Disclaimer: Vocaloid bukan milik Mikan. Begitu pun SAO ~X3
"Len! Len, lihat gambarku!"
Gadis cilik berpita putih itu melompat-lompat menuju anak lelaki yang dengan malasnya berbaring di sofa menikmati pendingin ruangan. Anak yang dipanggil dengan nama Len itu tidak membuka matanya sama sekali, membuat gadis mungil yang memanggilnya cemberut.
"Len!" gadis itu berteriak lagi. Tapi bukannya mendapat jawaban yang diharapkan, justru dengkuran halus dari Len yang didengar gadis itu.
"Baka! Bangun, Len~" rengek gadis itu lagi. Akhirnya Len membuka matanya dengan malasnya dia bergerak untuk duduk di atas sofa yang sedari tadi didudukinya dan melihat anak perempuan yang tengah merajuk.
"Ada apa Rin-chan?" Tanya Len.
Anak bernama Rin itu tersenyum kecil, lalau menaruh buku gambarnya di pangkuan Len. Sebuah gambar pemandangan alam dengan warna-warna cerah dan hewan-hewan liar terpampang di sana. Wajah Rin berbinar saat Len melihat gambar itu, lalu pada Rin dengan bingung. Gambar itu cantik, pewarnaannya juga cukup baik untuk anak berumur 8 tahun seperti Rin. Paduan warna oranye langit dan hijaunya daratan memberi kesan menyegarkan di mata Len.
"Ini adalah duniaku. Indah kan?" Tanya Rin.
Len hendak menjawab tapi seseorang lebih dulu memotongnya.
"Bodoh."
Tiba-tiba saja kertas gambar di pangkuan Len berpindah ke tangan seorang pemuda yang lebih tua beberapa tahun dari mereka. Mata birunya meneliti gambar Rin. Wajahnya dengan jelas menunjukkan ketidaksukaan.
"Menurutmu dunia seperti ini ada? Hanya orang bodoh yang berpikir gambar jelek ini adalah sebuah dunia." Ejek pemuda itu sambil merobek-robek dan membuang gambar Rink e lantai.
Pemuda itu mundur beberapa langkah dimana teman-temannya berada. Raut wajah mereka mengejek Rin. Tapi Rin tidak berkata apapun. Dia hanya berdiri di sana memandangi kertas gambarnya yang berserakan di lantai. Len mulai khawair karena Rin tidak mengatakan apapun juga. Apa dia akan menangis lagi? Memang sih, Rin anak yang kuat, dia bahkan dapat mengalahkan Len dalam seni bela diri. Tapi itu tidak menutup hatinya sebagai perempuan. Rin adalah anak yang cengeng. Sisi cengengnya yang Len kenal dengan baik.
"Len," len menoleh mendengar namanya dipanggil.
Rin tidak melihat kea rah Len, tapi Len menyadari tangan Rin yang terkepal kuat dan bahunya yang bergetar.
"Apa kamu juga berpikir begitu? Apa kau piker duniaku tidak ada?" Rin bertanya dengan suara kecil.
"Eh, begini Rin… itu…" Len menggaruk kepalanya, diatidak tau harus menjawab apa.
Tanpa mendengar apapun dari Len lagi Rin berlari keluar rumah. Len memanggilnya berkali-kali, tapi sama sekali Rin tidak menghiraukannya.
"Biarkan dia Len. Dia harus belajar untuk hidup di dunia nyata sekali sekali. Mungkin setelah ini dia menjadi lebih waras." Ejek pemuda bermata biru itu yang kemudia disusul tawa teman-temannya.
"Rin itu tidak gila," desis Len.
Pemuda dan teman-temannya terdiam saat len berlari menuju pintu. Tapi saat Len melakngkah keluar, salah satu dari mereka bertanya.
"mau kemana kau?"
"mencari Rin." Jawab Len singkat.
"Jangan pergi Len. Biarkan anak itu tenang dulu."
