Troublemaker

By D2L

Rate T

Genre : Crime/ Suspense

Sumarry : Tidak ada yang bisa menebak dirinya. Kadang dia akan menjadi penjahat yang paling dibenci oleh semua orang, tapi kadang juga dia malah menjadi pahlawan yang dibanggakan oleh semua orang. Dia bagai bayangan yang tidak bisa ditangkap dan juga ditebak. Itulah Cho Kyuhyun dan Lee Sungmin sang troublemaker dunia ini. Apa jadinya jika mereka saling bertemu dengan tidak tahu bahwa ternyata mereka sejenis? Yang tidak bisa mereka tebak seperti manusia pada umumnya dengan mudah.

.

.

.

Happy Reading

.

.

.

Kyuhyun tiba-tiba saja merasakan ada seorang yang mengambil rokok yang dihisapnya dengan seenaknya.

"Walaupun kau musuhku, kau pikir aku akan membiarkanmu untuk mati karena kesalahanmu sendiri?" Mendengar suara itu Kyuhyun sudah bisa menebak siapa pelakunya.

"Aku tahu kau itu salah satu penggemarku yang selalu mengikutiku kemanapun aku pergi, tapi kupikir ini sudah keterlaluan. Apa yang kau pikirkan hingga membuatmu menyusup masuk ke dalam kamarku, hah?"

Kyuhyun membalikkan badannya ke belakang ketika tidak mendapat sahutan dari Sungmin. Tatapan mereka bertemu, tapi tidak ada seorangpun dari mereka yang tampak membuka mulut mereka. Kyuhyun tampak menggerakkan tangan kanannya masuk ke dalam bawah bantal miliknya dan mengambil sebuah pistol.

Kyuhyun membanting Sungmin ke tempat tidurnya. Sekarang dirinya berada di atas Sumin seraya menodongkan pistol yang ada di tangannya ke arah kening Sungmin. "Aku tanya apa yang membuatmu datang ke sini. Apa kau kupaksa untuk berbicara?" tanya Kyuhyun sekali lagi.

Sungmin menghelah napas melihat pistol yang mengacung ke arahnya itu. "Kau benar-benar menganggapku musuh sekarang setelah mengetahui semuanya?"

"Kau hanya melihat sosokku yang saat itu bersandiwara? Tidak dengan sosok asli yang bengis ini?" lanjut Sungmin.

"Aku tidak pernah terjatuh pada dirimu yang manapun. Sepertinya aku yang berhasil membuatmu jatuh dengan tipu muslihatku, ya?" tanya Kyuhyun dengan senyuman meremehkan.

Mata Sungmin tertutup untuk sekejap. Dia seperti mengumpulkan keberanian untuk mengungkapkan sesuatu. "Kalau aku menjawab iya apa yang akan kau lakukan?"

Kyuhyun tampak terkaget dengan perkataan Sungmin. Matanya terbelak dan perlahan dia menjauhkan pistolnya dari kening Sungmin. Dia bahkan bangkit dari atas Sungmin dan menjauh dari tempat tidur itu. Hal itu membuat kening Sungmin berkerut. Dia juga bangkit dan hendak menyusul Kyuhyun yang berdiri tak jauh darinya, tapi suara dari Kyuhyun menghentikan gerakannya.

"Keluar sekarang," ucap Kyuhyun.

Tiba-tiba saja amarah Sungmin tersulut mendengar perkataan Kyuhyun."Kau masih belum menjawabnya pengecut!" serunya.

Kyuhyun yang mendapat teriakan jadi terpancing juga. Lihat sekarang dia berbalik menatap Sungmin dengan tatapan yang sangat marah."Aku bilang keluar sekarang!" serunya lebih nyaring dari Sungmin.

Sungmin menggertakkan giginya. Dia bangkit dari tempat tidur Kyuhyun dan berjalan mendekat ke arah laki-laki tersebut. Dengan jarak yang sangat dekat mereka bisa saling bertatapan dengan melayangkan tatapan membunuh satu sama lain.

"Baik, tapi jangan salah jika setelah ini kita akan bertemu lagi dan aku tidak akan segan untuk membunuhmu," ucap Sungmin dingin.

Tanpa diantar dan diundang Sungmin menghilang dari kamar itu. Kali ini Sungmin keluar dari kamar itu dengan membanting pintu sangat keras."Percuma aku datang ke sini dengan merendahkan diriku," ucapnya kesal.

"Ck," decak Kyuhyun. Dan penghuni kamar ini sama kesalnya dengan tamu yang tidak diundang itu.

Siapa yang menjatuhkan siapa?

.

.

.

