The Love Curse
Main Cast: Sehun, Jongin
Other Cast: Luhan, Chanyeol, Kris, Kyungsoo, Minseok, Baekhyun, etc.
Genre: Romance, Friendship, Family.
Disclaimer: This story was of my own imagination, not the others and anybody else. EXO belong to Smet, their god, parents, and their own.
Warning: Crack Pair, typo, BoysLove!
Summary: Sehun yang jengah dengan ejekan 'jomblo' dari teman-temannya dan seolah semua terdengar seperti kutukan. Namun, bertemu Jongin sang biro jodoh laknat justru jauh lebih buruk dari kata 'kutukan'.
Chapter 5
Happy Reading~
"Omo! Jongin-ah, siapa ini? Kenapa di—"
"Sstt—eomma dia sedang kacau, bolehkan kalau dia bermalam dirumah kita? Malam ini saja." Jongin memohon kepada eommanya yang sungguh tak mengerti dengan apa yang telah terjadi. Ia masih menggendong Sehun dengan posisi yang sama, sebenarnya terasa lebih berat karena anak itu tertidur. Belum lagi tas Sehun yang begitu menambah beban.
"N-ne baiklah," eomma Jongin masih menatap anaknya, ia masih belum paham.
Jongin yang merasa kedua pundaknya sudah sakit langsung berlalu, sebelum.. "Apa dia temanmu?" Jongin menghentikan langkahnya.
Jika ia masih membenci Sehun pasti ia akan menjawab, 'Hah teman? Yang benar saja eomma aku tidak akan pernah sudi untuk—'
"Hanya seorang yang berharga." Jawabnya singkat, kembali melanjutkan langkahnya. Membawa tubuh seorang Oh Sehun menuju kamar pribadinya.
Eomma Jongin mengernyitkan dahinya, "Aish... apasih maksud anak itu..." ia terdiam. "O-oh tunggu dulu, apa itu—"
Disisi lain, Jongin membaringkan tubuh Sehun dengan hati-hati agar namja itu tidak terbangun. Kemudian meletakkan ransel berat Sehun dikursi meja belajarnya. Jongin duduk disisi ranjangnya, tepat disamping Sehun. Menatap Sehun dengan pancaran yang terlihat begitu hangat, senyum kecil terukir dibibirnya. Sehun adalah satu-satunya orang dan yang pertama kalinya dalam hidup Jongin yang merubah citra dinginnya dimanapun—kecuali didepan Minseok— menjadi penakut, sedikit hiperbola, juga sering menggerutu. Apalagi sudah berhubungan dengan Sehun dan mereka selalu bertemu tak lewat seharipun itu sungguh...
Menyenangkan untuk sekarang ini. Jongin terkikik kecil mendengar dengkuran halus Sehun, dan cara namja itu terlelap. 'Masih saja bisa menggerutu' ia tersenyum lagi.
Jongin mengusap kepala Sehun lembut kemudian bangkit dari posisinya dan hendak mematikan lampu tidur dimeja sebelahnya. Namun,
"Eungghhh—" Jongin menoleh kearah Sehun yang mengerjapkan kedua matanya. Matanya menyipit saat bertabrakan dengan cahaya lampu disampingnya, "K-kau sudah bangun?"
Sehun memiringkan posisi tidurnya, "Tidurlah." Kata Jongin sambil mengusap pipi Sehun.
Sehun memegang tangan Jongin dipipinya, "A-aku takut Jongin." Serunya sedikit bergetar. Suaranya masih serak. Jongin tersenyum tipis, "Apa perlu aku menemanimu?" dan Sehun mengangguk.
Jongin kembali duduk disamping Sehun, "Tidurlah disebelahku Jongin aku masih takut." Ia tahu, Sehun pasti masih terguncang dengan kejadian tadi. Tanpa menjawab ia langsung merebahkan tubuhnya disisi Sehun, kemudian menyamping sehingga mereka berdua bertatap muka.
Jongin mengusap kepala Sehun lagi, sedangkan Sehun merapatkan tubuhnya dengan Jongin lalu menyelipkan sebelah tangannya, ia memeluk Jongin. Tanpa berpikir lagi Jongin membalas pelukan Sehun, membawa namja manis itu kedekapannya yang lebih hangat dan nyaman.
'Kalau begini kau terlihat amat manis, tidak seperti setan as always.' Jongin kemudian memejamkan matanya.
.
.
.
.
