SKY OF LOVE

Italic = Flashback

.

.

.

Karna kau katakan cinta maka aku percaya.

.

.

.

Lay tidak tahu harus berkata apa, bibirnya tidak sanggup untuk mengucapkan sepata katapun. Otaknya seakan berhenti bekerja. Matanya terasa perih karna sedari tadi tidak sedikitpun dia berpikir untuk berkedip, matanya terlihat bulat seperti burung hantu sekarang.

"Lay ?" laki – laki blonde itu berdiri dan mengguncang bahunya.

"eh" matanya mengerjap

"bagaimana ?" tanyanya lagi pada Lay "aku tahu ini gila tapi, aku mencintaimu" sambungnya.

.

.

.

Baru beberapa hari yang lalu dia bertemu dengan laki – laki berdarah China ini dan sekarang laki – laki yang menurutnya itu manis untuk ukuran seorang laki – laki sudah mengatakan sesuatu yang membuatnya tercengang. Dia berharap tidak akan ada orang yang melihat ekspresinya sekarang, mata melotot dengan mulut yang sedikit terbuka, dia sendiri tidak sudi melihat mukanya sekarang.

"Ge kau marah padaku ?"

Kris masih terdiam, mencoba memproses kalimat yang dikatakan Tao beberapa meit yang lalu.

"Kumohon jangan jauhi aku ge setelah ini" tao berbalik namun baru dia ingin melakah tangannya sudah ditahan seseorang.

"Apa itu benar, kau mencintaiku ?"

Tanpa mengatakan apapun, laki – laki berwajah panda itu langsung mendekap kris. Membenamkan wajahnya di dada bidang itu, menyalurkan rasa hangat yang menjalar ke tubuhnya. Membiarkan debaran di jantungnya menghantam dada laki – laki tersebut.

.

.

.

Apa cinta memiliki arti yang sama ?

.

.

.

Lay merasa kakinya tidak akan tahan lagi untuk menopang tubuhnya, dia sudah berdiri selama 2 jam di depan apartemen kekasihnya. Kaki yang tidak dibalut apapun itu gemetaran karna terlalu lama tersentuh hawa dingin, bibir merahnya sudah mulai memucat. Jari – jari lentik itu seakan sudah kehilangan harapan untuk sekedar mengetuk pintu apartemen di hadapannya.

"Gege dimana" matanya memamanas, terasa seperti ada duri yang menancap pada bola matanya.

Dia masih ingat pembicaraanya dengan Kris tadi malam. Kris memintanya untuk datang ke apartemennya untuk mereyakan hari special untuk mereka berdua, saat mendengar permintaan Kris dia merasa bahwa dia merupakan perempuan paling beruntung di dunia ini. Namun semuanya tidak berjalan sesuai kehendaknya.

Kris tidak ada di apartemennya.

"Apa gege melupakan janjinya" monolognya.

Kepalanya terbenam dikedua lututnya, dia merasa kepalanya terasa sangat berat. Dia merasa sangat jahat saat banyak hal buruk tentang Kris yang masuk ke kepalanya dan bahunya mulai bergetar saat hal buruk tersebut semakin terlihat kebenarannya. Kekasihnya mulai berubah.

Dan hal terakhir yang diingatnya adalah ketika dia menangis dalam diam sambil meminta suatu hal yang sangat bodoh entah pada siapa.

Kumohon jangan berubah...

.

.

.

Kris merutuki dirinya sendiri bagaimana bisa dia melupakan kekasihnya dan malah pergi bersama orang lain. Dia benar – benar lupa bahwa dia memiliki janji dengan Lay. Tadi pagi dia mendapatkan pesan singkat dari orang yang mengisi hatinya beberapa minggu terakhir bahwa orang tersebut sedang sakit dan tanpa berpikir panjang dia langsung melihatnya. Dan tanpa mengingat janjinya dengan Lay.

"Lay bangun" tangannya masih menggenggam tangan perempuan yang tidak sadarkan diri tersebut. Ini sudah hampir 2 jam dan Lay masih belum sadarkan diri, mukanya sudah tidak sepucat saat Kris menukannya di depan pintu apartemennya namun belum ada tanda – tanda ia akan bangun.

Kris bergegas mengambil ponselnya dan mengetik nomor orang yang bisa membantunnya namun saat dia baru akan menelpon orang tersebut ada seseorang yang memanggil namanya.

"Kris" suaranya parau, cepat – cepat kris menghampiri Lay dan membantunya untuk duduk.

