimasu!" ujar mereka. Makanan itu terasa lezat di lidah mereka. Karin sungguh kagum pada pemuda di depannya itu. Sungguh pintar dalam hal memasak. Daripada Kazune, mungkin Jin jauh lebih baik dipikirannya. Karin memandangi Jin sejenak. Menatapnya ketika ia menyuapkan makanannya secara perlahan kedalam mulutnya. Tampan. Wajah Jin tampan. Itulah yang dapat ia nilai nilai secara fisik. Tetapi, ia sangatlah yakin, jika dinilai secara hati, pastilah Jin adalah lelaki yang baik. Ditengah kesibukannya, ia masih mau menolong Karin. Semua pertemuan tak terduganya dengan Jin sedikit menggelitik hatinya. Kini kisahnya seperti cerita pada dorama pada umumnya. Karin yang sedari tadi menatap Jin mendapat balasan senyuman dari sang Kuga. Karin membalas senyum itu, lalu kembali melanjutkan acara makannya. Karin tak henti-hentinya memuji masakan Jin yang terasa sangat lezat di lidahnya itu. Perutnya sudah kenyang sekarang, namun tubuhnya terasa letih. Karin menggeliatkan tubuhnya.
"Kau letih?" tanya Jin ketika melihat Karin menggeliatkan tubuhnya.
"Ya, sedikit. Kau juga?" tanya Karin berbalik. Ia tahu, pastilah Jin merasa lebih letih dibanding dirinya sendiri.
Sebuah mobil sedan berwarna hitam melaju dengan kencang. Sang sopir dengan gesit melewati setiap tikungan yang ada. Ia membawa seorang pemuda berambut pirang. Pemuda itu sedari tadi asyik membaca buku sepanjang jalan. Penjiwaannya yang tenang merupakan salah satu ciri khas pemuda itu. Kini mobil sedan itu berhenti di sebuah tempat, sebuah cafe. Cafe yang dimiliki pemuda pirang itu. Kakinya turun dari mobil mewah itu. Ia berjalan masuk ke cafe miliknya itu. Semua gadis yang melihatnya berbisik-bisik di sekitarnya, sebagian berdecak kagum akan ketampanannya. Itu sudah menjadi hal yang sangat biasa bagi Kazune Kujyo.
"Hey Kazune! Bukannya kau bilang tidak datang hari ini? Kenapa sekarang kau datang?" ucap Michi tatkala melihat Kazune yang tengah memasuki cafe dimana tempat ia bekerja paruh waktu sekarang.
"Aku bosan." ucap Kazune. Kakinya langsung melangkah ke menuju balkon di lantai dua cafe itu tanpa mempedulikan Michi yang tadi berada di sampingnya. Michi yang sudah mengerti akan situasi ini, langsung mengambil dua buah kaleng minuman ringan. Kakinya melangkah mengikuti jejak Kazune tadi. Didapatinya kazune tengah berdiri di pinggir balkon. Rambutnya terurai oleh terpaan angin. Matanya menatap panorama sekitar, sungguh tempat yang sangat menenangkan, baginya.
Michi mulai melangkah mendekat pada Kazune. Di tepuknya bahu temannya itu.
"Hey, ada apa?" tanya Michi sambil melemparkan sekaleng minuman ringan pada Kazune.
"Tidak. Aku hanya bosan." jawab Kazune, sambil menenggak minumannya.
"Mana Karin? Tidak biasanya dia tidak bersamamu." goda Michi sambil menyikut bahu Kazune.
"Dia pergi." ucap Kazune singkat.
"Eh? Kemana?" tanya Michi lagi.
"Tak tahu." jawab Kazune sambil mengangkat kedua bahunya. Michi menghela nafas. Sungguh begitu aneh sifat temannya itu. Pelayan pribadinya sendiri saja ia tidak mengetahui keberadaannya.
