Tangan mungil itu menempel di kaca mobil, matanya sedari tadi tidak henti melihat ke arah langit malam.
"Mama tidak ada bintang" ucapnya dalam pangkuan sang mama.
Tidak ada respon.
"Papa apa malam ini akan hujan ?" tanyanya lagi namun tetap tidak ada respon.
"Apa papa dan mama sedang ribut ?" suaranya menjadi lebih kecil.
"DIAMLAH TAO" bentak laki – laki yang lebih tua.
"KAU BERANI MEMBENTAKNYA ?"
"OH DIAMLAH KAU PELACUR"
Tao kecil mengeratkan genggamannya pada baju sang mama, menenggelamkan kepalanya dalam dekapan wanita yang melahirkannya itu. Kepalanya terasa berat saat suara kedua orang tuanya semakin meninggi, saling berteriak, memaki dan wanita yang mendekapnya mulai menangis.
PLAK
Badannya sedikit bergoyah. Mata kecilnya mengerjap, mencoba untuk melihat di dalam kegelapan. Darah.
"ma-mama da-darah" mata panda kecil itu membulat sempurna saat melihat darah mulai mengalir dari kepala sang mama.
"APA YANG KAU LAKUKAN BAJINGAN" teriak nyonya Huang pada laki – laki disebelahnya.
Tao kecil hanya melihat dan mendengar. Melihat bagaimana kedua orang tuanya saling menyakiti dan mendengar hal yang membuat hatinya hancur.
Dia mendengar semuanya walaupun di luar sana hujan turun dengan deras. Hingga matanya menangkap cahaya yang mengarah pada mobilnya dan semuanya menjadi gelap.
.
.
.
"Kecelakaan yang menimpa keluarga Huang minggu lalu menyisakan seorang anak laki – laki yang dikabarkan merupakan anak hasil hubungan gelap nyonya Huang dengan kekasih gelapnya-"
"Lay tidak baik menonton sambil memakan sarapanmu" ucap Tuan Zhang pada putri kecilnya.
"papa ap-emm dia sudah sada-emm" mulut kecilnya penuh dengan roti menyebabkan bicaranya tidak terlalu jelas.
Tuan Zhang tersenyum memandang putri kecilnya, ini sudah kesepuluh kalinya sang putri bertaya tentang Huang kecil itu dalam seminggu "Dia belum sadar, apa Lay ingin mengunjunginya setelah pulang sekolah ? Dia pasti senang"
Putri kecil Zhang menganggukkan kepalanya bersemangat dengan mata yang berseri – seri.
.
.
.
"Panda kecil ayo bangun" Lay kecil terus menatap pria kecil yang disebutnya panda kecil dengan pandangan sedih.
Saat pertama kali Lay melihat angota Huang termuda tersebut dia memanggilnya dengan panda mumi karna keadaan Huang kecil yang mengenaskan.
Lay bercerita segala hal pada Huang kecil, bercerita tentang apa yang dia lakukan dan lewati di sekolah, Lay selalu berharap teman barunya itu akan segera bangun. Lay bahkan terjaga ditengah malam untuk mendoakannya.
"Papa bohong, papa bilang Huang akan bangun hari ini" Lay menekuk muka cantiknya saat tiba di ruangan Tuan Zhang dengan bibir kecilnya yang mengerucut.
"Papa lakukan semuanya yang terbaik sayang" dielusnya rambut panjang Lay.
"Tapi aku ingin segera bermain dengannya"
Hari itu Lay kecil menangis dalam dekapan Tuan Zhang dan terus meminta agar Tuan Zhang untuk segera membangunkan Huang kecil untuknya.
.
.
.
Kaki kecilnya berlari sekuat mungkin, tidak diperdulikannya suster yang memanggil namanya untuk memperingatkan jangan berlari di dalam rumah sakit, dia tidak perduli.
"Papa bagai-bagaimana keadaannya ha.. ha.."
Tuan Zhang menatap horror pada putri kecilnya, rambut Lay yang biasanya tertata rapi terlihat berantakan dan seragamnya tidak serapi biasanya, keringat kecil mulai menghiasi wajah cantik Lay.
"Tenanglah Lay dia sedang tidur, sebentar lagi dia akan bangun"
"Papa selalu berkata seperti itu"
Seluruh dokter di ruangan tersebut tersenyum mendengar penuturan Zhang kecil.
"Papa janji hari ini dia akan bangun, tuan puteri sekarang hanya perlu duduk manis dan menunggu sang pangeran pandanya" Tuan Zhang tertawa saat menggoda putrinya yang wajahnya mulai memerah.
