"THE VOLUNTEER WITH THE RIBBON"
~MonMonBaekkie~
Cast :
Byun Baekhyun
Park Chanyeol
Other cast :
EXO
Genre :
T
Summary : because of Gaza, I meet him. Being a volunteer is enough to get me afraid to enter this area, but since I meet him I think this is my future.
Note : Terinspirasi dari peperangan antara Israel dan Palestina. Kisah ini bukan kisah nyata, kisah ini juga hanya sebuah cerita cinta seorang dokter relawan kepada seorang tentara. Tidak ada unsur menghina atau menjelekkan antara Israel, Palestina dan nama yang menjadi cast dicerita ini.
A story about ChanBaek shipper
.
.
.
.
.
The
Volunteer
With
The
Black
Ribbon
.
.
.
.
.
Chapter 2
Chapter sebelumnya :
"JAGA UCAPANMU ITU PARK CHANYEOL" teriak hyung-nya marah.
"DAN BISAKAH KAU MEMIKIRKAN KEHIDUPANKU KEDEPAN, TUAN PARK KRIS YANG TERHORMAT!" teriak balasan namja itu-Park Chanyeol. Ia mendudukkan tubuhnya ke sofa diruangan hyungnya-Park Kris, disampingnya kakak perempuannya-Park Yura hanya bisa diam melihat adiknya sedang emosi.
"Chanyeol-ah kau tau aku tidak bisa melawan appa" ucap Kris lemah, istrinya lalu menenangkan sang suami dengan mengelus punggung Kris
"aku pergi, sampaikan salamku kepada eomma dan appa, Tao noona, Yura noona annyeong" ucapan terakhir Chanyeol, ia segera keluar dari ruangan itu lalu membanting pintunya keras.
"yeobo, mianhe" ucap Kris menatap Tao, sang istri. Matanya mulai memanas, namun usapan lembut istrinya itu membuatnya tenang. Ia pun memeluk istrinya, menyalurkan rasa penatnya karena sang appa dan namdongsaengnya.
Flashback off
Chanyeol pov
Semua tampak sama setiap hari, melihat warga Palestina menangis, meronta, bahkan mati dihadapanku. Aku bersumpah, selama perang ini, aku tidak akan menembak seseorang disana. Aku akan menjauh dari teman-temannya lalu duduk di batu yang sama setiap harinya.
Bisa dibilang aku sedikit tenang disini, aku rindu kampong halamanku, Seoul. Namun apa daya, appa ku tak pernah mengizinkan aku pulang. Mungkin ia akan menembakku kalau aku menginjakkan kakiku di Seoul.
Kriiingg Kriiingg~
Ponselku berbunyi, aku takut jika itu eomma. Ya, eommaku adalah salah satu penentang keputusan appaku. Tapi mereka juga sama tidak berdaya. Appa ku memang sangat mengerikan
Namun keningku berkerut saat melihat siapa yang menelponku, Kim Jongdae sahabat karibku.
"yeobseoyo"
"nde, hei Park Chanyeol eodiga?"
"mencari mangsa, wae?"
"hahaha, apa mangsa yang kau dapat hari ini Dobi-ya?"
"haiss apa maumu kotak tv?"
"ah nde, pemimpin menyuruh kita istirahat dulu. Kau cepatlah kemari kalau tidak aku akan membunuhmu tuan Park" ucapan Jongdae membuat aku tersentak, cepat-cepat aku memakai perlengkapanku lagi
"nde arra" ucapku lalu memutuskan sambungan telpon Jongdae
bandara
Normal pov
"sudah sampai" teriak Kyungsoo lalu menggandeng tangan pacar hitamnya, Kim Jongin. Lay dan Joonmyeon menatap pasangan itu senang. Tapi tidak dengan Baekhyun, ia terus menatap kosong kedepan. Lay kasihan dengan Baekhyun yang biasanya ceria tapi sekarang ia sangat murung. Joonmyeon yang juga menyadari hal itu menyikut perut Jongin pelan, otomatis Jongin dan Kyungsoo menoleh kea rah Baekhyun. Kyungsoo segera memeluk Baekhyun.