Sungmin benci harus menginjakkan kakinya di sini lagi, tapi ada yang harus dibicarakannya dengan si presiden bangka itu. Sungmin melangkahkan kakinya berjalan menuju ruang kantor pribadi dari ayahnya. Tanpa mengetuk Sungmin langsung masuk dan sepertinya ayahnya sudah tahu dia akan berlaku seperti itu jadi dia marah akan perilaku tidak sopan dari Sungmin.

"Aku sudah menduga kau akan datang kembali ke sini," ucap Kangin dengan sebuah senyuman.

"Kenapa kau memberitahukan segalanya padaku?" tanya Sungmin tanpa ekspresi. Tidak membalas senyuman dari ayahnya. "Untuk apa kau memberitahuku tentang permainan taruhan yang berskala besar ini?

"Untuk membuatmu tidak memiliki obsesi untuk menjadi pemenang dalam permainan itu," jawab Kangin.

"Kenapa?"

"Karena yang menang akan menjadi tumbal untuk permainan yang selanjutnya. Untuk itu aku bertaruh pada Cho itu, tapi sepertinya umma-mu tidak mengetahuinya dan bersemangat sekali untuk membuatmu menjadi pemenang dari permainan itu padahal dia tidak tahu resiko sebenarnya jika sampai kau terpilih menjadi pemenang dalam permainan itu," jelas Kangin.

Raut wajah Sungmin langsung mengeras. "Aku tidak percaya lagi-lagi kau memanfaatkan seorang yang tidak bersalah dan tidak tahu apa-apa hanya untuk kepentinganmu seorang!"

Kangin menatapnya tajam. Laki-laki paruh baya ini kini sedang marah. "Memangnya aku tidak boleh menjadi orang yang licik untuk menyelamatkan nyawa anakku sendiri? Sebangsat apapun aku terlihat di matamu, tapi aku masih punya kesadaran bahwa kau adalah darah dagingku. Kau pikir aku tidak pernah menolongmu dari balik layar?"

Sungmin tersentak diam mendengar perkataan ayahnya, Kangin.

Kangin menghelah napas dan menatap sungmin dengan tatapan kecewa.

"Nyawamu bahkan lebih berharga dari laki-laki itu. Aku heran kenapa kau malah berpikir sebaliknya. Apa kau benar-benar sudah dibutakan oleh tipu muslihatnya? Ck, itu Sungmin yang selalu menyebut dirinya seorang kriminal paling berbahaya yang tidak akan pernah jatuh? Lihat sekarang. Kau itu sangat menyedihkan hanya karena satu orang yang baru saja kau temui," ucap Kangin tajam.

"Tapi nyatanya kau bisa menyelamatkan kami berdua, kan? Bukan hanya salah satu dari kami."

"Ya, memang, tapi aku memilih tidak untuk melakukannya."

Sungmin menggertakkan giginya. "Kenapa?!"

"Karena aku sama sekali tidak mendapatkan keuntungan ketika menyelamatkan bocah itu dan aku tidak mau melakukan sesuatu yang tidak akan menguntungkanku," ucap Kangin. "Keputusanku sudah bulat, tapi aku bisa merubahnya jika kau melakukan sesuatu untukku. Sesuatu untuk menebus nyawa laki-laki itu."

"Katakan saja. Tidak perlu berbelit-belit," ucap Sungmin.

"Kau harus menangkap orang ini dan aku juga tidak akan ragu untuk membantumu dan juga kekasihmu itu," ucap Kangin.

Sungmin melangkah mendekat ke arah Kangin. Dahinya berkerut ketika menatap selembar foto yang ditunjukkan Kangin padanya. Dia menatap Kangin dengan tatapan bingung. "Tan Hangeng? Kau mau apa dengan dia?"

Sungmin benar-benar tidak mengerti apa mau Kangin pada orang yang hampir mendapatkan data bom elektromagentik yang didapatkan Kyuhyun dan kemudian dibelinya. Memang saat menangkapnya beberapa hari yang lalu, Sungmin tidak langsung membunuhnya. Hanya meninggalkan laki-laki itu tidak sadarkan diri dan mengambil data rudal nuklir itu untuk diamankan kembali di pangkalan militer yang sudah diperbaiki. Memberikan Kyuhyun data itu memang berguna baginya karena Sungmin bisa menangkap komplotan teroris yang merusak dan mengebom pangkalan militer yang ada.

Kangin hanya tersenyum penuh arti. "Sepertinya aku tidak memberikanmu hak untuk bertanya latar belakang dari misi ini. Bukannya misimu yang lainnya juga bersifat seperti ini? Kau tidak pernah mau tahu latar belakang kenapa klienmu menginginkan kau melakukan misi itu, kan?"

