Disclaimer : Naruto does not belong to me.

Warning : Skip the typos you'll find, AU, OOC.

Inilah Disorder Heaven, sebuah fanfic yang pernah terlantar. Semoga masih bisa diterima.

Yoo. Happy reading, Minna! :D


Disorder Heaven

Chapter 3 : Connection Failed


Pagi itu, Hinata berulang kali melihat ke arah cermin untuk memastikan bahwa gadis yang ia lihat itu adalah benar dirinya. Hinata tidak biasanya berdiri terlalu lama di depan cermin seperti ini. Namun pagi ini, ia terlihat gelisah sekaligus senang atas penampilan barunya. Nah, itu dia. Itulah alasan mengapa sampai sekarang–waktunya keluar dari kamar untuk sarapan–Hinata masih setia memandangi dirinya di depan cermin. Dirinya seperti ada di antara dua pilihan; setuju atau tidak setuju atas tatanan rambutnya kini.

"Ini gara-gara Ino sih," gumamnya sebal sambil menyentuh ujung rambutnya. Pikirannya lalu kembali pada kejadian semalam saat temannya itu berkunjung ke rumahnya untuk meminjam catatan geografi. Yah... Bukan Ino namanya jika hanya sekedar meminjam catatan, bukan? Jelas, karena gadis cantik itulah yang semalam memberikan krim rambut mahal dari Eropa untuk sahabat kesayangannya yang nampaknya tengah jatuh cinta itu.

Flashback

"Hin, kayaknya Gaara beneran suka sama kamu deh," tutur Ino sambil berbaring di atas tempat tidur sahabatnya itu.

"Masih aja dibahas... U-udah dong," jawab Hinata yang sedang mencari catatan geografinya dengan sedikit kesal.

"Iya, iya, deh. Maaf. Hehehe," ucap gadis berambut pirang itu tanpa nada menyesal. "Tapi ya, Hin. Kalau dipikir-pikir... Eh, aku cuma mau ngomong doang nih. Jangan bete dulu, oke?" lanjutnya lagi sambil memandang Hinata yang masih mencari catatan geografinya yang entah terselip di mana.

"Gaara lagi?" terka Hinata sambil menghela napas.

Ino mengangguk dengan tampang inosen. "Hu um."

"Ya udah, ngomong aja."

"Hehehe. Gitu dong," kata Ino antusias. "Selama aku kenal Gaara, dia gak pernah merhatiin cewek sampai sedetail itu, lho."

"M-merhatiin gimana? Yang s-soal potongan rambut?"

"Bukan, bukan. Ya... Itu juga bisa sih. Tapi selain itu, kamu gak liat ya pas renang tadi?"

"Liat apa?" tanya Hinata sambil memiringkan kepalanya.

Ino lalu menyeringai. "Gaara merhatiin kamu terus dari kolam sebelah, tau."

"H-hah?"

"'Hah?' apa sih, Hin? Apalagi namanya kalau bukan suka, kan?"

"Eh? A-apa sih, Ino?!" kesal Hinata dengan wajah memerah. "J-jangan asal ngomong, deh."

"Siapa yang asal ngomong? Aku beneran. Nih ya, pas di kolam renang itu, aku sempet merhatiin dia."

"Tuh kan. Berarti kamu yang suka," tukas Hinata dengan nada jengkel.

"Hahaha. Dengerin dulu, Tuan Putri," kata Ino meluruskan. "Aku gak sengaja lihat Gaara senyum pas kamu lompat ke kolam," lanjutnya lagi.

"Maksudnya?"

"Ya maksudnya, dia emang merhatiin kamu, Hinata." Kini giliran gadis beriris aquamarine itu yang terlihat jengkel.

"Itu kan g-gak berarti apa-apa," tepis Hinata.

"Kamu lupa ya? Aku kan pernah satu SMP sama Gaara bahkan pernah jadi ceweknya. Jadi sedikit banyak, aku tau–"

"Apa?! K-kamu pernah pacaran sama dia!?" sela Hinata dengan sangat terkejut.

"Err.. Iya, sih," jawab Ino sambil memutar bola matanya. "Tapi ya udah lupain aja. Sekarang, dengerin aku."

"I-Ino." Hinata masih tidak terima dengan sikap temannya itu.

"Udah please gak perlu dibahas."

