Kiriko Alicia: he, kita sehati ;3 Mikan juga gak suka yang bagian itu, kalo gak salah namanya Alfeim Online O3O yup, yup lanjut!

Xinon: kalo Marian gak ngasih Alice dan Andreanya bulan ini mungkin mereka Mikan masukin di chapter depaaaan ya? OwOa

Sakamaki Tsuki: ok, update! gomen telat TwT

Kurotori Rei: gak tau juga sih, tapi menurut Len dunia itu mirip dengan dunia yang Rin ceritakan OwO liat ceritanya aja ya

Disclaimer: Vocaloid itu milik Yamaha, Crpton dan antek-anteknya, Kise Ayano dan Kise Ayato milik Sakamaki Tsuki, Kirito dan SAO milik Reki Kawahara selebihnya milik Mikan O3O

Greta: Oh, dan hati-hati dengan OOC Kirito dan OOC Kise Ayano dan Kise Ayato ^w^


"Len kalau aku menghilang nanti apa yang akan Len lakukan?"

Anak yang bernama Len itu menoleh pada teman sekamarnya. Manik ceruleannya menatap gadis yang berbaring di sampingnya dengan bingung. Gadis yang kini telah menginjak usia 13 tahun itu justru menatap langit-langit kamar dengan tenang, seolah dia tidak pernah mengatakan apapun.

" Rin, tidak akan menginggalkanku kan?" itulah kata-kata yang pertama kali keluar dari mulut Len.

Rin menoleh padanya, dengan senyum kecil dia menggeleng. "aku hanya bertanya."

Len bergerak duduk dari posisi awalnya, menatap Rin lebih jelas dari atas. Tangannya bergerak untuk menyentuh pipi Rin, lalu beralih ke bibir dan ke leher tanpa sekalipun melepaskan pandangannya dari Rin.

"Tentu saja aku akan mencarimu."

"Bagaimana kalau kau tidak menemukanku?"

"Aku akan terus mencarimu dan tidak akan berhenti sampai aku menemukanmu." Len berkata dengan nada serius.

"Bagaimana kalau aku tersesat di hutan yang gelap dan bersama binatang buas?"

"Aku akan datang dan menyelamatkanmu."

"Bagaimana, bagaimana kalau aku mati?"

Len terdiam sesaat sebelum mencium kening Rin. "Aku akan mati bersamamu." bisiknya sebelum kembali berbaring di samping Rin.

"Sekarang tidurlah, aku tidak ingin kau sakit."

"Mmmm... Hai,"

Rin mendekat pada Len, memegang salah satu tangan Len dengan erat. Dia bergumam sebelum menutup mata. Dengan pelan dia berbisik "aku suka tidur di samping Len. Rasanya hangat."

Len terus menatap Rin yang sedang tertidur. Wajahnya yang pucat disinari suinar bulan yang redup dan kulitnya terasa dingin akibat angin malam yang berhembus. len menyelimutinya dengan selimut tebalnya seraya berbisik. "Aku berjanji akan terus melindungimu apapun yang terjadi."


"Oi, Allen!"

Aku terperanjat. Pedang yang kugenggam terjatuh ke tanah. Didepanku Kirito memandangku dengan tajam. Pedangnya menunjuk diriku dan jaraknya sangat dekat. Jika aku bergerak sedikit saja pedangnya pasti melukai leherku.

"Apa yang kau pikirkan? Kau sudah berdiri disana selama 15 menit tanpa melakukan apapun." ucapnya sebelum menurunkan pedangnya.

Aku menggaruk kepalaku. Aku tidak tahu waktu berjalan begitu cepat. Aku juga lupa kalau sekarang ini kami sedang berlatih menggunakan pedang. Aku iri melihat Kirito bisa menggunakan pedang sebesar dan seberat itu dengan mudah. Apa aku bisa menjadi sehebat dirinya?

Kirito mendesah. Kakinya melangkah menuju hutan yang cukup gelap di belakang kami. Aku mengikuti di belakangnya.

"Kau tahu harusnya sekarang kau berhenti mengikutiku dan berjalan dengan kakimu sendiri."

Aku ingin menjawab, tapi teriakan seseorang menginterupsiku.

"KAU BODOH! HARUSNYA KITA LEWAT SINI!"

"BUKAN! Jalan itu menuju Dungeon, kita harus ke pusat hutan."

"Kalau begitu jelaskan padaku kenapa kita terus berputar-putar, nona sok pintar."

Aku berjalan mendekati suara. Kirito yang sepertinya penasaran juga terus mendekati asal suara itu. Dibalik semak-semak kami menemukan 3 orang yang sedang bertengkar. 2 orang laki-laki itu tampaknya sedang memarahi satu-satunya perempuan disana.

"Mou, Hans, kenapa kamu lebih memilih Kise-san dari pada aku?" Gadis yang dimarahi itu cemberut. Dia sepertinya ingin menangis.

Aku ingin menikmati pertengkaran mereka sedikit lagi, tapi laki-laki dengan rambut coklat itu menyadari keberadaanku. Aku dan Kirito bersembunyi di bawah pohon, tapi sudah terlambat.

"Siapa disana?"

Aku mengintip dari balik cabang pohon. Anak perempuan dan laki-laki berambut auburn itu memegang pedang mereka. Eh, tapi mana yang satunya?

"Jangan bergerak atau pedangku akan menebas lehermu."

Aku tak bergerak. Bisa mati aku jika bergerak semili saja. Besi yang tipis dan dingin itu bisa kurasakan bersentuhan dengan kulit leherku. Kirito sebaliknya justru menghunuskan pedangnya pada orang itu. Dia mau aku mati ya?

