Malam itu, Ino membuang semua print-out laporannya. Ia menghapus data-data yang masih tertinggal di laptop, kemudian mengeluarkan kaset dari tape recorder-nya dan kemudian … merusaknya dengan jalan memotong tali cokelat di kaset.
Ino tidak sendiri. Itachi di sampingnya saat Ino melakukan hal tersebut.
Tepat tindakan Ino untuk mengajak Itachi ke rumahnya sebagai penyelesaian. Jika Ino sendiri, ia tidak tahu, apa dia benar-benar akan lepas dari kegilaan tersebut atau tidak. Bukan tidak mungkin keadaan akan bertambah parah jika ia terlambat dihentikan.
"Nah, buku catatan ini yang terakhir," ujar Ino. Bersamaan dengan itu, jemari-jemarinya mulai bekerja—dibantu sebuah gunting—untuk menyobek-nyobek catatannya. Kertas-kertas itu dalam sekejap saja berubah menjadi serpihan kecil.
"Jadi … selesai sudah kasusmu dengan Uchiha Obito?" tanya Itachi dengan nada jahil sambil menarik gadisnya agar duduk di pangkuannya.
"Jangan sebut nama itu lagi," jawab Ino sedikit murung, "aku tidak mau mendengar apa pun tentangnya. Setidaknya, tidak dalam waktu dekat."
Itachi terkekeh kecil.
"Kau benar-benar mau melepas kasus ini? Dan kesempatan untuk segera lulus?"
Ino menghela napas. "Ya. Besok aku akan menemui Prof. Sarutobi dan meminta maaf pada beliau. Lalu, akan kupikirkan topik lain untuk tesisku nanti. Semoga beliau masih mau membantu."
Dengan hangat, Itachi memberi satu kecupan di pipi Ino.
"Ya, rencana itu jauh lebih baik." Jemari Itachi kemudian memainkan rambut Ino. "Kalau begitu, mari kita tutup kisahmu dan Obito-jisan sampai di sini."
KLINISCHE CHARME
Disclaimer : I do not own Naruto. Naruto © Masashi Kishimoto
I don't gain any commercial advantage by publishing this fanfic. This exactly is just for fun.
Story © Sukie 'Suu' Foxie
Warning: Probably rush and a bit OOC. AU.
A fanfiction for Thie-chan / Thi3x Noir / Noira Hikari
Chapter 4. Auf Wiedersehen
.
Goodbye
Malam itu, Tobi dibiarkan di ruang isolasi. Ia sama sekali tidak bisa memejamkan mata. Dalam keadaan tangan yang terikat, pemuda itu hanya terduduk menerawang di kamarnya yang tidak ada apa-apa. Ekspresinya kosong—terlihat jelas karena ia sedang tidak mengenakan topeng oranyenya. Tubuhnya terdiam kaku tanpa berubah posisi sedikit pun sejak pertama ia dibawa.
Keesokan paginya, dr. Kabuto sebagai penanggung jawab mendapati posisi Tobi yang masih terbilang kaku. Ia pun mendatangi Tobi setelah sebelumnya ia hanya mengintip dari jendela berukuran 15x7 cm yang ada di pintu.
"Bagaimana keadaanmu hari ini, Tobi?" tanya dr. Kabuto sambil mengangkat papan pemeriksaan medis milik Tobi.
Tobi tidak serta-merta merespons. Ia terdiam dengan tatapan menerawang. Tubuhnya masih saja tampak kaku dan ini membuat dr. Kabuto menyentuhkan ujung tumpul bolpoinnya ke kepala. Tobi kembali terlihat pasif—sebagaimana hari-hari yang lalu sebelum kedatangan Ino.
"Sepertinya kau sudah lebih tenang, ya? Apa aku bisa membawamu kembali ke kamar yang biasa?"
Rupanya pertanyaan dr. Kabuto berhasil menarik perhatian Tobi.
"Kamar yang biasa? Apa Ino-chan sudah datang?" Tobi tidak tersenyum saat mengatakannya. Namun, sorot matanya terlihat penuh harap.
Dr. Kabuto mendeham-deham sebentar sebelum ia memberikan jawaban berupa gelengan kepala.
"Dia tidak datang hari ini."
Binar harapan itu hilang sudah. Tobi kembali menundukkan kepala.
"Tentu," ujarnya lemah, "dia pasti marah padaku. Aku berusaha membunuhnya. Aku mencurigainya."
