~AURA SURAM MENGUAR~

.

"UWA! Apa-apaan ini?" Koganei menutup hidung dan berjalan mengitari sekitar, mencoba mencari asal bau menyengat yang tiba-tiba muncul dalam ruang loker ganti baju. Kadang kala menutup mata, menghalau asap hitam yang kian lama kian pekat. Dan mendapati seseorang tengah duduk di pojokan seraya membaca sebuah buku dan—menangis?

"Tsucchi? Ada apa?" ambil napas segar sekali lagi sebelum melanjutkan, "mengapa kau menangis? Dan...buku apa itu?"

Suara sesenggukan terdengar, "Na...Koganei. Kurasa Fujimaki-sensei tidak menyukaiku."

Pemuda yang terkenal dengan mulut kucing unyu-unyu itu mengedip beberapa kali, agak kaget dengan pernyataan tiba-tiba yang dilancarkan salah satu sahabat terbaiknya itu. Sebelum akhirnya tertawa, "mana mungkin, Tsucchi. Kalau sensei memang membencimu, sedari awal ia tak akan pernah membuat karakter sepertimu. Bagaimana kau bisa sampai pada kesimpulan itu?"

"Ja—" Tsuchida berbalik, menampilkan wajah memelas lengkap dengan puppy eyes dua kali lebih besar coretdanduakalilebihmenjijikkancoret daripada milik sang model sekaligus ace basket dari Kaijo, Kise Ryota. Disodorkannya buku yang sedari tadi ia pegang ke wajah keterkejutan Koganei yang masih belum memudar, "—MENGAPA KEMUNCULANKU HANYA SEPERTI INI?"

.

.

Ah...membicarakan soal pengenalan resmi karakternya, huh?

.

.

"Mengapa perkenalanku di pertandingan resmi melawan Seiho hanya muncul 1 halaman saja? Di komik ke 3, chapter 23, halaman 15? Dan hanya sebesar 3x7 centimeter?" author langsung periksa komik Kurobasu. Bolak-balik 2 kali. AH! Kau benar! Kecil sekali!, "author, kau diam saja. Jangan buat aku tambah galau lagi."

Bisa dibayangkan ekspresi yang tersirat di wajah Koganei saat ini—sedih, kasihan lalu datar seperti papan—semuanya campuk aduk, melihat pemuda baik hati saat ini tengah berguling-guling memeluk komik Kurobasu volume 3 di genangan air mata miliknya sendiri. Lagipula, rasanya terlambat sekali kalau baru mau protes sekarang sementara season 2 anime-nya sudah selesai dan manga-nya pun sudah mencapai titik dimana mereka melawan tim Rakuzan, "tapi, Tsucchi. Di anime tidak seperti itu kan? Kau tampil penuh lo, denganku dua kali. Dan lagi scene itu cukup terkenal akan kekocakannya" sang kucing mencoba menghibur, "meskipun aku jadi harus menerima pelampiasan amarah pelatih karena tak berhasil memasukkan bola rebound sebanyak dua kali."

"Ho...iya juga. Kau benar!" Tsuchida nampak mempertimbangkan kalimat penuh pujian yang baru saja terlontar 5 detik lalu, sebelum akhirnya bangkit dari keterpurukan dan memasang senyum cemerlang. Orang moody memang paling sulit untuk ditebak, "jadi...kenapa kau ada disini, Koganei?"

"untuk menghentikan gas beracun yang kau keluarkan dari tubuhmu, Tsucchi!"—atau tadinya ia ingin berkata seperti itu, "author ingin melanjutkan cerita '1 hari bersama Tsuchida Satoshi' karena dia mendapat ide coretnistacoret lainnya. Kau diminta untuk membaca disclaimer atau apalah itu sebelum cerita dimulai."

"Ooh...benarkah? Tak kusangka akan berlanjut! Kalau begitu jangan buang banyak waktu lagi." Tsuchida menatap kamera—yang sebenarnya sudah rolling sejak microsoft word telah terbuka—dan berkata dengan penuh semangat 45, "selamat datang para reader sekalian. Jumpa kembali dengan acara..."

