Hai, this is my story, tapi karakternya bukan kepunyaan saya. Melainkan kepunyaannya Kishimoto-San

Warning : OOC


Sakura merapikan bajunya untuk bersiap-siap mengikuti kegiatan Live in. Live in ini diselenggarakan sekolah untuk melatih kemandirian anak dan mempersiapkannya untuk tahan dalam menghadapi tantangan hidup.

"Sakura ,sudah siap semuanya?" tanya Ibunya

"Sudah ,bu. Sakura berangkat dulu ya!" kata Sakura. Dia pun meninggalkan rumah, dan berangkat ke sekolah untuk menaiki bus.

SAKURA POINT OF VIEW

SMA KONOHA

Aku kini telah tiba di SMA Konoha. Suara bising kerumunan siswa - siswi yang akan berangkat memekik telingaku. Aku mencari cari keberadaan sahabat-sahabatku. Ino, Hinata, Temari , dan Tenten. Kemana ya mereka?

"Aw!" Astaga, aku ternyata menabrak seseorang yang ...

"Aduh , kok nabrak-nabrak aku sih? Sengaja ya?" Kata Naruto cekikikan

Iya, dia Uzumaki Naruto . Si lelaki paling menyebalkan di kelas. Emang sih dia multitalented,, bisa dance, jago musik , pelajarannya lumayan , jago seni, tapi rese banget! Suka banget isengin aku.

Waktu bikin project biopori , dia buang buang cacing ke tubuhku. Apa coba maksudnya ? Lagi belajar aja dia berisik banget, nyoret-nyoret bukukulah , apa lah.

Parahnya, akhir-akhir ini teman-temanku menggosipkan perhatiannya padaku. Cara dia menjailiku , cara dia yang terkadang membantuku. Dan sebagainya. Entahlah.

"Gak usah terlalu gede rasa , deh!" kataku seraya melewatinya. Haduh! Kenapa aku harus mengenal orang se menyebalkan dia sih ?.

Di perjalanan , di Bus.

Aku mengambil tempat duduk bersebelahan dengan Ino. Hinata dengan Temari , Tenten dengan Karin (teman semasa SMP-nya). Kami ber-6 menikmati canda tawa ria di dalam bus. Akan tetapi , tiba-tiba ,munculah bau busuk dari bangku belakang

"Naruto? Kau buang angin lagi ya?" kata Kiba, teman sebelahnya

"Apaan sih? Bukan , itu ulah Chouji!" kata Naruto. Dia pasti tidak mau mengaku. 1 angkatan sudah tahu menahu mengenai ulah Naruto yang sering buang angin sembarangan dan dengan polosnya , menuduh orang lain.

"Apa dia tidak pernah minum Yakult ya?" tanya Ino

"Tau tuh , heran juga aku." kataku berusaha bersikap cuek.

"Bilangin tuh pacarmu , bersihin ususnya!" kata Ino mengejek

"Ino , sudah berapa kali ku bilang? Aku tidak suka padanya. Lagipula , dia sudah punya pacar kan?" kataku tak mau kalah dari Ino

"Tapi apa nggak aneh? Inget gak , waktu kita latihan upacara , dia mengajakmu untuk bolos latihan. Padahal, kau kan sedang bersama kami. Masak dia hanya mengajakmu bicara? Berarti kan ada maksud terselubung!" kata Ino sambil menyunggingkan senyum licik

"Apaan sih? Dia itu ngajak kita semua bicara. Kemungkinan saja , hanya aku yang mendengarkannya bicara" kataku. Sebenarnya kata-kata Ino itu benar sih. Dia memang hanya mengajakku bicara. Kalau memang dia mengajak teman-temanku juga , kenapa dia tidak menegur teman-temanku untuk mendengarkannya bicara ?

"Terserah, dasar kau tidak peka!" kata Ino


Keesokan harinya , pukul 3 Subuh

Aku terbangun pada pukul 3 subuh. Sudah hampir 12 jam , dan kami belum juga sampai ke tempat tujuan. Tujuan kami adalah Kirigakure . Aku tahu memang jarak dari Konohagakure ke Kirigakure cukup jauh. Itulah mengapa seluruh murid memutuskan untuk tidur di bus.