"Ngghhhh—" lenguh Sehun saat ia merasa tidak nyaman dengan silauan cahaya yang masuk. Dan lagi, ia merasa tubuhnya didekap seseorang sehingga sangat sesak. 'Aigoo... Apa-apaan Kyungsoo memelukku seperti ini aish jinjja?!' gerutuan dipagi hari sudah mengisi hari Sehun saja. Sehun yang memang pada dasarnya tak bisa melihat siapa yang mendekapnya—dikiranya Kyungsoo— seperti ini mencoba bergerak-gerak agar terlepas dengan segera. Ini sangat sesak, sungguh!
"Ngghhhh—" lenguhan lain dari namja yang berbeda membuat kedua mata Sehun membulat. 'Aigoo—siapa ini?!' Oke ia mulai takut. Sebelah tangan yang memeluk Sehun dilepas begitu saja oleh 'orang' itu. 'Omo! Omo! Eomma! Aigoo.. aku dimana ini?' ia mulai menyadari bahwa plafon diatasnya ini bukan seperti dikamarnya! Bahkan warnanya sudah berbeda!
Sehun benar-benar takut, tapi ia malah memejamkan matanya dan tetap memeluk 'orang' itu. Astaga Sehun...
Sehun tersentak saat 'orang' yang mendekapnya tadi terduduk, membuat pelukannya terlepas begitu saja. Ia memutuskan memberanikan diri untuk membuka kedua matanya, 'Aigoo siapa ini?!'
'Orang' itu tengah menggaruk-garuk tengkuknya sesekali mengacak rambutnya sendiri, lalu mengusap-usap wajahnya yang masih mengantuk. Sehun sungguh tidak yakin karena ia tengah di'punggungi'.
1, 2—
Sehun mendelik, ia baru sadar kalau— ia mulai bangkit dan—
3
"Kyaaaaaaaaaaaa!" teriakan histerisnya membuat namja disebelahnya yang memang masih mengumpulkan setengah nyawanya lagi spontan—
"Kyaaaaaa!" membalas teriakan Sehun.
"Yak! Kau!" Oke, horror mode on lagi. Jongin membelalakan matanya,
Buukkk—Bukkk—Buukkk—
"Awwww—Aww Yak! Yak!" Sehun langsung memukuli Jongin bertubi-tubi, lalu menyerangnya dengan bantal yang ada, membekap Jongin dengan selimut dan, "Yaaak! Apa kau gilaaa?!" teriak Jongin tak kalah histeris setelah berhasil menyingkap selimut tebal yang membuatnya sesak nafas.
"Kenapa aku bisa disini?! Kau—" Sehun menunjuk Jongin tepat diwajahnya, "Kau namja mesum! Apa yang kau lakuk—" merasa dilecehkan, Sehun mengambil selimut bekas untuk membekap Jongin dan menutupi seluruh tubuhnya,
"Mwo?! Yak! Aku tidak melakukan apapun terhadapmu asal kau tau saja! Aisshh jinjja— kau mengharapkan apa? Aku akan memperkosamu begitu?!" Sehun mendelik.
'Baru saja semalam seperti itu, sekarang kumat lagi! Aish apa anak ini mengidap anterograde amnesia?! Dasar gila!' pekik Jongin miris dalam hati.
"Yak! Aku tidak gila!" Oke sepertinya Sehun dengar yang tadi,
"Aku tidak mengataimu gila!"
"Tapi aku tahu kau tengah mengucapkan bahwa aku 'gila' dipikiranmu kan?!"
"Ya kau memang gila! Dasar gila!" Jongin mulai geram.
"Yak! Dasar kau kep—hhmpphhh" Jongin ganti membekap Sehun, kali ini dengan bantal. Jauh lebih sadis. "Bisakah kau diam eoh? Kenapa kau selalu berisik?!"
Sehun mendorong bantal yang dibekapkan kewajahnya, "Apa yang kau lakukan padaku?!" ia mulai mengintimidasi. "Aku tidak melakukan apapun Oh Sehun!"
"Bohong! Apa yang kau lak—"
"Aku tidak melakukan apapun! Argh!" Sehun diam. Oke kali ini, Jongin sungguh menyeramkan. Lebih horror dari Sehun malah. "Lalu, bagaimana aku bisa disini?!" ia tak mau kalah ternyata.
"Menurutmu?! Coba kau pikir!" Jongin benar-benar sebal.
