"Tetapi tenanglah, mulai hari ini, aku akan melindungimu. Aku tidak akan membiarkan mereka membunuhmu. Karena itu …"
"… ceritakan padaku … ceritakan padaku segala hal tentangmu …. Ceritakan tentang mereka. Tentang orang-orang yang menghantuimu—orang-orang yang berniat mencelakakanmu …."
KLIK.
Ino mematikan tape recorder-nya dan kemudian menjatuhkan kepalanya ke atas meja. Tidak salah. Itu adalah kata-kata yang telah diucapkannya pada Tobi tadi siang. Kata-kata yang berusaha menenangkan. Sekaligus … kata-kata yang terdengar gila.
"AAARGHH! Apa yang harus kulakukan?!"teriak Ino sembari mengacak-acak rambut pirangnya. "Ini salah. Ini konyol!"
Ino bangkit dari kursi dan berjalan mondar-mandir di kamarnya. Tanpa sadar, ia kemudian menggigiti ujung kuku jempolnya. Wajahnya sedikit pucat dan gerak-geriknya mencerminkan orang yang tengah dilanda kegelisahan. Mendadak, Ino berhenti bergerak di dalam kamarnya.
"Ya … ini adalah suatu kesalahan."
Bersamaan dengan kata-kata tersebut, Ino mendengar ponselnya berdering. Ia pun segera menyambar ponsel yang ada di atas meja tersebut dan mendapati nama 'Uchiha Itachi' di layarnya.
Ino benar-benar melupakan janjinya dengan Itachi malam itu.
Janji … untuk mendapatkan informasi lebih tentang seorang Uchiha Obito yang diduga mengalami gangguan paranoid schizophrenia.
KLINISCHE CHARME
Disclaimer : I do not own Naruto. Naruto © Masashi Kishimoto
I don't gain any commercial advantage by publishing this fanfic. This exactly is just for fun.
Story © Sukie 'Suu' Foxie
Warning: Probably rush and a bit OOC. AU.
A fanfiction for Thie-chan / Thi3x Noir / Noira Hikari
Chapter 3. Folie a Deux
.
Madness Shared by Two
Ino menggigit bibir bawahnya. Ia merasa ragu untuk mengangkat panggilan telepon dari Itachi. Ino sendiri tidak tahu mengapa ia merasa enggan untuk langsung menjawab panggilan tersebut. Tidak biasanya ia merasa seperti ini. Dalam kondisi seperti apa pun, biasanya panggilan telepon dari Itachi adalah hal yang paling Ino tunggu.
Ibu jari Ino sudah bergerak meski getaran samar itu tidak dapat ia hindarkan. Sepintas, bayangan saat ia berpelukan dengan Tobi di bangsal perawatan Rumah Sakit Jiwa Konoha membuat ibu jarinya terhenti. Wajah Ino menghangat dan rona merah langsung mewarnai kedua belah pipinya.
Ah, masa bodohlah!
Ibu jari Ino pun bergerak menekan satu tombol.
"Moshi-moshi, Itachi-kun!"
"Ino, lama sekali mengangkat teleponnya. Sedang sibuk?"
"Eh, yaa … maaf. Ponselku tadi kutaruh di kasur dan masih kuaktifkan dalam mode silent. Aku sendiri sedang mengerjakan laporan untuk tesisku." Ino menyeringai mendengar kebohongan yang diutarakannya.
Laporan apanya? Bahkan notebook-ku pun tidak menyala, batin Ino mengkritik kebohongannya sementara matanya melirik ke arah notebook-nya yang masih tertutup di atas meja. Nah, apa lagi yang harus kukatakan sekarang?
"Ngomong-ngomong, ada apa, Itachi-kun?" tanya Ino sambil mendudukkan dirinya di kasur. Kebohongan yang lain. Lakukan dengan baik agar Itachi-kun tidak curiga.
Terdengar tawa ringan dari arah lawan bicaranya. "Kau lupa dengan janji kita hari ini?"
"..." Ino sengaja membiarkan jeda di antara mereka untuk mengesankan bahwa ia tengah berpikir. "Ya, ampun! Aku benar-benar lupa. Maafkan aku, Itachi-kun."
Sekali lagi, Itachi tertawa kecil. Setelah menggumamkan bahwa itu bukan masalah, Itachi kemudian bertanya kapan Ino ada waktu untuk bertemu.
