Title : Element Bracelets

.

Author : Ayugai Risa

.

Cast : Lee Hyukjae, Lee Donghae, other Super Junior member, and Cho Devi (OC)

.

Pair : Haehyuk (Donghae x Eunhyuk) and other Super Junior official couple

.

Rated : T

.

Genre : Fantasy, Romance, Angst, Hurt/Comfort

.

Warning : Yaoi, BL (Boys Love), Boy x Boy, Typo(s), Alur Ngebut, Gak Sesuai EYD

.

Disclaimer : Semua tokoh dalam fic ini bukan punya Risa, Risa cuma minjem nama mereka. Tapi fic ini 100% punya Risa

.

.

^^DON'T LIKE DON'T READ^^

.

.

^^ENJOY READING^^

.

.

.

Lonceng milik gereja SM High School berdentang untuk yang terakhir kalinya hari ini. Waktu untuk bersekolah telah usai, sebagian besar murid di sekolah itu diam-diam bersorak dalam hati menyambut datangnya waktu untuk pulang. Tidak terkecuali Eunhyuk.

Namja kurus itu mengambil tasnya dan bergegas untuk keluar dari kelas 11-B. Eunhyuk sama sekali tidak menegur Donghae, karena dia masih marah pada namja itu. Bahkan Eunhyuk menganggap kalau bangku di sebelahnya masih kosong, seakan-akan Donghae belum pindah ke sekolah ini.

Seperti hari-hari sebelumnya, Ryeowook, Sungmin, dan Eunhyuk sepakat akan bertemu di gerbang sekolah untuk pulang bersama, mengingat jarak rumah mereka yang hanya beda beberapa blok. Dan ternyata kali ini Eunhyuk-lah yang tiba di gerbang pertama kali, padahal biasanya dialah yang selalu membuat kedua temannya menunggu.

Sambil menunggu yang lain datang, Eunhyuk memasang headphone berwarna kuning di telinganya dan mendengarkan lagu-lagu dari Super Junior. Saking asyiknya, dia sampai memejamkan mata sambil menyandarkan tubuhnya di gerbang.

Tapi konsentrasinya buyar tatkala seseorang menepuk pundaknya. Eunhyuk membuka mata dan melihat namja yang tadi pagi bertabrakan dengannya kini tengah berdiri di hadapannya. Eunhyuk buru-buru melepas headphonenya dan tersenyum sopan.

"Kau Eunhyuk kan? Kita bertemu lagi," tanya namja itu dengan bahasa Korea yang patah-patah.

"Ne, ngg…" Eunhyuk bingung harus memanggil namja itu apa, karena seingatnya namja itu belum pernah memperkenalkan diri.

Seakan bisa membaca pikiran Eunhyuk, namja itu buru-buru berkata, "Aigoo… Aku lupa menyebutkan namaku. Tan Hangeng imnida, tapi panggil saja Hankyung. Aku baru pindah ke sekolah ini, kelas 12-C."

"M… mianhae, sunbae. Aku tidak tahu kalau sunbae ternyata murid kelas 12. Mianhae…" Eunhyuk buru-buru membungkuk untuk meminta maaf.

"Gwenchana, itu bukan salahmu. Akulah yang terlambat memperkenalkan diri. Oh ya, apa malam ini kau sibuk? Ada hal yang ingin ku bicarakan berdua saja denganmu."

Eunhyuk menggeleng. "Aniyo, sunbae."

"Kalau begitu kita bertemu di Alto Café jam tujuh malam, dan panggil aku hyung." Hankyung tertawa. "Mianhae, aku harus pulang sekarang. Sampai nanti malam."

Hankyung berlalu pergi. Tak lama berselang, Ryeowook dan Sungmin menghampiri Eunhyuk. Kalau boleh jujur, Eunhyuk sampai lupa kalau dia berdiri di sini untuk menunggu mereka berdua.

"Bukannya tadi itu Tan Hangeng? Murid baru kelas 12 itu?" Sungmin mulai menginterogasi Eunhyuk.

"Hyung mengenalnya?" Ryeowook juga ikut-ikutan bertanya.

