Character by Akiyoshi Hongo
Main Daisuke Motomiya, Takuya Kanbara
Rate T
Genre General Friendship
Thanks buat ratu obeng yang sudah mereview nih fic.
Memandang lekat kotak bekal ditangannya. Dengan pandangan heran bercampur geli, matanya berulang kali merubah objek, dari kotak bekal kemudian pada Takuya. Bibirnya kemudian melengkung kebawah begitu disuguhi senyum gentle khas Takuya Kanbara.
"Gak salah nih?"
"Tidak."
"Cute banget, bentuk hati yang benar-benar bagus."Taichi nyengir begitu melihat isi dari kotak bekal Daisuke
Dari semua makanan dalam kotak bekal, telor dadar hati, wortel hati, tomat hati, nasi hati. Semua berbentuk love hati. Dan tak lupa, Takuya menyodorkan juga sebuah botol minuman, desain hati juga. Daisuke semakin melongo melihatnya "Baguskan?"
"Belajar dari banci mana?"tanya Daisuke
"Sendirilah, aku cuman baca buku masak saja. Senang?"tanya balik Takuya
Matanya memandang dengan pandangan menusuk "Akan lebih senang bila diberi oleh seorang gadis."
Taichi tertawa kecil "Takuya kan gadismu."
"Ah."jeda sejenak "Dia memang ibuku."tanggap Daisuke ketus
Taichi tertawa makin kencang , dan Daisuke cemberut, sedang Takuya memakan rotinya. Daisuke menatap Takuya yang sedang menyantap roti "Takuya, kamu cuman makan roti?"
"Ya. Gara-gara main online, aku begadang dan bangun kesiangan, bekal yang bisa kusiapkan cuman buat satu orang. Jadi aku buatkan kamu saja, dear."menjawab sambil tetap mengunyah
"Dia bisa jadi istri yang baik Dai."goda Taichi
Daisuke terlihat sedikit memerah "Oi homo."
"Hmm?"
'Dia tanggapi panggilan seperti itu? Takuya benar-benar homo?'komen Taichi dalam hati
"Makan bareng. Porsinya kebanyakan."tawar atau mungkin seperti perintah dari Daisuke pada Takuya
Memandang sejenak "Gak bakalan laper lagi nanti dikelas?"
Memberi pandangan memerintah "Gak bakalan. Cepetan, keburu masuk."
Sedikit senyuman gentle dan mencomot satu tomat "Ok dah."melahapnya "Dear. Mau disuapi?"tawar Takuya nyengir
Daisuke berkedip beberapa kali, dan sedikit senyuman "Boleh."
'Benar-benar bikin iri. Aku saja belum pernah disuapi oleh pacarku.'oceh Taichi melihat adegan Takuya menyuapi Daisuke sembari cengar-cengir dan Daisuke yang memerah
#
"Dear."panggil Takuya
Menengokkan kepalanya, Takuya yang duduk dibangku belakangnya memberi pandangan prihatin "Mau dihukum lagi seperti bulan lalu?"
Mengernyitkan dahinya "Emang kenapa?"
"Lupa ya? Inspeksi rutin, kerapihan."
Dengan mulut membentuk hurup O, Daisuke teringat hukuman yang ia terima. Tidak seperti Takuya yang memang selalu rapih, Daisuke terlihat seperti pemuda urakan. Seragam yang tak pernah rapi, rambut yang selalu berantakan, terkadang kancing seragamnya selalu berbeda tempat, sehingga seragamnya tinggi sebelah. Dengan tergesa, Daisuke merapihkan seragamnya dan mengecek semua atributnya. Setelah dirasa ok "Gimana?"tanyanya pada Takuya
"Hmm ok. Tapi, kurang ini."Takuya menunjuk dasi yang terikat dilehernya
"Sialan, aku lupa bawa dasi."umpat Daisuke
"Sudah kubawakan."merogoh tasnya dan mengeluarkan dasi lalu diberikan pada Daisuke
"Thanks."menerima dasi tersebut dan mulai memasang. Ya mulai memasang, memasang dengan lilitan kusut.
