Kahika Café
Kamichama Karin©Koge Donbo
Kahika Café ©Hanazawa Maryam
Rated : T
WARNING: Typo, alurnya berantakan, OOC, De EL EL

Chapter 10

"KARIIIIN!"

Tangan itu terlepas, tubuh kedua orang itu terguling tak beraturan menungkik ke dasar lembah itu. Kedua orang itu tak sadarkan diri. Sampai pada akhirnya kelopak mata itu terbuka. Dengan perlahan, mata emeraldnya terbuka. Sinar matahari yang mulai redup mulai memasuki matanya. Dengan keadaan yang masih setengah sadar, ia mencoba bangkit. Kepalanya terasa sakit. Dirabanya kepala itu, ada berkas darah. Ah, kepalanya berdarah. Sepertinya akibat terjatuh tadi. Dengan kesadaran yang belum sempurna, matanya menatap keadaan sekitar. Matanya mendelik kala melihat seorang lelaki dari kejauhan tengah tergeletak tak sadarkan diri. Kepalanya bercucuran darah. Karin panik. Dengan sisa tenaganya yang belum pulih sebelumnya, dengan cepat ia mendekati lelaki itu. Karin berusaha menyadarkannya dengan memanggil namanya berulang kali, namun lelaki itu tak kunjung bangun.

Karin semakin panik. Ia kemudian berteriak meminta tolong, berharap seseorang mendengarnya walau ia tahu kemungkinan ada yang mendengarnya sangat kecil. Ia kemudian teringat pada tas-nya. Dengan sisa kekuatan, ia berjalan gontai mencari tas-nya yang mungkin saja ada disekitar tempat itu. Setelah beberapa lama mencari, akhirnya usahanya membuahkan hasil. Ia berhasil menemukan tas-nya. Dengan segera diambilnya kotak obatnya. Dengan perlahan dan sangat hati-hati ia mengobati luka pemuda itu.

Setelah selesai, Karin duduk disamping pemuda itu. Menangis sesegukan menatapi nasipnya sekarang ini. Hari semakin gelap, ia semakin takut. Kembali dipanggilnya pemuda yang sedang tak sadar itu, namun tetap tak ada jawaban. Karin kembali menangis. Tak ada siapa pun disana selain dirinya dan Kazune. Perlahan Kazune membuka kelopak matanya. Seketika ia memegang kepalanya yang terasa sangat sakit sekarang. Terdengar olehnya suara seseorang yang sedang menangis. Dilihatnya keadaan sekitar. Ternyata seorang gadis yang tengah duduk disampingnya sedang menangis. Ia mengenali gadis itu, Karin. Dengan lemah, ia kemudian bangkit dari tidurnya dan mencoba duduk meskipun kepalanya sangat sakit sekarang. Karin menoleh kesamping. Betapa bahagianya ia ketika mengetahui Kazune sudah sadar. Dengan reflek ia memeluk tubuh pemuda itu sebagai kegembiraannya. Air mata tanda bersyukur mengucur dari matanya. Kazune yang awalnya terkejut melihat perlakuan Karin terhadapnya, kini tersenyum dalam dekapan sang gadis. Ia kemudian menepuk-nepuk punggung gadis itu untuk menenangkannya.
"Jangan menangis." ucapnya. Gadis itu masih saja menangis sesegukan, kemudian ia melepaskan pelukannya dari Kazune.
"Aku kira kau akan mati." ucapnya pelan.
"Aku takkan mati semudah itu. Jadi, kita berdua terjebak disini? Hah, aku sungguh malang terjebak disini berdua denganmu." Wajah Karin seketika mengkerut mendengar pernyataan Kazune. Hatinya sungguh mendongkol. Betapa tadi ia sangat mengkhawatirkan pemuda di hadapannya itu. Namun, dengan mudah pemuda itu berkata seperti itu.
Sesaat kemudian emeraldnya itu menatap iris mata menatap iris sapphire milik pemuda itu dengan penuh kekesalan. Beberapa detik kemudian ia beranjak pergi, pergi meninggalkan pemuda yang sudah berkata hal yang menyebalkan padanya. Meski ketakutan menyelimuti dirinya, ia tetap memutuskan meninggalkan lelaki menyebalkan itu.
"Hei, Karin! Kau mau kemana?!" tanya Kazune berseru. Karin berbaik mendengar Kazune memanggilnya. Tangannya disilangkannya ke dada.
"Apa lagi? Bukankah kau bilang terjebak dengan denganku adalah kemalangan untukmu? Jadi lebih baik aku pergi saja!" tubuhnya membalik, berjalan lurus meninggalkan pemuda itu. Dengan cekatan, pemuda itu bangkit dan berlari kecil mengejar gadis itu.
"Hey, aku hanya bercanda." ucapnya. Gadis itu menolehkan kepalanya, mengarah pada pemuda itu dengan tatapan kesal. Pemuda itu kemudian menggunakan tangannya membentuk sebuah guratan senyuman pada bibir gadis itu.