Eunhyuk mengangguk. "Dialah namja yang bertabrakan denganku tadi pagi."

"Ooo…" Sungmin dan Ryeowook manggut-manggut. "Lalu apa yang kau bicarakan dengannya tadi?"

"Dia hanya meminta maaf padaku atas kejadian tadi siang." Eunhyuk berbohong. "Dan kenapa kalian mendadak bertingkah seperti detektif begini? Aku merasa seperti sedang diinterogasi sekarang."

Sungmin dan Ryeowook tertawa mendengarnya.

"Habis mana mungkin kau langsung berteman akrab dengannya, padahal dia baru pindah hari ini," jawab Sungmin.

"Oh ya, hyung. Aku mendengar dari teman sekelasku, katanya hyung mengamuk di kelas 11-B karena kelas hyung dipenuhi murid kelas lain saat istirahat pertama. Apa itu benar?" Ryeowook bertanya pada Eunhyuk.

"Bisa dibilang begitu, aku tidak suka mereka mengganggu ketentraman kelasku." Eunhyuk mengepalkan kedua tangannya erat. "Apalagi mereka semua datang hanya untuk melihat Lee Donghae, sungguh memuakkan."

"Sebenarnya mereka juga penasaran ingin melihat Kibum dan Hangeng sunbae, tapi mereka malah pergi ke kelasmu karena tidak bisa menemukan kedua orang itu di kelas masing-masing." Sungmin malah meralat. "Begitu kata temanku."

"Aku tidak peduli apa alasan mereka, tapi yang pasti aku tidak suka dengan orang yang mengganggu ketentraman dan ketertiban kelasku." Lagi-lagi Eunhyuk menyunggingkan sebuah senyuman bak iblis.

Ryeowook ketakutan, karena untuk pertama kalinya dia melihat sisi gelap dari seorang Lee Hyukjae. Sementara Sungmin malah merasa iba melihat Eunhyuk seperti itu, karena dia mengetahui dengan jelas alasan kenapa suasana hati Eunhyuk mendadak kelam saat membicarakan tentang ketentraman.

Karena sebenarnya yang menjadi masalah bagi seorang Lee Hyukjae bukanlah ketentraman, melainkan keramaian.

.

*SKIP TIME*

.

Sekarang sudah pukul setengah tujuh malam, Eunhyuk baru saja selesai mengecek ulang penampilannya di cermin. Dia mengenakan kaus kuning berlengan pendek, celana denim biru, dan jaket hijau lumut. Di pergelangan tangannya melingkar sebuah arloji perak, hadiah kiriman dari appanya saat beliau baru tiba di Paris dua minggu yang lalu. Eunhyuk juga menata poninya menjadi jambul menggunakan gel rambut.

Sekali-sekali tampil modis tidak ada salahnya bukan? Lagipula dia sedang tidak berada di sekolah, siapa tahu dia bisa menarik perhatian para yeoja di Alto Café nanti.

Setelah siap, Eunhyuk mengambil kunci motornya dan keluar dari kamar. Dia lalu menghampiri eommanya yang tengah menonton sebuah drama di televisi ruang keluarga.

"Hyukkie? Mau kemana kau malam-malam begini?" tanya eomma Eunhyuk begitu melihat anak semata wayangnya berdiri di belakangnya.

"Aku mau bertemu dengan temanku di sebuah café, tidak jauh kok dari sini. Boleh ya, eomma?" tanya Eunhyuk sambil memeluk eommanya dengan manja.

Eomma Eunhyuk mencubit pipi anaknya gemas. "Baiklah, chagiya. Jangan pulang terlalu larut, arra?"

"Ne, arraseo. Gomawo, eomma, aku pergi dulu." Eunhyuk mengecup pipi eommanya singkat lalu pergi menuju garasi rumahnya.

Eunhyuk, yang telah mengenakan helm putih, kemudian menaiki skuter matik jadul kesayangannya dan melesat keluar dari rumah. Lalu bagaimana dengan pagar rumahnya? Apa Eunhyuk membiarkannya terbuka? Oh tentu tidak, karena satpam keluarganya sudah menutupnya.

