Sky Of Love

.

.

.

Pagi ini seharusnya menjadi pagi yang indah bagi dirinya. Sudah lama dia membayangkan hal ini bahkan jauh sebelum dirinya mengatakan cinta pada pemuda bersurai emas itu, namun ini jauh dari bayangannya. Lay duduk di hadapannya tersenyum dengan tangan yang sibuk mengoles roti panggangdan Kris duduk tepat di sebelahnya.

"Sudah lama tidak bertemu Tao" Lay masih sibuk dengan mengoles roti panggang "Tidak menyangka akan bertemu disini" ujarnya dengan senyum.

Tao hanya diam, matanya melirik Kris dari sudut. Tao bisa melihat kecemasan di mata tajam Kris, tatapan Kris tidak sekuat biasanya. Pandangnya beralih pada jari – jari Lay yang masih sibuk, entah mengapa dia merasa enggan untuk membalas perkataan perempuan cantik itu.

Cukup lama hening menguasai ruangan itu hingga terdengar tawa dari Lay.

"Kalian berdua terlihat aneh" tunjuknya dengan tawa kecil.

Kris membenarkan posisi duduknya dan mengambil roti panggang yang dibuat Lay "Tidak ada yang aneh"

Tao masih diam dengan kepala yang menunduk, dia merasa seperti anak anjing sekarang. Dia hanya berharap jika Lay tidak akan mengucapkan kata – kata itu.

"Aneh, seperti ada sesuatu yang kalian sembunyikan"

Tao mencengkram kuat ujung bajunya, pagi ini tidak panas namun setetes keringat turun dari pelipisnya.

"Lay kau menggosongkan roti panggangmu" Kris melirik Lay yang memakan roti panggangnya dengan tenang, Lay hanya bergumam kecil menanggapi Kris.

"Kau tidak pernah menggosongkan roti panggangmu"

Lay berhenti makan dan menatap Kris sambil tersenyum "Terkadang manusia membuat kesalahan Kris"

.

.

.

Lay membuang semua semua roti panggang itu, dia menatap nanar pada masakannya pagi ini. Benar dia tidak pernah menggosongkan roti panggang yang dibuatnya, bahkan dia bisa membuat semua itu dengan mata tertutup tanpa ada sedikitpun kerusakan namun semua hal itu menganggu pikirannya.

Semua hal yang terjadi pada pagi ini menganggunya, mulai dari pesan singkat Tao sampai dia yang mendapati pemuda panda itu sudah ada di dalam apartemen Kris tanpa ada yang membukakan pintu untuknya.

Bagaimana bisa dia masuk ke dalam ?

Siapa yang membukakan pintu untuknya ?

Kenapa mantel Kris ada padanya ?

Dan untuk apa dia mengirim Kris pesan seperti itu ? Apa maksudnya ?

"Lay kau harus mematikan krannya" Kris mematikan kran yang sedari tadi terbuka.

"Ada apa ?" Kris menangkupkan tangannya pada wajah cantik Lay, menelusuri setiap lekukan indah wajah kekasihnya.

"Tidak ada" Lay berjalan mengambil mantel dan tasnya dari dalam kamar kris, saat memasuki kamar itu ingatannya akan malam yang dihabiskannya kembali berputar di dalam kepalanya. Entah mengapa perasaan marah dan benci muncul. "Dia bahkan mengetahui kode apartemenmu"

"Apa itu ?" Kris menatap heran Lay dari pintu kamarnya.

"Apa ?"

"Yang kau katakan" Kris menghampiri Lay dan mengecup pelan keningnya, Kris khawatir namun dia sendiri tidak tahu dirinya khawatir akan apa. Khawatir tentang dia dan Tao atau akan Lay yang terlihat aneh pagi ini.

.

.

.

Lay benci hujan, dia benci saat langit berubah menjadi gelap dan mengeluarkan suara yang memekakkan telinganya.

Jarinya sudah memutih akibat meremas kuat ujung mantelnya, badannya sedikit bergetar setiap mendengar petir dan melihat kilat di langit. Punggungnya menabrak dinding dingin perpustakan saat kakinya mundur beberapa langkah untuk menghindari percikan air hujan.