"Daripada kau terus cemberut, lebih baik tersenyum saja. Meski senyummu jelek, tapi wajah cemberutmu itu lebih jelek."

"Hei! Kau yang membuatku seperti ini, Kazune!" ujar Karin kesal. Lama kelamaan hatinya telah luluh dalam permintaan maaf Kazune. Tanpa sadar, seekor belalang hijau tengah melompat dengan asyiknya menjelajahi hutan yang besar itu. Kini lompatannya mendarat pada salah satu kulit kaki yang putih dan lembut. Kazune menyadari ada sesuatu yang aneh pada kakinya. Seperti ada sesuatu pada kakinya. Diliriknya kebawah, melihat kakinya.
"Hwaaaaaa! SERANGGA!" histeris Kazune. Ia kemudian berlari seribu langkah, ketakutan akan serangga itu. Karin hanya terbengong menatap kelakuan aneh pemuda itu. "Takut serangga? Jadi dia takut serangga? Ah, bodoh sekali takut pada serangga. Tapi, tunggu dulu, suatu saat, aku bisa mengerjainya kalau dia sudah sangat menyebalkan." pikir Karin dalam hati. Karin kemudian senyam-senyum tidak jelas tatkala membayangkan bagaimana jadinya jika ia mengerjai Kazune ketika dirumah nanti."
"Hey Kazune! Tunggu!" seru Karin sembari mengejar Kazune. .

.
Dengan tergopoh-gopoh, Jin melangkahkan kakinya untuk keluar dari tempat itu. Sesekali ia berteriak meminta pertolongan. Hari sudah semakin gelap. Hawa dingin mulai menusuk tulangnya. Lama kemudian, sayup-sayup suaranya mulai terdengar oleh para siswa lain. Para guru dan murid mulai mencari sumber suara itu. Beruntung, Jin dapat ditemukan. Jin kemudian bergabung dengan para siswa lainnya. Mereka terpaksa akan bermalam di sana, mengingat tidak adanya sinyal di hutan itu, dan hari sudah gelap sehingga mereka tidak bisa melanjutkan perjalanan keluar dari hutan itu.
***

Hari sudah semakin gelap. Para serangga bernyayi dengan riangnya saat itu, membuat Kazune bergidik ngeri. Seluruh rasa takutnya ia tekan. "Ayo buat tenda! Hari sudah semakin gelap!" perintah Kazune pada Karin. Dengan malas, Karin terpaksa mendirikan tenda di tempat itu. Kazune sibuk mencari-cari tas-nya yang belum juga di temukan. Setelah lama mencari di sekitar lokasi di mana ia terjatuh tadi, akhirnya ia menyerah juga.

"Karin, tas ku benar benar hilang. Jadi sepertinya, kita akan ...