.

.

1 HARI BERSAMA TSUCHIDA SATOSHI

Kuroko no Basuke © Tadatoshi Fujimaki

Genre (s) :

Comedy

NO PAIRING

.

DON'T LIKE DON'T READ DON'T FLAME

Tombol back selalu setia menunggu keputusan anda

.

.

.

~AURA SURAM MENGUAR~

.

BLEETAK!

"Berhenti pundung di pojokan, kuso yaro!" Hyuuga Junpei yang kebetulan lewat dan mendengar semua pembicaraan barusan, akhirnya tak bisa lagi menahan amarah meluap-luap layaknya gunung merapi yang kadang kala meletus, "kali ini apa lagi, hah? Kalau bukan hal penting, jangan keluarkan gas monoksida beracun itu kemana-mana!"

Tanpa menunggu balasan, kapten berkepribadian ganda itu berbalik, "sudahlah. Latihan sebentar lagi dimulai. Kalau kau tak datang tepat waktu, pelatih akan membunuhmu.' Berbicara, lalu melangkah pergi. Meninggalkan Tsuchida dalam muram durja berkepanjangan melebihi liburan musim panas 40 hari.

.

Hanya untuk berjaga-jaga—karena aku yakin beberapa dari kalian pasti sudah lupa—namaku Tsuchida Satoshi, lahir tanggal 1 Mei, umur 17 tahun, tinggi badan 176 cm, berat badan 70 kg, berbintang Taurus, keahlian dalam basket adalah rebound, pemeran utama dalam cerita kali ini. Dan seperti sebelumnya juga.

Saat ini aku tengah bergalau ria... *backsound : Simple Plan-Perfect*

Kali ini sedikit macet karena faktor kaset bajakan.

Kalian tanya mengapa lagi-lagi aku galau? Apakah mengenai masalah kemunculanku di komik barusan? Bukan, bukan itu. Apa karena masih ada beberapa orang yang memanggilku Bebek-senpai? Uh...oke. Memang memalukan, tapi luka satu itu sudah sedikit terobati. Ingat! Hanya sedikit! Tapi bukan itu yang mengangguku kali ini.

.

"Kau sedang mendengar lagu apa, Kuroko?"

"Hmm? Be—maksudku, Tsuchida-senpai." Kuroko menyerahkan secarik kertas penuh tulisan kepadaku, senior klub basketnya. Aku akan pura-pura tak mendengar nickname yang hampir saja lidah tajam itu sebutkan kalau tak ingin terpuruk untuk kesekian kalinya, "aku sedang mencoba menghapal lirik lagu sebelum pergi ke studio rekaman bersama Kagami-kun, Koganei-senpai dan Mitobe-senpai hari ini. Tapi karena temponya cukup cepat, aku sedikit sulit untuk mengingatnya. Menurut senpai bagaimana?"

Apakah aku mengalami halusinasi auditori seperti Gi*toki pada episode 62 saat 'dirawat' oleh Ot*e selepas Benizakura Arc, ataukah memang aku mendengar kata 'studio rekaman' barusan? Mungkin aku perlu periksa ke THT hari ini. Seraya menilik baris demi baris yang katanya lirik lagu itu, aku bertanya kembali. Kali ini dengan suara agak terputus-putus, "um...Kuroko. Memang untuk apa kau menghapal lagu ini?"

Lelaki bersurai biru itu memiringkan kepalanya sedikit ke samping, bingung. Dan masih dengan wajah datar sedatar papan tripleks ia menjawab, "itu untuk lagu duet-ku bersama anggota Seirin yang ke xx selain bersama Kagami-kun. Senpai tidak tahu?—"

.

Kalau mereka semua memiliki rekaman lagu!!!!

.

Kenapa? Kenapa tidak ada yang memberitahuku kalau mereka ditawari untuk rekaman? Bukan hanya lagu, tapi juga mini drama? Kalau para Kiseki no Sedai atau para pemeran utama lainnya yang melakukannya, aku bisa memaklumi. Bahkan pelatih Riko yang bernyanyi pun aku tak masalah. Lagipula hal wajar bagi mereka untuk menyenangi para fans yang banyaknya tak terkira—tak cocok disandingkan denganku yang hanya minor character.

