Title : Element Bracelets
.
Author : Ayugai Risa
.
Cast : Lee Hyukjae, Lee Donghae and other Super Junior member (13 + 2)
.
Pair : Haehyuk (Donghae x Eunhyuk) and other Super Junior official couple
.
Rated : T
.
Genre : Fantasy, Romance, Angst, Hurt/Comfort
.
Warning : Yaoi, BL (Boys Love), Boy x Boy, Typo(s), Alur Ngebut, Gak Sesuai EYD
.
Disclaimer : Semua tokoh dalam fic ini bukan punya Risa, Risa cuma minjem nama mereka. Tapi fic ini 100% punya Risa
.
"…" = Talking
'…' = Thinking
.
^^DON'T LIKE DON'T READ^^
.
^^ENJOY READING^^
.
.
"Apa yang aku sampaikan tidak akan sama persis dengan isi perkamen, karena di perkamen ini banyak menggunakan puisi-puisi dan istilah-istilah kuno yang mungkin tidak kalian mengerti. Aku hanya akan merangkumnya saja dengan bahasa yang mudah dipahami," kata Hankyung.
Dia menggeser perkamen itu agar menghadap ke arahnya dan berdeham sekali lagi, Eunhyuk dan Kibum terdiam menunggu penuturan Hankyung.
"Pada zaman dahulu kala di suatu tempat, berdirilah sebuah kerajaan yang dipimpin oleh seorang raja yang arif dan bijaksana beserta permaisurinya. Pada suatu ketika, kerajaan tersebut dilanda kemarau yang berkepanjangan. Akibat dari kemarau tersebut, persediaan air dan bahan pangan di kerajaan itu menipis. Karena keterbatasan kedua benda itu, sebagian rakyat dilanda kelaparan dan penyakit. Tak sedikit dari mereka yang tidak bisa bertahan hidup dan akhirnya meninggal dunia."
Eunhyuk menahan nafas, sementara mata Kibum masih serius menatap Hankyung.
"Raja sudah mencoba segala cara yang ia bisa, mulai dari pembuatan irigasi hingga meminta bantuan ahli sihir istana untuk memanggil hujan, tapi tidak ada satupun yang membuahkan hasil. Pada suatu malam, sang raja mendapatkan mimpi yang aneh. Dalam mimpinya, ia bertemu dengan seekor naga bersisik keemasan."
"Naga?" ulang Eunhyuk.
"Sst!" Kibum menempelkan telunjuknya ke bibir dan mendesis, menyuruh Eunhyuk untuk diam.
Hankyung tersenyum melihat tingkah mereka berdua, lalu melanjutkan kisahnya.
"Naga itu memberikan sebuah kotak berisi tujuh pasang gelang elemen, dan sang raja diperintahkan untuk mengembalikan kondisi kerajaannya dengan menggunakan gelang itu. Tapi ia harus mencari empat belas orang yang dapat menggunakan gelang-gelang tersebut. Raja terjaga dari tidurnya dan mendapati sebuah kotak yang diberikan oleh sang naga dalam mimpinya kini berada di kaki tempat tidurnya. Sang raja langsung berkeliling dunia untuk mencari keempat belas orang itu. Setelah berhasil menemukan semuanya, mereka berusaha mengembalikan kondisi kerajaan dengan ketujuh elemen itu."
"Mianhae, hyung." Kibum tiba-tiba menyela. "Apa di perkamen itu disebutkan apa saja elemennya?"
Hankyung lagi-lagi tersenyum. "Aku baru saja akan menyebutkannya."
"Ketujuh elemen itu adalah air, tanah, udara, tumbuhan, api, kegelapan, dan cahaya. Usaha mereka pun tidak sia-sia, kerajaan mereka pulih hanya dalam waktu tiga hari. Setahun setelah kerajaan kembali normal, permaisuri dari sang raja melahirkan sepasang anak kembar yang keduanya berjenis kelamin laki-laki. Namun sang permaisuri meninggal dunia tak lama setelah melahirkan mereka karena mengalami pendarahan yang parah."
'Kasihan sekali permaisuri itu, dia hanya melihat kedua anaknya sebentar…' Eunhyuk hanya bisa mengomentari dalam hati agar tidak mengganggu konsentrasi Kibum.
