Title : Element Bracelets
.
Author : Ayugai Risa
.
Cast : Lee Hyukjae, Lee Donghae and other Super Junior member (13 + 2)
.
Pair : Haehyuk (Donghae x Eunhyuk) and other Super Junior official couple
.
Rated : T
.
Genre : Fantasy, Romance, Angst, Hurt/Comfort
.
Warning : Yaoi, BL (Boys Love), Boy x Boy, Typo(s), Alur Ngebut, Gak Sesuai EYD
.
Disclaimer : Semua tokoh dalam fic ini bukan punya Risa, Risa cuma minjem nama mereka. Tapi fic ini 100% punya Risa
.
"…" = Talking
'…' = Thinking
.
^^DON'T LIKE DON'T READ^^
.
^^ENJOY READING^^
.
.
Sinar matahari di Sabtu siang berhasil menyusup masuk ke kamar tidur milik seorang Lee Hyukjae melalui sela-sela jendela, cahaya yang cukup menyilaukan itu berhasil membangunkan sang pemilik kamar dari tidur malamnya.
Eunhyuk melirik jam wekernya, ternyata sudah pukul 11:57 waktu Korea Selatan. Karena ini hari Sabtu, Eunhyuk tidak perlu panik karena dia selalu bangun lebih siang saat libur sekolah. Namja itu bangkit dari kasurnya dan berjalan menuju kamar mandi.
Setelah berdiri di depan cermin, Eunhyuk menatap pantulan dirinya yang berwajah kuyu dengan rambut awut-awutan. Dia mengangkat tangan kirinya yang diperban dan menggerakkannya beberapa kali.
"Ternyata kejadian semalam bukan mimpi, bahkan aku masih bisa merasakan sakitnya hingga sekarang," gumamnya pada diri sendiri.
Eunhyuk memulai aktivitas paginya dengan mandi, mencuci muka, keramas, menyikat gigi, dan segala kegiatan basuh-membasuh-tubuh-menggunakan-air. Sesekali dia menyenandungkan lagu-lagu favoritnya di sela-sela acara mandi.
Sekitar tiga puluh menit kemudian, Eunhyuk keluar dari kamar mandi dengan tubuh terbalut dengan bathrobe berwarna biru tua. Dia berjalan menuju lemari pakaian sambil mengeringkan rambutnya yang basah menggunakan handuk.
Naega saranghan S.P.Y.
Geunyeoreul jjocha day and night
Sumi teok kkeutkkaji cha wa
Geunyeoreul gyeoneun geu sun ga-ga-ga-ga-ga-gan
Ponsel Eunhyuk berdering tatkala pemiliknya baru saja selesai mengenakan celana boxer bermotif pisang kesayangannya. Tanpa mengenakan pakaian lain terlebih dulu, Eunhyuk langsung mengambil benda elektronik yang tergeletak di dekat jam weker dan menempelkannya di telinga.
"Yeoboseyo?" kata Eunhyuk memulai percakapan.
"Ne, yeoboseyo. Apa benar ini nomor ponsel Lee Hyukjae?" jawab orang di seberang telepon Eunhyuk, sepertinya orang itu adalah namja.
"Ne, nuguseyo?"
Lawan bicara Eunhyuk menghela nafas lega. "Ini aku, Donghae."
DEG!
Jantung Eunhyuk melewatkan satu debarannya saat mengetahui siapa namja yang meneleponnya itu.
"Donghae-ya? Ada apa kau meneleponku siang-siang begini?" Eunhyuk berusaha menenangkan diri supaya Donghae tidak mendengar nada gugup dari suaranya.
"Ngg… Apa kau sibuk hari ini?"
Eunhyuk mencoba mengingat-ingat apa saja yang akan dia kerjakan hari ini. "Sepertinya tidak, waeyo?"
"Ada film bagus yang akan diputar perdana hari ini. Aku ingin sekali menontonnya tapi tidak tahu siapa yang harus ku ajak untuk menonton bersama, dan tiba-tiba kaulah orang pertama yang terlintas di benakku. Jadi… maukah kau pergi bersamaku?" ajak Donghae.
"Pe… pergi denganmu?" ulang Eunhyuk tidak percaya.
"Ne, apa kau keberatan?"
"A… ani. Baiklah, aku akan pergi denganmu." Eunhyuk mendadak gagap.
"Bagus! Kalau begitu kau akan ku jemput di rumahmu pukul satu siang, karena aku sedang berada di rumah temanku yang tidak jauh dari sana. Segeralah bersiap-siap dan sampai ketemu nanti, Hyukkie~"
Setelah Donghae menutup teleponnya, Eunhyuk melompat-lompat girang seperti anak kecil. Suasana hatinya menjadi cerah sekali karena beberapa alasan, kenapa?
