Ok, makasih yang udah menyumbang puisi untukku. Tapi, untuk chapter kali ini, aku pakai puisi original buatanku senditi. Yak, pokoknya bacanya aja deh.


Suna, bulan x tanggal o

Untuk Nara Shikamaru
Dari Temari

Ah, apa kabar Shikamaru? Aku yakin kau baik-baik saja meskipun kau kemarin kejang-kejang selama satu hari setelah menerima suratku. Aku tahu permintaanku aneh dan aku senang kau memnuhinya. Dan, terima kasih untuk puisinya......

HAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHA!!!!!

Maaf, aku....kalau sekarang ku ingat aku masih ingin tertawa. Ups, maaf, bukan maksudku untuk menertawakan puisi buatanmu. Hanya saja, uph.....

HUAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHA!!!!!

Puisimu keren banget Shikamaru! Bahkan kau telah sukses membuat Gaara menahan tawa seharian. Aku sangat kagum! Kau sungguh hebat!

Oh ya, puisimu itu memang sih terdengar konyol dan banyak kekurangannya di sana-sini. Seperti, kau itu tak pandai menggunakan kata kiasan ataupun mencampur adukkan kata. Kau juga lemah dalam kata-kata puitis, intinya puisimu itu sangat lugas alias jujur banget. Kalau puisinya yang buat cowok memang sering lugas ya?

Tapi tak apa, aku tetap senang. Dan aku tahu, untuk membuat puisi seperti itu kau pasti membutuhkan tenaga dan waktu yang tak sedikit. Puisi itu adalah curahan hatimu, aku senang menerimanya. Dan, terimakasih banyak!

Oh ya, seperti janjiku. Inilah puisi buatanku.

Sayap Patah

Bulu-bulu putih bertebaran meninggalkan jejak di awan
Rasa sakit yang meledak menjalari tubuhku
Ku tatap langit tempatku jatuh berpijak
Tangisku pecah sadari sayap ini telah patah
Sanggupkah ku kembali ke sana?
Nikmati kembali rasa bebasnya langit

Ku terbaring di sini, seorang diri
Sesal di hati tak perbaiki apa yang sudah terjadi
Air mataku mengering seiring waktu berjalan
Namun sayapku tetap sedia kala
Cacat dan rusak

Ku menanti hal yang tak ku ketahui
Kuingin kembali meniti harapan
Menggapai langit yang terbentang di angkasa
Namun, aku hanya bisa menatapnya kini
Rasakan air mataku akan kembali jatuh

Dan, kau pun datang
Uluran tanganmu dengan ragu kuraih
Kau kembali menarikku ke dalam dunia penuh suara
Dengan lembut kau balut sayapku
Dan aku pun terjerat oleh dirimu

Kini, diriku terpenjara oleh sesuatu bernamakan "cinta"

Bila kini kubertanya
Apakah aku akan kembali ke angkasa? Meninggalkanmu sendiri di sini
Kupejamkan mata dan melihat bayangmu di kegelapan
Kau adalah langitku, kau adalah cahayaku
Kau adalah tempat untukku

Kaulah segalanya.......

Dan hati ini adalah milikmu seorang

Ya....itu dia puisiku. Aku tahu aku pun tak pandai dalam membuat kata-kata puitis. Aku membuat puisi itu saat aku menyadari kalau aku mencintaimu (namun kau belum sadar kalau kau mencintaiku). Puisi ini aneh ya? Tak sesuai dengan imej diriku. Namun, inilah gambaran atas duniaku saat itu.

Aku ingin mengucapkan ini dari dulu, namun aku selalu lupa.

Terima kasih untuk segalanya Shikamaru. Kau tak tahu betapa berharganya kau di mataku. Aku sangat bahagia. Aku sangat mensyukuri semuanya. Aku selalu bersikap seperti gadis dewasa di depanmu namun suatu saat ku ingin bersikap apa adanya di depanmu. Aku ingin mencurahkan segala rasaku padamu. Aku ingin kembali merasakan hangatnya pelukanmu. Aku ingin kembali bertemu dengamu.

Uh......kenapa surat ini jadi terkesan begitu sedih? Apakah aku sudah mulai stress lagi karena tumpukan misi-misi merepotkan itu? Yah sudahlah.

Aku tak tahu harus berkata apa lagi. Aku benar-benar berharap kita bisa bertemu secepatnya.

Salam rindu dari Temari


Temari menatap suratnya dan mematahkan pensil. Raut wajahnya terihat begitu seram. Seperti gunung api yang siap meletus.

"KANKUROU!!!!" Temari segera berbalik ke belakang dan melesat ke arah pintu. Kankurou yang kalang kabut di balik pintu segera kabur menyelamatkan diri. Namun, Temari langsung mengeluarkan kipasnya dan menerbangkan Kankurou bersama pintunya ke luar jendela. (bayangkan saja Kankurou sudah terbang nan jauh di sana dengan bunyi "cling")

Temari paling sebal kalau ada yang mengintipnya ketika ia sedang melakukan hal yang bersifat pribadi.

Dan menulis surat untuk Shikamaru adalah kegiatan pribadinya.

Temari menoleh ke segala penjuru ruangan dan melihat sebuah mata dari pasir yang mengambang di dekat jendela kamarnya. Begitu sang mata menyadari kalau Temari melihatnya, sang mata pun bunuh diri alias hancur dengan sendirinya.

Temari segera melesat ke kamar sebelah dan melihat Gaara yang sedang – sok – sibuk mengerjakan berkas-berkas di kamarnya.

"GAARA! NGGAK USAH BELAGAK SOK INNOCENT DEH!!!" pekik Temari kesal dan mengipaskan kipasnya. Gaara memang nggak terluka namun tampang adik Temari itu memucat ketika melihat semua tumpukan berkas yang sudah dikerjakannya maupun yang belum sudah berakhir dengan keadaan luluh lantak di lantai.

Temari segera meninggalkan kamar dengan senyum puas, meninggalkan Gaara yang sedang merundung nasib karena harus lembur selama seminggu lebih untuk mengerjakan ulang semua berkas yang sudah dihancurkan Temari.

Satu komentar untuk Temari. Dia itu cewek yang manis tapi mengerikan! (*author koit dibunuh Temari dan mayatnya sedang disembunyikan di dalam hutan)


Akhirnya, sudah sampe sini juga. Ok, chapter besok adalah chapter terakhir. Tunggu ya! ^^

Reviewnya! Review! Review! Review!