"Bertahun-tahun kemudian kedua anak itu tumbuh menjadi pemuda yang tampan, namun kepribadian mereka sangat bertolak belakang. Si sulung sangat suka melakukan tindakan kriminal dan tidak akan segan-segan untuk melenyapkan siapa saja yang menghalangi jalannya, sementara si bungsu suka menolong orang yang membutuhkan bantuannya dengan ikhlas dan tanpa pamrih."
"Mianhae, tenggorokanku kering…" Hankyung berhenti sebentar, lalu meminum teh miliknya.
Eunhyuk dan Kibum juga meminum teh mereka untuk menghilangkan ketegangan, ketiganya meletakkan cangkir secara bersamaan dan kembali serius.
"Lalu sang raja mulai sakit-sakitan karena usianya yang sudah lanjut, ia merasa kalau hidupnya tidak akan lama lagi. Karena itu ia mewariskan kerajaan itu dan gelang elemen kepada kedua putranya, sehingga tiap anak mendapatkan tujuh gelang elemen yang berbeda-beda. Raja itu berpesan supaya keduanya tetap akur dan mengurus kerajaan bersama-sama. Benar saja, selang beberapa hari setelah itu sang raja wafat."
"Kerajaan kini berada di tangan sang anak kembar, mereka juga telah berhasil mengumpulkan kembali para pemilik gelang elemen. Tapi semuanya tidak berjalan sesuai yang diharapkan ayahanda mereka, si sulung memanfaatkan kekuasaannya untuk memeras rakyat dan menyuruh mereka untuk membayar upeti yang sangat mahal. Jika ada orang yang berani membantahnya, ia tidak akan ragu untuk memusnahkan mereka dengan kekuatan gelang elemen."
'Kejam sekali…' batin Eunhyuk.
"Si bungsu tentu saja tidak terima dengan perbuatan kakak kembarnya yang semena-mena terhadap rakyat, ia menantang si sulung untuk mengadu kekuatan gelang elemen yang mereka punya. Dalam pertempuran itu, kedua belah pihak harus bertempur hingga mati. Si sulung menerima tantangan tersebut."
"Mereka bertempur di sebuah padang pasir agar tidak menimbulkan kerusakan pada kerajaan mereka. Si bungsu membuat semacam peraturan, pertempuran diadakan satu lawan satu antar elemen yang sama. Api melawan api, air melawan air, dan begitu seterusnya. Pertempuran akhirnya tak terelakkan lagi, hingga yang tersisa hanyalah kedua anak kembar itu."
"Keduanya bertempur dengan gigih, tidak ada satupun yang berniat untuk mengalah. Sungguh ironis melihat keduanya bertempur, seakan-akan mereka bukanlah saudara. Sampai pada akhirnya, si bungsulah yang memenangkan pertarungan. Setelah berhasil membunuh kakaknya sendiri, tiba-tiba naga yang pernah muncul di mimpi sang raja muncul di hadapan si bungsu."
"Mwo?!" pekik Kibum dan Eunhyuk refleks.
Hankyung berhenti sebentar saat melihat ekspresi kekagetan kedua hoobaenya, lalu kembali bercerita sambil tersenyum.
"Sang naga mengucapkan terima kasih karena sudah menjaga perdamaian kerajaan, walaupun sangat disayangkan karena harus ada pertumpahan darah di antara kedua belah pihak. Ia mengambil kembali kedua kotak gelang elemen dari tangan si bungsu dan berniat untuk menyembunyikannya di belahan bumi yang berbeda, agar peristiwa ini tidak terjadi lagi. Sebagai ucapan terima kasih, sang naga akan mengabulkan tiga permintaan dari si bungsu."
"Setelah berpikir sejenak, akhirnya si bungsu menyampaikan permohonannya pada naga. Pertama, ia ingin agar ketiga belas orang yang terbunuh dalam pertempuran ini dihidupkan kembali. Kedua, ia memohon agar tim kakak kembarnya memiliki kepribadian yang baik setelah dihidupkan kembali. Dan yang ketiga, ia ingin sang naga untuk menghapus ingatan semua orang (termasuk dirinya, si sulung, dan anggota tim dari kedua pihak) mengenai keberadaan gelang elemen dan pertempuran yang telah terjadi."