Karena suara pertama yang dia dengar hari ini adalah suara dari orang yang dia sukai, bukankah itu sangat indah? Lalu Donghae mengatakan kalau Eunhyuk-lah orang pertama yang terlintas di benaknya saat ingin mengajak orang lain untuk menonton film itu. Dan walaupun terkesan aneh karena melibatkan dua orang namja, tapi ini bisa dibilang kencan bukan?
Setelah lelah melompat-lompat, Eunhyuk melirik jamnya dan memekik tatkala melihat angka 12:40 telah tertera di jam wekernya. Dia kembali menghambur ke lemari pakaiannya untuk memilih baju mana yang cocok untuk dia pakai saat 'kencan' nanti. Tapi aktivitasnya terhenti sejenak ketika dia menyadari suatu hal yang cukup ganjil mengenai Donghae.
"Kenapa Donghae bisa tahu nomor ponsel dan alamat rumahku? Aku kan tidak pernah memberitahunya," gumamnya bingung.
.
.
"Eotteoke? Apa dia menerima ajakan hyung?" tanya Kyuhyun begitu melihat Donghae sudah menaruh ponselnya di saku.
Bukannya menjawab pertanyaan Kyuhyun, Donghae malah langsung memeluk hoobae yang sedang duduk di sampingnya itu.
"Hyung, lepaskan pelukanmu yang menjijikan ini! Yang boleh memelukku hanyalah Minnie hyung." Kyuhyun meronta-ronta mencoba melepaskan diri dari pelukan Donghae.
Donghae mengabulkan permintaan Kyuhyun dan tertawa gelak-gelak saat Kyuhyun langsung menjauhi dirinya dan bersembunyi di belakang punggung Sungmin. Sungmin mengelus rambut Kyuhyun untuk menenangkan namjachingunya itu, membuat Risa bertanya-tanya siapa sebenarnya yang seme dan uke dalam hubungan mereka -_-
"Tapi aku benar-benar berterima kasih pada kalian karena sudah membantuku membuat rencana ini dan memberiku nasihat, bahkan Sungmin sampai memberikan nomor ponsel Hyukkie dan alamat rumahnya untuk memperlancar rencana ini," ujar Donghae sambil memberikan senyumnya yang paling tulus. "Ternyata tidak sia-sia aku meminta bantuan kalian, jeongmal gomawo."
"Cheonmaneyo, Donghae-ya. Tidak ada salahnya membantu namja yang sedang kasmaran, bukankah begitu chagi?" ujar Sungmin sambil melirik Kyuhyun.
Sebagai balasannya, Kyuhyun memeluk Sungmin dari belakang. "Ne, Minnie hyung benar. Tapi aku sedikit heran, hyung baru beberapa hari pindah ke SM tapi langsung menyukai Eunhyuk hyung. Apa hyung jatuh cinta pada pandangan pertama dengannya?"
"Molla, awalnya aku hanya penasaran karena dia tidak memperhatikanku saat pertama kali memperkenalkan diri di kelas. Tapi lama kelamaan, rasa penasaran itu berubah menjadi rasa suka. Walaupun ini sedikit aneh, karena dia juga namja sepertiku." Donghae mengangkat bahunya.
"Aku mengerti bagaimana perasaan hyung." Kyuhyun mengangguk-angguk paham.
Setelah Kyuhyun berkata demikian, Donghae melirik arlojinya yang sudah menunjukkan pukul 12:55 dan beranjak dari sofa ruang tamu Sungmin yang sedari tadi mereka bertiga duduki.
"Kau sudah mau berangkat, Donghae-ya?" tanya Sungmin.
"Ne, tapi aku mau berkaca dulu untuk mengecek penampilanku. Di mana cerminnya?"
"Ada di dalam kamar tidurku." Sungmin mengedikkan kepalanya ke arah sebuah ruangan yang pintunya setengah terbuka.
Donghae melangkahkan kakinya ke sana dan sedikit terkejut melihat pemandangan yang tersaji di hadapannya, warna pink mendominasi kamar Sungmin dan sebuah boneka kelinci seukuran anak kecil terduduk di sebelah cermin yang dia tuju. Donghae bergidik melihat semua itu.
"Donghae hyung, gwenchanayo? Aku baru ingat kalau kau tidak suka dengan warna pink, padahal kamar Minnie hyung penuh dengan warna pink." Donghae bisa mendengar seruan Kyuhyun dari ruang tamu.