Alis mata dr. Kabuto terangkat. Ia pun membetulkan posisi kacamatanya sebelum tangannya yang memegang bolpoin mulai menari di atas lembaran putih.
"Jadi? Kauingat apa yang sudah kaulakukan?"
"Mana mungkin aku lupa," jawab Tobi setengah mendesis. "Ino-chan pasti membenciku sekarang."
Dr. Kabuto menyipitkan mata. Ia menuliskan beberapa kata dalam laporan pemeriksaan medis milik Tobi. Ia membiarkan suasana ruang itu hening tanpa niatan untuk membuka pembicaraan langsung. Dan sebagaimana harapannya, Tobi kembali membuka mulut.
"Atau … atau dia bukan membenciku. Dia tidak membenciku. Dia tertangkap oleh mereka. Dia tertangkap oleh Uchiha!"
Dr. Kabuto menggelengkan kepala.
"Uchiha itu keluargamu juga, bukan?"
"Tidak! Aku tidak akan mengakui orang-orang jahat seperti mereka sebagai keluarga! Mereka berusaha membunuhku!"
"Dan kenapa mereka berusaha membunuhmu?"
"Karena aku tahu rahasia penting mereka! Karena itu mereka berusaha membunuhku! Mereka bahkan membakar apartemenku! Mereka tidak akan melepaskanku! Dan mereka memulainya dari Ino-chan!"
Dr. Kabuto pelan-pelan menghela napas. Dia melakukannya dengan berhati-hati di saat Tobi tidak terlalu memperhatikannya.
"Kau mau makan, Tobi?"
Tobi tidak langsung menjawab. Dia membiarkan ruangan kembali hening sebelum ia akhirnya menjawab, "Aku mau topengku …"
Tangan dr. Kabuto bergerak untuk membenarkan posisi kacamatanya.
"… dan Ino-chan."
o-o-o-o-o
Siang itu, Itachi mengambil cuti dari pekerjaannya. Kini, ia tengah bersama dengan Ino di kediaman keluarga Uchiha. Tidak ada hal penting yang mereka lakukan. Hanya berbincang ringan sembari membiarkan televisi menyala untuk mengisi keheningan yang terkadang terjadi di antara mereka.
Sekitar pukul dua belas, waktu makan siang, kepala keluarga Uchiha datang. Awalnya, Uchiha Fugaku tampak sedikit terkejut melihat Itachi dan kekasihnya ada di ruang keluarga kediaman Uchiha (waktu Itachi mengajukan cuti, Fugaku mengira Itachi akan bepergian keluar rumah), tapi ia tidak banyak berkomentar soal itu. Toh, putranya sudah pernah memperkenalkan sang kekasih—bahkan membawanya ke pesta keluarga Uchiha.
Setelah saling melempar salam, Fugaku sudah hendak berlalu dan masuk ke dalam kamarnya sementara menunggu makan siang siap. Namun, di tengah perjalanan, ia mendadak teringat suatu topik yang pernah diangkat Itachi.
"Kudengar dari Itachi, topik tesismu membahas mengenai Uchiha Obito?"
Tubuh Ino seketika menegang. Itachi langsung menutup mulut—ia benar-benar lupa bahwa ia pernah membahas persoalan ini dengan sang ayah. Lalu, ia juga menyesal bahwa ia tidak sempat membahas lebih lanjut termasuk mengenai kekacauan yang sedikit terjadi saat pengambilan data. Tidak secara detail tentunya, tapi akan lebih baik kalau Itachi sempat mengatakan pada ayahnya bahwa Ino batal mengambil data dari Uchiha Obito.
"Eh, yah, saya …."
"Kuharap kau tidak terang-terangan menyebut nama Uchiha dalam tesismu, Yamanaka. Bagaimanapun, anak itu adalah aib bagi keluarga Uchiha. Sejak awal, dia adalah pecundang dan sekarang, ia bertingkah gila dan paranoid. Membakar rumahnya sendiri dan kemudian berteriak-teriak bahwa ia telah diancam oleh keluarga Uchiha."
Ino mengangkat alis tanda tidak mengerti.
"Tousan," ujar Itachi cepat.
Fugaku menghela napas dan memijat-mijat pangkal hidungnya sekilas. Pikirannya sudah berputar dan mulutnya yang semula terkatup perlahan terbuka—siap menumpahkan segala hal yang telah terpatri dalam benaknya.