"Sang naga cukup heran mendengar permintaan si bungsu, lalu dia bertanya mengapa si bungsu tidak meminta untuk menghidupkan kembali kedua orangtuanya yang telah tiada. Si bungsu hanya berkata bahwa kematian kedua orangtuanya adalah hal yang wajar dan tidak bisa dihindari lagi, karena keduanya memang telah berusia lanjut dan semua makhluk di dunia ini pasti akan berpulang pada Tuhan. Lagipula, si bungsulah yang menantang tim kakak kembarnya untuk bertempur mempertaruhkan nyawa."
"Sebelum kehilangan ingatan, si bungsu menuliskan kisah mengenai gelang elemen ini pada dua lembar perkamen dan memasukkannya ke dalam kedua kotak gelang elemen, ia yakin bahwa kerajaannya dan si sulung akan aman dan tentram setelah ini. Lalu ia mengembalikan kotak ini pada sang naga dan mengucapkan selamat tinggal."
"Apa sudah selesai?" tanya Kibum.
Hankyung menggeleng. "Belum. Masih ada satu paragraf lagi, dan kelihatannya ini ditulis oleh sang naga setelah mengabulkan permintaan si bungsu dan menghapus ingatannya. Karena bentuk tulisannya berbeda dengan yang tadi ku baca."
"Jinjja?!" kata Eunhyuk.
"Aku hanya menuliskan ini untuk berjaga-jaga, siapa tahu kedua kotak gelang elemen akan ditemukan oleh kalian, para manusia. Gelang elemen akan bercahaya dan melayang jika tersentuh oleh kulit pemiliknya. Dan jika tim lawanmu sedang menggunakan kekuatannya, ketujuh gelang elemen akan mengeluarkan cahayanya masing-masing. Semakin terang cahayanya, semakin dekat posisimu dengan lawanmu."
Hankyung akhirnya menggulung perkamen tersebut dan memasukkannya dengan hati-hati ke dalam peti tadi. Dia kembali meraih cangkir tehnya dan menghabiskan sisa minuman itu dalam sekali teguk.
"Hanya sampai di situ tulisan yang ada dalam perkamen, ku rasa aku bisa menyimpulkan urutan kejadiannya. Setelah si bungsu selesai menulis, sang naga mengabulkan permintaannya dan segera pergi. Namun sebelum menyembunyikan kedua kotak itu, dia menuliskan paragraf terakhir dalam perkamen ini," tutur namja kelas 12 itu.
"Berarti gelang elemen yang kita miliki tadinya adalah milik tim si bungsu, sementara gelang elemen jahat adalah milik si sulung?" Eunhyuk mencoba mengambil kesimpulan sendiri.
Hankyung mengangguk.
"Jadi… untuk menemukan tim dengan gelang elemen jahat, kita harus terus memantau semua gelang ini?" ulang Kibum.
"Ne. Dan kalau tiba-tiba mereka bercahaya, berarti tim lawan sedang menggunakan kekuatan gelang elemen mereka."
Eunhyuk bertanya, "Hyung pernah mengalaminya?"
Yang ditanya hanya menggelengkan kepala. "Saat peristiwa badai aneh itu terjadi disiarkan di televisi, aku sedang menginap di rumah saudaraku. Dan sejak itu aku selalu membawa kotak gelang itu kemana pun aku pergi untuk berjaga-jaga, tapi kelihatannya tim lawan juga menyadari keberadaanku dan tidak pernah lagi menggunakan kekuatan mereka. Mereka takut ketahuan olehku."
"Memangnya hyung pernah menggunakan kekuatan elemen tanah?" tanya Eunhyuk lagi.
"Bukankah aku sudah pernah bilang padamu, Eunhyuk-ah? Aku pernah membuat tanah di halaman rumahku retak secara tidak sengaja, padahal aku hanya melompat kecil." Hankyung tertawa.
Namja penyuka buah pisang itu menepuk dahinya. "Aku lupa…"
"Apa hyung pernah bertanya dimana pemilik toko barang antik itu menemukan kotak ini?" tanya Kibum tiba-tiba.