"Yak! Jongin! Yak! Kau mau kem—keparat!" Sehun mengumpat saat Jongin meninggalkannya sendirian di kamar—yang ia yakin kamar Jongin— sendirian. Dengan membanting pintu pula. "Arghhh! Dasar cabul! Mesum!" teriaknya lagi. Sepertinya Sehun tak pernah lelah memekik seperti itu.
Kriieet—
Tak lama pintu tersebut terbuka, menampakkan seorang Kim Jongin yang tengah membawa sesuatu, 'Kotak P3K?' Sehun mengernyitkan dahinya bingung.
Jongin diam didepan Sehun sambil menghela nafas pelan, "Biar kuobati lukamu."
Sehun menatapnya bingung, "Hhhh itu lukamu." Jongin mengarahkan dagunya menunjuk siku Sehun yang lecet parah. Ia tak sempat mengobatinya semalam, kau tahu sendirikan. Sehun melirik kearah sikunya yang ternyata "Omo! Bagaimana bisa ini—" Jongin mendengus. Anak ini benar-benar mengidap anterograde atau bagaimana sih?
Tanpa banyak bicara, Jongin langsung duduk disamping Sehun. Membuka kotak putih tersebut, mengambil obat merah, kapas, perban dan— "Yak! Apa maksudmu eoh?! Kau mau memberiku alkohol?! Apa kau gila?!" Jongin mendengus. "Tidak bisakah kau diam sebentar saja? Atau aku akan menyumpal mulutmu dengan kotak ini!" Oke, Sehun diam.
Ia menarik tangan Sehun dengan paksa dan "Arghhhh yak sakit!" Sehun menarik tangannya yang terasa perih dibagian siku. Jongin dengan tidak berperasaan menyiram lukanya dengan alkohol. "Shhhh—" ini benar-benar perih. Sehun memejamkan matanya, menggigit bibirnya. Ia tidak tahan sakit.
Jongin menghela nafas lagi, "Apa sangat sakit?"
Sehun meliriknya tajam, "Coba saja sendiri!"
"Maafkan aku ne?" Sehun mempoutkan bibirnya. Ia merajuk. "Oh ayolah, aku tidak akan menyiram alkohol lagi. Hanya saja.., berhentilah mengoceh sebentar saja, ini sungguh mengganggu." Akhirnya Sehun pun mengalah. Ia mengangguk pelan, membuat Jongin tersenyum kecil.
Ia pun meneruskan metode mengobati luka Sehun, kali ini dengan begitu hati-hati. Ia melirik kearah Sehun saat sedang melilitkan perban disiku namja manis yang ada dihadapannya ini, sungguh lucu. Sehun hanya diam, melihat-lihat kearah langit-langit kamar Jongin yang bercatkan biru langit. menampakkan sisi manis namja itu saat sedang diam.
Mereka ini, disebut teman tidak mau, pacar apalagi, kenal juga tidak, rival juga agak tabu. Mereka hanya sering bertengkar dan kebetulan selalu bertemu. Membuat pertengkaran yang sering mereka lakukan menjadi lucu jika diingat-ingat.
"Ehmm Jongin,.." Sehun menoleh.
"Hm?" Jongin langsung menunduk.
"Apa kau masih meneruskan bisnis kotormu itu?" Jongin reflek menarik perbannya sampai mengencang. "Yak!" Sehun memekik sakit.
"Apa kau masih mau membahas 'itu' lagi eoh? Jangan mulai Oh Sehun!" Jongin jadi agak dongkol.
"Yakan aku hanya bertanya!"
"Apakah itu penting?!"
"Tentu saja!" Jongin mendengus sebal. Anak ini, baru damai sebentar sudah mulai lagi.
"Aku sudah menutupnya." Jawabnya sambil kembali fokus pada luka Sehun. "Jeongmalyeo?"
"Ya! Oh Sehun kau cerewet sekali!"
Sehun tersenyum, "Baguslah kalau begitu. Kau tahu, menipu itu tidak baik!"
"Yak! Kenapa kau menyalahkanku seperti itu terus eoh?!" Jongin mulai kesal lagi. Sehun cemberut, "Ya memang kau suka menipu orang! Bisnismu itu begitu—"
"Kau sepertinya benci sekali denganku terutama pada—"
"Ya memang!" Jongin mulai jenuh jika begini terus. Tiba-tiba ada yang terbersit dibenaknya, "Kenapa kau ikut biro jodoh seperti itu eoh?" tanyanya santai. Sehun mendelik. Itu adalah privasi dan ia tentu saja tak mau membicaraka— "Kau suka sekali ikut campur urusan orang! Tentu saja itu privasi!" serunya mencoba setegas mungkin.