Takuya melihatnya, dengan cepat ia memegang kedua tangan Daisuke, menuntunnya untuk diletakkan di samping pahanya. Dan kemudian Takuya memperlihatkan senyuman yang Daisuke sebut senyuman gentle homo "Memasang dasi saja tak bisa."dengan pelan Takuya mulai merapihkan kerah Daisuke dan memasang dasi. Dengan cekatan mulai mengikat dengan rapih, tak lupa juga ia merapihkan penampilan Daisuke "Ok, sudah enak dipandang. Pasti lulus inspeksi kok."
Berkedip beberapa kali, dan wajahnya sedikit panas "Begini saja mah, aku juga pasti bisa kok."memalingkan wajahnya dari hadapan Takuya
Wajahnya makin memerah begitu menyadari seluruh pasang mata penghuni kelas memandang mereka berdua, dan dengan frustasi Daisuke menepuk keningnya saat dia lihat wajah-wajah penghuni kelas tersebut nyengir padanya.
"Kanbara-kun, cekatan sekali."seorang perempuan menghampiri Takuya. Takuya memberi senyuman terima kasih "Bisa ajari aku? Aku juga ingin bisa memasangkan dasi seperti itu untuk pacarku. Terlihat mesra sekali."pinta perempuan tersebut
"OK."
#
Langkah yang tergesa itu berjalan cepat melewati banyaknya undakan tangga. Tidak seperti biasanya Daisuke pulang sendirian, ini karena Taichi memberikannya tugas dadakan yang dikhususkan untuknya. Memasukkan lubang kunci dan "Aku balik nih, Takuya."panggilnya dengan suara yang lumayan nyaring
Suara langkah kaki cepat terdengar, dan muncullah sesosok pria lain. Daisuke melotot melihatnya "Selamat datang Dear. Mau mandi dulu atau makan?"ucap Takuya, pakaiannya lah yang membuat Daisuke terpana, terdiam dengan mata nyaris keluar dari tempatnya "Atau kamu mau aku."diucapkan Takuya dengan suara genit dan manja combo wajah manis dengan celemek dan hanya boxer dibaliknya
Wajah Daisuke memerah melihatnya "Gak usah aneh-aneh Takuya."ucap Daisuke sembari meletakkan sepatu dan berjalan melewati Takuya, tasnya ia letakkan sembarangan.
"Taichi-senpai nyuruh apaan?"tanya Takuya sembari memungut tas Daisuke
"Taichi-senpai kadang bisa aneh-aneh, masa dia menyuruhku untuk mengawasi Hikari saat dia tidak disekolah."jawab Daisuke sembari membuka kulkas dan mengeluarkan sebotol air putih
"Menjaga Hikari?"
"Ah."duduk dan menuangkan air putih kegelas "Tahukan, kelas tiga lagi mau study tour gitu dah, nah selama dia gak ada, dia minta aku ngawasin Hikari. Yang benar saja, aku harus ngawasin Hikari yang lagi mesra-mesraan dengan si pirang itu."
Takuya keluar dari kamar Daisuke, ia baru meletakkan tas didalam "Maklumi saja, sisconnya dia udah akut itu kesempatan bagus buatmu juga, jadi deket Hikari kan?"
Daisuke berpikir sejenak "ini mengawasi loh. Mengawasi, berarti aku cuman bisa mandangin dia dari jauh."
"Oh tumben pintar. Hmm tapi gak apa kan, yah setidaknya kamu bisa mantengin dia terus."
"Itu mah hal biasa dari dulu. Sekarang entah kenapa aku malas buat mantengin dia."
Takuya mengerling sejenak, dia sedang mengambil piring "Ada alasan kenapa kamu jadi malas?"
Daisuke tak langsung menjawab, ia seperti berpikir sejenak "Akhir-akhir ini pikiranku teralihkan oleh hal lain."dari cara bicara, Takuya tak langsung menyela, karena ia tahu Daisuke akan melanjutkan "Dan aku percaya itu bagus untukku."
Takuya tersenyum ringan "Ma, sekarang makan dulu, mandi nanti. Aku baru manasin airnya."Takuya meletakkan didepan Daisuke
Memandang piring didepannya, omuraisu? Biasa saja kalau tidak dibubuhi oleh sesuatu yang aneh-aneh macam gambar hati love. "Akhir-akhir ini kamu jadi pintar masak, belajar dari banci mana sih?"
"Sudah dikasih tahu belajar sendiri. Ah apa kamu ingin kutilisi LOVE gitu dibanding gambar hati?"
