Hai, this is my story, tapi karakternya bukan kepunyaan saya. Melainkan kepunyaannya Kishimoto-San
Warning : OOC super duper, Kata-kata yang mungkin sulit di cerna
SAKURA POV
Hari ini hari bebas. Namun, siang nanti , kami di haruskan berkumpul di gereja dan berpartisipasi dalam pembuatan tahu dan karak nasi. Apa kalian pernah merasakan makanan yang bernama karak nasi? Jujur, itu enak sekali. Aku sudah memakannya sejak sarapan ini.
Kami bangun pagi . Kami bertiga berencana untuk membantu Ibu Tsunade mengurus babinya. Kami pun pergi ke kandang Babi. Makanan babi terbuat dari sayuran yang membusuk. Kami akan memberi babi-babi itu makan
Setiba kami di kandang babi, Tenten mulai pucat dan memilih untuk mengolah makanan babi daripada berhadapan langsung dengan babinya. Aku pun mencoba memberinya makan. Begitu pula Hinata. Namun tiba-tiba
"OINKKKK!" babi itu berbunyi dan menyeruduk diriku dan Hinata dengan hidungnya. Makanan yang kami bawa tumpah semuanya. Selain itu, Hidungnya yang menyeruduk kami berlendir pula. Menjijikan.
"Hoeekkk" Tenten mulai mual. Aku dan Hinata sontak mengalihkan perhatian kami kepadanya
"Tenten kenapa?" tanya Hinata khawatir
"Aku gak kuat baunya. Aku ingin pergi!" kata Tenten. Aku dan Hinata yang sudah merasa kotor pun pergi mengikuti Tenten. Kurasa lebih baik kami mandi saja. Entahlah, mungkin ada cara lain untuk mengisi pagi ini sebelum kami ke gereja nanti.
Selagi ada waktu panjang, aku , Hinata dan Tenten menyempatkan waktu terlebih dahulu untuk mencuci baju setelah mencuci tangan yang terkena lendir babi. Jujur, aku tidak biasa mencuci baju, apalagi celana jeans. Celana jeans adalah cucian yang paling sulit untuk ku cuci
"Eh, airnya abis. Timba dulu dong!" perintah Hinata yang sedang menginjak-nginjak celana jeansnya supaya busanya hilang. Tak jelas siapa yang dia suruh , namun akhirnya , aku menimbanya. Kami menikmati cucian yang ada. Tiba-tiba
"Sakura, Hinata, Tenten!" panggil seseorang dari belakang . Aku melihat ke belakang dan mencari tahu keberadaan suara itu. Di belakang kami, ada sebuah peternakan babi yang dimiliki oleh pak Choujuro. Bau peternakan babi Pak Choujuro sama dengan bau peternakan babi milik Ibu Tsunade. Kupikir yang memanggil Naruto. Eits, bukan aku berharap. Tapi ... Ah sudahlah . Pokoknya, setelah ku cari sumber suara, yang memanggil kami adalah Hidan yang sedang bermain dengan Konohamaru dan Udon
"Eh, 2 anak kecil itu nakal sekali, ya?" kata Tenten. "Untung aku tidak punya adik seperti dia." lanjutnya
"Tapi, sepertinya, yang lebih nakal itu Konohamaru" kataku sembari mencuci jeans dengan mengikuti cara yang Hinata lakukan. Tenten pun akhirnya mengikutinya
"Eh, kalau celana jeans kita gak kering, gimana kita pakai buat outbond nanti?" tanya Hinata
"Emang besok? Kan masih hari sabtu. Pasti keringlah" kataku.
"Iya sih." kata Hinata
"Eh, ngomong-ngomong, tugas bersihin rumah, bagaimana nih pembagiannya?" tanya Tenten
"Oh, gimana kalau aku menyapu, Tenten mengepel, dan Sakura mengelap kaca?" usul Hinata
"Baiklah" ya, jujur saja. Aku tidak begitu ahli dalam mengepel. Dan kemarin sore, aku sudah menyapu. Namun debu di lantai tetap saja sulit untuk di bersihkan.
