The Love Curse

Main Cast: Sehun, Jongin

Other Cast: Luhan, Chanyeol, Kris, Kyungsoo, Minseok, Baekhyun, etc.

Genre: Romance, Friendship, Family.

Disclaimer: This story was of my own imagination, not the others and anybody else. EXO belong to Smet, their god, parents, and their own.

Warning: Crack Pair, typo, BoysLove!

Summary: Sehun yang jengah dengan ejekan 'jomblo' dari teman-temannya dan seolah semua terdengar seperti kutukan. Namun, bertemu Jongin sang biro jodoh laknat justru jauh lebih buruk dari kata 'kutukan'.

Chapter 6

Happy Reading~

Sudah sekitar beberapa jam, namun Sehun tetap tak mau keluar dari kamarnya. Perasaannya kacau, sungguh. Ia masih menangis sesenggukan sambil berbaring dan memeluk bantal erat. Sangat erat apalagi saat tangisannya berada pada puncaknya.

Tok—Tok—

Ketukan pelan terdengar jelas ditelinga Sehun. "Sehun-ah." Sehun makin memejamkan matanya.

Itu suara Luhan. Luhan hyungnya yang menyeramkan jika sedang memarahinya seperti, tadi siang. "Sehun-ah, buka pintunya." Seru Luhan pelan. Dibalik pintu kamar Sehun, terlihat raut wajah Luhan yang begitu merasa bersalah. Ia tidak tahu, jika Sehun hampir dijahati orang setelah pulang dari kafe kemaren sore. Setelah mereka bertengkar.

"Sehun-ah maafkan hyung ne? Hyung tidak tahu, sungguh."

Sehun diam. Luhan menghela nafasnya, "Hun, andai aku tidak membuatmu kesal kemarin pasti ini takkan terjadi." Sehun tetap diam. "Tapi, tetap saja kau salah kalau tidak mengabari orang-orang dirumah." Mendengar itu Sehun makin terisak. Hyungnya menyalahkan dia lagi.

"S-sehun-ah." Luhan semakin merasa bersalah mendengar isakan Sehun, ternyata anak itu masih menangis. "A-aku tidak bermaksud menyalahkanmu sungguh."

"Hun..." isakan Sehun masih terdengar jelas dari balik pintu.

"Apakah kau begitu takut saat aku memarahimu hm? Aku semenyeramkan itu kah?" Luhan menghela nafas kasar. "Setidaknya makan lah, ini sudah malam. Kau sudah dikamar hampir seharian."

Sehun tak kunjung menjawab. "Jangan membuatku makin merasa bersalah dengan membuatmu sakit karena tak makan."

"Maafkan aku."

Cklek—

Sehun membuka pintunya. Namja itu hanya menunduk, ia masih terisak. "Aigoo.. maafkan hyung." Luhan memeluk adik sepupu tersayang itu. "Maafkan hyung ne?" Sehun mengangguk pelan.

Luhan tersenyum tipis, "Sudah jangan menangis." seru Luhan sambil mengusap air mata Sehun. Sehun hanya menunduk tanpa mengatakan apapun. "Kajja, kita makan." Luhan menarik tangan Sehun pelan menuju ruang makan.

.

.

.

.

"Kau tak apa-apa Sehun-ah?" tanya Chanyeol setelah jam kuliah paginya selesai ketika melihat mata Sehun yang sembab. Sehun pasti habis menangis. Dan, Chanyeol tahu betul anak ini jarang menangis, bahkan tak pernah.

"A-anni, g-gwechanha." Sehun berusaha tersenyum. Wajahnya terlihat agak pucat, dan sungguh kacau.

"Kau yakin?"

"Y-ya." Sehun dan Chanyeol tengah duduk ditaman belakang gedung fakultas. "A-apa kau bertengkar lagi dengan Luhan setelah dari kafe kemarin?" tanya Chanyeol lagi, kali ini dengan hati-hati. Sehun menoleh. "Ehmm.. begitulah."