Satu jam yang lalu dia sedang bersama sahabatnya Luhan di kantin untuk makan, namun tiba – tiba Kris menyuruhnya untuk menunggu di tempat biasa dimana Kris menjemputnya. Lay langsung meninggalkan Luhan setelah mendapat pesan dari Kris.

"Aku tak ingin membuatnya menunggu"

Karena sudah hampir malam perpustakaan sudah tutup jadilah Lay menunggu di luar dan sial baginya beberapa menit setelah itu hujan turun.

"Ge jangan lagi" Lay melirik jam tangannya. Sudah lebih dari setengah jam dia menunggu Kris, ujung mantelnya sedikit basah karena percikan hujan.

Tiba – tiba Lay teringat akan sesuatu, mengeluarkan ponselnya dan segera menelpon seseorang untuk memastikan sesuatu. Terlihat jelas kekhawatiran di rauh wajahnya saat panggilannya tak kunjung dijawab.

"Jangan sekarang" Lay merasa benar – benar ingin menangis sekarang, ponselnya mati. Bagaimana bisa dia melupakan untuk mengisi penuh ponselnya. Persetan dengan dirinya yang ketakutan, sekarang dia hanya berharap semuanya akan baik – baik saja.

Beberapa menit kemudian badannya sudah berlari menerjang hujan.

.

.

.

"Ge jangan" Tao menarik Kris kedalam pelukannya dan kembali menenggelamkan kepalanya pada dada bidang Kris.

"Tenanglah aku di sini" bujuk Kris pada Tao, dielusnya punggung itu sekedar untuk menenangkan. "Apa tidak masalah tidak diangkat ?" tanya Kris untuk kesekian kalinya pada Tao, Tao hanya menggeleng dalam dekapan Kris.

"Mungkin itu dari orang penting" Kris berusaha melepaskan tangan Tao.

"Tidak tidak" teriak Tao di depan Kris, matanya sudah hampir menangis dan mukanya memerah. "Tetap disini ge, aku takut" ucapnya kembali.

Kris tidak tahu sudah berapa kali Tao mengatakan takut semenjak dia tiba di apartemen pria manis itu. Setiba di sana Kris disuguhkan dengan pemandangan Tao yang duduk di lantai dengan tangannya yang menutup telinganya sekuat – kuatnya.

Kris paham Tao memiliki ketakutan pada petir namun dia tidak tahu bahwa rasa takut Tao akan seperti ini. Namun dia lebih tidak paham lagi saat hatinya terasa seperti teriris saat melihat keadaan Tao.

Bahkan Lay tidak sampai seperti ini saat mendengar petir dan melihat kilat

Kris tersenyum. Senyumnya sirna saat dirasanya badan Tao bergetar hebat, Kris tidak tahu harus berbuat apa. Kris mulai bisa mendengar isak tangis Tao dan air Tao mulai membasahi bajunya.

"Tao Tao" diangkatnya wajah pucat itu, mata pria manis itu menggambarkan ketakutan dan hal lain. Kris tidak tahu itu.

Kris semakin panik saat Tao tetap menangis dan tidak meresponnya, hanya satu hal yang terpikirkan olehnya sekarang. Kris akan melakukan hal ini saat Lay mulai ketakutan dan dia berharap ini bekerja.

Tangan Kris bergetar saat menarik Tao dia sedikit ragu, tapi ini yang bisa dilakukannya. Dengan ragu Kris mencium lembut bibir kucing Tao, badan Tao berhenti bergetar. Namun Kris merasa getaran itu berpindah pada dirinya, badannya seperti tersengat listrik saat bibirnya berada pada bibir Tao padahal itu hanya sebuah ciuman biasa. Ini pertama kalinya dia mencium Tao.

Tidak ada yang tahu sejak kapan ciuman biasa itu mulai menjadi sebuah ciuman yang lebih menuntut, mereka berciuman seperti tidak akan ada hari esok.

"Ngghhh Ge ahhh"

Kris terasa seperti terbakar saat mendengar desahan Tao pikirannya tidak bisa bekerja dengan baik, yang dia tahu sekarang adalah menyentuh pria di depannya lebih jauh, mendengar Tao menyebut namanya dalam desahan, merasakan Tao berada di bawahnya, dia ingin semua itu. Tangannya bergerak cepat membuka satu persatu kancing baju pamuda panda tersebut dan membaringkan tubuh itu di lantai.