.
.
.
Tuan Zhang tidak berbohong pada putri kecilnya. Hari itu Huang kecil bangun dari tidur panjangnya seperti harapan Lay dalam tiap doanya, namun hari itu Huang kecil tidak bangun seperti yang diceritakan seperti dongeng – dongeng yang biasa dibacakan Nyonya Zhang pada putri kecilnya.
Huang kecil bangun dan tidak mengatakan sepatah katapun, tidak mengucapkan hal yang ditunggu – tunggu oleh Lay. Huang kecil bereaksi jauh dari harapan Lay.
Huang kecil menangis histeris saat mendengar Lay menyebut namanya. Melempar benda yang dapat diraihnya ke arah Lay.
"Dia trauma Lay" jelas Tuan Zhang pada putrinya.
"Tapi dia terlihat membenciku" Lay mencoba untuk tidak menangis yang ketiga kalinya hari ini.
Hari ini Lay libur dan dia meminta Tuan Zhang untuk membawanya ke rumah sakit hanya untuk melihat Huang kecil. Saat sampai di ruangan Huang kecil, Lay sudah ditatap sinis oleh pria kecil itu. Lay bukan perempuan kecil yang bodoh, dia berlari keluar dan menangis. Lay tidak mau menangis dihadapan Huang kecil.
"Dia tidak membencimu, tidak ada yang membenci putri papa" Tuan Zhang mengelus pelan kepala putrinya "Sekarang jam makannya temani dia, dia tidak mau makan sejak kemarin"
Lay kecil mengangguk dan berlari ke arah ruangan dimana Huang kecil dirawat, kakinya terhenti saat mendengar sesuatu dari dalam ruangan itu yang dia yakini itu suara dari Huang kecil.
"Mama hiks mama Tao takut" Huang kecil menangis dalam selimutnya.
"Huang" Lay menatapnya dengan tatapan pedih.
Huang kecil berhenti menangis dan kembali menatap Lay kecil dengan tatapan kosongnya. Lay merasa akan menangis lagi, namun dia tidak ingin lari dan menangis lagi hari ini.
Dipeluknya Huang kecil, bisa dirasakannya tangan kecil itu memukul – mukulnya, sakit namun dia tidak perduli "Jiji disini tenanglah, jiji akan menjagamu, jiji tidak akan meninggalkanmu, jiji menyayangimu tenanglah, jiji menyayangimu"
Huang kecil terdiam dan mulai menangis dalam dekapan Lay. Mereka menangis berdua hingga Huang kecil terlelap dalam dekapan Lay.
"Jiji menyayangimu Huang" Lay mengecup pelan pipi merah Huang kecil.
.
.
.
Lay belum mengganti bajunya yang basah bahkan bajunya sudah mulai mengering karna tertiup angin malam, dia masih terlalu sibuk menelpon seseorang sekarang.
"Kenapa kau tidak mengangkatnya"
Bibirnya sudah mulai membiru kepalanyapun mulai terasa berat namun Lay tidak perduli.
"Kuharap kau tidak sendiri, Jiji mengkhawatirkanmu Huang"
Kepalanya semakin berat. Lay tertidur dengan bajunya yang lembab sambil mendekap sebuah foto yang menampilkan Lay kecil dan Huang kecil.
.
.
.
Lay tidak yakin apa yang terjadi padanya namun seingatnya tadi malam dia tertidur di lantai dengan baju lembab, tapi saat terbangun dia sudah berada di tempat tidurnya.
"Lay kau sudah sadar, syukurlah kau hampir membuatku mati saat melihat keadaanmu" Luhan datang dan langsung mengganti handuk yang berada di kening Lay.
Lay baru akan berbicara namun Luhan memotongnya.
"Apa kau gila tidur di lantai dengan jendela yang terbuka, ya tuhan tadi malam udara sangat dingin Lay"
"Aku-"
"Dan apa lagi yang kau lakukan dengan masih menggunakan baju kemarin, tunggu jangan katakan-"
"Luhan aku tidak baik – baik saja" Lay memotong Luhan yang sedari tadi tidak berhenti berbicara, kepalanya masih terasa berat dan semakin berat saat Luhan terus berbicara.
"Jangan membodohiku Zhang"
"Aku dokternya bukan kau Xi Luhan"
Luhan diam, Lay benar. Di sini Lay seorang dokter sedangkan Luhan merupakan seorang mahasiswa jurusan arsitektur, Lay lebih paham mengenai hal yang berbau dengan medis.