"Kau ini bagaimana? Karin itu kan maid mu. Massa kau tidak tahu keberadaannya?" ujar Michi kesal.
"Dia sudah meminta izin pergi dariku. Tapi aku tak menanyakan kemana dia pergi. Dirumah tanpanya, membosankan juga." ujar Kazune. Ia menghela nafasnya, lalu sesekali meneguk minumannya.
"Mungkin, kau suka padanya." ucap Michi dengan santai. Kepalanya menoleh kepada Kazune yang berada di sampingnya. Kazune tetap menatap lurus tanpa menoleh berbalik pada Michi.
"Kau ini, bercanda saja. Aku tidak mungkin menyukainya. Tapi... Aku pernah menciumnya."
"Kau ini, playboy juga."
"Tidak. Hanya dia perempuan yang pernah kucium selain Kazusa. Tubuhku tiba-tiba saja melakukannya tanpa aba-aba."
Karin masih tidak percaya ia sedang berada di dalam kamar tercintanya dulu. Kamar itu tak berubah sama sekali. Karin langsung merebahkan dirinya diatas kasur kesayangannya itu. Ia mengguling-gulingkan tubuhnya kekanan dan ke kiri. Tubuhnya terasa lelah sekarang. Jin memperbolehkannya istirahat sejenak. Ah, betapa baiknya Jin. Karin memejamkan matanya. Didalam lubuk hatinya, ia sangat berharap, ketika ia membuka matanya, orang tuanya sedang memanggilnya untuk makan malam. Suatu harapan manis yang sangat tak mungkin terjadi.
.
.
Jin melirik jam dinding berwarna hijau yang terdapat pada ruang keluarga rumahnya itu. Sudah mulai malam. Jin kemudian melangkahkan kakinya menuju kamar berpintu ungu muda itu, dimana yang ia tahu seorang gadis bernama Karin tengah terlelap. Dibukanya kenop pintu itu dengan sangat perlahan. Didapatinya gadis itu masih terlelap dengan damainya. Dengan perlahan, ia kembali menutup pintu itu.
Jin mengambil kepitusan sendiri. Ia menelepon salah satu orang yang tinggal dengan Karin, yaitu Kazune.
Jin memberitahu Kazune bahwa Karin ada di tempatnya. Dari intonasi suara Kazune, ia sangat tahu, bahwa lawan bicaranya itu merasa sangat tidak senang. Kazune memaksa untuk datang menjemput gadis yang sedang tertidur itu. Dan dengan terpaksa, Jin harus menyerahkan alamat rumahnya.
.
.
Kazune terpaku melihat rumah yang berada di depannya itu. Setahunya, dulu rumah itu adalah rumah milik Karin. Namun, Jin mengatakan bahwa itu adalah alamat rumah miliknya. Kazune menduga, bahwa orang yang menyewa rumah Karin adalah Jin.
Dengan menggebu-gebu, Kazune memencet bel rumah itu. Tampak seorang pemuda dengan tinggi yang hampir sama dengannya keluar dengan wajah kesal. Wajar saja, Kazune memencet bel-nya berulang kali, padahal Jin sudah menyahutinya.
Jin berdiri di depan pagar rumahnya sambil berkacak pinggang. Entah kenapa pemuda pirang yang berada di depannya itu sangat mengesalkan.
"Mana Karin?" tanya Kazune datar.
"Ada, didalam kamar." jawab Jin.
Kazune melangkahkan kakinya kedalam rumah yang dulu pernah ia injakkan kakinya itu. Jin mengantarnya sampai kedepan pintu dimana Karin tengah tertidur. Pelahan dengan hati-hati Kazune membuka pintu itu. Didapatinya Karin yang sedang terlelap. Jin menarik tangan Kazune keluar kamar itu dengan paksa, namun tanpa membuat keributan. Wajah jengkel kembali teraut dalam wajah tampan Kazune. Sungguh menyebalkan, menurutnya. Padahal ia tak melakukan apa-apa pada Karin.