" Mr Kakashi, jam berapa kita kapan sampai?" tanyaku kepada guru Sejarahku , Kakashi. Dialah yang memimpin perjalanan kami menuju lokasi Live In. Saat ini , dia sudah terbangun dan memperhatikan seluruh kegiatan murid yang sepertinya sudah tidak melakukan kegiatan apapun selain tidur.

"Kira-kira 2 jam lagi , kita akan sampai" Kata . Tiba-tiba , matanya tertuju pada orang lain di belakangku. Hinata. Dia ternyata belum tidur. Melainkan sedang makan roti.

"Astaga Hinata! Masih belum berhenti makannya?" Kata Kakashi sembari menggeleng-gelengkan kepalanya. "Badanmu saja yang langsing, tapi porsi makanmu bagai gorila" kata Kakashi yang entah sebenarnya berniat memuji atau mengejek. Hinata sendiri hanya tersenyum malu. Sahabatku yang satu ini memang polos sekali

Pukul 5 pagi , bus ku telah tiba di lokasi. Kami berhenti sejenak di gereja untuk sarapan bersama sebelum di jemput oleh orang tua asuh kita. Huah! Aku sudah tak sabar. Dengan siapa ya kira-kira aku akan tinggal bersama ? Semoga aku cocok dengan teman serumahku.

Aku melihat sekelilingku di gereja. Tiba-tiba aku menangkap bayangan seseorang. Naruto? Untuk apa dia melirik ke arahku? Sambil tersenyum pula. Atau , mungkin melihat orang di belakangku. Tapi , di belakangku kosong. Ah sudahlah. Mungkin dalam pikirannya , dia sedang menghina-hina diriku

Beberapa teman-temanku berfoto-foto di sekeliling gereja. Aku memang pede, tapi aku bukan tipe orang yang banci kamera dan harus berfoto dimanapun dan kapanpun.

Sasuke? Buat apa dia memfoto diriku? Ya, Sasuke adalah mantan pacarku. Waktu itu kami sempat berpacaran , tapi aku tidak tahan dengan sikap overprotektifnya. Jadi , aku putuskan. Sekarang , buat apa dia memfoto diriku? Ah sudahlah, aku tak peduli. Lebih baik, sekarang aku memperhatikan sekumpulan orang tua yang datang berbondong-bondong kemari. Sepertinya merekalah calon orang tua asuh kami

"Semuanya di harapkan berkumpul" Perintah Mr Kakashi kepada kami. Kami semua pun menurut. Mr Kakashi pun akhirnya mulai membagikan kelompok teman sekamarnya.

"Sakura, Hinata ..." Aku bersuka ria ketika mengetahui aku 1 rumah dengan Hinata. Tiba tiba "dan Shiho" lanjut . Hinata tampak terkejut. Aku tahu , Hinata pernah bercerita bahwa dirinya dan Shiho adalah teman SMP. Hanya saja , mereka terpisah lantaran Shiho mengadu domba dirinya dengan Konan. Untung saja, Hinata dan Konan kini telah berbaikan.

"Mr, bisa minta tolong ? Aku tidak akan bisa akur jika harus satu rumah dengan Shiho. Mr sendiri tahu kan?" Kata Hinata. Tentu saja Hinata sempat menceritakan hal ini ke . Waktu itu , kami akan di bagikan kelompok outbond sebelum berangkat Live In. Kebetulan , dia menggabungkan Hinata dan Shiho kedalam 1 kelompok . Karena tidak mau memperburuk keadaan. Hinata akhirnya bercerita pada Mr Kakashi dan meminta pengertiannya

"Kau ini , yasudah. Shiho bisa bertukar pasangan dengan Tenten" Senyum Hinata melebar. Untunglah kami bisa 1 rumah bertiga , mengingat kami adalah teman sepermainan. Semua teman-teman kami menatap kami iri, karena mayoritas dari mereka, 1 rumah dengan orang yang mereka tidak akrab bahkan yang mereka tak suka

"Pasangan terakhir ,Konan dengan Ino" kata Mr Kakashi. Ino lega karena ia bisa 1 rumah dengan orang yang cukup dikenalnya dan bisa memulai topik duluan. Ia tau bahwa Konan termasuk orang yang cerewet , namun keibuan.

"Setelah ini , kalian bisa ikut ke rumah keluarga kalian masing-masing." Perintah Mr Kakashi.