Sehun memandang kearah lain. Chanyeol kenal betul, Sehun tidak akan pernah mengalihkan tatapan dari orang yang sedang berbicara dengannya. Karena, Sehun sangat menjunjung tinggi rasa hormat. "Kenapa aku merasa kau lebih tertutup akhir-akhir ini?"

Sehun menghela nafas, "Aku hanya tidak tahu harus bercerita apa padamu, Yeol." Memang, Sehun tak pernah menutupi perihal apapun dari Chanyeol kecuali tentang,... Jongin tentu saja. Dan ia merasa hal itu tidak perlu diceritakan. Luhan saja tidak tahu. Maksudnya, tentang masalahnya dengan Jongin selama ini. Dan ia sudah mengancam Kyungsoo untuk tidak menceritakan perihal namja itu ke siapapun.

"Aku juga terlalu sibuk memikirkan bahan skripsi." Dan Sehun memang sedang jujur. Chanyeol menghela nafasnya, "Jadi ini, hanya karena kau bertengkar dengan Luhan?"

Sehun mengangguk. "Tapi kami sudah baikkan." Chanyeol mengernyitkan dahinya, "Lalu,.. Kenapa kau masih terlihat—"

"Ya, tapi pikiranku saja yang masih kacau. Aku juga tidak tahu kenapa."

Chanyeol merangkul pundak sahabatnya, "Aku yakin setelah ini kau akan merasa lebih baik." Serunya tersenyum. Dan begitupula dengan Sehun yang membalas dengan senyum tipisnya. Sahabatnya, sungguh mengerti dirinya. Chanyeol itu tipe orang yang akan mendengar semua keluh kesah Sehun, tapi tak pernah memaksa Sehun menceritakan suatu hal yang memang ingin ia tutupi. Tipe pendengar setia, namun tidak suka sok mau tahu urusan orang.

"Gumawoyo."

.

.

.

.

Sehun masih trauma dengan kejadian lusa lalu, jadi... ia memutuskan sudah pulang saat sore segera setelah kegiatan dikampusnya berakhir. Ia berjalan sendirian, tidak benar-benar sendiri karena disini justru sangat ramai saat sore. Dan itu membuat Sehun sedikit, aman.

Sehun menatap bingung kearah seorang yang tengah berdiri didepan rumahnya. Dengan cepat ia langsung berjalan menghampirinya.

"Eoh, Jongin-ssi?"

Yang dipanggil pun menoleh, "Kau sudah pulang?"

Sehun mengangguk, "Kenapa diluar, masuk sa—"

"Anni." Jongin memotong kalimat Sehun.

"Kenapa?" Sehun menatap Jongin bingung. "Tadi orang tuamu sudah memaksa tapi aku bersikeras menunggumu didepan." Sehun menatap Jongin bingung. "Aku ingin mengajakmu keluar."

.

.

.

.

Jongin sedikit senang saat tadi Sehun justru menyuruhnya masuk kerumah, bukan malah mengusirnya seperti biasanya. Setidaknya Sehun sudah tidak membencinya kan?

Mereka berdua sudah merasa lelah dan memutuskan mencari bangku disebuah taman yang agak ramai malam ini. Ditangan Sehun sudah ada segelas bubble tea dan seporsi kecil tteokbokki. Jongin sungguh tidak tahu kalau Sehun penyuka manis dan pedas. Ya, dia jadi mendapat beberapa fakta tentang Sehun jika begini.

"Aish jinjja, kakiku rasanya mau patah." Sehun mulai merengek. Suasana hati Sehun sudah membaik sepertinya. Jongin tersenyum, "Dasar manja!" serunya sambil mengusak rambut Sehun. "Ish! Berantakan Jongin!" Sehun mempoutkan bibirnya sambil merapikan tatanan rambutnya. Aih, anak ini menggemaskan sekali. "Yaaak! Jongin! Sakit!" Sehun mulai berteriak ketika Jongin mencubit pipinya kencang.

"Aigoo... Kau sungguh menggemaskan." Jongin mengeraskan cubitannya.