Kalian penasaran dengan keluarga Eunhyuk? Baiklah, sebagai author yang baik, Risa akan jelaskan. Eunhyuk adalah anak tunggal dari kedua orangtuanya, appanya adalah seorang diplomat yang selalu bepergian ke berbagai negara di dunia, sedangkan eommanya adalah seorang pianis yang sering memenangkan kompetisi internasional dan sudah diakui eksistensinya di dunia seni.

Walaupun kehidupannya serba mewah, tapi Eunhyuk tetap rendah hati. Dia tidak pernah memamerkan kekayaannya pada teman-temannya di sekolah dan mau berteman dengan siapa saja.

Tapi dengan kekayaan orangtuanya, kenapa Eunhyuk tidak membeli motor yang lebih modern saja? Kenapa dia malah memilih skuter matik jadul yang sedang dia kendarai ini? Sebenarnya alasannya hanya satu, dia menyukai hal-hal yang berbau vintage, oldies, dan antik. Meski begitu, skuter matiknya itu sudah dia modifikasi sedemikian rupa supaya tetap prima dan tidak kelihatan terlalu butut.

Sebaiknya kita berhenti mempermasalahkan kekayaan keluarga Eunhyuk dan kembali fokus ke cerita, karena rupanya Eunhyuk baru saja selesai memarkir tunggangannya di tempat parkir Alto Café.

~Author POV End~

.

.

~Eunhyuk POV~

Aku masuk ke dalam Alto Café dan sedikit takjub melihat dekorasinya, karena ini pertama kalinya aku menginjakkan kaki di café ini. Saat mendengar namanya dari Hankyung hyung, aku sudah menduga kalau tempat ini akan bernuansa musik. Dan ternyata tebakanku tidak meleset.

Pintu masuknya dibuat warna-warni dan bergaris seperti alat musik xylophone, taplak mejanya bermotif not balok dan alat musik, warna kursinya hitam-putih dan bergaris seperti tuts piano, dindingnya dipenuhi oleh lukisan-lukisan musisi ternama dari berbagai zaman dan aliran, dan di seberang lain ruangan terdapat panggung berukuran besar dengan berbagai macam alat musik di atasnya.

Pasti digunakan untuk live music… batinku girang.

Benar saja, rupanya sedari tadi di panggung itu terdapat seorang namja yang tengah memainkan lagu Fur Elise dengan grand piano hitam yang berada tepat di tengah panggung. Permainannya sangat bagus, aku sampai terhanyut mendengarnya.

Hei, tapi tujuanku ke sini adalah untuk menemui Hankyung hyung! Bukan untuk menikmati live music!

Setelah sepenuhnya sadar, mataku menjelajahi seluruh pelosok café dengan teliti, dan… itu dia! Di bangku yang berada persis di depan panggung. Baguslah, aku jadi bisa sekalian menikmati live music di sini. Ku hampiri meja Hankyung hyung dan duduk di kursi di seberangnya.

~Eunhyuk POV End~

.

.

~Author POV~

Hankyung tersenyum saat melihat Eunhyuk yang baru datang dan duduk di seberangnya. Sebenarnya tadi dia sudah melihat kedatangan Eunhyuk dan sedikit geli melihat hoobaenya itu malah terpaku mengagumi dekorasi dan live music yang disuguhkan café ini.

Setidaknya itu menandakan kalau Eunhyuk menyukai musik, dan Hankyung tidak salah untuk menjadikan Alto Café sebagai tempat pertemuan mereka.

"Mianhae, apa aku membuat hyung menunggu lama?" kata Eunhyuk.

"Aniyo, tidak sama sekali. Aku juga baru sampai, sebaiknya sekarang kita memesan makanan," ujar Hankyung sambil memanggil pelayan yang lewat.