"Jinjja? Mianhae, Donghae-ya. Aku tidak tahu kalau kau tidak suka warna pink, gwenchanayo?" Sungmin ikut mencemaskan Donghae.
"Ne, gwenchana," jawab Donghae. Dia tidak mau kelihatan lemah di mata Kyuhyun dan Sungmin, lagipula dia hanya ingin bercermin sebentar.
Beberapa detik kemudian, Kyuhyun datang menghampiri Donghae. Donghae menautkan alisnya melihat keanehan ini, sejak kapan Kyuhyun mengkhawatirkannya sampai seperti ini?
Seakan bisa membaca pikiran Donghae, Kyuhyun berkata, "Minnie hyung yang menyuruhku untuk menemani hyung, lagipula aku tidak mau hyung melakukan sesuatu pada kamar ini," tambahnya sambil memberikan deathglare gratis pada Donghae.
"Aku tidak akan mengobrak-abrik kamar ini, tenang saja."
Donghae menatap pantulan dirinya di cermin dan mulai menyisir rambutnya dengan sisir pribadinya, sementara Kyuhyun sibuk melihat suatu benda yang tergeletak di meja belajar Sungmin.
Setelah selesai mengamati penampilannya dari ujung rambut hingga ujung kaki, Donghae keluar dari kamar itu dengan diikuti oleh Kyuhyun di belakangnya. Donghae mengambil tas dan jaketnya yang masih tertinggal di sofa.
"Hwaiting, hyung. Semoga rencananya berjalan dengan baik!" Kyuhyun menepuk pundak Donghae untuk memberi semangat.
"Kami akan mendoakanku dari sini, Donghae-ya."
"Ne. Gomawo atas bantuan kalian, Sungmin-ah, Kyuhyun."
Setelah selesai mengikat tali sepatunya, Donghae melambaikan tangan dan menaiki mobil sport hitam miliknya. Setelah mobil Donghae keluar dari garasi Sungmin yang cukup luas, Kyuhyun berbalik menghadap Sungmin.
"Ada yang ingin aku tanyakan padamu, hyung," tanya sang magnae dengan wajah serius.
"Mwo? Kau mau tanya apa, Kyu?"
Kyuhyun menarik tangan Sungmin dan mengajaknya ke kamar namjachingunya itu, kemudian Kyuhyun menunjuk tiga buah gelang karet yang dia amati saat menemani Donghae tadi. Masing-masing dari gelang itu berwarna biru, hitam, dan hijau.
"Apa ini gelang milikmu, hyung? Aku baru kali ini melihatnya." Kyuhyun bertanya, terselip nada curiga dalam nada bicaranya.
"Itu gelang pemberian temanku, dia datang bertamu ke sini tadi malam dan memberikan gelang-gelang itu padaku." Sungmin menjawab dengan santai, dia lalu menelusuri wajah Kyuhyun dengan jari telunjuknya. "Tenang saja, chagi. Aku tidak akan pernah berpaling darimu selamanya."
Mata Kyuhyun terpejam menikmati sentuhan memabukkan dari Sungmin, orang yang telah menjadi namjachingunya selama kurang lebih enam bulan ini. Setelah Sungmin menurunkan tangannya, barulah dia membuka mata.
"Ne, aku percaya pada hyung." Kyuhyun lalu mengambil gelang berwarna biru. "Tapi kenapa tidak ada yang berwarna pink? Apa teman hyung tidak tahu kalau hyung suka dengan warna pink?"
"Molla, mungkin stok gelang yang berwarna pink sudah habis." Sungmin tertawa kecil.
Setelah puas meraba dan melihat, Kyuhyun meletakkan gelang biru dan mengambil gelang yang berwarna hitam. Tapi sesuatu yang aneh terjadi, cahaya hitam terpancar dari gelang itu dan benda mati itu melayang seperti sebuah UFO.
Kyuhyun menatap Sungmin kaget bersamaan dengan jatuhnya gelang itu ke lantai, tapi yang ditatap malah menyunggingkan senyum manis yang entah kenapa terkesan mengerikan. Sungmin mendekati Kyuhyun dan mengecup bibir merah sang namjachingu, tidak lupa menyelipkan sedikit lumatan lembut di dalamnya.
Kyuhyun sedikit tersentak melihat tindakan Sungmin yang tidak seperti biasanya itu, Sungmin tidak pernah seagresif ini sebelumnya. Meski begitu, Kyuhyun membalas lumatan Sungmin dan memeluknya erat.
"Aku tidak menyangka kalau kau juga pengguna elemen, Kyu. Selamat bergabung dengan Conquistadores." gumam Sungmin setelah keduanya selesai berciuman.
.
.
