Protect The Panda
Author: Lovara
Genre: Campur aduk cari sendiri aja -_-
Cast: Kris (24 tahun) Tao (17 tahun)
Suho (23 tahun) Yixing (18 tahun)
Chanyeol (22 tahun) Baekhyun (17 tahun)
Kai (20 tahun) Kyungsoo (17 tahun)
Sehun (20 tahun) Luhan (18 tahun)
Chen (22 tahun) Xiumin(18 tahun)
Jaehyo (Block B) (18 Tahun)
Nana (After School) (24 Tahun)
Summary: Siapa yang tidak kenal Huang Zi Tao? Anak tunggal dari pasangan Huang Hangeng dan Huang Heechul yang menjabat sebagai menteri yang paling berpengaruh di Korea. Namun kehidupan Zi Tao tidak semulus yang kita bayangkan, berulang kali ia hampir menjadi korban penculikan oleh saingan kedua orang tuanya. Untuk menjamin keselamatan anaknya, Heechul akhirnya memutuskan untuk menyewa 6 orang bodyguard sekaligus untuk putra semata wayangnya.
Ps: Yixing disini nggak ada hemofilia.
...
INI KONTEN YAOI ALIAS BL ALIAS BOY X BOY
.
GAK SUKA YAOI JANGAN BACA
.
GAK SUKA PAIRNYA SILAHKAN KELUAR
.
TIDAK MENERIMA BERBAGAI KRITIKAN TAJAM YANG MENJATUHKAN MOOD ATAU BAHKAN MENJELEK-JELEKKAN PARA CAST
.
SANGAT MENERIMA KRITIKAN DAN SARAN DENGAN BAHASA YANG SOPAN DAN EYD YANG DISEMPURNAKAN
.
"TYPO MERUPAKAN SEBAGIAN DARI IMAN"
...
"Ada apa dengan wajah mu hyung?" tanya Tao saat berpapasan dengan Jaehyo.
"Ah ini? Tidak apa-apa, hanya berkelahi dengan berandalan kecil" jawab Jaehyo.
"Benarkah? Kenapa mereka sampai memukul mu?"
"A-aku... aku tidak sengaja menabrak salah seorang dari mereka dan mereka langsung memukul ku"
"Apa itu masih sakit hyung?"
"Tidak, ini sudah lebih baik"
"Oya hyung, terima kasih kemarin kau sudah menolong ku. Maaf kemarin aku tidak sempat mengucapkan terima kasih pada mu"
Jaehyo tersenyum sekilas.
"Bukan kah aku sudah berjanji akan melindungi mu dari kejahatan appa ku?" ucap Jaehyo.
"Apa jangan-jangan luka itu karena appa mu yang memukul mu hyung?" tebak Tao.
"Kenapa kau berpikiran seperti itu?"
"Mu-mungkin saja... karena kau menolong ku kemarin, appa mu marah dan memukuli mu" sahut Tao.
"Haha... Itu tidak mungkin, Tao~"
"Benarkah..?"
"Percayalah pada ku..."
"Baiklah kalau begitu. Aku ke kelas dulu hyung, sampai nanti" Tao melambaikan tangannya pada Jaehyo.
"Maafkan aku, Tao..."
...
"Baek~"
"Hmm..."
"Aku ingin bertanya..."
"Tanyakan saja"
"Bagaimana kalau orang yang sepertinya kau sukai tapi tidak menganggap mu?" tanya Tao.
Baekhyun yang sedari tadi sibuk memilih buku diantara deretan rak, segera menghentikan kegiatannya dan duduk disebelah Tao.
"Maksud mu?" tanya Baekhyun sedikit tidak paham.
"Misalnya kau menyukai Chanyeol hyung, tapi bagaimana jika Chanyeol hyung hanya menganggap mu sebagai murid nya saja?"
Tao meletakkan kepalanya diatas meja dan memejamkan matanya.
Baekhyun sedikit heran dengan pertanyaan Tao kali ini.
"Apa kau sedang menyukai seseorang, Tao?" tanya Baekhyun tepat.
Tao segera mengangkat kepalanya dan menatap Baekhyun.