"Ini semua gara-gara wanita itu—ibu Obito. Dia yang membawa kegilaan itu ke dalam keluarga Uchiha. Tidak pernah ada dalam sejarah bahwa keluarga Uchiha memiliki bibit kegilaan. Dan kakakku itu terlalu bodoh untuk tetap menikahi wanita gila yang akhirnya meninggal karena bunuh diri tersebut. Setelah ibunya meninggal, kegilaan itu semakin terlihat dalam diri Obito. Ia bertingkah semakin aneh dan beberapa kali ia tertangkap basah menggumamkan kata-kata seperti, 'Aku tahu rahasia keluarga Uchiha'."
"Tousan," ulang Itachi—berusaha menginterupsi perkataan ayahnya dan menghentikan pembicaraan mengenai Uchiha Obito. "Ino sudah melepas penelitian mengenai Obito-jisan."
Mata Fugaku menunjukkan bahwa ia cukup terkejut mendengarnya. Namun kemudian, ia kembali pada ekspresi datarnya.
"Begitu?"
Ino memilih mengangguk sebagai jawaban. Mungkin tidak sopan, tapi sekali itu, Ino menjawab tanpa memandang mata Fugaku. Ia juga enggan bersuara lebih lanjut.
"Mungkin memang lebih baik seperti itu." Fugaku pun berlalu tanpa mempermasalahkan mengenai kelakuan Ino yang sesungguhnya terbilang tidak sopan. Namun kepala keluarga Uchiha itu mungkin memang tidak terlalu peduli, atau berusaha tidak peduli. Ia tidak lagi berkata-kata dan akhirnya benar-benar menghilang di balik pintu kamarnya.
Itachi menengok ke arah pintu yang tertutup sebelum ia kembali melihat ke arah kekasihnya. Ia mengamat-amati Ino yang masih memandang ke arah lantai sebelum tangannya bergerak dan mengangkat dagu Ino.
"Jangan dipikirkan. Obito-jisan bukan lagi urusanmu, 'kan?"
"Aku tidak—tapi, Obito seperti itu karena … ibunya?"
Mulut Itachi sudah sedikit terbuka kala itu. Ia hendak meluncurkan satu-dua pernyataan tetapi ia seakan menelan kata-katanya kembali. Diperlihatkannya sebuah senyum sebelum ia mengecup dahi Ino.
"Mau menemuinya lagi?"
"Eh? Apa?"
"Mau bertemu Obito-jisan lagi?"
Ino tampak tercenung dengan matanya yang mengunci mata Itachi. Itachi sendiri tetap tampak tenang hingga membuat keraguan Ino semakin bertambah. Apa maksud Itachi sebenarnya?
"Kau belum mengucapkan selamat tinggal padanya, 'kan? Mungkin itu membuatmu tidak nyaman."
Itachi menggenggam erat tangan Ino. Mata Ino berpindah pada jemarinya yang sudah berkaitan dengan jemari Itachi.
"Ayo. Aku akan menemanimu."
Ino tersenyum sembari menaikkan alisnya ke atas.
"Kau memang harus selalu menemaniku!"
o-o-o-o-o
Tobi kini sudah kembali mengenakan topeng oranyenya. Dia juga sudah kembali dipindahkan ke ruang yang biasa—bukan lagi ruang isolasi. Di sana, Tobi terduduk tanpa energi di kasur. Dr. Kabuto masih menemaninya. Ada satu-dua hal yang ingin dr. Kabuto pastikan dan karena itulah, ia tetap tinggal di ruangan Tobi.
"Aku tidak habis pikir," ujar dr. Kabuto memulai, "sepertinya kau sangat tertarik pada Ino-chan, ya?"
Tobi tidak menjawab. Meskipun demikian, dari gerak-geriknya, dr. Kabuto bisa memastikan bahwa Tobi sudah mendengar pertanyaannya. Satu dorongan lagi.
"Apa yang membuatmu tertarik pada Ino-chan?"
" … Aku pertama kali bertemu Ino-chan di pesta keluarga Uchiha. Entah dia mengingatnya atau tidak," jawab Tobi lancar. Kala itu, sisi normal Tobi tampak mengambil alih—dr. Kabuto bersyukur karenanya. "Terus terang saja, aku kaget saat melihatnya ada di sini."
Satu anggukan ditunjukkan dr. Kabuto sebagai respons—attending. Melihat bahwa dr. Kabuto memperhatikannya membuat Tobi semakin tertarik untuk berbicara.
