PREVIEW LAST CHAPTER:

Kazune menatap langit-langit kamarnya. Sesekali matanya terpejam. Sungguh ia tak tahu perasaan apa yang ada di hatinya sekarang. Ia benar-benar tak ingin melepaskan Karin begitu saja. Tapi mengapa? Mengapa dia merasa seperti itu? Bukankah awalnya Karin hanya dijadika bahan hiburannya saja? Tapi kenapa ia seakan tak ingin melepaskan hiburannya itu?
Ia kembali mengingat-ingat beberapa momennya bersama sang pelayan, Karin.
Begitu menyenangkan. Tapi, bukankah Karin akan tetap tinggal bersamanya? Tapi bagaimana caranya ia mengajak Karin pergi bersamanya, nanti? Ah, mengapa ia memikirkan tentang mengajak Karin pergi seperti biasanya? Mengapa? Mengapa Karin? Mengapa ia memikirkan Karin? Mengapa di dalam pikirannya hanya ada Karin?
"Arrrgh!" Kazune mengacak-acak rambutnya.
Tok Tok Tok!
Sebuah ketukan pintu menyapa Kazune. Dengan malas Kazune membukakan pintu itu.
"Tuan, Ayah Tuan memanggil Tuan. Ia meminta Tuan menemuinya di ruang kerjanya." jelas Kyuu-chan. Kemudian Kyuu-chan pergi meninggalkannya. Sungguh sekarang Kazune sangat malas untuk menghampiri siapapun sekarang. Namun, dengan terpaksa ia harus menemui ayahnya.
Dengan lesu, Kazune menuruni anak tangga satu persatu, menhantarkannya menuju ruangan sang Ayah.
"Ada apa, Ayah?" tanya Kazune berusaha untuk tetap sopan.
"Begini, karena kau adalah anak tertua Ayah, dan juga merupakan putra Ayah satu-satunya, Ayah ingin menbicarakan sesuatu. Bagaimana kalau Ayah, mengangkat Karin sebagai adik mu. Lagi pula, sepertinya Himeka sangat akrab dengannya." ujar Kazuto. Kazune tercengang mendengar pernyataan Ayahnya. Belum lama kepalanya terusik akibat Karin tidak menjadi pelayannya lagi, kini Karin tiba-tiba akan menjadi adiknya? Permainan apa lagi ini?
"Tidak, Ayah. Aku tidak ingin, menyayanginya sebagai adikku."

Kahika Café
Kamichama Karin©Koge Donbo
Kahika Café ©Hanazawa Maryam
Rated : T
WARNING: Typo, alurnya berantakan, OOC, De EL EL

Chapter 11

Kazuto memegangi pelipis dahinya. "Jadi, maksudmu kau menyukainya, Kazune?"

Kazune terdiam. Mulutnya terasa kelu. Apakah ia menyukai Karin? Ia bahkan tak dapat memastikan itu.

"A...aku tak tahu." jawabnya terbata.

Kazuto menghela napasnya. Kini ia sadar bahwa putra sulungnya sudah semakin dewasa.

"Kau sudah semakin dewasa. Kali ini Ayah akan mengalah padamu."

Cuaca cerah seperti biasanya. Entah kenapa rasanya Kazune sangat bersemangat berangkat ke sekolah. Sepanjang jalan ia tersenyum.

"Kazune, kau kenapa? Apa kau sedang demam?" tanya Karin. Tingkahnya pagi ini sungguh aneh bagi Karin.

"Tidak." jawab Kazune dengan senyum masih mengembang. Alasan kenapa ia tersenyum pagi ini hanyalah karena kejadian kemarin ketika Karin tak jadi diadopsi oleh Ayahnya.

"Sudahlah Karin, kakakku itu memang gila," sahut Himeka. Telinga Kazune seakan tuli. Ia tak menghiraukan sama sekali ocehan Karin dan Himeka yang sedang mengatainya.

"Kariiin!" sebuah suara memanggil Karin dari belakang. Karin menoleh dengan sigap. Ternyata Jin. Namun kali ini ia menaiki sepeda.

"Wah, sepeda baru!" ujar Himeka.

"Aku baru membelinya kemarin. Bagaimana? Bagus, kan?" Himeka dan Karin hanya mengangguk, sedangkan Kazune hanya menggerutu dalam hatinya. Sepertinya pemuda berambut hitam itu telah merusak suasana hatinya.

"Jadi, Karin, maukah kau pergi ke sekolah bersamaku? Kalau kau mau, kau adalah orang pertama yang ku bonceng dengan sepeda ini."

Karin berpikir sejenak. Kazune melirik ke arah Karin.

