The Love Curse
Main Cast: Sehun, Jongin
Other Cast: Luhan, Chanyeol, Kris, Kyungsoo, Minseok, Baekhyun, etc.
Genre: Romance, Friendship, Family.
Disclaimer: This story was of my own imagination, not the others and anybody else. EXO belong to Smet, their god, parents, and their own.
Warning: Crack Pair, typo, BoysLove!
Summary: Sehun yang jengah dengan ejekan 'jomblo' dari teman-temannya dan seolah semua terdengar seperti kutukan. Namun, bertemu Jongin sang biro jodoh laknat justru jauh lebih buruk dari kata 'kutukan'.
Chapter 8
Happy Reading~
Chu—!
Ia mengecup bibir Sehun sekilas. Pipi Sehun yang putih pun merona merah karena perlakuan Jongin, ini sungguh manis! "Nado." Jawabnya singkat membuat Jongin tersenyum begitupula dengan Sehun yang sedikit malu.
Ia terlalu malu bertatapan mata langsung dengan Jongin, ia hanya menunduk.
Jongin mengangkat dagu runcing Sehun dengan telunjuknya sehingga pandangan mereka saling bertemu. Ia mendekatkan wajahnya perlahan, membuat Sehun merasakan betapa hangatnya nafas Jongin, Sehun memejamkan matanya begitupula dengan Jongin yang makin mendekat lalu—
Mencium Sehun dengan lembut.
Ia mengeratkan lingkaran tangannya dipinggang Sehun, sebelah tangannya menuntun tangan lentik Sehun untuk melingkar dilehernya. Dan Sehun menurut. Satu tangan Jongin menarik tengkuk Sehun untuk lebih memperdalam ciuman mereka.
Tangan Sehun yang satu lagi memegangi pipi Jongin. Merasakan bagaimana Jongin menyesap bibirnya perlahan, sedikit demi sedikit. Sehun mulai menikmati ini.
Jongin menyeringai, dan mulai berani menjahili kekasihnya. Ia menjejalkan lidahnya agar masuk dan bertemu dengan rongga mulut kekasihnya. Membuat Sehun kali ini merasa kesulitan bernafas. Ia suka saat Jongin menciumnya, tapi, ia benci jika organ respirasinya terpaksa berhenti karena kegiatan ini.
Semakin lama, ciuman mereka semakin panas dan Jongin mengajak lidah pasif Sehun untuk beradu dengan miliknya. Sehun yang memang dasarnya sudah kehabisan nafas malah memukuli punggung Jongin yang mendekapnya erat, belum lagi milik mereka berdua dibawah sana yang tanpa sengaja bersentuhan membuat—
"Eunnghh—" Sehun melenguh.
Ia terus memukuli Jongin, namun Jongin malah mendorong Sehun dan menindih tubuh kekasihnya dibawahnya dan meneruskan 'ciuman' panas mereka.
.
.
.
.
Terik matahari yang menembus gorden tebal Sehun, membuat namja itu mau-tidak mau terbangun karena cahaya yang silau memasuki matanya itu sangat mengganggu. Ia melihat dengan pandangan yang masih samar, belum lagi setengah nyawanya yang belum terkumpul, seseorang tidur berhadapan dengannya.
Setelah mengusap matanya dan pandangannya jernih, ia sadar bahwa Jongin tertidur disini bersamanya. Dengan memeluknya, dan berhadapan dengan wajah Sehun. Senyum tipis Sehun terkembang, melihat bagaimana kekasihnya tertidur, mengingat bahwa pertama kali ia tidur dengan Jongin, Sehun malah berteriak dan menyerangnya bertubi-tubi, itu sungguh menggelikan kau tahu.
Ia mengusap pipi kekasihnya, "Aku tahu aku tampan, jangan melihatku seperti itu!" Sehun menarik tangannya dari pipi Jongin dan mempoutkan bibirnya. Jongin dengan gemas mengusap kepala kekasih manisnya, "Terima kasih untuk yang tadi." Serunya dengan suara serak, khas orang yang baru bangun tidur.
"M-mwo? Yang tadi yang mana?" Sehun yang blank karena efek baru bangun pun bingung dengan perkataan Jongin.
"Yang tadi, masa lupa?" Sehun menatap Jongin dengan bingung. 'Sepertinya seru jika bermain-main sedikit.'