"Jadi bagaimana? Kau akan membawanya pulang?" tanya Jin. Tangannya dilipatkannya ke dada.
"Ya. Tapi akan kutunggu sampai ia bangun tidur." ucap Kazune dengan pasti. Jin mengerutkan dahinya. Bayangkan saja, bagaimana jika Karin terbangun esok pagi? Apakah Kazune juga akan menunggu Karin selama itu?
"Bagaimana kalau dia lama sekali bangunnya?"
"Akan ku tunggu, selama apapun." ucap Kazune dengan yakin. Seperti dugaan Jin sebelumnya, pastilah Kazune akan menunggu Karin. Kazune kemudian pergi menuju ruangan dimana Karin berada. Ia duduk di lantai dasar kamar itu. Kakinya disilangkannya dengan kedua tangan melipat di dadanya. Duduknya sangat tenang, dan tanpa ekspresi. Tak berapa lama kemudian, Jin datang. Ia duduk berseberangan dengan Kazune. Kazune menatapnya dengan heran.
"Kenapa kau disini?" tanya Kazune setengah berbisik pada Jin.
"Aku juga mau menemani Karin. Tak akan kubiarkan kau disini, berdua dengannya." ucap Jin pada Kazune dengan suara setengah berbisik seperti Kazune.
Keduanya diam. Suasana ruangan itu kembali hening. Hari semakin larut, mata kedua pemuda itu bertambah berat. Lama kelamaan, mata keduanya terlelap, mereka terbawa ke alam mimpi.
Jam menunjukkan pukul 1 pagi. Karin terbangun dari tidurnya. Dengan mata sayu, ia melirik jam dinding pada kamar yang dulu adalah kamarnya itu. Sontak ia terkaget. Pukul 1 pagi. Seketika tak ada lagi rasa kantuk pada matanya.
Dilihatnya keadaan sekitar kamar itu. Betapa kagetnya ia melihat Kazune dan Jin sedang tertidur sambil duduk di lantai. Dengan hati-hati, Karin turun dari kasurnya. Ia duduk berjongkok tepat di hadapan Kazune. Ditatapnya pemuda berambut pirang yang sedang tertidur pulas itu. Dengan hati-hati, Karin meletakkan telunjuknya tepat ditengah dahi Kazune. Perlahan telunjuk itu turun mengenai hidung, lalu kemudia terus turun dengan perlahan sampai pada akhirnya mengenai bibir Kazune. Karin tersenyum kecil. Ia sungguh menyukai wajah ketika Kazune tidur. Ia tidur bagaikan seorang anak kecil.
Ditinggalkannya wajah pemuda pirang itu. Kini ia berbalik mengarah pada pemuda yang satu lagi, Jin. Karin mulai mendekat, dan sekarang ia berada tepat di hadapannya. Ia tersenyum melihat Jin yang sedang tertidur itu. Kembali ia teringat pada kebaikan-kebaikan pemuda yang berada dihadapannya itu. Entah kenapa, ia selalu ada disaat Karin sedang susah.
Karin beranjak keluar dari kamar itu, ia merasa dirinya haus. Dengan perlahan ia membuka kenop kamar itu.
Mata Kazune yang tadinya terkatup, sekarang telah mulai membuka matanya ketika mendengar suara pintu yang terbuka.
"Hoooamh." Kazune menguap, matanya menuju ke arah sumber suara tadi, suara pintu yang terbuka. Karin menoleh ketika mendengar suara seseorang yang sedang menguap itu.
"Ka... Kazune..." ucap Karin terbata-bata.
"Kau sudah bangun, ternyata. Ayo pulang." ajak Kazune.
"Tapi, sudah jam segitu." jawab Karin sambil telunjukkan mengarah ke arah jam dinding di kamar itu.
"Tak apa, kita pulang. Kita sekolah hari ini." ujar Kazune.