"Ah … soal itu … maaf, Itachi-kun, aku belum tahu." Ino memejamkan matanya—menahan keinginan untuk menghela napas panjang. Yang Ino inginkan saat itu hanya satu, segera mengakhiri pembicaraan ini. "Maksudku, aku sedang bersemangat mengerjakan laporan ini."
"Aku mengerti," jawab Itachi cepat, "aku juga berharap kau segera menyelesaikan program studi pasca sarjanamu. Dengan begitu, mungkin kau bisa lebih leluasa memikirkan persoalan pernikahan kita?"
"Eeeh?"
"Kau tidak mau?"
"Mana mungkin aku tidak mau!" jawab Ino nyaris spontan. Nada suaranya mendadak kembali bersemangat. Sebelah tangannya sempat mendarat di depan mulutnya kemudian bergerak sedikit ke pipinya yang kembali memerah.
"Hahaha. Baiklah. Tapi sebaiknya, pembicaraan ini kita tunda sampai kau lulus, ya?"
"I-iya …."
Keduanya saling mengucapkan selamat malam tidak lama setelah itu. Dan setelah sambungan telepon terputus, Ino segera merebahkan tubuhnya. Kedua tangannya terentang ke atas dengan ponsel yang masih ia genggam di tangan kanan. Perlahan, Ino mendekatkan ponselnya kembali ke dekat mulut.
Benar. Benar juga. Semua yang terjadi dengan Tobi adalah kesalahan.
Ino menghela napas panjang setelah sebelumnya ia mati-matian menahan diri untuk tidak melakukannya. Matanya terpejam.
Hubunganku dengan Itachi … adalah hubungan yang sesungguhnya—hubungan yang nyata.
o-o-o-o-o
Niat Ino untuk mengutarakan keinginannya pada Prof. Sarutobi untuk mengganti subjek penelitian seketika hilang tatkala ia kembali menginjak rumah sakit. Begitu Ino bertemu Tobi, kegilaan itu kembali merasukinya. Ia seakan lupa pada Itachi. Ia seakan lupa pada kenyataan.
"Jadi menurutmu … mereka akan bisa menemukanmu di sini?"
Di atas kasur, Tobi menekuk kakinya hingga lututnya bersentuhan dengan dada. Ino yang sudah terduduk nyaman di sebelahnya—dengan tangan yang masing-masing memegang buku kecil dan bolpoin—kemudian memiringkan kepala.
"Aku tidak mau mereka menemukanku di sini. Mereka jahat."
Ino tersenyum lembut. Kemarin, ia memang sudah meminta Tobi untuk menceritakan semua, tetapi pemuda yang sesekali terlihat kekanakan itu tidak menjawab sebagaimana yang diharapkan Ino.
Ino pun tidak terlalu menuntut. Waktu masih tersedia banyak baginya. Lagi pula, memaksa Tobi sama saja dengan bunuh diri. Ino tidak tahu kapan mood Tobi akan berubah jadi sebisa mungkin dia menghindari hal-hal yang dapat memicu pemuda itu berubah dalam fase waspada—paranoidnya.
"Mereka bermaksud membunuhku. Mereka membakar apartemenku." Tobi membenamkan kepalanya ke dalam dua tangan yang terletak di atas lututnya.
Tangan Ino membelai punggung Tobi dengan lembut.
"Tapi sekarang kau aman, 'kan?"
Tobi mengintip sedikit ke arah Ino. Lama ia menatap Ino sebelum ia tersenyum—meskipun Ino tidak bisa melihatnya karena wajahnya masih tertutup topeng oranye.
"Ada apa?" tanya Ino dengan senyum kekanakan.
"Ino-chan ingat pernah bertemu denganku?"
"Ya?"
"Di rumah keluarga Uchi—mereka … mereka yang mau membunuhku," ujar Tobi yang kembali tampak ketakutan. Kali ini kedua tangannya terangkat untuk memegang kepala. "Mereka bermaksud membunuhku."
"Tobi, Tobi. Tenang dulu." Ino memegang kedua bahu Tobi. "Keluarga Uchi—keluarga Uchiha, maksudmu?"
Tobi mengangguk tanpa melihat ke arah Ino. "Mereka tidak suka padaku. Mereka ingin membunuhku …."