Jongin hanya menggeleng heran, "Aku hanya penasaran saja, kau seperti sangat butuh pacar saj—"
"Lalu bagaimana denganmu? Mengapa kau membuka jasa biro jodoh seperti itu eoh?!" Sehun memotong ucapan Jongin sebelum namja itu menuju yang lebih jauh. "Kau suka sekali ikut campur urusan orang! Tentu saja itu privasi!" Sehun jadi kesal 'That was what i told you!Argh!' erangnya frustasi.
"Yak!—"
"Mwoya?" Jongin kembali dengan kegiatannya.
"Itu kata-kataku!" Jongin hanya menggeleng tak peduli. Anak ini, kalau ditanggapi terus akan semakin berisik dan telinga Jongin sudah cukup pengang mendengar teriakan Sehun yang begitu memuakkan. Shit!
"Selesai!" seru Jongin senang, kemudian membereskan obat-obatan tadi kembali pada tempatnya.
"Ehmm.. Jongin-sii." Panggil Sehun pelan. Jongin menoleh, "Ne?"
"Gumawoyo." Sehun langsung menunduk, dan Jongin menatap namja didepannya heran. Ia tidak bisa percaya. "Untuk?"
Sehun memainkan jarinya, "Untuk yang semalam, kau sudah menolongku jadi—" Oh, anak ini tidak mengidap amnesia ternyata. "Terima kasih." Ucapnya lagi. Jongin hanya bisa tersenyum.
"Ne, cheonma." Mendengar itu Sehun mendongak. Melihat senyuman Jongin rasanya begitu... "Tapi tetap saja kau menyebalkan!"
"Yak!" Sehun tertawa kecil.
"Kau masih menganggapku menyebalkan setelah aku rela bersusah payah untuk menggendong tubuhmu yang tidak ringan itu dan membawamu kerumahku karena kau tak mau pulang eoh?!"
Sehun mempoutkan bibirnya lucu. Kini gantian Jongin yang tertawa. Rasanya Jongin akan rela membayar berapapun untuk momen seperti ini, agar sering terjadi diantara mereka.
"Dan terima kasih juga Sehun-ssi.." 'eung?' Sehun menatap Jongin bingung. "Untuk apa?"
"Tentu saja untuk pelukan yang semalam." Jongin menaik-turunkan kedua alisnya. "Yak! Aku itu hanya reflek! Jangan senang dulu! Kalau aku tidak ketakutan aku juga takkan—"
"Tetap saja kau mau memelukku, sebenci apapun kau padaku.." Oke, mood Sehun pada Jongin mulai buruk lagi. Ia merengut, seperti biasanya. "Yayaya oke oke, sudah jangan merengut begitu makin jelek saja kau Sehun!" dan Sehun langsung memukulnya sekali dengan bantal. Jongin tertawa lagi.
"Yak Jongin kau mau kem—"
"Mengembalikan ini sebentar, aku akan kembali." seru Jongin. Ia mulai beranjak sebelum, "Jangan lama-lama.." rengek Sehun.
"Yayaya Oh Sehun kau takut sekali sih kalau ku tinggal." Goda Jongin dan sukses membuat Sehun kesal. "Yak dasar menyebalkan!" Jongin langsung berlari kearah pintu kemudian menjulurkan lidahnya untuk meledek Sehun dari balik pintu.
"Ish!"
.
.
.
.
"Kenapa kau tak mau ku antar pulang semalam eoh?" tanya Jongin sekembalinya dari luar kamar.
"Aku hanya tak mau pulang dengan keadaan kacau." Seru Sehun pelan. Aigoo.. anak ini menjaga image ternyata. "Oh, begitu.." jawab Jongin pura-pura biasa saja.
"Ehmm.. Jongin-ssi?"
"Hmm?"
"Kenapa semalam kau bisa menolongku?" Jongin menegak salivanya kasar. Sepertinya kau kepergok basah Kim Jongin.
"Eum.. Maksudku, bagaimana bisa kau disitu? Aku tidak berniat menanyakan yang aneh-aneh hanya saja—"
"Aku hanya kebetulan lewat." Potong Jongin, Sehun hanya mengangguk mengerti. Kalau anak ini bertanya terus nanti kegiatan Jongin men-stalking Sehun gagal dong. Jongin bangkit dari posisinya, "Yak Jongin kau mau kemana?!" tanya Sehun sambil menarik tangan Jongin, ia agak kesal.