"Mau aku ingatkan?"
"Maksudmu?" Tanpa banyak bicara Jongin langsung menindih Sehun dibawahnya.
"Yak! Jongin apa yang kau hhmpphh—" Jongin langsung menciumnya.
"Eumph—" Sehun memukul-mukul dada Jongin, ia benar-benar tidak siap, sungguh!
Jongin memasukkan lidahnya kedalam rongga mulut Sehun, ternyata ini sungguh menyenangkan ketimbang hanya melumat bibir kekasihnya yang cantik ini. Karena posisi mulut Sehun yang sudah terbuka, dan sungguh sangat tidak membantu Sehun, dengan terpaksa ia membalas ciuman Jongin.
Tokk—Tokk—Tokk—
"Sehun-ah! Sarapan!" teriak eommanya dari luar kamar Sehun.
Sehun yang tadinya memejamkan matanya langsung melotot. 'Aduh bagaimana ini?!' dan Jongin yang kelihatannya tidak peduli dengan posisi Sehun yang sudah gawat malah meneruskan kegiatan 'menjelajah' mulut Sehun.
"Sehun-ah!"
'Mati aku' Sehun setengah mati berusaha mendorong Jongin, namun Jongin tetap tidak mau menjauh dari tubuhnya. Kalaupun ketahuan, apa ruginya buat Jongin kan?
Ia terus memukul-mukul dada Jongin agar setidaknya melepaskan Sehun dan bersembunyilah dikamar mandi, karena pintu kamar Sehun tidak dikunci!
"Sehun-ah!" dan rasanya nyawa Sehun ingin terbang saja.
Tiba-tiba, Jongin menarik tubuh Sehun—masih dengan bibir bertautan— membuat kekasihnya itu bangun terduduk bersamanya dan mendorong Sehun hingga terlentang dilantai namun dengan tangan Jongin yang masih memeluk tubuh Sehun "Eumphh" dan masih mencumbunya, menyeret kekasihnya kedalam lemari. Dan menutupnya.
Cklek—
Nyonya Oh masuk ke dalam kamar Sehun, melihat gorden yang masih tertutup dan anaknya tidak ada disana. Eomma Sehun berdecak, 'Mungkin sedang ke kamar mandi'. Yeoja tersebut mengarah ke jendela untuk membuka gorden kamar Sehun, tanpa mencurigai ada hal yang aneh.
Sedangkan Sehun dan Jongin masih saja berciuman didalam lemari, membuat Sehun rasanya ingin mati karena kekurangan nafas. Kekasihnya ini, ganas sekali. Jongin terus menciumnya, menyandarkan Sehun disisi pojok lemarinya yang tidak besar itu. Mengusap punggung Sehun dengan sedikit kasar, dan ciuman yang begitu menuntut.
"Eumphhh" Sehun melenguh lagi, sambil menjambak rambut Jongin yang tak ada hentinya menciumi Sehun.
Setelah selesai, eomma Sehun keluar dari kamar Sehun dan menutupnya lagi.
"Hahhh—Hahhh—Haahh" Sehun dan Jongin sama-sama terengah akibat kegiatan ciuman mereka yang begitu lama dan menghabiskan persediaan oksigen diparu-paru mereka begitu banyak.
Dengan kesal Sehun memukul kepala Jongin, "Aduh!"
"Pabo! Kalau tadi kita ketahuan bagaimana eoh?!"
Jongin hanya tersenyum dan mengecup bibir Sehun sekilas, "Habis bibirmu manis sih jadinya aku ketagihan."
Kemudian dihadiahi cakaran manis dari sang kekasih.
.
.
.
.
Wisuda telah selesai, dan inilah gelar baru untuk Oh Sehun yaitu Sarjana dari jurusan matematika. Membuat kedua orang tuanya bangga, begitupula dengan Jongin sebagai kekasihnya.
Dan lagi, hubungan Kyungsoo dan Minseok ketahuan oleh appanya! Haha, Sehun hanya bisa menertawakan dongsaengnya yang begitu bodoh mencium Minseok saat mengantarnya pulang. Saat appanya mengintip pula!
'Masa bodoh denganmu Oh Kyungsoo!' salah sendiri malah nekad berpacaran dengan tutornya, saat dia masih sma. Berani sekali dongsaeng kecilnya itu melanggar aturan appanya.