"Aku … sangat menyukai senyumnya saat pertama kali bertemu. Tetapi, sejak awal aku tahu kalau dia adalah kekasih salah satu Uchiha itu—Uchiha Itachi." Tubuh Tobi mendadak menegang. Matanya mendelik di balik topengnya. "Aku ingin menyelamatkannya. Dia terjebak oleh keluarga Uchiha itu. Tak lama lagi, mereka akan membunuhnya. Mereka ingin membuatku menderita."
"Begitukah?" tanya dr. Kabuto sambil mengetuk-ngetukkan bolpoinnya ke kertas yang ia tempelkan pada satu papan. Suara 'tuk tuk' pelan terdengar dan sesaat mengecoh pendengaran.
Dr. Kabuto menoleh ke arah pintu yang ia yakini baru saja diketuk—suara ketukan bolpoinnya pada kertas laporan yang dialasi papan tidak akan menimbulkan suara sebesar yang baru saja ia dengar. Benar saja, tak lama pintu terbuka dan salah seorang perawat masuk dengan berhati-hati.
"Ano, Kabuto-sensei, ada …," perawat itu melirik ke arah Tobi diam-diam sebelum melanjutkannya perkataannya, "tamu."
Merasa curiga dengan gerak-gerik perawat tersebut, dr. Kabuto segera bangkit dari kursi tempat ia duduk. Ia berkata perlahan dengan mata yang menatap lurus ke arah Tobi, "Maaf, aku tinggal sebentar, nanti kita lanjutkan lagi."
Setelahnya, dr. Kabuto segera beranjak tanpa menunggu respons dari Tobi.
Benar—tidak perlu menunggu. Karena Tobi tidak akan berkata apa-apa; tidak akan menjawab apa-apa.
Di sana, di ruangannya, ia kembali membatu dengan tatapan menerawang.
Hanya telinganya yang terus bekerja dalam bisu—mendengarkan suara-suara yang tak seorang pun akan bisa mendengar kecuali dirinya.
'Kau harus keluar dari sini. Kau harus menyelamatkan Ino dari keluarga Uchiha.'
o-o-o-o-o
Dr. Kabuto menyambut tangan Ino dan kemudian Itachi. Setelah mempersilakan Ino dan Itachi ke ruangannya, sang psikiater tersenyum ramah dan langsung membuka percakapan.
"Apa ada barangmu yang ketinggalan, Yamanaka?"
Ino memperbaiki posisi duduknya dengan gelisah. Baru setelah Itachi menggenggam tangannya, Ino terlihat lebih mantap. Ia menatap kekasihnya sesaat sebelum beralih pada pertanyaan dr. Kabuto.
"Tidak—sebenarnya tidak. Aku … hanya ingin mengucapkan selamat tinggal pada … Tobi."
Dr. Kabuto mengernyitkan alis. "Mengucapkan selamat tinggal?"
"Yaa, ano ….," Ino menggerakkan tangan seakan ingin menyingkirkan beberapa rambut yang menempel di wajahnya, "aku merasa tidak enak jika aku pergi begitu saja tanpa berpamitan."
"Begitu?" respons dr. Kabuto tenang. Namun ia kemudian menggeleng. "Maaf, aku tidak bisa membiarkanmu menemuinya lagi."
"Eh?"
"Yamanaka, keberadaanmu bisa membuat emosinya tidak stabil." Dr. Kabuto tersenyum menenangkan sebelum Ino melancarkan protes. "Tidak bijaksana jika kita membuatnya kacau hanya demi kepentingan sentimentalmu. Kau tahu peraturannya, 'kan?"
Ino menggigit bibir bawah. Ia tidak bisa begitu saja menerima perkataan dr. Kabuto, tapi ia juga tidak bisa menyangkalnya. Ia tidak tahu apa yang akan terjadi kalau dia sampai berjumpa dengan Tobi lagi.
Bahkan … walau dengan genggaman tangan Itachi di sampingnya. Apa ada jaminan bahwa kegilaan itu tidak akan kembali padanya?
Kepala Ino semakin menunduk sementara tangannya semakin erat menggenggam tangan Itachi.
"Yamanaka?"
"Aku mengerti," jawab Ino akhirnya. Seulas senyum terpaksa ia tunjukkan. "Memang harusnya aku tidak mengikuti keinginan sentimental seperti ini."
Dr. Kabuto hanya menjawab pernyataan pengertian Ino dengan mengangkat alisnya.
"Tapi … bolehkah setidaknya aku …."
o-o-o-o-o
Tobi terduduk diam di ranjangnya. Matanya menerawang sementara pikirannya bekerja cepat. Bagaimana caranya ia menyelamatkan Ino? Bagaimana caranya ia mengabulkan keinginan suara-suara di benaknya?