"Tapi–"

"Tadi kita sampai mana?"

"Ck. Sampai kamu bilang kamu pernah jadi ceweknya," jawab Hinata ketus.

"Oh iya, hahahaha! Santai aja lah, Hin." Ino mengedipkan sebelah matanya nakal. "Ehem.. Karena aku pernah satu SMP sama dia dan pernah jadi ceweknya, jadi aku tahu lah sedikit banyak tentang mana Gaara yang serius dan mana Gaara yang main-main," jelas gadis itu panjang lebar.

Lagi-lagi, Hinata menghela napas berat. "Apaan sih, Ino," tuturnya kesal. "Duh. Kok catatannya gak ketemu, ya?" kata Hinata mulai panik, melupakan sejenak percakapannya dengan Ino.

"Tenang dulu, Hin. Ini–" Ino tiba-tiba mengubah posisinya menjadi terduduk di atas tempat tidur Hinata dan segera mengambil tasnya lalu mengeluarkan sesuatu dari dalamnya, "–buat kamu."

"H-hee?" Hinata memiringkan kepalanya saat ia melihat benda yang Ino keluarkan dari dalam tasnya tadi. "Apa ini?" tanya gadis beriris bulan itu sambil mengambil tube berwarna ungu yang Ino berikan padanya.

"Itu krim rambut, oleh-oleh mama dari Belanda," jawab Ino. "Besok setelah keramas, kamu pake itu."

"Um.. Terus?" Hinata hanya mengangguk tanpa sadar. "Eh? Apa maksudnya ini? Apa hubungannya sama catatan aku?"

"Sabar dulu deh, Hin," gertak Ino. "Ntar rambut kamu bakal kelihatan wavy dan lebih bervolume. Oh iya, aku juga beliin kamu hairpin. Besok poninya kamu jepit, ya!"

Tunggu dulu... Hairpin?

"Inooo!" teriak Hinata malu. Ia sadar akan maksud dari pembicaraan Ino sekarang. "U-udah lah. Jangan d-dibahas lagi. Gaara itu gak suka sama aku."

"Nah, itu sebabnya aku kasih krim ini. Kita lihat reaksi Gaara besok. Kalau dia gak suka sama kamu, pasti dia gak akan nyadar perubahan kamu," jelas Ino sambil tersenyum jahil.

"Duh, g-gak ada kerjaan banget sih," keluh Hinata.

"Jangan gitu dong, Hin. Sekali ini aja, ya? Please," mohon Ino dengan mata berkaca-kaca.

"Enggak, g-gak mau."

"Kalo gak dicoba, kita gak akan pernah tahu Gaara itu suka sama kamu atau enggak."

"Mau s-suka atau enggak, i-itu kan bukan urusan aku," sangkal gadis manis itu sambil mengerutkan kedua alisnya.

"Beneran? Masa sih? Kalo gitu... Ini artinya apa ya, Hin?" tanya Ino sambil memperlihatkan catatan geografi Hinata yang ia ambil dari dalam tasnya.

"Itu ca-catatan aku..."

"Iya." Gadis berambut pirang itu mengangguk. "Ini catatan kamu, kok. Hihihi." Ia lalu membuka halaman terakhir catatan tersebut dan memperlihatkan sebuah sketsa seorang siswa laki-laki dengan lingkaran hitam yang kentara di sekeliling matanya.

"I-Ino..." Wajah Hinata memanas.

Dan lagi-lagi, Ino menyeringai puas. "Jelasin ini dong, Hin."

"D-dari... D-dari ma-mana?" Hinata bahkan tak lagi bisa berkata-kata karena telah tertangkap basah–dengan tidak elegannya–menyembunyikan rasa tertariknya pada si laki-laki Sabaku itu.

"Hm?" Ino melihat Hinata sambil menaikkan sebelah alisnya. "Jadi, Hinata?"

"I-itu... Aku..."

"Besok kamu pake krimnya atau..." Ino menyeringai semakin lebar. "Aku bakal ngasih tahu Gaara."

Lalu yang terdengar berikutnya hanyalah suara tawa penuh kemenangan dari si gadis cantik keturunan Eropa itu. Dan Hinata, ia harus mengikuti permainan sahabatnya yang paling baik itu dengan sangat terpaksa.