"Gege, akh" lay memegangi punggungnya, punggungnya pasti sakit karna terlalu lama merasakan dinding luar apartemen Kris.

Kris semakin merasa bertambah bersalah mendengar suara kesakitan Lay, namun memang seharusnya dia merasa bersalah.

Lay menunduk mencoba untuk menghilangkan sakit kepala yang tiba – tiba menyerangnya, kepalanya serasa habis terbentur beton. Seharusnya dia tahu bahwa tubuhnya tidak akan kuat untuk bertahan di cuaca sedingin ini, dia hanya terlalu rindu dengan lelaki dihadapannya ini.

"Ge" kepalanya masih menunduk tangannya tidak lagi memegangi punggunya, jari – jari lentik itu meremas ujung untuk meredam rasa sakitnya. "Ge apa sudah kukatakan bahwa aku mencintaimu ?" tanyanya dalam satu tarikan napas. Pandangan mereka bertemu, mata indah itu mengunci pandangan tajam Kris.

Kris tidak paham pertanyaan Lay dia hanya diam dan menatap mata Lay, mencoba mencari maksud dari kekasihnya tersebut. Lay hanya tersenyum saat melihat beberapa guratan terlukis di wajah tampan Kris, dia tahu kris tidak mengerti apa yang barusan dikatannya.

"Aku mencintaimu dan kau harus percaya itu ge"

Sedetik kemudian bibir itu sudah berada diatas bibir kissable Kris, menyentuhnya dengan sangat lembut mencoba untuk mengalirkan cinta didalamnya. Sebuah butterfly kiss yang manis.

.

.

.

Tao sudah merasa lebih baik dari pada kemarin, lebam – lebamnya juga sudah terlihat memudar walaupun masih ada yang telihat jelas di beberapa area badannya terutama punggungnya. Dia tidak tahu bahwa latihan yang sering dilakukannya 2 hari yang lalu menyebabkan kecelakan kecil yang dampaknya sangat sakit baginya. Dia pikir semuanya akan baik – baik saja saat itu dibawa tidur dan saat terbangun dia akan seperti semula, namun keadaan tidak semanis harapan.

Saat terbangun tulangnya serasa patah, dia bahkan tidak mampu untuk berjalan ke kamar mandi. Saat disingkapnya selimut panda miliknya tiba – tiba saja lengan dan dadanya dipenuhi dengan lebam keunguan dan karna terlalu panik dia langsung menelpon kekasihnya kris untuk segera datang ke apartemennya.

"Apa gege tadi malam sampai dengan selamat ?" tanya sendiri.

Jari – jarinya mengetik pesan singkat dengan bersemangat dia merasa sangat baik sekarang. Sebuah garis merah terlukis dipipinya saat pesan itu dikirimnya, dia merasa seperti seorang istri yang sedang mencoba mengetahui keadaan suaminya yang tidak berada di dekatnya.

"Gege pasti belum bangun sekarang" dia tersenyum geli saat mengingat ekspresi kris kemarin saat melihat keadaannya.

Flashback

Tao sudah tidak tahu lagi harus bagaimana agar dia tidak menangis sedari tadi air matanya terus keluar dan tidak mau berhenti. "Berhenti bodoh atau tidak korea akan tenggelam" rutuknya sambil terus mengelus bahu sebelah kanannya yang terasa panas.

Dia tidak tahu harus berkata apa saat melihat kondisi tubuhnya, lebam dan memar terlukis indah di tubuh mulus miliknya. Seingatnya kemarin dia hanya latihan untuk perlombaan wushu minggu depan dan memang dia melakukan kesalahan biasa namun dia tidak tahu bahwa dampaknya akan separah ini.

"Tao" teriak seseorang dari pintu depan.

"Gege" suaranya sangat kecil, bahkan dia yakin jika orang tersebut tidak akan mendengarnya.

"Astaga Tao kau kenapa ?" wajahnya terlihat sangat panik dan bertambah panik saat disingkirkannya tangan Tao yang mencoba menutupi bahunya. "Apa yang kau lakukan ? kenapa kau bisa jadi seperti ini"

"Ge aku"

"Kau mencoba bunuh diri ya ? Atau sedang mengetes seberapa kuat tubuhmu ? kau terlihat buruk Tao, Tao"

"Ge aku tidak apa – apa " potongnya saat kris berjalan menuju lemarinya.

"Tidak apa – apa bagaimana, kau sakit" tangannya mengambil acak setiap baju yang dilihatnya, memasukkan sebanyak mungkin ke dalam tas besar tersebut.