"Beliau bilang, beliau menemukan kotak itu saat melakukan ekspedisi seorang diri ke daerah pegunungan yang bersalju. Dia sedang beristirahat di sebuah gua dan menemukan kotak itu tertimbun di bawah bebatuan gua."
Sementara Kibum dan Hankyung asyik membahas soal gelang elemen, Eunhyuk iseng-iseng mengambil kotak berisi gelang elemen dan membukanya.
TRING!
Tanpa ada aba-aba, tiba-tiba ketujuh gelang elemen di dalamnya mengeluarkan cahaya yang berbeda warna secara serempak. Meski tidak terlalu terang, Eunhyuk bisa melihat perubahan yang mendadak itu.
"Bummie! Hyung! Gelangnya bercahaya!" pekik Eunhyuk.
"Omo?!" Hankyung dan Kibum bangkit dari sofa dan bergegas melihat isi kotak yang dipegang Eunhyuk.
"Sepertinya mereka tidak terlalu jauh dari sini… Ppali! Kenakan jubah dan topeng kalian! Pakai gelang masing-masing! Eunhyuk-ah, bawa kotak itu!" titah Hankyung panik.
Setelah menyambar dan mengenakan atribut masing-masing, ketiganya bergegas keluar dari rumah Hankyung dan berlari menuju jalan raya. Rupanya hari sudah mulai gelap, angka di arloji Eunhyuk sudah menunjukkan pukul 18:32 KST.
"Oh ya, sebaiknya kita mulai menggunakan nama samaran jika sedang berada di dekat musuh. Kita harus tetap menjaga identitas asli kita," ujar Eunhyuk mengingatkan. Dia masih saja terobsesi menjadi superhero -_-
.
.
Untung saja jalanan di sekitar rumah Joshua tidak memiliki belokan yang bercabang, sehingga mereka tidak kebingungan untuk mencari jalan. Gelang yang berada di dalam kotak bersinar semakin terang, menandakan bahwa posisi mereka bertiga semakin dekat.
"Apa hyungdeul mendengarnya?" tanya Bryan, nafasnya terengah-engah karena dia berbicara sambil terus berlari.
Joshua dan Spencer otomatis menajamkan telinga mereka, samar-samar mereka mendengar suara benda besar yang patah lalu jatuh berdebam dengan cukup keras. Jaraknya kira-kira sepuluh rumah dari posisi mereka sekarang.
"Suaranya berasal dari taman di ujung jalan ini!" seru Joshua. "Kajja!"
Mereka terus berlari, berlari, dan berlari. Namun mereka langsung disuguhkan oleh pemandangan yang mengerikan begitu menjejakkan kaki di taman itu. Pohon-pohon berukuran sedang tumbang dan saling timpa-menimpa, daun-daun berguguran walaupun ini bukan musim gugur. Bunga-bunga pun layu.
Walaupun langit sudah mulai menggelap, tapi ketiganya dapat melihat sosok dua orang manusia yang sedang duduk di atas salah satu batang pohon yang tumbang. Keduanya memakai jubah berwarna putih dan wajahnya tidak terlihat karena tertutup oleh tudung kepala.
Kedua orang itu nampaknya menyadari kehadiran The Dark Seeker. Keduanya menatap Joshua, Bryan, dan Spencer bergantian lalu turun dari batang pohon yang mereka duduki.
"Rupanya kita berhasil 'mengundang' mereka ke sini," kata salah satu dari mereka yang bertubuh lebih tinggi.
Yang satunya lagi menjawab sambil memainkan setangkai mawar pink. "Ne, hyung benar."
"Nuguseyo? Apa kalian pemilik gelang elemen juga?" tanya Joshua.
Kedua namja tersebut membuka tudung kepala mereka. Ternyata mereka juga menggunakan topeng yang hanya menutupi separuh wajah mereka. Kalau topeng The Dark Seeker terlihat seperti topeng mewah yang digunakan oleh 'Phantom of the Opéra', maka topeng mereka berdua terbuat dari bulu dengan warna yang berbeda.
"Untuk apa kau bertanya lagi? Kalian datang ke sini karena sudah mengetahui keberadaan kami bukan?" ujar namja bertopeng putih dengan sinis.