" Kazune tak sanggup untuk melanjutkan perkataannya. Tapi sepertinya, dari raut wajah Karin, ia sudah mengerti apa yang akan dikatakan Kazune.
"Apa? Kita tidur bersama? Tidak! Aku tidak mau!" tolak Karin. Bagaimana bisa ditempat seperti ini, dimana tak ada seorangpun selain mereka, mereka tidur bersama! Bagaimana jika terjadi sesuatu dan tak ada yang mau menolongnya. Karin bergidik ngeri.
"Heh! Kau kira aku mau melakukan hal macam-macam denganmu! Kau itu bukan tipe ku!" ujar Kazune. Karin merasa sedikit lega mendengar penuturan Kazune, namun ia harus tetap waspada. Bersama-sama mereka menghidupkan api unggun untuk menerangi tubuh dan menghangatkan tubuh. Dengan api unggun itu juga, mereka memasak makanan instan yang dibawa Karin dari rumah. "Ini untukmu." Karin menyerahkan sebagian makanan yang dimasaknya pada Kazune.
Dengan lahap, mereka memakan makanan itu. Kazune melirik pada Karin yang sedang makan, kemudian melanjutkan kembali acara makannya.

Perut telah kenyang. Angin sepoi-sepoi berhembus masuk kedalam, menerpa kulit putih mereka. Karin duduk di tepi tenda menatap bintang, diikuti oleh Kazune. Mereka duduk termenung memandangi bintang yang bekerlap kerlip dengan indahnya.

Kazune menoleh pada Karin. Ditatapnya gadis itu yang sedang menatap angkasa malam. "Bagaimana kalau kita tak pernah ditemukan?" tanya Karin pada Kazune. Matanya masih terus melekat memandang langit malam yang tampak indah itu.
"Jangan berpikir yang aneh-aneh. Tapi, kalau memang kita tak pernah ditemukan, mungkin kita akan tinggal disini." "Kalau begitu, aku nanti tidak akan pernah pacar. Hah! Menyedihkan!"
"Kalau begitu, aku orang akan menjadi pacarmu, tidak bukan pacar. Aku nanti akan langsung menikahimu." ucap Kazune. Karin menolehkan kepalanya. Matanya mengarah pada Kazune seakan-akan tak percaya apa yang telah dikatakan Kazune.
Kazune kemudian menghempaskan tubuhnya kedalam tenda. Karin masih mengeluarkan mimik bingung.
"Sepertinya, tadi ucapannya lebih panjang dari itu." gumam Karin. Kini ia membalikkan tubuhnya, menatap Kazune yang sedang asyiknya tidur sambil berselimut dengan selimut miliknya.
"Kazune! Geser!" perintah Karin pada Kazune yang memakai bantal miliknya.

"Selimut itu milikku," ucap Karin sambil menarik-narik selimut miliknya. Hingga akhirnya terjadi perebutan bantal dan selimut yang sengit diantara mereka.
"Begini saja, bagaimana kalau berbagi saja." usul Kazune yang mulai gerah dengan peristiwa tarik menarik bantal dan selimut diantara mereka.
"Tidak mau. Kalau berbagi, berarti kita akan tidur dengan jarak yang dekat. Ah, aku tidak mau!" tolak Karin.
"Tidak tidur satu bantal juga jarak tidur kita memang sudah dekat, Karin." jelas Kazune. Lama kelamaan hati Karin melunak. Dengan berat hati, Karin bersedia berbagi bantal dan selimut bersama Kazune. Kedua orang itu tidur berdampingan. Karin tidur membelakangi Kazune, berusaha menghindari Kazune. Ia sedikit gugup tidur berdua dengannya. Begitu pula yang terjadi dengan Kazune, ia merasa gugup harus tidur berdampingan dengan Karin. Ini pertama kalinya ia tidur bersama perempuan lain selain dengan adiknya, dan mendiang Ibunya.
Kazune mengamati punggung orang yang membelakanginya itu. Wajahnya mengulas sebuah senyum tipis tatkala mengamati gadis itu, kemudian memejamkan matanya.
***

Kembali Himeka menyeka air matanya yang mulai berjatuhan ketika mengingat kakaknya yang bersama Karin menghilang di hutan itu. Kazune merupakan kakak satu-satunya dan juga merupakan perwakilan sebagai ayahnya ketika ayahnya sedang tidak ada berada di Jepang. Bagaimana jika Kazune dan Karin tidak pernah ditemukan? Pada siapa lagi ia bersandar ketika Ayahnya sedang tak berada bersamanya? Derap langkah kedua kaki milik pemuda tegap dengan kedua sisi mata yang berbeda itu membuat Himeka tersadar ada orang lain yang terbangun selain dirinya. Himeka kemudian mendongakkan kepalanya. Ternyata Michiru. Michiru kemudian berjongkok di hadapan Himeka. Tangannya menyeka air mata yang keluar dari mata indah milik Himeka.