Aku , Hinata dan Tenten berjalan mengikuti ibu asuh kami. Namanya Ibu Tsunade. Kami berjalan kaki untuk menuju rumahnya. Perjalanan cukup jauh. Melelahkan , tapi tak apa. Jika jalan bersama-sama , semua tak akan terasa lama

Tunggu dulu! Kenapa Naruto juga ikut? Bersama Kiba dan Kimimaro pula? Kenapa dia juga ikut kesini?

"Bu, apa rumah mereka berdekatan dengan kita?" tanya ku.

"Iya. Rumah mereka di belakang rumah kita nantinya." Kata Ibu Tsunade. APA! Rumahku berdekatan dengan si Naruto? Kenapa harus ... Lupakanlah. Kalau aku memikirkan dia , live in ini tidak akan menyenangkan.

Ibu Tsunade kelihatan berat sekali membawa sepeda beserta ransel kami bertiga (tentu saja Aku, Hinata dan Tenten).

"Ibu Tsunade, lebih baik aku saja yang membawa sepedanya." kataku menawarkan diri. Ibu Tsunade memberikan sepeda itu kepada ku. Akulah yang kini membawanya. Jujur, sepeda ini sangat berat

"Sakura hebat banget!" Aku mendengar bisikan itu. Suara Naruto. Dia memang berbicara pelan dengan Kiba dan Kimimaro. Tapi tetap saja, suara berisiknya itu selalu terdengar. Entah, dia bermaksud mengejek atau apa. Aku tak peduli.

Dari belakang, aku bisa melihat teman-temanku yang lainnya. Tayuya dan Yakumo, beserta Hidan dan Kakuzu. Syukurlah, aku tak perlu minta tolong Naruto dan kawan-kawan jika rumahku kekurangan. Aku bisa berkunjung ke rumah Tayuya dan Yakumo yang cukup dekat denganku

Siang Hari, jam 3

Aku, Hinata dan Tenten meminta izin kepada ibu Tsunade. untuk berjalan-jalan sore. Kami bertiga berkeliling desa untuk melihat-lihat pemandangan dan sekadar mencari panganan.

"Jujur ya, aku kurang sreg sama masakannya Ibu Tsunade Kelihatannya enak sih. Tapi, apa nggak jorok, mengingat rumah kita berdekatan dengan peternakan babi?" tanya Tenten.

"Sudahlah. Yang penting berdoa dulu sebelum makan." kataku singkat

"Lihat, ada tukang es krim!" seru Hinata. Tenten dan Hinata kelihatan tergiur dengan tukang eskrim yang lewat. Rasa durian. Aku tak suka. Lebih baik aku menahan lapar daripada harus makan durian.

Aku ingat, dulu aku pernah dijebak oleh tetanggaku. Dia memberikan ku oleh-oleh sebuah permen berwarna kuning yang kupikir rasa jeruk. Aku memakannya dan merasa aneh dengan rasanya

"Sist, ini durian ya?" tanya ibuku waktu itu. Jujur saja, melihat tetanggaku mengangguk, aku langsung ingin memuntahkannya. Itu tambah membuatku tidak menyukainya.

"Sakura, kau tidak mau?" tanya Hinata. Lamunanku terhenti mendengar pertanyaannya. Aku menggeleng. Aku tak akan pernah mau

"Eh, kalian beli juga?" seseorang datang. Kiba. Dia menghampiri kami beserta Kimimaro , Hidan, Kakuzu dan ... Naruto. Dia juga bersama 2 anak kecil di dekatnya.

"Emang kamu ingin beli juga?" tanya Hinata.

"Iya, lagi mencari jajanan. Kayaknya enak nih duren" kata Kimimaro. Aku tak habis pikir, apa enaknya duren itu

"Konohamaru , Udon jangan berlarian" perintah Hidan . Bisa kutebak, nama anak itu Konohamaru dan Udon.

"Itu siapa?" tanyaku pada Hidan.

"Itu anak yang ada dirumahku. Aku disuruh oleh ibunya untuk membawanya bermain" kata Hidan.

"Sebenarnya ada anak perempuan lain di rumah kami. Tapi kami tidak bisa mengajaknya bermain karena dia sedang memasak" kata Kakuzu menambahkan. Lagipula , aku tidak peduli mau ada perempuan lain di rumah mereka atau tidak

"Eh, aku kerumah Tayuya dulu ya" kata Kimimaro.

"Tuh kan! Lebih mementingkan perempuan daripada teman" kata Naruto mengejek. Lagipula, memangnya Tayuya mau berpacaran dengan pria seperti Kimimaro yang terdengar playboy?

