Title: Love is The Strongest Magic

Author: Allotropy Equilibria

Length: multichapter (ga panjang-panjang kayaknya)

Genre: romance/fantasy/adventure/supernatural/angst

Rating: T

Pairings: WooGyu feat DraRry. Slight DraWoo juga mungkin hehehhee

Disclaimer: papih woohyun, mamih sunggyu, anak-anak Infinite milik Tuhan, keluarga, dan diri mereka sendiri. Kecuali woogyu yang saling memiliki. Harry, Draco, anak-anak Hogwarts, dan setting Hogwarts milik penulis legendaris sepanjang masa, J.K. Rowling yang super keren, tapi lebih milih Harry-Ginny daripada merestui Draco-Harry :p. Aku cuma punya momen DraRry dan setting yang kuubah dari kejadian di buku aslinya. Beberapa kondisi terinspirasi oleh fanfic DraRry berjudul Twist of Fate karya OakStone730 dan fanmade DraRry berjudul Unspoken karya SciFiNerd92

Warnings: setting di Hogwarts terjadi setelah Perang Dunia Sihir Ke-2 (perang di mana akhirnya Voldemort mati selama-lamanya), dan Harry dkk melanjutkan sekolah di tahun ke-8 untuk mengganti tahun ke-7 mereka.

A/N: Ini kali pertama aku bikin ff Drarry sejujurnya. Jadi kalo ada yang aneh mohon maaf. Hehe

Oiya, video yang ditonton WooGyu itu fanmade Drarry buatan SciFiNerd92 dengan judul Unspoken. Ide ceritanya (baca sinopsis dari video bersangkutan) sedikit kumasukin di ff ini :3 Digabung sama beberapa fact di ff Twist of Fate karya OakStone730. Dasarnya aku cuma keidean dengan semesta di dua cerita itu, dan ga semua aku terapin, hanya beberapa.

Well, enjoy the magic guys~

.

.

.

Love Is The Strongest Magic

Spell_2

.

.

.

Suara klakson yang membahana di udara malam itu memenuhi gendang telinganya. Gelombang bunyi bernada tinggi itu terputus kasar oleh suara benturan dengan momentum besar. Tumbukan antar dua mobil menghasilkan melodi pecahan kaca, bentrokan logam, dan jeritan panik. Ia sempat merasakan darahnya berdesir di luar pembuluh sebelum kegelapan menelannya. Melepasnya dari gelombang sakit yang menjalar di sekujur tubuh.

.

Dengung tawa yang memantul di dinding ruangan sama sekali tak dapat menyingkirkan gemuruh amarah di hatinya. Musik indah yang mengalun di panggung tak mencapai hatinya yang mengkerut, teriris, dan pecah tak berbentuk. Berbagai raut bahagia yang familiar di sana tak membuat fokusnya terlepas dari satu sosok. Satu sosok yang menyebabkan seluruh inderanya tak berfungsi, membuat dunianya gelap seketika. Seiring irisnya merefleksikan sosok itu bersama seorang gadis dalam dekapan—bertukar rangkulan, bertukar...asa.

Di tengah gertakan gigi, ia tahu dunianya telah hancur saat kesadaran menghampiri bahwa sosok itu telah membawa pergi cintanya...

.

.

Seandainya punya waktu, Woohyun pasti akan berjalan pelan-pelan dan mengagumi tiap objek yang dilewatinya. Mulai dari ruangan besar yang ternyata adalah ruang bawah tanah tempat kamarnya—tempat ia bangun tadi—berada. Atau pada potret besar ular yang ia sangka pintu—yang mengayun membuka saat Draco Malfoy membawanya keluar dari bawah tanah menuju lorong dengan langit-langit tinggi.

Namun, pemuda bersurai pirang pucat di hadapannya ini hanya berjalan dengan cepat dan tak peduli—tak peduli dengan raut ternganga yang ditampilkan paras Woohyun. Sungguh, ia tak mengerti ia ada di mana? Mengapa semuanya begitu nyata? Seperti... seperti...