"Ya sudah. Lalu, bagaimana dengan Jin?" tanya Karin.
"Biarkan saja dia tidur, jangan diganggu. Kasihan."
Karin kemudian mengambil selimut yang ia gunakan sewaktu tidur tadi. Diletakkannya selimut yang lembut itu pada tubuh Jin. Kemudian, Karin tersenyum pada Jin yang sedang terlelap itu. Ia kemudian menoleh pada Kazune. Kazune hanya diam.
Karin mulai beranjak dari tempat itu. Baru mulai Karin berdiri, sebuah tangan menariknya jatuh. Jatuh kedalam pelukan pemuda yang tadi sedang tidur itu. Karin terkejut.
"Ji ... Jin?" ucap Karin terbata-bata. Karin tak berusaha melepaskan pelukan itu. Ia hanya diam mematung.
"Tetap lah disini." ucap Jin dengan mata yang tak terbuka.
"Ta ... Tapi ... " Karin memandang Kazune, berharap ia melakukan sesuatu. Namun, tampaknya Kazune tak peduli.
"Terserah padamu. Kau mau pulang atau tidak." ucap Kazune datar. Ia kemudian langsung pergi dari ruangan itu, meninggalkan Jin dan Karin berada di dalam kamar itu. Perasaan kesal sedang menyelimuti hatinya. Entah mengapa, ada perasaan kesal ketika Karin di peluk oleh laki-laki itu. Karin hanya diam memandangi sosok pemuda tampan itu pergi meninggalkan mereka.
"Ji... Jin. Aku tak bisa. Maaf." ujar Karin lirih.
"Iya, aku mengerti." balas Jin sambil melepaskan pelukannya pada Karin. Kedua beranjak pergi meninggalkan kamar itu, menuju ruang tengah. Tampak Kazune tengah duduk di sofa itu. Hentakan suara kaki membuatnya menoleh ke sumber suara. Ternyata derap langkah itu berasal dari Jin dan Karin yang tengah berjalan menuju tempatnya.
"Aku pulang." ucap Kazune pada Jin. Tanpa berbasa-basi lagi, Kazune berjalan meninggalkan rumah itu.
"Tunggu!" seru Karin. Suara itu membuat Kazune menghentikan langkahnya, lalu menoleh kebelakang, ke arah Karin.
"Apa?" tanya Kazune memastikan pendengarannya.
"Aku ikut. Pulang." ujar Karin.
"Baiklah. Cepat, berpamitlah padanya. Aku tadi telah menelepon orang untuk menjemput kita." ucap Kazune. Dengan segera Karin berpamitan pada Jin. Tak berapa lama, datang sebuah mobil yang menjemput mereka. Karin dan Kazune masuk kedalam mobil itu. Jin hanya memandang lirik kepergian mobil itu meninggalkan rumahnya. Di sepanjang perjalanan, Karin dan Kazune hanya diam, tak ada percakapan di antara mereka. Tanpa tersadar, mata mereka mengatup, dan kedua kepala mereka bergempetan.
***Sekolah telah usai. Karin, Himeka dan Kazune ditambah satu lagi orang, yaitu Kazusa, berjalan pulang meski beberapa diantara mereka tidaklah pulang ke tempat yang sama. Kazune dan Karin pergi menuju Kahika Cafe, Himeka pergi ke tempat less biolanya, Kazusa pergi ke tempat latihan menari ballet.
Di sepanjang perjalanan, tak ada yang mau membuka mulutnya untuk membuka percakapan diantara mereka, termasuk Himeka. Di persimpangan Kazusa telah berbelok, berbeda jalur dengan mereka.
Mata Himeka menatap lekat majalah yang terpampang di salah satu toko di dekat persimpangan itu. Ditariknya paksa Karin dan Kazune untuk mendekat pada toko itu. Disuruhnya kedua orang itu menunggunya. Himeka akhirnya keluar dari toko itu dengan membawa sebuah majalah remaja. Matanya membulat tatkala melihat siapa orang yang berada di cover majalah itu.
