Character by Akiyoshi Hongo

Main Daisuke Motomiya, Takuya Kanbara

Rate T

Genre General Friendship

KIMI to BOKU

"Ne Takuya."

"Apaan?"

"Menurutmu aku itu bagaimana? Ganteng tidak?"

Melirik mata sekilas pada lawan bicaranya "Pengen pendapat jujur nih?"

Ikut melirik "Ok lah."

"Tidak."

"Begitu ya, pantas saja tidak ada cewek yang melirik padaku."

Kepalanya menengok, tak hanya melirik "Dear, kamu tanya masalah gituan ke sesama laki-laki, jawaban yang kamu terima gak bakalan pernah baik tahu. Pastinya gak ada laki-laki yang lebih ganteng dari dirinya sendiri, selama dipikirannya."

"Begitu ya, pantas saja selama ini aku berpikir aku itu ganteng."

Mendengus meremehkan "Kalau mau tanya gituan lebih baik ama cewek."

Menatap lekat wajah lawan bicaranya "Baiklah."beranjak berdiri dari duduknya "Menurutmu jawaban apa yang akan diberikan Hikari kalau aku bertanya begitu?"

Terdiam sejenak "Tak akan lebih baik dari jawabanku tadi."

Menghela napas sejenak "Jadi intinya aku tuh gak ganteng ya."

Menyengir prihatin "Menurutku kamu itu manis dear." Cengirannya diganti jadi cengiran khas cowok gentle "Kalau aku ganteng tidak dear?"

"Tidak!"

"Cepat benar, pikir dulu napa."menggerutu

"Kamu sendiri yang bilang, kalau ingin jawaban pertanyaan begitu tanya cewek."membalas perkataan Takuya "Dan turunkan senyuman gentle yang mirip homo itu, cowok yang mengatakan cowok lain manis itu homo."

#

Daisuke dan Takuya berdiri didepan mesin penjualan minuman. Kening keduanya mengerut, keduanya pun saling melirik hingga mata mereka bertemu. Dua mesin kaleng, satu menjual minuman teh satu lagi kopi. "Teh."ucap Daisuke

"Tidak kopi saja."tolak Takuya

Saling memandang tajam dengan mata yang meruncing "Kenapa?"

"Karena kamu pasti pilih teh yang rasanya pahit itu, apa yang ada tulisan less sugarnya dear."

"Seperti kamu tidak akan pilih yang pahit saja. Black coffe pastinya kan."

"Berapa uang yang ada padamu?"tanya Takuya

"Dua puluh lima, kamu?"

"Gocap."

Janken dilakukan, tak cukup terus-terusan suit, keduanya adu sumo jari, dilanjutkan dengan adu panco. Masih belum bisa menentukan pilihan, Daisuke mengeluarkan koin dan memberikannya pada Takuya, kepala dan ekor. Saat koin dilemparkan Takuya gagal menangkap dan koin jatuh menggelinding masuk kedalam selokan. Keduanya memandang koin bersamaan, selokan yang tertutup dengan lubang kecil. 'Koin seribu perakku.'ratap Daisuke sedih

"Kenapa tak beli masing-masing satu."saran Taichi yang sedari tadi berdiri menatap kedua adik kelasnya "Uang kalian berdua lebih dari cukup kan."

Keduanya memandang senpainya "Pemborosan."ucap keduanya keras

Taichi mendesah singkat. Daisuke dan Takuya tetap saling menatap lekat dengan aura kekeras kepalaan, kemudian mata keduanya tertuju pada satu lagi mesin diseberangnya. Keduanya saling lirik kembali "Cola saja."cetus Daisuke

"Ok."terima Takuya cepat dan menghampiri mesin cola, dan memasukkan uang dan memilih cola

'Tingkah kalian itu lebih parah dari kekasih yang sedang kasmaran. 'komen Taichi dalam hatinya

#

"Membandingkan aku dan Takeru, kenapa Hikari lebih milih Takeru sih. Apa kelebihannya si pirang itu. Jelas-jelas lebih ganteng aku."gerutu Daisuke saat diatap ia melihat kearah bawah melihat Takeru dan Hikari yang sedang mojok

Takuya mendesah bosan, sudah beberapa hari ini sejak Hikari adik Taichi mengumumkan secara resmi tentang statusnya yang berpacaran dengan Takeru, Daisuke terus-terusan menggerutu tentang dia yang selalu ditolak Hikari "Pertama dia idola sekolah, semua cewek disekolah ini pasti mau pacaran ama Takeru, kedua Takeru ace tim basket, ketiga Takeru juga berotak encer dan yang paling penting, dia lebih ganteng dan berkantong tebal lebih dari kamu dear."