Pemikiran lelaki dengan surai hitam gondrong ini terputus saat Draco Malfoy membuka pintu besar di hadapan mereka, dan seketika racauan obrolan dari dalam ruangan terdengar. Woohyun tak bisa menahan tampang kagumnya pada ruangan besar yang baru ia masuki. Puluhan—ratusan—anak memenuhi aula besar itu. Berceloteh ramai pada meja-meja panjang yang dipenuhi makanan lezat. Sedikit menengadah, iris hitamnya menyadari panji-panji bergelantungan di atas meja-meja. Ada empat jenis panji dengan warna berbeda dan gambar berbeda. Lebih ke atas, Woohyun kembali harus menahan napas kagum karena alih-alih menemukan langit-langit kayu atau beton, yang ia lihat adalah langit asli—biru cerah dihiasi gumpalan awan.

Tentu ia harus menjaga langkahnya tetap cepat mengikuti pergerakan halus Draco Malfoy menuju salah satu meja panjang. Namun ia terlalu terpesona dengan apa yang dilihatnya sehingga tidak menyadari terputusnya obrolan saat mereka pertama kali melangkah ke dalam aula. Pun ia tidak menyadari bahwa meja yang mereka duduki memiliki jumlah murid lebih sedikit dari meja lainnya. Ia juga tak menyadari jarak antara ia dan Draco Malfoy dengan murid lain yang juga mengenakan dasi berwarna hijau-perak—dasi yang juga ia kenakan!

Perutnya yang berbunyi dengan cepat membuat pemuda bermanik kelam ini mengalihkan fokus pada makanan lezat yang tersaji. Potongan ayam dengan segera berpindah ke piringnya. Juga treacle tart dan... jus labu(?)

Terlalu tenggelam dalam kelezatan makanan, Woohyun luput menyadari perilaku Draco Malfoy yang mendadak bungkam sejak masuk ruangan. Pikiran penerus Nam corps. ini terlalu dipenuhi oleh beragam pemahaman yang berusaha dijalinnya dalam sel kelabu otaknya yang tak terlalu brilian. Dengan makanan yang sangat nyata bisa ia sentuh, kunyah, dan masuk ke perutnya, Woohyun tak lagi meragukan bahwa ia masih bermimpi. Pun tak mungkin ini semua hanya ilusi. Ia bisa menyentuh—disentuh—oleh Draco Malfoy, ia bisa makan dengan wajar, dan semua yang dilihatnya...semua nyata. Tapi... coba lihat panji-panji bergambar binatang—ular, singa, elang, musang—dengan beragam warna—hijau, merah, biru, kuning—itu. Juga pakaian yang mirip jubah itu. Ah, jangan lupa topi runcing yang dipakai wanita di meja besar di sisi lain ruangan—sepertinya meja guru? Semua kondisi itu...rasanya seperti...

Oke, Woohyun memang bukan seorang bookworm, tapi tentu saja ia pernah menonton film fantasy yang legendaris tentang sekolah sihir. Satu film tertentu yang Woohyun yakin memiliki satu karakter bernama Draco Malfoy. Apakah ini site film? Apakah ini sedang syuting film?

Tapi, bukankah serial ini sudah lama berakhir? Lagipula, di mana kru film-nya? Di mana kameranya? Di mana peralatan efeknya?

Di mana Harry Potter-nya?

Di antara opsi pertanyaan yang muncul, pertanyaan terakhir itu adalah yang paling membuat Woohyun penasaran. Salah fokus, eh? Tapi, ia butuh konfirmasi, kan?

Melarikan kristal hitamnya pada meja di bawah panji berbeda, Woohyun berseru tertahan seperti fanboy yang bertemu idolanya saat ia menemukan sosok Harry Potter. Pemuda bersurai hitam berantakan dengan kacamata bulat yang kuno, lengkap mengenakan jubah dengan dasi berwarna merah-emas. Memang serial Harry Potter telah lama selesai, tapi Woohyun yakin pemuda itu adalah Harry Potter. Bagaimana ia bisa yakin? Well, salahkanlah gadis iblis yang semalam mencekokinya video—

Woohyun tak percaya dengan apa yang dilihatnya saat kristal gelap itu merefleksikan sosok lain yang duduk bersama Harry. Bukan, bukan gadis bersurai coklat mengembang atau pemuda dengan surai merah menyala. Tapi, sosok bersurai coklat dengan sepasang iris tipis yang sangat familiar di antara pipi chubby yang juga familiar.

