Contract with the Devil's Son
Chapter 30:
Screenplay's fanfiction
Kim Kibum
Cho Kyuhyun
Kim Heechul
Choi Siwon
Dll
Hi, balik lagi. Yang kali ini enggak seminggu kan. Ok, terima kasih banyak untuk kalian semua.
Di chap kemarin ada yang nggak paham, siapa Changmin itu? Calon istrinya Yunho atau temannya Kyuhyun? Coba dibaca chap yang dulu-dulu lagi.
Yang minta alamat sosmed, ntar aja kalau gue eksis lagi di sosmed. Buka fb aja g pasti sebulan sekali, jadi g yakin bisa kalau mau kasih ke kalian.
Dan tadi yang minta Kyuhyun pake sweeter, gue nggak bisa jabarin ulang, tapi ini permintaan lo.
Semoga gue gak salah rating, selamat membaca!
Failed
Teeeet Teeeet!
Changmin baru bangun tidur, baru keluar kamar juga saat bel depan berbunyi. Ada tamu pagi-pagi begini. Changmin melihat ke sekitar, rumahnya Yoochun amat besar tapi tak ada jam dinding sama sekali. Menurut Changmin ini masih sangat pagi, sekitarnya saja masih sedikit gelap. Atau mungkin karena matanya masih terbuka separuh, semua yang dilihatnya jadi gelap.
"Ahjummaaaaa!", teriaknya.
"Yaaaaa!", sahut ahjumma dengan teriakan pula.
"Ada tamuuuuuu!", tambah Changmin kembali berteriak.
"Aku sibukkkkkk!", balas ahjumma.
"Tamunya menungguuuuu!", lanjut Changmin.
"Aku akan memasak, Changggggg!"
Eh, pagi-pagi yang biasanya damai di rumah Yoochun jadi berisik. Mulai kemarin siang, saat Yoochun membawa Changmin pulang bersamanya. Ahjumma jadi merasa punya teman berheboh ria. Pembantunya Yoochun itu orangnya heboh, tapi karena cuma dia seorang yang bekerja di rumah ini, kehebohannya tak pernah tersalurkan. Yoochun jarang sekali ada di rumah. Pergi pagi dan selalu pulang malam, kadang tengah malam, kadang pagi bahkan sering tak pulang. Yang datang dan menginap di rumah Yoochun itu banyak, silih berganti. Mengingat Yoochun orangnya loyal dan baik, banyak orang ingin ditolongnya. Tapi entah model pertolongan apa yang dinginkan mereka, karena yang datang wanita-wanita cantik dan kadang-kadang namja-namja lucu macam Changmin. Tapi mereka cuma datang sekali dan tak pernah datang lagi, ini kali ke dua Changmin datang ke sini jadi boleh dibilang ahjumma dapat teman di rumah.
"Bukakan pintunyaaaaa!", perintah ahjumma yang berteriak dari dapur.
Changmin berjalan sempoyongan, berdecak berkali kali dan mengerutu. Ahjumma itu pembantu, Changmin tamu. Apa ahjumma tak pernah dapat pelajaran, kalau tamu adalah raja? Seenaknya memerintah, tapi dia bergerak juga. Dia lebih takut kalau ahjumma tak jadi memasak dan membiarkannya kelaparan. Kan Yoochun tak ada di rumah hari ini, bisa jadi ahjumma akan semena-mena padanya.
"Pagi!", sapa si tamu tampan saat Changmin sudah membuka pintu.
Tadinya Changmin sudah melebarkan matanya, melebarkan bibirnya juga. Dia ingin teriak, melonjak-lonjak lalu memeluk si tamu tampan. Changmin rindu sekali dengannya, sudah beberapa hari tak bertemu jadi seperti itu bahagianya bertemu kembali. Tapi dia urungkan niatannya. Changmin ingat saat dia diusir. Kalau di rumahnya saja dia tak dinginkan, berarti di hatinya juga.
"Ahjussi, kenapa pagi-pagi datang ke sini?", tanyanya mengalihkan topik kegembiraan barusan. "Chunnie baby tidak ada. Dia pulang nanti malam", tambahnya.
Semalam saat makan Yoochun mengatakan akan keluar kota pagi-pagi besok dan akan pulang malam. Tadi pagipun Changmin rasa Yoochun juga berpamitan padanya, sepertinya dia juga mengiyakan. Tapi tak jelas, berasa Yoochun berpamitan dalam mimpi, pasalnya saat itu Changmin sedang tidur.
"Aku mencarimu!", kata Yunho sambil memaksa tersenyum.
Yunho sebenarnya sangat bahagia, tapi dia dan Kibum punya kesamaan. Mereka sama-sama susah menarik sudut bibir mereka keatas. Seakan senyum mereka berharga jutaan dolar yang hanya akan ditampakkan pada relasi bisnis. Tapi tidak demikian di hadapan Changmin, dia tulus ingin tersenyum, mungkin karena jarang tersenyum saja jadi senyumnya terkesan kaku.
"Ayo pulang!", Yunho kemudian mendesis sendiri setelah mengatakannya. Dia ingin mengajak Changmin kembali ke rumahnya, tapi ajakannya tadi pasti di tolak. Dia sudah tega mengusirnya, dan sekarang memintanya kembali, dia sendiri yakin akan ditolak.
"Aku tinggal disini saja!", kata Changmin lesu. Sebenarnya dia juga ingin kembali pada Yunho, tapi, tapi kan dia sudah diusir.
Masih yang semalam Yoochun menemaninya saat mau tidur. Changmin cerita soal rasa rindunya pada Yunho. Sumpah demi apapun dia rindu Yunho, tapi dia diusir. Selalu seperti itu kata-kata Changmin ke Yoochun, tapi Yoochun cuma menanggapinya dengan tertawaan. Sampai pada saat Changmin mengusir Yoochun keluar karena tak tahan ditertawakan, Yoochun baru berhenti tertawa. Yoochun bilang Yunho juga merindukan Changmin. Kemudian dia berjanji membantunya lagi bertemu Yunho secepatnya. Dan sekarang Yunho memang berdiri di depannya, tapi ini terlalu cepat. Terlalu pagi juga. Changmin belum mandi, belum sarapan, masih bau berbanding terbalik dengan Yunho yang sudah tampan. Nanti kalau dia ikut Yunho pulang, kalau dilihat orang tak pantas, lalu dibilang tak cocok. Changmin harus jadi tampan dulu baru mau ikut pulang dengan Yunho.