"gwenchana Baekhyunnie, kita juga pasti merindukan keluarga kita tapi kita harus menjalankan tugas ini. Fighting Baekhyunnie" ucap Kyungsoo membuat Baekhyun mulai tersenyum lagi, terbesit kelegaan di hati Joonmyeon, Lay, Jongin, dan Kyungsoo saat Baekhyun sudah mulai tersenyum lagi.
~Skip~
Akhirnya mereka sampai di salah satu penginapan dekat kota Gaza. Dari penginapan mereka saja sudah terdengar suara bom yang meledak, membuat dokter muda itu merinding takut. Mereka menatap pita hitam mereka, awalnya mereka ragu apa mereka bisa aman selama 1 bulan di Palestina namun bila ini untuk banyak nyawa mereka yakin.
"chagi kajja kita masuk kamar" ucapan Joonmyeon sontak membuat pipi Lay merona. Baekhyun melihat itu memutar bola matanya malas "yakk! Disini ada 2 kamar untuk yeoja dan namja, jadi Joonmyeon oppa dan Jongin satu kamar. Arra?" kata-kata Baekhyun membuat Jongin dan Joonmyeon lemas.
"kajja kita masuk kamar" ajak Kyungsoo.
Gaza
Chanyeol pov
"YAKKK KIM JONGDAE KENAPA KAU TAK MEMBANGUNKANKU EOHH!" teriakku saat aku sudah terbangun, Jongdae pun keluar kamar mandi, ia sudah berpakaian rapi bersiap untuk memulai perang lagi.
"kau ini aku sudah membangunkanmu 5 kali tapi kau hanya bergumam "Hmmm" dan tidur lagi. Sungguh merepotkan" ucap Jongdae. Aku hanya menyengir kuda lalu membersihkan diri.
Setelah selesai aku menatap Jongdae yang sedang menelpon istrinya, Kim Minseok. Aku hanya memutar mataku bosan dengan pemandangan setiap hari saat Jongdae menelpon Minseok noona. Jongdae yang serius dan tegas akan sangat lemah lembut didepan istrinya.
"jongdae-ya kajja" ucapku lalu aku keluar dari kamar kami. Aku baru ingat hari ini ada 5 dokter relawan yang akan datang untuk menolong korban perang. Aku jadi penasaran dengan mereka karena mereka datang dari Negara tempat tinggalku, Korea Selatan.
"all right, we will continue the war. So get ready! Take your weapons and destroy this place" kata pemimpin perang. Kami pun bersiap dan memulai perang lagi. Seperti biasa aku akan pergi menjauh dari tempat biasa mereka perang dan ditempat yang tidak pernah dilewati oleh orang lain.
Normal pov
Baekhyun cs sdh sampai di Gaza. Hari ini memang mereka belum bersiap untuk mengobati. Karena masih ada dokkter relawan lain yang masih bertugas. Baekhyun pun izin melihat-lihat sekitar tempat pengobatan mereka. syukurlah Baekhyun diizinkan asal ia jangan lama.
Dalam perjalanan Baekhyun, ia melihat seseorang duduk di sebuah batu besar, di bawah kaki orang itu ada topi perang dan senjata yang biasa digunakan perang. Entah kenapa orang itu membalikkan badannya, menatap Baekhyun tajam. Baekhyun semakin memundurkan posisinya sampai namja itu mengambil senjatanya lalu menghampiri Baekhyun dengan cepat.
Baekhyun tidak bisa berbuat apa-apa lagi, kakinya sangat susah di gerakkan. Ia sangat takut apalagi saat namja itu menodongkan senjatanya dihadapan Baekhyun, air mata Baekhyun lolos dari pertahanannya, sontak membuat namja itu bingung. Ia melihat disisi kanan Baekhyun lalu menembakki apa yang ia liat. Baekhyun benar-benar bingung dengan semuanya 'aku sudah ditembak. Eomma, appa, eonni, mianhe' batin Baekhyun. Air matanya seakin deras keluar.
"are you okey?" Tanya namja itu. Baekhyun membuka matanya pelan, menatap namja itu dan melihat tubuhnya sendiri. Ia tidak ditembak, lalu siapa yang ditembak lelaki yang sangat tinggi ini.