"Apa kau yang menyebabkan badai di laut Korea belum lama ini?" tanya Bryan.
"Ne, aku tidak bisa membantahnya. Mana mungkin terjadi badai saat cuaca sedang cerah begitu?" Si topeng putih menunjukkan gelang putih yang melingkar di pergelangan tangannya. "Semua itu berkat gelang elemen angin ini."
Spencer menunjuk pohon yang tumbang dan berteriak marah, "Apa yang sudah kalian lakukan pada pohon-pohon di sini?!"
"Dia ingin melihat kekuatan elemen tumbuhan yang baru dia dapatkan, dan aku juga ingin tahu seberapa hebat kemampuannya," jawab si topeng putih sambil melirik partnernya yang bertopeng hijau. "Bukankah begitu, Vincent?"
"Ne. Kau benar, hyung," jawab namja bertopeng hijau bernama Vincent.
"Kami, The Dark Seeker, tidak akan pernah memaafkan perbuatan kalian!" Spencer berteriak geram.
Vincent tidak memperdulikan ucapan Spencer, dia malah bertanya pada si topeng putih, "Bolehkah aku melawan mereka, hyung? Selagi aku mendapat lawan yang juga memiliki gelang elemen."
Dengan tenangnya, si topeng putih mengangguk dan duduk kembali di atas batang pohon yang tadi dia dan Vincent duduki. "Silahkan saja, aku akan mengamati dari sini."
Vincent tersenyum senang, namja itu menggenggam erat mawar pink-nya dan berseru, "Thorn Whip!"
Ajaib, tiba-tiba saja mawar pink Vincent berubah menjadi sulur berduri yang menyerupai cambuk. Vincent mengayun-ayunkan cambuk itu dan menimbulkan bunyi 'ctar' yang memekakan telinga.
"Kalian lihat?" tanya Joshua pada Spencer dan Bryan. "Kalian bisa membuat senjata seperti itu jika ada api atau air di dekat kalian."
"Di sini tidak ada api, hyung! Eotteoke?!" pekik Spencer.
"Enough with the chit-chat, it's show time~" ujar Vincent sambil menjilat sudut bibirnya.
Namja bertopeng hijau itu langsung berlari dan mengayun-ayunkan cambuknya ke segala arah. Untungnya Spencer, Joshua, dan Bryan dapat menghindari cambuk berduri itu.
Joshua lalu memasang kuda-kuda bela diri dan berseru, "Rock Shoes!"
Bebatuan di tanah berkumpul dan saling tumpuk-menumpuk di sepatu sekolah Joshua, sekarang kakinya terlihat seperti mengenakan sepatu yang terbuat dari batu. Dia berlari menerjang Vincent dan mengayunkan kakinya untuk menendang namja bertopeng hijau itu.
"Kau tidak akan bisa melukaiku!" seru Vincent sambil menjentikkan jarinya.
Sebatang pohon berukuran sedang yang sudah tumbang tiba-tiba bergerak sendiri dan berdiri kokoh di antara Vincent dan Joshua. Untung saja Joshua memiliki refleks yang bagus, dia langsung menarik kembali kakinya sebelum sempat membentur pohon tersebut.
"Bagaimana jika aku memerintahkan pohon ini untuk menimpamu?" tanya Vincent dengan nada manis yang dibuat-buat, kemudian dia menjentikkan lagi jarinya.
Mata Joshua membelalak saat menyaksikan pohon yang berdiri kokoh di hadapannya mulai jatuh tepat ke arahnya, tubuhnya tidak bisa digerakkan…
"Joshua hyung!" pekik Bryan.
Namja berelemen air itu berlari sekencang-kencangnya dan mendorong tubuh Joshua sekuat tenaga, tubuh mereka pun terlempar tepat ke samping pohon yang jatuh berdebam ke tanah.
Bryan berdiri dan mengulurkan tangannya pada Joshua, "Gwenchanayo, hyung?"
Saat mencoba berdiri dengan bantuan Bryan, tiba-tiba saja Joshua limbung dan meringis kesakitan.
"Sepertinya pergelangan kakiku terkilir…" erangnya sambil memegang pergelangan kaki kirinya.