Pelayan yeoja yang Hankyung panggil memberikan dua buku menu pada Hankyung dan Eunhyuk. Sekali lagi Eunhyuk dibuat takjub dengan café ini, buku menunya saja didesain menyerupai partitur lagu. Jauh di dalam benaknya, Eunhyuk sudah menempatkan café ini sebagai salah satu tempat makan favoritnya. Padahal dia belum melihat apa saja makanan yang mereka sediakan.

"Anda mau pesan apa?" tanya pelayan itu, catatan kecil dan pulpen sudah siap di tangannya untuk mencatat pesanan kedua pelanggannya. Nametag di saku bajunya bertuliskan 'Cho Devi'.

"Annyeong, noona," sapa Hankyung pada pelayan itu.

"Lho? Hankyung-ssi?" ucap Devi setelah benar-benar melihat wajah Hankyung.

Hankyung menghela nafas. "Tidak usah seresmi itu, noona. Cukup panggil aku Hankyung."

"Kau ke sini lagi malam ini?" tanya yeoja itu.

"Ne, Aku ada urusan dengan hoobaeku." Lalu Hankyung berkata pada Eunhyuk, "Kenalkan, ini Cho Devi noona, dia jugalah yang melayaniku saat aku pertama kali ke sini. Karena aku sering ke café ini, kami jadi berkenalan dan berteman baik."

"Annyeong, Eunhyuk imnida, hoobaenya Hankyung hyung."

"Annyeong, Cho Devi imnida. Tolong kau nasihati dia supaya tidak terlalu sering datang ke sini dan menghambur-hamburkan uang, karena itulah yang selama ini dia lakukan," kata Devi pada Eunhyuk.

Eunhyuk tertawa, sementara Hankyung hanya cemberut.

"Aigoo, aku hampir lupa kalau aku sedang bekerja. Jadi kalian mau pesan apa?" tanya Devi.

Setelah Hankyung dan Eunhyuk selesai memesan, Devi membungkuk dan meninggalkan mereka berdua. Untung saja kali ini sang pianis memainkan lagu yang lebih up beat, Eunhyuk takut suasana di antara dia dan Hankyung menjadi 'kaku dan aneh' kalau lagu yang dimainkan adalah lagu romantis yang mendayu.

"Tidak usah kaku begitu, Eunhyuk-ah. Santai saja." Hankyung tertawa melihat ekspresi Eunhyuk yang tegang. "Kalau begitu aku akan langsung menuju pokok pembicaraan kita."

Eunhyuk berusaha membuat dirinya rileks dan memperhatikan setiap ucapan namja di hadapannya.

"Kau ingat dengan kejadian tadi siang? Saat gelang merah milikku tiba-tiba bercahaya dan melayang?" tanya Hankyung.

Eunhyuk mengangguk, ingatannya kembali pada peristiwa yang terjadi beberapa jam yang lalu itu.

"Sebenarnya gelang-gelang itu adalah gelang elemen, gelang yang memiliki kekuatan magis. Tiap gelang elemen bisa mengendalikan sebuah unsur alam berdasarkan warnanya."

"Contohnya?"

"Misalnya gelang merah itu, orang yang memakai gelang itu akan memiliki kekuatan untuk mengendalikan api. Dia tidak akan terbakar jika menyentuh api."

"Jinjja?!" Mata Eunhyuk membulat kaget.

Hankyung baru akan membuka mulut ketika Devi datang dan meletakkan pesanan mereka berdua. Baru setelah pelayan itu pergi, Hankyung melanjutkan penjelasannya.

"Tapi tidak sembarang orang yang bisa mengenakan gelang itu, hanya orang-orang terpilihlah yang bisa. Gelang itu akan bercahaya dan melayang seperti tadi pagi saat mereka menemukan orang yang tepat," lanjutnya sambil mulai menyendok makanan.

Eunhyuk nyaris tersedak makanannya. "Mwo?! Berarti aku orang yang bisa memakai gelang merah itu? Dan aku bisa mengendalikan api?!"

Hankyung mengangguk. "Kau tidak perlu takut, aku juga ternyata bisa mengendalikan salah satu gelang elemen itu."

"Gelang yang mana?" tanya Eunhyuk penasaran.

"Yang berwarna coklat, gelang elemen tanah."