"A-aku salah apa..." gumam gadis beriris bulan itu, pasrah.

End of flashback

.

o(^_^)o

.

Hinata melangkahkan kakinya dengan santai menuju kelasnya di pagi itu. Ia tidak datang terlalu pagi, juga tidak datang terlalu siang sehingga Hinata tidak perlu terburu-buru untuk sampai di kelas. Seiring ia berlajan, puluhan pasang mata tertuju pada gadis Hyuuga yang terlihat berbeda hari ini. Bagaimana tidak? Hinata yang penampilan sehari-harinya bisa dibilang 'cupu' itu kini terlihat layaknya seorang model iklan shampoo. Poni tebalnya kini tak lagi menutupi setengah wajahnya, memperlihatkan garis sempurna alisnya yang terbentuk secara alami. Jepit rambut yang ia sematkan untuk merapikan poninya nampak jauh lebih berguna dari yang dibayangkan sebelumnya karena wajah Hinata kini terlihat benar-benar cerah, ditambah lagi dengan helaian indigonya yang terlihat bergelombang rapi, tebal, dan berkilau.

Siapa yang tak akan berpikir bahwa Hinata sebenarnya adalah model iklan shampoo yang selama ini mereka lihat di televisi, bukan?

Dan ketika semilir angin yang secara dramatis bertiup ke arahnya, ada wangi bunga yang segera menyebar saat helaian rambutnya beterbangan dengan indah.

'Apa yang salah? Apa yang salah? Mengapa semua orang memperhatikanku?' batin polos Hinata berteriak. Ia lalu segera menundukkan kepalanya dan mengambil langkah cepat agar dapat segera tiba di kelas. Namun belum sampai langkahnya yang kelima–naas–ia sudah menabrak punggung seseorang dan membuatnya mundur satu langkah. "Ungh!"

Untung saja kecelakaan kecil itu tidak sampai membuat ia terjatuh.

Sambil memegang dahinya, gadis itu lalu mengangkat wajahnya untuk meminta maaf kepada orang yang sudah ia tabrak barusan. "G-Gomenna..."

"Hinata?

"...sai." Mata Hinata membulat lebar, melihat siapa lelaki yang kini sudah menghadap ke arahnya itu. "G-Gaara?"

Dan lagi-lagi, angin sepoi yang menerpa wajah Hinata menambah unsur dramatis kala keduanya saling bertatapan. Hinata sekarang bak seorang putri dari istana dengan rambut indahnya yang tertiup angin seperti itu. Gaara mengerjapkan matanya dua kali sebelum ia tersadar dan kembali pada sikapnya yang terkesan tak peduli. Ia lalu menyeringai dan berkata, "Sudah punya uang untuk membeli hairpin, eh?"

Hinata hanya melongo untuk beberapa saat sebelum akhirnya berhasil meneluarkan suaranya. "A-apa?" Ia nampak bingung dengan pernyataan Gaara barusan.

"Pfft." Lelaki tinggi itu hanya menepuk kepala Hinata pelan lalu akhirnya berbalik dan berjalan menjauh, meninggalkan seribu pertanyaan yang tiba-tiba bersarang di dalam kepala gadis itu.

"A-apa itu t-tadi..." bisiknya pelan tanpa sadar saat melihat punngung lelaki itu hilang di balik pintu masuk kelas di ujung koridor.

Setelah Hinata tersadar dari kebingungannya, ia lalu menyadari satu hal. Satu hal yang membuat wajahnya mendadak menjadi muram. Hal kecil dan mungkin sangat remeh, yang membuat perasaannya tiba-tiba jadi sesak tak karuan. Hinata tak tahu kenapa ia jadi merasa sedih seperti ini ketika Gaara tidak memberikan perhatian lebih atas penampilan barunya itu. Ia juga tidak tahu kenapa tadi ia sempat berharap Gaara akan memujinya atau mungkin melakukan hal-hal lain yang Hinata harapkan sebelumnya.

Namun kenyataannya... Kenyataannya Gaara hanya bersikap seperti biasa, seakan Hinata adalah Hinata yang hanya menjepit poninya dengan sebuah hairpin. Seakan Hinata masihlah Hinata biasa yang ia temui di kelas setiap hari. Hinata yang tidak spesial. Hinata yang tidak istimewa. Dan kenyataan itu membuat Hinata merasa ... kecewa.