"Kenapa Donghae belum juga tiba? Katanya rumah temannya tidak jauh dari sini…" gumam Eunhyuk sambil menghela nafas.
Sudah sekitar dua puluh lima menit dia meringkuk di atas sofa sambil menonton acara di televisi, walaupun pikirannya melayang entah kemana. Sekarang sudah pukul 13:11, sudah lewat sebelas menit dari waktu yang dijanjikan Donghae.
Padahal Eunhyuk sudah mengerahkan penampilan terbaiknya khusus untuk hari ini. Dia mengenakan kaus biru, jaket berbahan denim warna putih, celana hitam, serta sepatu putih. Arloji perak yang pernah dia pakai saat di Alto Café juga melingkar di pergelangan tangannya yang tidak diperban.
Dia berjengit saat ponselnya berdering keras dan menampilkan nama 'Lee Donghae' di layarnya, secepat kilat Eunhyuk mengeluarkan ponselnya dari saku.
"Yeoboseyo?" sapa Donghae dari seberang telepon.
Bukannya menjawab dengan ramah, Eunhyuk justru melampiaskan kekesalannya pada Donghae. "Kenapa kau belum juga datang, pabbo?! Aku sudah menunggumu dari tadi…"
Eunhyuk membiarkan saja air matanya tumpah dan isakan kecil keluar dari bibirnya. Biarlah Donghae mendengarnya, biarlah Donghae tahu apa yang dia rasakan saat ini. Donghae tidak tahu betapa lelahnya Eunhyuk menunggu kedatangannya…
"Hyukkie, kau menangis?" tanya Donghae.
Eunhyuk masih terus menangis dan tidak mengatakan apapun.
"Mianhae, Hyukkie. Maaf aku telah membuatmu menangis…" Donghae terdengar menyesal. "Sebagai permintaan maafku, bisakah kau pergi ke luar garasi sekarang? Sebentar lagi aku akan tiba di rumahmu."
Eunhyuk mematuhi perkataan Donghae tanpa memutuskan teleponnya. Dia mengantungi dompetnya yang tergeletak di lantai dan berjalan sambil menghapus air matanya dengan susah payah, dia tidak ingin satpam keluarganya melihat matanya yang sembab.
Ternyata satpamnya sedang tidak berjaga di pos, sehingga Eunhyuk terpaksa membuka gerbang rumahnya dengan tangan sendiri. Setelah melewati pagar rumah, langkah Eunhyuk terhenti begitu melihat apa yang ada di hadapannya.
Donghae bersandar dengan santai pada sebuah mobil sport hitam yang kelihatannya adalah milik namja itu, tangan kirinya masih menyangga ponsel yang tertempel di telinga.
Tapi yang membuat Eunhyuk membeku seketika adalah sebuket mawar merah yang tergenggam di tangan Donghae yang satunya, senyuman tulus dari lubuk hati yang paling dalam, dan tatapan teduh yang bisa membuat siapapun yang menatapnya terenyuh.
Donghae menjejalkan ponselnya ke dalam saku dan menyodorkan buket bunga mawar itu pada Eunhyuk. "Mianhae, Hyukkie. Entah sudah keberapa kalinya aku membuatmu kesal dan menangis, dan entah sudah berapa kali aku memohon maaf padamu. Tapi ku mohon, maafkanlah aku."
Eunhyuk lagi-lagi tidak bisa membendung air matanya, tapi kali ini yang keluar adalah air mata terharu. Dia mengambil buket bunga itu dan menghirupnya dengan mata terpejam, aroma segar menguar dari bunga-bunga itu.
"Tentu saja aku akan memaafkanmu, Hae."
Donghae menghela nafas lega karena Eunhyuk mau memaafkannya, dan dia juga senang mendengar Eunhyuk memanggilnya 'Hae'. Itu termasuk sebuah kemajuan dalam hubungan mereka bukan?
"Kajja, kita berangkat." Donghae membukakan pintu mobilnya dan mempersilahkan Eunhyuk untuk masuk. Khusus untuk hari ini dia akan memanjakan Eunhyuk bagaikan seorang putri, walaupun sebenarnya Eunhyuk adalah namja.
Setelah Eunhyuk duduk dengan nyaman, Donghae menutup pintu untuknya dan masuk ke kursi pengemudi. Setelah keduanya memasang sabuk pengaman dengan benar, Donghae pun menjalankan kendaraannya menuju destinasi mereka.
.
.
Donghae memutuskan untuk menggunakan jasa valet parking yang disediakan oleh mall tujuan mereka karena di sana selalu ramai setiap hari libur dan pasti akan sulit sekali untuk mencari tempat parkir.
