Hai, this is my story, tapi karakternya bukan kepunyaan saya. Melainkan kepunyaannya Kishimoto-San

Warning : OOC super duper, Kata-kata yang mungkin sulit di cerna


SAKURA POV

Jam 5 Pagi

"BANGUN!" suara seseorang terdengar sangat menggelegar di kamar kami. Aduh, siapa sih yang mengganggu tidurku pagi-pagi?

"Hmmm?" aku mendengar suara Tenten.

"Bangun! Sebentar lagi kegiatan pagi kita akan dimulai" kata suara itu yang masih belum ku kenal

"Bukannya kata gak ada kegiatan ya pagi ini?" tanyaku

"Kata siapa? Yang lain sudah berkumpul di gereja. Kita kan mau panen di sawah" kata suara itu. Sial! Mr Kakashi membohongi kami.

Kami bertiga akhirnya terbangun. Ternyata itu suara Kakuzu. Dia datang kesini dan membangunkan kami? Ralat, ini salah yang membohongi kami kemarin saat kami bertanya sewaktu pembuatan susu kacang

Kami bertiga berlari ke kamar mandi untuk menggosok gigi. Tak ada waktu untuk mandi pagi. Lebih baik kita bertiga cepat

"Sakura , Hinata, Tenten" dari luar ada yang memanggil. Kalau suara itu, aku mengenalinya. Suara Tayuya. Kami bertiga berlari ke depan selesai menyikat gigi.

Ternyata bukan hanya kami yang telat. Tayuya , Yakumo, Kimimaro , Kiba dan Naruto juga. Mereka tampak masih mengantuk.

5 Menit lagi kami harus segera sampai. Dari jarak rumah kami ke gereja, sangat tidak mungkin jika kami dapat sampai ke gereja dalam waktu 5 menit

"Sudah , kita naik motor saja. Pinjam Ibu Tsunade" kata Hinata menyarankan. Aku mendatangi Ibu Tsunade untuk meminta izin. Dia menyerahkan kunci motornya.

"Begini saja. Yang lain berjalan , nanti di jalan kalian akan kami jemput secara bergantian" kataku. Yang lain setuju. Tenten mengendarai motornya dan memboncengku dan Hinata. Setelah men-drop kami, dia menjemput Tayuya dan Yakumo. Setelah itu, dia menjemput Kimimaro. Kimimaro mendropnya di gereja dan menjemput Naruto dan Kiba. Hidan Kakuzu? Ah lupakan saja. Mereka tidak bisa di ajak kerjasama

Pukul 7

Acara panen telah dimulai. Seperti kemarin , kami di bagi 2 kelompok. Kelompok satu akan memanen timun, sedangkan kelompok kedua akan memanen kacang panjang dan kembang kol

Aku berjalan bersama Ino. Dalam kelompok kami , kami diharuskan berpasangan. Aku berpasangan dengan Ino dan membawa karung untuk menampung kacang panjang yang kami panen

"Ingat. Kembang kol yang bagus berwarna putih. Yang sudah tua berwarna kuning. Lalu ambil kacang panjang yang ... (dan sebagainya) " kata Instruktornya. Aku menuruti. Aku dan Ino pun berjalan dan berpencar dari yang lainnya

Aku dan Ino memanen kacang panjang terlebih dahulu. Tempat disini sepi. Mungkin mereka memilih memanen kembang kol yang lebih dekat. Karena sepi , aku memulai pembicaraan

"Ino, kau pernah takut jatuh cinta pada seseorang tidak?" kataku

"Tidak pernah sih. Memang kenapa?" tanya Ino.

"Ah, tidak. Aku hanya bertanya" aduh, kenapa aku tiba-tiba bertanya seperti ini. Bisa-bisa Ino berfikir...

"Kenapa? Jangan-jangan, kamu takut suka sama Naruto ya?" kata Ino mengejek. Benar saja, pasti Ino berfikir seperti itu

"Apaan sih? Nggak kok!" aku lebih baik pergi sebelum wajahku memerah. Wajahku memerah? Aduh, aku bicara apa sih?

"Benar ya?" kata Ino mengejek. Aku tidak menghiraukannya.

"Tuhkan, malu-malu. Pasti bener" kata Ino mengejek

"Udah ah, masih banyak nih kacang panjangnya." kataku. Aku berjalan lebih cepat untuk menghindari Ino. Aku harap, Ino tidak menyadari kalau wajahku memerah.

"Udahlah gak usah malu malu gitu" kata Ino yang mengejarku

"Aduh ,gak mungkin banget deh. Kamu tau kan, aku sebel banget sama dia?" kataku menegaskan

"Ah jangan sebel sebel, nanti suka aja" kata Ino.