"Itu kabar yang bagus, Joshua~"
Joshua dan Bryan langsung menoleh menuju sumber suara, ternyata Vincent sudah berdiri tepat di belakang mereka. Tangannya yang menggenggam Thorn Whip sudah terentang secara horizontal, bersiap untuk mencambuk keduanya dari arah samping.
"Bye bye~" ujar Vincent sambil mengayunkan cambuknya menuju Bryan dan Joshua.
Karena tidak bisa menghindar, keduanya hanya bisa pasrah dan memejamkan mata. Tapi karena keduanya tidak merasakan sakit, mereka membuka matanya perlahan-lahan. Ternyata seorang namja telah berdiri di antara keduanya dan Vincent, tangannya menangkap Thorn Whip milik Vincent.
Dialah Spencer.
"Spencer! Apa yang kau lakukan?!" pekik Joshua.
"Ssh…" Spencer mendesis menahan sakit, telapak tangannya mulai mengeluarkan cairan merah pekat karena tertusuk duri di cambuk itu.
"Wah wah wah, rupanya ada yang sok menjadi pahlawan di sini," ejek Vincent sambil tertawa.
Seketika itu juga ekspresi Spencer berubah. Tidak ada lagi kesan manis pada wajahnya, matanya menatap Vincent tajam seolah-olah ingin menghabisinya di tempat.
"Aku tidak akan pernah memaafkan orang yang berani menyakiti temanku, pabbo." Spencer malah berbalik mengejek, dia melepaskan Thorn Whip dan menjilat darah di telapak tangannya seakan-akan dia vampir.
"Mwo?! Kau bilang apa?!"
"Apa kau tuli? Baiklah, akan ku ulangi sekali lagi karena aku sedang berbaik hati kali ini." Lalu Spencer berkata lambat-lambat, "Kau. adalah. namja. yang. pabbo. Vincent."
"Beraninya kau berkata seperti itu! Rasakan ini!"
Dengan penuh amarah, Vincent berlari menerjang Spencer dan mengayunkan cambuknya ke wajah Spencer. Lagi-lagi Spencer menangkap cambuk berduri itu dengan tangan kosong dan menggenggamnya erat-erat.
Tapi apa yang terjadi? Cambuk yang Spencer pegang mulai mengeluarkan asap dan terbakar! Vincent buru-buru melepaskan cambuk itu supaya tangannya tidak terkena api yang mulai menjalar ke cambuk.
Detik berikutnya, Spencer menangkap senjata Vincent yang telah berubah menjadi cambuk api itu. Dengan nekatnya, dia melilitkan cambuk itu di sekeliling lehernya menjadi seperti syal. Untung saja dia memiliki elemen api, sehingga jubah dan kulitnya tidak hangus terbakar.
"Hot Scarf," kata Spencer tenang.
Tiba-tiba api dari cambuk itu membesar dan menjadi seperti syal yang melilit leher Spencer, mata Spencer ikut memantulkan bara api yang berkobar kemerahan.
"Itu… senjata milik Spencer?" gumam Joshua. "Tapi bagaimana bisa dia menciptakan sendiri api itu?"
Spencer merentangkan telapak tangannya yang masih berdarah menuju Vincent dan berkata, "Serang dia."
Seketika itu juga syal apinya melesat ke arah yang ditunjuk Spencer seperti ular yang memanjang. Karena terlalu cepat dan jaraknya semakin dekat, Vincent tidak sempat melarikan diri dan hanya bisa memejamkan mata dengan pasrah. Elemen tumbuhannya tidak akan bisa menghadapi elemen api milik Spencer.
WUSH!
Tanpa diduga, sebuah angin kencang berhembus melewati wajah Vincent dan berhasil memadamkan Hot Scarf milik Spencer sampai habis tak bersisa. Vincent, Spencer, Joshua, dan Bryan serentak menoleh menuju arah angin itu berasal.
Rupanya teman satu tim Vincent yang bertopeng putih yang membuat angin itu. Dia masih duduk di atas batang pohon, tapi masing-masing tangannya memegang sebuah kipas semi-transparan.
"Maaf karena aku telah merusak kesenanganmu, Spencer," ujarnya santai. "Tapi aku tidak akan membiarkanmu membunuh Vincent secepat itu, jadi aku terpaksa menggunakan Zephyr Fan milikku ini."