"Arghh yaak! Jongin!" Jongin tertawa melihat ekspresi Sehun kemudian melepaskan cubitannya. Dan, alhasil, pipi Sehun keduanya memerah. "O-omo! Sehun-ah maafkan aku!" ternyata mereka berdua sudah akrab ya.

Sehun mengusap kedua pipinya sambil meringis. "Apakah sangat sakit?"

Sehun cemberut sekarang, "Ya sangat sakit! Dasar kau jelek menyebalkan! Aku akan membencimu sampai kapanpun!" Oke, kebiasaan lamanya kambuh. Ia memukuli Jongin dengan anarkis, lagi.

"Yak! Yak! Berhenti!" Jongin menahan pukulan Sehun dengan kedua tangannya. "Oh Sehun!" Sehun tetap memukulinya. "Berhenti atau aku akan menciummu lagi!" Dan Sehun langsung berhenti. Ia kembali cemberut.

Jongin tertawa, "Yak! Kau menyebalkan! Aku pulang saja kalau beg—"

"Heyy! Mau kemana kau?" Jongin menarik tangan Sehun saat ia hendak berdiri. "Pulang." Jawabnya ketus sambil membuang muka.

Jongin menggeleng-gelengkan kepalanya, "Aigoo, begitu saja marah. Nanti jelek loh." Sehun menoleh kearah Jongin dengan kesal. "Aku pulang saja kalau begini caranya." Sehun langsung berdiri.

"Ya! Yaya, Sehun-ah aduh.. maafkan aku ya? Aku yang salah oke? Sekarang kau duduk, pulangnya nanti saja." Jongin memohon dan menarik Sehun untuk kembali duduk.

"Apa? Aku tidak dengar?" Oh, Sehun mencoba menggoda Jongin ternyata. Ck, Jongin baru tahu anak ini jauh lebih manja dari perkiraannya. "Oh Sehun yang manis, menggemaskan maafkan Kim Jongin ne? Jangan pulang dulu. Pulangnya nanti saja ya." Sehun menyeringai.

"Kau bilang apa? Aku tidak dengar?" Jongin sedikit geram. "Pulangnya nanti saja ya, atau kucium kau depan orang-orang diseluruh taman ini!"

"Yak!" Sehun memukul lengan Jongin. "Ck, Dasar." Jongin terkikik geli.

"Jongin-ah."

"Hmm?"

"Apa kau sering berciuman?" Jongin mendelik, 'What the hell is—'

"Yak! Kenapa kau menanyakan itu?!"

"Habisnya kau sudah menciumku dua kali dan bilang tidak sengaja, dasar modus!"

"Yak! Aku memang benar-benar tidak sengaja!" Jongin memang tidak sengaja kan.

"Ck, mukamu saja sudah mesum begitu, mana bisa aku percaya."

Jongin memijit pelipisnya, "Ya, ya terserah kau! Lalu apalagi pendapatmu tentangku eoh?"

"Ehmm.." Sehun melirik keatas, pura-pura berpikir. "Kau mesum, tukang tipu—" 'Yak! Dia masih mau membahas ini lagi?!'

"Dan aku yakin kau itu bajingan yang sering tidur dengan—"

"Yak! Yak! Hentikan!" Jongin mulai sebal, ia tidak terima tentu saja. Itukan, Jongin yang..., dulu.

Sehun merengut, "Kau bilang pendapatku tentangmu!"

"Ya memangnya aku seburuk itu apa?!" Jongin mulai kesal.

"I-ya." Oke sehun sangat menyebalkan jika begini. Namun, seringaian tiba-tiba terukir dibibir Jongin. "Owh, oke kau menganggapku seperti itu, dan jika menurutmu itu benar aku bisa membuktikannya."

Sehun menatap Jongin dengan 'Maksudmu?' seringaian makin jelas dibibir Jongin.