"Apaan sih?"

"Tuhkah, pipinya merah. Ih ada stroberi stroberi gitu deh" kata Ino. Hadeh! Lupakan

Selesai memanen, kami berkumpul untuk berfoto bersama . Aku bingung, tapi biarlah. Mungkin memang bagus untuk jadi kenang-kenangan.

Jam 9 Pagi

Tidak ada kegiatan yang bisa kami lakukan. Aku, Hinata dan Tenten mulai bosan

"Ibu Tsunade tau dimana letak Indomaret?" tanyaku

"Tau. Tapi dia ada di luar desa. Kalian harus naik motor, karena itu ada di jalan raya" kata Ibu Tsunade. Tidak apa, yang penting ada kegiatan yang bisa kami lakukan

Tenten mengendarai motor dan aku duduk di belakang. Sementara Hinata menaiki sepeda milik Ibu Tsunade. Kami berkendara sampai ke Indomaret.

"Hmmmm wanginya" kata Tenten. Sekarang aku tahu, kenapa orang yang tinggal di desa terpencil bisa heboh sekalinya datang ke kota. Saat ini, kami bertiga merasakan. Merasakan pergi ke minimarket kembali, setelah beberapa hari hanya bisa berbelanja di warung

Kami bertiga berinisiatif membeli nutrijel dan nata de coco. Kami berencana untuk berjualan guna menambah uang saku. Ya, terutama untuk membeli makanan untuk di makan jika masakan Ibu Tsunade kurang pas di lidah

Sepulang kami ke dari Indomaret, Hinata dan Tenten memasak agar-agar sedangkan aku memasak nasi goreng untuk sarapan bersama. Agar-agar yang dibuat Hinata dan Tenten diberi nata de coco di dalamnya

Ketika semua masakan selesai, aku , Hinata, Tenten dan Ibu Tsunade memakan nasi goreng buatanku. ASTAGA! Kenapa begitu memakannya , rasa nasi goreng itu ...

"Sakura, kok asin banget ya? Kamu kepingin kawin?" kata Ibu Tsunade mengejek. Ya ampun , garamnya kebanyakan.

"Aduh bu maaf. Saya kayaknya lupa takaran. Jadi kelewatan hehe"kataku menyengir

"Kalau kata orang jaman dulu, masak makanan keasinan, artinya pengen cepet-cepet nikah loh!" kata Ibu Tsunade mengejek.

"Ah, nikah sama siapa kali , bu? Pacar aja nggak punya" kataku

"Ya sama Naruto lah!" kata Tenten main nyambung aja.

"Apaan sih?" kataku. Astaga, kenapa hari ini semua orang seakan-akan mengejekku dengan si Naruto itu sih?

"Ih , apaan sih? Udah buruan. Sebentar lagi kita jualan" kataku

Jam 12 siang

Agar-agar sudah jadi. Aku, Hinata dan Tenten menjualnya secara berkeliling. Sesudah kerumah Tayuya-Yakumo dan Hidan-Kakuzu, kami akan berjualan di rumah Kimimaro-Kiba-Naruto.

"Mbak! Mbak!" Konohamaru dan Udon mengikuti kami dari belakang.

Kami bertiga terpaksa mengajak 2 bocah ini yang berasal dari rumah Hidan-Kakuzu untuk menawarkan barang jualan.

Kami tiba di rumah Kimimaro-Kiba-Naruto. Mereka sedang memasak. Aku memperhatikan Naruto yang sedang memotong sayuran. Laki-laki itu lucu juga jika sedang memasak

Sial! Apa yang kupikirkan!

"Jualan apa, Sakura?" tanya Naruto tiba-tiba. Haduh, kenapa aku jadi salah tingkah gini?

"Ehm. Agar-agar. Beli dong" kataku. Hinata dan Tenten juga merayu mereka semua untuk membeli. Senangnya, akhirnya mereka membeli.

Kami bertiga keluar. Yang benar saja, Konohamaru dan Udon mengikuti kami. Bayangkan saja, Konohamaru dengan frontalnya meminta kami membelikan dia minum dan permen. Aku pun membelikannya permen. Milkita lolipop rasa melon.