"Jangan menangis. Mereka berdua akan baik-baik saja. Aku yakin itu. Tenanglah. Jangan khawatir." ucap Michi untuk menhilangkan kekhawatiran dalam diri Himeka.
"Terimakasih Michi. Tapi, bagaimana jika kenyataannya tak seperti itu? Dia kakakku satu-satunya. Dan Karin, ia teman perempuan terbaik yang pernah kumiliki. Jika mereka berdua tak ada, pada siapa lagi aku harus bersandar selain pada ayahku yang sangat jarang bersamaku?" tanya Himeka dengan terisak-isak.
"Masih ada aku. Kau boleh bersandar padaku kapan saja yang kau mau."
***

Matahari mulai memunculkan kembali dirinya. Sinar hangatnya menyebar ke segala penjuru. Partikel-partikel cahaya mulai menerobos masuk kedalam tenda itu. Silaunya sinar matahari itu membuat Karin terpaksa untuk bangun dari tidurnya.
"Hwaaaaaa!" jerit Karin. Sungguh ia terkaget ketika melihat tangan Kazune sedang memeluknya dari belakang. Kazune yang masih berada di alam bawah sadarnya, sontak terbangun ketika mendengar jeritan Karin. Sungguh ia kaget ketika ia melihat bahwa dirinya tengah memeluk Karin. Dengan reflek, ia melepaskan pelukannya. Wajahnya sedikit merona.
"Apa yang kau lakukan?!" seru Karin.
"Tidak. Aku tak sengaja memelukmu. Aku berani bersumpah, aku tak melakukan hal lain selain itu. Lagi pula, tadi aku tak sadar sedang memelukmu." ungkap Kazune. Karin membalikkan tubuhnya, menyembunyikan rona merah pada wajahnya.
"Ayo keluar!" aja Kazune. Tanpa memperdulikan Karin, Kazune keluar dari tenda itu.

Sinar matahari pagi langsung menyeruak masuk kedalam tenda itu. Kazune kemudian berdiri di depan tenda itu. Matahari pagi menerpa tubuhnya. Kazune melangkahkan kakinya menuju ke sekitar tempat lokasi tendanya, melakukan olahraga ringan. Karin berjalan mendekati Kazune yang masih melakukan olahraga ringan. Sejenak ia melupakan kejadian yang barusan membuatnya merasa shyok!
"Kazune, kita akan tetap menunggu disini?" tanya Karin. Mendengar suara Karin, Kazune menhentikan aktivitasnya. "Terserah padamu. Tapi, aku tak suka terus berada disini." "Aku juga. Setelah sarapan, ayo pergi." balas Karin.
"Oke. Kau masih punya kompas, kan?" Karin langsung meraba-raba kantungnya. Tidak ada. Kompas itu tidak ada. Kembali ia mengingat ingat dimana ia menaruh kompasnya kemarin. Seingatnya, ia menyimpannya di dalam kantung celananya. Ia kini mengobrak-abrik isi tas-nya. Tetap tidak ada. Apa jangan-jangan terjatuh ketika ia juga terjatuh ke dalam lembah ini?