Namja itu melompat turun dan berjalan menghampiri Vincent.
"Gomawo, hyung…" gumam Vincent lirih saat namja itu berhenti di sampingnya, Vincent masih syok karena hampir terkena serangan Spencer.
"Ne, cheonmaneyo. Tapi kau jangan senang dulu." Si topeng putih menyunggingkan sebuah senyum sarkastik dan menatap mata Vincent dengan tajam. "Kau akan menerima hukuman karena telah membuatku turun tangan untuk menolongmu, padahal aku berharap kau bisa mengalahkan mereka tanpa bantuanku."
Tubuh Vincent mengejang karena ditatap dan diberi senyuman seperti itu, dia buru-buru membungkuk sembilan puluh derajat pada si topeng putih. "Jeongmal mianhae, hyung. Aku berjanji akan memperbaiki kesalahanku."
Si topeng putih melanjutkan langkahnya, masih dengan senyum sinis. Spencer memasang posisi waspada, siapa tahu namja itu akan menyerangnya. Tapi ternyata orang itu hanya berjalan melewatinya dan berhenti di hadapan Joshua.
Si topeng putih bertanya, "Apa kau pemimpinnya?"
"Kalau iya, kenapa? Apa kau akan membunuhku?" jawab Joshua dengan nada menantang.
"Tentu saja tidak, aku bukanlah namja yang memanfaatkan kesempatan dalam kesempitan. Aku tidak akan bertarung dengan kondisi tidak seimbang di salah satu pihak." Namja itu terkekeh. "Kita akan bertemu lagi lain kali. Sampai saat itu tiba, pastikan bahwa kakimu sudah sembuh."
Namja bertopeng putih itu menarik tangan Vincent dan menjauhi ketiga anggota The Dark Seeker, tapi dia berhenti dan berbalik menatap mereka bertiga lagi.
"Nama tim kalian The Dark Seeker, eoh? Nama timku adalah Conquistadores, dan namaku sendiri adalah Dennis Park. Ingat itu baik-baik saat kita bertemu lagi," ujarnya.
Sebuah angin kencang tiba-tiba berhembus di taman itu, membuat dedaunan di tanah berterbangan mengelilingi mereka. Keduanya menghilang bersamaan dengan perginya angin itu.
.
*SKIP TIME*
.
Setelah melewati perjuangan yang cukup panjang dengan menopang tubuh Hankyung bersama-sama, akhirnya Kibum dan Eunhyuk berhasil mengantar Hankyung pulang ke rumahnya. Mereka bertiga kini sedang berdiskusi mengenai kejadian tadi di kamar Hankyung, sekaligus mengobati luka yang diderita masing-masing.
"Kemana perginya mereka berdua tadi? Bagaimana bisa mereka menghilang begitu saja?" tanya Eunhyuk sambil melilitkan perban ke telapak tangannya yang terluka, sebelumnya dia sudah mengoleskan antiseptik ke luka itu agar tidak terjadi infeksi.
Hankyung meringis kesakitan saat Kibum menempelkan kompres basah dan dingin ke pergelangan kakinya. Hankyung lalu berkata, "Mereka berteleportasi. Sama seperti senjata, kau bisa melakukannya jika ada elemen yang kau kuasai di dekatmu. Tapi bagaimana kau bisa membuat syal api itu, Eunhyuk-ah? Padahal di dekat situ tidak ada api."
"Molla. Tapi saat menggunakan gelang itu, tubuhku menjadi lebih panas seperti sedang demam. Mungkin dari panas itulah aku bisa membuat api." Spencer menjawab sambil menempelkan punggung tangannya yang tidak terluka ke dahi. "Sekarang sih sudah tidak panas lagi."
"Conquistadores… Kalau tidak salah itu bahasa Spanyol yang berarti 'Penakluk'," kata Kibum.
Hankyung berujar, "Kita harus bergerak cepat, sebisa mungkin kita kumpulkan pemilik gelang yang tersisa dan menghentikan mereka agar tidak membuat kerusakan lagi."
Kedua hoobaenya mengangguk.
.
*SKIP TIME*
.