"Sunggyu!" Tanpa sadar, Tuan Muda Nam ini berteriak senang dari tempatnya duduk. Saking senangnya melihat...well, teman satu sekolahnya itu, Woohyun tidak sadar bahwa celotehan di aula kembali terhenti mendadak. Hampir semua pasang mata menatap ke arahnya dengan ekspresi was-was dan curiga.

Akan tetapi, pemuda yang dipanggil oleh Woohyun sama sekali tidak melepas perhatian dari puding di depannya. Padahal Woohyun sangat yakin ia tidak salah orang. Ayolah, siapa lagi yang punya mata sesipit itu dan pipi se-chubby itu? Siapa lagi yang bisa sebegitu miripnya dengan hamster selain Kim Sunggyu?

Kesal karena merasa diabaikan, pemuda bernuansa kelam ini bangkit dari kursinya dan menyeberangi aula besar yang mendadak senyap. Tubuh ramping berotot itu tiba di meja panjang dengan panji bergambar singa berayun di atas mereka.

"Ya! Kim Sunggyu! Aku memanggilmu!" sentak pemuda bersurai hitam ini keras, tepat di hadapan pemuda beriris sipit yang ia percaya adalah Sunggyu. Saking kesalnya, Woohyun tidak sadar ia berbicara dalam Bahasa Korea.

Saat seorang siswa yang kebetulan duduk di seberang Sunggyu—sehingga otomatis ia tepat berada di arah seruan berisik Woohyun—membisikkan, "What did he want from you, Sunggyu?(1)", barulah Woohyun sadar perbedaan bahasa yang terlontar dari mulutnya.

Namun, sebelum Woohyun kembali membuka mulut untuk kembali memanggil Sunggyu atau memperbaiki kalimatnya, sosok berpostur cukup berisi itu mendadak berdiri. Dalam hitungan sepersekian detik kemudian Woohyun menyadari tubuhnya diseret keluar oleh Sunggyu yang tak mengatakan apapun.

"YA! Lepaskan aku! Apa yang kau lakukan?! YA! Kim Sunggyu! Lepaskan atau—" Segala protesan yang keluar dari mulut Sang Kingka Infinite High itu terus terdengar hingga keduanya berada di balik pintu besar aula. Saat lapis balok berukir megah itu memisahkan mereka dengan gerombolan siswa yang masih sarapan di dalam sana, Woohyun menyangka Sunggyu akan melepas cengkeraman di lengannya yang diseret sejak tadi. Memang benar, lingkaran di lengan atas itu terlepas. Namun, sebagai gantinya, Sunggyu mencengkeram kerah seragamnya dan mendorongnya hingga ia terdesak ke dinding.

Lucu betapa posisi mereka kini terbalik dengan kejadian kemarin di lorong kelas Infinite High. Bedanya, cengkeraman jemari putih Sunggyu tidak bertujuan mencekik Woohyun penuh amarah. Hanya sekedar memastikan pemuda itu akan diam dan mendengarkannya.

"Kau pikir apa yang kau lakukan di dalam sana?" desis Sunggyu. Kekhawatiran terdengar samar di antara emosi marah dan kesal yang ditunjukkan di permukaan.

Mendengar pertanyaan itu, Woohyun mengerutkan alis bingung. Memang apa? Dia kan, hanya memanggil... temannya? Bukankah yang harusnya bertanya justru Woohyun?

Mungkin seharusnya ia kesal mendapat desisan marah begitu setelah tanpa tahu mengapa diseret di sepanjang aula. Akan tetapi, kenyataan bahwa ia akhirnya melihat seseorang yang ia kenal membuat Woohyun lupa dengan kekesalan yang seharusnya ia miliki. Alih-alih, ia justru berseru pelan, "Aku senang sekali melihatmu, Sunggyu!" dengan seulas senyum tulus yang telah lama tak ditunjukkannya pada sosok di hadapannya.

Kalimat itu, ditambah senyum itu, membuat Sunggyu tersentak pada memori masa lalu yang berusaha ditekannya. Mengumpat pelan sambil menundukkan wajah untuk menyembunyikan rona merah yang ia yakin sempat naik, pemuda beriris segaris ini kembali menekan lengannya di pundak Woohyun. Tatapan dari iris tipisnya kembali memasang ekspresi dingin seiring kalimat yang juga dingin kembali ia lontarkan.