Terkadang, suara dengan nada memerintah itu membuatnya takut. Di sisi lain, suara itu seakan memberinya penguatan dan harapan. Ia harus menyelamatkan Ino dari keluarga Uchiha.
Tapi sekali lagi, bagaimana caranya?
Tobi bukan tidak mengerti sama sekali. Pertama-tama, ia harus keluar dari tempat ini—dari pengurungan ini. Namun, sang pemuda bertopeng tidak melihat celah. Ia tidak memiliki peralatan memadai untuk keluar dari ruangan.
Yang bisa ia lakukan kini hanya merenung dan menunggu. Kesempatan bisa datang sewaktu-waktu.
"Lumpuhkan penjaga yang nanti datang untuk membawakanku makanan."
Tobi menggeleng. "Aku tidak mau melibatkan orang yang tidak ada hubungannya," gumam pemuda itu kemudian.
"Lumpuhkan. Bukan dibunuh."
"Apa aku … bisa?"
"Kalau kau mau …."
"Aku …."
KREEK.
Suara pintu yang dibuka sekejap menghentikan percakapan Tobi dengan dirinya sendiri. Ia mengangkat kepala untuk melihat yang sudah ada di hadapannya. Seperti biasa, dokter tersebut tersenyum ramah padanya.
Tobi tidak banyak bereaksi. Tidak, suara di kepalanya tidak meminta Tobi untuk membalas senyuman itu. Sebaliknya, perintah-perintah untuk menjatuhkan Kabuto terasa makin nyata. Tobi sudah bangkit dari posisi duduknya di ranjang dan siap menerjang Kabuto saat mendadak sang dokter mengulurkan tangannya yang memegang suatu benda putih yang tampak berlipat-lipat.
Sebuah surat.
.
.
.
Teruntuk Tobi,
Maaf aku harus meninggalkanmu lebih cepat. Maaf juga aku tidak mengatakan apa-apa secara langsung padamu. Aku benar-benar menyesal.
Namun, aku rasa ini yang terbaik. Kalaupun kita terikat lebih lama, aku tidak yakin bahwa aku akan bisa memberikan apa-apa padamu. Aku takut justru aku malah memperburuk keadaan. Dan meskipun aku merasa berat untuk melakukannya, aku yakin kalau perpisahan inilah yang terbaik; untukmu, untuk kita berdua.
Tobi yang baik,
Jangan lagi membenci keluarga Uchiha. Mereka tidak salah apa-apa, sama sepertimu yang juga tidak bersalah. Percayalah padaku, kuatkan dirimu. Kalahkan pikiran-pikiran yang berusaha mengacaukan kesadaranmu.
Aku tidak tahu, apa dengan menuliskan surat ini aku bisa membantumu, meski hanya sedikit, untuk keluar dari kegilaan ini. Karena sesungguhnya, diriku sendiri pun meragukan. Segala yang terjadi denganmu terasa nyata. Sangat. Dan mungkin sesekali aku akan mengenangnya dalam mimpiku.
Benar, ini adalah perpisahan. Tapi, suatu saat nanti ... nanti ... entah kapan, aku membayangkan bahwa mungkin kita bisa bertemu kembali di bawah langit yang cerah; bukan dalam bangunan dingin yang membosankan. Jika saat itu tiba, sekali lagi aku akan menyapamu dan mungkin kita bisa menjadi teman kembali. Aku tidak tahu, seberapa lama waktu yang kaubutuhkan untuk keluar dari sini, tapi aku yakin bahwa akan tiba saatnya; jangan anggap ini hanyalah kata-kata manis belaka, kemungkinan itu akan selalu ada, sekecil apa pun hitungannya. Karena itu, ini adalah perpisahan; perpisahan yang sementara.
Jaga dirimu baik-baik, Tobi.
Dari yang tidak menyesal karena pernah bertemu denganmu,
Ino.
PS: Hancurkan saja surat ini setelah kau membacanya. Jangan disimpan. Ini hanya seonggok kenangan tak menyenangkan.
.
.
.
Dr. Kabuto sudah meninggalkan Tobi tak lama setelah ia menyerahkan surat itu. Ia hanya melirik sedikit dan menggelengkan kepala dengan sedih. Sesakit apa pun, Tobi pun hanyalah manusia; lelaki. Entah apa yang Ino tulis dalam suratnya, Dr. Kabuto memilih untuk tidak melihat hal yang sedemikian privasinya.