Tiba-tiba Jongin memeluk pinggang Sehun dengan kedua tangannya, menariknya mendekat saat mereka sedang berhadapan seperti ini dan ini semakin bagus bagi Jongin. Sehun membelalakkan matanya, "Yak! Yak! Apa yang mau kau lakukan?!" Sehun mulai meronta. "Menurutmu aku seperti itu kan? Seperti yang kau katakan. Jadi, akan aku buktikan kalau yang kau katakan itu benar." Sehun mendelik. 'Yak! Aku hanya bercanda!' Sehun memang sungguh-sungguh tak berniat mengatakannya. Ia hanya ingin menggoda Jongin, tapi namja itu malah menganggapnya serius. "Jongin-ah! Aku tidak bersungguh-sungguh. Aku hanya bercanda sungguh! Jongin! Jongin! Lepaskan!" Sehun mulai berteriak histeris saat wajahnya dan Jongin sudah sangat dekat.

"Anni, kau mengatakannya dengan sungguh-sungguh." Jongin berteriak girang dalam hati. Diposisi seperti ini dengan Sehun, sungguh sangat... menyenangkan. "Jongin! Hentikan!" Sehun tidak berani membuka matanya, ia tahu Jongin berniat untuk menciumnya(lagi) jadi ia terus menampik wajah Jongin agar makin menjauh namun tetap saja.

"Jong—Hmmph" terlambat kau Oh Sehun.

Jongin sudah lebih dulu meraup bibir Sehun. Sedangkan Sehun yang memang tidak terima terus memukuli punggung Jongin yang memeluknya erat. Namun, lama kelamaan ia tak sanggup.

Jongin melumat bibirnya dengan begitu lembut dan oke ini sungguh memabukkan. Ini nikmat. Argh, ia tak tahu harus bagaimana.

Namun, ia masih waras dan punya akal sehat untuk tidak menerima perlakuan Jongin yang seperti ini. Ia tetap berusaha memukuli punggung Jongin, menarik rambut namja yang mencumbunya agar sekalian rontok. Dan bukan Jongin namanya kalau ia mengalah.

Ia terus melumat bibir Sehun yang begitu pasif, namun dengan mulut Sehun yang terbuka membuat ini semua begitu mudah. Sehun kini memukul dada Jongin karena ia butuh oksigen. Jongin pun melepas tautan bibir mereka.

"Hhh—hhh" keduanya terengah. Sehun memukul lengan Jongin. "Yak! Apa kau gila eo—" dan Jongin meraup bibirnya lagi sebelum perkataannya selesai. Dan pasokan oksigen yang dihirupnya belum cukup! Kali ini, Sehun sepertinya jatuh pada pesona Jongin. Ini gila sungguh. Namja itu terus melumat bibirnya yang terbuka dan mau tak mau ia dituntut untuk membalas perlakuan Jongin karena namja ini tidak akan selesai jika Sehun tidak mau.

Sehun membalas lumatan Jongin, dan Jongin tersenyum disela ciuman mereka berdua.

.

.

.

.

Sehun sedari tadi hanya menunduk. Ia malu. Tentu saja. Sepanjang perjalanan pulang yang Jongin lakukan hanyalah menggandeng tangannya erat, dan menciumi pipinya jika ada kesempatan. Sebenarnya ini sungguh menyenangkan, rasanya sedikit menggelitik dan Sehun terlalu malu untuk mengakuinya.

Mereka berdua tiba didepan rumah Sehun, Sehun masih saja menunduk. Jongin tersenyum, "Kenapa kau menunduk begitu eoh? Ini sudah sampai, kau tidak mau pulang?"

"Tentu saja aku mau pulang." Sehun mulai mendongak. Mencoba bersikap senormal mungkin. Jongin tahu, anak ini pasti masih mengingat ciuman mereka tadi.

Jongin mendekat ke telinga Sehun, "Apa perlu aku mengajakmu menginap dirumahku dan kita tidur bersama hm? Kali ini metodenya beda." Bisiknya sensual membuat Sehun geli dan merinding. "Yak! Apa maksudmu?!" Oh, jangan lagi.