"Kamu ini benar-benar homo ya, mengatai Takeru itu ganteng."

"Aku hanya mengatakan opini yang menyebar dikalangan perempuan di sekolah. Secara pribadi aku juga tak sudi mengatakan laki-laki lain lebih ganteng dari aku sendiri dear."

"Kalau begitu kamu juga tak sudi mengatakan aku lebih ganteng darimu?"tanya Daisuke

Takuya diam sejenak "Tidak."Daisuke mendesah kembali, sudah banyak desahan yang ia keluarkan sejak pagi ini "Tapi aku sudi mengatakan kamu lebih manis dariku dear."

Daisuke diam memandang senyuman Takuya yang baginya terlalu menggelikan, namun sedikit semburat merah muncul diwajah Daisuke "Kamu bener-bener homo ya."

Nyengir "Tak ada salahnya mengatakan sohib sendiri itu manis dear."

"Terserahlah, buruan kekelas, bell sudah bunyi dari tadi."Daisuke berjalan meninggalkan Takuya yang masih duduk, sedikit senyuman terpampang diwajah Daisuke, senang akan perkataan Takuya padanya, sohibnya yang paling dekat dan paling baik padanya.

#

"Dear."

"Hmm."respon Daisuke yang sedang memakai sepatunya

Waktu pulang sekolah, loker siswa "Ada surat dilokerku."

"Surat tantangan lagi? Ladeni aja, aku siap kapanpun buat berantem."

"Surat cinta."

Daisuke terdiam, kepalanya kemudian ia hadapkan pada wajah Takuya yang sedang memandang lekat surat bergambar hati tersebut "Masih jaman nembak pake surat ya, dari siapa?"

"Orimoto."

"Izumi Orimoto kelas A itu? Seriusan?"

"Besok jam istirahat, dia minta jawaban dariku."Takuya memasukkan surat tersebut kekantung celananya "Bagaimana menurutmu?"

"kenapa tanya aku?"

"Pendapatmu? Terima apa gak?"

"Terserah kamu. Kan gak ada sangkut pautnya denganku."sedikit nada cemburu

"Ok."ucap Takuya menerima respon yang agak lain dari sohibnya

Esok harinya, kantin sekolah jam istirahat. Daisuke menimati makan siangnya sendirian. "Tumben banget lihat kamu sendirian Daisuke-kun."

"Hikari. Tumben juga kamu sendirian diwaktu istirahat begini, sipirang kemana?"

"Rapat Osis. Si pirang itu punya nama juga Daisuke-kun."

"Oh yeah benar, aku lupa. Lalu?"

Hikari diam sejenak "Daisuke-kun, maaf aku -"

"Tak masalah. Toh itu hak untukmu memilih, aku sih gak masalah."sedikit nada yang dipaksakan, Hikari tahu itu

Senyum tulus "Terima kasih Daisuke-kun. Nah sekarang, bagaimana proyek seni kita?"

"Eh ngebahas tugas, males ah, bahas nanti saja napa."keluh Daisuke saat Hikari mengeluarkan catatan kecilnya dari saku seragamnya

Takuya berjalan pelan, cengiran tak luntur dari wajahnya, setiap siswa yang mengenalnya pasti menyapa, semua tahu Takuya Kanbara adalah siswa paling ceria. Berbeda dengan Daisuke, Takuya cukup terkenal dan populer dikalangan siswa sekolah, terutama perempuan. Disaat mencari sohibnya yang tidak ada dikelas, maka ia menjalankan kakinya menuju kantin, tempat favorit dia dan Daisuke yang ketiga setelah atap dan kelas. "Ow ada apa ini, apa akhirnya cintamu bersambut pada Yagami, dear?"

Hikari tertawa kecil dan Daisuke menggerutu "Hentikan panggilan DEAR-mu itu saat dihadapan orang lain, Takuya. Dan kalau memang aku bersambut dengan Hikari, aku pastikan kamu malam ini makan sampai perutmu pecah."