Dengan wajah menyesal, ia memberitahu Kazune bahwa ia kehilangan kompasnya. Kazune hanya dapat mendengus kesal sekarang. Satu-satunya barang yang dimilikinya hanyalah ponsel miliknya. Bahkan benda itu tak berguna sama sekali di tempat itu.
Karin bersikeras untuk pergi keluar dari hutan itu. Dengan terpaksa, Kazune mengikuti kemauannya, walaupun tanpa kompas.
Mereka berjalan menapaki hutan itu. "Lihat! Ada sungai!" seru Karin sambil telunjuknya menunjuk ke sungai kecil yang berada di depannya.
"Memangnya kalau ada sungai, kau mau apa?" tanya Kazune pada Karin yang kegirangan melihat sungai.
"Ayo bermain sebentar!" Tanpa menunggu persetujuan Kazune, Karin langsung berlari mendekati sungai dangkal itu sambil menarik tangan Kazune.
"Lihat! Airnya jernih sekali!"
Karin mulai memasukkan kakinya pada aliran sungai itu. Ia kemudian duduk pada sebuah batu besar, lalu menyibakkan kakinya.
"Kazune, ponselmu masih aktif kan? Tolong foto aku!" pinta Karin.

Kazune semakin kesal. Bisa-bisanya dalam keadaan seperti ini ia malah bersenang-senang.
"Heh! Kita ini sedang tersesat. Kenapa kau malah bersenang-senang? Minta di foto pula."
"Sudahlah! Meskipun kita tersesat, kita tetap harus menikmatinya. Ayo cepat, foto aku!" perintah Karin. Dengan terpaksa Kazune mengeluarkan ponselnya, memotret beberapa pose Karin. Foto yang bagus, pikir Kazune. Sejenak kemudian Kazune tersadar, sudah terlalu lama ia bermain-main air dengan Karin. Dengan terpaksa, mereka kembali melanjutkan perjalanan.

"Arrrgh!" Kazune mengerang kesakitan. Seekor ular menancapkan taringnya pada kaki Kazune, kemudian pergi begitu saja. Kazune terus mengerang kesakitan. Karin menjadi bingung dengan apa yang akan dilakukannya selanjutnya pada Kazune. "Cepat, ambil kain!" perintah Kazune sambil terus menahan sakitnya luka gigitan itu.
Tanpa berpikir panjang, Karin mengambil pakaiannya. Di koyakkannya pakaiannya yang bagus itu dengan pisau. "Ini." Karin menyerahkan kain itu pada Kazune.
"Tolong, ikatkan kain ini diatas luka ku. Ikat dengan kencang, tetapi jangan terlalu kencang!" perintah Kazune. Dengan sigap, Karin menuruti perintah yang di berikan Kazune. Kain itu diikatkannya diatas luka Kazune. Tidak terlalu kencang, namun tetap kencang, sesuai dengan perintah Kazune.
"Gigitan ular ini berbentuk U. Menurut yang pernah kubaca, ular jenis itu tidaklah berbahaya. Tapi, untuk berjaga-jaga, aku melakukan ini." jelas Kazune pada Karin. Karin hanya menatap luka bekas gigitan itu. Bayangkan jika dialah yang terkena gigtan itu, pasti ia sudah menjerit-jerit kesakitan.
***

Semua siswa sudah berhasil dievakuasi. Para siswa segera di pulangkan ke rumah mereka masing-masing.
Demikian juga dengan Himeka, ia juga di antar pulang oleh pihak sekolah. Sebelum itu, terlebih dahulu mereka menelepon para orang tua siswa. Orang tua Himeka, Kazuto Kujyo, yang sedang berada di Singapura segera kembali ke Jepang saat itu juga ketika menerima telepon dari pihak sekolah mengenai bencana alam yang menimpa kedua orang anaknya, terlebih lagi kabar bahwa Kazune menghilang. .
Bayangkan jika dialah yang terkena gigtan itu, pasti ia sudah menjerit-jerit kesakitan.
***

Semua siswa sudah berhasil dievakuasi. Para siswa segera di pulangkan ke rumah mereka masing-masing.
Demikian juga dengan Himeka, ia juga di antar pulang oleh pihak sekolah. Sebelum itu, terlebih dahulu mereka menelepon para orang tua siswa. Orang tua Himeka, Kazuto Kujyo, yang sedang berada di Singapura segera kembali ke Jepang saat itu juga ketika menerima telepon dari pihak sekolah mengenai bencana alam yang menimpa kedua orang anaknya, terlebih lagi kabar bahwa Kazune menghilang. .

