Title: Love is The Strongest Magic

Author: Allotropy Equilibria

Length: multichapter

Genre: romance/fantasy/adventure/supernatural/angst

Rating: T

Pairings: DraRy feat WooGyu (dari boyband Infinite)

Disclaimer: papih woohyun, mamih sunggyu, anak-anak Infinite milik Tuhan, keluarga, dan diri mereka sendiri. Kecuali woogyu yang saling memiliki. Harry, Draco, anak-anak Hogwarts, dan setting Hogwarts milik penulis legendaris sepanjang masa, J.K. Rowling yang super keren. Aku cuma punya momen DraRry dan setting yang kuubah dari kejadian di buku aslinya. Beberapa kondisi terinspirasi oleh fanfic DraRry berjudul Twist of Fate karya OakStone730 dan fanmade DraRry berjudul Unspoken karya SciFiNerd92

Warnings: setting di Hogwarts terjadi setelah Perang Hogwarts, dan Harry dkk melanjutkan sekolah di tahun ke-8 untuk mengganti tahun ke-7 mereka.

A/N: Belakangan ini aku lagi JATUH CINTA sama couple DRARRY soalnyaaa... Ga bisa menolak pesona couple satu ini kyaaaa...! Jadi aku buat ff crossover ini deeh..

FF Twist of Fate sangat direkomendasikan! Parah! s/7429542/1/Twist-of-Fate

Trus fanmade Unspoken nyesek banget ;;_;; itu video yang dilihat WooGyu :3 dianjurkan liat video itu dulu (kalo engga juga ga apa sih haha)

Ini FF drarry-ku yang pertama, jadi mohon bantuannya m(_ _)m

Enjoy the story guys~

.

.

.

Love is The Strongest Magic

Spell_1

.

.

.

Hidup hanya dapat dikatakan hidup bila dipenuhi oleh cinta.

Kalimat itu terasa lama namun selalu terngiang-ngiang di telinganya. Entah siapa yang mengatakan kalimat itu padanya. Mungkin kakeknya yang sudah uzur dan sering bercerita padanya tentang masa perang? Atau ia mendengarnya dari sebuah film di televisi? Entahlah. Ia tidak lagi yakin. Dan tidak lagi peduli. Meski sebagian hatinya masih percaya pada kalimat itu, dirinya yang kini beranjak dewasa mempelajari kalimat lain.

Bukan berarti cinta itu akan selalu membawa kebahagiaan dalam hidup.

Ya, karena dalam cinta—dalam hidup yang dipenuhi cinta—perlu dilakukan pengorbanan. Demi hidup diri sendiri. Atau demi hidup orang yang dicintai.

Pengorbanan yang mungkin takkan memberi kesempatan bagi cinta kita untuk tetap hidup dalam kehidupannya...

.

.

Jam belajar di Infinite Highschool sebenarnya telah berakhir kira-kira satu jam lalu. Meski begitu, kawasan sekolah elit itu sama sekali tidak sepi. Beragam aktivitas klub masih berlangsung. Lebih dari pada itu, sebuah keributan yang berasal dari kerumunan orang terlihat di samping lapangan basket.

Seorang gadis dengan surai kelam bergelombang menghela napas panjang begitu keluar dari ruang guru—setelah mengerjakan tugas sebagai ketua kelas—dan menyadari keributan yang semakin ramai itu. Tanpa melihat pun, Yoomae tahu apa yang terjadi. Sungguh, ia sangat bersedia memberikan apapun agar tidak perlu melihat apa yang terjadi. Tapi, ia tidak bisa meninggalkan keributan itu begitu saja. Selain karena ia salah satu anggota Student Council—aneh bukan betapa status sebagai pengurus Student Council membuatmu mendapat tanggung jawab lebih dalam menjaga kedamaian sekolah?—gadis ini juga tak bisa diam saja karena... yah, karena ia sangat tahu siapa penyebab keributan ini.

BRAKKK!

"Apa pedulimu dengan apa yang kulakukan, eh, Student Council President? Urusanku bukan urusanmu, kan?"

Yoomae kembali mendesah lelah begitu suara yang sangat dikenalnya itu terdengar hingga sisi lain lapangan. Lebih baik ia segera ke TKP sebelum pemuda itu mulai merusak properti sekolah.