"Kau sudah mengusirku!"
"Tidak jadi", sahut Yunho cepat. "Eh, maksudku. Aku tidak benar-benar mengusirmu. Ayo kita pulang saja!"
"Kau sudah mengusirku!", ulangnya.
"Ya memang, tapi sekarang sudah ku cabut kata-kata itu. Kau boleh tinggal lagi di rumahku. Ayo kita pulang!"
"Kau sudah mengusirku!"
Yunho bingung harus bicara apalagi. Dia bukan orang romantis, dia bukan tipe perayu. Dia orang kaku ke dua setelah Kibum di kelopok mereka. Yunho cuma ingin minta maaf, lalu mengajak Changmin kembali tinggal bersamanya, itu saja, tapi dia tak tahu harus berbicara mulai dari mana.
"Changmin, waktu itu aku khilaf. Sekarang sudah sadar!", Yunho jadi konyol kalau menyangkut cinta. "Pokoknya itu. Ayo pulang!", paksanya lagi setelah kesulitan merangkai kata-kata.
"Kau sudah mengusirku!', ulang Changmin sekali lagi.
"Baiklah!", Yunho menimang sejenak "Aku minta maaf soal waktu itu!", katanya kemudian. Tidak ada jalan lain selain meminta maaf. Seperti saran Yoochun kemarin saat memberitahunya soal Changmin tinggal di rumahnya. "Aku cuma terkejut saat tahu kau berbohong soal orang tuamu, pekerjaanmu dan identitasmu. Aku tidak benar-benar ingin mengusirmu"
Changmin tersenyum dibenaknya saja. Berarti benar kata Yoochun kalau Yunho juga merindukannya. Kalau sudah begini apa boleh Changmin langsung pulang dengan Yunho?
"Ayo pulang, aku ingin dengar penjelasanmu dirumah!"
Yoochun menuturkan agar Changmin minta maaf juga pada Yunho karena telah berbohong padanya. Demi ingin bersama Yunho Changmin mengarang cerita soal keluarganya, pekerjaannya dan identitasnya. Orangtuanya masih lengkap, ada nenek dan kakeknya juga. Dia anak tunggal yang jelas hidupnya terjamin. Changmin juga menjadi lulusan terbaik di universitasnya, tapi lulusan terbaik bukan berarti dia harus kerja kantoran. Changmin kerja di mini market-nya Hyemi, Nonna-nya Kyuhyun. Walaupun Hyemi itu cerewet dan perhitungan, tapi dia sayang pada Changmin dan Kyuhyun.
Changmin menggeleng. Dia sudah putuskan tak akan ikut pulang kalau belum tampan juga.
"Aku kan sudah minta maaf. Kau tak memaafkanku?"
"Sudah", kata Changmin cepat. Dia memang tak pernah menganggap Yunho salah. "Ahjussi, aku belum mandi"
"Kau mandi sekarang, aku akan menunggumu", kata Yunho senang karena Changmin sudah luluh padanya
"Aku tak punya baju. Semua orang datang kemari dan pulangnya selalu bawa bajunya Chunnie baby. Kasihan Chunnie baby kalau bajunya habis"
"Nanti ku tukar bajunya Yoochun. Kita belanja baju yang banyak untukmu", katanya lagi. Pokoknya dia tak boleh gagal membawa Changmin kembali. Lagi pula dia juga tak sudi melihat Changmin memakai bajunya Yoochun terus.
"Aku belum makan"
"Kita makan di luar"
Yunho ingat waktu Changmin menyeretnya ke kedai makanan tempo hari. Ah, itu memalukan sekali. Changmin menghabiskan 3 piring makanan. Waktu itu Changmin bilang ingin mencicipi makanan lain lain. Yang namanya mencicipi harusnya sedikit, tapi habis sepiring. Yunho-pun sampai tak berselera makan lagi. Itu kan tempo hari, sekarang kalau Changmin mau makan satu kedai, Yunho pasti akan menurutinya.
"Besok saja kalau Chunnie baby sudah pulang", kata Changmin setelah berpikir dan menimbang-nimbang sejenak.
"Yah, jangan begitu. Pulang sekarang saja!"
"Kau kan mau pergi kerja. Kalau aku ikut pulang sekarang, aki di rumah dengan pembantumu juga. Sama dengan disini"
"Kalau kau ikut pulang, aku tak jadi kerja"
"Tidak boleh begitu. Kalau kau tak kerja, bisnismu macet, tak punya uang, dengan apa kau memberiku makan?" Yunho orang kaya, dia seorang bos, setahun tak kerjapun masih mampu membeli segudang makanan berserta pabriknya sekalian. "Kau pergi kerja saja!"
"Changmin..."
"Kembali lagi besok!", katanya disambung masuk rumah dan menutup pintu.
Cuma begiti saja? Padahal tadi sudah berhasil membujuk, tapi Chanhmin belum mau ikut. Sekarang Yunho ditinggalkan di depan pintu.
"Min, Changmin!", panggil Yunho sambil mengetok ngetok pintu. "Changmin, buka pintu dulu!" Yunho memencet bel lagi, mengetok pintu juga, tapi Changmin tidak muncul. Hampir Yunho beralih ke pintu belakang, sebelum Changmin membuka pintunya lagi. "Kau janji ikut pulang besok, kan?"
"Kalau Chunnie baby mengijinkan". Yoochun sudah pasti mengijinkan, dia kan teman Yunho. "Sana perhi kerja!"