Dengan lesu, Himeka memandangi foto berbingkai yang terletak pada salah satu sisi meja disamping kasurnya. Foto itu merupakan foto kedua dari kamera barunya yang pernah ia beli beberapa waktu yang lalu. Foto itu merupakan foto kenangan baginya, dimana ia, Karin, dan Kazune berfoto bersama. .

Ayah Himeka yang sekaligus merupakan ayah Kazune tiba. Himeka langsung menyambutnya dengan pelukan. Kazuto tahu, Himeka sedang mencemaskan kakak tersayangnya. Kazuto membalas pelukan itu dengan membelai rambut indigo milik Himeka.
***

Proses pencarian siswa yang hilang dimulai. Dengan menaiki helikopter, para petugas mencari Karin dan Kazune. Seluruh hutan dijelajahi untuk menemukan mereka.

"KAMI DISINI!" teriak Karin sambil melambaikan tangannya keatas tatkala matanya menangkap adanya helikopter diatas mereka.
"TOLONG! KAMI DISINI!" teriak Kazune.
"Ayo sama-sama teriak, Kazune!"
"TOLONG! KAMI DISINI!" teriak Karin dan Kazune bersamaan. Kini, keberuntungan berada di pihak mereka. Para petugas menyadari keberadaan mereka. Segera salah satu petugas turun dari helikopter itu. Karin dan Kazune dengan perlahan menaiki tangga yang disediakan oleh helikopter itu. Sesekali kaki Kazune merasa sangat sakit. Karin sudah menceritakan apa yang terjadi pada Kazune. Mereka hanya mengatakan kalau itu bukanlah luka yang parah. Sejenak Karin dapat menarik nafas lega. .

Mereka telah tiba. Kazune dibawa kerumah sakit untuk mendapat pengobatan seperlunya. Syukurlah, ternyata ular itu bukanlah ular yang mematikan.

Kazune kini siap untuk kembali ke rumahnya. Sebuah mobil sedan hitam, siap mengantarkan mereka kembali pulang.

Baru saja mereka tiba dirumah, Himeka langsung datang berlari memeluk mereka. Ia sangat bersyukur, kedua orang itu masih selamat. Kazune membalas pelukan adik tercintanya itu. Ia sangat tahu, adiknya itu mencemaskannya. Tak lama kemudian, sang Ayah muncul juga. Dengan tatapan khawatir bercampur senang, ia menatap tubuh anaknya itu, kemudian menepuk pundak anak lelaki satu-satunya itu.
"Syukurlah kau selamat. Anak yang kuat." ucap Ayahnya.
"Terimakasih, Ayah." jawab Kazune dengan sopan.
Karin hanya diam saja mengamati kedua orang itu.
Mata Kazuto agak terkejut tat kala melihat wajah seorang gadis disamping Kazune. Wajahnya sangat mirip dengan Suzuka, seseorang yang dulu, ah tidak, seseorang yang sampai sekarang masih di cintainya. Namun sayang, Suzuka lebih memilih lelaki lain di banding dirinya.

Ditatapnya lekat-lekat gadis itu. Benar-benar mirip dengan Suzuka! Bagaikan replika saja. "Selamat siang, Tuan." ucap Karin sambil menundukkan tubuhnya.
Kazuto tersentak. Tuan? Mengapa dia memanggilnya seperti itu?
"Tuan? Mengapa kau memanggil ku seperti itu?" "Dia pelayan ku, Ayah." jawab Kazune, meski pertanyaan itu bukanlah ditujukan padanya.
Kazuto sungguh terkejut mendengar jawaban dari putranya itu. Sungguh ia tak menyangka. Diingat-ingatnya kembali gadis ini, sepertinya ia pernah melihatnya disuatu tempat.
"Apa? Dia pelayanmu?"
"Benar, Ayah."
Kazuto berbalik pada Karin. Dalam dirinya tersimpan seribu pertanyaan ketika ia melihat wajah gadis itu.
"Jadi, siapa namamu?" tanya Kazuto padanya.
"Namaku, Hanazono Karin, Tuan." jawab Karin dengan sopan.