"Gak usah, segini saja sudah cukup bikin eneg."tolak Daisuke langsung membayangkan tulisan seperti itu, gambar hati sudah cukup mengerikan baginya "Takuya, sudah mandi?"
"Belum."jeda sejenak untuk melihat Daisuke yang mulai menyuap sesendok dan melihat ekspresinya yang langsung mesem-mesem "Mau barengan, dear?"
Keningnya mengernyit, lalu nyengir "Tidak."
Kamar Daisuke, setelah ia perhatikan baik-baik, kamarnya sudah lebih rapi. Pasti Takuya yang merapihkannya, karena seingatnya, kamarnya tak pernah rapi sedikitpun, komik, buku pelajaran, pakaian dan botol-botol minuman selalu berserakan, tapi sekarang tak ada satupun benda yang berserakan, buku dan komik ada pada tempatnya. Dan Daisuke meneliti lantai kamarnya, begitu bersih dan mengkilat "Kenapa dia repot-repot banget sih. Aku paling tidak nyaman kalau kamarku serapih ini."gumamnya kecil dan mendesah
Terlelap tidur dengan damai, hingga tengah malam, sekitar jam dua lebih, Daisuke terbangun. Ingin segera bangun tetapi tubuhnya seperti berat tak bisa digerakkan 'Tindihan? Serius nih?'ucapnya dalam hati. Tetapi sepertinya hanya bagian tubuh dan tangan kiri saja yang tak bisa ia gerakkan karena seperti tertindih, kepalanya ia tengokkan kekiri dan mendapati Takuya yang tertidur lelap menghadap padanya, tangannya melingkari Daisuke.
Suara petir terdengar menggelegar diluar sana, Daisuke tersenyum kecil "Setidaknya kamu bilang kalau ingin tidur bareng."ucap Daisuke pelan mengingat Takuya yang sebenarnya dari kecil takut akan petir
Dia angkat tangan Takuya, memasukkan Takuya yang tadi tertidur disampingnya tanpa selimut. Setelah tubuhnya dan tubuh Takuya tertutup selimut, ia menarik kembali tangan Takuya untuk melingkari dirinya lagi, dan dengan senyuman kecil Daisuke menutup matanya lagi.
'Sialan, malah aku jadi gak bisa tidur.'rutuk Daisuke dalam hati
#
"Jadi bagaimana rasa bibir Hikari, dear?"
Daisuke memandang dengan tatapan menyesal "Pahit."
Tersenyum simpul "Iyalah. Karena tak ada cinta disana."
Daisuke termenung dikantin yang sedang kosong. Matanya memandang sekelilingnya, kemudian menghela napas. Apa yang telah ia lakukan beberapa hari lalu tak pernah ia bisa lupakan. Secara sepihak ia mengambil ciuman Hikari. Secara paksa, ia mengambil ciuman dari Hikari. Tapi apa yang ia rasakan, perasaan menyesal dan bersalah, terlebih pahit yang ia rasa dari ciuman satu arah itu.
"Daisuke-kun."suara perempuan yang memenuhi pikiran Daisuke karena rasa bersalah masuk keindra pendengarannya
"Hikari."
Dilihatnya Hikari sedang tersenyum kecil. "Tumben solo?"
Agak terkaget akan tutur kata Hikari yang seperti biasanya, sejak insiden itu, Daisuke tahu, Hikari menghindarinya. Tapi apa yang ia lihat sekarang, berbeda dengan kemarin-kemarin, lebih seperti Hikari yang biasa ia kenal. "Boleh duduk disampingmu?"
Daisuke masih diam, tertegun melihatnya. Tapi sedikit anggukan ia berikan sebagai ganti kata-kata. Dua-duanya diam, tak berkata. Canggung bagi Daisuke dan Hikari, karena mereka tak pernah diam bila bersama seperti ini. "Hikari. Maaf."ucap Daisuke mengawali
Reaksi yang tak pernah Daisuke kira, Hikari tersenyum lembut seperti biasanya "Iya tak apa-apa Daisuke-kun."
"Eh. Serius?"
"Iya. Aku sudah memikirkannya, kurasa untuk kali ini Daisuke-kun tidak bersalah. Anggap saja penghargaan dariku, Daisuke-kun."
"Hikari."
"Aku juga minta maaf untuk beberapa hari ini, aku menghindarimu, rasanya aku masih shock karena perbuatan Daisuke-kun."