Dan akhirnya Kyungsoo dihukum, berhenti ikut kelas tambahan matematika yang tutornya—yah kau taulah siapa— dan diantar jemput oleh supir suruhan appanya. Tidak ada yang namanya Minseok lagi! Hahaha, Sehun tertawa lagi. Tapi, tidak tahu dongsaengnya saja. Pasti ada saja cara Kyungsoo untuk bertemu Minseok, dengan, berciuman panas dibilik kamar mandi mungkin?
"Jadi, apa rencanamu setelah ini?" tanya Jongin seminggu kemudian saat mereka tengah berkencan di sebuah kafe.
"Ehm, entahlah, aku ingin kembali ke area kampus lagi. Aku akan mengajukan diri sebagai dosen mungkin?" Jongin tersenyum mendengar penuturan Sehun.
"Aigoo, itu adalah hal yang bagus!" Ia mencubit pipi Sehun dengan gemas.
"Jongin!" dan Jongin tertawa.
Sehun mengusap kedua pipinya, "Lalu, bagaimana denganmu? Kau mau kemana setelah ini?" tanya Sehun penuh antusias. Jongin senang dengan Sehun yang sekarang, ia begitu memperhatikan Jongin. Ngomong-ngomong Jongin sudah mengakui perihal hubungannya dengan Sehun, pada Tuan Oh. Dan anehnya appa Sehun malah setuju. Sehun benar-benar tak mengerti, kenapa appanya yang overprotective itu malah memasrahi anaknya pada Jongin dengan begitu saja, entah ia tak tahu seberapa sukanya appa nya pada Jongin. Tentu saja, kecuali dia bilang kalau Jongin sering menyelinap ke kamar Sehun tiap malam untuk—
"Entahlah aku masih belum tahu," Sehun mengernyitkan dahinya bingung.
"Yang jelas tidak jauh darimu, Baby."
Blush—
Sehun merona mendengar perkataan Jongin, "Yak! Aku serius!"
Jongin terkekeh, "Ehm, untuk jurusan bisnis mungkin aku akan membuka bisnis pribadi."
"Jangan bilang jasa biro jodoh lagi!"
"Hahaha, menurutmu?"
"Kalau kau benar-benar melakukannya, aku minta putus sekarang juga!"
"Ya! Oh Sehun aku bercanda!"
Ia mengecup pipi kekasihnya, membuat Sehun tertawa geli. "Mungkin suatu jabatan di perusahaan?"
Sehun mengangguk, "Ide bagus Tuan Kim!"
"Tentu saja! Kan aku ingin mapan sebelum menikahimu!"
"Yak—!" Jongin menggesek hidungnya diceruk leher Sehun dengan gemas.
"Memangnya kau berani melamarku?" Sehun berusaha menggoda Jongin.
"Menurutmu?"
.
.
.
.
Sehun diundang eomma Jongin untuk makan malam bersama keluarga kecil Kim tersebut. Eomma Jongin sepertinya begitu menyukai Sehun, ia benar-benar memasak banyak hidangan yang sungguh menggoda selera makan Sehun.
Di ruang makan, hanya terdengar suara dentingan kecil alat makan yang menyentuh permukaan piring, tanpa ada seorang pun yang memulai obrolan kecil ditengahnya.
"Ehm, aku sangat berterimakasih, hidangannya sungguh enak ahj—"
"Eommonim." Potong Nyonya Kim sambil tersenyum. Sehun menunduk malu, 'Memangnya aku akan sungguh menikah dengan Jongin apa?'
"N-ne, eommonim." Sehun menyahut dengan senyum, ia benar-benar sungkan dan malu. Sedangkan Jongin disebelah Sehun bersorak girang dalam hatinya karena eommanya bahkan menyuruh Sehun untuk memanggil "eommonim" berarti kan—
"Oh, Sehun kau jadikan menginap disini?"
"Ehm, ne." Sehun mengangguk kecil.
"T-tapi kamar tamunya sangat kotor—"
"Tidak apa-apa eommo—"
"Biar dia tidur denganku eomma." Jongin memotong ucapan Sehun yang hendak memotong eomma Jongin. Membuat Sehun membulatkan matanya, ia dan Jongin, sekamar? Ya, bukan hal biasa sih tapi meminta ijin eomma Jongin untuk tidur dengan anaknya itu sungguh, gila!