"Tapi kenapa? Kenapa mereka mau membunuhmu?" Ino seakan terlarut dalam cerita Tobi. Ia tidak lagi bisa memilah, mana yang kebenaran dan mana yang delusi. Bagi Ino saat ini, semua cerita Tobi adalah kenyataan.
"Mereka tahu … aku mengetahui rahasia yang penting. Mereka—"
Mendadak, Ino melepaskan topeng Tobi—meninggalkan buku catatan dan bolpoinnya terbuang begitu saja ke lantai. Dengan cepat, ia menghadapkan muka Tobi ke arahnya. Hanya sesaat mata keduanya bertukar sapa dan selanjutnya … Ino mengecup bibir Tobi. Lembut dan ringan. Hanya memulas bibir.
Setelah bibir keduanya terlepas, Ino merangkum pipi Tobi. Tobi belum bisa berkata apa-apa.
"Dengarkan aku. Kau akan aman di sini! Aku akan melindungimu!"
Ino mengusap pipi Tobi yang dipenuhi luka bakar dengan ujung ibu jarinya. Tidak sedikit pun lagi ia merasa ketakutan meski melihat wajah yang rusak di hadapannya. Ino sendiri tidak mengerti—meski ia berusaha mengedepankan logikanya, pada akhirnya perasaan semu inilah yang menang.
Pelukan hangat Ino berikan. Gadis itu sudah tidak peduli pada tugasnya. Ia terjerat sedemikian erat.
"Ino-chan …," panggil Tobi lembut sementara tangannya perlahan bergerak. Mengusap lembut punggung Ino, bergeser mengusap rambut pirang pucat Ino. Tak lama, tangan itu sudah di bahu Ino dan segera saja—
"!"
—tangan besar itu mencengkeram leher Ino.
"Akh!"
Tubuh Ino terpelanting ke kasur dengan Tobi berada di atasnya—mencekiknya. Wajah Ino terlihat sangat kesakitan tapi demikian pula wajah Tobi. Pemuda itu tidak menunjukkan amarah, hanya ketakutan.
"Kau … pasti kau disuruh mereka untuk membunuhku." Tobi menekan tenggorokan Ino dengan lebih kuat. Jalur pernapasan Ino terasa tersumbat.
"Khhh!"
"Kau akan membunuhku! Kau berpura-pura menjadi Ino-chan! Kau kaki tangan mereka!" Tobi terus meracau.
Mulut Ino hanya bisa terbuka-buka tanpa ada satu suara pun yang keluar. Namun, sebelum kesadaran Ino menghilang sepenuhnya, ia menemukan satu tombol berwarna merah di dekat tempat tidur Tobi.
'Kalau ada apa-apa, tekan saja tombol merah yang ada di dekat tempat tidurnya.'
Kata-kata dr. Kabuto sempat terngiang di kepalanya. Dengan susah payah, Ino menggerakkan sebelah tangannya yang paling dekat dengan tombol. Tobi mengabaikan pergerakan Ino dan terus berusaha untuk menghilangkan kesadaran gadis di bawahnya.
Tangan Ino bergetar—sesaat ia bahkan ragu untuk menekan tombol itu. Tapi, ia tidak mau mati! Tidak! Ia tidak boleh mati!
Setelah keputusan itu terbentuk, dengan cepat Ino menyambar tombol yang langsung menggaungkan alarm di depan kamar Tobi. Suara keras tersebut membuat Tobi kaget dan melonggarkan cekikannya pada Ino. Kesempatan itu Ino ambil untuk memasukkan banyak udara ke dalam paru-parunya.
Setelah beberapa kali terbatuk-batuk, Ino melihat sosok Tobi yang kembali mematung. Belum sempat Ino melakukan apa pun, petugas berseragam putih sudah melesak masuk ke ruangan.
Dua petugas kemudian menahan kedua tangan Tobi yang tidak melakukan perlawanan dan satu petugas lain membantu Ino berdiri. Ino sendiri tidak banyak melakukan gerakan kecuali menyentuh lehernya yang masih terasa panas akibat cekikan Tobi.
Tanpa banyak usaha, mereka kemudian membawa Tobi keluar ruangan. Ino belum juga bisa mengatakan apa pun meskipun saat itu petugas-petugas rumah sakit mulai berisik menanyainya. Ino tidak bisa berpikir saat itu.