Otomatis Eunhyuk melihat pergelangan tangan Hankyung, tapi yang ada di sana hanyalah sebuah arloji hitam. "Tapi kenapa hyung tidak menggunakan gelang itu?"

"Karena gelang itu bisa sangat berbahaya jika digunakan sembarangan. Aku pernah membuat tanah di halaman rumahku retak secara tidak sengaja, padahal aku hanya melompat kecil."

Eunhyuk tidak tahu apakah Hankyung bercanda atau tidak, tapi Eunhyuk tertawa.

"Padahal itu hanyalah gelang elemen tanah, apalagi kalau gelang elemen api seperti milikmu. Aku takut itu akan sangat membahayakan dirimu dan orang lain jika kau memakainya sekarang. Dan kita juga punya dua permasalahan lagi."

"Masalah apa?"

"Menurut tulisan di perkamen gulung yang ku temukan di dalam kotak itu, gelang-gelang elemen ini memiliki pasangan. Sayangnya, mereka terpisah dari yang ku temukan." Raut wajah Hankyung berubah serius. "Menurut tulisan itu, pasangan dari gelang kita dirasuki oleh kekuatan jahat yang mengerikan. Hanya gelang kita yang bisa mengimbangi mereka."

"Jadi kita harus menemukan pasangan dari gelang itu?"

"Awalnya ku kira semudah itu, tapi aku menemukan fakta yang mengerikan. Dua bulan yang lalu saat aku masih di Cina, aku menonton berita di televisi yang menayangkan berita luar negeri. Terjadi badai besar di laut Korea, padahal saat itu sedang tidak ada angin berhembus dan ramalan cuaca meramalkan bahwa saat itu sedang cerah."

"Ne, aku juga pernah mendengar berita itu. Kejadiannya benar-benar aneh," timpal Eunhyuk. "Jadi maksud hyung, badai itu terbentuk karena kekuatan dari gelang elemen jahat itu? Berarti… seseorang telah menemukan mereka?!"

Hankyung mengangguk. "Hal yang ku takutkan telah terjadi. Karena itu aku pindah ke Korea Selatan, aku berusaha mencegah supaya orang itu tidak berbuat kerusakan lagi."

Eunhyuk terdiam, kepalanya terasa sakit menerima fakta tak terduga yang bertubi-tubi dari Hankyung. Tapi entah kenapa, terselip juga rasa penasaran dan berdebar-debar dalam hatinya.

"Karena itu aku butuh bantuanmu, Eunhyuk-ah. Aku ingin mengumpulkan para pengendali gelang elemen baik dan juga mencari gelang elemen jahat beserta pengendalinya, aku ingin menghentikan mereka." Hankyung mengulurkan tangannya.

Sejujurnya, Eunhyuk sudah menantikan momen seperti ini sejak dulu. Dia ingin sekali menjadi seperti pahlawan-pahlawan pembela kebenaran yang sering dia lihat di manga dan anime, karena itulah dia menjadi ketua kelas yang berusaha menjaga ketentraman kelas 11-B supaya bisa terlihat seperti pahlawan.

Walaupun terdengar tidak masuk akal, seorang Tan Hangeng kini datang dan meminta bantuannya untuk 'menumpas kejahatan'. Ini bisa jadi salah satu cara untuk mewujudkan impiannya!

"Ne, aku akan membantumu, hyung." Eunhyuk menjabat tangan Hankyung.

Hankyung tersenyum senang. "Gomawo, Eunhyuk-ah. Bagaimana kalau sekarang kita membuat nama tim dan juga nama samaran? Agar musuh tidak mengetahui identitas kita yang sebenarnya."

"Usul yang bagus, hyung." Eunhyuk berpikir sebentar. "Bagaimana kalau nama samaranku Spencer? Entah kenapa aku suka dengan nama itu."

"Kalau begitu nama samaranku Joshua, dan apa nama tim kita?"

"Molla, aku belum punya ide. Hyung santai saja, anggota timnya kan baru kita berdua. Kalau sudah banyak, baru kita pikirkan bersama."