Nyonya Kim sangat gembira, 'Setidaknya boleh dicoba.'
"Tentu, kau bisa tidur bersama Jongin malam ini." Dan Jongin bergumam 'Yes!' membiarkan Sehun tercengang dengan apa yang Nyonya Kim katakan.
.
.
.
.
"Apa kau gila eoh?!" Sehun mulai meneriakki Jongin setibanya mereka dikamar Jongin.
"Aish, apasih maksudmu baby?"
"Meminta ijin tidur denganmu pada eommamu?! Kurasa kau sudah tak waras!"
"Hey-hey berarti kau mengatai eommaku tak waras kalau dia mengijinkan kita tidur bersama." Sehun mengerucutkan bibirnya sebal.
"Aish terserahlah." Sehun hendak berjalan kearah ranjang sebelum,
Grep—
"Sehun-ah." Jongin menenggelamkan wajahnya diceruk leher Sehun.
"Ne?"
"Kurasa eomma punya maksud tersendiri mengijinkanku tidur bersamamu."
Sehun menoleh kearah Jongin yang ada dibelakangnya dengan bingung, ia memeluk tangan Jongin yang melingkar diperutnya. "Maksudmu?" Jongin menyeringai, Sehun memang tidak mengerti!
Ia mendekatkan bibirnya ketelinga Sehun, meniupnya kemudian, "Ayo kita lakukan 'hal' yang dilakukan Kris dan Chanyeol seperti yang kau ceritakan saat itu." Ingin rasanya Sehun mencakar wajah Jongin,
"M-mworago?" Sehun hendak protes, namun Jongin sudah lebih dulu mendorongnya untuk merebah diranjang, dan melakukannya.
.
.
.
.
Sehun bergerak dengan gusar, matanya yang masih setengah terbuka itu mencoba terlelap lagi. Ia benar-benar lelah, sungguh! Ia berusaha merubah posisinya agar nyaman, namun sebuah tangan yang memeluknya dari belakang membuat Sehun tak bisa sepenuhnya bergerak.
"Eungh—" Sehun melenguh, akhirnya ia menyerah juga. Ia pun membuka matanya lebar-lebar, tidak mencoba untuk terlelap lagi.
Mengusap matanya dengan kasar, mengerjapkannya agar lebih jernih saat dibuat melihat. Sehun baru sadar, seseorang tengah memeluknya. Ia hanya balas memeluk tangan yang melingkar itu, kemudian tersenyum kecil.
Ia sadar, bahwa badannya benar-benar polos tanpa sehelai benangpun. Hanya ditutupi oleh selimut tebal milik kekasihnya.
"Eungh—" lenguhan seseorang yang lain lagi sambil mengeratkan pelukannya pada Sehun, kali ini meletakkan kepalanya dibahu telanjang Sehun.
"Sudah bangun hm?" tanya Jongin dengan mata yang masih terpejam. Sehun tersenyum, "Ehm." Jawabnya sambil menikmati pelukan hangat dipagi hari dari kekasihnya.
Jongin mulai membuka matanya, kemudian mengecup bahu Sehun, lalu naik ke ceruk leher Sehun yang sudah penuh berhiaskan 'karya' Jongin semalam. "Terimakasih untuk yang semalam baby." Jongin merapatkan pelukannya.
"Euhhmm—" Sehun terkikik kecil saat Jongin menggesekkan hidung namja itu dileher Sehun. Jongin suka aroma leher Sehun, begitu pula dengan Sehun yang suka diperlakukan seperti ini oleh Jongin.
"Jongin," ia menoleh kearah Jongin dibelakangnya,
"Ne, baby?"
"Yang semalam sungguh menyenangkan." Seru Sehun malu-malu. "Pantas saja Kris dan Chanyeol sering melakukannya." Lanjutnya dengan terkekeh. Membuat Jongin dengan gemas langsung menciumi pipi Sehun.
"Jadi kau mau lagi eoh?"
Sehun langsung menampik tangan Jongin yang hendak menyentuh bagian 'bawah'nya, "Ish! Bokongku masih sakit tahu!" Jongin terkekeh.
Namja itu membalik posisi Sehun agar berhadapan dengannya. Jongin menatap kedua iris Sehun lekat-lekat, "Harusnya aku melakukan ini saat malam pernikahan kita."