"Ha, he, tenang dulu. Ka, kami tidak bermaksud untuk mengganggu pertengkaran ka, kalian." ucapku tergagap.

Kurasakan pedang tajam itu semakin menekan leherku. Ya Kami-sama aku masih belum mau mati. Aku belum meminta maaf pada Kaito karena menginjak eskrimnya, aku belum mengambil celana dalamku yang dicuri Tei, aku belum bertemu Rin!

"Sudahlah Kise, sepertinya mereka tidak kelihatan berbahaya."

Pemuda bernama Kise ini melepaskan leherku dari pedangnya. Kurasa aku akan berterima kasih pada temannya itu.

"Apa maksudmu memerintahku Yonell? Kalau bukan karena kau kita tidaka kan berada dalam situasi seperti ini!"

Pemuda bernama Yonell ini tidak mengatakan apa-apa pada temannya. Dia hanya diam selama beberapa saat sebelum menoleh padaku dan membungkuk. Aku kaget, tentunya. Karena aku tidak tahu harus melakukan apa aku ikut membungkuk dengan canggung. Temannya kelihatan tidak suka dengan aksinya ini.

"Maafkan temanku. Dia menjadi pemarah sejak kehilangan saudaranya."

"Dia mati Hans. Aya tidak hilang, tapi MATI!"

Pemuda ini, Hans Yonell melihat ke arah Kise. "Merteka belum akan mati. Jika kita menemukan item itu kita pasti bisa menyelamatkan mereka."

Aku menggerakkan tubuhku d engan canggung. Kami ada di tengah perdebatan yang panas, dan aku tidak tahu apa yang harus dalakukan. Aku tidak tau apa-apa tentang masalah mereka. Mungkin sebaikanya aku kabur saja. Ya, kurasa itu ide yang bagus.

Aku mengendap-endap menjauhi mereka. Mereka tidak menyadari kepergianku sepertinya. Aku mengambil langkah lebih lebar dan cepat. Aku lari. Tapi Kirito menangkap kerah bajuku dan menariknya dengan kuat hingga aku hampir terjatuh. UWAAAA!

"Hei, coba ceritakan masalah kalian. Mungkin kami bisa membantu.

Geez, Kirito, kenapa dia harus selalu bersikap seolah dia pahlawan begini sih? Bukannya aku tidak mau membantu sih, tapi aku hanya tidak mau malah memperburuk keadaan mereka dengan adanya aku.

Pemuda bernama Hans itu melihat kedua temannya, gadis yang tidak kuketahui namanya tersenyum tanpa alasan yang jelas. Sedangkan Kise, orang itu membuang muka dan menggumamkan sesuatu yang tidak jelas. Kirito masih dengan sabar menunggu mereka. Dia belum juga melepaskan kerah bajuku, uuuh..

"U, um... begini, aku, Kise Ayato disana dan kembaranku disana, Greta sedang mencari item langka yang bisa membangkitkan lagi player yang telah mati. Kami mencarinya untuk mengembalikan saudara Kise dan juga kedua adikku dan Greta." dia menunjuk gadis yang tersenyum itu.

Jadi mereka berdua saudara? Kenapa warna rambutnya beda? Ah, itu bukan urusanku.

"Apa kailan tahu dimana item itu berada?" aku bertanya. Hei, ini kesempatan langka yang tidak akan terjadi dua kali, kau tahu.

"Tentu saja! Kami tidak akan bersusah payah jika kami tidak tau!" Greta tiba-tiba menjawab dengan dengan tertawa. Anak aneh...

Aku mengangguk kecil, kulirik Kirito sepertinya ingin mengikuti mereka. Kalau Kirito ikut, aku juga akan ikut. Siapa tau di perjalanan kami menemukan item langka lainnya atau... Rin.

"Cari aku... Len..."

Deg!

Aku menoleh ke belakang dengan cepat. Suara ini, suara Rin! Apa Rin ada disini? Aku meneliti sekitar area hutan ini dengan skill yang kupelajari dari Kirito. Tapi, tidak ada, aku tidak menemukan player lain selain kami berlima.

Tapi... suara Rin tadi terdengar sangat dekat. SEolah-olah dia berada di belakangku, membisikku dengan rahasia-rahasia kecilnya, aku mengusap tengkukku dengan tangan gemetar.

"Hei, kamu tidak apa-apa?"

Aku melonjak. Kulihat Greta berada disampingku secara tiba-tiba. Sejak kapan dia ada disini? Dan kenapa dia tersenyum aneh begitu? Dan.. Kemana Kirito dan dua orang itu?

"Hoi, kalau kau tidak bergerak kau akan kami tinggal Allen!"

Aku melihat ke belakang. Kirito, Kise dan Hans sudah berjalan menjauhiku dan e, em... Greta. Aku tidak tau apa, tapi aku merasa tidak nyaman berada di dekat anak ini. Dengan segera aku berlari menuju Kirito. Biarkan saja anak itu di belakang, aku tidak mau dekat-dekat dia.

"Tu, tunggu aku!"


"Ini bagus, aku harus memberitahukan ini pada Koishi dan Tsukimiya-sama!"

bayangan di semak-semak bergerak cepat. Yang tersisa hanyalah suara langkah kaki yang ringan dan rambuit pink yang melambai.


TBC

OxO" maaf kalau OC dan Kirito disini OOC. Oh, dan disini gak ada LenxOC atau KiritoxOC. Sejujurnya Mikan benci dengan pair itu X.X

Ada yang berminat untuk review? QwQ