Tapi! 'Tapi' untuk yang kedua kalinya dalam cerita ini! Koganei dan Mitobe itu juga pemeran figuran! Mungkin hal yang cukup lumrah untuk Koganei bernyanyi, tapi bagaimana dengan Mitobe? Dia kan tidak punya seiyuu! Tidak pernah bicara sedikitpun sejak episode pertama Kurobasu mengudara dengan hebohnya. Atau lebih tepatnya, saat pertama kali Kurobasu masih dalam format manga! Kenapa aku, yang memiliki seiyuu resmi, sama sekali tak berkesempatan untuk ikut serta!

Rasanya aku ingin mengundurkan diri saja deh dari anime satu ini. Mungkin aku harus mulai mendaftarkan diri sebagai pemeran utama dalam film 'Ayah, mengapa aku berbeda?'

Selesai latihan 'neraka' yang diberikan pelatih—bertambah 2 kali lipat gegara Kagami terus berbuat kesalahan—aku berjalan menyusuri gelapnya dunia dengan wajah tak kalah suramnya. Ah, bicara soal gelap, aku belum sempat mengganti lampu philips yang sudah habis garansi untuk apartemenku. Jadilah, saat ini aku melangkahkan kaki-kaki lelahku menuju toko elektronik yang untungnya tak begitu jauh dari sekolah. Dan mungkin, disaat itulah 'duniaku' mulai sedikit memberi secercah harapan.

Begitu sampai di tempat tujuan, bukannya masuk ke dalam tapi perhatianku tersita pada poster berukuran lebar yang tertempel rapi pada kaca jendela kusam toko. Sebaris tulisan besar dan dicetak tebal berwarna-warni—tak memperhatikan tulisan lain yang juga tertera disana—berhasil membuat senyumku merekah.

.

AUDISI MENYANYI UNTUK REMAJA SEKALIAN

AYO, BURUAN DAFTAR DAN TUNJUKKAN BAKATMU!

.

Dan berikutnya arwahku melayang ke langit ke tujuh.

Kami-sama! Apakah ini artinya kau mendengar permohonanku barusan? Apakah setelah sekian lama dalam hidupku, kau memberiku kesempatan untuk beranjak dari kelamnya lubang tempatku bernaung?

Tunggu. Bukan saatnya berleha-leha disini. Aku harus segera mempersiapkan diri untuk audisi ini, yang kebetulan, mulai diadakan besok dari jam 9 pagi sampai selesai. Tak memperdulikan tatapan aneh pejalan sekitar dan sorotan kesal pemilik toko elektronik—mungkin dikiranya aku ingin mencuri sesuatu karena sedari tadi aku senyum-senyum tak jelas di depan tokonya—aku harus bisa memenangkan audisi ini jika ingin menjadi seorang yang terkenal!


Hari H tiba...

"Apakah kau yang bernama Tsuchida?" lelaki tua bertubuh gemuk, mirip pelatih Kaijo, menatap lekat formulir pendaftaran yang kuserahkan dengan mata memicing. Terkadang menyingkirkan helai rambut yang mulai memudar karena faktor usia dari pandangan, "maaf, kacamataku hilang pagi ini, jadi aku tak bisa melihat dengan jelas. Bahkan di mataku, rambutmu terlihat seperti seekor landak."

Aku hanya tertawa hampa dengan komentar satu itu. Ia menjauhkan matanya dari kertas, "yah...lagipula audisi ini lebih mementingkan suara daripada penampilan. Itu urusan belakangan. Jadi segeralah mulai." Berkata dan melipat kedua tangan di depan dada, mencari posisi nyaman di atas sofa seraya memasag pendengaran sebaik mungkin.

Aku menarik napas panjang. Yosh, Tsuchida Satoshi. Kau pasti bisa! Buktikan padanya—tidak—pada seluruh umat Kurobasu beserta fans-fansnya bahwa dirimu itu berbakat!