"Sebaiknya segera. Aku tau kalau debu di rumah ini sulit di bersihkan. Kalau tidak, kita tidak sempat mandi dan pergi ke tempat pembuatan tahu" kata Hinata. Kami mengangguk setuju
Di Gereja
Aku , Hinata dan Tenten pergi ke Gereja. Coba tebak, kami berangkat bersama dengan Tayuya, Yakumo , Hidan , Kakuzu, Naruto , Kiba dan Kimimaro. Ya, kebetulan saja tadi kami punya inisiatif untuk mengajak mereka berangkat ke Gereja bersama. Dan tibalah kami
Kami di bagi dalam 2 kelompok. Aku berpisah dengan Hinata dan Tenten. Tapi, aku bersama Ino dalam kelompok ini. Saat ini , kelompokku sedang memperhatikan proses pembuatan karak nasi
"Ayo, siapa yang mau mencoba?" tanya kakak pembina. Aku mencoba mengangkat tangan. Kakak pembina membiarkanku. Aku mencoba menumbuk numbuk karak nasinya
"Eh, Sakura, ngapain kau memakai topi?" tanya teman sekelompokku, Deidara secara tiba-tiba. Aku mendongak, dan membalasnya sembari menumbuk nasi.
"Gak apa apa. Hanya menghindari panas" salah besar teman-teman. Aku hanya ingin terlihat keren. Aku pun tidak tahu kenapa aku ingin sekali terlihat keren .
"Ah, dasar sok K-pop kau!" ejek Deidara. Sekarepmulah, yang penting aku memakainya bukan karena demam korea. Aku tidak memedulikannya. Aku memilih melanjutkan menumbuk nasi. Sedang Ino? Dia tertawa kecil
"Iya, bisa bergantian? Siapa yang mau mencoba?" tanya kakak pembina. Aku melepaskan alat tumbukannya dan memberi giliran kepada yang lainnya. Cukup pegal , tapi mengasikkan. Semoga karak nasinya bisa dimakan setelah jadi.
"Ngomong-ngomong, kalian tunggu ya. Sekitar hari Jumat, karak nasi ini baru bisa digoreng" kata kakak pembinanya. Yah! Pupus harapanku mencicipinya
Karena bosan , aku melihat ke kelompok lain. Di kelompok lain , aku melihat teman-temanku sedang mengolah susu kacang. Mereka memeras kacang kedelainya. Aku melihat Naruto sedang sibuk bercanda dengan teman-temannya ketimbang mengurus susu kacang kedelai ini.
Astaga, kenapa aku malah melihat Naruto?
"PARA PRIA, APA YANG KALIAN LAKUKAN? BUKANNYA MENGIKUTI KEGIATAN DENGAN BAIK, MALAH BERCANDA RIA!" tiba-tiba, suara terdengar begitu kencang. Aku begitu kaget mendengarnya. Semua yang sedang mengikuti kegiatan , menghentikan kegiatannya
"SEMUA MURID LELAKI , HARAP MENGIKUTI SAYA!" kata tiba-tiba. Memang sih, sedari tadi, kaum pria tidak melakukan apa-apa. Mereka malah sibuk bermain .
Semua murid lelaki mengikuti . pun memerintahkan mereka sesuatu. Sepertinya, mereka dipaksa untuk kerja bakti membersihkan jalanan. Buktinya, beberapa dari mereka memungut sampah, mengambil sapu dan pengki, dan sebagainya.
Ah, sudahlah. Daripada aku memperhatikan mereka, lebih baik aku memperhatikan pembuatan susu kacang. Sepertinya seru
"Susu kacang kedelainya bisa di bawa kok jika sudah jadi" aku mendengar kakak pembina mengatakan hal itu kepada teman-temanku di kelompok yang lain.
Wah, sepertinya asyik sekali . Ingin sekali aku membawanya. Seketika, lamunanku buyar. Hinata menghampiriku
"Sakura, jika susu kacangnya sudah jadi, kita berikan pada Ibu Tsunade yuk! Bagaimana?" tanya Hinata. Ide bagus.