Takuya nyengir, matanya sedikit melirik pada Hikari, bibir dari Hikari sedikit turun kebawah, dan Takuya mengerti maksudnya. "Lalu?"tuntut Daisuke pada Takuya

"Apaan?"

"Jawabanmu lah."

"Oh itu. Aku menolaknya."

"Kenapa?"

"Simple, aku tak ingin sohibku kesepian dan sendirian."Takuya nyengir dan Daisuke berkedip diam beberapa kali

Menghembuskan napas, sedikit lega "Bodoh."Daisuke tersenyum pada Takuya menanggapi kata-katanya

#

Lapangan, Daisuke dan Takuya duduk dipinggir lapangan, sore hari yang cukup melelahkan bagi mereka, sang Kapten Taichi Yagami memporsir latihan mereka dua kali lipat. "Dear, ini salahmu. Karena kamu kita jadi dimarahi dan dibantai gini oleh Taichi-senpai."

Daisuke menarik napas yang masih setengah-setengah "Kenapa kamu menyalahkanku?"

"Ya iyalah, kalau kamu gak sok-sokan waktu jam olahraga minggu kemarin, pengen belagak ngelawan Takeru segala, dia tuh ace basket, mana mungkin kamu bisa menang. Dan lihat hasilnya, cedera kan kakimu."

Daisuke diam, tepatnya dia malas untuk mendengarkan dan membalas kata-kata Takuya "Dear, bagi kita pemain sepak bola, kaki itu segalanya. Jangan kamu ulangi lagi."

"Cerewet, terus juga ngapain kamu ikutan gak latihan, yang cedera kan cuman aku."merasa jengah dengan semua kata yang dilontarkan Takuya, serasa dihakimi dan seperti digurui

Taichi yang sedang beristirahat tak jauh dari mereka, menghampirinya "Oi baka kombi, masih punya tenaga buat berantem ya, mau lanjut lagi?"

Melihat senpainya berkata begitu, Daisuke langsung mendecih "Taichi-senpai, nasihati deh AMF kita yang tak punya kesadaran sebagai pemain sepak bola ini."pinta Takuya

"Takuya, gak usah pake bilang kesadaran segala deh."

"Takuya benar Daisuke, pertandingan kita berikutnya itu penting, ini tentang gengsi kita sebagai juara prefektur, meski cuma latih tanding, tapi lawan kita bukan sembarangan. Makanya jangan kamu ulangi lagi, peranmu kelewat penting dipertandingan nanti, cuman kamu yang bisa ngobrak-ngabrik pertahanan mereka nanti."

"Iya-iya."jawab Daisuke malas

"Iyanya satu kali saja. Mau lari lapangan sepuluh keliling lagi?"ancam Taichi

Daisuke memberengut "Tidak sore ini sudah cukup membuatku mual."

Dengan cengiran, Taichi meninggalkan kedua kouhainya. Takuya menghembuskan napas lelah, dilihatnya Daisuke yang masih bermuka cemberut, menggerutu dan melemparkan kata-kata kasar dengan suara pelan "Taichi-senpai bisa jadi lumayan keras kalau sudah berhubungan dengan sepak bola ya."

Daisuke diam "Kok marah? Ini kan untuk kebaikan kamu juga dear."Daisuke tetap mengacuhkannya, ia menatap bola yang tak jauh darinya "Masalah aku gak ikut latihan, soalnya siapa lagi yang akan merawat kamu waktu cedera gitu?"

Daisuke mulai menampakkan respon "Aku sendiri bisa."

Takuya tertawa kecil mendengarnya "Aku pribadi yang paling tahu dirimu, kamu itu orang yang tidak bisa merawat diri sendiri. Waktu sehat saja gak becus, apalagi waktu sakit."

"Seolah kamu ibuku saja."dengus Daisuke

"Anggaplah seperti itu."

"Orang lain bisa salah paham Takuya."

"Biarkan saja mereka salah paham, tak ada yang salah dengan apa yang aku lakukan padamu. Semua itu karena aku peduli kamu, dear."

Daisuke melirik Takuya yang sedang menyengir padanya, dan menghembuskan napas panjang "Ayo pulang."

"Ok. Oh ya, kenapa kamu gak anggap aja aku pacarmu?"

"Konyol. Aku gak belok tahu."

