"THE VOLUNTEER WITH THE RIBBON"

~MonMonBaekkie~

Cast :

Byun Baekhyun

Park Chanyeol

Other cast :

EXO

Genre :

T

Summary : because of Gaza, I meet him. Being a volunteer is enough to get me afraid to enter this area, but since I meet him I think this is my future.

Note : Terinspirasi dari peperangan antara Israel dan Palestina. Kisah ini bukan kisah nyata, kisah ini juga hanya sebuah cerita cinta seorang dokter relawan kepada seorang tentara. Tidak ada unsur menghina atau menjelekkan antara Israel, Palestina dan nama yang menjadi cast dicerita ini.

A story about ChanBaek shipper

.

.

.

.

The

Volunteer

With

The

Black

Ribbon

.

.

.

.

Chapter 1

Seoul

Baekhyun pov

"eomma mianhe" bujukku kepada eomma ku yang menatap kosong tiket yang dipegangnya. Pandangannya beralih kekoper disampingku. Sungguh berat rasanya mengatakan hal ini kepada eomma ku, bahkan appa ku sudah pasrah dengan semuanya.

"eomma, ini bukan kemauanku" ucapku lagi. Kali ini eomma menatapku, terlihat jelas raut wajah kesedihan, takut, kecewa, dan pasrah disana. "eomma menyesal menyelekolahkanmu menjadi seorang dokter"

Deg

Kata-kata eomma sontak membuatku menitikkan air mata. Bahkan eommaku membuang tiketku kelantai, ia memegang kepalanya, mungkin merasakan sakit.

"eomma mianhe, hiks jeongmal mianhe" ucapku lirih. Kali ini eomma menatapku. Bukan tatapan sedih, namun tatapan penuh emosi.

"EOMMA BENAR-BENAR TIDAK HABIS PIKIR! KAU BERANI MENGAMBIL KEPUTUSAN BERAT INI DIBELAKANG EOMMA! INI JUGA MENYANGKUT NYAWAMU BYUN BAEKHYUN!" teriak eomma ku, appa ku menenangkan istrinya walaupun ia juga sangat kecewa dengan keputusanku. Aku semakin menundukkan kepalaku, eonniku, Byun Luhan, memelukku dari samping berusaha menenangkanku yang sudah menangis.

"yeobo tenanglah" kali ini appa ku angkat bicara. Ia memberi isyarat kepada Luhan lalu eonni membawaku ke kamar. Ia tetap memelukku dan menyalurkan kehangatan yang membuatku tenang. Ia menghela nafas berat lalu melepas pelukannya. "Baekhyun-ah, kau benar-benar ingin pergi kesana? Bukankah banyak calon dokter diuniversitasmu. Tapi kenapa kau mau hm?" Tanya Luhan eonni lembut

"eonni, aku juga terpaksa kalau saja dosenku bilang ia akan membebaskan aku dari skripsi tahun depan. Aku dapat berita kalau skripsi nanti sangat susah, eonni. Makanya aku menerimanya" ucapku.

Baekhyun pov end

Flashback on

"Byun Baekhyun, kau mau menerima tawaran ini? Untuk menjadi dokter relawan dan akan dikirim ke Palestina?" Tanya dosen Baekhyun

"nde?" Baekhyun menatap tak percaya kearah dosennya

"bila kau mau, kau akan kubebaskan untuk skripsi tahun depan dan juga nilai + untuk setiap pelajarannya? Eotte? Ah kau jangan kuatir karna aka nada 5 orang yang akan ikut kesana"

"hm, akan aku usahakan" jawab Baekhyun lalu membungkuk sopan dan keluar dari ruangan tersebut. Ia menahan tangisannya sebelum sampai ke taman belakang sekolah.

"eomma eottokhe? Jeongmal mianhe eomma, appa, eonni" ucap Baekhyun lirih dan akhirnya air matanya turun juga. Ia menatap tiket pemberian dosennya tadi dengan tatapan nanar lalu menelpon sahabat terbaiknya. Do Kyungsoo

"annyeong kyungie" sapanya

"ah, baekhyunnie wae?"

"aniya. Bisakah aku bertemu denganmu nanti di kantin?"

"nde, tapi aku agak sedikit telat. Miss Jung memanggilku tadi"

Deg. Kyungsoo~

"ah arraseo aku akan menunggumu. Paipaii~" sapaan terakhir Baekhyun ia buat seceria mungkin.

Tidak mungkin Kyungsoo juga ikut ke Palestina bersamanya. Air mata Baekhyun kembali turun seiring sakit didada nya karena sahabat terbaiknya ikut bersamanya. Ia takut, kalau mereka akan menjadi korban disana. Apalagi Palestina saat ini dalam keadaan yang sangat tidak aman. Ia pun segera beranjak lalu cepat-cepat ke toilet wanita, membersihkan wajahnya agar Kyungsoo tidak curiga. Walaupun ia pikir Kyungsoo akan sedih dengan berita ini.