Donghae mengajak Eunhyuk untuk turun dari mobil dan dia memberikan kunci mobilnya pada petugas valet yang sudah siap menjalankan tugas. Setelah petugas valet itu membawa mobil Donghae untuk diparkir, Donghae dan Eunhyuk melenggang masuk ke dalam mall.
Bagaimana dengan buket bunga mawar yang diberikan oleh Donghae? Apakah mereka membawanya ke dalam mall? Tentu saja tidak -_-
"Sekarang kita mau ke mana, Hae?" tanya Eunhyuk.
"Apa kau sudah lapar? Kalau iya, sebaiknya kita makan siang dulu," usul Donghae. "Tenang saja, aku yang traktir."
"Mwo? Tidak usah repot-repot, Hae," jawab Eunhyuk (pura-pura) sungkan, dia tidak mau terlihat materialistis di depan Donghae.
"Gwenchana, anggap saja ini sebagai permintaan maafku padamu."
"Ngg… Gomawo, Hae, tapi aku masih belum lapar. Memangnya filmnya dimulai jam berapa?"
"Molla, apa sebaiknya kita pergi menonton dulu? Lagipula kita tidak tahu kapan jadwal pemutarannya dan belum membeli tiketnya juga. Eotteoke, Hyukkie?"
"Hmm…" Eunhyuk berpikir sebentar. "Baiklah, kajja."
"Padahal aku yang mengajakmu pergi, tapi kenapa malah kau yang jadi bersemangat seperti itu? Aish, kau ini menggemaskan sekali, Hyukkie." Donghae tertawa dan mencubit pipi Eunhyuk gemas.
Eunhyuk menggembungkan pipi dan mempout bibirnya, membuat Donghae semakin gemas dan ingin sekali mencium bibir itu. Tapi niat itu dia urungkan karena mereka sedang berada di tempat umum.
"Kajja, Hyukkie." Donghae tiba-tiba menggandeng tangan Eunhyuk yang tidak diperban dan mengajaknya berjalan beriringan.
"Mwo?!" Wajah Eunhyuk memerah karena perlakuan Donghae yang mendadak itu, tapi untungnya Donghae tidak melihat.
Mereka berjalan menyusuri mall sambil bergandengan tangan seperti sepasang kekasih, walaupun keduanya sama-sama namja dan sesekali mendapat tatapan aneh dari pengunjung mall yang berpapasan dengan mereka.
"Oh iya, ada yang ingin ku tanyakan padamu sejak tadi," celetuk Donghae sambil terus berjalan.
"Kau mau tanya apa, Hae?"
"Ada apa dengan tanganmu? Saat pulang sekolah kemarin sepertinya tanganmu masih baik-baik saja."
Eunhyuk mendadak salah tingkah ketika ditanya seperti itu. "Itu… semalam tanganku tersayat pisau saat membantu eomma memasak."
Jawaban Eunhyuk tadi dibalas oleh Donghae dengan anggukan paham, untungnya dia tidak curiga sama sekali.
Oh Tuhan, maafkan Eunhyuk yang terpaksa membohongi Donghae. Dia tidak mungkin mengatakan bahwa luka itu disebabkan karena menahan cambuk dari sulur berduri yang diayunkan oleh Vincent bukan?
Sesampainya mereka di lobi bioskop, Eunhyuk terkaget. Dia memang sudah menduga kalau mall ini akan ramai di hari libur, tapi dia sama sekali tidak mengira bahwa bioskop akan dipenuhi oleh lautan manusia seperti ini.
Nafas Eunhyuk mulai memburu, otaknya dipenuhi bayangan-bayangan negatif yang sama sekali tidak menyenangkan, jantungnya berpacu lebih cepat, bahkan dia terpaksa melepaskan genggaman tangannya dari Donghae dan mulai memeluk tubuhnya yang gemetar hebat.
Aish, Eunhyuk benar-benar tidak suka berada dalam situasi seperti ini. Sebagai serang namja, dia tidak suka terlihat lemah di depan orang lain, apalagi saat sedang 'kencan' seperti ini. Lagipula sejauh ini baru Sungmin dan kedua orangtuanya yang mengetahui 'kelemahannya' dan Eunhyuk tidak ingin Donghae mengetahuinya juga. Kalau Donghae sampai tahu, pasti namja itu akan menertawainya atau bahkan menjauhinya.
Padahal Eunhyuk tidak ingin Donghae jauh-jauh dari dirinya.
"Hyukkie, gwenchanayo?" tanya Donghae cemas, dia kaget karena tiba-tiba Eunhyuk melepaskan diri dari genggamannya.
Eunhyuk menggeleng, dia tidak sedang baik-baik saja sekarang.