#

"Daisuke."panggil Taichi

Jam istirahat, adalah jam mengisi tenaga dan otak setelah diperas habis-habisan dijam pelajaran. Biasanya tempat nongkrong mereka adalah atap kalau bawa bekal (sedang bokek), dan kantin bila sedang tidak bawa bekal (lagi ada uang). Tapi kali ini, Daisuke memilih perpustakaan, karena otaknya sedang dipaksa untuk menghapal berbagai rumus yang akan keluar diremedinya. Terancam ikut kelas tambahan di waktu weekendnya membuatnya terpaksa menjejali semua rumus ditempat paling tabu untuknya.

"Ah senpai?"

"Ikut remidi ya? Gak minta dicontekin ama Takuya tersayangmu?"nyengir Taichi menggoda Daisuke

Tampangnya langsung cemberut "Takuya kalau sudah tentang tes, pelitnya kebangetan. Terus senpai juga ngapain disini? Remidi juga?"

"Jangan samakan aku dengan kamu ya. Ne ada yang mau aku tanyakan?"

Daisuke terlihat sedikit tertarik, tumben Taichi pake bilang begitu segala untuk bertanya padanya "Apaan?"

"Kamu masih demen dengan perempuan?"

Daisuke memicing "Mengejek nih?"

"Yah kamu tahukan, kamu dan Takuya itu sudah kayak pasangan kekasih. Ah bahkan sudah kayak pasutri."

"Begitu ya, aku dan Takuya dimata kalian?"

"Ya gak gitu juga. Tapi aku serius nih, siapa tahu kamu jadi belok karena kasih sayang Takuyamu yang sangat-sangat berlebihan."

"Jelaslah aku masih demen cewek."

"Oh ok, kalau begitu langsung pointnya."

"Yang tadi bukan pointnya?"

Tertawa kecil "Bukanlah. Itu kan pertanyaan standar orang yang penasaran. Gini Dai, ada cewek sekelasku yang suka kamu. Kamu mau gimana?"

Daisuke terdiam "Mau gimana? Maksudnya?"

"Kalau dia menyatakan perasaannya? Dia bilang sih mau gitu dalam waktu dekat ini."

"Kutolak. Meski aku masih demen cewek, tapi saat ini aku gak sedang suka dengan cewek manapun, imoutomu mungkin aku terima, tapi selain dia, kayaknya tidak."

"Masih ngebet ama Hikari?"

Daisuke terdiam sejenak, berpikir sebentar "Tidak sengebet dulu."

Sepeninggal Taichi, pikiran Daisuke langsung teralihkan dari pelajaran. Kepalanya mulai dipenuhi pertanyaan. Daisuke senang ada perempuan yang menyukainya, tidak pernah kepikiran olehnya ada perempuan yang menyukainya, kepalanya sejak dulu selalu dipenuhi Hikari tentang perempuan. Sekarang mulai terpikir kembali, sudah saatnya kah baginya untuk menyerah tentang Hikari. Sudah saatnya kah baginya untuk mencari perempuan lain?

"Takuya. Apa pendapatmu?"

"Tentang kamu kemungkinan menyerah untuk memacari Hikari?"

Daisuke melirik lawan bicaranya yang berdiri disampingnya, didepan aula depan sedang menunggu hujan reda "Kamu tahu sebelum aku tanya?"

Tersenyum ringan "Membaca mimik wajah orang adalah keahlianku. Apalagi kamu, aku bisa menebaknya tanpa pikir panjang lagi. Itu baguskan."

"Ya bagus."

"Sudah dapat calon pengganti?"

"Taichi-senpai bilang, ada teman sekelasnya yang menyukaiku."

"Seriusan?"takjub Takuya dengan wajah tak percaya

"Seolah suatu hal yang benar-benar mustahil terjadi padaku. Yah aku juga tak percaya sih awalnya, tapi reaksimu jangan begitu juga dong."

"Maaf dear. Lalu?"

"Dia bilang dalam waktu dekat ini, temannya itu akan menembakku. Tapi aku katakan pada senpai aku akan menolaknya, tahu saja tidak siapa dia."

"Kamu gak tanya siapa perempuan itu?"

Daisuke terdiam, serasa diingatkan apa yang dia tidak sadari sedari tadi "Bodoh."Takuya geleng-geleng kepala pelan

Daisuke memandang hujan yang masih turun dengan deras, lingkungan sekolah hampir sepi, hanya ada beberapa orang didalam, di aula hanya mereka berdua. "Takuya. Saat ini aku tak terpikir lagi untuk memacari cewek. Seperti tak ada pilihan yang aku suka disekolah ini."

