HALOHA SEMUA! masih ada yang inget Maryam, kan? ._.
Jadi, ceritanya Maryam bakalan apdet ketiga fic Maryam satu hari ini. Seneng gak? Seneng dong! #maksa tau gak kenapa Maryam apdet sekarang? Jadi, Maryam itu tadinya pengen hiatus, soalnya mau fokus ke SBMPTN, sama ngelanjutin naskah novel. Terus, tiba-tiba sebuah PM masuk, dan jreng jreng, hati Maryam pun tersentuh untuk ngelanjutin fic lagi dalam waktu dekat. Dekat? Yah anggap aja begitu XD janji Maryam kurang lebih seminggu setelah SBMPTN, berhubung Maryam selesainya tanggal 19, jadinyya sekarang Maryam baless deh.

Oke, sekarang maryam mau balas review yang gak login nih yaa

May 7c11 Guest bgus" (y)
chapter depan di update kilat yaa . makin pnsaran sma klnjutannya .
aq ada sdikit saran nih, tapi maaf kalo sarannya gk bagus .
mnurut aq, di bagian terakhir itu, jangan dijelaskan himeka sudah bangun . dan prkataan "kakak...", sebaiknya diganti dengan "kazune..." (karena dibagian" sebelumnya, himeka juga memanggil kazune, dgn sbutan kazune, bkan kakak)
ini dpat membuat reader lebih penasran, siapa yang memergoki adegan itu . nah, di chapter selanjutnya, baru diungkapkan kebenarannya, atau dibuat flashback .
smoga kedepannya makin baik yaa ...
salam KazuRin Forever ... :D
= hihi, iya deh. Saran bagus! Tapi sebenernya cara manggilnya sama kayak Maryam juga, kadang manggil adik dengan nama, kadang manggil dengan sebutan 'adik' Tapi bener juga sih, ganjal. Thanks buat reviewnyaaaaaaa ^^

Apr 28c11Ria-chan Aaaaah! Aku tobat kak, tobat! XDD
= YEEESSS YESSS! Akhirnya kamu tobat jugak XDD

Apr 22c1Jenni Lanjut! Keren!
= OKeh!

dhldr thooooooorrr, aku silent reader baru! keep update! XD = ciiie, silent reader baru ni yee. Hihi gomen baru apdet

Apr 14c11cyntiaotaku 37 Iya deh, iya, tobat aja deh... Kasian sama Authornya... *digeplak* Wuihh, fict nya keren! Keren! Keren! Nilainya... WARNING: Ini adalah penilaian silent reader super abal, jadi jangan pudung, yaa XDX *ditonjok* 99! Hahahahaha XD sebenrnya pengeennn banget kasih nilai 100, tapi aku lihat kok ada paragraf yang diulang-ulang, kayaknya... Atau aku salah lihat? Gomenne deh, kalau salah... Kalau aku yang salah, nilainya 100! XD :3 :D

= woww! Hebat! Hehe iya nih, abisnya gak sabaran pas mau apdet, jadinya berantakan deh

Apr 11c11Wulan
Senpai, lanjut lagi ya . Ganbate!
= Sankyuuu n,n

Apr 9c11KAZUKI Ceritanya bagus, Maryam-senpai!
Kalau bisa, update kilat, yaa.. :)))
Ganbatte buat UN-nya! Semoga sukses!
Amin.. O:-)
= UN nya sukses! Makasih doanya. Semoga suka sama fic ini yaaa :)

Apr 9c11Kazuki Anataru Ceritanya bagus, Maryam-senpai!
Kalau bisa, update kilat..
Ganbatte buat UN-nya! Semoga sukses!
Amin.. O:-)
= fic ini bagus? Aaah, Arigatou nee n,n Apr 8c11chan amiiiin saya do'akan mudah-mudahan kmu lulus adn jgn lupa,,, kalah bisa update kilat yaaaa = udh lulus, tapi apdetnya ga kilat nih, jadi ngerasa bersalah nih

Apr 8c11Alya next yaa..
= OKE, udah apdet nih n,n

Kujyou angelita Kyaa! Fic ini ada lagi! ku sudah tunggu lama.. Seperti biasa fic ini bagus hidup KAZURIN! Hmm lanjutkan kan author?jgn lama2(egois) readers n aku menunggu..
= maapin Maryam ngebuat kamu menunggu yaaa :) thankyuuu Apr

