Hai, this is my story, tapi karakternya bukan kepunyaan saya. Melainkan kepunyaannya Kishimoto-San
Warning : OOC super duper, Kata-kata yang mungkin sulit di cerna
SAKURA POV
Jam 5 sore
Hari ini adalah hari sabtu. Kita bisa menyebutnya sebagai malam minggu. Setelah semuanya melakukan outbond, kami semua akan bersiap siap mempersiapkan acara gereja berikutnya.
"Naruto, lihat! Kurang ajar Sasuke! Masak dia memeluk pinggang Tayuya tadi" celoteh Kimimaro.
Ya, outbond tadi adalah kami bisa mengangkat ember dengan kaki (yang pastinya di lakukan oleh seluruh anggota kelompok) dan menaruh airnya di baskom yang ada di bawah.
Banyak yang terkena siraman air dan basahan lainnya. Terutama Yugao. Kuharap itu hukuman untuknya yang rakus dengan susu kacang kedelai kemarin. Untung saja aku tidak. Bajuku terlalu tipis. Berbahaya.
Setelah itu kita melangsungkan estafet yaitu memindahkan bola dengan bambu. Lalu kami melangsungkan outbond dengan mengangkat ban dengan kaki sambil berpelukan. Sepertinya , disitulah Sasuke dan Tayuya saling merangkul
"Oh, cemburu? Hati-hati, Sakura nanti juga cemburu" kata Naruto. Sial! Dia mengejekku.
"Siapa yang akan cemburu? Ngarep bingits" kataku.
"Maaf Sakura. Aku hanya bercanda" kata Naruto sambil tersenyum. Aku memalingkan muka. Entahlah, wajahku terasa panas.
Aku menghampiri Ino, Yakumo , Konan, Hinata dan Tenten. Mereka ber5 sedang berdiri sambil melihat ke arah anak-anak gereja yang sedang memakan sebuah daging yang ditempati di daun pisang yang amat panjang.
"Sakura, kamu tidak makan?" tanya Pak Kakashi
"Tidak. Aku tidak suka daging, pak" jawabku
"Tapi itu daging anjing. Enak loh!" katanya. Anjing? Hueks.
"Gak , pak. Itu predator saya" asal kalian tahu, aku tidak suka anjing. Lebih tepatnya, aku punya phobia tersendiri terhadap anjing.
"Yang lain sendiri tidak makan?" tanya si itu. Aku melihat mereka ber5 . Ino tampak memandang si Kakashi itu dengan tampang sarkastik, sedangkan yang lainnya merasa jijik.
"Kasian , pak. Saya suka anjing" kata Ino.
"Dagingnya berarti suka dong?" tanyanya
"Saya gak tega makannya. Bukan masalah gak enak" kata Ino.
"Yasudah, saya tinggal dulu ya! Saya mau makan!" kata sambil berlalu.
"Gila, udah cukup aku ketemu makanan yang aneh-aneh di Kirigakure. Udah dikasih makan ayam yang masih ada bulunya, gulai kambing yang cuma ada tulangnya. Sekarang daging anjing. Besok apa? Kecoak goreng?" kata Tenten kesal
"Tenten, jangan sebut-sebut kecoak. Itu menjijikan" kata Ino yang membenci kecoak
"Fix. Aku tidak akan memakannya" kata Hinata
"Kelihatannya sih enak. Tapi ... aduh. Ora ngarti aku" kata Konan sambil geleng-geleng kepala
"Makan ya makan aje! Gak usah ribet" kata Ino pada Konan
"Ino! Mau di timpuk pake sepatu, hah?" kata Konan sambil menunjuk sendalnya
"Sendal aja sok sok sepatu. Sok elit kau!" kata Ino membalas dengan santai, tanpa wajah kesal
"Eh. Mahal! 35ribu" kata Konan sambil menunjuk sendalnya.
Entahlah. Aku tidak bisa membayangkan kehidupan mereka dirumah masing-masing. Lebih baik aku menunggu. Sampai selesai makan. Sampai nanti Ibadah. Sampai nanti kumpul-kumpul malam
Jam 8 Malam
Kami semua berkumpul di halaman belakang gereja. Ada yang foto-foto. Ada yang bermain musik. Ada yang bakar jagung. Ada yang main bola. Aku sendiri? Tentu saja bakar jagung. Lebih baik mengurusi makanan. Apalagi tadi aku belum sempat makan, lantaran tidak bisa memakan daging predator itu.