"Karin! Lihat ini! Ada foto mu dimajalah ini!"
seru Himeka sambil menunjuk-tunjuk gambar di cover itu.
"Kau model? Sejak kapan?" tanya Himeka tentu saja dengan semangat yang tak kunjung hilang sedari tadi sejak melihat majalah itu.
"Se... Sebenarnya..." belum sempat Karin melanjutkan ucapannya, lagi-lagi kalimatnya harus terpotong, karena seorang pemuda berambut pirang tiba-tiba saja merampas majalah yang berada di tangan Himeka.
Diperhatikannya dengan seksama foto yang ada di majalahnya itu. Ya, matanya tak salah lagi. Itu Karin. Gadis yang cantik yang berada di cover majalah remaja itu Karin.
"Se... Sebenarnya..." belum sempat Karin melanjutkan ucapannya, lagi-lagi kalimatnya harus terpotong, karena seorang pemuda berambut pirang tiba-tiba saja merampas majalah yang berada di tangan Himeka.
Diperhatikannya dengan seksama foto yang ada di majalahnya itu. Ya, matanya tak salah lagi. Itu Karin. Gadis yang cantik yang berada di cover majalah remaja itu Karin.
"Kau..." Kazune memandang wajah Karin dengan penuh tanda tanya.
"Ya. Itu aku. Kemarin itu aku pergi untuk itu." katanya sambil menunjukkan fotonya di majalah itu.
Karin kembali menatap Karin dengan penuh arti. Seolah-olah ingin informasi lebih dari gadis berkelahiran di bulan Juni itu.
"Aku dulu adalah seorang model di Amerika. Tanpa sengaja aku bertemu Jin. Dia membawaku kesana. Aku ditawari, dan aku menerimanya." jelas Karin.
"Karin, kau hebat!" ujar Himeka.
"Sudahlah, ayo pergi!" ajak Kazune.
Sekolah telah usai. Karin, Himeka dan Kazune ditambah satu lagi orang, yaitu Kazusa, berjalan pulang meski beberapa diantara mereka tidaklah pulang ke tempat yang sama. Kazune dan Karin pergi menuju Kahika Cafe, Himeka pergi ke tempat less biolanya, Kazusa pergi ke tempat latihan menari ballet.
Di sepanjang perjalanan, tak ada yang mau membuka mulutnya untuk membuka percakapan diantara mereka, termasuk Himeka. Di persimpangan Kazusa telah berbelok, berbeda jalur dengan mereka.
Mata Himeka menatap lekat majalah yang terpampang di salah satu toko di dekat persimpangan itu. Ditariknya paksa Karin dan Kazune untuk mendekat pada toko itu. Disuruhnya kedua orang itu menunggunya. Himeka akhirnya keluar dari toko itu dengan membawa sebuah majalah remaja. Matanya membulat tatkala melihat siapa orang yang berada di cover majalah itu.
"Karin! Lihat ini! Ada foto mu dimajalah ini!"
seru Himeka sambil menunjuk-tunjuk gambar di cover itu.
"Kau model? Sejak kapan?" tanya Himeka tentu saja dengan semangat yang tak kunjung hilang sedari tadi sejak melihat majalah itu.
"Se... Sebenarnya..." belum sempat Karin melanjutkan ucapannya, lagi-lagi kalimatnya harus terpotong, karena seorang pemuda berambut pirang tiba-tiba saja merampas majalah yang berada di tangan Himeka.
Diperhatikannya dengan seksama foto yang ada di majalahnya itu. Ya, matanya tak salah lagi. Itu Karin. Gadis yang cantik yang berada di cover majalah remaja itu Karin.
Diperhatikannya dengan seksama foto yang ada di majalahnya itu. Ya, matanya tak salah lagi. Itu Karin. Gadis yang cantik yang berada di cover majalah remaja itu Karin.