"Dengar, Nam Woohyun. Kau tidak sepatutnya memanggilku di hadapan yang lain seperti tadi!" ujarnya dengan gigi rapat.

Sebuah protesan bertanya "kenapa" hampir disuarakan Woohyun sebelum euforia bertemu orang yang dikenal sudah menipis dan pemuda itu ingat bagaimana hubungan ia dan Sunggyu yang sebenarnya di sekolah. "Oh yeah, baiklah. Aku tidak lupa kalau kita sekarang harusnya saling bertengkar," dengus pemuda yang lebih pendek namun lebih berotot itu. "Lain kali aku akan langsung mengajakmu berkelahi—seperti biasa kita lakukan di sekolah."

Mendengar nada sinis sarat amarah telah kembali pada suara Woohyun, Sunggyu hanya mengeratkan rahang. Memberanikan diri menatap langsung sepasang iris kelam yang kini dipenuhi kebencian yang mulai terasa familiar, Sunggyu kembali berucap, "Bukan itu maksudku, bodoh! Kondisi di sini berbeda. Kau bersama Draco Malfoy!"

Woohyun mengangkat alis. "Oh ya, aku terbangun di kamarnya pagi ini," tukasnya sekilas. Sama sekali tak berniat mengoreksi bahwa tadi itu bukan kamar Draco Malfoy tapi juga kamarnya. Ia masih tak mengerti apa pengaruhnya hal itu pada apa yang terjadi. Apa yang berbeda?

Seolah membaca ekspresi Woohyun yang seolah mengatakan "Lalu?" dengan raut menantang, Sunggyu menghela napas panjang.

"Apa kau tidak pernah tahu serial Harry Potter?" tanya pemuda bersurai sewarna madu itu. Sebelum Woohyun sempat menjawab, "Tentu saja pernah, tapi apa hubungannya ini semua?", Sunggyu kembali bertanya. "Apa kau tidak tahu bagaimana hubungan Draco Malfoy dengan Harry Potter? Mereka musuh, Woohyun! Kau bersama Draco Malfoy, aku bersama Harry. Kondisi ini tidak sama dengan pertengkaran kita di sekolah. Kau tahu bagaimana permusuhan mereka berefek pada kehidupan dunia sihir!?"

Woohyun terdiam setelah Sunggyu selesai mengucapkan itu semua dalam geraman pelan. Untuk apa ia berbicara perlahan, seolah takut seseorang mendengar pembicaraan mereka? Mengapa ia takut obrolan mereka didengar? Dan mengapa Sunggyu memperingatinya seolah-olah... seolah... ini semua nyata? Benar-benar nyata seperti semesta yang lain. Dunia yang lain? ...Dunia sihir?

"Dengar Kim Sunggyu. Aku masih belum mengerti—"

Kalimat Woohyun terpaksa terputus karena pintu aula di belakang mereka mendadak terbuka dan seorang wanita setengah abad dengan surai kelabu diikat ketat menatap mereka dengan tatapan yang tak ingin dibantah. "Well, Mr. Kim and Mr. Nam, I believe you two won't make a fuss by hexing or fighting each other, will you?(2)"

Sementara pemuda bernuansa gelap di sampingnya masih berusaha mengingat siapa kira-kira wanita itu, Sunggyu menjawab cepat. "No, Professor McGonagal. We only have a small talk here.(3)"

McGonagal menggangguk. "Well then, I suggest you to comeback inside and finish your breakfast, because your first class in this term will begin in a couple of minutes now.(4)" Setelah mendengar Sunggyu menyahut patuh, "Yes, Professor," wanita itu melangkah pergi dengan penuh wibawa. Meninggalkan aula besar mengikuti para guru lain yang sudah meninggalkan ruangan itu lewat pintu samping khusus para staf sekolah.

Setelah McGonagal menghilang di belokan lorong, Woohyun kembali membuka mulut. "Apa yang sebenarnya—"

Pertanyaan penuh ketidakmengertian itu kembali terputus dengan terpaksa. Kali ini penyebabnya adalah suara tumbukan yang cukup keras diikuti jatuhnya barang-barang—kaca, metal—sebelum jeritan terdengar dari arah aula. Refleks, dua pemuda ini berlari masuk untuk mengetahui apa yang terjadi.