"Aku akan pergi, tapi boleh aku memelukmu dulu". Ini seperti yang dikatakan Yoochun dulu. Changmin harus bisa menahan diri sedikit. Tadi hampir saja dia memeluk Yunho sambil lonjak-lonjak, untung tidak jadi.
"Aku belum mandi"
"Tidak apa-apa"
"Aku bau"
"Tidak apa-apa"
"Aku belum makan", tak ada hubungannya, tapi Yunho segera menarik Changmin kepelukannya. Dia juga ingin meninggalkan kecupan sibgkat, tapi belum berani. Sebentar kemudian Yunho melepaskan Changmin dan mendapati Changmin manyun.
"Jangan cemberut begitu. Aku kan cuma memeluk sebentar", justru karena sebentar itulah masalahnya Changmin jadi cemberut. Dia mau dipeluk lama sekali, Changmin masih rindu Yunho.
"Kau akan pesan makanan untukku kan?" Yunho hanya mengangguk. Semua kemauan Changmin harus diiyai biar dia benar-benar mau ikut pulang besok. "Untuk ahjumma juga?", Yunho mengangguk lagi. "Sekarang kau boleh pergi, tapi makanannya cepat dikirim. Nanti aku mati kelaparan"
"Pasti!"
Changmin menutup pintunya lagi bahkan sebelum Yunho pamit. Namja tampan itupun berlalu dengan berat hati. Dia ingat besok Changmin akan dibawanya pulang. Dan Changmin sendiri sedang senyum dibalik pintu.
"Yunho ahjussi. Yunho ahjussi", katanya sambil membayangkan besok akan bisa kembali menepati rumah Yunho. "Ahjummaaaaa!"
"Yaaaaa"
"Kau sudah memasaakkkk?", tanya Changmin sambil teriak
"Segeraaaa!", sahut ahjumma dari dapur
"Jangan masaakkk. Yunho ahjussi mau belikan kita makanannn!"
julie khoyul
Dua jam Kibum menunggu di ruang tamu, tapi Kyuhyun tak segera keluar kamar. Tadi pagi-pagi sekali Kyuhyun membangunkan Kibum, dia minta beli handphone-nya hari ini saja. Biar nanti saat berangkat ke Singapura, dia sudah bisa menghubungi teman-temannya. Kibum tak merespon banyak, setelah berdehem mengiyakan manusia es itu kembali tidur dan jadi teriakan Kyuhyun di pagi hari. Kyuhyun mengomel sedari pagi, sampai Kibum sakit kepala. Sekarang giliran Kibum benar-benar siap berangkat beli Hp, Kyuhyun yang melambat.
"Kibummmmmmm!"
Kibum mengindahkan teriakan itu, dia membuka buku dilembar berikutnya dan membacanya senyaman mungkin. Ahjumma yang sedang bekerja dekat situ, berhenti sejenak saat melihat Kyuhyun dengan bathrobe biru Kibum datang tergopoh sambil memasang muka sebal. Ahjumma melirik Kibum, didapati tuannya itu tak merespon sama sekali. Akan ada teriakan lagi setelah ini, pikir ahjumma sambil kembali bekerja.
"KIBUM!"
"Hn", jawab Kibum sambil menurunkan bukunya.
"Lepas sweeternya!"
Setelah mandi, Kyuhyun mau memakai sweeter kesayangannya. Karena mulai sweeter itu dipakainya, sejak itu jadi kesayangannya juga. Dua jam mencari tak ketemu, ternyata dipakai Kibum.
"Lepas sweeternya!", perintahnya sambil ngotot. "Lepas!"
"Ini sweeterku", jawab Kibum santai.
"Sudah jadi milikku", teriak Kyuhyun. "Lepas!", perintahnya lagi
"Banyak sweeter di lemari. Pakai yang lain sana!"
"Aku mau yang itu!", teriaknya lagi sambil menendang meja. Eh, kaki Kyuhyun sakit, tapi ditahan. Harusnya tadi dia menendang sofa, kan empuk. Kalau meja kan keras. "Lepasssss!"
Kibum mengangkat bukunya lagi, membiarkan Kyuhyun berdiri mematung di depannya. Kyuhyun memang tak pernah bisa berubah manis. Dicintai Kibum, bukan membuat Kyuhyun jadi baik dengan manusia es itu, tapi manjannya makin menjadi. Semena mena, minta apapun tak tahu waktu dan tak bisa ditolak. Yang paling Kibum tidak suka kalau Kyuhyun sudah melempar dan merusak barang-barangnya, tidak tahu benda penting, main lempar saja.
Kyuhyun diacuhkan berarti Kibum menantangnya. Iblis itu merebut buku Kibum melemparnya seperti dugaan Kibum tadi. Dia melonpat ke sofa yang diduduki Kibum. Kyuhyun akan berperang, merebut sweeter yang dipakai Kibum sekarang. Kyuhyun menubrukkan tubuhnya ke Kibum sampai keduanya begelimpung ke sofa. Kemudian Kyuhyun berusaha menarik keluar sweeter dari badan Kibum.
"Lepas, Kibum!", teriknya tepat di muka Kibum.
"Menyingkir!"
"Tidak mau. Lepas dulu sweeternya!"
"Kyu, menyingkir!"
"Tidak mau. Tidak mau. Tidak mau"
"Menyingkir!"
"Aku mau sweeternya!"
"Menyingkir dulu!"
"Lepas sekarang!"
"IYA, IYA, AKU LEPAS!" Kyuhyun berhenti bergerak saat ini. Kibum berteriak pertanda tak baik kalau terus memaksa. Kyuhyun selalu takut kalau Kibum sudah marah. Dia lebih takut lagi seperti saat ditampar itu. Dia perlu diam sekarang. "Akan ku lepas!", kata Kibum menormalkan nada bicaranya.