"Anak itu mungkin sudah pergi ke dunianya, hahaha-"
"Diam Kaito."
"Kalau kau keluar dari rumah ini selangkah saja, kau tidak akan diizinkan masuk lagi. Kagamine."
Len memutar kepalanya, meneliti raut wajah setiap orang yang melihatnya. Aura kemarahan terpancar di mata biru langitnya.
"Kalau bukan karena Rin aku juga tidak mau ke panti asuhan ini!" teriaknya sebelum berlari keluar rumah.
xXx
Len terus berlari dan berlari. Mata ceruleannya meneliti setiap orang yang dia temui, berharap menemukan gadis kecil berpita putih besar yang dia cari. Matahari mulai tergelincir ke sisi barat dan anak-anak kecil yang berkeliaran mulai berlarian ke rumahnya.
Semakin panic, Len mulai menangis. Dia berhenti berlari dan membungkukkan badannya. Air mata dan keringat membasahi wajahnya. Rin kemana? Tanyanya dalam hati.
Di saat Len hamper putus asa, matanya menangkap pita putih besar berjalan berdampingan bersama seorang pria di seberang jalan. Tanpa pikir panjang Len berlari menuju seberang\ tanpa memepedulikan kendaraan yang melaju kencang dan rem mendadak menyumpah-nyumpah padanya. Len tidak peduli, yang ada dipikirannya hanyalah Rin seorang.
"Rin!"
Rin menoleh, kaget melihat Len berlari kencang kearahnya dengan menangis. Rin juga kaget saat Len melompat padanya, memeluknya dengan erat. Rin tentu saja tidak menyiapkan diri dan terjatuh bersama Len.
"Len…" rintih Rin.
Len melepaskan pelukannya dari Rin, tapi dia tidak berdiri dan justru duduk di atas Rin.
"Jangan seperti itu lagi! Kau tidak tahu betapa cemasnya aku mencarimu! Jangan lakukan itu lagi, mengerti?" teriak Len dengan ari matanya menuruni pipinya perlahan.
Rin membisu, ini pertama kalinyaLen berteriak padanya seperti itu. Perlahan air matanya juga turun. Dia menangis terisak-isak membuat Len merasa bersalah.
Len berdiri, memberi kebebasan Rin untuk duduk. Dia lalu berjongkok di depan Rin dan memeluknya, membelai kepalanya yang bersandar dibahu Len.
"Sssh.. sudah, sudah, maafkan aku. Kumohon jangan lakukan ini lagi Rin. Rin membuatku ketakutan. Maafkan aku ya?" bisik Len.
Rin masih menangis tapi perlahan dia menggangguk. Len terus membelainya dan membisikkan kata-kata manis hingga akhirnya dia tenang. Yang tersisa hanyalah nafasnya yang tersendat-sendat.
"Bagaimana kalau sekarang kita pulang kerumahku?" tanya Len. Rin mengangguk, senyumnya terkembang maski air mata masih tergenang di pelupuk matanya.
Len menarik tangan Rin dan mulai melangkah dengan ringan. Baru 3 langkah, tiba-tiba saja Rin menariknya. Len memablikkan badan dengan Heran. Rin menoleh ke kiri dan tersenyum, meembuat Len tambah bingung dan juga ikut menoleh ke sesuatu atau seseorang yang berada di kanannya. Ternyata pria yang berjalan bersama dengan Rin melihat mereka berdua tanpa bergerak sedikitpun. Len menggaruk kepalanya, dia tidak sadar kalau orang itu masih berada di sana.
"Len, kenalkan ini Kayaba Akihiko-san. Dia orang yang percaya kalau duniaku ada!" seru Rin senang. Dia bahkan melompat dan menepuk kedua tangannya.
Len melihat orang itu dengan hati-hati. Dia kurang mempercayai orang itu berada dekat dengan Rin. Len bahkan tidak menjabat tangannya saat orang itu mengulurkan tangannya.