Kecewa? Ya, Hinata sendiri pun bingung mengapa dirinya bisa menjadi sangat kecewa seperti ini.

Memangnya kenapa kalau Gaara tidak memujinya? Toh Gaara pun bukan siapa-siapanya, bukan?

Entah, Hinata sendiri pun tak tahu. Yang ia tahu, semangatnya untuk bersekolah pagi ini sudah menurun dengan sangat drastis.

Mungkin ia akan ke ruang kesehatan saja? Ide yang buruk, memang. Tapi mau bagaimana lagi? Salahkan Hinata yang pagi-pagi sudah galau.

'Kita lihat reaksi Gaara besok. Kalau dia gak suka sama kamu, pasti dia gak akan nyadar perubahan kamu.' Hinata lalu teringat akan apa yang Ino katakan semalam. Ah, Hinata makin galau.

.

o(^_^)o

.

Sabaku Gaara, tidak biasanya ia tersenyum senang tanpa alasan seperti sekarang. Lagi pula tidak ada orang yang sedang berbicara dengannya atau pun menyapanya. Jadi, mengapa ia bisa tersenyum sendiri seperti itu? Fenomena ini membuat Sasuke yang sedang duduk di depannya mengertutkan alisnya sekilas, bertanya-tanya gerangan apakah yang membuat sahabatnya terlihat seperti orang gila itu.

"Kenapa kamu?" Akhirnya Sasuke mencoba untuk bertanya langsung pada Gaara. Lelaki dengan berwajah stoic itu lalu menempatkan sikunya di atas meja Gaara agar leluasa untuk berbicara dengannya.

"..." Tak ada jawaban yang keluar, yang ada hanyalah Gaara yang masih menampakkan senyumannya yang aneh itu.

"Tch. Gaara," panggil Sasuke lagi. Sepertinya ia mulai kesal dengan temannya itu. Untung saja ia belum sempat berspekulasi kalau-kalau temannya itu mengidap kelainan jiwa mendadak.

"Sas... Dia ternyata ngikutin apa yang kemarin aku saranin," tutur Gaara sambil menatap mata temannya itu. Lelaki beriris jade itu lalu tertawa kecil sambil menggelengkan kepalanya.

Sasuke masih belum mengerti, apanya yang lucu? Ia lalu menaikkan sebelah alisnya. "Maksudnya?"

"Lihat aja nanti deh," jawab Gaara sambil menyeringai.

"Ck, aneh." Sasuke yang merasa tak mendapat jawaban apa pun dari Gaara lalu segera berbalik dan kembali duduk dengan baik. Ia tidak akan lagi peduli, mau Gaara menjadi gila atau apa lah yang akan terjadi padanya.

Gaara lalu mengubah posisinya menjadi bertopang dagu sambil melihat ke luar jendela. Melihat langit pagi yang berwarna biru cerah. Dan dalam fantasinya, ia melihat wajah Hinata lengkap dengan penampilan barunya yang tergambar di atas langit, sedang tersenyum ke arahnya.

"Tadi rambutnya wangi banget," gumamnya pelan, namun masih bisa tertangkap oleh telinga Sasuke yang ada di depannya, membuat lelaki raven itu memutar bola matanya malas. Satu kesimpulan, temannya yang sedang ada dalam masa puber itu tengah jatuh cinta.

Dasar, merepotkan.

To be Continued

.

.

AN

Maaf. TwT Tolong maafkan aku karena sudah menelantarkan fic ini selama hampir dua tahun. Aku bener2 kehilangan alur sedangkan ide yang aku dapet malah berbeda dari cerita Disorder Heaven sehingga harus aku tuangkan ke dalam fanfic yang berbeda. Maaf... Sekali lagi, maaf. Aku cuma bisa ngasih ini di chapter tiga. Semoga tidak mengecewakan ya, Minna-san... :')

Terima kasih untuk kalian yang sudah memberi review, terima kasih untuk kalian yang sudah fav/follow cerita ini, terima kasih untuk semua silent reader. Terima kasih. Hontou ni arigatou!

Mungkin aku egois banget setelah lama menunda fanfic ini, aku malah minta review lagi dari kalian. Tapi aku harap reader-tachi masih berkenan untuk me-review. :')

Terima kasih semuanya...

Regards,

aurecchi