Sehun terkejut, "Memang aku akan menikah denganmu eoh?!"
"Tentu saja!" Dan Jongin langsung menindih Sehun.
"Jongin!"
Chu—
"Aku mencintaimu, sangat." Sehun melingkarkan tangannya di leher Jongin.
Chu—
"Nado," dan setelah membalas kecupan manis Jongin, mereka berdua kembali memangutkan bibir, saling meresap rasa manis dari rongga satu sama lain.
.
.
.
.
Eomma Jongin bersorak gembira 'Yes aku akan punya cucu setelah ini.'
Anak dan eommanya, sama saja ternyata. Kalau saja ia tak mengijinkan Sehun untuk tidur dengan Jongin, adegan yang tengah ia lihat didepannya ini takkan pernah terjadi bukan?
Sebenarnya ia tak sengaja lewat, eh jadinya malah mengintip dua insan yang tengah berbuat—
"Sehun-ah." Panggilan Jongin membuat Nyonya Kim makin antusias untuk mengintip.
"Hm?"
"Aku mau lagi!"
Dan Nyonya Kim langsung menganga melihat anaknya yang kembali meraup bibir Sehun dengan bergairah. 'Oke, sepertinya sudah cukup acara mengintipnya Nyonya Kim!' Akhirnya eomma Jongin memilih untuk beranjak dari situ.
.
.
.
.
Sehun rasanya ingin menangis saja, mati-matian ia menahan sakit dibagian 'bawah'nya yang dimasukki 'milik' Jongin lagi. Ini terasa lebih sakit karena Jongin kelepasan melesakkan miliknya dengan kasar. Isakan kecil lolos dari bibir Sehun.
Jongin mengusap kepala Sehun dengan nafas terengah, "Apa sangat sakit?" ia mulai khawatir. Ia melakukan ini karena ia mencintai Sehun, dan ingin memiliki Sehun seutuhnya. Tidak ada maksud lain dibalik itu semua. Ia tidak sengaja melakukannya dengan kasar, sungguh.
Sehun mengangguk kecil. Ia mendesis kecil sambil menggigit bibirnya. Mencengkeram bahu Jongin, melampiaskan rasa sakit yang sungguh membuatnya—
"Apa kita hentikan saja hm?" Sehun langsung menggeleng.
"Tapi kau sudah banyak berdarah," Jongin berbisik dengan hati-hati. Sehun menggeleng lagi, "A-anni, teruskan saja."
Jongin mengeratkan pelukannya, mengangkat Sehun agar bangun dan terduduk dipangkuannya. Jongin mengarahkan sebelah tangan Sehun untuk melingkar dilehernya, "Kau bisa mencakarku sepuasmu jika kau merasa kesakitan baby." Dan Sehun mengangguk.
Jongin mulai mengangkat badan Sehun, membantu kekasihnya untuk bergerak. Sehun mengerang kesakit. Air matanya terbendung dipelupuk mata. Ia membenamkan seluruh wajahnya keceruk leher Jongin, dengan sebelah tangan memeluk erat leher kekasihnya dan satu lagi mencengkeram bahu kekasihnya.
"Akhh—" kali ini benar-benar sakit ketika Sehun menurunkan pinggulnya perlahan. Membuat bokongnya yang sudah lecet bergesekan lagi dengan 'milik' Jongin.
Ia terisak lagi, Jongin menghentikan gerakannya. "Sehun-ah."
"Jangan berhenti." Sehun berseru dengan suara lemas.
Akhirnya Jongin meneruskan gerakannya, menaik-turunkan pinggul Sehun dengan kedua tangannya. Membuat Sehun mendesis, namun lama-kelamaan mendesah karena satu titik yang dihantam berulang-ulang.
"Ahhh.. Jong—hhh—in ergh—"
Kali ini Sehun melepas pelukannya ketika iramanya semakin cepat, ia menatap sendu kearah mata Jongin. Jongin mengusap pipi kekasihnya yang sudah basah dengan keringat, begitupula dengan dirinya.
"Ahnnn—" Sehun memeluk leher Jongin erat dan memejamkan matanya ketika—
"Jongin!" ejakulasinya keluar terlebih dahulu.