Tampaknya sebagain besar murid telah menyelesaikan sarapan dan berniat meninggalkan aula. Hampir semua murid berdiri, baik di mejanya masing-masing ataupun dalam perjalanan menuju pintu. Akan tetapi, semua pergerakan itu terhenti karena semua orang di aula memaku tatapan pada satu titik. Titik kerumunan yang lebih padat yang samar memperdengarkan erangan.

"Hey, what happened?(5)" tanya Sunggyu pada seorang murid yang mengenakan dasi biru—yang kebetulan berada paling dekat dengan pintu aula tempat mereka masuk.

"Malfoy. Finally someone hex him.(6)" Mendengar jawaban itu, entah kenapa Woohyun merasa perutnya melilit karena orang itu mengatakannya dengan seulas senyum puas. Dengan raut yang mengatakan seolah ia telah menunggu saat ini dan sangat senang akhirnya terjadi.

Ayolah, siapa yang mengutuk teman satu sekolah di pagi hari saat sarapan?

Jika Woohyun menyangka ekspresi senang dari siswa itu membuatnya kesal, maka ia mendapati perutnya mual saat menemukan raut senang itu terpampang di wajah hampir semua murid yang ada di sana. Dan fakta bahwa tak ada seorang pun yang bergerak, sementara di sana—di tengah lingkaran seolah menjadi tontonan—seorang pemuda pirang tergolek di lantai sambil bergelung dan mengerang tertahan.

Woohyun mendapati dirinya terpaku. Berharap seseorang akan berteriak "CUT" atau staf kru lain akan berlari menghampiri Sang Aktor yang mungkin cedera atau...atau... apa saja selain gerombolan siswa yang hanya terdiam menyaksikan teman satu sekolah mereka kesakitan!

Merasakan amarah merayapi tiap sel tubuhnya, Woohyun berlari ke arah tubuh Draco Malfoy yang bergetar. "Draco!" serunya sambil berlutut di samping pemuda pucat yang terus mengerang dengan napas tertahan. Woohyun tak tahu apa yang terjadi pada individu di hadapannya. Ia tak tahu bagian mana yang terluka. Tak terlihat luka terbuka di tubuh tinggi itu. Tak ada darah di lantai marmer di bawahnya. Namun, raut kesakitan dan getar tubuh dengan erangan itu sudah merupakan penanda bahwa Draco Malfoy memang terluka.

Sedikit was-was akan menyebabkan lukanya semakin parah, Woohyun perlahan meraih lengan Draco dan membantunya berdiri. Suara tersedak diikuti batuk yang terdengar menyiksa membuat Woohyun melirik dengan cemas. "Can you walk?(7)" tanyanya sangsi. Namun, Draco mengangguk dan Woohyun melingkarkan lengan Draco di pundaknya. Sementara satu tangannya sendiri menopang pinggang pemuda yang lebih tinggi itu.

"MOVE!(8)" bentak pemuda dengan surai hitam ini pada siswa-siswi yang masih terdiam di tempat masing-masing. Dengan tatapan sinis dan menyalahkan, orang-orang itu menyingkir, memberi jalan pada Woohyun yang seorang diri menyeret tubuh Draco Malfoy.

"What happened here?(9)" Sebuah seruan marah yang tiba-tiba terdengar dari arah pintu membuat Woohyun menghela napas lega. Berbeda dengan seisi aula lain yang mendadak bergerak gelisah dan saling menundukkan kepala, menghindari tatapan murka Kepala Sekolah mereka.

"Oh My Dear, Mr. Malfoy. Let's bring him to Hospital Wing, Mr. Nam,(10)" ujar wanita penuh wibawa yang beberapa saat lalu baru menegurnya bersama Sunggyu di depan aula. Sementara Woohyun mengangguk dan kembali membopong Draco, suara tegas McGonagal terdengar di seluruh aula. "I will get an explanation about it.(11)" Sebuah pernyataan—perintah, atau ancaman?—yang tak memberi celah pada penolakan.