Kibum meraih tubuh Kyuhyun. Dia menjatuhkan Kyuhyun ke dadanya. Berbaring sama-sama di sofa, memeluk Kyuhyun dan mengelus punggung iblisnya itu. Kibum tahu, kalau Kyuhyun diam begitu pasti antara merajuk dan ketakutan. Sekarang jelas Kyuhyun takut padanya, barusan Kibum membentaknya. Tapi walau semanja apapun Kyuhyun, Kibum tak akan tega melukainya. Sejujurnya dia sendiri juga takut ditinggalkan iblis itu lagi, jadi tak akan mungkin dia menyakitinya.
"Kibum!", panggil Kyuhyun kembali ke percakapan normal mereka.
"Hn"
"Lepas sweeternya!", pintanya tukar haluan. Kalau Kibum tak mempan diteriaki, mungkin mempan kalau Kyuhyun mintanya secara halus.
"Setelah ini", jawab Kibum sambil menepuk-nepuk pelan punggung Kyuhyun. "Besok di Singapura aku akan sedikit sibuk. Kita kesana untuk berbisnis, bukan liburan. Jadi jangan mengeluh kalau kau tak bisa jalan-jalan"
"Yang penting aku ikut dengamu"
Kibum mengecup kepala Kyuhyun. Dia puas dengan jawaban Kyuhyun barusan. Kibum akan berbisnis dua hari di Singapura, mencari relasi kerja dan membuat hubungan sebanyak-banyaknya dengan pembisnis-pembisnis lain. Asalakan Kyuhyun tidak mengacau harinya Kibum, besok semua akan lancar.
Manusia es itu menarik iblisnya keatas. Membawa Kyuhyun menumpang di tubuhnya dan menyejajarkan muka mereka. Kibum mengamati wajah Kyuhyun. Baginya semua yang ada pada iblis ini biasa saja. Tidak tampan, tidak manis, tidak keren sama sekali bahkan kalau itu orang lain, melihatpun Kibum tak mau. Tapi kenapa dari wajah yang biasa itu, kalau sehari tak dijumpainnya rindu sekali rasanya. Apa lagi kalau berbicara soal ciuman, Kibum jadi merindukan ciuman. Terakhir kali dia menciun Kyuhyun, di luar kegiatan badan, kapan ya? Kibum bukan rindu bibirnya, tapi rindu rasanya.
Tangan Kibum merambat ke tengkuk Kyuhyun, menekan di bagian situ membawa wajah Kyuhyun lebih mendekat lagi padanya. Kibum meraih bibir Kyuhyun dengan bibirnya sendiri. Menempel sebentar kemudian melepaskannya. Iya, rasa seperti inilah yang dirindukan Kibum. Dingin, tapi halus, lembut dan manis seperti es krim. Kibum kembali menekan tengkuk Kyuhyun untuk menempelkan bibir-bibir mereka. Semakin dekat keduanya hingga nafas satu sama lain terdengar lebih jelas, menerpa wajah mereka, membelai kulit muka sampai pori-porinya mengembang.
Kyuhyun mengerang pelan saat permukaan bibirnya menempel di milik Kibum. Padanya bukan hanya pori-pori wajahnya yang menggembang, tapi seluruh tubuh. Merinding, mendingin, meremang dan kemudiam melemas. Seiring pergesekan dua bibir itu, diikuti lemasnya tubuh Kyuhyun, ada bagian menjengkelkan yang tak seirama. Bagian bawah sana mulai mengeras, menjengkelkan bukan? Berarti Kyuhyun butuh menyiapkan banyak dokumen untuk ditanda tangani Kibum. Tanda tangan kontrak yang lain lagi. Tapi baru dua hari yang lalu dia dapat tanda tangan, apa bisa ya?
Kibum mulai melebarkan mulutnya, meraup semua bibir Kyuhyun. Mengantongi permukaan bibir iblis itu di mulutnya, lalu dia mulai bergerak. Merasa nyawan dengan adu meraup bibir, kemudian Kibum menggesek lidah dan mengigit gigit kecil. Manusia es itu menghisap sudut sudut bibir Kyuhyun, mengenyahkan liur berlebih yang jatuh lewat situ. Ini enak, dan kemudian Kibum terbawa kembali ke ciuman sebelumnya. Ciuman basah mereka yang menimbulkan bunyi-bunyi becek dari tamparan-tamparan lidah mereka.
PRAK!
Kyuhyun menarik dirinya secepat mungkin. Dia kaget mendengar bunyi barusan. Dari mana asalnya?
"Hehehehe, maaf. Tidak sengaja!", kata ahjumma mengaku. Yeoja paruh baya itu buru-buru mengambil miniatur mobil yang tadi jatuh dan meletakkannya kembali ke meja. Ahjumma tidak sengaja. Mungkin karena sudah tua, tangannya gemetaran saat mengelap benda-benda kecil lalu jatuh. Atau gemetaran melihat kedua tuannya sedamg bercumbu di ruang tamu.
Kibum melirik ahjumma di kejauhan. Hah, begini kalau apa-apa dilakukan di rumah, pembantunya berperan ganda jadi pembantu sekaligus centengnya iblis. Mau bermesraan saja, selalu terganggu. Baru juga mulai, Kibum merasa panas saja belum sudah harus berhenti. Padahal kalau bisa lebih lama sedikit, Kyuhyun tak akan menolak dipindahkan ke kamar. Sekarang, Kibum sudah tidak yakin.
"Ahjumaa, kembali kedapur!', perintah Kibum yang membuat ahjumma buru-buru pergi ke dapur.
julie khoyul
Teeet Teeet
"Changmin, bukakan pintunyaaaa!", teriak ahjumma entah dari arah mana.
Changmin membanting remot TV ke sofa sebelahnya. Menggerutu lagi, kemudian bangkit ke arah pintu. Ahjumma benar-benar semena-mena dengan Changmin. Padahal tadi Changmin sudah bilang, kalau dia tamu, berarti dia raja. Mana ada pembantu memperlakukan raja semena-mena begini? Raja disuruh buka pintu?
"Ya, cari siapa?", tanya Changmin dengan tidak sopan. "Eh, Noona. Sedang apa kau disini?", tanyanya merubah ekspresi.