7c11christy ok good luck!fan fict nya bagusss keren!
= wiihh, telinga Maryam naik nih XD

Apr 7c11Guest Waahhhhhh akhirx update juga,
setelah menunggu lama hehe:D q penasaran nih kelanjutanx...
Lanjutin yaaa...
Tapi jangan lama2 ya:D q doain semoga bisa deh ujianx.
Lanjut terus ya... GANBATTE...
= APDETTT! Akhirnya apdet jugak -_- pasti kamu dendam abis sama Maryam nih karena gak apdet-apdet XD

Apr 7c11Guest So cool...
Ceritany bagus banget,,,,

next:.
= Maryam jadi semangat nih XD

22h agoc11Guest ya gitu so engak nikah gitu,cerita nya bagus,please buatin ya yang udah nikahnya,tapi nikahnya kazune dengan karin nya = maksudnya sekuel? Cerita ini gak nyampe pada kehidupan pernikahannya. Mungkin nanti akan maryam pikirkan. Terimakasih buat sarannya n,n

Jun 7c11HanaRin Lovers's Ceritanya bagus , semoga dapat nge updated cerita baru lg y = wiiiii, Maryam mulai semangat lagi nih!

Kahika Café
Kamichama Karin©Koge Donbo
Musim Gugur ©Hanazawa Maryam
Rated : T
WARNING: Typo, alurnya berantakan, OOC,