"Aku mau mengecek dapur, biasanya eomma meneriakiku untuk sarapan dan aku terkadang suka tidak mendengarnya."
"Ish, disini sajaa!" seru Sehun menarik-narik Jongin agar kembali duduk.
"Sebentar Oh Sehun!"
"Jongin!" Sehun terus menarik Jongin agar namja itu menemaninya disini. Ia tidak suka sendirian, terlebih ditempat orang asing. "Yak! Oh Sehun sebentar saja aishh!" Jongin mulai kesal, ia mencoba menampik tangan Sehun tapi tidak tega juga.
"Yak Oh Sehun!"
Dan pada akhirnya, Sehun menang menarik tangan Jongin untuk kembali duduk namun bukannya duduk Jongin malah tersandung kakinya sendiri—
Bukk—
Ia terjatuh dengan posisi tengkurap, juga menindih tubuh Sehun dan—
Chu!
Mata Sehun membulat saat bibir Jongin menempel di bibirnya. Sedangkan Jongin mati-matian menahan tubuhnya agar tidak menimpa Sehun, justru gagal dan malah ia mencium Sehun!
"Mphhh—" Sehun hendak mendorong Jongin sebelum,
"Jongin-ah sara—" ucapan seseorang dibalik pintu terhenti saat melihat apa yang ada didepannya.
Sehun dan Jongin terkejut saat mengetahui ada yang memergoki mereka saat sedang—
Jongin langsung bangun dari atas Sehun tanpa pikir panjang lagi, berdiri dengan agak tak seimbang. Aish kenapa eommanya harus masuk sih? "N-ne eomma?" tanyanya kikuk. Begitu pula dengan Sehun, ia langsung bangkit dari posisinya. Duduk sambil menunduk malu.
Mana mungkin kau berani menghadap kearah seseorang yang anaknya baru saja menciummu, didepannya eoh?
"Sarapannya sudah jadi." Seru eomma Jongin ragu-ragu kemudian beranjak dari tempat. Sesampainya dianak tangga, yeoja paruh baya tersebut hanya menggeleng heran dan mengedikkan kedua bahunya 'Aih taulah'.
"Yak! Kau!" Jongin menoleh.
"Dasar modus! Kenapa kau menciu—"
"Aku tidak sengaja, sungguh!" Jongin berusaha membela dirinya sendiri.
"Keparat kau Jongin!" umpat Sehun kesal. Ia merajuk lagi. Membuang mukanya kearah lain sambil melipat kedua tangannya didada. "Aish! Sudahlah! Eommaku sudah menunggu untuk sarapan."
Sehun menoleh kesal, "Setelah kejadian tadi.. didepan 'eomma'mu, kau masih mau mengajakku sarapan?! Bersama 'eomma'mu?!" Sehun berpikir anak didepannya ini sinting.
"Yak, setidaknya berusahalah terlihat tak terjadi apa-apa."
'M-mwo?!' Sehun membulatkan matanya, "Tak terjadi apa-apa kau bilang?! Semudah itu?!" teriaknya kesal. Oke, Jongin mengaku salah, tapi diakan tidak sengaja. Kalau saja Sehun tidak menariknya tadi dan—
"Kau sudah merenggut ciuman pertamaku! Dan sekarang aku harus berciuman untuk kedua kalinya, dan lagi-lagi denganmu! Argh!" Sehun mengacak rambutnya kesal.
"Ya, ya aku minta maaf." Seru Jongin pelan. "Anni, aku mau pulang sekarang!" pekik Sehun kesal.
"Sarapan dulu disini Sehun, kumohon. Kau boleh menginjak kakiku dibawah meja makan sepuasmu asal kau sarapan sebentar saja." Jongin memohon.
Sehun menghela nafasnya, "Eum, baiklah. Tapi antarkan aku pulang setelahnya!" dan Jongin tersenyum.
.
.
.
.