"Itu jadi urusanku jika kau melakukannya di sekolah, Nam Woohyun!" Langkah cepat gadis kelas tiga di Infinite High ini berubah menjadi derap lari begitu mendengar suara lain. Jika 'lawan ribut'nya sudah ikut membentak seperti itu, berarti kondisinya benar-benar gawat. Karena... setahu Yoomae, sosok yang barusan membentak itu bukan tipe yang mudah terbawa emosi.

"Oh! Jadi kalau waktu itu kecelakaanku terjadi di sekolah, kau baru akan peduli, hmm?" Siswa bernama Nam Woohyun itu kembali melontarkan kalimat bernada tajam. Rambut hitamnya yang berantakan terlihat mengerikan menghiasi paras tampannya yang mengeras. Siswa-siswi yang sedari tadi menonton, tanpa sadar mengambil langkah mundur—merasakan kemurkaan Sang Kingka yang mulai muncul.

Namun, pemuda dengan sepasang iris segaris yang jadi lawan bicara Woohyun hanya mengeratkan rahang dan tetap menampilkan raut dinginnya. Sebelum seseorang cukup teliti memperhatikan dan menyadari keberadaan ekspresi terluka di sepasang iris hazel itu, bentakan Yoomae bergema di lorong.

"NAM WOOHYUN! Berhenti berbuat onar dan pulanglah!" teriak gadis beriris pekat ini.

Woohyun berdecih kesal begitu menyadari kedatangan gadis itu. "Berisik Kau, Yoomae! Aku masih ada urusan dengan hamster gendut ini!" gerutunya.

"Ayo pulang! Atau aku akan menghukummu di rumah!"

Dengan ekspresi kesal yang kentara, Woohyun sudah berniat akan menurut karena ia tidak ingin telinganya jadi tuli. Namun, suara halus dari sosok bersurai sewarna madu di hadapannya menyedot fokus pemuda ini.

"Sebaiknya kau menurut pada kekasihmu itu, Nam Woohyun." Ucapan siswa yang sedikit lebih tinggi itu cukup pelan, hanya sedikit lebih keras dari bisikan, namun telinga tajam Woohyun dapat mendengarnya.

Detik berikutnya, kerah siswa berkacamata itu telah berada dalam cengkeraman jemari kuat Woohyun. Jeritan tertahan terdengar dari arah para siswi yang menyaksikan tubuh Sang Presiden OSIS terdorong dan membentur dinding dengan suara yang cukup keras. Entah apa yang akan dilakukan Kingka pembuat onar itu jika jeritan keras Yoomae tidak menghentikan gemuruh marah di dadanya.

"NAM WOOHYUN! LEPASKAN SUNGGYU ATAU KAU KUGIGIT SAMPAI TAK BISA JALAN!" Meski terlihat bagai gadis rapuh, Yoomae memiliki tenaga yang cukup untuk memisahkan tubuh kekar Woohyun dari Sunggyu yang tercekik. Mendorong dengan kedua tangan dan bahunya, Yoomae memaksa pemuda itu menjauh.

Membiarkan dirinya didorong gadis yang sebenarnya bisa ia bopong dalam satu tangan, Woohyun memberikan tatapan penuh amarah pada sosok bersurai madu yang terbatuk perlahan. Meninggalkan kerumunan orang yang semakin ramai dengan beragam desis obrolan.

.

.

"Gwenchana?" Suara halus yang diiringi dengan sodoran sekaleng jus itu membuat Sunggyu berhenti memijat lehernya yang sakit. Seulas senyum kini mampir di bibir tipisnya—menggantikan katupan rahang yang sejak tadi membuat giginya bergemeletuk.

"Gomawo, Sungjong-ah," sahutnya dengan suara sedikit serak. Mungkin efek tercekik tadi. Ya, pasti gara-gara tekanan dari Kingka pembuat onar itu! Pasti gara-gara itu—bukan karena sebab lain...

Ikut menjatuhkan tubuh rampingnya di kursi semen di samping Sunggyu, Sungjong mendesah panjang sebelum meneguk kopi yang barusan ia beli. Mata kucingnya melirik Sunggyu yang memutar kaleng jus dengan tatapan menerawang. "Sakit?" tanyanya dalam bisikan yang terbawa hembus angin.

Melempar senyum tipis, Sunggyu menjawab pelan. "Lumayan. Tenaganya memang kuat sekali. Kancing kemejaku sampai lepas—" Racauan pemuda ini terputus oleh kalimat Sungjong kemudian.