"Boleh. Kita berarti ambil 4 nanti" kataku. Hinata mengangguk setuju. Asyik ! Susu Kacang
Jam 6 sore, Gereja
Letih sekali rasanya. Setelah menunggu proses pembuatan tahu dan susu kacang, kami di perbolehkan membawa susu kacang yang tersisa.
Hinata berusaha mengambilnya. Tapi , tiba-tiba, dia kembali dengan wajah kecewa
"Ah! Kesal!" rutuknya
"Kenapa , Hinata?" tanya Tenten
"Si Yugao maruk banget! Masak dia ngambil susu kacang kedelainya sampai 5 biji? Aku telat. Susu kacangnya sudah habis" kata Hinata kecewa
"Ya sudahlah, mau di apakan?" kataku . Jujur, sebenarnya aku juga merasa bersalah. Aku merasa sudah merepotkan Ibu Tsunade. Yang lebih kecewa lagi, harapanku pupus untuk mencoba rasa susu kacang yang terlihat enak itu
"Ya gak enak kan sama Ibu Tsunade?" kata Hinata. Tiba-tiba, seseorang datang padaku. Shizune. Teman sejemputanku menghampiriku
"Sakura, ini susu kacang, dari Sasuke" kata Shizune menyerahkan sambil tersenyum. Wah, kesempatan bagus. Mungkin ini bisa diberikan pada Ibu Tsunade. Soalku? Ah, sudahlah. Biar Ibu Tsunade dulu yang menikmati. Aku bisa melanjutkan program dietku
"Bilang padanya, 'terima kasih'. " kataku sambil tersenyum. Shizune meninggalkanku. Dasar Sasuke. Bukan aku tidak menghargainya, tapi aku benar- benar tidak ingin berpacaran lagi dengannya. Bisa gila aku diatur-atur. Selain itu ... Ah sudahlah, lupakan saja.
"Guys, gak usah khawatir. This is for Ibu Tsunade" kataku menghibur Hinata dan Tenten yang tersenyum seketika. Tiba-tiba, Tayuya dan Yakumo menghampiri kami
"Eh, mau pulang bareng gak? Yang lain udah nunggu" ajak Tayuya. Ternyata Naruto dan kawan-kawan juga akan pulang bersama kami. Ya, tidak masalah sih, lagipula tempat live in kita berdekatan. Selain itu, malam ini , di daerah kami akan diadakan syukuran
Kami pun berjalan bersama. Aku sedang membawa susu kacang itu.
"Wah, enak tuh. Bagi dong!" kata Kimimaro sambil berusaha menarik susu itu. Aku menarik balik
"Kimimaro! Sudahlah" kata Naruto. Kimimaro menyengir kearah Naruto yang menyuruhnya berhenti menggangguku. Baguslah.
Kami pun berjalan ke rumah kami masing-masing dan nanti akan berkumpul di rumah Ibu Tsunade
Rumah Ibu Tsunade
"Selamat malam semuanya" sapaku , Hinata dan Tenten. Rumah ini telah ramai. Sepertinya syukuran akan segera dimulai. Kami memberikan susu kacang kedelai pemberian Sasuke kepada Ibu Tsunade. Setelah itu, Kami bertiga pun memutuskan untuk mandi dan bersih-bersih
Selesai mandi, kami berkumpul untuk ikut syukuran. Tak lama setelah kami bertiga duduk, Tayuya, Yakumo , Kimimaro ,Kiba, Naruto, Hidan dan Kakuzu datang. Yang menyebalkannya, dia bersama Matsuri. Si gadis genit
Moodku rusak mendadak. Sepanjang acara, aku jadi tidak nafsu makan. Aku pikir hanyaku saja, ternyata para perempuan juga tidak bersemangat. Para lelaki juga bosan.
"Kimimaro, mau jalan-jalan gak?" tanya Tayuya berbisik supaya tidak membuat para tamu tersinggung.
"Boleh, bosen juga nih" kata Kimimaro setuju. Tayuya mengajak para perempuan, dan Kimimaro mengajak para lelaki. Tentunya sambil berbisik.