Seharusnya tidak seperti ini. Namun semua sudah terjadi. Tidak ada yang bisa disalahkan. Tidak ada yang salah.
Dr. Kabuto menghela napas panjang.
"Haahh ... semoga ... semua akan baik-baik saja."
o-o-o-o-o
Nyaris sepuluh bulan telah berlalu sejak Ino terakhir mengunjungi rumah sakit jiwa tempat Tobi berada. Gadis itu telah berhasil menyelesaikan tesisnya dan berhasil lulus dengan nilai yang terbilang memuaskan. Selama itu, Ino tidak pernah mendengar kabar apa pun dari Tobi. Ia juga tidak berusaha mencari tahu. Tepatnya, tidak bisa. Itachi selalu mengawasi dan Dr. Kabuto juga tidak akan membiarkan.
Sederhana, mereka akan lebih bahagia dengan cara ini. Pernyataan yang egois, sesungguhnya, Ino-lah yang lebih bahagia dengan keadaan ini.
Ia berhasil melupakan Tobi dan menjadikan semuanya sebagai mimpi buruk belaka. (Atau setidaknya, Ino berusaha dan beranggapan demikian).
Hubungannya dengan Itachi kembali seperti dahulu. Tanpa cela. Berbahagia.
Bahagia.
Dan mereka sudah akan melangkahkan kaki ke jenjang selanjutnya. Pernikahan. Dalam waktu dekat dan tidak akan ditunda lagi.
Saat itulah, Ino kembali teringat akan sosok Tobi. Mungkin kegelisahan menjelang pernikahan membuatnya memikirkan hal-hal yang tak perlu. Sekejap saja, semua yang (berusaha) dilupakannya menjadi hal yang sangat ingin diketahuinya.
Entah apa yang Tobi lakukan saat ini, Ino ingin tahu. Ia pun berharap bahwa penyakit paranoid pemuda itu tidak semakin parah dan ia bisa segera kembali ke tengah masyarakat. Namun, Ino belum bisa memastikan.
Diam-diam, ia semakin merasa penasaran. Dan diam-diam pula, ia akhirnya menelepon dokter Kabuto di sela-sela kegiatannya mencoba gaun pengantin.
Jawaban singkat yang diberikan dr. Kabuto membuat Ino membelalakkan mata tidak percaya. Wajahnya yang pucat segera disadari oleh beberapa penata gaun yang ada di sana. Sedikit terburu, Ino pun mengambil tempat yang agak di pojok dan menyembunyikan ekspresi wajahnya dari tiap-tiap orang yang ingin tahu.
Sang dokter tidak banyak berkata-kata dan tidak mau menjelaskan lebih rinci meskipun Ino mendesaknya. Ino maklum. Namun, ia bersikeras mengetahui posisi Tobi saat ini. Ia terus memaksa dan memaksa hingga pada akhirnya, sang dokter pun mengalah.
Berkat itulah, kini satu tekad sudah terbentuk di kepala Ino.
o-o-o-o-o
"Hai, Tobi." Ino menyunggingkan seulas senyum. "Akhirnya kita bisa bertemu lagi."
Tak ada jawaban. Ino menghela napas. Ia kemudian mendongak ke arah langit.
Ya; pada akhirnya, sebagaimana harapan dalam surat Ino, keduanya kembali bertemu di bawah langit biru. Bukan pertemuan yang menyenangkan. Sama sekali bukan.
Ino mengulurkan tangannya, tapi tetap tak ada respons.
"Akhirnya kau bebas, ya?" Ino tidak hendak menunggu jawaban dari lawan bicaranya. "Kau kini sudah terbebas dari ketakutan-ketakutan tidak rasionalmu. Dari mereka yang mengejarmu. Kau bebas." Ino memejamkan matanya dan tersenyum. "Bebas ... dari dunia ini."
Batu nisan di hadapannya tak jua memberikan tanggapan. Ino pun tidak mengharapkan apa-apa. Tepatnya, ia tidak tahu ia tidak bisa. Seandainya ia bisa memaksa nisan berbicara, tentu gadis itu ingin mendengar alasan sesungguhnya mengapa Tobi ada di sini. Bunuh diri? Dibunuh? Terbunuh? Kapan dan di mana tempat terjadinya, Ino juga tidak tahu. Oh, dr. Kabuto benar-benar bisa menjaga rahasia. Tak ada informasi detail yang bocor.