Sehun menyendok makanannya kaku. Ia benar-benar tidak berselera. Oh, ayolah bagaimana Sehun bisa berselera makan kalau tahu ia akan duduk berseberangan dengan eomma Jongin! Daritadi ia hanya menunduk, menyantap makanannya dengan kaku, terus seperti itu. Yang benar saja! Ia baru saja kepergok berciuman dengan Jongin, dengan posisi 'tumpang-tindih' malah! Dan sekarang harus bertatap muka dengan eommanya Jongin dan,
"Kau temannya Jongin, Sehun-ssi?" tanya yeoja tersebut. Tentu saja ia tahu nama Sehun karena Jongin sudah menceritakan sedikit tentang Sehun tadi pada eommanya saat sedang memasak. "Eumm—"
'Teman?! Yak! Bahkan aku tidak sudi menjawab ya atas pertanyaan 'apa kau mengenal Jongin?' Argh!'
"N-ne." Jawabnya final.
Eomma Jongin mengangguk pelan. Oh, Sehun benar-benar ingin pulang jika tahu begini.
"Hmppft—" Sehun langsung menoleh kearah Jongin disampingnya yang sedang menahan tawanya. Ia benar-benar kesal pada Jongin, bagaimana bisa ia tega menertawai Sehun disaat seperti ini.
"Argh!" Jongin mengerang sakit saat Sehun menginjak kakinya dengan amat kencang. Sehun menyeringai penuh kemenangan. Seperti janji Jongin, "Sarapan dulu disini Sehun, kumohon. Kau boleh menginjak kakiku dibawah meja makan sepuasmu asal kau sarapan sebentar saja" ingat?
"Kenapa Jongin-ah?" tanya eomma Jongin saat mendengar pekikan pelan anaknya.
"Ehmm.. A-anni eomma, rgh." Sehun menginjak kakinya lagi. Jongin menatap kesal kearah Sehun, Sehun balik menatapnya seperti 'Persetan denganmu Kim Jongin!'
.
.
.
.
"Yak! Oh Sehun kau kemana saja eoh?!" Luhan berteriak setibanya Sehun didepan rumahnya. Bersama dengan Appa Sehun, eomma nya begitupula dengan Kyungsoo.
Dan lagi, semua seolah bertanya-tanya dengan adanya Jongin disamping Sehun. "Kau kemana saja semalam eoh?! Kau tahu, Eommamu sangat khawatir begitu pula dengan ahjussi dan Kyungsoo! Aku bahkan diinterogasi dengan Dosen Jung sejak tadi pagi!" seru Luhan dengan nada meninggi.
Sehun hanya menunduk. Ia salah, caranya salah. Harusnya ia mengabari kalau sedang menginap dirumah teman atau apa agar semua orang dirumah tidak khawatir.
"Kau bahkan membolos di jam kuliah pagimu Oh Sehun!" oke, yang menghakiminya hanya Luhan. Semuanya hanya diam. Dan ini terasa sangat buruk. Karena, kalau eomma dan appanya diam berarti mereka kecewa pada Sehun. Ia lebih baik dibentak dan dihukum ketimbang didiamkan seperti ini.
Sehun menggigit bibir bawahnya, rasanya ia ingin menangis.
"Jangan diam saja! Jawab aku Oh Sehun!" Argh rasanya Sehun lebih suka dihakimi appanya ketimbang Luhan. Itu jauh terdengar lebih baik.
Jongin menatap Sehun disampingnya, bahu anak itu terlihat bergetar. Tidak jauh berbeda dengan keadaannya semalam saat ia takut.
"Kenapa kau diam saja?!" dan air mata Sehun lolos dari pelupuk matanya.
"Jangan menangis! Jawab saja aku!" Sehun mulai terisak.
"Oh Sehun jawab ak—"
"Tidakkah kau mengerti! Dia bahkan baru pulang dan menghakiminya seperti itu! Asal kau tahu, semalam ia hampir saja dilecehkan orang-orang jahat dijalan dan dia tidak berani pulang!" Jongin berseru sejelas-jelasnya. Ia membela Sehun. Ia tidak mau melihat Sehun disalahkan, karena namja itu tidak salah.
Sehun langsung berlari masuk kedalam rumah melewati semua anggota keluarganya yang menatap Jongin tak percaya. Terlebih Luhan.
"M-mwo?"
"Ya! Asal kau tahu, kalau saja aku tak ada disana, aku tak tahu Sehun sudah seperti apa sekarang."
TBC
Annyeong, aduh maaf banget balesan review kalian yg kemaren ada yg ilang namanya.. gatau kok bisa ilang aduh sorry banget. tapi kalian review eonni seneng bangett sebanget nget nya yang udah setia nunggu ini ff. terharu... ya chapter yang kemaren memang masih kurang jelas jadi disini ada beberapa penjelasan. there must be a reason :) see you next chap ya! phai phai