Sekitar 15 menit berlalu aku bernyanyi—lagi-lagi, author malas menjelaskannya—aku berdiri tegap dan memandang juri, harap-harap cemas. Mau bagaimana lagi. Soalnya saat ini pak tua itu memandangku dengan mulut menganga dan mata sipit yang 'hebatnya luar biasa' bisa melebar melebihi mata memelas seorang Momoi Satsuki. Setelah keheningan menyiksa yang cukup lama, tepuk tangan meriah dari satu-satunya juri disana terdengar, "hebat! Hebat! Suaramu indah sekali! Baru kali ini aku menemukan suara sebagus ini!"

Aku sampai berkedip beberapa kali saat ia menjabat tanganku, mengayun-ayunkan sekuat tenaga sampai rasanya sendi di bahuku akan lepas. Harus segera beli mur baru! "kau diterima! Mulai besok dan tiap weekend, datanglah kemari untuk rekaman! Aku yakin, kau pasti akan terkenal!"

Kalimat terakhir menggema di otakku, berulang kali seperti sebuah kaset macet.

Terkenal? Terkenal?! Aku akan jadi terkenal? Oh, Kami-sama...oh dewi fortuna! Terima kasih! Terima kasih karena sudah memihakku untuk hari ini. Aku akan menjadi seorang penyanyi dan mempunyai rekaman lagu sendiri! Yeah, mulai sekarang aku tak akan tertinggal oleh teman-temanku lagi!

.

.

Atau 'sekali lagi'...itulah pikirku.

.

.

"Umm...sensei. Apakah benar aku harus memakai baju seperti ini?"

"Kenapa? Apakah ukurannya kekecilan?" suara serak itu dapat kudengar dari bilik ruang ganti baju tempatku berada, "aku bisa segera meminta penata rias untuk mengambilkan ukuran yang lain."

"Bukan. Bukan itu masalahnya." Agak ragu, aku melangkah keluar dari ruang ganti baju menampilkan sosokku yang sudah terbalut busana dari perusahaan. Memang, bahannya bagus dan nyaman sekali untuk dipakai. Tapi yang jadi masalah adalah—, "ini kan...baju perempuan?"

Saat ini aku tengah mengenakan baju kaos ketat berwarna hitam gradasi biru dan emas berlengan pendek. Rok motif kotak-kotak sebatas paha berwarna senada, lengkap dengan rumbai putih di bawahnya. Tak lupa, topi mungil biru muda menempel erat di sisi kanan bandana hitam yang kukenakan. Juga stocking tembus pandang yang panjangnya sedikit keatas dari lutut. Pun, sepatu boots biru muda dengan hak setinggi 3 cm. Meskipun pakaian itu bisa dibilang cantik, TENTU SAJA aku tak akan pernah menyukainya.

Lelaki itu memasang wajah bingung, seolah tak mendengar pertanyaanku barusan, "itu memang baju perempuan. Audisi kemarin adalah untuk mencari generasi baru dari grup idol AK*48. Dan kau termasuk salah satunya. Ada masalah?"

.

Hening.

.

EEHH? SERIUS?

.

Yang kemarin itu, audisi yang susah payah kuikuti kemarin itu ternyata audisi grup idol? Hanya terbatas untuk remaja perempuan saja? Kenapa aku bisa tak menyadarinya?

Bukankah wajar? Kau hanya melihat judul dan tanggal audisinya saja. Sementara yang lain kau lewatkan. Author bergumam.

"Masalah? Tentu saja masalah! AKU INI LAKI-LAKI, TAHU!"

"Hah? Kau laki-laki?" sekretaris perempuan yang berada tak jauh darinya memberikan kacamata milik sang bos yang telah ditemukan kemarin sore. Sial, dia menertawaiku! Lelaki itu memasang kacamata dan mengernyit sedikit sebelum akhirnya ia berseru, "ah! Kau benar laki-laki! Suaramu manis sekali, jadi kukira kau perempuan."