Aku melihat ke arah Naruto yang sedang memainkan gitarnya bersama teman-temannya. Memang sih, dia itu slengean. Tapi setiap aku melihatnya bermain gitar, dia tampak berbeda. Seperti bukan Naruto yang aku kenal
Menangkap gambar Naruto sedang bermain gitar seperti menemukan objek yang indah.
Aduh! Aku ngomong apa sih? Kenapa jadi memujinya seperti itu. Iyasih, aku sering menemukan diriku sendiri melamuni dia. Aku sering senyum sendiri ketika dia menjailiku. Hanya akhir akhir ini, tidak selalu, karena setiap dia menjailiku di sekolah, aku akan membalasnya dengan makian.
Tapi, Naruto sudah punya pacar. Tidak mungkin aku mengingininya. Tidak mungkin
Ah! Bicara apa sih aku? Apa mungkin karena setiap dia bermain gitar, dia terlihat begitu tenang. Sama seperti ketika Sasori bermain bass
Sasori? Ah, kau tidak tahu? Dia cinta pertamaku. Orang yang mengenaliku pada dunia musik, saat aku sedang biasa-biasa saja dengan alat musik. Dia yang mendorongku untuk belajar gitar
Dia selalu bersikap tenang ketika sedang memainkan alat musik.
Hanya saja, aku harus mengubur perasaanku karena Sasori dan aku akan berpisah. Aku pindah ke Konohagakure dan dia tetap di Sunagakure.
"Oi, ngelamun aja. Ngeliatin Naruto,ya?" ejek Hinata dan Temari. Kurang ajar!
"Siapa yang ngeliatin?"
"Tuh, liat aja. Lagi ngeliatin Naruto kan? Ih mukanya merah" kata Hinata. Asem banget dia!
"Serah lu! Bye!" kataku lalu memalingkan muka. Aku melihat Karin sedang menggaruk matanya.
"Kenapa Karin?" tanyaku. Mereka menengok ke arah Karin
"Ngga tahu. Dia bersikap aneh. Apa karena dia dijauhi teman-temannya?" kata Temari
"Memang, siapa yang menjauhinya?" tanyaku
"Katanya, semua anak perempuan menganggapnya aneh." kata Hinata. Aku berfikir sejenak. Memang sih, dia lebih dekat pada aku, Hinata, Temari, Ino dan Tenten yang tidak sekelas dengannya. Tapi aku benar-benar tidak tahu kalau dia tidak memiliki teman.
"Sakura" Shizune menghampiriku. Aku menengok ke arahnya
"Ini, dari Sasuke" Shizune memberikanku teh manis.
"Bilang padanya, aku tidak suka teh manis" kataku. Aku memang suka manis. Tidak suka sekali, hanya bisa mengkonsumsi manisan tertentu. Paling coklat. Itu saja. Tapi kalau teh? Aku tidak suka manis. Rasanya jadi lebih pekat
"Ayolah, terima" kata Shizune. Hinata dan Temari memandangiku
"Kalau aku terima, aku tetap tidak bisa meminumnya" kataku
"Gak apa, terima aja" kata Shizune . Aku mengambilnya , dan hanya memegangnya.
"Ngapain si Sasuke?" tanya Hinata
"Gak tau. Gak jelas. Aku tidak suka teh manis. Salah dia , tidak mau bertanya kalau aku suka teh manis atau tidak. Dasar tukang tuntut! Udah putus aja maksa. Gimana kalau masih jadian?" kataku sebal
Kalau mengingat waktu aku jadian dengan Sasuke, dia lebih banyak meminta. Memintaku balas smsnya setiap menit dan akan menelponku jika aku tidak membalasnya. Astaga! Aku butuh space
Aku punya ide. Karin kan sedang menangis, aku kasih saja teh manisnya. Aku tahu, dia suka hal yang manis-manis. Sangat wanita. Aku pun bangkit dan meninggalkan Hinata dan Temari.
Aku menghampiri Karin dan duduk di sebelahnya. Dia menengok
"Kamu kenapa?" tanyaku. Dia menggeleng
"Dont worry be happy. Nih teh manis. Buat kamu. Udah, enjoy aja malam ini" kataku. Dia mengangguk dan tersenyum
"Terima kasih, Sakura." katanya. Dia meminum tehnya sambil memakan jagung bakar yang dari tadi belum dia makan.
Aku melihat ke sekeliling. Ada anak-anak yang bercanda, ada yang gelisah, ada yang bertengkar, ada yang terdiam dan seperti ingin pulang. Aku juga. Aku ingin pulang.