Hinata menuntun Udon yang hanya terdiam saja. Sedangkan Tenten dan aku bersama Konohamaru yang nakal. Saat kami berjalan, Konohamaru mulai bertingkah kurang ajar. Sebenarnya wajar sih kalau anak kecil mau memelukku. Tapi, dia sama sekali bukan adikku dan bayangkan! Dia mau menciumku. Refleks aku mendorongnya. Ups , permennya jatoh

"Ah, kakak! Ganti dong!" kata Konohamaru sambil memanyunkan bibirnya

"Eh, anak gak tau diri! Udah bagus dibeliin main nyalah-nyalahin orang lagi! Beli sendiri! Gak usah sok imut,deh!" kata Tenten yang sepertinya sudah kesal, jadi tidak tahu kalau dia sedang berargumen dengan anak kecil. Dan pastinya,hasilnya sia-sia. Tenten meninggalkan Konohamaru bersamaku. Konohamaru memandang Tenten kesal. Aku yang sedari tadi cuek berjalan saja. Tak disangka, Konohamaru menyamakan langkahnya denganku

"Kak, kakak yang tadi itu jahat ya?" tanya Konohamaru padaku. Aku hanya terdiam, tidak mau berurusan dengan adiknya si Matsuri yang ganjen itu. Namun tidak dengan Tenten yang tampak mendengar. Dia berbalik badan, dan mulai bertolak pinggang

"Iya, kenapa kalau aku jahat?" kata Tenten yang mulai meninggikan nadanya

"Dasar kamu anak setan! Kamseupay, ewww!" kata Konohamaru mengejek. Dia langsung berlari mengejar Tenten. Tenten pun ikut berlari. Aku yang sedari tadi diam, akhirnya mulai menahan Konohamaru dari kelakuan nakalnya

"Hinata! Tolong aku dong!" kataku berteriak. Sial, dia cuek-cuek aja . Dia malah mengobrol dengan Udon seperti anak dan bunda! Haduh , aku kelabakan ngurusin anak nakal seperti Konohamaru!

"Jangan berani menyentuhku! Awas kau!" kata Tenten menatap tajam ke arah Konohamaru yang sedang ku tahan . Untung sudah dekat rumah Ibu Tsunade.

"Hinata, ada es pong-pong!" kata Tenten bersemangat. Bayangkan, es krim kecil seperti itu bisa membuat Hinata pergi meninggalkan Udon. Sial, masak aku mengurusi 2 anak sekaligus? Aku lebih baik pergi dan masuk ke dalam rumah.

Aku menutup pintu. Tiba-tiba ada yang membuka pintu. Konohamaru? Mau apa dia?

"Hai , kak!" kata Konohamaru. Dia berlari dan masuk ke kamar kami bertiga . Aku berlari

"Konohamaru, jangan tidur di situ ya!" kataku. Konohamaru akhirnya berjalan menuju dapur. Aku menyusulnya. Dan aku di buat shock olehnya. Nata de coco yang kami tinggalkan di atas meja, di makan olehnya. Sendok bekas makannya pun hanya di taruh di mangkok nata de coco. Astaga! Hinata dan Tenten benar benar!

"Dah Kakak!" kata Konohamaru. Dia berlari menuju pintu keluar. Anak itu, apa benar-benar tidak pernah di ajarkan sopan santun oleh orang tuanya ?

Aku duduk di sofa ruang tamu. Tak lama kemudian, Hinata dan Tenten masuk ke dalam rumah sambil tertawa

"Tidak usah tertawa kalian, aku punya berita buruk" kataku sambil manyun

"Jangan ngambek gitu dong, Sakura! Maaf ya meninggalkanmu dengan anak-anak nakal" kata Tenten

"Aku tidak masalah. Tapi kau bermasalah dengannya Tenten. Dia tiduran di ranjang kita dan memakan nata de coco kita" aku melihat wajah pucat Hinata dan Tenten.

"Buang ! Buang nata de coconya! Nanti kena virus sama jigong dia , ih!" kata Tenten jijik

"Ehm, jangan lupa nanti kita bersihin ranjang kita" kata Hinata

"Makannya jangan makan es krim doang. Rugi tau gak sih nata de coconya!" kataku

"Yaudah, siap-siap deh. Nanti jam 2 kita harus kumpul lagi di gereja" kata Hinata. Kami mengangguk

Kami bersiap - siap. Kami tidak perlu mengganti baju karena memang kami boleh memakai baju rumah. Tiba-tiba, Ibu Tsunade datang ke kamar kami ketika kami sedang membersihkan ranjang yang habis ditiduri Konohamaru. Sepertinya , dia baru pulang berbelanja.

"Hei, kalian makan dulu nih sebelum pergi. Ibu bawa makanan. Ada gulai kambing" kata Ibu Tsunade. Kami mengangguk. Ibu Tsunade pergi ke dapur. Kami bertiga masih membereskan kamar.