"Gege" Tao menghentikan tangan Kris yang akan membuka kancing baju terakhirnya, dia takut untuk berbuat lebih jauh.

"Aku mencintaimu"

Kalimat dan tatapan tajam itu berhasil menghipnotis Tao, dia tidak mampu untuk menolak. Jiwa dan raganya, semuanya diberikan hanya untuk lelaki yang berada di atasnya, hanya untuk sebuah cinta.

Kris tertegun saat melihat betapa indah pria di bawahnya, kulit itu sempurna tanpa cacat sedikitpun. Dia tidak pernah tahu bahwa makhluk di bawahnya diciptakan dengan sedemikian sempurnanya. Terlalu sempurna untuk seorang manusia.

"Aku mencintaimu" bisik Kris. Mencium pelan bahu sebelah kanannya yang terekspos sempurna.

"Akkhh" teriak Tao pelan saat dirasanya Kris mulai menghisap dan menggigit lehernya yang meninggalkan bercak keunguan pada leher mulusnya.

Puas dengan hasil karyanya pada leher Tao, bibir Kris mulai turun ke dada Tao, bermain – main dengan bagian sensitif sebalah kanan Tao yang telah mengeras itu. Mengecup dan melumatnya seperti seorang bayi yang menyusu. Tangannya tak tinggal diam, memilin dan mencubit nipple sebelah kirinya, membuat Tao mendesah kenikmatan dan sakit bersamaan.

Setelah puas bibir itu kembali meraup nipple sebelah kiri Tao, tangannya yang bermain – main dengan dada pria panda itu turun ke daerah selangkangan Tao. Tangannya masuk ke dalam celana Tao mengelus serta meremas kejantanan Tao dengan irama yang membuat pria panda itu kehilangan akalnya. Tao menjerit nikmat saat Kris meremas kejantannya dengan kuat dan langsung mengocoknya.

"akkhh mmmhhh ahhh"

Merasa sempit, dengan sekali hentakan Kris menarik celana dan boxer Tao. Kejantan yang mengeras itu mengacung dengan sempurna menyentuh dada Kris. Badannya sedikit menjauh untuk melihat kesempurnaan pemuda di bawahnya.

"Fuck!" Kris tidak pernah tahu dia akan sehard ini melihat pemandangan di bawahnya.

Mulutnya langsung meraup kejantanan Tao, menjilatnya dengan pelan layaknya seorang anak yang menikmati lolipop lalu menghisapnya dengan kuat. Pandangan Tao terasa kabur saat merasakan sensasi mulut Kris di kejantanannya, dia lupa bagaimana cara untuk menunjukkan kenikmatan semua itu. Hal yang dapat dilakukannya hanya menarik dan mengacak surai keemasan milik Kris.

"Anngghhh nnnhh Ge-kkhhhh mmhhh"

Desahannya semakin kuat, kejantanannyapun mulai berkedut dan memanas di dalam rongga mulut Kris saat lelaki itu mempercepat hisapannya.

"AARRGGHH GEGE" kedua tangan Tao menekan kepala kris dan kepalanya mendongak ke atas saat dia sudah tidak mampu untuk menahan gejolak ditubuh bagian bawahnya yang melesak untuk keluar.

Dibawah pencahayaan yang minim bisa dilihatnya Kris tersenyum kearahnya, memberikan senyuman terhangat yang pernah dilihatnya. Ditariknya Kris dan bisa dilihatnya terdapat cairain putih kental di sudut bibir Kris.

Melihat Tao yang hanya diam Kris langsung menariknya dalam ciuman yang kembali memabukkan bagi pria panda tersebut. Bibir lembut mereka bertemu, saling melumat dan menjilat. Tao langsung melingkarkan tangannya pada leher Kris, menekannya dan membuat ciuman mereka semakin dalam.

Kris mengigit bibir bawah Tao, meminta akses untuk masuk kedalam rongga mulut Tao. Dengan senang hati Tao memberikannya, membiarkan lidah Kris menyapa rongga mulutnya. Lidahnya mejilat setiap bagian mulut Tao.