"Kau..." Kazune memandang wajah Karin dengan penuh tanda tanya.
"Ya. Itu aku. Kemarin itu aku pergi untuk itu." katanya sambil menunjukkan fotonya di majalah itu.
Karin kembali menatap Karin dengan penuh arti. Seolah-olah ingin informasi lebih dari gadis berkelahiran di bulan Juni itu.
"Aku dulu adalah seorang model di Amerika. Tanpa sengaja aku bertemu Jin. Dia membawaku kesana. Aku ditawari, dan aku menerimanya." jelas Karin.
"Karin, kau hebat!" ujar Himeka.
"Sudahlah, ayo pergi!" ajak Kazune.
Pagi yang cerah. Hari ini Karin sangat sibuk. Ia kembali memeriksa isi tasnya, lalu turun menuruni satu persatu anak tangga dengan cepat.
"Karin! Cepat! Nanti kita terlambat!" panggil Kazune.
Hari ini tepat seminggu setelah pengumuman perkemahan itu. Karin sangat senang dengan hari ini. Hari yang ia tunggu-tunggu.
"Aku sudah siap!" ucap Karin dengan semangat.
"Cepat masuk mobil! Dasar lamban!"
Mobil itu melaju dengan cepat menuju sekolah tercinta. Hampir semua siswa telah berada di sekolah. Waktunya tinggal sedikit lagi untuk berangkat, setidaknya mereka tidak terlambat.
"Baiklah, sesama angggota kelompok harus saling berdekatan!" perintah sang guru.
Mereka bertiga sedang mencari tempat duduk kelompok mereka.
"Disana!" ucap Karin tatkala melihat tanda bahwa tempat duduk itu milik kelompoknya. Karin langsung mendudukkan dirinya di salah satu tempat duduk, di dekat kaca jendela ( di dekat sudut tempat duduk loh, yang di dekat kaca, yang biasanya kita bisa ngeliat dengan jelas itu. Author lupa apa namanya -w- )
Tersisa satu bangku disamping Karin.
"Aku duduk disitu." ujar Kazune ketika melihat Karin langsung duduk di dekat kaca.
"Tidak bisa. Aku mau duduk disitu." tolak Jin. Karin hanya duduk diam mengamati tingkah para pemuda tampan yang sifatnya sangat kekanak-kanakan sekarang. Padahal masih ada satu bangku lagi dibelakangnya. Apa bedanya? Bahkan jika duduk di belakangnya malah bisa melihat pemandangan luar seperti dirinya.
"Tidak bisa! Aku duluan." tolak Kazune.
"Aku duluan!" seru Jin.
"Aku duluan!" balas Kazune.
"Tidak bisa! Aku yang lebih dulu!" bela Jin.
"Tidak, aku lah yang lebih dulu!" tolak Kazune. Karin yang mendengar perdebatan itu membuat telinganya semakin panas saja.
"DIAM!" bentak Karin. Sontak kedua terdiam. Karin kemudian pindah ke belakang. Keduanya tetap masih tak bergeming.
"Ayo duduk! Tunggu apa lagi? Bukannya tadi kalian berebut ingin duduk?" tanya Karin dengan nada jengkel. Kedua lelaki itu dengan patuh mematuhi perintah gadis itu. Sepanjang perjalanan, mereka berdua selalu saja beradu mulut seperti layaknya perempuan, sampai akhirnya mereka tertidur dalam perjalanan.
Setelah menempuh perjalanan yang cukup lama, akhirnya bus itu berhenti di sebuah hutan tropis di wilayah itu. Sesuai dengan penjelasan dari para guru, semua murid kelas A+ berjalan dengan perlahan mengikuti sang guru, tak terkecuali dengan kelompok Karin. Mereka ada pada barisan paling belakang. Begitu lambatnya Karin berjalan, hingga membuat Kazune mendengus kesal.