"Arraseo."

Aigoo… Ternyata kedua orang ini terobsesi menjadi seperti superhero, mereka sampai terbawa suasana begitu -_-

Hankyung melirik arlojinya. "Mwo? Sudah jam delapan? Aku harus pulang sekarang, aku tidak boleh keluar dari rumah melebihi jam setengah sembilan malam. Bagaimana denganmu?"

"Aku belum mau pulang, hyung. Aku masih ingin menikmati live music di sini," jawab Eunhyuk.

"Apa kau menyukai musik? Kelihatannya kau antusias sekali sejak memasuki café ini."

"Ne. Aku suka hal-hal berbau seni, terutama musik dan dance. Mungkin aku mewarisinya dari eommaku yang merupakan seorang pianis. Lagipula aku sudah lama ingin ke sini, tapi baru sekarang aku mendapat teman untuk pergi ke sini. Aku tidak suka pergi sendirian."

Hankyung tersenyum. "Kau tahu? Aku juga langsung jatuh cinta pada café ini saat pertama kali mengunjunginya beberapa hari lalu, suasananya sangat bersahabat dan membuatku betah. Selain itu, café ini juga menyediakan live music untuk menghibur para pengunjung. Dan para pengunjung juga bisa menyumbangkan lagu secara sukarela dengan alat-alat musik itu."

"Hyung benar, aku juga merasa betah di sini."

"Kalau begitu selamat bersenang-senang. Biar aku yang mentraktirmu hari ini, anggap saja sebagai ucapan terima kasihku karena kau mau bergabung."

"Jinjja?! Gomawo, hyung!" pekik Eunhyuk senang, sifatnya yang suka berhemat (alias pelit) akhirnya muncul.

"Cheonmaneyo, Eunhyuk-ah. Oh ya, satu hal lagi." Hankyung mengeluarkan ponsel dari saku celananya. "Boleh aku minta nomor ponselmu? Supaya kita mudah berkomunikasi untuk membicarakan hal ini."

"Tentu saja boleh, hyung." Eunhyuk mengeluarkan ponselnya juga.

Setelah menyimpan nomor ponsel satu sama lain, Hankyung akhirnya pamit, "Sampai ketemu besok di sekolah, Eunhyuk-ah."

Hankyung lalu memanggil Devi dan meminta bill padanya. Setelah menerima bill, namja berkebangsaan Cina itu bangkit dan berjalan menuju kasir untuk membayar pesanan mereka.

Setelah Hankyung benar-benar pergi, Eunhyuk memusatkan perhatian pada pianis yang sedari tadi masih saja bermain. Kini pianis itu memainkan sebuah lagu ballad yang tidak asing di telinga Eunhyuk. Sebuah lagu yang dipopulerkan oleh salah satu anggota Super Junior.

"First Love…" gumam Eunhyuk sambil menatap pianis itu.

Tidak seperti lagu-lagu sebelumnya, pianis itu menyanyikan tiap bait dari lagu itu. Berkat bantuan microphone kecil di kerah bajunya dan speaker di setiap sudut café, suaranya dapat terdengar oleh para pengunjung café.

Dan entah kenapa, Eunhyuk seperti mengenal suara itu. Sayangnya, dia tidak bisa melihat wajah pianis itu karena tertutup oleh piano yang sedang dia mainkan.

Nan geudaemane oppa, geudaen namane yeoja

Hangsang ne gyeote isso julge

Nan geudaemane oppa, dalkomhan uri sarang

Oppan neoman saranghallae

Eunhyuk sampai memejamkan mata menikmati lagu dan suara pianis itu, dia berusaha menghayati tiap lirik lagunya. Walaupun Eunhyuk memiliki lagu aslinya di ponsel, tapi Eunhyuk merasa kalau suara pianis itu tidak kalah merdu dengan penyanyi aslinya.

Saking seriusnya, Eunhyuk sampai kaget saat lagu itu selesai dimainkan. Dia lupa kalau durasi lagu itu memang pendek.