"Tapi"
"Aku baik – baik saja, aku akan pingsan jika kau tetap berceramah pagi ini"
Luhan menatap Lay dengan tatapan tidak percaya, rasanya dia ingin melemparkan semua rancangan barunya kepada Lay sekarang, tapi beruntung Lay merupakan sahabatnya jadi dia tidak akan tega melakukan itu.
"Apa yang kau lakukan di lantai apartemenmu tadi malam -good-but-not-so-good-either ?"
Lay tersenyum dan tidak berniat sedikitpun untuk menjawab Luhan.
"Aku membuatkan bubur untukmu, kau ingin aku membawakannya kesini ?"
"Tidak perlu, aku ingin makan di meja makan" Lay bangun dengan bantuan Luhan, Luhan terlihat kesusahan saat membangunkan Lay mengingat badan Luhan jauh lebih kecil dari pada Lay.
Luhan menyuruh Lay untuk menunggu sebentar hingga buburnya benar – benar matang.
"Bagaimana kau bisa masuk ke sini ?"
"Kau meninggalkan kunci candangan apartemenmu dan tugasmu, tadi malam aku menghubungimu namun nomormu sibuk jadi pagi – pagi sekali aku ke sini"
Lay mengangguk paham, Lay bersyukur Luhan datang ke apartemennya kalau tidak dia tidak tahu keadaannya akan seperti apa.
"Kemarin Kris menjemputmukan ?"
Lay tidak langsung menjawab dia terdiam untuk beberapa menit, "Tentu saja" senyum itu kembali menghiasi wajah cantiknya.
Luhan hanya diam dan memperhatikan punggung Lay yang mengambil sarapannya sendiri.
Kau tidak akan tidur di lantai dengan bibir yang membiru bila Kris menjemputmu Lay.
Tatapan Luhan beralih pada sebuah foto yang dipeluk Lay tadi malam.
Ada apa denganmu dan Huang kecil itu Lay.
.
.
.
Setelah berdebat cukup lama akhirnya Luhan mengalah dan meninggalkan Lay. Lay meyakinkannya dia akan baik – baik saja.
"Aku hanya butuh istirahat"
"Oh ya kau butuh istirahat, istirahatkan hati dan pikiranmu itu Zhang"
Luhan merasa sedikit bersalah saat dia membanting pintu apartemen perempuan berdimple tersebut, dia merasa sangat kesal dengan sifat keras kepala Lay yang tidak pernah berubah.
Seharusnya aku tidak melakukan hal itu.
Luhan melamun cukup sadar hingga matanya menangkap seseorang yang dikenalnya.
"Apa yang dilakukan oleh Huang kecil itu"
Bis yang ditumpangi Luhan melewati taman disekitar apartemen Tao. Pandangannya tetap tertuju pada pemuda Huang itu hingga dia berpindah tempat duduk untuk sekedar melihat pemuda tersebut.
Dan pandangannya melebar saat melihat sesuatu yang hampir membuat jantungnya lepas dari tempatnya.
"Apa yang kalian berdua lakukan"
.
.
.
Tao menatap refleksi dirinya, terlihat banyak bercak merah disekujur dirinya. Dirabanya lehernya dan tiba – tiba bayangan dia dan kris tergambar jelas dipikirannya, membuat mukanya berubah semerah tomat.
"Aku tidak akan pernah melepaskanmu Tao"
"Maka jangan pernah membiarkan genggamanmu lepas dariku ge"
"Aku berjanji"
Aku mencintainya dengan segala yang kupunya
Lamunannya terhenti saat bel apartemennya berbunyi.
"Siapa yang bertamu sepagi ini" tangannya sibuk menutupi bagian lehernya yang penuh dengan bercak merah.
"sebentar" Tao berjalan sedikit tergesa – gesa saat orang itu tetap menekan bel tanpa henti.
"TAO"
Tubuhnya terjatuh kelantai akibat pelukan tiba – tiba dari wanita yang berada di atasnya.
"Berat" protes Tao pada wanita tersebut.
"Ya tuhan kau baik – baik saja, syukurlah" Lay menangkupkan jari lentiknya di wajah Tao, Lay tidak sadar bahwa dia sedikit menyakiti punggu pemuda tersebut.
"Berat" erang Tao.
"Maaf aku hanya terlalu khawatir padamu"
Lay menatap tao dari atas hingga bawah memastikan bahwa pemuda tersebut benar – benar dalam keadaan baik.