"Aish, jangan berteriak seperti itu! Atau aku akan benar-benar membungkusmu kerumahku!" Sehun mempoutkan bibirnya lucu, Jongin tertawa kecil. "Jja, sana masuk." Serunya sambil mengacak rambut Sehun. Sehun menampik tangan Jongin dengan kesal.

"Yayaya sudah sana pergi! Dasar kau menyebalkan!" seru Sehun tak mau kalah.

Jongin hanya mengangguk, Sehun kemudian berjalan meninggalkan Sehun sebelum, "Sehun-ah!" panggilan Jongin sukses membuatnya menoleh.

"Mwoy—Hmmphh" Jongin menciumnya lagi. Tepat saat Sehun belum menyelesaikan ucapannya. Selalu begitu. Dasar modus!

Jongin menarik tengkuk dan pinggang Sehun agar merapat. Membuat lumatan-lumatan kecil yang sungguh memabukkan. Sehun memukuli dada Jongin, membuat Jongin harus melepaskan ciuman mereka. Sehun terengah, "Ish berhenti menciumku!" teriaknya kesal. Jongin tertawa lagi, "Yayaya, sana masuk." Serunya pelan sambil mengusap puncak kepala Sehun.

Sehun hanya mengangguk sambil tersenyum, kemudian meninggalkan Jongin hingga ia menghilang dibalik pintunya.

Membuat seseorang dibalik kaca jendela menatap tak percaya akan,.. yang dilakukan hyungnya.

.

.

.

.

Deg—Deg—

Sehun berbaring asal diatas ranjangnya sambil memegangi dadanya yang terasa tak keruan, belum lagi nafasnya yang begitu terburu. Ini benar-benar gila. Bagaimana ia menerima ciuman dari Jongin, dengan begitu saja?

Kali ini ia meraba bibirnya yang sedikit bengkak,

Deg—Deg—

Oke, ini benar-benar gila! Sangat gila! Ia bahkan masih membayangkan adegan tadi. Ya, adegannya saat berciuman dengan Jongin. Sehun memejamkan kedua matanya rapat-rapat, meremas bagian bawah pakaiannya, dan menggigit bibirnya sendiri.

Nafasnya makin terburu dan,

"Aish! Kau bodoh Oh Sehun! Pabo! Pabo!" gerutunya sambil memukuli kepalanya sendiri. "Aish, jinjja, bagaimana aku mau saja diperlakukan seperti itu?!" erangnya sambil menjambaki rambutnya sendiri. Ini membuatnya sungguh merasa frustasi. Amat sangat!

Ia mengambil bantal disampingnya, kemudian memeluknya dengan erat.

Deg—Deg—

"Aishh,, Kenapa ini tidak bisa berhenti?!" kali ini ia memukul-mukul dadanya sendiri. Tepat dijantungnya, yang berdetak begitu kencang.

Pikirannya menerawang jauh pada pernyataan, 'Apa aku menyukai Jongin?' Dan ia langsung membelalakkan matanya. "Yak! Pabo! Ish, bagaimana aku bisa berpikir seperti ini? Aigoo.." Ia benar-benar merasa pusing. "Annieyo, anni Oh Sehun tidak mungkin menyukai Kim Jongin, bahkan niatku diawal ingin membunuhnya." Ia menjambak rambutnya lagi.

"Yak aku bisa gila kalau begini caranya!"

"Masa iya aku jatuh cinta dengan namja mesum seperti si brengsek Jongin itu?!"

Disisi lain, Jongin tengah berjalan memasuki rumahnya sambil bersiul. Sesekali ia tersenyum seperti orang sinting, bahkan tertawa sendiri. Menunduk sambil merona merah, kemudian mendongak entah menerawang kearah mana. Yang jelas, menerawang jauh kearah Oh Sehun.

"Aigoo, kenapa anak eomma senyum-senyum sendiri?" tanya eomma Jongin yang sedang memasak ketika Jongin melintas didapur. Jongin menggigit bibirnya, 'Kenapa anak ini?' dan raut wajahnya terlihat malu?