"Sepertinya aku akan duduk saja, aku akan menunggumu di sana," ujar sang ketua kelas sambil menunjuk satu-satunya kursi tunggu yang kosong, nada suaranya seperti orang yang ingin menangis.
Donghae baru menyadari sesuatu setelah melihat sekeliling mereka, perubahan sikap Eunhyuk dan kondisi namja yang sedang ketakutan itu. Dia bertanya, "Hyukkie, apa kau mempunyai agoraphobia?"
Begitu mendengar ucapan terakhir Donghae, Eunhyuk menatap manik mata namja itu lekat-lekat. Dia tidak percaya bahwa Donghae bisa mengetahui gejala dari orang yang memiliki agoraphobia seperti dirinya.
Setelah Eunhyuk merasa yakin dengan keputusannya, dia pun mengangguk pelan.
~Author POV End~
.
.
~Eunhyuk POV~
"Kenapa kau tidak bilang dari awal?" tanya Donghae gusar.
Tanpa diduga, Donghae melingkarkan tangannya ke pundakku dan kami mulai mengantri di belakang lautan manusia yang juga ingin membeli tiket.
"Orang yang memiliki agoraphobia tidak boleh dibiarkan sendirian dalam keramaian, minimal dia harus bersama dengan orang yang dia kenal. Aku akan terus menemanimu dan menjagamu supaya kau tetap merasa aman dan tenang. Kalau kau takut, peluklah pinggangku seerat mungkin," ujarnya.
Lagi-lagi aku terkejut mendengar ucapan namja di sebelahku ini, aku benar-benar tidak menyangka kalau dia memiliki sedikit pengetahuan mengenai agoraphobia. Ternyata keputusanku benar untuk memberitahukan rahasia ini padanya.
Aku mengeratkan pelukanku di pinggangnya tanpa malu-malu lagi. Biarlah orang menatap kami dengan aneh, yang penting aku bisa merasa aman dan menghilangkan sedikit ketakutanku.
"Ada yang bisa saya bantu?" tanya petugas penjual tiket begitu kami tiba di barisan paling depan.
Donghae menyebutkan judul film yang akan kami tonton dan jarinya membentuk huruf V saat petugas itu menanyakan jumlah tiket yang akan kami beli, aku tidak terlalu mendengarkan percakapan singkat mereka karena pikiranku masih sedikit kalut dan melayang entah kemana.
"Film akan dimulai lima belas menit lagi, apa kau ingin membeli makanan ringan untuk menonton nanti?" tanya Donghae setelah menyelesaikan transaksi berhasil keluar dari antrian.
"Aku ingin popcorn karamel dan strawberry soda."
Kami pun berjalan beriringan menuju konter penjualan makanan yang tidak seramai konter penjualan tiket, masih sambil berpelukan erat.
"Ahjumma, kami ingin membeli satu popcorn karamel berukuran large, satu strawberry soda, dan satu cappuccino." Donghae menyampaikan pesanannya pada wanita paruh baya yang menjaga konter penjualan makanan tersebut.
Dengan cekatan, wanita itu menyiapkan pesanan kami. Saat memberikan pesanan itu dan menerima uang Donghae, dia bertanya, "Apa kalian sepasang kekasih yang sedang berkencan?"
Donghae dan aku membelalak kaget dengan wajah semerah tomat, kami sama sekali tidak menyangka kalau pertanyaan seperti itu akan meluncur dari wanita paruh baya di depan kami.
Wanita itu menambahkan sambil tersenyum ramah, "Tenang saja, aku sudah sering melihat pasangan seperti kalian. Aku tahu tentang perkembangan anak muda zaman sekarang."
"Ne, dia namjachinguku," jawab Donghae.
Aku langsung menoleh ke arah Donghae hanya karena jawabannya yang tak kalah mengagetkan itu, sementara wanita paruh baya itu tersenyum sambil memberikan uang kembalian pada Donghae.
Kami berjalan masuk ke dalam bioskop tanpa mengucapkan sepatah kata pun, lengan Donghae masih terkalung di pundakku dan tanganku masih memeluk erat pinggangnya.
Setelah mendengar jawaban Donghae tadi, entah kenapa aku merasakan beribu-ribu kupu-kupu beterbangan di dalam perutku. Perasaan takut dan kalut tergantikan oleh perasaan senang yang tidak terkira.
Aku sengaja untuk tidak mempertanyakan kebohongan Donghae itu, karena aku takut dia mengatakan itu karena terpaksa. Biarlah makna dari perkataan itu menjadi misteri antara dirinya dengan Tuhan.