Apa yang baru saja terjadi? Ke mana mereka hendak membawa Tobi?
Ino tidak tahu. Ia belum benar-benar bisa berpikir dengan akal sehatnya.
Namun, satu yang tidak bisa Ino lupakan …
… ekspresi Tobi yang kemudian menatapnya dengan pandangan meminta maaf tepat sebelum pemuda itu menghilang dibawa para petugas rumah sakit.
o-o-o-o-o
Dr. Kabuto membetulkan posisi kacamatanya. Ia kemudian melirik ke arah Ino yang masih terduduk dengan kepala tertunduk. Sebuah mug berisi teh hangat berada di meja di depan Ino. Namun, belum ada tanda-tanda bahwa gadis itu sudah menyentuh minumannya.
"Maafkan aku," ujar dr. Kabuto, "aku tidak menyangka kalau Tobi bisa berbahaya seperti itu. Selama ini ia tidak menunjukkan tanda-tanda agresivitas."
Ino tidak menjawab. Matanya memandang sayu pada kedua tangannya yang ada di atas paha. Terkepal ringan.
"Lalu …," dr. Kabuto menghela napas sekilas sebelum menarik kursi dan duduk di depan Ino, "sejauh mana attachment kalian?"
Meskipun Ino masih menunduk, Kabuto bisa melihat mata kiri gadis itu membelalak. Tentu hanya sebelah matanya yang terlihat—Ino selalu menata rambutnya dengan membiarkan sebagian poninya jatuh menutupi mata kanan.
Melihat ekspresi Ino, dr. Kabuto kembali menghela napas. "Yamanaka-san, kurasa kautahu apa yang harus kaulakukan?"
Ino mengangkat kepalanya cepat.
"Aku tidak—"
"Mulai sekarang, aku melarangmu ke sini dan menemui Tobi."
Wajah Ino memucat. Ia kemudian bangkit berdiri dengan tangan yang bertahan di atas meja.
"Kenapa? Aku menemui Tobi untuk menyelesaikan tugasku. Anda tidak bisa melarang saya untuk datang ke sini!"
Dr. Kabuto menyentuh dahinya.
"Tidak. Kau tidak akan bisa menyelesaikan tugasmu." Dr. Kabuto menggerakkan tangannya, menyuruh Ino kembali duduk. Ino memandang ragu pada dr. Kabuto dan ia memilih untuk tetap berdiri. "Kau mahasiswi psikologi, kautahu apa yang sudah terjadi."
Ino menggigit bibir bawahnya. Seperti kata dr. Kabuto, Ino tahu. Ino tahu apa yang terjadi.
"Aku tahu …," jawab Ino dengan kedua tangan yang sudah terkepal, "aku tahu Tobi dalam bahaya! Ia membutuhkan aku! Aku harus melindunginya!" Sebelah tangan Ino menyentuh dadanya. "Dia membutuhkan aku."
Dr. Kabuto mendecak. Ia menggelengkan kepalanya.
"Sudah. Kau tidak boleh datang lagi ke sini. Aku juga akan mengajukan pengunduran dirimu dari kasus Tobi. Aku akan menghubungi Prof. Sarutobi mengenai kekacauan ini."
"Anda tidak bisa melakukan itu!" Ino memutari meja dan langsung memperkecil jarak dengan dr. Kabuto yang sudah kembali berdiri. "Anda tidak bisa memisahkan saya dari Tobi!"
"Yamanaka-san!" Dr. Kabuto langsung mencengkeram kedua bahu Ino. Mata di balik kedua kacamatanya berkilat penuh simpati. "Folie a deux."
Ino terkejut hingga ia mengambil langkah mundur dari dr. Kabuto satu langkah. Cengkeraman tangan dr. Kabuto ikut terlepas saat Ino bergerak mundur.
"Kautahu apa artinya?"
Ino mengangkat tangannya ke depan mulut. Ekspresi wajahnya menyiratkan kepanikan.
"Jika kau lupa, aku bisa membantu mengingatkan. Shared psychotic disorder," jelas dr. Kabuto, "dan aku cemas … kalau-kalau kau mulai menunjukkan gejala ke arah sana."
Tangan Ino bergetar di depan mulutnya. Tubuhnya mengaku. Matanya tak lagi bisa menatap dr. Kabuto.