Chapter 3

Pepohonan tampak seperti tengah menari dengan indahnya bersama angin. Begitu dengan mereka, begitu juga dengan Karin. Rambut brunettenya tampak seperti melambai pada angin yang menyapanya dengan lembut. Karin duduk disana-dibawah pepohonan teduh yang melindunginya dari amarah matahari. Lelaki disampingnya memejamkan matanya, merasakan hangatnya angin yang menggelitik telinganya. Sebuah buku ia letakkan di pangkuannya. Kepalanya dengan perlahan memutar menghadap si gadis yang berada tepat disampingnya.
"Karin," panggilnya pelan. Karin terbangun dari lamunannya ketika suara itu memanggilnya. "Apa, Kazune?" Sudah dari tadi mereka berada disini, di taman yang letaknya tak berada jauh dari rumah sakit tempat Himeka dirawat. Sejauh ini, belum ada perubahan berarti dalam tubuh Himeka. Mereka datang kesini sekedar untuk menghilangkan kepenatan. Sejak pulang sekolah, mereka sudah menjaga Himeka dirumah sakit.
"Kau tidak apa-apa, kan?" Karin mengangukkan kepalanya lemah. Ia tahu apa yang dimaksud pemuda di sampingnya itu. Keluarga Kujyou berencana akan pergi ke Singapura karena Himeka sakit. Bukan karena peralatan di Jepang yang kurang canggih, melainkan Ayahnya tidak mungkin bisa berlama-lama berada di Jepang. Perusahaannya berpusat di Singapura, dan ia tidak bisa sesuka hati datang ke Jepang. Oleh karena itu, ia berencana memindahkan Himeka ke Singapura, sehingga ia bisa menjaganya dengan leluasa. "Aku bisa saja tetap berada disini, tetapi aku tidak bisa. Tenang saja, setelah SMA berakhir, aku berniat masuk Universitas Todai. Universitas nomor satu di Jepang." Kazune mengadahkan kepalanya. "Aku seorang kakak. Sedikit tidaknya, aku merasa bertanggung jawab pada Himeka," Karin mengerti tanggung jawab yang ditimpakan pada Kazune. Kemarin, samar-samar Kazune mendengarkan pembicaraannya dengan Ayahnya. Kazune dimarahi habis-habisan. Karin sendiri tidak mengerti mengapa Kazune disalahkan atas masalah ini. Menurutnya, ayahnya juga bertanggung jawab pada Himeka, malah harusnya lebih besar. "seharusnya aku tahu kenapa Himeka sering sekali tidur lebih awal. Seharusnya aku tahu ia terkadang pulang sekolah bukannya kursus ataupun les, ia pergi ke dokter. Harusnya aku tahu itu."
"Jangan terlalu menyalahkan diri sendiri, Kazune." hibur Karin. "Ayah ingin kau menjaga rumah itu selama kami pergi. Lagipula kau bisa berlatih disana. Bukankah waktunya sudah dekat? Kuharap kau bisa mewujudkan keinginanmu. Kita punya janji, kau ingat kan? Yang waktu itu?"
"Ya. Tentu aku ingat. Tentang rumah itu ... apa tidak masalah jika aku disana? Aku tidak apa-apa jika harus kembali kerumahku. Aku bisa meminta Jin agar pindah," "Bagaimana jika dia bersikeras tidak mau pindah? Apakah kau akhirnya akan tinggal seatap dengannya?" Ada nada sarkastik didalamnya, juga ada nada kecemburuan didalamnya. Karin bisa menangkap itu, tetapi untuk apa? Memang benar, sejak dulu, Kazune tidak menyukai Jin. Tetapi ia juga tidak cukup murahan untuk tinggal serumah bersama Jin. Jin memang idola terkenal, tetapi demi apapun, ia tidak menyukai ucapan Kazune. Tunggu dulu ... mungkin ia cukup murah, ia membiarkan Kazune menciumnya pada saat musim semi itu begitu saja, meski ia tahu Kazune tak memiliki perasaan apa-apa terhadapnya. "Bagaimana jika kau ikut dengan kami? Aku sudah membicarakan ini dengan Ayah, dan ia setuju." Karin terdiam sesaat. Jujur saja, jika boleh ikut, ia dengan senang hati akan ikut. Tetapi, ia sudah berjanji pada Jin untuk mewujudkan mimpinya.
"Maaf, tetapi aku tidak bisa. Jin ... aku sudah berjanji padanya,"
"Jadi, ini semua tentang Jin, ya?" Ada nada kekecewaan disana. Karin merasa sedikit bersalah pada Kazune. "Ah! Aku punya sesuatu untukmu," Kazune merogoh kantung celananya. Sebuah kalung putih sekarang berada ditelapak tangannya. "Untukmu," ujarnya. Karin masih setengah terkejut menerimanya. Untuk apa Kazune memberikan ini padanya? Karin mengamati kalung itu. Kalung itu bertuliskan "KK" Karin tidak mengerti maksudnya. Huruf K pertama pastilah Karin, lalu yang kedua? Kazune? Rasanya tidak mungkin. "Apa kepanjangan KK?" tanyanya memastikan.
Kazune tampak sangat gugup ketika karin menanyakannya. "K yang pertama adalah Karin. K yang kedua adalah Kazune," Karin memandangnya tak percaya, lalu tersenyum. "Maksudnya untuk Karin dari Kazune. Kau jangan berpikiran macam-macam! Itu supaya kau ingat aku yang memberikan kalung sebagus itu!" Karin bersungut. Lalu memakai kalung itu dengan perasaan kesal bercampur senang. Kazune memandanginya. Karin tampak kesusahan memakainya. Kazune tampak ragu untuk membantunya. Akhirnya ia terpaksa menentukan pilihan dengan jari tangannya. Ia menghitungnya dalam hati. "Pakaikan, tidak, pakaikan, tidak, pakaikan, tidak, pakaikan, tidak, pakaikan, tidak. Tidak? Ah, pakaikan saja!" batinnya. Ia menoleh pada Karin. "Kau bodoh sekali! Seharusnya jika ingin memakai kalung, kaitnya kau letakkan dibawah, kalau seperti itu, jelas susah," Kazune membantunya, menyusuri rambut Karin, membantunya mengaitkan kalung itu. "Selesai!" ucapnya.
"Terimakasih," ungkap Karin.
"Ya. Itu hal mudah untukku."
"Bukan ... bukan hanya karena itu. Terimakasih untuk semuanya. Aku tidak tahu seperti apa hidupku tanpa kau menolongku. Kau memang terkadang menyebalkan, bahkan sangat menyebalkan, tetapi jauh di dalam hatimu, kau baik. Setiap kata kasarmu, selalu ada kelembutan didalamnya. Terimakasih," Mata Karin berkaca-kaca, namun tak mengeluarkan air sedikitpun. Kemudian ia bangkit dari duduknya. "Sepertinya sudah saatnya kita kembali."
Dengan cepat Kazune berdiri, lau menggapai tangan Karin. Ditariknya tangan Karin dalam satu tarikan kuat hingga tubuh Karin berbalik dan menghantam tubuhnya dengan pelan. Kazune memeluknya dengan sangat erat. "Kazune?" Karin hampir tidak percaya dengan apa yang dilakukan Kazune. Tubuh Kazune bersentuhan dengan tubuhnya. Tubuh itu mendekap tubuhnya dengan erat. Jatungnya berdebar dengan sangat kencang. Semoga saja Kazune tidak mendengarnya.
"Sebentar saja. Sebentar saja, biarkan seperti ini." Karin tidak mengerti apa yang terjadi dengan Kazune. Tubuhnya hangat. Dekapan itu terasa sangat hangat. Sebenarnya, apa sebenarnya terjadi padamu Kazune?