"Maaf."
Hikari tersenyum, kemudian ia menghadapkan tubuhnya dan berhadapan face to face dengan Daisuke. Senyuman lembut bagai malaikat "Terima kasih telah menyukaiku selama ini Daisuke-kun."Hikari berkata tulus
Daisuke terdiam, dan tak lama senyuman simpul muncul diwajahnya. Daisuke menyadari, meski akhir-akhir ini ia mulai merasa malas untuk memikirkan Hikari, meski ia mulai sedikit demi sedikit berusaha mengenyahkan Hikari, tetap saja ia tak bisa melupakan cinta pertamanya.
Mengulurkan tangan kanannya, Daisuke menyentuh pipi kiri Hikari, ia belai dengan lembut "Terima kasih, Hikari."
Keduanya tertawa kecil "Tapi Daisuke-kun jangan beri tahu siapapun ya, terutama Takeru."
"Tentu saja tidak. Yah tapi kalau ketahuan dan dia ngajak berantem sih, aku ok saja."
"Soalnya itu juga ciuman pertamaku loh, Daisuke-kun."Hikari nyengir melihat reaksi Daisuke yang tiba-tiba memerah
Untuk selanjutnya keduanya mulai mengobrol seperti biasanya. Terkadang Daisuke mencubit pipi Hikari dengan gemas, dan terkadang Hikari mencubit pelan lengan kiri canggung telah diangkat.
"Wah, sudah baikan nih?"tanya Takuya yang melihat keduanya sedang bercanda
"Takuya, dari mana saja?"balik tanya Daisuke
"Meeting sama Taichi-senpai."jawab Takuya singkat, dan ia menyapa Hikari
"Soal sepak bola? Kok aku gak diajak?"protes Daisuke
Takuya nyengir "Kan kamu lagi dalam suasana hati mendung dear, jadi gak enak bawa meeting orang yang lagi kelabu."
Hikari tak pernah bisa menahan tawa saat mendengar panggilan Takuya pada Daisuke. Takuya membuka sekaleng black coffe ditangannya dan meminumnya "Dear, perayaan baikanmu dengan manager kita."Takuya menyorongkan minumannya
"Geh. Kopi hitam."Daisuke menerima black coffenya, dan langsung meneguknya
"Ciuman tak langsung."komen Hikari
Takuya heran melihat Daisuke yang meneguk dengan rakusnya, karena ia tahu, Daisuke paling benci dengan kopi hitam. Dan saat Daisuke menaruh kaleng black coffe, Takuya mengambilnya dan mengintip isinya, habis "Tumben dear?"
Daisuke tak langsung menjawab, ada beberapa detik ia seperti berpikir merasakan kopi hitam yang tak biasanya "Rasanya manis."
Tersenyum gentle, sedikit semburat diwajah Hikari melihatnya, sedang Daisuke mengernyit "Karena disana ada cinta, dear."
Daisuke merona, Hikari tertawa pelan "Berisik, homo."
#
"Dear."
"Hmm?"
"Ada surat lagi nih."
"Surat cinta lagi? Edyan, nih di sekolah ada berapa orang sih yang masih ketinggalan jaman."
Takuya membalik-balik suratnya dan membuka surat tersebut "Ah. Ternyata salah alamat."ucap Takuya saat membaca isi surat
"Salah?"
"Ditujukannya buat kamu nih dear."Takuya menyerahkan surat tersebut pada Daisuke yang langsung menaikkan alisnya
"Ruki Makino. Ini mantannya si Jen itu ya?"
"Iyup, adik kelas. Gak nyangka ada anak secantik dia suka ama kamu dear, prestasi nih."
Daisuke membaca dengan serius "Taman belakang. Jam istirahat kedua. Besok."
"Mau ditemuin?"
Daisuke diam terus, terus memandangi surat ditangannya "Aku akan pikirkan."
"Kamu suka dia? Ruki?"
"Aku gak suka dia, tapi mungkin aku bisa suka dia. Takuya, mungkin ini kesempatanku buat mulai menjauh dari Hikari."
Takuya tersenyum hangat dan gentle seperti biasa "Semangat dear."
"Takuya-kun, tumben nih solo?"tanya Hikari heran melihat Takuya yang sendirian di kelas, jam istirahat yang ia tahu, sosok Takuya pasti terus bersama Daisuke, entah diatap atau dikantin "Ditinggal Daisuke-kun ya?"Hikari iseng menggoda
Takuya memberi senyuman gentle "Mungkin."