"Baiklah," jawab Karin. Senyum Jin mengembang. Sebaliknya, cuaca buruk menyerang hati Kazune.

Sepanjang jalan raut wajah Kazune terus masam. Himeka sendiri sedikit bingung melihat perubahan cuaca hati kakakknya itu.

"Hey Kazune, kenapa wajahmu jadi seperti itu?"

"Wajahku memang seperti ini. Memangnya kenapa?" jawab Kazune kesal. Hanya karena Karin lebih memilih untuk pergi bersama Jin, hatinya sudah tidak karuan begini.

"Dasar idola sialan!" gerutu Kazune.

Himeka segera menangkap maksud ucapan Kazune. Ia sangat yakin dengan apa yang ada di benaknya sekarang. "Jadi, ini semua karena Karin pergi dengan Jin?"

Kazune menghela napas. "Tidak." jawabnya singkat, sambil meneruskan perjalanan.

"Kau menyukai Karin, kan?"

Langkah Kazune terhenti sesaat saat mendengar pertanyaan itu. Suka? Suka? Sejak kemarin ia terus memikirkan itu, dan belum berhasil menarik kesimpulan dari premis premis yang muncul dalam benaknya.

"Tidak. Aku... aku hanya menyukai Kazusa."

Kazune tengah berdiri di taman belakang sekolah. Dirinya sedang bersama seorang gadis yang warna rambutnya sama dengannya.

"Katakan dengan jelas, apa kau menyukaiku, Kujyou Kazune?"

"A..aku menyukaimu," ungkapnya dengan. Ada resah di setiap kata itu. Terasa janggal untuknya.

"Katakan dengan tegas, apa kau menyukaiku?"

"Aku menyukaimu Kazusa."

Senyum Kazusa mengembang. Ia kemudian memeluk Kazune. Kini hatinya lega mendengar semuanya. Seakan segala rintangan musnah dari hadapannya. Karin, gadis itu adalah satu-satunya gadis yang selalu menjadi ancaman untuk Kazusa. Entah kenapa, ia merasa Karin merebut sedikit demi sedikit perhatian Kazune. Ia tahu ia bodoh dulu telah meninggalkan Kazune. Namun kini ia sadar, hidupnya tanpa Kazune adalah kosong.

Dengan lembut, bibir Kazusa menyentuh bibir Kazune.

Karin tampak sangat antusias membicarakan hal tersebut, dan Jin membalasnya dengan tersenyum dan sesekali menanggapinya. Waktu seakan berhenti ketika ia bersama Karin. Setiap detik hidupnya terasa sangat berharga karena gadis itu. Karin seakan memiliki daya magnet untuknya hingga ia tak bisa terhindar dari jeratan.

Mereka berbincang sambil berjalan menuju taman belakang. Rasanya taman belakang adalah tempat yang paling nyaman untuk membicarakan sesuatu.

Karin terpaku saat matanya menangkap dua orang yang tengah memadu kasih disana. Dengan segera Jin menutup pandangan Karin dengan tangannya, kemudian menariknya menjauhi tempat itu.

Karin masih tidak mampu mengeluarkan sepatah katapun.

"Karin, apa kau baik-baik saja?" tanya Jin cemas.

Karin masih terdiam.

"Karin?" Jin mulai mengguncangkan pundak Karin. Karin tersentak ketika Jin mulai mengeluarkannya dari lamunan."A-ah, Jin. Aku tak apa. Ah, aku permisi sebentar. Aku mau ke toilet," ujar Karin.

Jin sedikit khawatir dengan Karin. Namun, sepertinya Karin ingin sendiri.

Kejadian tadi terus terulang-ulang dalam benak Karin. Ia memegang dadanya. Terasa sakit disana.

Ternyata begini rasanya. Sangat tidak menyenangkan, batinnya. Dalam hatinya, ia ingin berteriak dengan kencang, mengeluarkan segala emosi dalam dirinya. Ia menyukai pemuda itu, Kujyou Kazune, dan sepertinya semuanya mulai hancur, dan sepertinya ia harus melupakan Kazune.

"Ayo pulang!" ajak Kazune pada Karin.

"A...aku akan pulang dengan Himeka saja," jawab Karin dengan kaku.

"Himeka hari ini sedang ada les tambahan. Apa kau lupa?"

Karin memutar otaknya kembali. Ia benar-benar idak ingin pulang bersama dengan Kazune kali ini.

"Kalau begitu, aku pulang dengan Jin saja,"

Sontak wajah Kazune kesal mendengarnya. "Jangan membantah! Ayo pulang bersamaku!" tanpa persetujuan Karin, Kazune menarik tangannya, memaksanya untuk pulang tangan Kazune terasa menyakitkan.