Dengan suara lirih, Ino kemudian bercerita. Hari-harinya setelah ia memutuskan untuk melupakan Tobi. Bagaimana ia memulai penelitian baru, tiap-tiap kesulitannya, dukungan Itachi, dan akhirnya ... rencana pernikahan mereka.
"Minggu depan ... aku sebenarnya ingin mengundangmu. Tapi ... kurasa itu tidak bijaksana. Dan terlalu berisiko." Ino tertawa kecil, terkekeh. "Dan sayangnya, memang tidak bisa sama sekali."
Gadis itu akhirnya bangkit berdiri. Segurat penyesalan dan kesedihan terpampang di wajahnya. Mati-matian ia menekan agar air mata tidak mengalir; hasilnya adalah suatu ekspresi kesakitan. Ia tidak lagi bisa berkata-kata. Semua ucapannya seolah tersangkut di tenggorokan.
Bersamaan dengan itu, seluruh kenangan yang selama ini ia tekan, semakin membuncah keluar. Perlahan-lahan melilitnya. Semakin kuat, semakin kuat. Ino merasa sesak napas dibuatnya.
Beginikah akhirnya? Ini tidak benar.
Ino bahkan tidak lagi bisa mengucapkan selamat tinggal.
Tunggu. Bukankah ia sudah mengatakannya?
Tapi, waktu itu ia mengatakan bahwa perpisahan mereka hanya untuk sementara. Siapa yang mengira ...
Ino menelan ludah. Pahit rasanya. Kenapa ia mendadak merasa salah langkah? Inikah hukuman atas rasa ingin tahu? Inikah ganjaran karena ia tidak bisa duduk tenang dan menanti pernikahannya yang sudah ada di depan mata? Apa ada yang lebih buruk dari ini?
Ino menggelengkan kepalanya kuat-kuat. Ia tidak ingin berpikir lebih jauh. Itachi sudah menunggunya di rumah. (Atau dia berusaha untuk tidak berpikir lebih lanjut).
Demikian, Ino bangkit dari posisi jongkoknya. Segera ia pun meninggalkan area pemakaman.
Ia tidak boleh mencari tahu lebih dari ini. Sudah cukup sampai di sini. Ia tidak perlu lagi mencari tahu apa-apa mengenai Tobi. Cukup dengan fakta yang ia pegang saat ini: jiwa Tobi sudah melayang bebas dan meninggalkan ikatannya dengan dunia yang fana.
Ino pun sudah harus melangkah maju. Tak lagi menengok ke belakang.
Pernikahan yang ia impikan sudah ada di depan mata.
Tobi sudah bebas ... pemuda itu pun pasti sudah bahagia.
Ino akan menjemput kebahagiannya pula.
.
.
.
Tapi ... sungguhkah ia benar-benar bisa bebas dari bayang-bayang Tobi?
Dari pesona tak terdefinisi yang sempat membutakannya di masa lalu?
.
.
.
Di dasar hatinya, Ino punya suatu jawaban yang akan dikuncinya rapat-rapat.
.
.
.
"Mungkin aku tak akan pernah terbebas."
.
.
.
***THE END***
Akhir yang gantung dan misteri. Misteri dan akhir yang gantung. Yah ... beginilah penyelesaian yang bisa terpikirkan oleh saya. Mohon maaf untuk semua kekurangan dan kekhilafan baik yang sengaja dan tidak (banyakan sengajanya mungkin). /jangan timpuk saya/ :")
Yey! Beres lagi satu tanggungan! *entah kenapa sangat teramat senang*
Oke, saya balasin review yang masuk dulu, ya~
Moku-Chan: ini sudah tamaaat :3 baru update … karena satu dan berbagai macam hal. Maafin yak~ :""3
CherryKuchiki2: sankyuu! Maaf yah nggak bisa update kilat ternyata :(
byakko. ryu: sungguh, maafin nggak bisa update kilat X(
argentum aquila: i-iya siiih, emang agak nge-rush. Aahhahahha. Tapi yah … ini dia akhirnya~ jeng-jeng-jeng. X"D
Lmlsn: syukurlah kalau Tobi masih terlihat berkarisma (meskipun gila)~ anggaplah ini pesona sang pengidap skizofren (?) /dor/
Nivellia Neil: soal itu pernah dibahas sih di chapter sebelumnya~ perasaan Ino kurang mendalam, ya? Mungkin karena alurnya aku buat agak sedikit ngebut memang. Maafin X(
Zoccshan: nyahahhaha, udah ada radar ending yang gak enak, ya, zo? ;)))
Yamaguchi Akane: yeey! Makasih buat review-nya! Seneng deh baca tanggapan dan pemikiran-pemikiran kamu tentang fict ini. Saa, selamat menikmati ending-nya~ X""D
Star Azura: awww~ makasih~
o. O rambu no baka: arigatou :3
Leomi no Kitsune: aaaaa *sujud syukur* bisa bikin pembaca penasaran adalah salah satu hal yang paling aku harepin saat bikin ff X"D
SK: BtB udah aku update yah. Ditunggu review-nya di sana J
Kay Yamanaka: tuh, denger, Ino. Jangan khianatin Itachi, yaa~ /dan Ino pun mendelik sinis/
Vaneela: kamu siapa? Aku di mana? Maksudnya apa? Oh, Tuhan! Apa yang sedang terjadiiii~? *dan mendadak pengen es krim cornel-o*
Orchidflen: are you okay, my friend? Yuk ngobrol ama dr. Kabuto dulu? XDD
blacklist935: sip. Ini babak terakhirnya~
hannastewart027: moga-moga rasa penasarannya terpuaskan ya? /dan bukan malah tambah penasaran/ XD
lahahabbanammwbha: howkay!