Apakah aku boleh berharap? Semoga ucapan Donghae benar-benar menjadi kenyataan dan bukanlah sekedar kebohongan belaka.
~Eunhyuk POV End~
.
*SKIP TIME*
.
~Author POV~
Film akan habis kurang lebih lima belas menit lagi, makanan serta minuman yang Donghae dan Eunhyuk sudah tinggal separuhnya.
"Hae, kenapa kau membeli popcorn karamel berukuran besar?" tanya Eunhyuk sambil menyuap popcorn ke dalam mulutnya.
Donghae meneguk cappucinno miliknya. "Karena aku juga ingin makan popcorn karamel, jadi sekalian saja beli yang berukuran besar. Harganya jadi lebih murah dibandingkan membeli dua kotak berukuran sedang."
Mereka berdua mengobrol dengan berbisik, walaupun pandangan mereka tetap terfokus ke film. Eunhyuk memasukkan tangannya ke dalam kotak popcorn untuk mengambil makanan ringan itu lagi, demikian pula dengan Donghae. Tanpa sengaja, tangan keduanya bersentuhan di dalam kotak.
Sontak keduanya menoleh dan langsung bertemu pandang, untung saja kegelapan dalam bioskop berhasil menutupi wajah mereka yang sudah semerah tomat. Entah mendapat ilham dari mana, Donghae malah menggenggam tangan Eunhyuk dan mengelus kulit punggung tangannya.
"Apa kau kedinginan, Hyukkie?"
Eunhyuk mengangguk malu-malu, jaket denimnya memang tidak bisa menghangatkan tubuhnya dari suhu bioskop. Kemudian Donghae melepas jaket merah marun miliknya dan menyampirkannya di bahu Eunhyuk, posisi mereka seperti sedang berpelukan sekarang.
Seakan belum cukup untuk membuat jantung Eunhyuk jumpalitan, Donghae menarik kepala Eunhyuk di pundaknya. "Kalau kau lelah atau mengantuk, kau boleh menyandarkan kepalamu di pundakku."
Kalian lihat? Mereka bahkan belum resmi menjadi sepasang kekasih, tapi tindak-tanduk mereka sudah mesra begitu. Bagaimana kalau mereka benar-benar berpacaran? Jangan-jangan bisa lebih dari itu! O_O *plak*
.
.
.
TBC
^Author's Note^
Argh lagi-lagi TBCnya ngegantung! *digampar bolak-balik* Di tengah cerita ada anggota Conquistadores yang nambah lho, siapa tuh~? Dan ternyata di chap ini Hyuk oppa ketauan punya agoraphobia, sama kayak Risa. Kalo Risa ada di posisi Hyuk oppa, kurang lebih takutnya sama kayak gitu :)
'Kencannya' belom kelar lho, masih Risa lanjut di chap depan. Mianhae kalo Haehyuk dan Kyumin momentnya masih kurang asoy *bow*
Risa udah 2 hari gak masuk sekolah lho gara-gara demam pas pulang sekolah hari Rabu, sampe sekarang masih badannya masih rada panas & kepalanya masih sakit. Semoga cepet sembuh Risa~ *ngucapin ke diri sendiri* :')
Sebagai rasa terima kasih Risa karena review fic ini udah nyampe 103, Risa bakal bales semua review di chap 5~ *applause* Here goes:
chen clouds: Yang gak ikut Shindong oppa, nanti dia punya peran sendiri. Lho kok Risa jadi spoiler? ._. Gomawo udah review!
Anonymouss: Iya, kalo Honey rada kemanisan. Mimi-gege malah jadi gak sangar kalo nama samarannya itu XD Thanks for the review chingu~
Arit291: Risa kan unpredictable, makanya ficnya jadi ikutan gak terduga ^^ *plak* Makasih reviewnya!
kyukyu: Jinjja? Risa jadi malu hehe :$ Gomawo RnR-nya~
nurul. p. putri: Ne, mereka harus nyari 5 orang lagi biar jadi 7. Tapi kayaknya udah ketemu 1 lagi tuh di chap ini :3 Hae oppa ada kok, bejibun malah di chap ini X) Maaci udah review!
reaRelf: Mereka terpaksa gitu demi tuntutan peran dari Risa, padahal sebenernya mereka gak tega lho nyakitin satu sama lain :') *duak* Thanks for RnR chingu~
nvyptr: Termasuk gak ya~? *Risa batu* *digaplok* Di chap ini ada Haehyuk moment kok, malah disambung ke chap depan. Gomawo udah review!