"Arggh!" Karin mengerang. Tangannya terasa sangat sakit sekarang.

"Ma...maaf," ucap Kazune. Ia tak pernah bermaksud untuk menyakiti Karin.

"Ya, tak apa." ucap Karin sambil tersenyum. Kazune membalas senyuman itu.

"Sebagai permintaan maaf ku, aku akan mentraktirmu es krim."

Waktu terasa tidak terasa saat mereka bersama. Selama makan es krim, mereka terus tertawa. Karin seakan melupakan kejadian di taman belakang.

"Karin..." Mendadak wajah Kazune menjadi serius.

"Hmm?"

"Apa kau menyukai Jin?" Kazune mengatakannya dengan tepat. Sorot matanya menatap bola mata Karin. Wajah Karin memerah. Karin terdiam sejenak.

"A...a..aku..." jawab Karin.

"Kau menyukainya," potong Kazune.

Mendadak suasana diantara mereka terasa canggung.

"A...aku ingin bertanya sesuatu padamu. Apakah kau menyukai Kazusa?" Pertanyaan Karin seperti bom waktu yang meledak tepat didepan matanya. Kazune tak mampu menjawab pertanyaan Karin.

"Tak usah dijawab. Aku tau jawabannya," ujar Karin dengan senyum yang tampak dipaksakan.

"Karin..."

"Sebelumnya, aku minta maaf padamu. Tadi...tadi aku melihatmu dengan Kazusa sedang berciuman."

Karin sedang berlatih keras di ruangan musik di lantai tiga. Ia terus menari dan menari tanpa henti. Peluh keringatnya membanjiri tubuhnya. Emosi menguasai tubuhnya. Ia menari dan menari lagi, sampai tubuhnya mulai terhuyung jatuh. Ia kemudian berteriak mengeluarkan segalan emosi dalam hatinya. Lalu kemudian bulir airmata keluar membasahi pipinya. Perasaannya campur aduk. Dan rasa pedihlah yang paling mendominasi. Harusnya ia tak boleh seperti ini. Ini bukanlah Karin. Yang ia tahu dirinya adalah perempuan kuat yang tak akan rapuh oleh hal asing yang disebut cinta. Ia bukanlah siapa-siapa Kazune. Dan ia yakin, tak pernah ada celah untuk memasuki hati Kazune. Ia teringat kala itu ketika Kazune menciumnya saat sakura berterbangan. Hal yang paling membahagiakan dalam hidupnya. Namun, itu mungkin hanya delusi nyata untuknya.

Kazusa sangat senang hari ini. Ia terus menyiram bunganya dengan bersiul. Bahkan ia menari menari gembira di dalam ruangannya. Kata apapun tak sanggup mewakili perasaannya. Hari seindah ini datang kembali padanya. Saat saat Kazune bersamanya lagi. Sama seperti kala itu, dimana hidupnya dipenuhi bunga-bunga cinta.

Ting tong!

Ada seseorang di depan pintu apartementnya.

"Jin!" sambut Kazusa. Kali ini Jin datang dengan seikat bunga dan buah untuknya.

"Hai!" sapanya.

"Ada hal apa yang membuatmu datang kemari?"

"Hanya datang untuk berterimakasih."

.

.

.

Hari demi hari berlalu. Sudah hampir seminggu Karin dan Kazune jarang berbicara. Seperti ada jarak diantara mereka. Tak ada hal yang bisa dilakukan Himeka sat ini. Bahkan Himeka sendiri tak tahu biduk permasalahannya.

"Himeka! Kenapa kau melamun?" Himeka tersentak saat tangan Michi menyentuh pundaknya.

"Ah, Michi! Kau mengagetkanku. Michi, apa kau tak melihat perubahan pada hubungan Kazune dan Karin?"

"Aku melihatnya. Aku sudah tanya apa yang terjadi, tapi mereka tetap tidak mau mengatakannya. Yang satu sibuk menemani Kazusa berlatih ballet, yang satunya lagi sibuk dengan dunia permodelan dan karir menyanyinya. Yang satu mengatakan tidak ada masalah, yang satunya lagi mengatakan tidak ada apa-apa. Jadi aku harus bagaimana lagi?" Michi dan Himeka menghela napas bersamaan.

"Mereka benar-benar memusingkan. Kazune dan Karin juga sudah mulai jarang datang ke kafe ini. Bagiku, tidak terlalu masalah kalau Karin, tetapi kalau Kazune? Dia adalah pemilik kafe ini. Bagaimana bisa dia tidak peduli dengan kafe ini?!"