.

.

.

Semua barang telah dikemas. Sudah saatnya mereka pergi. Himeka telah berangkat lebih dulu dari mereka. Suasana bandara tampak sangat ramai. Semuanya hadir disana untuk mengantar Kazune pergi tak terkecuali Jin. Rambutnya dicat putih keperakan. Ia memakai sebuah kacamata hitam transparan, dan senuah topi. Ia datang setelah menelesaikan syutingnya. Namun satu orang yang sangat Karin perhatikan, Kazusa. Gadis itu tampak sangat tidak rela kehilangan Kazune, namun raut wajahnya ia buat setegas mungkin hingga tak ada yang menyadari bahwa ia sebenarnya rapuh. Seberapa tidak sukanya Karin pada Kazusa, ia tetap bisa merasakan perasaan yang Kazusa alami ini. Mereka memang pernah berpisah selama lebih setahun, namun perpisahan tetaplah sebuah perpisahan. Tak perduli seberapa lamanya ia pergi, namanya tetap sama, perpisahan. Ia memeluk Kazune dengan erat, begitu juga Kazune. Meski disaat seperti ini, ada rasa nyeri pada dada Karin saat melihatnya. Pelukan itu semakin lama. Karin tidak sanggup lagi melihatnya. Ia kemudian melangkah pergi menjauhi mereka. Karin kini sadar, ia tidak bisa mendapatkan hati Kazune. Kazune hanya menganggapnya sebagai boneka, mencium dan memeluknya disaat ia ingin, tetapi melemparkannya disaat ia bosan dan tidak membutuhkan lagi.
"Karin ... " Karin berharap itu suara Kazune, tapi nyatanya tidak. Suara itu milik Jin. Karin tidak berpaling, ia masih memunggungi Jin. Jin mengejarnya, kemudian memeluknya dari belakang. Karin berbalik, membalas pelukan Jin. Ia menumpahkan segala tangisannya pada dada Jin. Rasa sesak menyelimuti dada Jin. Cintanya bertepuk sebelah tangan.
Tanpa mereka tahu, Kazune hanya memandang pemandangan itu dari jauh. Sekarang dia yakin mengapa Karin menolak tawarannya untuk pergi bersama. Karin memang berasalan karena ia memiliki janji pada Jin untuk mengejar citanya, tapi kini Kazune yakin Karin memiliki janji pada Jin untuk mengejar cintanya.

.

.

.

Karin menatap bangunan itu sekali lagi. Bangunan bercat putih bercampur biru. Tepat di atas pintu, berdiri sebuah tulisan yang terpampang dengan kokoh "Kahika Caf " Karin menyentuh dengan perlahan bangunan itu. Kini bangunan itu tampak sangat berbeda tanpa pemiliknya. Sudah Tiga minggu berlalu sejak kepergian Kazune. Sejak Kazune pergi, kafe itu memang sudah tutup. Empat hari setelah Kazune pergi, Michi mendadak harus pergi ke Kanada. Ibunya sakit keras, dan kabar terakhir yang ia dapatkan adalah Ibunya meninggal. Besok adalah hari ia akan berjuang lebih keras dari biasanya. Selama ini, ia sudah berhasil bertahan dalam kompetisi itu. Kini besok adalah grandfinal. Ia akan bertarung dengan seorang gadis bernama Ami. Ada rasa gentar dalam dirinya ketika namanya terpilih sebagai lawan satu-satunya gadis itu. Gadis itu enerjik, matanya menyala ketika dentingan musik telah mengalun. Tetapi Karin tak mau kalah dari gadis itu. Sehebat apapun gadis itu, dirinya lebih hebat.
Karin kini tiba dirumah besar itu. Pengurus rumah yang dipanggil Kyuu itu pergi bersama mereka ke Singapura. Sejak dulu, ia setia pada mereka, terlebih Kazune. Karin mengganti pakaiannya. Rambut yang sedari tadi digerai, ia ikat dengan gaya ponytail. Ia segera melangkahkan kakinya pada ruangan besar dilantai tiga. Tangannya dengan cepat menekan-nekan tuts piano. Suaranya dengan merdu memenuhi ruangan itu. Dia belajar sendirian, berlomba tanpa guru vokal. Satu-satunya orang yang membantunya adalah Jin. Karin merasa ia adalah orang yang sangat beruntung, karena orang-orang baik selalu ada bersamanya.