"A-annieyo eomma." Jawab Jongin gugup, namun ia masih terlihat begitu aneh dan kikuk didepan eommanya.

"Yak! Kenapa kau eoh? Kau habis mencium si Sehun lagi ya?!" Jongin mendelik, 'Kok eomma tahu?' Haish dasar. "Kenapa diam saja?" yeoja itu melanjutkan acara mengaduk sayurnya, "Eomma benar kan?" Jongin hanya duduk sambil menyandar dimeja makan.

Yeoja tersebut menggeleng, "Ck! Dasar mesum!"

"Yak! Eomma!" Eomma Jongin terkikik geli saat ia berhasil menggoda anak manis nya ini. "Jangan suka mencium Sehun sesukamu, dia itu anak orang tahu! Nanti kalau ada apa-apa eomma tidak mau dituntu—"

"Eomma!" Jongin mulai kesal. Eommanya suka sekali meledek Jongin. Eommanya tertawa lagi. "Dasar!"

Jongin merengut, "Apa kau menyukainya hm?" SKAK MAT!

Kenapa eommanya menanyakan itu? Aih. Jongin terkejut, namun berusaha senormal mungkin. Ia menstabilkan nafasnya, kemudian berdehem, "Ehm.. itu—"

"Jujurlah pada eomma, kan kau sudah berjanji tak menutupi apapun dari eomma kan?" Jongin hanya mengangguk pela. Ia menghela nafas, "Jadi, kau menyukainya?" kali ini ia fokus pada Jongin, berhenti dengan kegiatan mengaduk sayur yang dimasaknya.

"A-aku tidak yakin eomma tap—"

"Jawab saja Kim Jongin!"

Jongin mengangguk ragu. Nyonya Kim tersenyum, "Kalau begitu kejar dia." Jongin mendongak, melihat kearah eommanya, menatap dengan tidak percaya. Yeoja itu tersenyum, "Kejarlah kalau kau suka dia, daripada dia keburu diambil orang lain kan?" Jongin menunduk lagi. Ia benar-benar tidak yakin.

"Lagipula kalian sudah berciuman kan jad—"

"Eomma!" Ish, eommanya jahil sekali. Nyonya Kim tertawa, "Hey, jangan hanya karena kau suka dengannya, kau menciumnya dengan sesukamu lalu meninggalkannya begitu saja ya." Jongin mendelik, "Eomma tidak suka dengan orang yang tipenya seperti itu!"—seperti appa Jongin. Jongin menunduk, eommanya benar. Ia memang dulu bajingan, sama seperti appa Jongin, yang meninggalkan eommanya setelah—berhasil membuahkan Jongin. Tapi, ia tidak pernah menghamili anak orang ya! Hanya bercinta dengan seorang slut yang bisa berganti-ganti tiap malamnya dan—

Tapi, ia sudah berubah. Ia sudah sadar itu salah dan karena, karena ia sudah bertemu Sehun, namja itu yang merubahnya dan membuatnya begitu, menyukai Sehun.

Untuk pertama kalinya ia benar-benar tulus pada seseorang dan, ia tak mau merusak Sehun tentu saja. Ia masih terlalu waras untuk melakukan itu sekarang.

Kecuali mencium Sehun sih.

Eomma Jongin tersenyum, "Jja, sana mandi! Dasar Jorok!" Jongin langsung cemberut dan berlalu meninggalkan eommanya menuju kamarnya. Eomma Jongin hanya menggeleng heran melihat anaknya. Hubungan Jongin dan eommanya begitu hangat, yang paling ia senang dari Jongin adalah.. anak ini tidak pernah menutupi suatu hal dari eommanya.

.

.

.

.

"Eomma aku berangkat dulu!" teriak Sehun sesampainya diambang pintu rumah. "Ne, hati-hati!" Sehun tersenyum kearah eommanya, kemudian berlalu. Anak itu, terlihat sangat bersemangat sepertinya hari ini. Eomma Sehun menggeleng heran, "Dasar anak aneh!"