Sedikit raut kaget terlihat diwajah Hikari "Seriusan kombi paling harmonis disekolah mau bubar?"
"Kejam ah Hikari-chan, jangan bilang bubar segala dong. Daisuke-kun sedang ada keperluan, yah privatnya dia."
"Privat? Memang masih ada yang gak bisa dicampuri Takuya-kun ya."
"Ada, yah dia sedang nemuin perempuan sih, kemarin dia ditembak pake surat."
"Eh seriusan, Daisuke-kun ditembak perempuan?"tanya Hikari takjub, Takuya menganggukinya dengan cengiran melihat reaksi Hikari "Tapi edyan juga, masih jaman nembak pake surat ya."komentar Hikari "Siapa perempuan itu?"
Takuya tertawa pelan "Komentarmu ternyata sama dengan Daisuke-kun ya, kurasa ada kesamaan antar kalian berdua."
Hikari sedikit merona "Siapa sih perempuannya?"sedikit nada cemburu
Takuya menyadari sedikit perubahan nada dari Hikari "Mm Ruki Makino."
"Eh anak kelas satu yang populer itu. Seleranya aneh juga."
"Sejelek apa sih Daisuke-kun dimatamu Hikari-chan. Sampai orang yang menyukai dia kamu sebut berselera aneh."
Hikari seperti menangkap nada ketidaksukaan disana, menyadari ia telah salah berkata didepan orang paling dekat Daisuke, Hikari langsung meminta maaf "Maaf Takuya-kun, aku tak ada maksud seperti itu. Hanya saja, kau tahu, Daisuke-kun itu sedikit unik, menurutku."
Takuya mengangguk, mengerti maksud Hikari, yah unik, karena unik itulah, Takuya menyukai Daisuke. Keduanya terdiam agak lama, karena memang jarang sekali mereka berdua bisa dalam keadaan berdua, tanpa ada Daisuke.
"Takuya-kun boleh aku berkata jujur?"
Takuya memandang lekat dan "Boleh."
"Aku mencintai Daisuke-kun."
Seperti yang sudah diketahui Takuya sejak lama, dan menanggapinya ia memberi senyuman hangat. Melihatnya, Hikari berpikir 'Dia tahu.'
Ditempat lain, taman belakang Daisuke benar-benar dihadapkan dengan perempuan cantik Ruki Makino. "Motomiya-senpai, bagaimana? Maukah kamu jadi pacarku?"
Sejak malam, Daisuke sudah bingung bila ditanyakan hal seperti ini lagi. Sibuk mengejar Hikari, dan biasanya dia yang selalu dalam posisi menembak, tapi saat posisi itu dibalik, Daisuke langsung kebingungan. Apa dia harus meniru sikap Hikari, seperti berkata "Tidak Daisuke-kun."saat Daisuke menembaknya untuk yang kesekian kalinya
"Motomiya-senpai."desak Ruki
"A-anu Makino-san aku-"
"Apa senpai masih menyukai Yagami-senpai?"
Pukulan telak, tapi menutupinya, Daisuke menggeleng. Ruki menatap dengan tajam "Atau, rumor itu memang benar."
"Rumor?"
"Bahwa Motomiya-senpai pacaran dengan Kanbara-senpai. Senpai homo."
'Ah tentunya rumor itu ya.'langsung mengeluh dalam hati. "Pe-pertama tolong katakan kenapa kamu memilihku, kamu tahu, masih banyak lelaki yang bisa jadi pacar cewek sepopuler kamu. Kanbara misalnya."
"Hanya satu, karena Motomiya-senpai tak akan pernah selingkuh."
"Eeh? Selingkuh?"
"Iya, memacari cowok populer sama saja cari penyakit. Mereka pasti akan selingkuh. Karena Motomiya-senpai tidak populer dan tidak ada ganteng-gantengnya, aku yakin Motomiya-senpai tidak akan pernah bisa selingkuh."
Daisuke tertawa tertahan, alasan yang benar-benar konyol dan menohok hati Daisuke. "Ka-kalau begitu apa kamu menyukaiku?"
Ruki diam, dan "Tidak juga. Aku hanya ingin mencoba pacaran dengan cowok tak populer, karena sejak dulu aku sudah pacaran dengan cowok populer."