Setelah mengucapkan itu, McGonagal membukakan pintu aula besar untuk Woohyun dan Draco. Sebelum meninggalkan ruangan yang membuatnya kagum tapi juga membuatnya takut, Woohyun melempar pandangan pada Sunggyu yang juga menunduk di tempatnya berdiri. Sebuah gelombang kekecewaan memenuhi hatinya.

.

.

Tidak, Sunggyu tidak buta akan tatapan terakhir Woohyun sebelum pemuda itu meninggalkan aula bersama Kepala Sekolah dan Draco Malfoy. Ia sangat sadar dengan lemparan tatapan penuh tuduhan dan kekecewaan itu. Sebuah tatapan yang membuat pemuda ini bergerak lebih gelisah daripada ancaman McGonagal.

Tapi, apa yang bisa ia lakukan? Ia tidak ingin salah bertindak dan mencelakakan semesta yang belum sepenuhnya ia pahami ini! Lagipula, semua orang di aula ini pun tak ada yang memiliki keinginan untuk menyelamatkan... Pelahap Maut itu, kan?

Melirik berbagai raut yang masih terpaku di sana, Sunggyu termangu saat mendapati salah seorang dari mereka memasang ekspresi kesal dan menyentak lengan orang-orang yang menahan tubuhnya—seolah menahan pemuda bersurai berantakan itu bergerak dari titik ia berdiri.

Baiklah, mungkin Sunggyu salah. Mungkin tidak semua orang...

Meski, ia tak mengerti, mengapa dari semua orang, justru orang itu...

.

.

Woohyun merasakan amarahnya semakin naik saat tiba di Hospital Wing dan seorang wanita dengan pakaian suster memeriksa Draco malfoy—yang ia baringkan di atas salah satu kasur—dengan panik. Rasanya Woohyun tak bisa percaya bagaimana seorang siswa melukai teman satu sekolahnya sendiri dengan suatu serangan yang bahkan membuat bingung dan murka Sang Healer.

"I never know this curse before. I'll need sometime to figure out the potion to heal its' side effects,(12)" ujar wanita yang belakangan Woohyun tahu bernama Madam Pomfrey itu pada McGonagal dan juga dirinya yang hanya termangu tak mengerti.

Sementara wanita bernuansa putih itu kemudian menghilang di balik ruangan di ujung lain Hospital Wing, Woohyun harus bertahan mendengar Draco Malfoy mengerang dengan napas terputus yang semakin lama semakin sulit terdengar bagai sesak napas. Sesekali, pemuda pirang pucat itu akan terbatuk dan terlihat begitu ingin mengeluarkan apa yang ada di kerongkongannya. Namun, saat tak ada apapun yang keluar, ia akan kembali mengerang pilu dengan kedua tangan yang tak berhenti menggaruk kasar tenggorokannya. Seolah ingin mencabik lapis kulit itu dan mengeluarkan apa yang tertahan di sana.

Sungguh, Woohyun tak bisa mengerti bagaiman seseorang dapat melakukan hal sekejam ini. Oh, baiklah, ia akui ia memang bukan orang suci atau Si Baik Hati. Woohyun memang seorang kingka playboy yang juga biasa mem-bully. Tapi, ia hanya mem-bully secara verbal. Separah-parahnya luka yang ia berikan pada rekan satu sekolahnya hanya beberapa memar akibat pukulan kemarahan. Sementara, yang tersaji di hadapan matanya saat ini... Dan mengingat betapa orang-orang tampak puas mengetahui pemuda ini tersiksa...

"What exactly happened to him, Professor?(13)" tanya Woohyun perlahan di tengah erangan tanpa henti dari tempat tidur di hadapan mereka. Iris kelamnya tak lepas dari sosok Draco, bertanya tanpa menatap Sang Kepala Sekolah yang masih bersamanya di ruangan itu—menunggu Madam Pomfrey. Pembicaraan sekilas antara McGonagal dengan Sang Healer tadi masih tak memberi gambaran pada Woohyun akan apa yang sebenarnya terjadi pada rekan satu asramanya ini.