Michi menggaruk kepalanya yang tak gatal. Ia sependapat dengan Himeka. Kazune tampak seperti tak mempedulikan kafe ini lagi. Hubungannya dengan Karin juga sudah semakin renggang. Bahkan disekolah, Karin dan Kazune hanya berbicara seperlunya.

"Apa kau mau melakukan sesuatu untuk mereka?" tanya Michi.

"Tidak. Biarkan mereka yang menyelesaikan masalah mereka sendiri..." Kepala Himeka berdenyut hebat. Ia memegangi kepalanya.

"Arrrgh!" Ia meringis kesakitan. Himeka mengigit bagian bawah bibirnya untuk menahan rasa sakit.

"Himeka, kau kenapa?" Michi tampak cemas. Keadaan Himeka baik-baik saja sebelumnya. Namun tiba-tiba ia merasakan sakit kepala yang hebat.

Kazune dan Karin sedang berlari di lorong rumah sakit. Mereka sempat bertemu ketika sedang berada di depan rumah sakit. Kazune tampak sangat cemas ketika di kabarkan bahwa adik semata wayangnya itu berada di rumah sakit.

Napas Kazune terengah-engah.

"Bagaimana keadaan Himeka?" tanya Kazune pada Michi yang tengah duduk di ruang tunggu dengan kepala tertunduk.

"Dia sedang ditangani dokter di dalam," Kazune segera menuju ambang pintu. Pintu itu tertutup.

Hari ini sepulang sekolah pergi ke berbagai tempat. Dari ke ke toko buku, makan, dan menunton konser pertunjukkan. Semuanya dilakukan untuk menghindari Karin. Dan tampaknya Karin juga berusaha menghindar darinya. Akhir-akhir, perhatiannya hanya terfokus untuk menghindari Karin, sampai-sampai ia melalaikan tentang adik.

Seorang dokter membuka pintu itu. Kazune dengan cemas menanyakan keadaan adiknya.

"Ada tumor di otaknya. Selama ini ia menyembunyikannya. Sudah setengah bulan. Dia pasienku. Dari yang diberitahukannya, setiap kali dia pergi les, dia tidak benar-benar pergi. Dia selalu kesini," Kazune seperti dihantam oleh batu besar. Ia tidak menyangka semua ini. Bahkan ia tak tahu apa yang terjadi pada adiknya. Selama ini, Himeka tidak pernah bercerita apa-apa. Ia juga menyembunyikan rasa sakitnya. Sebagai seorang kakak, Kazune merasa telah gagal menjaga adiknya sendiri.

Karin menatap Kazune yang sedang terpukul dengan keadaan adiknya. Ia mulai berjalan mendekat ke arahnya.

"Ka...Kazune..." ucap Karin terbata. Tanpa diduganya, Kazune langsung memeluknya dengan erat. Ada bulir air mata di pelupuk mata Kazune.

"Karin, aku telah gagal menjaganya.." ucap Kazune dengan nada bergetar.

Karin dengan lembut mengelus punggung Kazune untuk menenangkannya. "Kau tetap kakak yang hebat,"

Kazune teringat pada saat-saat Ayahnya pergi menetap di Singapore. Peristiwa itu terjadi beberapa tahun lalu. Saat itu umurnya masih menginjak 13 tahun. Bisnis Ayahnya semakin berkembang pesat. Dan hal itu mengharuskan Ayahnya menetap di Singapore. Awalnya Ayahnya mengajak mereka untuk pindah, namun Kazune bersikukuh untuk tetap tinggal di Jepang. Himeka yang sangat menyayangi kakaknya lebih memilih tinggal bersama kakaknya. Ayahnya sedikit khawatir saat meninggalkan mereka sendirian, dan saat itu pula Kazune berjanji untuk menjaga Himeka dengan baik, dan Ayahnya menaruh seluruh kepercayaannya pada Kazune.

"Terimakasih," Kazune melepaskan pelukannya. "Karin."

Karin tersenyum lembut padanya. Kazune merasa senyuman Karin seperti embun yang menyejukkan hatinya saat itu.

Michi bangkit dari tempat duduknya. Melihat Himeka seperti itu, ia sangat sedih. Perempuan yang selalu bertutur lembut, dan selalu tersenyum itu, hanya terbaring lemah dengan berbagai peralatan medis di sekelilingnya. Ia menyentuh tangan Himeka, lalu menggenggamnya erat.

"Michi," Karin menyentuh pundaknya. "Ada baiknya kau pulang. Hari sudah larut. Kami akan menjaganya disini."

"Ya, Karin benar. Istirahatlah dirumah! Kami tak mau mendengar kabar kalau kau juga sakit." ujar Kazune.