myhyukkiesmile: Suju oppadeul dapet gelang semua kok, tapi gak bisa Risa kasih tau mereka masuk tim mana :) Makasih RnR-nya~
dream: Ketagihan? Emangnya narkoba? XD *plak* Ini udah Risa bela-belain bikin fic pas lagi sakit lho, kurang baik apa coba author yang satu ini? *dzig*
Haehyukshipper: Hehehe, tapi fic ini murni hasil pemikiran Risa kok. Gomawo udah review :D
indahpus96: Ne, Vincent itu Mingpa. Wah ketauan nih suka kekerasan :P *dicakar* Thanks udah RnR!
futari chan: Hehehe gak terduga kan? :3 Makasih ya chingu~
Anami Hime: Di chap kemaren sih baru Sungmin oppa sama Leeteuk oppa, tapi chap ini nambah 1 tuh di atas :3 Gomawo reviewnya
RieHaeHyuk: Nah ini nih chingu yang ngereview marathon *plak* Molla, sejauh ini sih belom ada satupun yang tau identitas asli musuhnya. Tunggu aja entah di chap berapa *dzig* Maaci RnR-nya :D
Fuu Fudanshi 407: Eits main cipok aja nih :P Gomawo ne~
Kim Sang Ri: Oke, sarannya Risa tampung dulu. Tuh Haehyuk momentnya udah (mayan) banyak di chap ini :) Maaci ya~
dhianelf4ever: Ne, ini udah Risa lanjut. Thanks udah RnR! ^^
love haehyuk: Mianhae, Risa gak bermaksud buat ngebash Teukie oppa atau Sungmin oppa. Risa sebenernya gak tega masukin mereka ke Conquistadores, tapi ini demi tuntutan peran :'( Lagian Risa pengen bikin fic yang unpredictable dan bikin readerdeul penasaran. Makasih reviewnya :)
Fitri jewel hyukkie: Inii udaah dilanjuut yaa *lebay* Gomawo~
Park Ji Ra: Suju oppadeul mah emang selalu keren XD Thanks for RnR!
Lee Eun In: Ne, gwenchana. Risa kan author yang baik & gak sombong O:) *duak* Maaci udah RnR
Chwyn: Vincent tuh Sungmin oppa hehe. Ne, Risa juga pengen punya kekuatan elemen T_T Gomawo reviewnya~
HyukmilikHae: Hehehe arigatou~ ^^
Me Naruto: Elemennya Kyuhyun oppa kayaknya udah ketauan deh di chap ini :D Oke deh, ini udah dilanjut. Makasih udah review!
cho devi: Ne, gwenchana~ Kita gak boleh nilai orang dari fisiknya doang, tuh contohnya kayak Teukie sama Minnie di fic ini :3 Han-gege keseleo bukan gara-gara Rock Shoes kok, tapi gara-gara ketiban Bummie kayaknya *dibakar Snowers* Hahaha Risa gak kebayang kalo badan Bummie beneran jadi lepek, kayaknya gak gitu deh XD Ne, gomawo~
hana ryeong9: Makanya simak terus fic ini biar gak penasaran *promosi* Makasih reviewnya :3
GrisELF VIP: Chap berikutnya udah dateng~ Vincent itu Sungmin oppa, kalo Dennis tuh Leeteuk oppa. Arigatou :D
pejantan: Nuguseyo? Entah kenapa Risa ngerasa kalo kamu tuh temen Risa, tapi gatau siapa -_- Kalopun bukan, Risa bakal coba perbaikin fic ini supaya lebih bagus lagi. Gomawo kritiknya ^^
DebieHY1: Hehehe Risa terlalu ngebut ya updatenya? Mianhae ._. Ne, makasih chingu!
nyukkunyuk: Jinjja? Hehehe Risa jadi malu :$ Ne, Risa bakal berusaha update terus kok. Arigatou~ :3
Huge thanks for:
chen clouds / Anonymouss / Arit291 / kyukyu / nurul. p. putri / reaRelf / nvyptr / myhyukkiesmile / dream / Haehyushipper / indahpus96 / futari chan / Anami Hime / RieHaeHyuk / Fuu Fudanshi 407 / Kim Sang Ri / dhianelf4ever / love haehyuk / Fitri jewel hyukkie / Park Ji Ra / Lee Eun In / Chwyn / HyukmilikHae / Me Naruto / Cho Devi / hana ryeong9 / GrisELF VIP / pejantan / DebieHY1 / nyukkunyuk
Also for the Silent Readers and everyone who follow and favorite this fic. Thank you for your appreciation! ^^
Akhir kata, boleh Risa minta review dari readerdeul? Gak baik lho jadi Silent Reader terus (?) Lagian Risa gak bakal gigit (?) kalian kok, jebal~ *aegyo bareng Hyukie & Minnie*