"Karin! Kau ini manusia atau siput?" omel Kazune.
"Tas-nya berat!" seru Karin. Jin yang mendengar pernyataan Karin langsung menawarkan bantuan, namun sayangnya Karin menolak.
Secara tak terduga, gempa yang mengerikan mengguncang kawasan itu. Semuanya terguncang, tak terkecuali mereka bertiga. Karin, Kazune, dan Jin jatuh menggelinding. Sebuah lembah curam hampir berada di depan mereka. Tubuh Kazune tetap menggelinding tak terkendali. Satu langkah lagi, ia akan jatuh ke dalam lembah yang curam itu. Namun, dengan sigap Karin yang setengah sadar, langsung menarik tangan Kazune. Dengan luka di kepalanya, membuatnya semakin tak bertenaga untuk menarik Kazune agar tak jatuh ke dalam lembah curam itu. Tenaga Karin semakin berkurang. Lama kelamaan, akhirnya ia juga hampir terjatuh ke dalam lembah itu. Dengan segala kekuatannya yang tersisa, ia tetap bertahan. Salah satu tangannya tetap menggenggam tangan Kazune, dan satunya lagi memegang erat pada pinggir tanah.
"To ... Tolong kami!" ucapnya lirih. Sayup-sayup, Jin yang setengah sadar itu mendengar suara Karin. Dengan tubuh yang masih lemah, Jin mencoba mencari sumber suara. Didapatinya Karin tengah berjuang menyelamatkan diri dengan Kazune. Kazune yang tadinya sempat pingsan, perlahan mulai tersadar. Kepalanya sungguh pusing. Ia tersontak dengan posisinya sekarang. Jin dengan segera meraih tangan Karin. Dengan erat, Jin memegang tangan Karin, ditariknya dengan semampunya, namun mereka terlalu berat untuknya.
"Karin! Lepaskan tanganmu dariku!" seru Kazune. Ia sadar, jika Karin terus memegang tangannya, tentu kemungkinan untuk mereka berdua selamat, sangatlah kecil. Apalagi dilihat dari Jin yang sedang menarik mereka dengan susah payah. Tubuhnya, Tubuh Karin, dan berat tas Karin. Kazune sangat yakin, Jin tak kan mampu untuk menyelamatkan tangan mereka berdua.
"Tidak! Tidak akan kulepas!" teriak Karin pada Kazune. Lama kelamaan pegangan tangan Karin dan Jin mulai mengendur. Jin sudah mencapai batas maksimalnya. Dan pada akhirnya pegangan itu terlepas dari kedua tangannya.
"KARIIIIN!"
TBC
Tadaaaaa! Chapter 9 selesai juga akhirnya. Ditengah rutinitas yang padat, akhirnya saya selesaikan juga chap ini. Maryam udah kelas 3 SMA, jadi agak susah waktu luangnya. Oh iya, doain Maryam lulus PTN ya!
Hosh! Maafkan saya kalau chap ini tidak menariik ya T^T
oh ya nih balesan ripiew yang ga login.
guest: hihi, udah di lanjut nih.
Yonhaeng-chan: oh ya? Ah, arigatou ne^^
Alya: kepanjangan ya? Ah, gomen kalo ga suka n,n
Yan: ini, sudah di next. Repiew ya n,n
Nazumi Yourichi: wih 17 jempol! Minjem darimana aja tuh? Thanks ya n,n
Asari-san: ah, thanks ya Asari-san n,n
Yuri: oke, udah next!
KK LOVERS: oh iya ya, harusnya penari ballet. Thanks ya n,n
Nuri: maryam baru sadar kalau keulang T.T
Jamilah: Jangan! Kazune nempel sama Maryam aja XD
thanks ya udah ngereview chap sebelumnya ya.
And thanks untuk semua orang yang sudah bersedia membaca fic abal-abal ini.
\( ^ o ^ )/
Hanazawa Maryam