Sehun merasakan masa 'datang'nya, namun pinggulnya terus bergerak karena Jongin belum mencapai klimaksnya. Nafasnya masih memburu, ia mendesah lagi. Jongin masih bergerak di'dalam'nya mencoba mencapai—
"Sehun-ah!" klimaksnya.
Keduanya terengah, saling menatap satu sama lain. Jongin membaringkan Sehun perlahan, agar kekasihnya tidak kesakitan.
Sehun memejamkan matanya, "Hhh—Hhhh" ia kelelahan karena 'permainan' mereka. Jongin mengecup kening Sehun lama, kemudian turun ke kedua mata indah kekasihnya, lalu hidung mancung Sehun, terakhir bibir plum kekasihnya.
"Tidurlah." Seru Jongin sambil mengecupi dagu kekasihnya itu. Sehun yang memang sudah kelelahan tak menggubris perkataan Jongin sama sekali. Tak lama dengkuran halus terdengar. Jongin tersenyum, ia lalu berbaring disamping Sehun. Memeluk kekasihnya dengan begitu posessive. Dan ikut terlelap setelahnya. 'Aku mencintaimu.'
Dan jam dinding menunjukkan pukul 6 pagi.
.
.
.
.
Jam menunjukkan pukul 8 pagi, Sehun hanya terduduk sambil mengusap-usap wajahnya yang begitu 'berantakan'. Kedua matanya masih terpejam, ia baru bangun. Ia merapatkan selimut tebal milik kekasihnya ketika seluruh tubuhnya terasa begitu dingin. Belum lagi bau aneh menyeruak diseluruh penjuru kamar ini.
Jongin memeluk Sehun dari belakang,"Kajja, kita mandi bersama." Ia menggesekkan hidungnya ditengkuk Sehun seperti biasanya. Sehun yang memang masih sangat mengantuk hanya menjawab,"Hmm—"
"Kau masih lelah ya?"
Sehun hanya mengangguk.
"Ayo aku gendong." Seru Jongin sambil mencium pipi kekasihnya.
"Hmm—" Jongin tersenyum dan langsung membopong tubuh polos Sehun ke kamar mandi.
Ia membawa Sehun untuk masuk ketempat shower. Sebenarnya ia kasihan dengan Sehun jika harus berdiri dengan pinggul dan bagian 'bawah'nya yang masih sakit namun Jongin tidak suka jika harus berendam dibathup.
Ia menopang tubuh Sehun agar kuat berdiri.
Kemudian memutar keran, membiarkan gemercik air shower mengucur membasahi seluruh tubuh mereka yang lengket. Sehun yang merasa makin kedinginan hanya bisa memeluk tubuh Jongin yang menopangnya.
Mata Jongin terpejam sambil menghirup aroma rambut kekasihnya kemudian mengecup kening Sehun lama.
Sehun juga memejamkan matanya. Sampai Jongin melepaskan pelukannya, menatap Sehun yang basah dengan air lalu menyambar bibirnya lagi.
"Eungh—" lenguhan halus lolos dari bibir Oh Sehun, membuat Jongin makin agresif menciumnya. Sehun yang pada dasarnya sudah lemas, hanya bisa menerima apa yang dilakukan kekasihnya. Mengalungkan kedua tangannya dileher Jongin, dengan Jongin yang menarik pinggul Sehun agar merapat dengannya dan—
"Eummh—" Jongin mengangkat tubuh Sehun, membuat kedua kaki Sehun melingkar dipinggulnya. Dan Sehun mengeratkan pelukannya dileher memutus tautan bibir mereka. Kemudian melakukannya lagi.
.
.
.
.
Sehun dengan susah payah berjalan menaikki tangga menuju kamarnya. Untung eomma dan appanya sedang berkunjung ke beberapa rumah saudara jauhnya yang ada di busan. Jadi, tidak akan ada yang menyaksikan Sehun berjalan seperti 'bebek' begini kan.
Ia mencari dongsaengnya keseluruh penjuru rumah, namun nihil.
'Pasti ikut dengan eomma dan appa—' atau Sehun mengedikkan kedua bahunya, berusaha tak peduli.
Kriet—
Sehun mendorong pintu kamarnya perlahan dengan santai sebelum, "Yak! Apa yang kau lakukan dikamarku eoh?!" ia mulai mengamuk. Tentu saja! Melihat dua orang namja yang tengah berciuman panas, saling menghimpit ditembok, siapa lagi kalau bukan sepupunya.