"Begini kau menyambut Noona-mu?"
"Aku tidak tahu kalau kau yang datang. Untuk apa kemari?"
"Tentu saja menjengukmu. Sebagai kakak yang baik, aku punya tanggung jawab mengetahui keadaanmu disini!", bentaknya kasar. "Kau sudah makan?", Changmin menggeleng. Hyemi menyerahkan beberapa kantung makanan ke Changmin. "Ku bela belakan membeli makanan untukmu, agar kau tahu aku ini menyayangimu"
"Tumben?"
"Apa kau bilang? Tumben? Memangnya siapa yang menghidupimu kalau kau tinggal di rumahku?"
"Noona jangan teriak-teriak begitu!". Eh, iya. Karena kebiasaan meneriaki Kyuhyun dan Changmin, dia jadi lupa tempat. Ini kan rumahnya Yoochun. Kalau namja itu dengar, aduh reputasinya sebagai gadis baik hati akan luntur.
"Ngomong-ngomong Yoochun di rumah atau sedang kerja?"
"Kerja"
"Kapan dia pulang?", tanyanya antusias.
"Nanti malam"
"O", Hyemi mengangguk-angguk. Jadi tak ada gunanya dia datang kali ini. "Baiklah, nanti malam aku akan kesini lagi"
"Jadi kau kesini mau menemuiku atau Chunnie baby?" Hyemi datang untuk menemui Changmin tentunya, tapi kalau ketemu dengan Yoochun kan lumayan. "Jangan kesini nanti malam. Aku tak mau kau temui. Chunnie baby juga pulang malam sekali, dia pasti lelah. Tak ada waktu untuk menemuimu"
"Kau punya uang?", Hyemi tahu kelemahan Kyuhyun dan Changmin. Dia ini Noona mereka, jelas tahu bagaimana membujuk dua mahkluk hiperaktif itu. "Uang jajan?" Changmin menggeleng kemudian manyun. Hyemi membuka dompetnya, mengeluarkan beberapa lembar dan diberikan juga pada Changmin. "Aku akan datang nanti malam!"
"Noona, tidak bisa nanti malam. Chunnie baby akan pulang telat. Besok saja"
"Begitu ya? Baiklah, aku pulang!", kata Hyemi "Eh, kau tinggal disini yang lama ya. Tiap pagi dan petang akan kubawakan makanan untukmu. Kuberi uang jajan juga"
"Disini ada ahjumma yang bisa memasak"
"Suruh dia istirahat memasak beberapa hari. Aku akan pergi, sana masuk!"
"Berbuat baik ada maunya", gerutu Changmin sambil melangkah masuk rumah.
"Jangan menggerutu, cepat masuk!". Changmin lalu buru-buru melangkah.
Teeet Teeet!
"Changmin, bukakan pintunyaaaaa!"
Ini ketiga kalinya ahjumma memerintah Changmin. Changmin baru saja berniat duduk dan memeriksa makanan dari Hyemi, dan dia harus membuka pintu lagi. Changmin kesal, tapi masih beranjak juga untuk membuka pintu.
"Chunnie baby tidak ada di rumah!"
"Aku mencarimu!", kata Yunho yang langsung menghilangkan gurat kekesalan di muka Changmin.
"Ahjussi, kenapa kesini lagi?", tanyannya sambil memandangi wajah tampan Yunho serta barang bawaannya. "Kau baru belanja?"
"Kau masih belum mandi?", tanya Yunho yang mendapati Changmin yang masih dalam keadaan mengenaskan sama seperti tadi pagi.
"Aku sudah cuci muka dan gosok gigi", jawabannya sama seperti pertanyaan yang dilontarkan pada Kyuhyun. Memang kebiasaan Kyuhyun dan Changmin sama. "Apa itu untukku?"
Yunho segera menyerahkan semua tas-tas ditangannya pada Changmin.
"Tadi aku lewat toko baju, kubelikan baju sekalian untukmu"
"Terima kasih, ahjussi". Yunho mengangguk saja.
"Setelah ini kau mandi dan pakai bajunya. Jangan pakai baju Yoochun lagi!"
Sebenarnya bukan Yunho lewat toko baju lalu mampir untuk beli, tapi dia sengaja pergi ke toko baju. Dia membeli banyak sekali baju kali ini. Kaos-kaos yang sekiranya cocok untuk Changmin dan celana serta sepatu. Dan celana dalam juga, itu sales tokonya yang menyarankan membeli. Yunho cuma mengiyakan, dan semuanya sales itu yang memilihkan. Yunho mana tahu selera namja macam Changmin itu seperti apa. Kesempatan salesnya memilihkan banyak pakaian yang tak ditolak Yunho, dagangannya laris jadinya. Yunho pikir, banyak membelikan baju untuk Changmin supaya calon istrinya itu tak memakai baju Yoochun. Dia tak rela saja, baju Yoochun melekat di tubuh Changmin.
"Kau akan kerja lagi?"
"Iya. Nanti malam aku akan kesini lagi", Changmin mengangguk saja. "Besok kau jadi ikut aku pulang kan?", tanyanya memastikan. Yunho belum lega kalau belum membawa Changmin bersamanya.
"Aku akan tanya Chunnie baby dulu! Kau boleh pergi sekarang!"
"Aku tidak kau persilakan masuk dulu?"
"Kau harus kembali kerja, ahjussi!"
"O. Ok. Kau mau kepesankan makanan lagi?". Changmin mengangguk lagi. "Baiklah", katanya tapi tak segera pergi.
"Kenapa? Kau mau memelukku lagi? Ayo peluk aku!"
Yunho segera merengkuh Changmin bersama seluruh tas yang dibawanya. Ya Tuhan, ternyata memeluk Changmin itu seperti ini rasanya. Rasanya tak mau lepas. Yunho memeluk Changmin lebih lama dari tadi pagi. Kalau seandainya Yunho menciumnya, bagaimana?
"Changminnnnnn, siapa yang datanggggg?"