Jam 10 malam
Haduh akhirnya kita bisa istirahat . Aku , Hinata dan Tenten sedang uring-uringan di kasur
"Eh. Tadi Sasuke kesel tuh" kata Tenten
"Kesel kenapa lagi sih?" kataku kesal
"Tadi, dia bilang kamu ga pengertian. Masak teh manis buat kamu malah di kasih Karin?" tanya Tenten
"Ye, yang gak pengertian siapa? Siapa suruh ngasih minum gak nanya-nanya dulu orangnya suka apa nggak. Aku kan gak suka. Kalo cuma barang jelek di kasih ke aku sih gak apa-apa. Tapi ini kan masalah perut" kataku kesal. Jadian atau nggak jadian, sama-sama gak perhatian.
Tiba-tiba Ibu Tsunade memanggil
"Sakura, Hinata, Tenten, ada teman kalian tuh" kata Ibu Tsunade. Astaga, pasti mereka mau ngajak jurit malam lagi. Aku yang keluar pertama, tapi begitu kulihat orangnya , aku langsung kabur ke dapur
Aku mencari gelas kosong di dapur, lalu pergi menuju ke kamar
"Eh, ada aqua gak?" tanyaku
"Buat apaan? " tanya Hinata
"Itu, si Mr. Kakashi datang tiba-tiba" kataku
"Apa? Aduh ngapain dia datang malam-malam?" kata Tenten sambil panik. Hinata? Asal kalian tahu saja, dia masih mager(malas gerak) sambil mijitin kaki.
"Udah, ayo kedepan" kataku memaksa. Tenten mengangguk.
"Emang kenapa sih?" tanya Hinata
"Itu, ada Mr Kakashi" kata Tenten
"OOOOO" kata Hinata . Dia akhirnya mengikuti kami keluar. Di ruang tamu sudah ada Ibu Tsunade dan
"Hai, kalian membantu Ibu Tsunade menyapu tidak?" tanya Mr. Kakashi. Sial! Asal kalian tahu saja, tidak ada seorangpun dari kami yang mau menyapu lagi sejak hari kedua. Lantaran lantainya tidak bisa licin alias debunya tidak mau ilang.
Kami hanya menjawabnya dengan cengiran
"Dasar pemalas. Oh iya, kalian harus berfoto dulu" kata Mr Kakashi mengeluarkan kamera lalu memfoto kami bertiga beserta Ibu Tsunade.
"Baiklah. Saya permisi dulu ya" kata Mr Kakashi.
"Oh iya,pak. Selamat malam" kata Ibu Tsunade.
"Bye Bye Pak!" kataku berseru. Mr Kakashi pun akhirnya keluar dari rumah di temani Ibu Tsunade.
"Eh, mau jalan-jalan gak?" tanya Hinata
"Ayo! Aku mau nyari mie 3000 nih." kata Tenten
"Ayo Ayo! Kalo mie sih semangat ya" kataku. Oh Mie! Makanan favorit
Kami bertiga kembali ke kamar untuk mengambil uang dan segera pergi keluar. Ibu Tsunade sudah ada di ruang tamu, tanda MrKakashi sudah pulang.
"Bu, kita ke rumah Pak Choujuro dulu ya!" kataku.
"Iya,jangan lama-lama ya! Sudah mau jam 11 nih" kata Ibu Tsunade. Kami mengangguk lalu pergi berlalu
Kami berjalan menuju rumah Pak Choujuro. Tempat dimana biasanya anak-anak akan berkumpul. Disana kami mendapati Tayuya, Yakumo, Kiba dan Kimimaro. Entah, Naruto tidak ada
Sial! Naruto lagi Naruto lagi
"Hei, sini kalian!" seru Kimimaro. Aku bisa melihat isyarat jangan brisik yang di kemukakan oleh Tayuya. Kami bertiga segera kesana
"Ayo , masuk ! Buruan!" kata Kimimaro. Aku bisa melihat wajah pucat Kimimaro dan Kiba. Akhirnya kami bertiga serta Tayuya dan Yakumo masuk. Kami berdua menempati Sofa.