"Kau harus ke rumah sakit" nada bicaranya berbeda.

"Ge"

"Aku tidak ingin sesuatu yang buruk terjadi padamu" tangannya berhenti memasukkan baju, Kris berbalik dan berjalan menuju Tao. Dia berlutut di lantai mencoba untuk mensejajarkan badannya.

"Kau butuh diobati Tao"

"Kau obatku ge" tao mengunci pandangan Kris. Mereka terdiam cukup lama dan saling berpandangan seolah mereka hanya berbicara melalui tatapan.

"Aku mencintaimu" Tao memecah keheningan namun Kris masih terdiam.

.

.

.

Kakinya melangkah keluar kamar namun tiba – tiba langkahnya terhenti pada suatu objek yang sangat dikenalinya. Sebuah mantel hitam tergeletak di meja belajarnya.

Pasti gege lupa membawanya pulan, dasar pelupa.

"Baiklah hari ini kita akan ke rumah mr. Keras kepala itu tuan panda" boneka yang diajak bicara hanya diam. Tao tersenyum karna dia bisa menemui Kris hari ini, dia sangat merindukan laki – laki itu padahal baru kemarin mereka bersama satu harian. Setidaknya dia memiliki alasan saat kris bertanya mengapa dia mengunjungi apartemennya.

.

.

.

Karna kukatakan cinta maka kau harus yakin padaku.

.

.

.

Lay selalu terbangun sebelum sang mentari menyinari dunia, dia terbiasa bangun lebih cepat dari kebanyakan anak muda seusia. Jarum jam masih menunjukkan jam 5.30 dan semuanya sudah dikerjakannya dengan baik sejak 1 jam yang lalu, dia hanya perlu memasak satu menu lagi untuk dirinya dan kris pagi ini.

Saat dia menyadari bahwa hari ini dia terbangun di tempat tidur kekasihnya dan bermalam disana dia merasa sangat nakal, menginap di rumah seorang laki – laki. Hal ini tidak pernah terpikirkan oleh dirinya. Setelah dia mencium kris, hanya menempelkan bibirnya pada bibir kekasihnya dan semuanya menjadi tidak terkendali.

Lay masih ingat berapa kali mulutnya berkata berhenti namun berkali – kali juga badannya meminta hal yang berbanding terbalik dengan yang dikatakannya, Lay larut dalam setiap sentuhan yang diberikan oleh Kris dan dia memberikannya secara sukarela pada laki – laki tersebut. Lay sadar bahwa dia sangat mencintai Kris hingga dia berani melakukan hal seperti itu.

"Astaga Lay kau sangat nakal" ucapnya sendiri.

Kakinya melangkah menuju ke kamar sang kekasih, bermaksud untuk membangunkannya karna hari ini kekasihnya. Lagi pipinya langsung bersemu merah saat memasuki kamar tersebut, gambaran tadi malam tiba – tiba memaksa untuk merasuki pikirannya. Lagi – lagi ujung bajunya menjadi hal terakhir yang diremasnya untuk meredam kegugupannya.

Drrrtt... Drrttt...

Keningnya berkerut saat melihat sebuah pesan masuk dalam layar hp milik Kris, langkahnya berubah menuju ke arah benda kecil tersebut. Lay heran siapa orang yang mengirim pesan singkat pada kekasihnya sepagi ini diakhir pekan.

"Tao" sebuah nama terucap dari bibir indahnya, kalimat itu lebih terdengar seperti sebuah kalimat tanya.

Lay berpikir tidak masalah jika dia membaca pesan tersebut, dia hanya heran kenapa Tao mengirim pesan singkat sepagi ini kepada kekasihnya.

"..."

Semu merah pada pipinya lenyap entah kemana pagi itu.

.

.

.

TBC

Pertama luna mau minta maaf karna updatenya terlalu lama^^ sebenarnya ff ini sudah luna buat dari awal tahun tapi terhenti. Disini Lay itu perempuan ya sedangkan Kris dan Tao tetap laki – laki, maaf untuk lupa menulis status jenis mereka/?

Dandeliona96

Jangan panggil eonni dong :" line kita sama nih oh ya disini lay itu perempuan ya ._. wah luna seneng banget nih! Kamu orang pertama yang ngereview ^^ makasih ya~

Ochaken

Tenang luna juga seneng sama ochaken yang sudah jadi orang kedua hoho~ makasih ya sudah review dan membaca, luna sangat senang^^~ ini sudah dilanjut ya.