"Bukan itu yang kutanyakan, Hyung. Apakah di sini sakit?" ulang pemuda berparas cantik itu sambil menyentuh perlahan dada Sunggyu. Atas kalimat itu, Sunggyu tak menjawab, napasnya gemetar seiring jantungnya berdegup kencang.

Ya... sakit...

Meski jawaban itu tidak terucap secara verbal, Sungjong seolah dapat membacanya dan menghela napas panjang. "Aku tak mengerti kenapa kau melakukannya, Hyung?" Sepasang kristal mirip kucing mengunci tatapan hazel, tanpa respon.

"Mengapa kau tak pernah bosan membuatnya marah dan berbuat kasar padamu? Mengapa kau seolah... sengaja...?" Gumaman yang bukan merupakan pertanyaan itu hanya ditanggapi dengan senyum getir lain di bibir kemerahan Sunggyu.

.

.

Mungkin aku hanya ingin meyakinkan diri sendiri... bahwa ia ...kini membenciku...

.

.

Senja itu, matahari tenggelam dengan memancarkan keindahan yang mempesona. Seandainya menghabiskan waktu di pantai atau di puncak gunung, atau di lokasi di mana titik horizon beradu, semburat lembayung yang bercampur dengan pekat malam itu akan menghipnotis siapapun yang memandangnya. Hembus angin yang mulai dingin menemani burung-burung yang terbang kembali ke sarang. Membawa serpih daun menemani langkah insan yang juga mencari perlindungan dari kegelapan yang mulai turun.

Namun, ketenangan dan kesyahduan dari suasana senja itu sama sekali tak terdengar dari sebuah rumah mewah di Kawasan Goblet of Fire Regency. Gebrak pintu besar yang ditutup dengan kasar mengagetkan burung liar yang bertengger di puncak atap. Derap langkah yang penuh dengan warna amarah membuat pelayan-pelayan di kediaman itu hanya terpaku di tempat dengan kepala tertunduk. Meskipun layangan kemarahan itu tidak terarah pada mereka. Karena aura bagai api yang berderak dalam perapian itu hanya saling melempar antara dua insan yang masih mengenakan seragam sekolah mereka.

"Kenapa kau harus selalu membuat masalah dengannya?! Bertengkar di sekolah dengan Presiden Student Council! Heh! Apa maumu?" bentak Yoomae sambil melempar tasnya pada salah satu sofa. Sebelum tubuh rampingnya mengikuti tas coklat itu melesak dalam empuknya bantalan kursi.

"Melihatnya membuatku kesal!" gerutu Woohyun yang juga ikut menjatuhkan diri pada sofa di seberang Yoomae.

Gadis bersurai panjang itu mendengus. "Jawaban bodoh! Kalau begitu kau hanya perlu menjauh darinya dan berhenti melihatnya, kan?"

"Keberadaannya membuat amarahku bergolak," ucap Woohyun lagi, masih tak menyerah.

Respon Yoomae kembali diawali dengan dengusan bosan. "Oh lihat siapa yang bicara," tukasnya dengan nada ejek yang kentara. "Kau terdengar bagai pria putus asa yang hanya ingin memancing perhatiannya, Nam Woohyun—!"

Grakk!

Yoomae melotot tajam pada pemuda yang baru saja mendorong meja di hadapan mereka ke arahnya. "Kendalikan amarahmu, Woohyun-pabbo!" sentak gadis itu. "Tingkahmu yang bertengkar dengannya itu sangat kekanakan dan menyedihkan. Kenapa tidak kau akui saja kalau kau masih—"

BRAKK! PRANGG!

Kalimat Yoomae terpaksa terhenti karena kaki Woohyun kembali menendang meja di hadapannya. Kali ini benda berbahan dasar kayu itu terguling, menyebabkan kaca yang menutupi permukannya pecah saat membentur lantai marmer. Iris kelam yang terlihat di balik rambut gelap menatap penuh aura murka pada gadis itu.

Menghela napas panjang, Yoomae bangkit dari sofa dan memberi isyarat pada salah satu pelayan yang ketakutan untuk membereskan kekacauan yang terjadi.

"Kau mengenalnya, Woohyun-ah. Kau tahu dia tidak mungkin melakukan itu...tanpa alasan. Kau tahu bagaimana ia—" Yoomae menggeleng perlahan di tengah kalimatnya. Suaranya kembali terdengar dengan nada yang lebih halus. "Jangan sampai menyesal, Woohyun-ah. Yang terlihat di permukaan, belum tentu kebenaran..."