Kimimaro dan Kiba sudah siap untuk bercerita, namun tiba-tiba di kagetkan oleh suara orang yang tiba-tiba masuk
"AAAAA!" Triak Kimimaro, Kiba, Tenten dan Tayuya berteriak. Yakumo dan Hinata diam saja. Aku? Harusnya sih berteriak. Tapi ... entahlah
"Apaan sih? WA! WAAA! Treak-treak aja" kata Naruto yang sedang berdiri di depan pintu sambil memeragakan bagaimana mereka tadi berteriak
"Gile lu ye! Aduh! Buruan masuk. Ada hal penting nih" kata Kimimaro. Naruto mengambil tempat di depanku. Dia sepertinya baru pulang dari gereja. Bajunya masih sama. Ya, dia tadi main musik di gereja
"Oke. Mulai ya! Jadi gini. Tadi aku baru saja pulang bersama Kiba. Kita nemuin buku gitu. Ada gambar cowo berambut Putih belah tengah, ada cowo yang punya taring, sama cowo rambut kuning yang punya kumis kucing gitu. Tadinya aku pengen nanya sama Pak Choujuro , itu buku siapa. Tapi pas kita mau nunjukkin, bukunya ilang" kata Kimimaro sambil merinding
"Apa ini gara-gara kita nebang pohon pisang ya?" kata Naruto.
"Gila! Bisa mirip gitu sama kita. Gak boong!" kata Kiba sambil ketakutan
"Emang kalian nebang pohon?" tanya Yakumo
"Iya. Abis udah tua gitu kayaknya. Sebenarnya sih gak sengaja" kata Naruto
"Lagian, bodoh banget sih" kata Tayuya sambil tertawa.
"Udah nggak usah takut. Sakura, kamu juga jangan takut ya! Nanti pulang aku anterin" kata Naruto sambil menepuk-nepuk dadanya. Dasar sok keren. Tapi kata-kata itu , entah kenapa. Bikin aku senang
"Apa sih, Sakura Sakura melulu. Sakura aja yang di pikirin" kata Kimimaro
"Nggak lah. Yang lain juga dianter pulang. Daripada kau? Mau nganterin Tayuya saja ketakutan" kata Naruto mengejek.
"Udahlah, nanti kita pulang sendiri" kata Tayuya.
"Eh, ini udah malam, mau balik gak?" tanya Tenten. Dia sepertinya ketakutan. Dialah yang paling sering ketakutan kalau mendengar cerita horror seperti itu.
"Yaudah , kita balik deh" kata Hinata. Tentu saja aku ikut balik jika mereka balik
"Kita juga deh. Yuk, Tayuya!" ajak Yakumo.
Yakumo dan Tayuya berjalan duluan. Tenten menempel pada Hinata. Sedang aku di belakangnya
"Sakura" panggil Naruto
"Hm?" tengokku padanya. Dia melambaikan tangannya padaku
"Hati - hati ya! Selamat malam" katanya . Aku tersenyum . Hanya ini yang bisa ku balas. Entah, makin hari makin ada yang tidak beres dengan perasaanku. Aku lebih baik pergi, dan berharap ini tidak terlalu berlarut-larut
Bagaimanapun, biji semangka yang hitam, tak berguna dan hanya dapat di buang saja bisa menghasilkan buah semangka yang segar. Tentu saja rasa kesal yang pahit bisa timbul menjadi sesuatu yang manis. Ya, kalian tahu lah
End of Sakura POV
Spinoff
Jam 2 Pagi
Naruto, Kimimaro dan Kiba sedang tidur. Kimimaro yang masih belum bisa berhenti membayangkan kejadian itu, tidak bisa tidur. Saat dia mengadap ke atas atap yang tingkapnya terbuka, tiba-tiba dia melihat seseorang memperhatikannya.
"Aiss, Naruto, Kiba. Bangun dong! Aduh!" kata Kimimaro ketakutan
"Iya Kimimaro. Aku melihatnya" kata Naruto sambil memeramkan matanya. Ternyata dia juga tidak tertidur. Dia hanya terpaksa memeramkan matanya
"Aduh, gue takut banget nih" kata Kimimaro. Dia melihat Kiba yang sudah tertidur pulas
"Udah, merem aja kayak gue" kata Naruto. Kimimaro mengangguk , lalu dia tidur tengkurap. Tiba-tiba, ada suara diatas tingkap. Ketika Kimimaro melihatnya keatas lagi, orang itu telah hilang
"Naruto! TEMENIN GUE BERGADANG !" kata Kimimaro ketakutan!
Maaf ya atas ketidak jelasannya
Jeolu-lexa : Makasih lohhh :)
Nagasaki : Konfliknya itu cuma ada di perasaan Sakura. Hehe. Dia belum bisa nentuin dia itu suka beneran apa nggak sama Naruto. Terus maksud Naruto ngedeketin Sakura apa, toh dia udah punya pacar.