Ah, Kazuto yakin. Dia pasti putri Suzuka. Dengan wajah yang mirip, dan marga itu, pasti ia putrinya.
"Kau ini, putrinya Suzuka, bukan?" tanya Kazuto dengan yakin.
"Benar. Darimana Tuan bisa tahu?" tanya Karin keheranan. Baru saja ia bertemu dengannya, tapi mengapa ia bisa tahu nama ibunya?
"Aku teman ibumu. Ayo, silahkan masuk!" jawab Kazuto.
Sungguh, Karin masih bingung dengan semua ini. Apalagi, ketika "orang itu" mengatakan bahwa ia adalah teman ibunya. Sekarang ia merasa bahwa kehidupan tengah mempermainkannya.
Karin dan Kazune mendudukkan tubuh mereka diatas sofa di ruang tamu rumah itu.
"Maaf, kenapa kau menjadi pelayan dirumah ini? Bukankah keluarga mu adalah keluarga kaya? Meski Ayah dan Ibumu telah meninggal, pastilah harta sisa kekayaannya masih banyak untukmu?" "Ayah Ibuku pergi dengan meninggalkan hutang yang cukup banyak. Jadi, aku diharuskan membayar hutang Ayah dan Ibuku. Bahkan, uang asuransi mereka sudah terpakai. Aku hanya ditinggalkan sebuah rumah. Aku bekerja di cafe milik Kazune. Lalu ia memintaku menjadi pelayannya." jelas Karin.
Kazuto melirik pada Kazune yang diam sedari tadi.
"Bagaimana dengan keluargamu? Apa kau punya saudara, Hanazono?"
"Tidak, Tuan."
"Ah, jangan panggil Tuan. Panggil saja aku paman, paman Kazuto. Kalau begitu, kau tak perlu lagi menjadi pelayan Kazune, ataupun bekerja di Cafe milik Kazune. Kau boleh tinggal disini."
"Benarkah, Paman?" tanya Karin kegirangan. Bagaimana tidak, ini adalah suatu keberuntungan baginya.
"Tentu saja." jawab Kazuto.
"Tapi Ayah, Ayah tidak bisa seenaknya seperti itu. Aku menggajinya memakai uangku sendiri, Ayah!" protes Kazune.
"Kalau begitu, akan Ayah carikan pelayan lain untukmu. Kau tinggal memilih saja. Akan ayah sediakan yang sesuai dengan tipe-mu."
Kazune terpojok. Apalagi yang harus ia katakan pada Ayahnya?
"Ayah, lagi pula, kalau Karin tidak menjadi pelayanku, dia tidak bisa bersekolah, Ayah. Dia ada di kelas A+." jawab Kazune mengeluarkan alasannya.
"Kalau begitu, Ayah yang akan membiayai biaya sekolahnya." jawab Kazuto. Baginya, uang untuk biaya hidup Karin tidak lah seberapa untuknya. Jadi, mudah saja jika ia menerima Karin.

Kazune benar-benar tak bisa berkata apa-apa lagi. Sejenak ia heran, mengapa ia habis-habisan menahan Karin agar tetap bersamanya menjadi pelayan miliknya. Padahal, masih banyak para pelayan lain yang lebih kompeten dan mungkin lebih cantik di banding Karin. Tapi entah mengapa hatinya seolah ingin mempertahankan Karin.
"Baiklah kalau begitu, Ayah. Aku mau ke kamar dulu." ucap Kazune terpaksa. Dengan gontai, ia melangkah pergi dari ruangan itu menuju ke kamarnya.
***

"Nah, Karin, Paman akan membayar seluruh biaya hidupmu. Ibumu sangat baik padaku. Jadi, aku juga harus bersikap sama dengan yang ibumu lakukan pada Paman."
"Ah, Terimakasih banyak, Paman!"