Ia takut. Ia takut saat kenyataan justru dibentangkan di depan kedua matanya. Padahal Ino sudah mengira, tapi ia tidak bisa melepaskan diri.
"Ba-bagaimana ini … aku …."
Dr. Kabuto menepuk pundak Ino dengan lembut.
"Lebih baik kau pulang dan beristirahat sekarang." Dr. Kabuto seolah teringat sesuatu hingga ia menambahkan, "Ada orang yang bisa menjemputmu? Tentu kau tidak bisa pulang sendiri dalam keadaan shock seperti ini."
Ino mengangkat kepalanya dan menatap dr. Kabuto dengan pandangan yang sulit dimengerti. Mulutnya kemudian terbuka dan sebuah nama meluncur.
o-o-o-o-o
Mobil Camri silver itu meluncur perlahan meninggalkan kompleks rumah sakit. Suasana hening tercipta di dalamnya. Baik pengemudi maupun orang yang duduk di bangku penumpang tampak canggung. Padahal seharusnya tidak seperti ini. Bagaimanapun, mereka adalah sepasang kekasih.
"Terima kasih sudah menjemputku ke sini, Itachi-kun." Ino—yang saat itu duduk di bangku penumpang—akhirnya membuka suara. "Padahal kau pasti sedang sibuk dengan pekerjaanmu."
"Tidak masalah," ujar Itachi datar. Ia pun tidak mengatakan apa-apa lebih lanjut.
Ino melirik ke arah Itachi. Entah apa yang kekasihnya itu pikirkan. Ino tidak bisa menerka—ia sedang tidak bisa berpikir apa-apa.
Ino hanya ingin sampai di rumahnya dan tertidur. Tertidur lalu bermimpi. Dan keesokannya, begitu ia terbangun, ia akan segera merasa lega karena semua yang terjadi ini hanyalah mimpi buruknya.
Karena merasa bahwa tidak akan ada pembicaraan dalam waktu dekat, Ino memutuskan untuk memejamkan mata. Ia tidak ingin apa-apa lagi. Ia hanya ingin memutar balik waktu. Ia hanya ingin menghapus semua yang telah terjadi.
Setelah beberapa lama berjalan tanpa henti, mobil yang dikendarai Itachi pun berhenti. Ino perlahan membuka mata dan mendapati bahwa mereka belum sampai di rumah Ino. Sebaliknya, mereka kini ada di sebuah tempat parkir yang cukup asing di mata Ino. Mata Ino menyipit.
"Ayo turun," ujar Itachi sambil menoleh ke arah Ino. Sekali ini, seulas senyum tampak di wajahnya.
Tanpa banyak bertanya, Ino pun mengikuti Itachi turun. Setelah itu, dengan sigap Itachi menggenggam tangan Ino dan menuntun gadisnya itu untuk bergerak mengikutinya. Mereka berjalan dalam tempo sedang dan membiarkan udara segar sesekali menepuk pipi Ino.
Begitu ia bisa lebih berkonsentrasi melihat sekelilingnya, Ino pun sadar bahwa ia sudah berada di bukit Hokage no Kao. Di kiri dan kanan dari jalan yang ia lalui ditumbuhi pepohonan-pepohonan raksasa yang menghasilkan suasana sejuk dan segar. Sesemakan dan rerumputan juga menambah keasrian tempat tersebut.
Saat Ino masih bertanya-tanya mengapa Itachi mengajaknya ke sini, Itachi pun bergumam kecil,
"Tarik napas dan rileks." Tangan Itachi menggenggam tangan Ino lebih erat. "Kau butuh refreshing."
Ino tidak menjawab dan hanya menundukkan kepalanya selama berjalan. Mereka menyusuri jalan beraspal dan melewati cukup banyak anak tangga hingga tiba di puncak.
Di puncak sendiri, terdapat tempat peristirahatan. Di tengah-tengah rerumputan terdapat jalur pedestri dari bebatuan halus dan beberapa bangku kayu panjang yang telah diisi satu-dua orang. Itachi melihat-lihat ke sekeliling sebelum ia mengabaikan tempat duduk yang masih kosong dan memilih mengajak Ino ke arah pagar pembatas yang ada di ujung jalan batu.