Daisuke tersenyum tipis "Kalau begitu Makino-san, maaf aku tak bisa menjadi pacarmu."
"Eh kenapa? Aku populer, Motomiya-senpai pasti akan terkenal."
Tanpa menurunkan senyumannya "Tanpa aku harus berpacaran denganmu pun, aku sudah lumayan terkenal, lagi, ada orang yang tulus menyukai bahkan mencintaiku apa adanya. Tak memandang apa aku populer dan juga fisik wajahku. Bagiku itu sudah cukup untuk mengisi hari-hariku."
"Bohong, Motomiya-senpai punya pacar?"
"Dia bukan pacar. Hanya partner terbaik yang kumiliki. Ya partner yang mengisi hari-hari biasaku."
"Jadi. Ini hasilnya?"tanya Takuya saat Daisuke menampakkan dirinya dikelas, Hikari sedikit tertawa melihat wajah Daisuke, cap tangan yang masih membekas
"Dia nampar aku, apa salahku menolaknya."
"Mungkin karena kata-katamu dear."
"Atau karena Daisuke-kun yang langsung sosor saja."ejek Hikari
"Hikari kadang suka sembarangan juga, Takuya masa aku harus terima alasan dia, dia bilang nembak aku karena aku orang yang tidak populer, tidak ada ganteng-gantengnya dan kata dia, aku itu tipe yang gak bakalan selingkuh karena gak laku. Siapa yang mau terima alasan konyol seperti itu."
Mendengarnya Takuya dan Hikari tertawa. Hikari menepuk-nepuk bahu Daisuke kemudian mencubit pipi kanannya. Takuya cuman nyengir, ini salah satu yang membuat Takuya yakin bahwa Hikari juga sebenarnya memiliki rasa cinta pada Daisuke. Hikari tak pernah menyentuh secara langsung dan terang-terangan pada lelaki, pengecualian buat kakaknya dan mungkin Takeru.
#
Seperti biasa atap. Takuya dan Daisuke duduk berdempetan. Daisuke yang matanya memancang pada ponselnya, dan Takuya yang serius dengan sebuah buku dan pensil ditangannya. Setelah Takuya selesai dengan apa yang ia kerjakan, dan tersenyum puas "Dear lihat deh."
"Apaan?"Daisuke menerima buku Takuya "Gaun? Pengantin?"
"Yup. Baguskan."
Daisuke sedikit mengernyitkan dahinya "Ngapain bikin gambar ginian? Mau cosplay?"
Takuya tersenyum kecil "Sudah kuputuskan sejak dulu, aku mau kerja di perusahaan wedding organizer, khsusunya bagian desain gaun-gaun kayak ginian."
Daisuke terdiam sesaat "Cita-cita yang seperti orangnya, homo banget."
"Kok nyambung ke sana, gak mesti juga kan. Yah gak terbatas gaun pengantin sih, pakaian lain juga."
Daisuke tak langsung menanggapi, dia masih memancangkan matanya di gambar gaun buatan Takuya "Nanti kalau kamu menikah dengan Hikari, aku yang buatin deh dear."
Daisuke mendesah pelan dengan wajah agak memerah, ia memikirkan melihat Hikari dengan gaun cantik seperti digambar "Jangan beri aku harapan yang berlebih Takuya. Menikah, pacaran aja ditolak, apalagi menikah, langsung di black list aku dari daftar temannya."
Takuya tertawa pelan "Atau kamu ingin aku yang menggunakan gaun ini dear?"goda Takuya
Kedua matanya melebar, semburat merahnya makin terlihat saat Takuya menggodanya seperti itu "Bodoh, setelanmu itu jas bukan gaun, kamu ketularan banci mana sih?"
Takuya nyengir, tepatnya senyuman gentle andalannya "Lain soal kalau kamu pasangannya."
Daisuke diam, setelah mendesah pelan ia kantungi ponselnya dan menyimpan buku kelantai. Dengan pelan Daisuke merebahkan dirinya dipangkuan Takuya. Saat kepalanya tepat dipangkuan Takuya dan mendapatkan posisi yang nyaman, matanya langsung saling pandang dengan Takuya. Pelan Daisuke menyentil kening Takuya "Baka."diiringi senyuman kecil Daisuke menutup matanya.
END