"on your right is of a poisonous snake. It's a good thing I saw the snake so I killed him." Baekhyun pun menatap nanar sesuatu di sebelah kanannya. Tangisan Baekhyun pun semakin menjadi, membuat namja itu kewalahan sendiri. Namja itu menatap pita hitam yang ada di baju Baekhyun. Membuat matanya membulat sempurna
"kau dari korea?" Tanya namja itu. Baekhyun menatap nanar namja itu lalu mengangguk imut. Namja itu menuntun Baekhyun untuk duduk di batu besar favoritnya, lalu menghapus air mata Baekhyun yang masih ada di pipinya. Baekhyun sempat merona saat tangan besar namja itu menyentuh pipinya. "hangat sekali" batin Baekhyun. "yeoja ini manis juga" batin namja itu.
"siapa namamu?" Tanya namja itu. Baekhyun terlihat berpikir. "Byun Baekhyun imnida" ucap Baekhyun. Namja itu mengangguk-anggukkan kepalanya, sempat membuat Baekhyun gemas
"kenapa ada tentara semanis dan setampan ini" batin Baekhyun
"aku Chanyeol, Park Chanyeol" ucap namja itu-Chanyeol. Baekhyun tersenyum manis lalu menatap senjata yang tergeletak/? Di samping Chanyeol.
"kenapa kau tak ikut perang?" Tanya Baekhyun, Chanyeol hanya menghela nafas pelan. Ia menatap Baekhyun tepat di manik matanya.
"aku benci perang yang seperti ini" jawab Chanyeol dingin. Baekhyun mengerutkan dahinya tanda tidak mengerti. Chanyeol tersenyum hangat lalu menngusap rambut Baekhyun.
"aku lulusan tentara di korea. Ayahku menyuruh untuk pergi ke Israel dan membantu teman ayahku dalam berperang. Selama diasrama aku tak pernah tau apa yang terjadi didunia luar. Dan aku awalnya hendak mengiyakan namun saat noona ku bilang kalau tempat yang kudatangi nanti seperti ini. Aku menolak dengan sangat keras keputusan appaku. Tapi, appa ku adalah seorang keras kepala dan tak bisa diubah tujuannya. Yah dengan sangat terpaksa aku mengikuti kemauannya." Ucap Chanyeol panjang lebar. Baekhyun mengerti dengan cerita itu namun ia masih bingung. "berapa orang yang sudah kau bunuh?" Tanya Baekhyun spontan
Chanyeol menatap intens Baekhyun, Baekhyun sadar ucapannya itu membungkam mulutnya dengan tangannya sendiri "maafkan aku" ucapnya lirih. Lagi-lagi Chanyeol tersenyum. Membuat pipi Baekhyun merona.
"aku tidak pernah menembak siapapun. Selama ini tempat inilah tujuan utamaku saat terjadi perang. Mereka tidak pernah kesini. Hanya kau satu-satunya yang pernah disini selain aku" jawab Chanyeol. Baekhyun terpaku menatap Chanyeol. Dadanya bergerumuh dan terasa banyak kupu-kupu di perutnya yang siap berterbangan apalagi saat Chanyeol tersenyum sangat manis kepadanya.
"yatuhan, ia sangat tampan. Perasaan apa ini?" batin Baekhyun
Tak tau kah kau, Baekhyun? Chanyeol merasakan hal yang sama saat pertama kali melihat Baekhyun. Chanyeol bukan tipe namja yang mau dekat dengan wanita asing, dan itu pengecualian untuk Baekhyun. Chanyeol memang ramah terhadap semua orang namun hal itu tetap menjadi pengecualian untuk Chanyeol, she is special for Chanyeol!
"yeollie?" panggil Baekhyun, what the.. panggilan apa itu? Baekhyun menatap Chanyeol dengan tatapan imut, membuat Chanyeol yang awalnya bingung dengan panggilan Baekhyun balik menatap Baekhyun tepat di manik mata indah milik Baekhyun.
"tidakk mungkin..
Aku..
Jatuh cinta..
Padanya.."
.
.
To Be Continue
.
.
Gomawo Chingu-deul sudah membaca dan Review ff ini. MonMon seneng banget dengan Review kalian. Oh iya ini kan FF pertama MonMon jadi para Readers mohon memberi kritik dan saran atas FF ini.
Gomawo Chingu-deul^^ Happy Reading and Happy Review^^
~MonMonBaekkie~