"Eomma Sehun hyung mana?" tanya Kyungsoo tiba-tiba, memakai sepatunya dengan terburu-buru. Eommanya mengernyitkan dahinya, "Sudah berangkat memangnya kenapa?"

"M-mwoya?! Dia meninggalkanku?! Aish jinjja!" Kyungsoo langsung berdiri setelah selesai, "Eomma aku berangkat dulu!" serunya sambil cepat-cepat membenarkan tas punggungnya, "Yak! Hyung! Tunggu aku!" teriaknya sambil langsung berlari meninggalkan rumahnya. "Hati-hati!" teriak eommanya.

Rasanya tenggorokan Kyungsoo benar-benar kering, sedari tadi ia meneriaki hyungnya dan terus berlari. Mereka kan sudah janji akan berangkat bersama. Tapi, Sehun malah dengan gampangnya meninggalkannya begitu saja. "Yak! Hyung!" teriak Kyungsoo lagi. Perasaan ia menyusul hyungnya dengan berlari daritadi, tapi kenapa rasanya susah sekali untuk—

"Shit!" umpatnya saat tali sepatunya lepas dan menyandung kakinya sendiri. Untung ia tak sampai jatuh. Ia cepat-cepat jongkok dan membenarkan tali sepatunya dengan terburu, ia sudah benar-benar telat. 10 menit lagi ia masuk, kalau ia ketinggalan bus—

"Mati aku!" ia jengkel dengan tali sepatunya yang tak kunjung terikat dengan benar.

Sedangkan Sehun dengan santainya berjalan, dan parahnya, ia menyumpal kedua telinganya dengan headset! Pantas saja daritadi Kyungsoo berteriak tapi ia tak mendengarnya. Baru sampai dihalte, bus sudah berhenti didepan Sehun dan ia langsung menaikinya.

Kyungsoo membulatkan matanya saat melihat hyungnya sudah naik bus, "Yes!" tali sepatunya sudah terikat dengan rapi, "Hyung! Tunggu aku!" teriaknya kencang, mengundang pandang heran dari orang-orang yang tengah berlalu lalang, belum sampai dihalte tiba-tiba saja busnya melaju.

"Yak! Yak! Omo! Yak! Ahjussi berhenti!" teriaknya makin histeris saat busnya sudah... meninggalkannya dihalte.

"Argh!" ia menjambak rambutnya frustasi, "Keparat! Yak! Bajingan! Fuc— Fuc—!" serunya kesal sambil menendangi tong sampah disitu.

.

.

.

.

"Yeol kau kelebihan beberapa bahan untuk skripsi tidak?" tanya Sehun setelah jam kuliah siangnya selesai. Mereka tengah berjalan menuju gerbang utama, berhubung Kris ada beberapa kesibukan yang mengharuskannya meninggalkan Chanyeol, jadi, ia pulang bersama dengan Sehun.

Chanyeol menoleh, "Ehm.. sepertinya aku punya banyak tapi dirumah."

"Boleh aku pinjam beberapa ya? Ya? Yang tidak kau pakai saja! Aku sudah mencari bahan-bahan yang kurang diperpustakaan tapi sudah banyak yang meminjamnya." Sehun memohon dengan memasang puppy eyesnya yang sungguh,.. disgusting.

"Yak! Tidak perlu seperti itu! Ish, kau sangat menjijikan jika begitu!" Sehun mempoutkan bibirnya.

"Hahaha, tentu saja boleh, ambil berapapun yang kau mau. Ayo!" Chanyeol menarik tangan Sehun untuk segera pergi.

"T-tapi aku tidak bisa kalau sekarang!"Sehun menghentikan langkahnya, membuat Chanyeol berhenti juga.

"Hh? Kenapa?" ia mengernyitkan dahinya bingung.

"Malas. Ehehe.." dan Chanyeol melihat Sehun dengan datar.