.

.

.

Tepuk tangan mulai bergemuruh ketika Ami menyudahi lagunya. Ia tampil dengan menakjubkan. Napasnya terengah-engah dengan senyum bangga ia lemparkan pada setiap orang. Karin menjadi gugup sendiri Karin melihat senyum itu.
Jin memgang kedua pundak Karin, dan mengatakan, "Menang, dan dapatkan kontrak itu. Dapatkan seluruh kontrak, dan kau jadi nomor satu! Kau nomor satu!" Matanya menatap lurus pada Karin, menyemangatinya dengan sangat tulus.
"Terimakasih, aku akan jadi nomor satu!" Karin berlari keatas panggung ketika juri memanggil namanya. Karin terkesiap, jantungnya berdetak dengan sangat kencang. Ia mengatur napas sedemikian rupa. Diperhatikannya penonton sekilas, tak ada wajah itu. Kazune, dia berharap Kazune ada. "Kau nomor satu!" ucapan Jin terngiang di kepalanya. Dentuman musik mengalun. Karin beryanyi dengan sepenuh jiwanya. Karin menari seadanya diikuti dengan musik yang menyertainya. Matanya menyalanya, hatinya membara, melebur menjadi satu dengan musik. Suara tepuk tangan berdatangan. Orang-orang mengelukan namanya. Karin tersenyum puas. Kini saatnya tiba, dimana ia dan gadis itu disandangkan. Lampu mulai dimatikan ketika sang pembawa acara hendak membacakan nama pemenang. Suasana dibuat semenegangkan mungin.

Kazune mengecat hitam rambutnya, kemudian memakai sebuah topi. Ia duduk dibarisan kedua pada acara musik itu. Ia datang pada saat acaranya sudah setengah berlangsung. Ia menatap Karin yang begitu berbeda malam ini. Ia tampak bukan seperti Karin yang biasanya. Kini tiba saatnya penentuan. Karin tampak sangat gugup. Lampu dimatikan.
"Hanazono Karin!" Lampu disorot pada Karin. Karin hampir tidak percaya. Kazune tersenyum saat itu juga. Ia sudah menebak ini dari awal. Kazune bangkit dari tempat duduknya. Ia ingin menyambut kemenangan Karin. Ia berjalan menuju belakang panggung. Setelah acara selesai, Karin berlari ke belakang panggung. Tapi apa yang ingin Kazune berbeda kenyataannya. Karin berlari menuju Jin. Ia menghamburkan pelukannya pada lelaki itu. Kazune terpaku disana. Ia berbalik, pergi menjauhi mereka. Kazune menyusuri malam. Kedua tangannya dimasukkan kedlam kantung celananya. Kazune berjalan dengan menundukkan kepalanya. Sakit hatinya masih belum hilang. Ia tiba di Jepang pagi ini. Ia mendapat izin dari sekolahnya untuk libur dari sekolah. Tidak ada yang tahu ia ke Jepang hari ini. Ia bahkan tidak menemui Kazusa, ataupun mampir kerumahnya. Semuanya khusus untuk Karin. Tapi apa yang ia dapatkan? Hanya perih.

TBC

gimana? Pendek ya? Gomen deh. Kirimin komentarmu pada kolom review ya. Kalau kamu tau gimana perjuangan Maryam apdet fic ini, kalian pasti gak bakalan pelit ngasih review. Sileeent Reader! Buka topengmu! XD