"I believe it is a new curse. Maybe has a dark arts in its' spell. It is similar to the slug-vomiting charm, but I guess it's not slug this time. Something more...hurtful to be vomited...and...got stuck in his throat.(14)"

Woohyun tertegun. Selama beberapa saat keheningan tercipta di antara mereka. Hanya di antara keduanya karena di hadapan mereka, Draco masih mengerang. Pemuda beriris kelam ini merasa lebih dari lega saat melihat Madam Pomfrey menghampiri mereka dengan sebuah piala(?) berisi cairan misterius.

"Here, drink this, Dear Boy. It'll help you spit out those horrible things,(15)" ujar wanita itu dengan lembut membantu Draco bangkit duduk dan menyerahkan cairan yang dibawanya. Tanpa banyak protes, pemuda bersurai pirang putih itu meneguk habis isi piala.

Selang beberapa detik, Draco Malfoy mengerang lebih keras dan tubuhnya bergetar hebat. Sebelum—dengan batuk keras—ia memuntahkan sesuatu berwarna hitam dan berduri. Bola-bola yang Woohyun kira adalah bulu babi itu membasahi pangkuannya dan juga kasur tempat ia berbaring. Jubah sekolah juga sprei dihiasi cairan sewarna susu—sepertinya dari ramuan yang tadi diberikan Madam Pomfrey. Namun, di antara itu semua, gumpalan-gumplan darah tak luput dari penglihatan Woohyun.

Draco memuntahkan bulu babi-bulu babi itu dalam jumlah yang tidak ingin Woohyun hitung. Hingga beberapa saat kemudian, pemuda itu terengah kelelahan dengan aliran merah di dagu. Ia terbatuk pelan dan Woohyun mengerjap tak percaya saat dalam satu kibasan... tongkat sihir(?) dari Madam Pomfrey, semua kekacauan menjijikkan dan mengerikan di pangkuan Draco menghilang. Healer wanita itu kembali menyodorkan sebuah piala ke hadapan Draco yang semakin pucat dan siap kehilangan kesadaran kapanpun.

"Drink it and go to sleep, Mr. Malfoy. This potion will help to reduce the irritation in your throat,(16)" ujar Madam Pomfrey tetap dengan nada halus namun menyiratkan ancaman tak ingin dibantah. Sekali lagi Draco Malfoy meneguk ramuan yang disodorkan padanya tanpa kata. Sebelum tubuh tinggi itu terjatuh kembali di atas bantal dan matanya terpejam. Setelah gerakan naik turun pernapasannya menandakan bahwa ia tertidur, barulah Woohyun bisa mendesah lega.

"When he wakes up, he still have to vomits some more until the spell's effect runs out. Give him this potion to reassure his pain each time he vomits.(17)" Kali ini Madam Pomfrey berbicara pada Woohyun yang sejak tadi hanya berdiri di ujung kasur. Pemuda ini mengangguk paham sambil bertanya-tanya berapa kali lagi Draco Malfoy harus memuntahkan binatang mengerikan itu?

"I'll inform your classes' teachers to give permission for your absence today,(18)" ujar McGonagal. Kemudian, wajah yang dihiasi keriput itu menatap Woohyun lembut. "Thank you for being here for him, .(19)" Setelah mengucapkan itu, Sang Kepala Sekolah mengangguk pada Madam Pomfrey dan meninggalkan Hospital Wing.

Sementara Woohyun termangu menatap kepergiannya. Sedikit bertanya-tanya apa maksud dari kalimat Sang Profesor? Apakah tindakannya membawa Draco Malfoy kemari dan bolos kelas untuk menemaninya di sini adalah...hal yang luar biasa?

"Now, let him get some rest, shall we?(20)" Ucapan Madam Pomfrey membuat Woohyun menoleh padanya dan menggangguk pelan. Dengan seulas senyum, Sang Healer berjalan menuju kantornya setelah sebelumnya mengayunkan tongkat sihir dan membuat sebuah kursi muncul di samping kasur tempat Draco tertidur.

Menjatuhkan diri pada kursi kayu itu, Woohyun menatap lekat paras pucat di hadapannya. Ia...tidak mengerti dengan apa yang terjadi di tempat ini. Jika semua ini adalah kehidupan nyata—sebuah dunia yang nyata—sungguh, ia tidak mengerti bagaimana sistem di semesta ini berjalan. Jikalaupun benar Draco Malfoy di hadapannya adalah Draco Malfoy yang itu, ia tetap tidak bisa menerima bagaimana orang-orang dapat berbuat sekejam ini...