"Ke-kenapa kau bertanya seperti itu?"
"Hanya menebak saja" jawab Baekhyun acuh.
"Jadi, apa pertanyaa ku itu benar? Kau sedang menyukai seseorang?" tanya nya lagi.
"Mungkin..." sahut Tao pelan.
"Whoaa~ katakan pada ku siapa orangnya..!" teriak Baekhyun dan dihadiahi tatapan tajam oleh pengunjung perpustakaan.
Baekhyun dan Tao segera meminta maaf atas keributan yang mereka buat.
"Jadi, bisa kau katakan siapa orangnya?" bisik Baekhyun.
"Entahlah, tapi sepertinya kau menyukai... Kris?" ucap Tao sangat pelan.
"SU- sudah ku duga" Baekhyun hampir saja kembali berteriak jika Kim saem yang terkenal galak itu tengah menatapnya tajam.
"Tapi sepertinya Kris menyukai mu, tunggu apa lagi kau nyatakan saja perasaan mu" dukung Baekhyun.
"Tidak. Dia tidak menyukai ku~"
"Mwo? Darimana kau tahu? Kau pernah menyatakan perasaan mu padanya?"
"Aku tidak sengaja mendengar percakapan mereka saat dirumah, Kris hanya menganggap ku sebagai orang yang harus dilindungi karena itu memang tugasnya"
Baekhyun menepuk pundak Tao pelan, memberikan dukungan untuk sahabatnya ini.
"Bagaimana dengan Jaehyo hyung?" tanya Baekhyun.
"Kenapa dengan Jae hyung?"
"Sepertinya ia menyukai mu, kenapa kau tidak bersama Jaehyo hyung saja?" usul Baekhyun.
"Jangan bercanda Baek, aku hanya menganggap Jae- hyung tidak lebih sebagai teman" sahut Tao.
"Ternyata kau menyukai nya, Tao" batin seorang namja yang menatap Baekhyun dan Tao dari balik rak buku.
...
"Sepertinya kita memang harus waspada terhadap Jaehyo" ucap Sehun saat semuanya berkumpul diruangan Suho.
"Apa kau mendapatkan informasi yang bagus?" tanya Kai.
"Beberapa orang yang ku kirim untuk menyelidiki kediaman Ahn mengatakan bahwa, menteri Ahn memukuli Jaehyo karena ia gagal membuat Tao celaka kemarin"
"Jadi benar kejadian kemarin itu ulah menteri Ahn?" seru Chanyeol.
"Awasi gerak-gerik Jaehyo selama disekolah, karena hanya Chen yang satu angkatan dengan Jaehyo kurasa tugas ini akan ku berikan pada Chen" ujar Suho.
"Sehun dan Kai, kalian jangan biarkan Tao pergi sendiri tanpa salah satu dari kalian. Kejadian kemarin semakin membuat ku yakin kalau menteri Ahn akan mengincar Tao bahkan saat disekolah" tambahnya.
Dhuar...
Sebuah suara ledakan terdengar sangat kencang. Sesaat kemudian terdengar teriakan para siswa yang panik.
"Apa itu?" tanya Chanyeol.
"Suara nya dari lantai 2, cepat kesana" ujar Sehun.
Mereka semua segera menghampiri sumber suara ledakan tadi. Dilantai 2 sudah berkumpul para siswa yang terlihat panik. Laboratorium kimia yang kosong tiba-tiba mengeluarkan ledakan yang cukup kencang, membuat beberapa jendela kaca yang berada didekatnya pecah.
"Ada apa ini?" tanya Chanyeol pada seorang siswi.
"Kami tidak tahu saem, tiba-tiba saja dari dalam lab muncul asap lalu terdengar suara ledakan" jawab siswi itu.
"Semua menjauh, Bantu teman kalian yang terkena serpihan kaca" perintah Kris tegas.
Beberapa siswa terlihat membantu teman mereka yang tidak sengaja terkena serpihan kaca. Sehun dan Kai segera memeriksa ruangan Lab itu dengan seksama. Meskipun terdengar suara ledakan yang cukup kencang, anehnya didalam ruangan tidak terdapat bekas api akibat ledakan.