"Udah yuk balik. Es krimnya udah nih" ajak Tenten yang kelihatannya tidak nyaman dengan keberadaan lelaki mata keranjang di sekitarnya. Harus ku ceritakan pada kalian. Tenten illfeel dengan kelakuan mereka sewaktu Tenten memergoki mereka sedang mengintip rok dalam teman sekelas kami. Aku dan Hinata pun mengikutinya

Jam 7 Malam

Aku , Hinata dan Tenten pun menuju meja makan. Urap. Aku suka lauk ini. Hinata lebih memilih telur , dan Tenten ...

"Tenten, apaan sih? Kok nasinya malah di kasih semua ke aku?" tanya Hinata

"Yaudah. Aku ambil lagi. 2 sendok aja" kata Tenten sembari menyengir. Hinata tampak kesal, namun tidak menunjukkannya, mengingat dia itu pendiam

Aku pergi sebelum Tenten menghancurkan dietku . Aku pergi ke ruang makan , diikuti oleh Hinata dan Tenten dari belakang.

"Sakura, Hinata , Tenten. Setelah ini , kalian melapor dulu ya ke Ibu Mei Terumi, Mizukage disini" perintah Ibu Tsunade pelan. Kami bertiga saling bertanya satu sama lain lewat ekspresi wajah . Sampai akhirnya, aku bertanya

"Memang buat apa, bu?" tanyaku

"Oh, setiap murid yang ikut program live in disini memang harus melapor dahulu" kata Ibu Tsunade. Aku mengangguk. Aku rasa tidak masalah. Di lingkungan perumahanku pun begitu. Setiap tamu yang akan menginap, wajib melapor.

Selesai makan , kami berempatpun keluar. Ternyata, Ibu Tsunade juga menjemput Naruto, Kimimaro dan Kiba dari rumahnya.

"Bu, buat apa menjemput mereka?" tanyaku tidak suka.

"Oh, Ayah asuh mereka, Choujuro merupakan wakil dari Mizukage. Dia salah satu orang kepercayaan Mizukage. Jadi, saya rasa, akan lebih baik jika dia yang mengantarkan kalian menghadap Mizukage" kata Ibu Tsunade. Hinata tampak biasa saja. Raut wajah Tenten melukiskan rasa tak ingin direpotkan , dan Aku sendiri? Hanya pasrah.

Naruto, Kimimaro , dan Kiba keluar bersama Ayah Asuhnya yang bernama Choujuro. Hidan dan Kakuzu datang pula ke rumah Pak Choujuro bersama seorang gadis

"Hey, kenalin , namanya Matsuri" kata Hidan memperkenalkan. Aku melihat wajah Matsuri. Dia tampak tidak nyaman dengan keberadaan aku, Hinata dan Tenten, dan malah bersikap lebih manis kepada Naruto , Kimimaro , dan Kiba. Huh, dasar perempuan genit.

Tak lama kemudian , Tayuya dan Yakumo datang.

"Hai semua. Yuk kita jalan" seru Tayuya.

"Sudah terkumpul semua? Kalau begitu, ayo kita jalan" ajak Pak Choujuro. Kami semuapun berjalan . Namun aku merasa aneh. Mendadak, teman jalan disebelahku berubah menjadi lebih tinggi lagi. Yang kuingat, tadi aku berjalan bersama Ibu Tsunade. Astaga, Naruto?

"Sakura, kau tahu kita mau ngapain gak?" tanya Naruto.

"Nggak tahu. Emang kamu gak tahu?" tanyaku berusaha memasang tampang biasa. Aku mencoba berjalan lebih cepat, namun Naruto berusaha menyamakan langkahnya denganku

"Jangan cepat-cepat dong jalannya!" kata Naruto. Suka-suka dong. Apa masalahnya dengannya? Tapi akhirnya aku berjalan lebih pelan tanpa menjawab perkataannya.

Akhirnya kami sampai juga di rumah Ibu Mei Terumi. Kami masuk. Rumahnya tampak gelap, tanpa lampu . Aku mencari spot yang enak untuk duduk. Di sana ada kursi kayu panjang. Akupun duduk bersama Hinata , Tenten , Tayuya dan Yakumo. Sedangkan para pria duduk bersama-sama di seberang kami, tepatnya duduk di lantai. Ibu Tsunade dan Matsuri tampak menunggu di luar.