Di belakang pagar pembatas itulah, Itachi melepas tangan Ino. Ia meletakkan tangan Ino di pagar dan mengelus punggungnya dengan lembut. Ino masih tidak berani memandang Itachi.
"Pemandangan dari sini terlihat indah sekali bukan? Udaranya juga menyegarkan." Itachi yang sudah menjauhkan tangannya dari tangan Ino tampak tersenyum tenang. "Tidakkah kau merasa lebih bebas? Setelah beberapa hari berkutat dalam bangunan yang menyesakkan itu?"
Ino menelan ludah dan menggenggam pagar pembatas dengan semakin erat.
"Yah, jujur, aku memang sedikit merasa bahwa kau … terlalu disibukkan oleh tugasmu," Itachi menyentuh dagunya dan berkata perlahan, "atau lebih tepat kukatakan … terlalu disibukkan oleh pemuda lain? Oleh pamanku sendiri?"
Tanpa bisa ia tahan lagi, air mata Ino pun menetes. Itachi memandang Ino dengan tatapan simpati sekaligus sayang.
"Ma-maafkan aku … Itachi-kun … maafkan aku … maaf …."
Itachi mengulurkan tangannya untuk merengkuh tubuh Ino agar semakin mendekat ke arahnya. Dengan lembut, ia mengecup puncak kepala Ino.
"Aku tahu kau tidak sungguh-sungguh. Aku tahu, kau gadis yang baik. Kau hanya terlalu … bersimpati pada pasienmu. Dan karena itulah kau …?!"
Ucapan Itachi terputus tatkala Ino mendadak memeluknya. Gadis itu terus terisak—membasahi bagian depan kemeja putih bergaris Itachi.
"Maafkan aku," ujar Ino disela isak tangisnya, "maaf …."
Berulang dan berulang. Bagai kaset rusak.
Penyesalan dan akal sehat … kini perlahan merasuki benak Ino. Itachi merasa ia bisa menduga apa yang tengah kekasihnya ini pikirkan. Seulas senyum tenang menghiasi wajahnya. Ia pun membalas pelukan Ino dan kemudian membelai kepala Ino.
Saat itu, satu tekad terbentuk di kepala Itachi.
Ia tidak akan membiarkan gadisnya kembali ke tempat menyesakkan itu. Itachi tidak akan membiarkan gadisnya direbut oleh pamannya yang sudah dimasukkan ke tempat perawatan bagi orang-orang dengan gangguan mental. Itachi akan menarik keluar gadisnya dari kegilaan.
o-o-o-o-o
Di salah satu kamar, sosok Tobi tanpa topengnya tampak menunduk penuh penyesalan. Matanya memandang sayu sementara seluruh tubuhnya masih terikat.
Lalu, samar-samar, suara lirihnya terdengar di ruang isolasi yang sangat hening tersebut.
"Ino-chan …."
***TO BE CONTINUED***
Ahakahakahakahak~ #ketawagila. Udah lama ya aku nggak update fanfict yang satu ini. Maafin :"")
Tapi berita baiknya, next chapter will be the last chapter. Yaaay! Berita buruknya, aku nggak tahu kapan chapter 4 bakal beres. XDDD
Alurnya agak ngebut, ya? Aku sendiri ngerasa, sih. Tapi mudah-mudahan nggak terlalu ngacauin alur cerita dan kepuasan pas bacanya, ya ;))
Oke, aku balesin review non-login dulu, ya:
Guest: dag dig dug seeer~ aku juga penasaran gimana reaksi kamu setelah baca chapter terbaru fanfict ini D":
gaarachan: gomen ne, belum bisa update cepet kemaren ini. Tapi moga-moga chapter ini nggak mengecewakan, ya :""3
Mizuki violetta: chapter 3, silakan~
Done~! Untuk yang review login, sila cek inbox kalian, yak ;)
Lalu ... makasih banyaaaaak sebanyak-banyaknya untuk yang udah read n review chapter sebelumnya. Terima kasih juga saya ucapkan buat semua silent reader, yang udah nge-alert, bahkan nge-fave fic ini. Doumo arigatou gozaimasu! :heart:
Nah, untuk chapter tiga … sila beri tahukan pendapat, pesan, kesan, kritik minna-san tentang fanfict ini via review~ :""3
I'll be waiting.
Regards,
Sukie 'Suu' Foxie.
~Thanks for reading~