Kami pun berdiri disaat sesi makan malam. Tiba-tiba, Ibu Tsunade menegur kami
"Kalian mau kemana?" tanya Ibu Tsunade yang mengejutkan kami. Semua terdiam. Kami bingung, namun akhirnya aku mengeluarkan suara
"Gini bu, kemarin Kimimaro sakit. Dia mau istirahat katanya" kataku. Untungnya Ibu Tsunade tidak banyak bertanya. Kami pun akhirnya keluar rumah dan berjalan pergi keluar.
"Akhirnya bisa keluar juga!" kata Hidan senang.
"Iya, bosen banget gila di dalem" kata Naruto. Yang lain setuju
Kami berjalan berkeliling komplek. Mendadak Matsuri datang menghampiri kami.
"Hidan, Kakuzu, disuruh ibu pulang. Udah malam" kata Matsuri manja. Sekilas dia menatap sinis para perempuan yang ada disekitarnya. Dasar anak kecil. Belum tau dia siapa aku? Aku biasa saja melabraknya jika dia benar-benar mengajakku ribut
"Yaudah deh. Kita balik dulu ya!" kata Hidan dan Kakuzu. Mereka berlalu bersama Matsuri. Dasar gadis genit. Sudahlah, biarkan. Kini tinggal kami ber8.
Kami bertujuan untuk ke warung terlebih dahulu. Untuk membeli cemilan.
"Lebih baik kita membeli cemilan. Supaya kita bisa makan" kata Hinata kepadaku dan Tenten. Aku menuruti. Yakumo dan Tayuya tampak mengikuti kami membeli cemilan. Naruto , Kiba dan Kimimaro menunggu di depan warung. Tapi bisa kulihat,mereka sedang berbisik sambil tertawa. Entahlah apa yang mereka pikirkan. Setelah selesai membeli cemilan, kami pun melanjutkan perjalanan kami.
Angin malam begitu dingin. Kami berjalan cukup jauh dari komplek kami. Tiba-tiba, kami melewati sebuah kuburan.
"Aduh serem!" kata Tenten. Hinata terdiam. Aku tahu, Hinata bisa melihat hal-hal gaib. Melihat Hinata terdiam, aku jadi ikut terdiam.
"Tayuya, jika kau takut, berpeganglah padaku" kata Kimimaro.
"Nggak mau. Lebih baik aku berpegangan dengan Yakumo" kata Tayuya menarik lengan Yakumo, dan berlalu. Tenten juga sedang berpegangan dengan Hinata. Dia terlihat gemetaran. Sewaktu aku ingin menghampirinya
"Ingat ya, jangan ada yang jalan bertiga. Apalagi lewat kuburan" kata Kiba menakut-nakuti.
"Iya, bener tuh!" kata Naruto menambahkan. Aduh, aku tak mau mengambil resiko. Tetapi, masak aku jadi perempuan yang tertinggal? Masa bodo ,aku berjalan saja di sebelah Kimimaro yang baru saja ditinggal Tayuya. Di belakangku ada Naruto dan Kiba yang terus-terusan menakuti kami. Aku berusaha terlihat berani, meski sebenarnya aku tegang
"Sakura" panggil Kimimaro yang akhirnya membuka suara. Aku hanya balas menatapnya. Awas kalau dia menakut-nakutiku
"Sakura, lebih baik kau bertukar dengan Kiba saja. Naruto ingin berjalan bersamamu tau!" kata Kimimaro
"Sudahlah, jangan bercanda. Nggak lucu tau!" kataku.
"Aku serius Sakura. Sumpah demi apapun, Naruto ingin berjalan bersamamu" kata Kimimaro. Memang sih wajahnya tidak menunjukkan raut bercanda. Tapi, Kimimaro sendiri kan tukang bohong. Sebaiknya tidakku hiraukan.
Aku berjalan lebih cepat dari Kimimaro. Biar aku berjalan sendiri saja. Apa maksudnya coba?
"Sakura kok jalan sendiri?" Tanya Naruto tiba-tiba. Aku tidak memedulikannya
"Sakura, jalan denganku saja" tawar Naruto padaku. Aku tetap tidak memedulikannya. Aku mengingat perbincangan mereka bertiga sedari tadi . Sial! Apa mereka berusaha mengerjaiku? Dasar kurang kerjaan.