Zee-leven Seven: saya juga mau nangis, kok, karena lama banget baru bisa update-nya :')
Mizuki violetta: bab empaaat~ tamaaat~ makasih dukungannya! Untuk arti setiap judul, ada terjemahan di bawahnya~ X"D
Wihhh: ok!
Guest 1: siap!
Guest 2: salam kenal juga :D silakan bab terakhirnya~
Renatta-ttebane: ng … nggak gimana-gimana sih ._.a
dr. Sp. KJ: huwaaa! Makasih banyak koreksinya, akhirnya nongol juga yang punya pengetahuan di bidang ini *nangis terharu* jujur, iya saya tahu ini pasti banyak miss dan nggak logisnya, karena ... uhm *malu* emang nggak riset dan dengan ingatan seadanya waktu kuliah dulu, sebagaimana yang saya tulis di AN chapter 1. Salah sih emang nggak pake riset dan main nulis gitu aja, tapi waktu itu ide *uhuk* romance-nya udah kebentuk, jadi ... gini deh. Fail yak. Ahahaha. Thanks banget loh buat koreksi-koreksinya. Sayang masukannya jadi nggak bisa kepake di ff ini. X( untuk next fanfict mungkin akan lebih saya perhatikan kalau mau mengangkat tema semacam ini lagi. :D (a-ada akunnya? Barang x bisa tanya-tanya lagi nantinya)
miss syarah: aih, aih, aiiiihh! Demi apa si miss syarah muncul di siniii X))) makasih banyak udah mampir, Darl. Ini babak terakhir, ngejawab atau malah bikin penasaran? :P
Natha Nala: yuuup! Lagi coba bikin yang pair-nya aneh-aneh sih ini. ahahhaa.
Dan karena ini bagian terakhir, izinkan saya juga mengucapkan terima kasih pada teman-teman yang sudah nge-alert;
Azusa TheBadGirl, BlueSnowPinkIce, Hello Sydney, Kay Yamanaka, Lmlsn, Lorendy, Mademoisellenna, Michelle Aoki, NaruHina shipper, Noira Hikari, Orchidflen, Renatta-ttebane, Saber 'Arthuria' Pendragon, Vampire Uchiha, White Azalea, Yamaguchi Akane, Zee-leven Seven, claire nunnaly, jenny eun-chan, kierraa, oucha, shirocchin, star azura
dan nge-fave;
Alpha Orion, Arv, Azusa TheBadGirl, BlueSnowPinkIce, Hime Hoshi, Kay Yamanaka, Leomi no Kitsune, Lmlsn, Mademoisellenna, Moku-Chan, NaruHina shipper, Natha Nala, Noira Hikari, Orchidflen, Renatta-ttebane, Saber 'Arthuria' Pendragon, Vampire Uchiha, Yamaguchi Akane, Zee-leven Seven, aisyah.muthmainnah.77, ayumi kido, kierraa, maya.Nejia, o.O rambu no baka, shirocchin, star azura, uchiha feltson.
Terima kasih banyak sebanyak-banyaknya buat kalian yang sudah ikutin ff ini dari awal sampai akhir.
Dan untuk terakhir kalinya di ff ini ... bolehkah saya minta review-nya? :3
I'll be waiting.
Regards,
Sukie 'Suu' Foxie.
~Thanks for reading~