Sungmin mendecak kesal. "Aku akan melakukannya, tapi ingat kau harus ingat akan janjimu." Sungmin

"Aku akan menepatinya ketika kau melakukan misimu tanpa cacat," ucap Kangin.

"Kau pikir aku siapa?" Wajah angkuh itu kembali memenuhi wajah Sungmin.

"Duplikatku yang sama-sama liciknya?" Mereka berdua saling memandang dengan tatapan menjatuhkan.

.

.

.

Sungmin memasang wajah yang benar-benar marah, tapi dia menyembunyikannya dibalik wajah datar itu. Dia marah akan apa yang dilakukan oleh appanya. Orang itu benar-benar seorang yang selalu memanfaatkan orang lain untuk kepentingannya dan Sungmin benar-benar membenci orang yang seperti demikian. Sungmin berjalan dengan cepat menuju kamarnya dan berusaha memikirkan kekacauan apa yang bakal dibuatnya. Harus yang benar-benar heboh supaya dirinya bisa sampai dijebloskan ke dalam penjara illegal itu dan juga sekaligus membuat pembalasan terhadap appa-nya.

Perlahan sebuah seringai licik terlihat tersinggung di bibir Sungmin. Akh, sepertinya dia sudah menemukan kekacauan apa yang harus dilakukannya. Kali ini tentu saja bukan hanya kekacauan yang tidak teratur, tapi juga harus ada keadilan tersembunyi di dalamnya dan juga pembalasan dendam.

'Tapi ini sudah malam. Mungkin besok saja baru kulakukan,' batin Sungmin.

Sungmin membaringkan dirinya di atas tempat tidurnya. Kedua mata miliknya perlahan tertutup dan diapun terlelap di dalam tidurnya. Hari ini dia cukup kecapekan. Dia butuh mengisi energi untuk melawan para mafia jenius yang akan dihadapinya di dalam penjara illegal itu nanti.

.

.

.

Di dalam kediaman presiden itu lagi-lagi terdengar suara histeris dimana-mana. Sepertinya lagi-lagi sebuah hal yang tidak terduga terjadi. Di sebuah ruang rapat, para perdana menteri yang dikumpulkan di sini tampak dalam kondisi yang sangat tidak lazim. Mereka semua seperti tertidur dengan kepala mereka yang di atas meja dan mulut mereka yang mengeluarkan busa. Sepertinya mereka meninggal karena meminum suatu minuman beracun, tapi astaga ini adalah kediaman presiden yang sangat ketat keamanannya. Siapa yang mungkin melakukan tindakan kriminal seperti itu.

Di kursi yang biasanya diduduki oleh sang presiden, tampak seorang yang lain menggantikan menduduki kursi itu dan dia sendiri yang tampaknya baik-baik saja di tengah keadaan yang tak terduga itu. Laki-laki muda itu bahkan menyeringai. Sepertinya bisa langsung ditebak bahwa dialah yang melakukan hal keji tersebut.

Pintu ruang rapat yang terkunci dari dalam itu berhasil dibuka dengan didobrak paksa. Tentara-tentara keamanan yang ada masuk terlebih dahulu dan mengepung sang pelaku, disusul paling belakang dengan sang presiden yang menampakkan ekspresi yang sangat marah.

"Kau berani sekali melakukannya lagi," ucap sang presiden dengan nada yang sangat marah. Saking marahnya dia tidak peduli jika anaknya akan ditembak mati oleh puluhan pistol yang tepat diarahkan ke arah Sungmin.

Saat digertak, Sungmin malah semakin senang dan bukannya takut."Tapi kali ini aku melakukannya dengan lebih benar loh. Pesta yang kubuat benar-benar meriahkan? Bukannya ini yang kau inginkan? Kau ingin masuk ke dalam penjara itu dan menyerahkan si pengkhianat padamu, kan? Kalau begitu aku harus membuat kasus besar terlebih dahulu agar bisa dijebloskan ke dalam penjara ilegal itu sebagai buronan yang paling berbahaya," ucap Sungmin dengan sebuah seringai kemenangan.

"Dan kali ini kau akan dipertanyakan sebagai seorang presiden. Mana mungkin seorang presiden sepertimu saat menjabat banyak sekali menyebabkan kematian di dalam kematiannya sendiri? Kau pasti akan segera dilengserkan dari kedudukanmu itu," lanjut Sungmin.