"Aku gak suka santan nih" kata Hinata

"Aku juga gak suka makanan disini. Gak enak" kata Tenten. Mereka berdua menatapku seolah-olah aku harapan mereka satu-satunya dalam menghabiskan makanan

"Guys, aku kan vegetarian. Lupa?" kataku

"Udah ,tamat kita!" kata Hinata.

"Udahlah, makan aja" kataku. Begitu kami berberes, kami membuka tudung saji. Ternyata tidak hanya ada gulai. Ada telor dadar dan INDOMIE! MAKANAN SEJUTA UMAT

"YES! ADA INDOMIE!" kataku. Tenten dan Hinata juga tampak senang. Kami mengambil nasi. Guess what? Aku sebagai si pecinta Indomie mengambil Indomie paling banyak. Tenten juga. Lalu kemudian Hinata.

"Ibu bikin berapa porsi , bu?" aku menanyakan berapa porsi indomienya dibuat

"Ibu sih buat 5" katanya sembari menjawab dari dapur. 5 porsi dan semua habis oleh kami bertiga? Oke, ini gila. Tapi kami lebih baik makan Indomie daripada makan gulai kambing.

Kami makan di ruang keluarga. Di ruang keluarga, ruangan agak tertutup. Kami bebas berbicara. Just so you know, terkadang kita menggunakan bahasa inggris jika ingin komplain terhadap sesuatu.

"Sakura, this egg taste plain" kata Hinata yang juga mengambil telur dadar di meja. Hanya Tenten yang tidak. Dia tampak puas dengan Indomie

"No. Punyaku ada rasa kok" kataku. Iya, aku sudah mencicipinya dan asin.

"Masak sih? Coba aku rasain" kata Hinata . Hinata mencoba telurku dan aku mencoba telurnya dan anehnya, rasanya ...

"Iya, hambar ya" kataku

"ASIN!" kata Hinata teriak kecil. "Kok bisa sih , 1 telur beda-beda rasanya?" kata Hinata protes. Aku hanya menggelengkan kepala dan memakan kembali

Jam 2 .

Kami di pecah 2 kelompok kembali. Kelompokku ke pabrik baju, dan kelompok yang lain mengunjungi pabrik tanah liat.

Ah! Kenapa bukan aku saja yang pergi ke tempat tanah liat? Aku kan sudah lama tidak membuat tembikar. Ya sudah, aku berjalan-jalan saja dengan Ino sementara yang lain dengan takjub memperhatikan pembuatan kaos. Jujur, aku sudah bosan karena ayahku juga bekerja di bidang itu. Dan Ino sepertinya juga tidak tertarik dengan kaos-kaos yang dibuat.

Yang pasti, pabrik itu menjelaskan proses penyablonan dan proses penjaitan saja.

Sepulangnya kami dari pabrik kaos, kami dikumpulkan dengan kelompok satu di gereja. Aku duduk bersama Ino dan menunggu teman-teman yang lain.

"Sakura, kemarin Sasuke menanyakanmu" kata Ino

"Nanyain apaan? Kapan?" tanyaku

"Kemarin ada syukuran di rumahku. Sasuke dan orang tua angkatnya datang. Lalu dia menanyakanmu"

"Apa yang ingin dia ketahui?" tanyaku ketus

"Dia ingin tahu apa kamu masih mencintainya dan dia juga menyuruhku membantunya mempersatukan kalian kembali" kata Ino.

"Lalu , kau jawab apa?" tanyaku

"Aku hanya diam saja. Lagipula, sepertinya aku sudah menemukan jawaban tentang perasaanmu pada Sasuke" kata Ino penuh curiga

"Iya. Tenang saja. Aku tidak ada rasa apapun pada Sasuke" kataku menegaskan

"Iya, memang kau sudah melupakan Sasuke. Lalu, pindah deh ke Naruto" kata Ino dengan wajah curiga

"Sekarepmulah!" kataku . Huh, aku mulai menirukan gaya bicara Konan, teman serumah Ino

Tak lama kemudian, Konan datang bersama dengan Hinata. Dia duduk di belakang kami. Konan dan Ino saling bertatapan

"Apa kamu liat-liat?" kata Konan

"Kamu lah! Sudah membangunkan orang jam 4 pagi!" kata Ino

"Eits, ada apaan ini?" tanya Hinata

"Iya, dia membangunkan aku dan memarahiku . Dia bilang sudah jam 6. Di tengah hawa dingin, aku mandi. Dan saat keluar, ternyata masih jam 4" cerita Ino. Konan hanya menyengir

"Daripada kau kemarin ? Menyanyi lagu Jay Park, kemudian kentut sembarangan" kata Konan tertawa. Ino bengong sebelum akhirnya tertawa cekikikan. Tiba-tiba, Hinata menyentuh pundakku

"Kenapa?" tanyaku

"Sasuke bertanya, apa pendapatmu mengenai ini?" tanya Hinata. Dari kameranya, dia menunjukkan gambar Sasuke yang membuat tanah liat berbentuk hati, dan terukir inisial S.