"Ck! Dasar! Yasudah kapan kau mengambilnya? Bilang saja takutnya Kris mengajakku kencan sewaktu-waktu." Sehun berpikir,"Ehmmm—"

"Sehun-ah!" teriak seseorang membuat keduanya menoleh. "Hey, siapa itu Hun?" tanya Chanyeol dengan menyikut lengan Sehun. "I-itu—" tidak mungkin kan Sehun akan bilang kalau itu temannya? Sepakat untuk berteman saja tidak!

"Ayo pulang denganku!" seru Jongin setibanya dihadapan Sehun, dan langsung menggandeng tangan Sehun. "Yak! Tapi aku akan pulang bersama—"

"Sudah tak apa-apa." Chanyeol mengedipkan sebelah matanya, 'M-mwo?!' Sehun mendelik. Geez, anak ini pasti mengira yang tidak-tidak. "Benarkah boleh?" Jongin tersenyum penuh harapan.

"Tentu saja boleh! Yasudah sana!"

"Yak! Park Chanyeol!" Sehun berteriak 'minta tolong' ketika Jongin langsung menariknya dengan paksa.

"Bersenang-senanglah!" teriak Chanyeol girang sambil melambaikan tangannya, "Oiya! Kerumahku besok rabu minggu depan saja!" teriaknya lagi. "Yak! Awas kau Park Chanyeol!" teriak Sehun histeris dari kejauhan.

Chanyeol terkikik geli, "Ck! Dasar anak itu! Pasti itu pac—Omo!" ia baru menyadari sesuatu. "Sehun punya pacar?" kemudian ia tertawa dan menggelengkan kepalanya heran.

.

.

.

.

"Yak! Mau mu apa sih?!" Sehun berteriak kesal ketika Jongin berhasil membawanya masuk kedalam mobil. Jongin menutup pintu mobil, "Mau ku? Mengajakmu pulang bersama tentu saja."

"Tapi kan aku mau pulang dengan temanku tadi!"

"Aish, berhentilah meneriakiku." Sehun merengut, "Memang kau pantas diteriaki, dasar menyebalkan!"

Sehun melipat kedua tangannya didada, sampai ia menyadari sesuatu. Jongin melajukan mobilnya keluar dari area universitas, "Bagaimana kau tahu tempat kuliahku eoh?" Sehun memincing penuh intimidasi kearah Jongin.

"Menurutmu?" Sehun berdecak, 'Pasti si ember Kyungsoo itu! Awas kau! Kubunuh kau nanti dirumah!' pekik Sehun dalam hatinya.

Jongin tersenyum penuh kemenangan. Ternyata rasanya sangat mudah untuk menculik Sehun. Sehun hanya membuang mukanya kearah luar jendela, kau tahu ia masih trauma dengan yang kemarin. Ia takut kalau sewaktu-waktu Jongin akan menci—lecehkannya lagi.

Sebenarnya rasanya sedikit menyenangkan—ia terlalu malu untuk mengakuinya—tapi tetap saja itu sungguh,

Ckiitt—

Jongin menghentikan mobilnya secara mendadak, membuat Sehun terlonjak kaget karena kepalanya hampir terbentur dashboard mobil. "Yak! Apa kau gi—Hmpphh" Jongin menyambar bibirnya, lagi. Sehun membelalakkan matanya tak percaya. Namja ini, sungguh sangat.

Bukk—Bukk—

Pukulan Sehun membuat Jongin menghentikan kegiatannya. Sehun menatap Jongin dengan sebal, namun perasaan dag-dig-dug berbalap cepat tepat didadanya. Jongin meraba pipi kiri Sehun, gemuruh dijantungnya benar-benar..

"aku menyukaimu"

TBC

Annyeong! Aihh kalian hobi teror eonni ternyata wkwkkwk. gimana kalo eonni setahun baru update coba? wkwkkw. maaf ya kalo masih ada yang typo atau apa perasaan eonni sih udah cek, mungkin eonninya masih kurang teliti. Review yang banyak! See you next chap!