Atas kalimat itu, Woohyun hanya menanggapinya dengan katupan rahang dan genggaman tangan yang gemetar.

.

.

"Ah! Aku ingat!"

Suasana belajar di apartemen sederhana namun nyaman itu terpecah tiba-tiba oleh suara cempreng milik Sungjong. Sunggyu yang tengah menyelesaikan persamaan kalkulus mengangkat kepalanya dengan sedikit kerutan kesal.

"Ingat apa?" tanyanya, sama sekali tak menyembunyikan ekspresi tak suka dalam suaranya karena adik kelasnya itu mengganggu konsentrasi belajarnya.

"Yang kau lakukan pada Woohyun-hyung. Aku ingat kalian ini mirip siapa." Jawaban random Sungjong sama sekali tidak memberi pencerahan pada otak kusut Sunggyu. Apa maksud bocah itu menyatakan ada yang mirip dia dan Woohyun? Mirip dari segi apa? Pertengkaran mereka yang tiada henti?

Seolah membaca ketidakmengertian hyung satu apartemennya itu, Sungjong memfokuskan diri pada laptop di hadapannya sebelum berseru girang dan memutar layar ke arah Sunggyu. "Ini Hyung, kalian mirip—"

Perkataan pemuda kucing itu terputus saat handphone-nya berbunyi tanda panggilan masuk. Dengan semangat, Sungjong pun meraih benda elektronik itu dan bangkit menuju ruangan lain untuk menerima panggilan dari kekasihnya. Meninggalkan Sunggyu yang masih kebingungan.

Sepasang kristal sipit Sunggyu teralihkan oleh sebuah video yang mulai berputar di laptop Sungjong. Segera, pemuda ini tenggelam dan jatuh dalam kilasan kejadian dalam video itu.

.

.

[Heh! Kepala batu! Kau sudah mendingin?]

Woohyun menatap kesal kalimat yang muncul pada layar komputernya di ruang chatting itu.

[Cukup dingin untuk melemparkan meja tadi ke arahmu] ketiknya sebagai balasan.

[Coba saja kalau kau berani.

Aku akan membuatmu tidak bisa pakai kartu kredit selama satu minggu!]

'Dasar wanita iblis!,' dengus Woohyun ke arah dinding—tempat di mana lawan chattingnya ini berada.

Memutuskan untuk menghiraukan gadis kurang kerjaan yang memilih untuk membuang-buang jaringan internet padahal mereka hanya terpisahkan selapis dinding, Woohyun kembali menoleh karena Yoomae tampaknya masih tak menyerah untuk mengajaknya mengobrol.

[Woohyun-ah, aku serius soal yang kukatakan tadi]

[Silakan saja. Aku akan mencuri kartumu saat kau tidur!]

[Bukan itu bodoh!

Kurasa...Sunggyu memiliki alasan...]

[Jangan sebut namanya lagi di rumah ini, Yoomae!]

[Jangan sampai kau menyesal, Woohyun-ah...]

[Keputusan sudah dibuatnya. Itu pilihannya]

Woohyun menatap kosong kata-kata yang baru saja diketiknya dan terpampang di monitor. Ya, ia berada pada posisi yang harus menerima keputusan sepihak di sini. Salahkah ia bila memberi respon umum atas keputusan pemuda itu? Mengapa ia harus takut menyesal? Bukan dia yang—

Lamunan pemuda bertubuh kekar ini terputus saat Yoomae kembali berbicara pada tempat chatt.

[Hei, coba lihat video ini. Mungkin bisa mengobati mood jelekmu]

Berdecak kesal pada kerandoman dan ketidakjelasan gadis itu, Woohyun setengah hati menekan link yang diberikan. Koneksi internet yang cepat membuat pemuda ini dapat menonton tanpa terhalang buffering. Dan segera, kelebatan gambar yang terpampang membuatnya tenggelam...

.

.

Do you believe in magic?

.

.

Ia tidak ingat kapan tertidur. Memori akan tidur itu perlahan menghampiri benaknya saat kulitnya merasakan kehangatan selimut dan keempukan kasur yang ia tiduri. Di tengah bayang sinar keemasan yang mengintip di balik kelopaknya yang terbuka, sebuah suara terdengar perlahan. Mungkin itu salah satu pelayannya. Tidak bisakah mereka membiarkannya kembali tidur sebentar lagi saja?