"Yunho ahjussiiiii", jawab Changmin berteriak dari depan rumah. "Ahjussi, kau kembali kerja saja!" Changmin menepelkan bibirnya sekilas ke bibir Yunho kemudian segera masuk rumah dan mengunci pintunya.
Eh, Yunho mau lagi.
"Changmin, Changmin buka pintunya!", teriak Yunho dari mengetok pintu. Dia mau lagi. Yang tadi, bagian cium bibir dengan bibir. Tadi baru sedikit, tak cukup bagi Yunho. "Changmin!"
"Ahjussi, cepat pergi kerja. Ku tunggu kau nanti malam!", teriak Changmin dari balik pintu.
Nanti malam? Lihat saja nanti malam, Yunho akan tunjukkan ciuman yang benar itu seperti apa.
julie khoyul
Ahjussi membuka pintu depan dengan sedikit kasar. Dia sedamg mengangkat pot dengan tanaman yang akan dipindahkan ke bagian belakang rumah. Sempat menoleh sesaat ke sofa ruang tamu, kemudian berjalan beberapa langkah ahjussi berhenti. Kemudian menoleh lagi ke sofa. Dua majikannya sedang tumpang tindih disitu. Tuannya sudah telanjang dada, sweeternya pindah ke Kyuhyun. Sedangnya bathrobe kyuhyun tergeletak di meja. Bukan bermaksud lancang, tapi ahjussi terlanjur lihat kaki putih Kyuhyun sampai ke pahanya. Sweeternya Kibum menutup sampai ke bawah bokong, tapi di situlah Kibum meletakkan tangannya. Makin ke atas, ahjussi mendapati kedua bibir majikannya saling menempel dan bergerak gerak tak karuan. Majikannya sedang bercumbu di ruang tamu.
"Hoehh!", seru ahjussi terkaget melihat adegan barusan.
"Yah, ahjussi kenapa kau ada di situ?", tanya Kyuhyun sebal karena ini kedua kalinya ciumannya terhenti. Tadi ahjumma, sudah diusir sekarang ganti ahjussi.
"Aku mau memindahkan pot", katanya gugup tapi memang itu kenyataannya.
"Kenapa kau lewat sini?", rengek Kyuhyun sambil memukul Kibum. Kesal tapi Kibum yang dipukulnya.
"Tanganmu!", kata Kibum, sambil menyingkirkan tangan Kyuhyun dari muka. Dia tak mau wajahnya dipukul.
"Kibum, ahjussi mengganggu", adunya
"Ahjussi, lewat pintu belakang!", perintahnya sambil menarik sweeter Kyuhyun lebih kebawah. Takut bokong Kyuhyun nampak oleh ahjussi. Selesainya, kembali dia meletakkan tangannya di atas bokong Kyuhyun.
"Cepat lewat belakang!", usir Kyuhyun yang langsung ditanggapi ahjussi. Ahjussi kembali keluar lewat pintu depan lalu berbelok ke jalan samping rumah. "Mereka mengganggu!", rengek Kyuhyun sambil memurukkan kepala di dada Kibum.
Iya mereka sangat mengganggu. Tapi sebenarnya mereka tak sadar bercumbu di ruang tamu.
"Kibum!"
"Hn"
"Kita tidak jadi beli Handphone?"
"Lain kali saja", katanya sambil menepuk-nepuk pelan bokong Kyuhyun. Ternyata lebih empuk menepuk disitu dari pada di punggung. "Kau tidak lapar?" Kyuhyun menggeleng. "Mau lanjut?". Dia mengangguk.
Kyuhyun mengambil ancang-ancang. Menghirup udara sebanyaknya dan siap beradu bibir dengan Kibum.
Teng tong!
Teng tong!
"Posman. Paket!", teriak seseorang yang barusan membunyikan bel.
Bibir Kyuhyun belum menempel. Baru ancang-ancang, kenapa ada yang menginterupsi lagi? Ahjumma dan ahjussi pasti sibuk di belakang. Akhir-akhir ini mereka banyak pekerjaan. Karena Kyuhyun memerintah mereka seenak jidat.
"Kau turun sebentar, aku ambil paketnya". Bisa jadi itu paket dokumen bisnis dari kolega Kibum. Kibum harus segera menerimannya.
"Aku ikut!"
"Jangan. Tunggu di sini!", perintah Kibum sambil meninggalkan Kyuhyun di sofa. Kibum tak mungkin mengijinkan Kyuhyun keluar dengan setengah telanjang.
"Kibum!", rengeknya.
"Sebentar saja. Nanti kita sambung lagi!", kata Kibum sambil mengecup singkat bibir Kyuhyun lalu keluar rumah mengambil paketnya.
julie khoyul
"Ahjussi, kau tak pulang. Ini sudah malam sekali?", tanya Changmin yang ditemani Yunho duduk di sofa depan TV.
Sepulang kerja, Yunho langsung ke rumah Yoochun. Yunho datang membawa banyak makanan untuk mereka. Setelah makan bertiga dengan ahjumma, mereka nonton TV bersama. Ahjumma adu heboh dengan Changmin. Berdebat tak jelas soal film yang mereka tonton. Sok jadi sutradara dan menyalah-nyalahkan adegan di TV. Ini hampir tengah malam dan mereka masih duduk di situ.
Changmin merebahkan kepalanya di pangkuan ahjumma, dia juga melarang ahjumma pergi. Itulah yang membuat Yunho bertahan duduk di rumah Yoochun sampai sebegini larut. Dia mau menunjukkan ciuman hebatnya pada Changmin, tapi ahjumma tak beranjak sedikitpun. Yunho cuma butuh waktu berdua dengan Changmin.
"Aku akan menginap di sini"
"Ahjumma, kau punya berapa banyak ruang tamu?", tanya Changmin menoleh ke ahjumma.
"Dua"
"Nah ahjussi, kau bisa tidur disalah satu kamar tamunya Chunnie baby"
"Kau tidur dimana?"