"Aakkkhhh" Tao mendesah saat lidah panjang Kris menggelitik rongga mulut bagian atasnya.

"Ja-jangan laku-kanhh disinihhh- kamarhhh"

.

.

.

"Aarrgggghhh sa-sakit Ge akh keluarkhhann" setetes liquid bening lolos dari sudut matanya, Kris menghentikan pergerakannya dan mendekati telinga Tao, meramalkan kata – kata cinta serta mengecup pelan telinganya.

Melihat Tao mulai tenang Kris mulai bergerak dengan irama pelan dan tiba – tiba cepat namun kembali pelan. Tao menghentakkan pinggulnya saat Kris masih bergerak pelan di atasnya.

"Kau panda yang nakal" bibir itu kembali bertemu.

Kris mempercepat gerakannya di dalam lubang Tao merasakan sensasi lubang Tao yang menghisap dan memijat kejantannya, hal itu bertambah nikmat saat pria bersurai emas itu semakin mempercapat gerakannya.

Tangan mereka bertautan, saling berpandangan. Libidonya menaik melihat dada Tao turun naik dan keringat yang mulai menghiasi wajah cantik itu. Bibirnya kembali turun, melumat bibir yang sudah memerah dan bengkak Tao. Erangan, desahan dan rintihan Tao satu – satunya suara yang dapat di dengarnya.

Tao menggenggam erat tangan Kris saat dirasakannya kejantanan lelaki itu semakin membesar dan bergerak brutal.

"Annngghhh akhh.. lebihhk cepathhh"

"So tight baby akhh"

"AKHHH GEGE AKKHHH" Tao mencapai klimaknya saat Kris terus menyentuh titik kenikmatannya.

"FUCK!" pandangan Kris kembali memutih saat mencapai klimaksnya.

Badannya jatuh menimpa Tao membiarkan kulitnya bertemu, meresakan gesekan akibat deru napas Tao dan dirinya. Deru napas Tao mulai stabil saat dilihatnya mata itu sudah menutup.

Kris tertawa pelan melihat pemuda disampingnya, melihatnya tidur dengan wajah polosnya setelah mereka melakukan semua ini.

Aku mencintainya

Kris terlelap setelah mengecup pelan bibir kucing Tao dan mendekap pemuda manis itu dalam tidurnya.

Malam itu nafsu membakar mereka. Mengalahkan logika dan membiarkan nafsu mengendalikan semuanya. Terbakar dalam setiap sentuhan masing – masing tanpa memikirkan seseorang yang mereka sakiti.

Dan malam itu Kris lupa untuk merasakan perasaan bersalah saat mengingat nama Lay kekasihnya saat menyentuh pria manis itu.

.

.

.

TBC

I CANT BREATH! HELP! HELP! OMG, WHAT A NAUGHTY GIRL AM I /SLAPPED/

Ini pertama untuk luna ./.

Mohon keritiknya bila banyak kesalahan.

Oh ya luna memang gak bisa ngetik panjang – panjang *cries*

Dan maaf kalo lama *sobs*

Luna seneng banget bisa lanjut ini hehe ._.

KissKris

Wahai Kisskris-ssi/? Pertanyaannya udah kejawabkan Kris gege itu apa hehe

Jadi dia emang enak :" ahh~ miane terlalu pendek tapi luna lagi berusaha memperjang hoho tapi tetep gagal *cries*

Makasih ya Kisskris udah mau review dan read^^

Dandeliona96

Hore~~ *Chuckle*

Maunya sama luna aja *slapped* rahasia dong :p

Makasih udah review dan read^^

Ini antara luna, Tao dan Kris ((X

Thanks udah review dan read Rezsa ^^

Unicorn ajol

Hi Unicorn~

Cx

Well kita lihat ne ending ya, arraso. Thanks udah review dan read^^

Ochaken

Aaa jinjja ? cie kita seline nih tapi luna pasti lebih muda

Tao jatuh dari panggung/?

To behonest ini based on true story loh ocha Dx

Ngeselin yah kris ge haha, makasih ne udah review dan read^^

odult94

eonni? *slapped*

gomawoooo muahhh hehe

ditunggu ne chap selanjutnya^^ makasih udah read dan review^^

Thanks for your time to read and review my ff *bow*