Luhan menghentikan aktifitasnya, "Oh, maaf Sehun-ah aku meminjam tempatmu karena tak ada ruang kosong lagi ditempatku." Sehun menatap sepupunya dengan geram. 'Sudah bermesraan, numpang pula!'
Sedangkan namja yang satu lagi, yang lebih mungil hanya menunduk malu.
Sehun mendengus, "Ck! Dasar cabul!"
Luhan kemudian memeluk kekasihnya—Baekhyun— "Yasudah ayo chagi kita cari tempat lain." Dan Sehun mendelik.
"Mwo?! Katanya disini tidak boleh!" Luhan tidak terima ditatap seperti itu oleh Sehun.
"Yasudah sana pergi!" Sehun berusaha tidak peduli.
Luhan lalu menggandeng kekasihnya menuju pintu sebelum, "Jalanmu kenapa Sehun-ah?" 'Hollyshit!' Sehun menegak salivanya kasar.
Luhan merapatkan pinggang kekasihnya kemudian menyeringai, "Ck, pasti kau habis diperkosa si Kim—mesum itu kan!" Belum lagi bekas merah keunguan yang begitu banyak dileher jenjang Sehun yang mulus.
Sehun melotot, aish kenapa ia tidak menunggu Luhan keluar dulu saat melangkah tadi. "Enak saja!"
"Hahaha—" Luhan yang menertawakan Sehun malah dipukul oleh Baekhyun, "Mwo? Memang kan pasti anak ini habis bercinta."
Sehun makin memanas, "Baru bercinta sekali tapi kau sudah berani pulang kerumah hebat kau Oh Sehun, bagaimana kalau yang melihat jalanmu yang terseok-seok itu si Kyungsoo eoh?!" kali ini Sehun melempar bantal.
"Yak! Pergi sana kau! Dasar Luhan keparat!" Luhan langsung tertawa dan meninggalkan Sehun sendirian di kamarnya.
.
.
.
.
"Kau masih marah denganku eoh?" Jongin mencoba membujuk kekasihnya yang merajuk. Sehun hanya diam dan membuang muka. "Aish, kalau begitu kenapa kau mau bercinta denganku?" Jongin mulai jengkel bersuara dengan keras.
"Aduh—" Sehun menginjak kakinya dibawah meja.
"Oh Sehun!" Sehun masih buang muka.
Jongin menghela nafasnya, "Oke, sekarang apa maumu hm? Bubbletea? Akan aku belikan sebanyak-banyaknya sampai kau membencinya karena bosan!" Sehun masih diam.
"Sehun-ah jawab aku!"
"Sehun!"
"Oh Sehun!"
Jongin mulai jengah, "Oke, kalau begitu kau mau aku menyerangmu disini eoh?! Agar seisi restoran bisa melihatnya!"
"Argh Sehun!" Sehun menginjak kaki Jongin dengan geram.
"Ish—"
"Lalu apa maumu?" Sehun terus saja mendiamkan Jongin.
"Sehun! Aku harus mulai wawancara kerja sebentar lagi!" kali ini Jongin serius.
"Oh, ayolah maafkan aku baby." Sehun akhirnya menatap Jongin. Ia lalu menunduk. Jongin hanya bisa tersenyum.
"Sehun-ah."
"Hm?" Sehun mendongak.
Jongin mengeluarkan sesuatu dari sakunya. Sebuah kotak biru kecil yang berisi—
"Menikahlah denganku." Cincin perak yang berkilau.
Sehun menunduk malu, "Kau mau kan?"
Lalu namja itu mengangguk.
END
Huwaa! akhirnya selesai juga! Taugasih sebenernya bagian 'itu'nya pengen di skip tapi jadinya kependekan trus gimana gitu. Eonni ngetinya gemeteran taugasih, beneran deh. sebenernya pengen gajadi end di chap ini eh pas diketik idenya mentoknya endingnya emang begini dan sepertinya bisanya jadi chap 8 doang wwkwkwk.. makasih buat kalian para readers yang setia baca terutama review ini ff! kasih eonni waktu buat bikin ff lain. antara krisyeol, lubaek, ataugak kaichen soalnya request dari sahabat tercinta. aih. mau cari pencerahan. phai-phai! see you on next fanfict!