Flashback off

Normal pov

Walaupun saat ini orang tua Baekhyun sangat sedih dan terpukul, mereka masih mau mengantarkan Baekhyun ke bandara. Mereka takut Baekhyun tidak bisa pulang. Sesampainya di bandara Incheon, Seoul. Ia sudah melihat Miss Jung, Kyungsoo, Jongin, Lay, dan Joonmyeon disana. Semua sahabatnya pun ikut ke Palestina, membuat Baekhyun semakin merasa kecewa pada dirinya sendiri.

"oh annyeong Tuan Byun dan Nyonya Byun" sapa hormat Miss Jung, eomma dan appa pun menanggapinya dengan senyuman.

"oke, semua sudah siap dan 30 menit lagi pesawatnya akan berangkat. Dan ini–" Miss Jung memberikan 5 kotak kecil kepada mereka

"…Pita kalian dan nametag kalian" Miss Jung pun tersenyum saat anak muridnya sudah memiliki kotak itu. "bila kalian sudah sampai di Palestina, kalian harus memakai pita hitam. Saat kalian akan mengobati korban, kalian harus memakai pita sesuai warna kesukaan kalian. Bila kalian tidak sedang mengobati korban kalian harus menggunakan pita hitam lagi. Dan kalian akan aman. Pemerintah Israel tidak akan menyerang tempat kalian praktek nanti. Asal kalian harus menjaga bendera pita di atas atap itu, Arraseo?"

"Arraseo" koor pada dokter muda. Mereka semua tersenyum pada keluarga mereka masing-masing. Hanya Baekhyun yang menangis menatap orang tuanya. Saat ini ia sangat membutuhkan orang tuanya, namun ia juga tidak ingin mendapatkan skripsi mengerikan itu. Ia memeluk eommanya lalu appanya, lalu berlari menuju eonni tersayangnya yang baru saja datang bersama calon suaminya, Oh Sehun. "eonni, oppa, eomma, appa. Annyeong" ucap Baekhyun lalu mengikuti teman-temannya masuk kedalam pesawat.

Palestina

Namja itu terduduk disalah satu batu besar yang ada disana. Ia menjatuhkan senapan kesayangannya lalu melepas helm kecil yang selalu bertengger dikepalanya. Ia menatap asap yang mengepul, ia berpikir bahwa bom pasti telah dijatuhkan diarea itu. Namja itu menghela nafasnya pelan, ia teringat perkataan kakaknya.

Flashback on

"apa? Hyung jangan macam-macam! Aku memang sangat menyukai perang namun bukan perang ini yang kuinginkan, hyung!" teriak namja itu dengan pandangan tajam kearah hyung-nya. Sebenarnya hyungnya itu memang tidak mau melibatkan sanh namdongsaeng kedalam urusan ini namun karena keinginan sang appa akhirnya dengan berat hati ia menerima apa yang appa mereka suruh.

"tenangkan dirimu dulu, sayang" ucap istri hyung-nya. Namja itu menggeleng pelan lalu menatap hyung-nya yang masih menatap surat yang dari tadi ia pegang

"ani, noona. Aku benar-benar tidak habis pikir, hyung menerima permintaan appa dan mengorbankanku berperang disana! Hyung memang keterlaluan!" ucap namja itu tajam.

BRAKKKK

"JAGA UCAPANMU ITU PARK CHANYEOL" teriak hyung-nya marah.

"DAN BISAKAH KAU MEMIKIRKAN KEHIDUPANKU KEDEPAN, TUAN PARK KRIS YANG TERHORMAT!" teriak balasan namja itu-Park Chanyeol. Ia mendudukkan tubuhnya ke sofa diruangan hyungnya-Park Kris, disampingnya kakak perempuannya-Park Yura hanya bisa diam melihat adiknya sedang emosi.

"Chanyeol-ah kau tau aku tidak bisa melawan appa" ucap Kris lemah, istrinya lalu menenangkan sang suami dengan mengelus punggung Kris

"aku pergi, sampaikan salamku kepada eomma dan appa, Tao noona, Yura noona annyeong" ucapan terakhir Chanyeol, ia segera keluar dari ruangan itu lalu membanting pintunya keras.

"yeobo, mianhe" ucap Kris menatap Tao, sang istri. Matanya mulai memanas, namun usapan lembut istrinya itu membuatnya tenang. Ia pun memeluk istrinya, menyalurkan rasa penatnya karena sang appa dan namdongsaengnya.

Flashback off

.

.

To Be Continue

.

.

Holaaa, reader-nim bertemu dengan MonMon di Chapter 1. Gomawo yang udah ngeReview ne. Dan MonMon minta maaf kalau ada Typo yang berhambur di ff ini -_- so, wait a next Chapter 2 Chingu-deul.

Kalau ada yang lebih dekat dengan MonMon bisa ..

invite pin Bbm nae 759BDDB9

or Facebook : Monikaa Oktafiiaa

Gomawo Chingu-deul^^ Happy Reading and Happy Review^^

~MonMonBaekkie~