Eunhyuk langsung berdiri dan bertepuk tangan sopan, dia memberikan standing ovation pada pianis itu atas permainannya yang luar biasa. Pengunjung lain ikut bertepuk tangan dan melakukan standing ovation, mereka juga terpukau dengan permainan piano tadi.

Pianis itu bangkit dari kursi pianonya dan menghadap ke arah penonton. Dia lalu membungkuk sembilan puluh derajat. Saat pianis itu mengangkat kepalanya dan tersenyum sopan, Eunhyuk terkejut.

"Lee… Donghae?" gumam Eunhyuk.

.

.

.

TBC

^Author's Note^

Risa datang membawa chap 2~ Dan chukkae buat Cho Devi yang kepilih jadi OC di chap ini! *applause* Risa gak nyangka, ternyata ada yang mau nge-RnR fic Risa yang abal ini. Bener-bener di luar ekspektasi Risa *buang ingus* Gomawo chingudeul! *deep bow* :')

Waktunya bales review! Mianhae kalo gabisa bales semuanya *bow*

cho devi: Udah dilanjut ya, gomawo udah review :3 Ne, kamu bener! Nama kamu udah dijadiin OC ya, gapapa kan kalo ku bikin lebih tua dari mereka? Biar nyambung sama cerita. Chukkae ne~! :D Gelang itu buat… perhiasan! *plak* Udah kejawab belom di chap ini? :)

Me Naruto: Udah Risa lanjut nih, gomawo buat pujian & reviewnya ^ ^ Iya, itu Hankyung gege. Mianhae, kamu belom beruntung kali ini hehehe. Coba lagi di kuis selanjutnya, arra? ^ ^

Guest: Kim Kibum? Masih salah, tapi udah kejawab kan di chap ini? :3 Tenang aja, OCnya gak bakal mendominasi fic kok. Tetep fokus sama Suju oppadeul :)

sweetyhaehyuk: Silahkan dibaca di chap ini, siapa tau mulai ngerti. Kalo masih belom ngerti, berarti Risanya yang masih belom jago nyampein *pundung* ._. Gomawo udah review chingu ^ ^

DebieHY1: Thanks for the review! :D Ne, tapi ada alesannya kok kenapa Eunhyuk oppa jadi galak gitu. Dan clue-nya ada di omongan Sungmin oppa di chap ini

RieHaeHyuk: Ne, itu Han-gege. Tapi kamu kurang cepet jawabnya, mianhae *bow* Soalnya gelang itu titisan UFO makanya melayang *plak* Udah kejawab kan di chap ini? Gomawo for the review :)

reaRelf: Ne, itu Hankyung oppa. Risa juga lagi galau nih nyari gelang kayak gitu tapi gak nemu-nemu, sampe Risa masukin ke fic *pundung* Eunhyuk oppa kan muka Hello Kitty berhati algojo *dicincang Hyuk & Jewels* Makasih udah RnR :D

helloimhhs: Ya ampun sampe speechless gitu X3 Ne, tapi kamu kurang cepet jawabnya. Coba lagi di kuis selanjutnya. Suju oppadeul lengkap semua kok di sini, tapi belom semuanya muncul. Thanks udah review! :3

Park Ji Ra: Annyeong~ Hehehe gomawo buat reviewnya ^ ^ Di sini Minnie jadi satu geng sama Hyukie, Wookie, dan Bummie

nurul. p. putri: Soalnya gelangnya glow in the dark makanya nyala-nyala *duak* Who knows? Makanya baca terus fic ini *promosi* :P Ne, ini udah lanjut. Gomawo! :3

Special thanks to:

cho devi / Me Naruto / Anami Hime / kyukyu / ressijewelll / naomi chan / Fine7 / Kim Ji Yoon / Anonymouss / Guest / sweetyhaehyuk / nyukkunyuk / DebieHY1 / RieHaeHyuk / reaRelf / dhianelf4ever / helloimhhs / Park Ji Ra / nurul. p. putri / hana ryeong9

Also for the Silent Readers and everyone who follow and favorite this fic. I thank you very much! ^ ^

At last, mind to review please? *puppy eyes*