Kazune menatap langit-langit kamarnya. Sesekali matanya terpejam. Sungguh ia tak tahu perasaan apa yang ada di hatinya sekarang. Ia benar-benar tak ingin melepaskan Karin begitu saja. Tapi mengapa? Mengapa dia merasa seperti itu? Bukankah awalnya Karin hanya dijadika bahan hiburannya saja? Tapi kenapa ia seakan tak ingin melepaskan hiburannya itu?
Ia kembali mengingat-ingat beberapa momennya bersama sang pelayan, Karin.
Begitu menyenangkan. Tapi, bukankah Karin akan tetap tinggal bersamanya? Tapi bagaimana caranya ia mengajak Karin pergi bersamanya, nanti? Ah, mengapa ia memikirkan tentang mengajak Karin pergi seperti biasanya? Mengapa? Mengapa Karin? Mengapa ia memikirkan Karin? Mengapa di dalam pikirannya hanya ada Karin?
"Arrrgh!" Kazune mengacak-acak rambutnya.
Tok Tok Tok!
Sebuah ketukan pintu menyapa Kazune. Dengan malas Kazune membukakan pintu itu.
"Tuan, Ayah Tuan memanggil Tuan. Ia meminta Tuan menemuinya di ruang kerjanya." jelas Kyuu-chan. Kemudian Kyuu-chan pergi meninggalkannya. Sungguh sekarang Kazune sangat malas untuk menghampiri siapapun sekarang. Namun, dengan terpaksa ia harus menemui ayahnya.
Dengan lesu, Kazune menuruni anak tangga satu persatu, menhantarkannya menuju ruangan sang Ayah.
"Ada apa, Ayah?" tanya Kazune berusaha untuk tetap sopan.
"Begini, karena kau adalah anak tertua Ayah, dan juga merupakan putra Ayah satu-satunya, Ayah ingin menbicarakan sesuatu. Bagaimana kalau Ayah, mengangkat Karin sebagai adik mu. Lagi pula, sepertinya Himeka sangat akrab dengannya." ujar Kazuto. Kazune tercengang mendengar pernyataan Ayahnya. Belum lama kepalanya terusik akibat Karin tidak menjadi pelayannya lagi, kini Karin tiba-tiba akan menjadi adiknya? Permainan apa lagi ini?
"Tidak, Ayah. Aku tidak ingin, menyayanginya sebagai adikku."

TBC

Taadaaaaa! Chap 10 SELESAI! Wow, amazing!
Disela-sela kesibukan, akhirnya selesai juga. Pembuatan chap ini semua-nya diolah di hp! Dari proses ngetik sampai proses update-nya.
Huaaah! Sungguh melelahkan. Oh ya, chap kemarin, ada paragraf yang ke ulang ya? Ah, gomenne, kurang teliti.

Balesan ripiew~

Guest: oke, udah dilanjutin nih :)

Jamilah: kemarin udah Maryam kasih tau kan? ^^

Agnez Azima: Benarkah? Ah, thank you so muaaaach! XD Pairing-nya Maryam juga bingung nih

Kujyo Angelita: Thanks ya n,n

Andien Hanazono: yah, sayang banget, chap ini ga diapdet kilat T^T gomen.

Yonhaeng: thankssss

Vivi vii: 100? 98? Ah its greaaat! Thankssss n,n

Karin0Kazune: iya nih, Maryam kurang teliti T^T thanks ya.

Che: thankyuuuuu n,n

Dhica: Chap ini sepertinya kurang adegan romance. Gomeeen mengecewakan T^T

Kazune Lyoker: thanksss ya

BIG THANKS BUAT GILANG, yang udah bersedia membaca fic abal Maryam, terus ngereview, padahal dia lagi sibuk-sibuknya sama sekolah, dan masih sempat baca fic ini.

Gimana pendapat kalian? Menarikkah? Atau membosankan kah?
Ayo, kirim komentar kalian di kolom review ya n,n

Thanks ya udah mau baca fic abal-abal ini n,n

Hanazawa Maryam