Sehun mendapati sebuah ember yang berisi air dengan kepulan asap yang masih tersisa didalamnya.
"Mungkin kah...?"
Sehun segera membongkar isi lemari kaca yang terletak tak jauh dari ember itu.
"Sudah ku duga, ia menggunakan ini untuk menciptakan ledakan" gumam Sehun sambil mengamati sebuah botol dengan label Rb yang hanya tersisa tak sampai separuh botol.
"Kau menemukan sesuatu yang menarik?" tanya Kai.
Sehun menunjukkan botol yang ia pegang.
"Cara yang bagus untuk membuat ledakan kecil" ucapnya sambil tersenyum.
"Sepertinya ia sudah gila" pikir Kai.
...
Brak...
Pintu ruang kesehatan terbuka dengan sangat kencang, membuat beberapa namja yang berada didalam terkejut dengan suaranya.
"Yah, bisakah kau tidak membuat kami terkejut?" seru Luhan kesal pada pelaku pembantingan pintu.
"Ku dengar kau terluka? Kau baik-baik saja?' tanya namja itu menghiraukan omelan Luhan.
"Chen? Darimana kau tahu aku berada disini?" tanya Xiumin yang sedang diobati oleh Yixing.
Namja berpipi chubby itu sempat terkena serpihan kaca pada tangannya. Dan sekarang Yixing sedang mengobati tangan Xiumin dengan cekatan.
"Kangjun -teman sekelas mereka- yang memberitahu ku, bagaimana luka mu?" tanya Chen terlihat khawatir.
"Tidak terlalu parah, hanya lecet" jawab Xiumin sambil tersenyum.
"Syukurlah... ku kira kau sampai terluka parah" sahut Chen.
"Ehem... maaf mengganggu kalian tapi disini masih ada aku dan Yixing" ujar Luhan menghancurkan moment ChenMin didepannya.
Xiumin menundukkan wajahnya karena malu, sementara Yixing yang selesai mengobati Xiumin hanya tersenyum.
"Jadi, apa kalian sudah menemukan pelaku yang menyebabkan kekacauan ini?" tanya Yixing pada Chen.
"Sehun sudah menemukan barang bukti yang dipakai untuk membuat ledakan, tapi kami belum menemukan pelakunya"
...
"Sudah kuduga kau pasti yang melakukannya"
"Apa maksud mu?"
"Tidak perlu bersikap bodoh didepan ku, hari ini hanya kau yang meminjam kunci ruang kimia"
Jaehyo menatap Sehun yang berdiri angkuh didepannya. Saat ini mereka berdua berada ditaman belakang sekolah yang cukup sepi.
"Jadi, hanya karena aku yang meminjam kunci maka aku pelaku peledakan itu?" sahut Jaehyo seolah tidak takut dengan tatapan tajam Sehun.
Grep...
Sehun menarik kasar kerah baju Jaehyo.
"Katakan apa mau mu sebenarnya?"
"Apa yang aku mau? Kurasa itu tidak ada hubungannya dengan mu" jawab Jaehyo sinis.
"Apa tujuan mu mendekati Tao hanya untuk mencelakai nya, hah?!"
"Bisakah kau bersikap lebih sopan terhadap senior mu?"
"Aku lebih senior dari mu, jika kau tidak tahu itu" geram Sehun.
"Cih, hanya karena kau lebih senior daripada ku lantas kau bisa seenaknya?"
Jaehyo melepaskan cengkraman tangan Sehun dan balas menatapnya tajam.
Bugh...
Tanpa aba-aba Sehun langsung melayangkan tinjunya dan tepat mengenai wajah Jaehyo.
"Argh..."
Jaehyo tersungkur akibat pukulan dari Sehun, sudut bibirnya kembali berdarah.
"Brengsek...!"
Bugh...
Kali ini giliran Jaehyo yang memukul Sehun. Sehun yang tidak menyangka Jaehyo akan membalas pukulan nya tidak sempat menghindar.