"Di kamarnya Chunnie baby". Yunho mengernyit. Apa sebelumnya Changmin juga tidur di kamar Yoochun? Dengan Yoochun? Yoochun tega sekali, dia sendiri belum pernah tidur seranjang dengan Changmin, Yoochun sudah mendahuluinya. "Ranjangnya Chunnie baby besar seperti di kamarmu itu"
"Kau tidur dengan Yoochun?" Changmin mengangguk yang membuat hati Yunho makin panas saja. "Kenapa tak tidur di ruang tamu?"
"Tak ada yang menemaniku cerita", katanya jujur. Dia sering tidur dengan Kyuhyun dulu. Bercerita satu sama lain sampai mereka lelah sendiri lalu tertidur. "Aku suka sekali tinggal di rumahmu, tapi aku susah tidur"
"Nanti kau boleh tidur di kamarku!", Changmin mengangguk saja.
"Tapi kau harus janji, jangan mengusirku lagi!" Ahjumma menghembuskan nafasnya kasar. Jadi Changmin diusir oleh Yunho dan sekarang seenaknya mengajak pulang? Orang jaman sekarang kenapa menganggap masalah seperti ini mudah. Ahjumma menggelus kepala Changmin, menumpahkan kasih sayang seorang perempuan pada anak-anak. "Ahjumma, nanti temani aku tidur ya!"
"Aku temani kau tidur", serobot Yunho sebelum ahjumma mengangguk.
"Aku mau ahjumma saja!"
"Aku saja!"
"Aku mau ahjumma!", elak Changmin. Pasalnya ahjumma lebih menyenangkan dari pada Yunho
"Aku juga bisa"
"Aku tidak mau kau. Nanti saja kalau sudah di rumahmu, baru temani aku tidur!"
Ya sudahlah, berdebat sekarang tak ada gunanya. Kalau Yunho tak bisa mencuri kesempatan, menemani Changmin tidur dan memberikan ciumannya sekarang, bisa lain waktu. Kuncinya adalah Yoochun. Playboy tengik itu harus mau membantunya membujuk Changmin ke rumahnya. Dibiarkan lama-lama di sini, tidur dengan Yoochun, bisa-bisa Changmin pindah cinta ke Yoochun. Yunho tak rela kalau sampai itu terjadi.
Lewat tengah malam ketiganya masih duduk ditempat yang sama, tapi Changmin sudah tidur di pangkuan ahjumma. Di elus ahjumma membuat Changmin mengantuk lebih cepat, dan kemudian tertidur. Yoochun pulang setengah jam setelahnya. Dan baru Yoochun datang itu, Changmin dipindahkan ke kamar. Makanya Yoochun disukai banyak orang. Dia tahu cara memperlakukan orang dengan baik. Ini sudah sangat malam, ahjumma harusnya istirahat, tapi Yunho tak paham hal seperti itu. Changmin sudah tertidur, harusnya diangkat ke sofa atau ke kamar, tapi Yunho tak tahu juga. Kalau bukan Yoochun yang memerintahakan, Yunho tak bsrgerak sama sekali.
"Chun!"
"Ha?"
"Kau tidur dengannya setiap kali dia menginap disini?"
Yoochun mengernyit sejenak. Setelah paham kemana arah pertanyaan Yunho, baru dia tertawa. Yunho cemburu rupanya. Ini hampir sama seperti kejadian Kyuhyun dan Kibum waktu itu. Ternyata dua sabahatnya itu benar-benar telah menemukan tambatan hati mereka. Yoochun menepuk pundak Yunho, kemudian menggeleng-geleng maklum.
"Yang penting aku tidak menyentuhnya". Memang Yoochun tak menyentuh Changmin. Iya memang dia menemani Changmin sampai tidur, setelah itu Yoochun beranjak ke sofa. Dia tak mungkin tidur seranjang dengan calon istri orang. Lagi pula, walau Yoochun suka Kyuhyun dan Changmin, bukan berarti dia cinta. Mereka benar-benar bukan tipe Yoochun yang sesungguhnya. "Sudahlah, temani dia tidur sana. Aku mau mandi", kata Yoochun segera beranjak.
"Chun, bujuk dia supaya mau pulang denganku. Dia cuma mau pulang kalau kau sudah bilang iya padanya"
"Kupastikan besok Changmin sudah bisa kau bawa pulang. Tapi jangan usir dia lagi!"
"Tidak akan!", jawab Yunho mantap. "Chun!"
"Apa lagi?"
"Benar aku boleh menemaninya tidur?". Yoochun meringis menahan tawa, tapi kemudian pecah. Iya, Yunho yang sering tidur dengan wanita dulu sekarang tak berani tidur dengan Changmin. "Jangan tertawa. Aku tak mau Changmin salah arti saja"
"Terserah kau!", kata Yoochun sambil benar-benar berlalu.
julie khoyul
"Kibum, tanganmu jangan masuk ke situ!"
Mereka belum berpindah dari sofa ruang tamu. Mereka melewatkan makan siang. Kibum makan malam sedikit dan Kyuhyun cuma minum susu coklat panas, kemudian melanjutkan acara mereka lagi. Tadinya Kibum sudah mengajak Kyuhyun pindah ke kamar, tapi Kyuhyun tak mau. Dia suka di sofa ruang tamu. Sofa yang dibelinya itu benar-benar nyaman, dia bilang.
Kibum menarik tangannya dari balik sweeter Kyuhyun. Menarik turun sweeternya kembali menutupi bokong Kyuhyun lalu meletakkan tangannya di atasnya. Kibum tak diberi ijin, ya sudah tak jadi.
"Kibum!"
"Hn"
Kyuhyun tersenyum dulu sekedarnya.
"Ayo ciuman lagi!", ajaknya tanpa malu. "Kau tidak mau?"
Kibum bukannya tak mau, tapi akhir-akhir ini Kyuhyun selalu minta duluan. Ada apa dengan iblis ini? Sekarang dia yang jadi mesum. Apa karena kejadian kemarin itu, Kyuhyun tak ingin Kibum selingkuh lagi, lalu Kyuhyun melakukan ini?