"Sudah ku bilang, tapi dia menolak" kata Kimimaro. Dasar lelaki kurang kerjaan
Mendadak aku mendengar suara isakan. Aku mulai merinding. Aku mencari asal suara.
"Tenten , kamu kenapa?" tanya Hinata penuh kekhawatiran
"Pulang yuk!. Aku takut!" kata Tenten. Dialah yang menangis. Airmatanya membasahi pipinya. Wajahnya pucat. Dia terlihat sangat ketakutan
"Liat tuh, ada yang lewat kayaknya" kata Kimimaro menjaili Tenten yang sedang ketakutan. Tayuya dan Yakumo tampak berpegangan tangan.
"ADUH UDAH DONG!" Tenten semakin menjerit. Hinata menenangkannya.
"Yaudah deh, mending kita pulang semuanya" ajak Tayuya. Aku setuju. Begitu pula yang lain.
"Iya, berhubung rumahku sama Tayuya tinggal lurus, kita duluan ya. Gak apa-apa kan?" tanya Yakumo
"Nggak apa-apa kok, kita bisa balik sendiri" kata Hinata
"Tayuya, gak mau aku antar?" tanya Kimimaro mengajak
"Nggak usah, makasih" kata Tayuya yang menarik Yakumo lalu berlari menuju rumah tinggal mereka. Kini tinggal kami berenam.
Jujur, aku daritadi memang merasa ketakutan. Timbul dalam pikiranku bahwa ini adalah karma karena kami telah membohongi orang-orang yang sedang syukuran.
"Sakura, mau ku antar pulang?" tanya Naruto yang tiba-tiba menghampiriku dan membuyarkan lamunanku.
"Ngga, ngga usah" tolakku halus
"Masa cuma Sakura? Yang lain?" kata Kiba mengejek.
"Tidak usah menggunakan kesempatan dalam kesempitan , Naruto" kata Kimimaro menambahkan
"Nggak kok, aku kan juga menawarkan yang lain" kata Naruto.
"Sudah , kalian pulanglah. Biar aku, Hinata dan Tenten pulang sendiri" kataku
"Beneran? Gak apa apa?" tanya Naruto penuh khawatir. Ya, mungkin tidak khawatir. Hanya pura-pura. Entahlah
"Gak apa-apa. Kita balik ya!" kataku. Naruto melambaikan tangannya padaku. Aku pun menarik Hinata dan Tenten pulang.
"Selamat malam , Sakura" kata Naruto sambil tersenyum. Aku hanya membalasnya dengan senyuman, dan melanjutkan perjalananku.
"Cie, di ajak pulang Naruto" ejek Hinata sembari tersenyum.
"Apaan sih? Dia sendiri bilang kan kalau dia mengajak kita!" kataku.
"Dasar tidak peka. Selalu saja menyangkal" kata Hinata
"Aku ingin pulang" kata Tenten tiba-tiba. Dengan nada lemas. Sontak , aku dan Hinata mengalihkan seluruh perhatian kami kepadanya
"Kenapa Tenten?" tanyaku
"Aku tidak tahan. Pertama Babi, sekarang Hantu! Aku tidak tahan" airmatanya keluar. Aku dan Hinata mengelus-ngelus punggungnya.
"Sudahlah, hanya 10 hari kok, Tenten" kataku menghiburnya
"Kau sih enak, Sakura. Pacaran disini bersama Naruto" kata Tenten yang tiba-tiba tertawa. Rese, apa maksudnya dia berkata seperti ini padaku?
"Enak saja. Aku tidak pacaran! Siapa juga yang mau bersama Naruto?" kataku. Entahlah, tapi entah mengapa. Malam ini, aku memikirkan Naruto lagi.
Aduh Sakura, jangan cuma gara-gara dia menawarkan dirimu ajakan pulang bersama kau jadi memikirkan dia. Dia pasti cuma main main
End of Sakura POV
This is my second debut readers. Yang ini di ambil dari pengalaman teman Author. Happy reading ya :)
Maaf kalau ada kata-kata yang sulit dimengerti