"Lumayan juga pukulan mu" Sehun mengusap sudut bibirnya yang mengeluarkan darah segar.
"Sehun? Jaehyo? Apa yang kalian lakukan?"
Teriakan Luhan menghentikan perkelahian antara Sehun dan Jaehyo.
"Cih... Ini belum selesai, kau ingat itu" ucap Jaehyo lalu meninggalkan Sehun dan Luhan.
"Sehun? Kau tidak apa-apa? Kenapa kalian berkelahi?" tanya Luhan khawatir.
"Tidak apa-apa Lu..."
"Ish kau itu, kajja kita obati luka mu" ucap Luhan sambil memapah Sehun.
"Apa Jaehyo yang melakukannya?" tanya Luhan selama perjalanan menuju ruang kesehatan.
"Apanya?"
"Ledakan itu?"
"Entahlah, tapi hanya ia yang meminjam kunci ruang kimia hari ini" jawab Sehun.
Luhan mengobati luka pada sudut bibir Sehun. Sesekali Sehun mendesis kesakitan saat Luhan tidak sengaja menekan luka nya terlalu kencang.
"Maafkan aku, apa itu sakit?" tanya Luhan.
"Kau harus bertanggung jawab Lu, luka ku semakin sakit" ujar Sehun sambil memegangi sudut bibirnya.
"Aku kan sudah meminta maaf" Luhan mempoutkan bibirnya.
"Minta maaf saja tidak cukup Lu~"
"Aku akan mengobati luka mu itu sebagai permintaan maaf ku" sahut Luhan.
"Itu juga tidak cukup..."
Luhan mendengus kesal.
"Lalu kau ingin aku apa? Mencium mu?"
"Waow... kau ingin mencium ku? Dengan senang hati aku akan menerima nya" goda Sehun.
Wajah Luhan merona.
"Bu-bukan seperti itu..."
"Baiklah~ bagaimana kalau kita pergi membeli bubble tea sepulang sekolah?" ajak Sehun.
"Apa itu ajakan untuk kencan?" tanya Luhan.
...
"Jangan membantah ku, Tao!" seru Kris terlihat emosi.
"Aku tidak membantah mu, Kris ! kau memang pengawal ku, tapi kau tidak berhak melarang ku berteman dengan siapa pun" balas Tao tak kalah emosi.
"Dia yang menyebabkan semua kekacauan tadi !"
"Kau tidak memiliki bukti yang cukup kuat untuk Jaehyo hyung"
"Kau ingin bukti apa lagi?ini sudah cukup jadi bukti.."
Kris menunjukkan buku yang mencatat siapa saja yang meminjam kunci ruang kimia untuk hari ini.
"Hanya karena ini kalian menuduhnya yang melakukan keributan tadi? Tidak masuk akal" sahut Tao.
"Aku mohon Tao, percayalah pada kami. Kami hanya tidak ingin terjadi sesuatu pada mu" suara Kris sedikit melunak.
"Aku bisa menjaga diri ku sendiri, kau tidak perlu terlalu khawatir Kris" ucap Tao menekankan kata khawatir.
"Tentu saja aku khawatir, kau-"
"Ya ya aku tahu, aku adalah sebuah pekerjaan untuk mu. Tugas mu mengawasi ku dan tidak lebih dari itu" ujar Tao memotong perkataan Kris.
Brak...
Tao keluar dari ruangan Kris dan membanting pintunya kasar.
...
Tao menatap nomor asing yang masuk kedalam ponselnya. Ia sedikit ragu untuk menerima telepon dari nomor asing itu.
Sekarang ini Tao sedang diruang latihan Wushu seperti biasa yang ia lakukan setelah pulang sekolah. Sudah beberapa kali nomor asing itu masuk ke dalam ponsel Tao.
"Yeoboseyo..."
Akhirnya Tao memutuskan untuk mengangkat telepon dari nomer asing itu.
"Tao? Apa ini benar kau?"
Sebuah suara yeoja terdengar dari seberang line.
"Nde~ apa kau mengenalmu?"
"Ah mianhe... mungkin kau bingung, apa kau masih ingat aku? Nana?"