Begitu sampai di kamar tidurnya, Eunhyuk langsung melempar tubuhnya ke atas kasur dan menghela nafas. "Untung saja besok hari Sabtu, aku tidak tahu apa reaksi Minnie dan Wookie saat melihat tanganku ini begitu masuk sekolah." Eunhyuk menatap tangannya muram. "Mereka pasti akan penasaran dan menginterogasiku."
'Dennis Park dan Vincent, sebenarnya siapa mereka?' batin Eunhyuk.
Karena terlalu lelah memikirkan hal itu, akhirnya Eunhyuk memutuskan untuk mematikan lampu kamarnya dan tertidur tak lama setelahnya.
.
.
.
TBC
^Author's Note^
Ya ampun, padahal Risa cuma author yang newbie dan ini fic perdana Risa, tapi respon dari readerdeul ternyata positif. Gomawo chingudeul~ :* ({}) :')
Huft, susah ya jadi anak kelas 12… Apalagi sekarang lagi pekan ulangan, Risa jadi gak sempet nyentuh laptop gara-gara belajar mulu. Jangankan nyentuh laptop, melamun pun Risa gak sempet *lebay*
Akhirnya tim yang jahat muncul, walopun baru dua orang sih. Di sini Suju oppadeul pake Western Name mereka buat nama samaran, jadi silahkan search di Google kalo masih bingung atau belom hafal. Tapi aku bingung nih, apa ya nama samaran buat Henry-gege sama Mimi-gege? ._.
Gimana adegan berantemnya? Pasti kurang mendebarkan dan gak sesuai harapan readerdeul, abis Risa gak pernah berantem sih (?) Mianhae chingu T_T
Okay, stop blabbering. It's time for me to reply the reviews~
nyukkunyuk: Wah ketauan nih suka kekerasan, makanya langsung merapat *plak* Gomawo udah review :3
myhyukkiesmile: Bangapseumnida chingu, review fic ini terus ya~ ^^ Di chap ini udah ketauan belom Sungmin oppa masuk tim jahat atau baik? :) Makasih udah RnR~
reaRelf: Tenang aja, di sini Suju oppadeul keluar satu-satu. Pelan tapi pasti (?) Thanks for the review! :D
Kim Ji Yoon: Yang ketemu Minnie? Tuh jawabannya ada di chap ini :3 Dapet kok, Suju oppadeul dapet gelang semua. Chap ini udah Risa usahain supaya lebih panjang ya, gomawo Jiji~ ^^
Kim Sang Ri: Emang fic ini termasuk Suspense ya? Risa bahkan belom terlalu bisa nentuin genre ._. Maaci udah review! :)
nurul. p. putri: Ne, cheonmaneyo :3 Yang Han-gege bawa ada 7, kalo sama yang gelang jahat jadinya 14. Baik 7, jahat 7 :D
hana ryeong9: Yang 7 orang masuk kelompok jahat, terus nanti Shindong oppa punya peran sendiri. Bisa gak ya~? *dzig* Nanti bakal kejawab entah di chap berapa. Gomawo! ^^
Anonymouss: Pasti namja lah, masa iya yeoja nekat masuk ke toilet namja? -_- So pasti salah satu dari Suju oppadeul dong yang ngasih, dan udah kejawab kan siapa orang itu? Jawabannya ada di chap ini :3
ressijewelll: Geng narsis isinya cowok-cowok ganteng (dan seme). Kibum gak termasuk kok, kan dia lagi di perpus waktu itu ;)
indahpus96: Emang ficnya ngumpet ya? Kok baru ketemu? XD *duak* Ne, gomawo chingu! ^^
Million thanks for:
nyukkunyuk / myhyukkiesmile / Chwyn / futari chan / reaRelf / Kim Ji Yoon / dhianelf4ever / Kim Sang Ri / Anami Hime / nurul. p. putri / Arit291 / hana ryeong9 / Me Naruto / kyukyu / Anonymouss / ressijewelll / indahpus96
Also for the Silent Readers and everyone who follow and favorite this fic. Thank you for your appreciation! ^^
Akhir kata, boleh Risa minta review dari readerdeul? Gak baik lho jadi Silent Reader terus (?) Lagian Risa gak bakal gigit (?) kalian kok, jebal~ *aegyo bareng Hyukie & Minnie*