.

.

.

TBC

.

.

.

(1)Apa yang dia inginkan darimu, Sunggyu?

(2)Tuan Kim dan Tuan Nam, aku percaya kalian tidak akan membuat keributan dengan saling melempar kutukan atau bertengkar satu sama lain, bukan begitu?

(3)Tidak, Profesor McGonagal. Kami hanya sedikit berbincang di sini.

(4)Baiklah kalau begitu, aku sarankan kalian kembali ke dalam dan selesaikan sarapan kalian, karena kelas pertama di term ini akan segera mulai dalam beberapa menit.

(5)Hei, apa yang terjadi?

(6)Malfoy. Akhirnya seseorang melempar kutukan padanya.

(7)Kau bisa jalan?

(8)MINGGIR!

(9)Apa yang terjadi di sini?

(10)Astaga, Tuan Malfoy. Mari bawa dia ke Klinik Sekolah, Tuan Nam.

(11)Aku akan mendapat penjelasan soal ini.

(12)Aku tidak pernah mengetahui kutukan ini sebelumnya. Aku butuh waktu untuk membuat ramuan untuk menyembuhkan efek sampingnya.

(13)Apa yang sebenarnya terjadi padanya, Profesor?

(14)Aku yakin ini adalah kutukan baru. Mungkin mengandung sihir gelap di dalamnya. Kutukan ini mirip dengan 'Kutukan Memuntahkan Siput', tapi kurasa kali ini bukan siput. Sesuatu yang...lebih menyakitkan untuk dimuntahkan... dan... menyangkut di tenggorokannya.

(15)Minum ini anak baik. Ini akan membantumu mengeluarkan hal mengerikan itu.

(16)Minum ini dan tidurlah, Tuan Malfoy. Ramuan ini akan membantumu mengurangi kegatalan dan iritasi di kerongkonganmu.

(17)Saat terbangun, ia masih harus memuntahkan lagi hingga efek kutukan itu habis. Beri dia ramuan ini untuk menghilangkan rasa sakitnya tiap kali ia muntah.

(18)Aku akan mengabari guru kelasmu untuk memberi izin atas ketidakhadiranmu hari ini.

(19)Terima kasih atas keberadaanmu di sini untuknya, Tuan Nam.

(20)Sekarang, kita biarkan dia istirahat, ya?

A/N: semoga kalian tidak keberatan dengan banyaknya dialog bahasa inggris di sini. Aku akan pastikan selalu memberi translate. Dialog bahasa inggris ini diperlukan untuk menghidupkan suasana dan fakta bahwa mereka berada di Britania. (juga untuk melatih kemampuan bahasa inggrisku *plak) Tapi nanti kalo ada diskusi panjang aku akan pake bahasa indonesia kok hahaha.

Nah, di sini Sunggyu udah muncul, Harry udah disebut-sebut. Mianhe part ini emang fokus di Woohyun yang masih belum bisa menerima, hal-hal baru yang menghadang Woohyun, dan soal Draco. Well, kalian mungkin bisa menebak bahwa Draco adalah karakter favoritku, jadi yaaah... nantikan saja 'penyiksaan-penuh-cinta'ku untuk Draco huehehehehe *evil smirk*

Adakah yang sudah mulai bisa menebak konflik yang akan kuangkat di ff ini? Niatku sih ff ini ga ingin panjang-panjang. Tapi, mari kita lihat. Kadang aku ngetik tak terkendali dan tau-tau udah banyak aja -_-

Oiya soal kutukannya, asli aku ngasal. Haha. Biarin lah yaah... oiya, yang sama sekali ga ngikutin Harry Potter mungkin bakal bingung di sini hmmm :""| Jadi kusarankan baca (minimal nonton deh) serial Harry Potter supaya kebayang Draco itu kayak gimana, Harry itu gimana, Hogwarts itu gimana, dunia sihir di sana tuh gimana. Supaya lebih dapet angsty feels dari fic ini huehehehehe.

Anw, ditunggu masukannya guys~

Let me know what do you think, what do you feel about this story?

Regards,

*Allotropy*