"Hey, kalian para tentara bodoh. Aku sudah memberitahukanmu sebuah rahasia yang tidak pernah kalian tahu. Presiden yang selama ini kalian junjung tinggi itu sama sekali tidak seperti yang kalian bayangkan. Dia hanyalah seorang kakek tua yang sangat licik dan bahkan lebih berbahaya dariku," ucap Sungmin.

Para tentara itu tampak tidak gentar diluarnya, tapi beda dengan apa yang dipikirkannya. Mereka mulai bertanya akan pemimpin yang selama ini selalu mereka lindungi.

Kangin menggertakkan giginya. "Borgol anak ini sekarang dan giring dia ke dalam penjara."

Para tentara itu sontak melakukan apa yang diperintahkan pada mereka. Sungmin dengan mudah menyerahkan dirinya. Dia bahkan mengulurkan kedua tangannya dengan suka rela untuk diborgol. Sungminpun digiring keluar dari ruang rapat itu, tapi saat berpapasan dengan Kangin, tanpa terduga Sungmin memberontak dan dengan tangannya yang terborgol dia masih bisa mengambil pisau yang disembunyikan di dalam saku celananya dan melemparkannya ke arah kangin. Untung saja pisau itu meleset dan malah menancap ke dinding yang ada di belakang Kangin.

"Jika aku melakukan itu kau sudah tidak bisa menghakimiku lagi, kan?"

Setelah itu Sungmin kembali dipaksa untuk berjalan. kali ini dia dikepung dengan lebih ketat lagi sehingga dia tidak akan bisa berlaku macam-macam lagi.

"Orang yang kalian selama ini lindungi adalah orang yang lebih kejam dari seorang pembunuh sekalipun," ucap Sungmin sinis pada para tentara yang mengiringnya. Sayangkan tidak ada seorangpun dari para tentara itu yang membalas ucapan Sungmin. mereka seperti robot yang hanya patuh pada perintah yang diberikan oleh pemimpin mereka, padahal sering kali mereka tidak mengerti apa kenyataan sebenarnya dari perintah yang diberikan seenaknya oleh para pemimpin mereka.

.

.

.

Sial. Selama perjalanan ke sini dirinya benar-benar dibuat pingsan. Benar-benar taktik agar tidak seorangpun yang tahu lokasi penjara ini tepat berada dimana dan bagaimana cara keluarnya. Yang mereka tahu adalah ketika mereka bangun mereka sudah berada di dalam sebuah penjara sel yang penuh dengan para mafia yang berbahaya dan juga jenius.

Sungmin bangun dari tempat tidurnya dan berjalan mendekat ke arah jeruji sel. Dia mengamati sel-sel lain yang berada di depannya. Para mafia itu sibuk dengan kegiatan mereka sendiri sampai tidak sadar Sungmin yang sedang mengamati mereka satu persatu dengan teliti. Saat itu Sungmin juga tidak menyadari ada yang mengamatinya dari arah belakang. Ternyata sel ini tidak berisi untuk satu individu saja, tapi ternyata ada mafia lainnya yang ditempatkan satu sel dengannya, tapi sepertinya Sungmin tidak mengetahui kenyataan itu.

Mafia yang lainnya itu adalah seorang laki-laki yang berambut ikal coklat dengan wajahnya yang selalu diliputi dengan rasa angkuh yang sangat tinggi. Siapa lagi jika bukan Cho Kyuhyun.

"Heh, ternyata kau juga ada di sini, ya? Kau itu benar-benar penguntitku, ya?" tanya Kyuhyun dengan nada menghina.

Badan Sungmin langsung tersentak saat mendengar suara yang familiar itu. Perlahan dia membalikkan badannya dan menatap Kyuhyun yang masih berbaring di atas tempat tidur milinya.

"Siapa bilang aku datang ke sini karenamu, hah? Kau punya bukti akan itu? Atau malah dirimulah yang sebaliknya harus dipanggil seorang penguntit?" ucap Sungmin dengan nada sinis.

"Bukannya kau menyangkal karena memang kau yang melakukannya, kan?" balas Kyuhyun tidak kalah sinisnya.

Tapi Sungmin kali ini tidak mengubrisnya. Dia lebih sibuk untuk melihat siapa musuhnya kali ini yang dijebloskan ke dalam penjara berkedok ini. mereka semua ternyata lebih professional dari yang diperkirakannya. Semua yang ada di sini benar-benar orang yang sangat ahli dan sudah menggeluguti profesi ini hampir seumur hidup mereka.

Membuat pergerakan yang tidak mencurigakan di sini akan lebih berat dari yang diperkirakannya.

.

.

.

TBC

.

.

.

A/N : Terima kasih sudah membaca! Dan maaf buat keterlambatannya yang sangat terlambat. The WB is really an annoying sick.