Tak perlu kacamatapun, dari namanya saja seharusnya sudah tahu kan kalau aku ini laki-laki? 100% LAKI-LAKI! Tanpa operasi plastik sedikitpun! Bukan seperti Gr*ll Sutcliffe dari fandom sebelah yang gendernya masih diragukan hingga sekarang, "kalau begitu, aku ingin mengundurkan diri dari pekerjaan ini." kulepas bandana di atas kepalaku. Uh, wajahku pasti memerah sekarang, "anda belum mengumumkan tentang ini, kuharap?"

Bukannya jawaban yang kudapatkan, melainkan bos dan sekretaris yang saling tatap seolah bicara dalam bahasa isyarat—hanya sekretaris yang terlihat menahan tawa. Entah mengapa, firasatku memburuk. Seketika itu juga, wajahku memucat, "jangan bilang kalau anda..."

"Uhh...maaf, Tsuchida-kun." Ia menggaruk kepalanya yang tak gatal, "tapi kemarin sore kami sudah membuat posternya, lengkap dengan nama juga fotomu. Dan lagi, kami sudah menyebarkannya...ke seluruh kota."

.

Hening lagi.

.

APAAAA?

.

Oi, oi, ooooi! Apa-apaan kalian berdua? Kenapa melakukan hal seperti itu tanpa izin orang yang bersangkutan terlebih dahulu? Itu melanggar hak asasi manusia, kalian tahu?! Undang-undang dasar harga diri seorang laki-laki! Dan kau sekretaris disana, berhenti tertawa! Kau juga, author!

Sial! Apa yang harus kulakukan? Tidak mungkin poster yang keberadaannya entah dimana itu bisa kutemukan semuanya dalam waktu 1 hari!

Tulilililit. Tulililit.

Handphone-ku berdering, pertanda sms masuk.

.

Selamat ya, Tsucchi. Kau diterima sebagai—pft—anggota AK*48. Aku dan yang lainnya pasti akan mendukungmu! Ganbatte-ne!

P.S : Kagami dan Kuroko bilang mereka akan 'merayakan' keberhasilanmu hari ini. Cepatlah pulang ke rumah ya.

Koganei

.

TTIIIDAAAAAAAKKK!

.

TBC

.

Kumohon, jangan sambung ceritanya! Tsuchida Satoshi kembali berseru.

.

END...maybe?


OMAKE:

~AURA SURAM MENGUARLAGI~

"Ne...Tsucchi, jangan sedih." Koganeimencoba menahan tawa sampai-sampai wajahnya merahmenghibur Tsuchida yang lagi-lagi pundung di pojokan, masih mengenakan kostum AK*48, "lihat. Studio rekaman membuatkan lagu untukmu, duet bersamaku. Bagaimana kalau kita mulai latihan? Aku juga ingin mendengar suaramu yangpft—'bagus' itu."

Dan untuk yang kesekian kalinya hari itu, Hyuuga melayangkan tinju terkuatnya di atas kepala sang pemuda yang kalau tak segera disadarkan dari lamunan, arwahnya benar-benar akan melayang ke langit ketujuh karena malu yang sudah melewati batas maksimal.


(A/N):

Ngahaha...ide nista kembali bemunculan!

Kali ini lebih panjang daripada chapter sebelumnya, ya? Hehe, keasyikan nulis jadi kaya gini deh.

Oh, mengenai cerita ini akan dilanjutkan atau tidak, saya sendiri juga tak tahu. Kalau sekiranya ada berita baru lagi mengenai Kurobasu, dan tentunya Tsuchida tak ikut serta disana, mungkin akan saya pertimbangkan. Jadi saya akan beri label 'complete' untuk sementara ini.

Terima kasih buat review-nya, Dena Shinchi. Saya baru tau kalo ternyata Tsucchi emang bener ada lagu sendiri (Unsung Regulars). Walau cuma satu sih. Haha. Karena itu, ada sedikit tambahan omake di bawah. Oke, tanpa basa-basi lagi...

Don't forget to leave your review

Best regards

Akabane Kazama