Rupanya Nana yang menghubungi Tao.
"Noona? Kau tahu nomor ponsel ku?"
"Maaf jika itu mengganggu mu, Tao. Sebenarnya ada yang ingin ku bicarakan dengan mu. Apa kau ada waktu?"
Tao berpikir sebentar, mungkin tidak ada salahnya meluangkan waktu sebentar.
"Apa kau bisa menjemput ku sekarang disekolah, noona?"
"Apa kau tidak ada kegiatan lain sekarang? Bagaimana dengan Kris? Kau sudah meminta ijin pada nya?"
"Kris tidak perlu tahu hal ini, aku menunggu mu didepan sekolah noona" ucap Tao.
Setelah Nana menutup teleponnya, Tao segera bergegas membereskan isi tasnya yang berhamburan diruang latihan
Tidak perlu menunggu terlalu lama, sebuah mobil silver berhenti didepan gerbang sekolah. saat kaca mobil itu terbuka, nampak seorang yeoja cantik dengan blazer hitam yang terlihat sangat cocok dengan warna kulitnya.
"Ayo masuk Tao"
Tao duduk disamping Nana.
"Apa kau sudah makan?" tanya Nana membuka percakapan.
"Ehm, belum" jawab Tao terlihat sangat gugup.
"Bagaimana kalau kita makan sebentar, oya kau sudah memberitahu Kris soal ini?"
"Terserah noona saja. Tidak, aku tidak memberitahu Kris kalau noona yang mengajak ku pergi"
15 menit kemudian, Nana membawa Tao masuk kedalam restoran yang cukup kecil namun terlihat nyaman.
"Aku biasa makan siang disini, pesanlah sesuka mu" ujar Nana memberikan menu pada Tao.
Sambil menunggu pesanan mereka datang Tao sibuk memandangi dekorasi restoran yang bariu pertama kali ia kunjungi ini. Terlihat sangat simple namun terasa sangat hangat.
"Tao? Bagaimana perasaan mu terhadap Kris?" tanya Nana langsung.
"Hmm? Maksud noona?" tanya Tao tidak mengerti.
"Perasaan mu, apa kau menyukai nya?" tanya nya lagi.
Tao teringat perkataan Kai dan Chanyeol kalau Nana sangat menyukai Kris.
"Aku tidak memiliki perasaan apa-apa terhadap Kris" jawab Tao tidak yakin.
"Apa kau tahu kalau aku menyukai Kris?"
Tao mengangguk.
"Kai dan Chanyeol hyung yang memberitahu ku"
"Sebenarnya dia cinta pertama ku, pasti terdengar sangat lucu karena kau menemukan cinta pertama mu di usia mu yang sudah tidak muda lagi"
Nana mulai menceritakan saat pertama kali ia bertemi dengan Kris.
"Waktu itu pengawal baru Tuan Kim –seorang pengusaha terkenal di korea- dan aku merupakan sekretaris pribadi Tuan Kim. Mungkin karena kami sering bertemu, itu yang menyebabkan aku jatuh cinta padanya. Aku menyukai sifat kerasnya dan usaha nya yang gigih saat berusaha menyelamatkan Tuan Kim dari kejaran pembunuh bayaran"
Pandangan Nana terlihat sangat sedih sejurus kemudian.
"Tapi saat aku menyatakan perasaan ku pada nya, ia hanya menganggap ku sebagai adik baginya. Sejak saat itu ia selalu menghindari ku. Sampai suatu hari, ia mengundurkan diri sebagai pengawal pribadi Tuan Kim dan tidak pernah terdengar kabarnya lagi. Beberapa bulan ini aku mendapat kabar bahwa ia bertugas mengawal seorang anak menteri dan itu kau, Tao"
Tao merasakan sesak di dadanya saat mendengar cerita Nana. Yeoja itu terlebih dulu bertemu dengan Kris dan sudah mencintai nya. Sedangkan ia sendiri hanya sebuah beban untuk Kris, karena Kris hanya bertugas menjaga keselamatannya saja. Tao terlalu percaya diri selama ini karena Kris selalu memperhatikannya. Bukan kah itu tugas Kris untuk selalu memperhatikan Tao? Itu merupakan bagian dari tugasnya sebagai pengawal.