"Buat dirinya?" tanyaku. Aku tahu sih maksudnya buatku. Tapi , aku tidak mau menggubrisnya

"Serius, dia bertanya" kata Hinata

"Bilang padanya, no comment" kataku. Aku menengok ke depan. Sepertinya Sasuke mendengarku. Terserah, sebodo teing deh.

Jam 7 malam

Sepulang kami dari gereja setelah kunjungan , kami pulang ke rumah. Setelah itu, kami bermain di pos dekat rumah. Kami (Aku, Hinata, Ino , Tayuya, Yakumo, Kiba, Naruto dan Kimimaro. Hidan dan Kakuzu pergi bersama gadis genit itu, entah kemana) duduk sambil mengobrol

"Sakura, tau tidak , tadi Naruto membuatkan tanah liat berinisial S loh untuk mu" kata Kimimaro mengejek. Halah, memang yang punya inisial nama S cuma aku? Pacarnya dia yang bernama Shion juga punya kok.

"Iya, tapi bukan buatku. Aku sedang tidak mood untuk bercanda seperti itu" kataku. Kimimaro yang telah ku jutekki kini berbalik mendekati Tayuya

"Tayuya, kenapa dari tadi kau cemberut?" tanya Kimimaro sok perhatian

"Apa sih ? Ngga" balasnya jutek. Aku hanya bengong melihat kelakuan Kimimaro yang mendadak jadi perhatian gitu. Padahal, setauku dia itu slengean

"Hoy neng , jangan galau" Seseorang menyadarkan lamunanku. Naruto.

"Siapa yang galau?" kataku

"Tuh bengong. Mikirin aku ya?" kata Naruto pede. Ew

Tiba-tiba, ada yang mendatangi kami. Dia mendorong gerobak dan memberhentikkan gerobaknya di tempat kami.

"Mas, Mba, di beli bakminya" WAH BAKMI! MAKANAN FAVORIT!

"1 nya berapa?" tanyaku

"4000 rupiah aja" murah sekali. Di kota tidak semurah ini. Paling murah juga 7000 rupiah

"Beli deh mas" kataku. Semua ternyata juga membelinya. Sepertinya mereka juga tergiur dengan bakmi murah itu. Rasanya pun pas di lidah. Aku mulai menyukai tempat ini

Kami semua selesai makan. Kalian tahu, aku membeli bakmi ini dengan gratis. Karena apa? Mendadak si Kimimaro mentraktir kami.

"Tayuya, karena sudah di traktir, kamu mau ya aku antar pulang" kata Kimimaro. Dasar tidak tulus! Melakukan kebaikan karena ada maunya

"Ah, ngapain? Gak usah lah" kata Tayuya. Kami semua tertawa melihatnya

"Ehm, Sakura" kata seseorang mendeham memanggilku. Naruto

"Apa?" tanyaku cuek

"Mau ku antar pulang?" tanya Naruto

"Tidak usah. Rumahku tinggal lurus. Kalian pulang berenam saja" kataku.

"Yakin nggak mau?" tanya Naruto. Aku menangguk saja. Lalu aku mengajak Hinata dan Tenten pulang

Jam 10 malam

"ASTAGA ! AKU BARU MERASA BETAH DI TEMPAT INI HARI INI! INDOMIE , BAKMI!" Tenten kegirangan. Aku dan Hinata hanya tertawa

"Iya sih . Bakmi di sini murah, enak lagi" kata Hinata

"Iya. Semua makanan disini murah. Otak-otak cuma 2000" kataku

"Besok kita bangun pagi gak sih?" tanya Hinata

"Iya, sepertinya kita bangun pagi. Sudah yuk mari tidur" ajakku. Kami semua berbaring dan mematikan lampu. Entah kenapa, hari ini aku memikirkan Naruto terus. Huh. Salah gak sih mikirin orang yang udah punya pacar ?

End Of Sakura POV


Maaf ya atas ketidak jelasannya

Jeolu-lexa : ngga kok . aku gak jawa asli . cuma karena temen ku orang jawa medok dan kebetulan lokasi live in di jawa aja.