"Kayaba Akihiko. Senang bertemu denganmu, Len-kun,"
"Kagamine Len." jawab Len singkat. Tanpa basa-basi lagi dia menarik tangan Rin. "Ayo kita pulang. Onii-san tidak akan memebukakan pintu jika kita terlambat." dan mereka pun berlari pulang.
Setelah mereka sampai di depan rumah yang jaraknya cukup jauh dari tempat mereka tadi, Len berhenti dan memebiarkan Rin mengambil nafasnya yang tersedot habis akibat berlari. Matahari telah tenggelam oleh malam, tapi Len tetap tidak bergerak. Dia menunduk menatap kaki kecilnya.
"Len, Len, ada apa?" tanya Rin dengan khawatir. Tidak mendapat jawaban juga Rin kembali memanggil Len sambil mengguncang-guncang bahunya.
"Aku.."
Len menolah ke Rin yang hanya mempu melihat Len dalam keheningan. "Aku percaya dengan dunia Rin." ucapnya jelas.
Mata Len menatap lurus manik cerulean Rin. Tangan kanannya yang sejak awal tidak melapaskan tangan Rin diangkatnya ke depan dada dan diselimutinya dengan kedua tangannya. "Aku percaya dunia Rin itu ada." ucapnya sekali lagi.
Rin tersenyum lebar, tangan satunya yang tidak digenggam oleh tangan Len turut menyelimuti tangan Len. "Saat duniaku terbentuk, Len akan jadi orang pertama yang melihatnya." ucapnya dengan senyuman terbaiknya membuat Len ikut tersenyum.
"Nah, nah. Apa yang membuat otoutoku dan Rin-san pulang selarut ini?"
"Ugh,"
Aku membuka mata perlahan. Semuanya terlihat kabur. Perlahan aku menggeleng. Ah, lebih baik. Dimana aku?
Pohon, semak, pohon dan pohon. Apa aku tertidur di hutan?
"Akhirnya kau bangun juga,"
"Siapa itu!?"
Aku segera berdiri dan bersiap dengan pedangku. Aku menoleh ke segala arah. Tidak ada siapapun. Dimana orang itu?
"Di atas."
Aku mendongak. Diatas pohon yang kududuki ada seorang anak laki-laki yang mungkin seumuran denganku berdiri di salah satu cabang pohon. dIa memakai jubah hitam kelam seperti juga rambutnya. Dia melompat ke bawah dan berdiri di depanku. Aku tidak tau dia musuh atau bukn, jadi aku tetap pada posisi bersiagaku. Dia melihatku dengan tenang seolah aku bukanlah ancaman baginya.
"kau tahu kau bisa mati jika tidur di alam terbuka seperti ini. Seharusnya kau bermalam di penginapan." Dia menunjuk jalan setapak menuju lampu lampu yang terang di ujung jalan. "Ada desa tidak jauh dari sini."
Aku melihatnya, kelihatannya dia sama sekali tidak ada niatan untuk membunuhku. Jadi aku melemahkan pertahananku dan menjawab. "Aku tidak ada waktu untuk itu. Aku harus mencapai lantai 100. Segera."
Orang itu tampak kaget, tapi sebentar saja dia menunjukkan smirknya.
"Oh, begitukah? Kita punya tujuan yang sama."
Aku menaikkan alisku. "Bukannya semua orang disini juga memiliki tujuan yang sama?" tanyaku tidak mengerti. Cara dia mengatakannya seolah-olah hanya kami yang memiliki niatan untuk kesana.
"Ya, ya. Kau benar juga." Dia menjawab sebelum berlalu."
Entah apa yang kupikirkan, tapi aku mengikutinya di balakang. Mungkin saja orang ini bisa membantuku mencapai lantai berikutnya lebih cepat. "Hei, siapa namamu?" tanyaku. Rasanya aneh kalau kau mengikuti seseorang tanpa mengetahui namanya.
"Kirito." jawabnya tanpa melihatku. "Kau?"
"Aku Allen."