Kedua nya diam saat menyantap makan siang masing-masing.
...
"Maaf kan aku Tao membawa mu pergi sampai sesore ini"ucap Nana.
"Gwenchana noona..."
Setelah berbincang cukup lama akhirnya Nana berinisiatif mengantarkan Tao pulang. Pukul 6 petang jalanan tidak seramai tadi siang. Beberapa orang mungkin sudah berada dirumah untuk berkumpul denga keluarga mereka.
Mobil mewah Nana memasuki jalanan yang cukup sepi, karena ini merupakan jalan satu-satu nya menuju rumah Tao.
Tak disangka, dua buah mobil hitam tiba-tiba saja muncul dan menghadang dari depan, untung saja Nana memiliki refleks yang cukup bagus, sebelum mobilnya menabrak ia segera menginjak rem.
Sekumpulan namja berbadan cukup besar keluar dari dua mobil itu dan segera mengepung mobil Nana. Seorang diantara mereka memecahkan kaca jendela dan berhasil membuka pintu mobil milik Nana.
"Lepaskan...!" berontak Tao saat dua orang menariknya keluar.
"Tao..! apa yang kalian lakukan, cepat lepaskan dia" teriak Nana histeris.
Tao berusaha melepaskan cengkraman tangannya dari dua orang yang berbadan lebih besar dari nya itu. Sekuat apa pun Tao berusaha melepaskan diri, semuanya sia-sia. Dua orang yang menahannya ini lebih kuat darinya.
"Jangan banyak bergerak atau ku ledakkan kepala yeoja ini" ancam seorang dari mereka.
Wajah Nana menjadi sangat pucat saat sebuah pistol menempel dikeningnya.
"Lepaskan dia, yang kalian ingin kan hanya aku" seru Tao coba membebaskan Nana.
"Tao..." rintih Nana ketakutan.
"Masukan namja itu kedalam mobil dan untuk yeoja ini, mungkin kita bisa bersenang-senang sebentar sebelum melepaskannya" ucap namja yang menodongkan pistol pada Nana.
"Brengsek kalian..! cepat lepaskan dia..!"teriak Tao.
Bugh...
"Diam...!"
Tao tersungkur saat mereka memukul wajahnya.
"Tao...?!" seru Nana panik melihat mereka memukuli Tao.
Dor...
Suara tembakan terdengar sangat jelas. Tao tidak berani membayangkan apa yang terjadi saat ini.
"Argh..."
Namja yang tadi memukulnya kini tersungkur dengan darah mengalir deras dari pelipisnya. Tao melihat dari kejauhan Kai memegang pistol dan menembaki para namja itu satu persatu.
"Berani kalian maju selangkah, mereka akan mati"
Tidak hanya Nana, kali ini pun Tao merasakan moncong pistol dipelipisnya.
"Letakkan pistol mu ditanah dan angkat tangan mu"
Kai menuruti ucapan namja yang menyekap Tao dan Nana. Ia meletakkan pistolnya dijalanan dan mengangkat kedua tangannya diatas kepala.
Bugh...
Komplotan namja itu segera meringkus Kai.
"Hanya segini sajakah kekuatan kalian?" desis Kai.
"Jangan banyak bicara brengsek..." namja yang meringkus Kai memukuli nya.
Kai menyeka sudut bibirnya.
"Lumayan juga untuk namja tak berotak seperti kalian" ucap Kai meremehkan.
Sret...
Kemeja yang Kai pakai sobek saat tiba-tiba namja didepannya coba menghunuskan pisau padanya.
"Sial, padahal ini kemeja yang Kyungsoo pilihkan untuk ku" rutuk Kai melihat kemeja nya yang robek.
"Sampai kapan kalian akan main-main seperti ini? Kemeja kesayangan ku jadi korban, kalian harus bertanggung jawab" seru Kai tiba-tiba.
Para namja itu kebingungan saat satu persatu teman mereka tiba-tiba saja tersungkur dengan darah mengalir dari tubuhnya.