"Siapa yang bilang aku tidak mau?"
"Kau diam saja"
"Kalau aku diam, anggap saja iya"
Kyuhyun merebah di dada Kibum kemudian terpejam disitu.
"Jangan tidur, katanya kau mau ciuman"
"Dadamu lebar sekali, biar aku bisa tidur di sini, kan?"
"Hm", terserah Kyuhyun bilang apa, yang penting diiyakan.
Kyuhyun kemudian meraba-raba perut Kibum. Dari atas kebawah semuanya kotak-kotak. Kyuhyun tak pernah lihat Kibum olah raga, otot-otot itu dari mana? Kyuhyun kemudian menghentikan kegiatannya saat wajahnya ditengadahkan menghadap muka Kibum. Kibum mengecup bibir Kyuhyun, tapi meleset ke dagu karena Kyuhyun bergerak.
"Ck! Tadi kau minta ciuman"
"Sebentar dulu. Aku mau hitung kotak-kotak di perutmu"
"Lain kali saja!", kata Kibum sambil meraih dagu Kyuhyun mengecup tepat di bibirnya. Kibum menarik Kyuhyun yang sedikit merosot, menyejajarkan muka mereka lagi kemudian memulai ciuman. Kibum melirik sebelah jauh, melihat ada atau tidak pembantunya disekitar situ, tapi didapatinya situasi aman. "Bokongmu sudah tidak sakit, kan?" Kyuhyun menggeleng, eh tapi kemudian mengangguk.
"Sedikit"
"Dua tiga kali bisa kan? Ayo pindah ke kamar!"
"Tapi besok kita akan ke Singapura"
"Sekali kalau begitu. Tidak akan terasa, asal kau patuh seperti yang dulu itu" Kibum kalau sudah membujuk soal hubungan badan, tak ada kata irit bicara. Nyerocos, yang penting keinginannya tercapai. "Sekali"
"Sekalimu tak bisa dipegang. Aku tak mau. Lain kali saja!"
"Ya sudah, lain kali saja!"
Kibum meremat bokong Kyuhyun, membuat si empunya mengernyit. Sebelum Kyuhyun sempat bertanya, Kibum segera menyambar bibirnya. Melakukan ritual yang dimulainya tadi siang. Kibum harus membuat Kyuhyun panas duluan, dan nantinya tanpa memintapun Kyuhyun akan menyetujuinya. Sedikit lama, kemudian Kyuhyun mulai merengek. Ada sesuatu yang tak bisa ditahannya. Bukan dari ciuman mereka, tapi dari tangan Kibum yang menggerayang kesana kemari.
"Kibummmm", rengeknya di sela ciuman mereka.
"Sebentar lagi"
"Ayo ke kamar!"
"Sebentar lagi"
"KIBUM, KYUHYUN, KITA PULANGGGGG!", teriak seseorang yang baru masuk bersama namja kelewat imut. Keduanya sama-sama menyeret koper. Berhenti di depan sofa ruang tamu, mereka melihat Kyuhyun menggeruti dipelukan Kibum. Kibum menepuk-nepuk punggungnya sambil membisik-bisikkan kalimat bermaksud menenangkan. "Kibum, Kyuhyun kenapa?", tanya Yesung terkejut melihat Kyuhyun mengerang semacam orang kesakitan, marah atau sebangsa itulah.
"Kalian datang di waktu yang tidak tepat"
"Heh, maksudnya?"
"Kyunie sakit?", tanya Ryeowook entah pada siapa.
Kyuhyun lalu bangkit, menghampiri Yesung dam Ryeowook dengan muka merah. Kyuhyun marah, marah sekali. Ini kali keempat dalam sehari kegiatan lovey dovey mereka terganggu
"Kalian kenapa datang sekarang?", bentak Kyuhyun ke dua orang yang baru datang. "Kenapa tidak kemarin saja. Atau besok, atau lusa. Jangan sekarang!", teriaknya lagi sambil menendang meja. Eitssss, kakinya sakit lagi. Kenapa harus meja yang ditendangnya lagi, harusnya sofa.
"Kyu, kau kenapa? ", tanya Ryeowook takut-takut, pasalnya baru kali ini dia melihat Kyuhyun yang jadi sedemikian rupa.
"Ya kalian meganggu. Aku benci ahjumma. Ahjumma kau dengar? Aku benci kau!", teriaknya ke arah dapur. "Ahjussi, aku juga benci kau!" Kibum segera datang dan memeluk Kyuhyun, tapi Kyuhyun tak mau. "Aku benci pak pos yang tadi datang kemari. Aku benci kalian berdua", teriaknya pula sambil menunjuk Yesung dan Ryeowook.
Kyuhyun menendang lagi, yang kali ini tepat ke sofa, jadi tak sakit, tapi tak ada suara. Kemudian dia mulai berjalan cepat-cepat ke kamarnya. Berhenti sejenak di depan miniatur mobil yang tadi dijatuhkan ahjumma, Kyuhyun meraihnya kasar lalu melemparkannya di dekat Yesung dan Ryeowook sampai pecah berantakan. Kemudian dia berlari kecil ke kamarnya, membuka kasar pintunya kemudian membantingnya saat sudah didalam.
"Ada apa dengan istrimu?", tanya Yesung terheran.
Kyuhyun tadi sedang On, hampir sampai ketika Yesung berteriak, saat itulah pelepasannya gagal. Bagaimana tak sakit hati. Sakit segalanya malah. Makanya Kyuhyun marah marah pada Yesung dan Ryeowook.
"Kibummmmmm!", pekik Kyuhyun dari dalam kamarnya.
"Lupakan saja!", jawab Kibum sambil berjalan kalem ke kamarnya. Ini waktunya menjinakkan iblis.
To be continue
Makin kesini tulisan gue makin mengarah ke mature. Tapi semoga kalian nggak kecewa. Thank and See you soon!