"Wake up, Woohyun(1)!"

Suara yang semakin terdengar jelas itu membuat Woohyun membuka mata dengan cepat. Suara itu terdengar asing—bukan milik salah satu pelayannya atauapun Yoomae. Dan kalimat yang tadi terdengar... benarkah tadi ia mendengar kata 'wake up' alih-alih 'bangun'?

Saat kristal kelamnya mulai fokus, sesosok pemuda dengan surai pirang-putih dan iris abu-abu keperakan balas menatapnya. Refleks, Woohyun bangkit dengan cepat dan bergerak mundur hingga membentur sandaran ranjang. Lebih dari terkejut mendapati orang asing membungkuk ke arahnya... di kamarnya...

Pemuda pirang itu mendengus pelan. "Nightmare(2)?" tanyanya setengah tak peduli. "Wake up and get ready. We're late for breakfast(3)."

Mengikuti sosok tinggi ramping itu mengganti piyamanya dengan celana kelam, kemeja putih, rompi abu-abu dan dasi hijau-perak, belum lagi sebuah baju panjang longgar yang menyentuh tumit; alis Woohyun semakin lama mengerut semakin dalam. Pakaian aneh.

Saat itulah, manik kembarnya menyadari ia tidak berada di kamarnya. Alih-alih, terdapat tiga kasur serupa di ruangan yang cukup luas itu. Dindingnya yang dingin dipenuhi ukiran berbentuk...ular. Segala perabot di sana pun bernuansa hijau dan perak—seperti dasi yang barusan dikenakan pemuda yang tadi membangunkannya.

Ia ada di mana?

Woohyun akan menyangka ia masih bermimpi seandainya jemari pucat pemuda pirang itu tidak menyentuh bahunya. "Hey, are you alright?(4)" Mungkin tampang bingung Woohyun tergambar begitu jelas karena sosok itu menatapnya...cemas?

Menyangka ia akan takut atau berteriak berisik karena orang asing itu seenaknya menyentuhnya, Woohyun tak kuasa menahan otaknya bekerja berusaha mengingat sosok di hadapannya. Sosok yang entah kenapa terasa familiar...

Ah!

Ia ingat di mana pernah melihat orang ini.

Tapi, sungguh. Itu tidak mungkin! Sangat tidak mungkin! Karena jika berdasar memori di sel kelabu otaknya, sosok ini adalah...

"...Draco... Malfoy...?"

Pemuda pirang-putih itu kembali mendengus. "Good for you still remembering my name. You aren't forget yours, rite?(5)" ucap Draco Malfoy setengah mengejek. "Now, get yourself ready. We have Potion Class first thing in the morning.(6)"

Bukannya bergerak dan bersiap seperti perintah...Draco Malfoy, Woohyun hanya terpaku menatap sosok pucat itu membereskan buku dan tasnya. Sel kelabu otaknya yang tidak pernah berhasil meyakinkan para guru bahwa ia bisa lulus dengan aman, menjeritkan ketidakmengertian dan kebingungan yang memekakkan. Karena... Hei, ayolah! Ia Nam Woohyun, kan? Kingka di Infinite Highschool, putra tunggal Keluarga Nam dan penerus Nam corps. Bukan... bukan... BUKAN TEMAN SEKAMAR DRACO MALFOY!

"What are you waiting for? Hurry, or I'll leave you.(7)" Suara dingin pemuda pucat itu kembali terdengar memutus rajutan memusingkan di benak Woohyun.

Atas pemikiran untuk ditinggalkan, refleks Woohyun berujar, "Wait me,(8)" dan fakta bahwa yang terlontar dari mulutnya adalah Bahasa Inggris alih-alih Bahasa Korea cukup membuat Woohyun semakin berkunang-kunang tak mengerti.

Mungkin ia memang masih bermimpi.

.

.

.

TBC

.

.

.

Dictionary:

Bangun, Woohyun

Mimpi buruk?

Bangun dan siap-siaplah. Kita sudah terlambat untuk sarapan.

Hei, kau baik-baik saja?

Bagus, kau masih ingat namaku. Kau tidak melupakan namamu sendiri, kan?

Sekarang, ayo cepat bangun dan siap-siap. Kita ada Kelas Ramuan di jam pertama

Apa yang kau tunggu? Ayo cepat, atau aku akan meninggalkanmu.

.

Oke deh ditunggu review-nya yaaaa .

Regards,

*Allotropy*