"Kau terlalu banyak membuang waktu ku, Kkamjong" Sehun muncul dari sebuah gang kecil dengan pistol ditangannya.
Kini hanya tinggal 5 orang namja yang perlu mereka bereskan. Dua namja menyandera Tao dan Nana dan sisa nya melindungi teman mereka dari serangan Kai serta Sehun.
"Kapan giliran ku?" gerutu Chen yang muncul dari tempat Sehun muncul tadi.
"Tangan ku sudah sangat gatal ingin memukul seseorang" tambah Chanyeol.
"Jangan terlalu keras pada mereka, kurasa cukup Kai saja yang menyelesaikan semua ini" ucap Suho tenang.
"Lalu kita jauh-jauh kesini hanya untuk melihat Kai bermain saja, sayang sekali hyung" ujar Chanyeol terdengar kecewa.
"Sehun, Kai kalian urus dua orang itu. Sisanya kuserahkan pada Chen dan Chanyeol, terserah kalian ingin apakan mereka" perintah Kris dingin.
Mendapatkan perintah seperti itu, Chen dan Chanyeol langsung menyerang 3 namja yang berdiri tak jauh dari mereka.
Sedangkan Sehun dan Kai mengurus dua namja yang membawa Tao dan Nana sebagai sandera.
"Ja-jangan mendekat, atau anak ini ku bunuh" ucap namja yang menyandera Tao.
"Noona, kau gigit lengannya setelah itu kau lari" bisik Tao pada Nana yang keliatan ketakutan.
"Tapi..."
"Percaya padaku, setelah ini Sehun dan Kai yang akan membereskan" Tao coba meyakinkan Nana.
Nana mengangguk mengerti. Saat namja yang menyanderanya terlihat lengah karena Kai terus mendesaknya, ia segera mengigit lengan namja itu.
"Argh, brengsek.." teriak namja itu kesakitan.
Nana segera melepaskan dirinya dan berlari kearah Kai.
Dor...Dor...
Sehun dan Kai kompak menembakkan pistol mereka. Dua namja yang tersisa akhirnya jatuh tak bernyawa.
"Kau baik-baik saja Tao?" tanya Kai.
Tao memegang bekas pukulan namja tadi yang sepertinya mulai membiru.
"Aku baik-baik saja, darimana kalian tahu aku disini?"
"Sehun telah memasang alat pelacak diponsel mu, saat kau tiba-tiba menghilang Sehun segera mencari keberadaan mu" jawab Kai.
"Kris..."
Nana berlari dan memeluk namja tinggi itu, ia menangis dalam pelukan Kris. Meski pertamanya Kris terkejut dengan tindakan Nana, namun ia tetap membalas pelukan Nana dan coba menenangkan yeoja itu.
"Hiks... aku takut sekali" isaknya.
"Tenanglah, semua sudah berakhir" ujar Kris.
Tao yang melihat pemandangan itu hanya terdiam tanpa bisa berkata apa-apa. Ia tidak suka cara Kris menenangkan Nana yang sedang syok itu.
"Kalian pulanglah bersama Tao, biar aku yang mengantar Nana pulang" ujar Kris.
"Ayo Tao, kita pulang" ajak Suho.
Tao pasrah saat Suho membawanya masuk kedalam mobil dan meninggalkan Kris dan Nana disana.
"Bodoh...Kris bodoh..."
Ia berusaha menahan air matanya agar tidak turun. Tao memilih untuk memejamkan mata berharap segera sampai dirumah. Ia tidak peduli dengan luka diwajahnya saat ini.
...
Sesampainya dirumah, Tao segera masuk kedalam kamarnya. Ia mengabaikan panggilan Suho untuk mengobati luka diwajahnya. Namja panda itu bahkan mengunci kamarnya agar tidak seorang pun yang masuk.
Tok...Tok...
Tao membuka matanya dan mendapati kamarnya gelap. Rupanya ia tertidur cukup lama.
"Tao?"
Suara Kris yang memanggilnya dari luar pintu. Tao sama sekali tidak berniat untuk membuka pintu kamarnya.