"Jadi ,Choujuro, merekalah anak-anaknya?" tanya Ibu Mei Terumi

"Benar. Merekalah anak-anaknya" kata Pak Choujuro. Ibu Mei Terumi memberi isyarat agar Pak Choujuro keluar dari ruangan. Pak Choujuro pun menuruti. Ibu Mei Terumi pun mulai mengeluarkan suara

"Kalian tau, peraturan tinggal sementara di desa ini?" tanyanya. Kami semua menggeleng. Dia tersenyum "Yang pertama, jawablah pertanyaan seseorang yang bertanya padamu. Keluarkan suaramu". Peraturan itu sepertinya menyindir kami barusan. "Yang kedua adalah menerapkan sapa, salam dan senyum. Dan yang terakhir, jangan membuat keributan di malam hari. Saya tahu, gaya hidup di kota dan di desa berbeda. Tapi tetap saja, daerah ini milik kami. Jadi jangan membuat keributan disini. Mengerti?"

Aku melirik teman-teman disekitarku. Kami sepakat untuk menjawab "Mengerti , bu"

"Bagus. Saya tahu kelakuan orang kota. Dulu , saya mengambil S3 di perkotaan. Jurusan hukum dan ..." dia terus menambahkan. Dari yang tadinya memberitahukan kami aturan, malah menceritakan tentang dirinya yang pernah di panggil ke gedung putih dan sebagainya. Jujur, aku bosan sekali jika orang-orang membicarakan permasalahan politik padaku.

"Baiklah, saya harap kalian mengindahkan kata-kata saya. Kalian boleh pulang" katanya. Kami pun berjalan pulang setelah pamitan dengannya. Ibu Tsunade dan Pak Choujuro sudah pulang ternyata. Yang menunggui kami hanya Matsuri, gadis genit itu.

"Apa maksudnya dia ? S3 di kota, menghina-hina orang kota!" kata Tenten tak suka. Aku juga tak suka, tapi biarkan saja.

"Jalan-jalan yuk" ajak Tayuya. Kami pun setuju. Tapi ...

"Parah kau! Kimimaro sedang sakit, dia butuh ditemani olehmu, tuh!" ejek Kiba. Wajah Kimimaro memang pucat sedari tadi. Padahal tadi siang, dia biasa saja. Mungkin karena kebiasaannya yang suka merokok, sehingga antibodinya lemah. Tayuya mengernyitkan alisnya, lalu ...

"Yasudah , Kimimaro istirahat saja. Biar sisanya yang berjalan-jalan" kata Tayuya.

"Kenapa semuanya nggak pergi? Ayo aku tunjukkan tempat-tempat di daerah ini." kata Matsuri dengan wajah yang sepertinya lebih mengharapkan jika para wanita yang tidak ikut

"Kimimaro sakit. Masa mau disuruh pergi?" kata Tayuya

"Baiklah, kalian saja yang pergi. Biar aku dan Kiba yang mengurus Kimimaro. Lagipula, kita kan satu rumah?" Naruto mengeluarkan suaranya

"Kau tidak mau pergi?" tanya Kimimaro pelan

"Kalau aku pergi , siapa yang menjagamu?" kata Naruto. Naruto perhatian juga. Eits? Kenapa tiba-tiba aku memujinya? Ah, sudahlah. Memang dia punya beberapa kelebihan untuk dipuji.

"Kami pulang dulu ya" kata Naruto seraya menarik Kiba dan Kimimaro dari kami. Matsuri berjalan mendekati Hidan dan Kakuzu, seakan tidak ada perempuan lain selain dia yang ada disitu.

"Ayo, kita jalan" ajak Matsuri. Aku , Hinata , Tenten , Tayuya dan Yakumo berjalan di belakang

"Ih, perempuan genit!" kata Tenten berbisik

"Iya, aku kurang suka deh sama dia" kata Tayuya.

Sisanya hanya mengangguk setuju, termasuk aku. Kini pikiranku lain. Entah kenapa, aku malah ingin kalau Naruto dan teman-temannya ikut bersama kami. AH! Sakura! Apa yang kau pikirkan sih ? Lebih baik berjalan saja sana dengan teman-teman yang lain

END OF SAKURA POV


This is my second debut readers. Yang ini di ambil dari pengalaman teman Author. Happy reading ya :)

Maaf kalau ada kata-kata yang sulit dimengerti