"Kenapa kau menggunakan Syal, pagi ini tidak panas, kau sakit ?" tangannya menarik syal tersebut namun langsung dihentikan oleh Tao.
"Aku hanya ingin menggunakannya" sergahnya cepat.
"Kau tidak berbohongkan Tao ?" Lay mulai menatap mata pemuda panda tersebut.
"Kau mengenalku lebih dari siapapun"
"Jiji percaya padamu"
Mereka terdiam, tidak tahu harus membicarakan apa lagi. Tao merasa sedikit terganggu dengan kehadiran Lay pagi ini, dia tidak mengharapkan Lay datang berkunjung hari ini.
Dia tidak pernah menggunakan panggilan itu lagi semenjak meninggalkan cina, pikir Tao.
"Kau sudah sarapan ?" tanya Lay pada Tao namun tidak ada respon, namun saat melihat piring kotor di tempat pencucian Tao dia yakin pemuda itu sudah sarapan pagi ini.
"Baiklah kurasa kau baik – baik saja dan" Lay diam sejenak, kepalanya menunduk melihat ke arah telapak kakinya, "maaf tadi malam aku tidak mengunjungimu saat hujan" Lay menyesal tidak ke apartemen Tao dia merasa sangat bersalah.
Lay menunggu respon dari pemuda di depannya namun hal pertama yang didapatinya adalah tangisan pemuda tersebut.
Tao menangis dengan memeluk erat Lay, dia hanya menangis tanpa mengeluarkan suara sedikitpun. Air matanya tidak mau berhenti dan semakin menjadi saat Lay mengatakan.
"Jiji disini tenanglah ada jiji disini"
Lay merasa sangat sakit saat melihat Tao menangis di hadapannya, ini pertama kali baginya melihat Tao menangis semenjak dia meninggalkan Cina beberapa tahun yang lalu.
.
.
.
"Hyung, Luhan nuna mencarimu dari tadi siang" ucap seorang pemuda berkulit pucat pada Kris.
"Untuk apa kekasihmu mencariku tidak biasanya"
Pemuda tersebut mengangkat bahunya pertanda dia juga tidak tahu, "Dia berkata untuk menemuinya di kantin universitas nanti"
Setelah dari pembicaraan singkat tersebut dan memulangkan sehun kerumahnya dia segera menuju ke universitasnya. Tidak butuh lama baginya untuk kesana karna jarak rumah sepupunya tidak jauh dari universitasnya.
Kakinya berjalan agak tergesa – gesa mengingat kekasih sepupunya tersebut tidak suka menunggu.
"Luhan" panggil Kris dari ujung kantin, Luhan melambaikan tangannya pada Kris.
"Ada apa mencariku ?" tanya Kris langsung.
Luhan tersenyum, ini yang disukainya dari pemuda bermata tajam di depannya ini. Kris tidak suka bertele – tele.
"Aku tadi pagi ke apartemenmu tapi kau tidak ada disana, dimana kau ?"
Luhan berbohong, "Aku ingin meminta designku yang ada padamu, aku akan segera mengumpulkannya" Luhan berbohong lagi.
"ah itu aku tadi pagi ada urusan sedikit jadi aku tidak ada di rumah" ucap kris sambil mengelus lehernya.
Luhan tersenyum, "Baiklah kurasa nanti kau bisa memberikannya pada Sehun"
Kris mengangguk dan kembali diam, dia merasa sangat canggung duduk berdua dengan perempuan Cina ini, padahal dia tidak pernah seperti ini dengan Luhan.
Luhan menatap Kris yang terlihat sedikit tidak nyaman.
Kau bohong Wu Yifan, kau tidak menjawab langsung pada tujuannya. Kau berbohong.
.
.
.
"Lay ceritakan tentang pemuda itu" Luhan bertanya dengan antusias.
"Dia tampan"
Luhan memutar bola matanya "Tentu saja kalau tidak, tidak mungkin kau menyukainya"
"Dia tidak pintar berbohong" sambung Lay dengan mata yang berbinar – binar.
"maksudmu ?"
"Dia akan berbicara bertele – tele saat berbohong dan itu sangat lucu" Lay bersandar dibahu kecil Luhan "Namanya Wu Yifan"
"Wu- Wu Yifan, tunggu apa dia mahasiswa di universitas ini ?" hal terakhir yang dilihat Luhan adalah saat Lay mengangguk sebelum tertidur di sampingnya.
TBC