"Tao...? kumohon buka pintunya, Suho bilang kau belum mengobati luka mu" ucap Kris lagi.
Tok...Tok...
"Tao, buka pintu nya atau ku dobrak" ancam Kris.
Cklek...
"Jangan ganggu aku, aku butuh istirahat" ujar Tao membuka sedikit pintu kamarnya.
"Kau harus mengobati luka mu" kata Kris dengan kotak p3k ditangannya.
"Aku bisa melakukannya sendiri, jadi bisakah kau tinggalkan aku?"
"Ada apa dengan mu? Apa terjadi sesuatu sebelum kami datang?" tanya Kris heran melihat sikap Tao yang semakin tertutup.
"Tidak ada, urus saja urusan mu sendiri" sahut Tao lalu kembali menutup pintunya.
"Bagaimana?" tanya Suho melihat Kris turun dari lantai 2.
"Dia tidak mau mengobati lukanya" jawab Kris lesu.
...
3 hari berlalu, lebam diwajah Tao pun sudah tidak terlihat lagi. Sekarang ia sudah kembali masuk sekolah setelah beberapa hari tidak masuk. Tao bersikeras membawa mobil sendiri, ia tidak mau berangkat bersama Kris seperti biasa.
"Kau sudah sembuh Tao?" tanya Baekhyun saat bertemu Tao diparkiran sekolah.
"Seperti yang kau lihat, Baek"
"Kau membawa mobil sendiri lagi? Kau tidak bersama Kris saem?"
"Aku malas membicarakannya, Baek. Jadi bisakah kita tidak membahasnya" ujar Tao malas.
Sebenarnya Baekhyun ingin sekali menanyakan apa yang terjadi pada Tao beberapa hari ini. Namun niat itu ia urungkan karena melihat wajah Tao yang lesu.
"Ayo cepat ke kelas, Kyungsoo sudah menunggu kita. Dan aku harus menyalin jawaban tugas milik Kyungsoo" ajak Baekhyun sambil menarik tangan Tao.
"Aku heran kenapa kau jadi ketua kelas" gumam Tao pasrah ditarik Baekhyun.
"Tao, kepala sekolah memanggil mu" ucap seorang teman sekelas Tao.
Tao yang sibuk mengobrol dengan Baekhyun dan Kyungsoo sedikit terkejut. Jarang sekali kepala sekolah memanggilnya.
"Kepala sekolah memanggil ku?" ulang Tao.
"Sepertinya ada tamu untuk mu diruang kepala sekolah"
Dengan rasa penasaran yang besar, Tao pergi menuju ruang kepala sekolah.
Tok...Tok...
Tao mengetuk ruang kepala sekolah pelan.
"Masuk..." suara kepala sekolah dari dalam ruangannya.
Tao terkejut melihat siapa tamu yang menunggu nya.
"Nana noona...?"
Tbc-
Ini sudah update ;A;
Jadi tolong jangan bunuh saya ;A: kesian Kyungsoo, sehun sama Tao nanti gak ada yang mandiin mereka lagi *pout*
/kretekin mata/
Ancurkah chapter ini? Semoga nggak yah ._.
Banyak yang bingung sama Jaehyo :3 Jaehyo itu sebenernya ... *sebagian teks hilang*
Big Thanks To:
fallforhaehyuk | Christal Alice | krispandataozi | AulChan12 | Maple fujoshi2309 | Brigitta Bukan Brigittiw | HyuieYunnie | AmeChan95 | fanoy5 | bellakyu | ayp | 98 | rossadilla17 | krisTaoPanda01 | FanFan Panda | BooJejung Kim | | LVenge | Xyln | junghyema | Re-Panda68 | ulfagarini | Zaireen oksismi | Guest | mirarose86 | taryelf | Juniel Is A Vampire Hybrid | | ariviavina6 | alianablack13 | Oktavian | Guest | Peach Prince | peachpetals | lanarava6223 | Fify HZT Lover | Salshabillasept |
oke jangan lupa tinggalkan jejak kalian /kisseu/ /reader muntah/