Takuya diam saja, ia hanya melirik sekilas pada Daisuke, dia tahu Daisuke masih akan menyambung kata-katanya "Saat ini aku merasa, kamu saja sudah cukup untuk mengisi masa SMA-ku."

Takuya terkekeh pelan, ia mengambil benda yang ada disampingnya sedari tadi "Balik yuk, kayaknya hujannya gak bakalan berhenti sampai malam."Takuya menunjukkan payung

Daisuke melihat dengan pandangan heran "Ngapain kalo gitu lama-lama disini?"

"Soalnya kamu pasti bakalan nolak, kalau sejak tadi aku tunjukan. Makanya aku tunjukan kalau sudah kepepet kayak gini. Mau nebeng?"

Daisuke menampakkan wajah cemberut "Ya-ya, aku nebeng. Deh gak ada warna lain apa?"komentar Daisuke melihat payung Takuya yang sudah dibuka dan Takuya sudah berada dibawah guyuran hujan dengan payung melindunginya

"Gak ada."cengir Takuya "Buruan keburu malem, dingin nih."

Daisuke berjalan gontai masuk dalam perlindungan payung Takuya. Daisuke dirangkul Takuya dan berjalan dengan cengiran yang lebar.

"Kalau ada polling pemilihan pasangan paling romantis di nih sekolah, nih baka kombi pasti dapat tempat pertama."komentar Taichi yang baru keluar aula, melihat kouhai andalannya berjalan pulang dengan berbagi payung "Ah apa aku bikin saja ya? Kan bisa minta bantuan Osis."

#

Atap sekolah adalah tempat favorit mereka berdua, diatap ini jugalah mereka berdua bertemu. Awal yang membawa hubungan pertemanan mereka sampai begitu erat. Ya pertemanan yang sangat-sangat erat, hingga membuat cemburu banyak pasangan kekasih. Seperti yang sekarang mereka lakukan, Daisuke yang tiduran dipangkuan Takuya, dan Takuya yang mengusap rambut Daisuke pelan.

"Angin diatap memang paling mengenakan. Sejuk sekali disini."ucap Takuya "Ya kan dear."

Daisuke membuka matanya sekilas hanya untuk menatap wajah Takuya yang memandangnya lembuat "Tak begitu enak sih, kamu terlalu lebay dalam mengatakan suatu kondisi."

Daisuke menutup matanya kembali, merasakan hembusan angin yang menerpa tubuhnya. "Kalau tidak enak, bagaimana kamu bisa senyaman ini tiduran disini hanya untuk membolos?"

Daisuke tak langsung menjawab, ia merasakan lembut belaian dikepalanya hingga terbuai "Kalau itu bukan karena angin, atau suasana atap yang sepi."

"Hmm?"

Takuya masih menunggu jawaban Daisuke "Alasan aku begitu nyaman karena kamu ada disini denganku."jeda sejenak "Aku tak pernah menyangka, ini sudah kupikirkan sejak aku mulai siap menyerah akan Hikari. Ternyata aku tak perlu sosok seorang pacar untukku. Untuk kasih sayang dan kepedulian, ternyata aku hanya butuh kamu disisiku."

Takuya sejenak terhenyak dengan kata-kata Daisuke, kemudian ia tersenyum lembut "Ne Takuya, apa kamu akan terus bersamaku seperti ini?"

"Selama yang kamu butuhkan dear."jawab Takuya cepat, ia tak perlu waktu untuk berpikir lagi

Daisuke membuka matanya dan melihat mata Takuya secara langsung "Aku rasa hingga aku mati?"

"Tak masalah, hingga liang lahatmu nantipun, aku tetap disisimu."

Daisuke menutup matanya kembali, tersenyum kecil untuk menanggapi jawaban Takuya 'Ya. Aku tak perlu Hikari ataupun gadis manapun untuk sebuah rasa kasih sayang yang selama ini kuidamkan. Aku memang hanya butuh kamu Takuya. Arigatou Takuya, arigatou sahabat terbaikku.'

"Aku baru saja dapat apartemen dari otou-san."Daisuke agak memiringkan kepalanya dalam pangkuan Takuya, tanda bertanya dan heran "Mau tinggal bareng?"

END