"Baiklah, sampai jumpa!" Michi berjalan menuju pintu.

Namun, lagkahnya terhenti ketika Kazune memanggil namanya. Michi menoleh kebelakang.

"Kalau kau menyukai Adikku, berdoalah untuknya. Apa kau menyukainya?" ucap Kazune yang lebih terdengar seperti suara bisikan.

"Ya. Memangnya kenapa?"

"Nanti setelah Himeka bangun, aku akan memberitahunya," goda Kazune.

"APAAA?!" Kazune hanya tertawa. "Kazune, kalau kau memberitahunya sekarang, akan kubeberkan rahasiamu."

Tawa Kazune yang tadi menggelegar, kini menjadi ciut. Kini berbalik Michi yang tertawa. Karin yang sedari tadi memperhatikan tingkah mereka menjadi bingung.

"Apa yang sedang kalian bicarakan? Rahasia apa?"

"Urusan lelaki!" jawab mereka serentak. Lalu Michi dan Kazune tersenyum misterius.

"Kau mau kubelikan apa?" tanya Kazune pada Karin. "Atau kau mau pergi bersama ke kantin?"

"Tidak. Kalau kita pergi, Himeka sendirian," tolak Karin.

"Kata dokter, dia akan bangun satu jam lagi. Tidak akan apa-apa jika kita pergi."

"Tidak. Kau saja. Aku akan tetap disini,"

"Baiklah. Oh ya, kau tidak mau pulang dulu? Kau bisa istirahat di rumah. Sebentar lagi mungkin Kyuu-chan akan datang membawa pakaian Himeka, dan kau bisa pulang bersamanya. Soal Ayah, aku sudah menelponnya, dan besok ia datang,"

Karin memandang Kazune sedih. Ia tahu Kazune sangat takut memberitahu hal tersebut pada Ayahnya. Baginya, ini semua bukan salah Kazune.

Kazune melangkah sambil membawa makanan. Ia memperhatikan jam tangannya. Ia sudah pergi lebih dari setengah jam. Ia benar-benar tidak selera membeli makanan di rumah sakit itu.

Dan akhirnya, ia membeli makanan di luar rumah sakit. Kazune mempercepat langkahnya. Ia takut Karin sudah sangat lapar karena menunggunya. Ia membuka pintu kamar rumah sakir dengan perlahan. Ternyata Karin sudah tertidur saat sedang menjaga Himeka. Kazune memperhatikan keadaan sekitar. Ada sebuah koper di sudut ruangan. Ia yakin, itu adalah koper yang diberikan Kyuu-chan. Koper itu berisi pakaian Himeka, selimut, pakaian dan seragam Kazune, dan... seragam Karin?

Aku yakin dia yang meminta ini pada Kyuu-chan. Hah, dasar keras kepala, batin kemudian mengambil selimut dari koper, lalu dengan perlahan menyelimuti tubuh Karin. Kazune memandangi wajah Karin yang tertidur pulas. Wajah Karin saat tertidur sangat manis. Akhir-akhir ini mereka jarang berbicara, dan hal itu semakin membuat rasa rindunya pada gadis itu semakin memuncak.

Kazune dengan lembut menyentuh pipi Karin, lalu mendekatkan wajah pada wajah Karin. Lalu semakin dekat, dan semakin dekat lagi, hingga akhirnya bibirnya bersentuhan dengan bibir Karin. Kini ia tahu, ia memang benar-benar menginginkan gadis itu.

Kelopak mata Himeka terbuka sedikit demi sedikit. Kepalanya masih agak terasa pusing. Pandangannya masih agar samar. Namun tiba-tiba bola matanya dikejutkan oleh Kazune.

Pandangannya semakin jelas. Himeka hanya diam saja. Bola matanya mengarah pada kakaknya yang sedang berusaha mencium Karin saat sedang tertidur. Ia yakin ia tidak salah lihat. Jarak mereka dengan bola matanya hanya berjarak sekitar 80 cm. Jadi ia cukup yakin dengan matanya.

"Kakak..." lirihnya

TBC

Yippi! Akhirnya selesai juga setelah sekian lama gak apdet penpik ini. Gimana dengan chap ini, ada komentar? Maaf kalau lama banget yaaak! As you know lah, Maryam lagi sibuk-sibuknya mempersiapkan SNMPTN sama UN. Oh ya, doain Maryam lulus ya!

Gomen,kali ini lagi ga bisa balas review buat yang gak login. Tapi thanks buat reviewnya loh. Review kalian sangat berarti buat Maryam

Jangan lupa, di review ya!

Buat silent reader, ayo bertobatlah XDDD